Ariesta Bhirawa

Bayangkan kita bertanya pada seratus orang yang kita jumpai secara acak apakah mereka ada mengenal nama band ini? Rasanya tak akan ada yang menjawab mengerti akan keberadaan kelompok ini, tak ada yang tahu bahwa band ini pernah ada di tanah air. Imajinasi yang sama tidak akan berlaku pada band lain seperti Koes Plus, The Mercys, atau misalnya God Bless. Generasi terkini pun bisa dipastikan mengenal nama-nama band yang disebut terakhir tadi.
Ariesta Bhirawa, nama band gemblengan penyanyi senior Mus Mulyadi ini memang bukan band besar, setidaknya dalam konteks jumlah penggemar. Album maupun lagu-lagu mereka dipastikan tak ada lagi di berbagai toko musik di tanah air. Tapi album rekaman ini menjadi buruan kolektor dalam dan luar negeri sebagai sesuatu yang dianggap harus dipunyai oleh para pengumpul rekaman. Sebagaimana album Ghede Chokra’s milik Sharkmove-nya Benny Soebardja, album ini telah dirilis ulang oleh Shadok, label yang berbasis di Jerman dalam rupa CD dan piringan hitam. Desain covernya amat sederhana dan terlalu umum: para personil yang nampang, dengan sang frontman duduk lebih tinggi dari yang lainnya. Kostum berwarna ngejreng, kerah lebar, celana cutbray dan tampang personilnya sungguh generasi bunga, seperti bukan makhluk dari bangsa Asia. Mau tak mau saya teringat pada sampul album “Are You Experienced” milik Jimi Hendrix. Satu piringan hitam asli-nya bisa berharga jutaan rupiah di tangan kolektor dan penjual rekaman antik. Yang tak mengetahui Ariesta Bhirawa akan penasaran, memangnya seperti apa permainan musik band ini? Begitu istimewakah?
Memutar lagu pertama yang berjudul “Si Ompong” kita segera mengendus bau rock latin khas Santana, dengan petikan petikan gitar yang melengking diantara lirik yang dinyanyikan. Album ini memang dihasilkan pada paruh awal 1970-an, dan Santana adalah salah satu influence musik underground kala itu, demikian eksplanasinya. Demi mendengar “Si Ompong”, track pertama yang kental bau Santana tadi, saya dalam hati agak mencibir hal itu sebagai tiru-tiru, mencontek. Namun tak urung lagu yang berkisah mengenai anak sederhana yang suka menolong orang tua berjualan di pasar lebih dahsyat daya pikatnya. Mungkin inilah magic sebuah lagu yang didengar berulang, dan kemudian menjadi nikmat menyesatkan. Reffrainnya begitu menyenangkan untuk disenandungkan, dan kalau sudah larut di dalamnya, bau Santana tidak begitu mengganggu lagi atau setidaknya ada apologi bahwa musik semacam itu bukanlah monopoli Santana.
Dalam album ini juga diselipkan sebuah lagu keroncong. Tidak aneh, karena praktik serupa juga dilakukan banyak band 70an seperti C-Blues, The Rollies, Hasta Nada dll band jaman dulu. Keroncong adalah musik yang digemari masyarakat tak terkecuali anak muda. Memasukkan unsur keroncong oleh karenanya menjadi wajib dalam hitungan bisnis. Beberapa nomor lain seperti “Minggu Pagi” dan “Terimalah Cintaku” bernuansa rock, dengan petikan gitar dan permainan organ yang psychedelic.Lagu merdu bernuansa sentimentil ditawarkan melalui “Persembahanku” yang terdengar indah. Rasa cinta dan keinginan untuk memberi tergambarkan dengan pas dalam duet petikan gitar dan permainan organ yang mendayu menyayat ditimpali permainan bass yang melodik. Sungguh sebuah lagu cinta yang sempurna dan bisa mengantarkan pendengarnya pada khayalan tertinggi.

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s