CD To The So Called The Guilties & Djadikan Aku Domba-Mu

Kiri: Piringan Hitam Guilties Mesra Record. Kanan: CD reissue Guilties produksi Sublime Frequencies, USA. Koleksi Pribadi MKW.
Kiri: Piringan Hitam Guilties Mesra Record. Kanan: CD reissue Guilties produksi Sublime Frequencies, USA. Koleksi Pribadi MKW.

Inilah album rock pribumi bersejarah yang peluncuran kembali-nya amat dinanti. Hanya muncul dalam format piringan hitam manakala di rilis di 1967 dan format kaset dengan desain cover yang berbeda pada era 70-an, kedua full album Koes Bersaudara ini dalam perjalanan waktu tak lagi didapat di pasaran. Master keduanya telah musnah, seiring dengan ditutupnya Mesra Record oleh pemiliknya, Dick Tamimi pada 1973. Konon, kesal karena pembajakan, Dick membakar semua master rekaman artis-artis yang bernaung di bawah Mesra Record termasuk tentu saja album ini.

Kini, sirkulasi album ini di kalangan penggemar hanyalah berupa CDR maupun file MP3 hasil transfer dari kaset maupun piringan hitam. Kalaupun ada Piringan Hitam maupun kaset asli yang diperdagangkan di kalangan kolektor, harganya cukup tinggi. Selain Disco Record di paruh kedua 70-an, tak ada label yang merelease kembali album ini entah karena alasan ijin yang entah ke mana, atau barangkali karena materinya dan kwalitas produksinya dianggap terlalu kuno dan oleh karenanya dipandang bakal tak menguntungkan.
Oleh karenanya, ketika mengetahui bahwa dua album Koes Bersaudara dirilis oleh Sublime Frequencies pada 2010 silam hasrat hati untuk membelinya tiada dapat tertahan lagi karena ingin tahu seperti apa reproduksi album ini, dengan ekspektasi tentunya lebih bagus. Sekira dua ratus ribuan harus dirogoh dari kocek untuk mendapatkannya. Pada awalnya saya merasa agak segan tak segan membeli, maklum kedua album itu sudah dipunya dalam bentuk kaset rilisan Mesra, otomatis semua lagunya telah diketahui. Belum lagi versi transfer dari piringan hitam pula dipunya dalam format CD. Namun sebagai seorang mania Koes Bersaudara dan Koes Plus, tentu saja rilisan dalam bentuk CD dengan booklet terlebih rilisan label Amerika menjadi kenikmatan tersendiri yang menggoda. Apa boleh buat saya bulatkan hati, beli juga melalui kawan, seorang e-bay forwarder. Dan ketika akhirnya CD ini sampai di tangan, kegembiraan itu sayangnya tak sepenuhnya terwujud. Walau senang dengan kisah Koes Bersaudara seperti yang tertulis dalam bookletnya namun keping CD yang digunakan terkesan bukan yang kwalitas paling istimewa. Bobot keping CD ini ringan saja, terkesan ringkih, dan tidak ‘kokoh dan berat’ seperti katakanlah buatan Jepang atau Jerman. Tapi itu soal teknis, saya bisa jadi salah menyimpulkan.

Foto Koes Bers dalam CD  Guilties/Domba yang amat fatal. Sebelah kiri adalah Koes Bers era 60-an akhir, sedangkan tampak sedikit sebelah kanan adalah Koes Bersaudara era Remaco, sekira 10 tahun setelah Guilties dan Domba direlease. dengan atmosfir yang telah lain pula. Merusak suasana.
Foto Koes Bers dalam CD Guilties/Domba yang amat fatal. Sebelah kiri adalah Koes Bers era 60-an akhir, sedangkan tampak sedikit sebelah kanan adalah Koes Bersaudara era Remaco, sekira 10 tahun setelah Guilties dan Domba direlease. dengan atmosfir yang telah lain pula. Merusak suasana.

Beberapa foto di dalam booklet CD tersebut memang menarik, walau tidak asing lagi bagi saya, karena sebelumnya saya pernah mengungggah foto foto tersebut ke blog pribadi saya di situs embahgambreng.multiply.com (kini sudah tiada). Sebagian besar foto di dalam CD itu memang bersumber dari arsip pribadi Handiyanto, ex tehnisi Koes Bersaudara.  Terkait foto yang digunakan dalam CD ini, ada foto Koes Bersaudara pada era 1977 yang menurut saya sangat fatal digunakan. Foto tersebut bukanlah representasi Koes Bersaudara berikut konteks sosial politiknya manakala “Guilties” dan “Domba” dibuat pada akhir 1960-an. Sangat mengganggu sekali. Sangat disesalkan!.
Pindah ke topik lain: setelah saya dengarkan, berbagai track dalam album “Guilties” maupun “Domba” memang terkesan mengalami mixing yang mantap. Terdengar jernih dan keras. Musik yang dihasilkan Koes Bersaudara dalam album yang direkam secara live ini memang lugas dan polos, benar benar gitar bass drum dan semangat berontak dicampur romantisme lagu-lagu manis. Seperti mendengarkan band bermain dalam ruang latihan tanpa efek yang bermacam-macam.
Satu hal yang harus diacungi jempol sekaligus diacungi jari kelingking adalah munculnya lagu The Land of Evergreen di bundle album ini. Lagu The Land… ini sebenarnyalah materi rekaman “Domba..” akan tetapi karena Mesra kala itu kekurangan bahan piringan hitam 12 inchi, maka album ini dikeluarkan dalam format PH 8 inchi. Konsekwensinya, ada beberapa lagu yang tidak bisa masuk, salah satunya adalah “The Land…” yang cukup ‘beruntung’ karena muncul dalam sebuah album kompilasi rilisan Mesra Record. Namun, mendengarkan lagu ini dalam CD keluaran Sublime sungguh kecewa rasanya. Saya memiliki rekaman transfer lagu ini yang dilakukan secara amatiran, dan hasilnya jauh lebih padat dan tidak cempreng seperti file MP3 dengan bobot file minimalis seperti yang ada di dalam CD ini. Speed yang dipakai juga nampak tidak sesuai, terlalu cepat. Keindahan lagu ini buat saya menjadi sirna, menjadi tiada.
Kekecewaan lain? Sebenarnyalah dalam proses re-release dua album Koes Bersaudara ini saya tahu betul bahwa Alan Bishop sempat berjumpa dengan Handiyanto, namun sayangnya ia gagal menemukan unreleased tracks dari album “Domba..”, dua lagu masing-masing “Love is Something To Know” dan “Diamond Ring”. Kedua lagu itu sebenarnya masih ada dan selamat dari kepunahan, karena sebelum kepergiannya ke Eropa, Handiyanto pernah merekam master tape kedua album itu untuk dipakai sendiri. Copy dari master tapes “To The So Called…” dan “Djadikan Aku..”. Bahwa kedua lagu itu tak masuk ke dalam album re-release ini tentu amat sangat disesalkan. Mungkin pembicaraan mereka tak sampai menyentuh ke sana. Sayang..

Padahal, Sublime dikenal tak akan merilis album yang pernah dikeluarkannya. Artinya… kita harus menunggu entah label mana kelak yang akan berpayah payah merilis album ini, dengan dua lagu yang tak pernah dikeluarkan itu, tentu dengan remastering lagu “The Land of Evergreen” yang lebih baik. Kapan?

Advertisements