Surat Kecil Untuk Tuhan

Seorang gadis SMP bernama Gita Sesa Wanda Cantika (Keke) menderita kanker otot di pipinya. Ditemani sang ayah (Alex Komang) yang begitu tabah, berbagai upaya menyembuhkan ditempuh mulai medis hingga pengobatan alternatif. Wajahnya yang semula manis berubah menjadi mengerikan ketika separuh wajahnya (sebelah kiri) menjadi bengkak tak keruan karena penyakit yang konon baru pertama kali dijumpai di Indonesia itu. Keke pada akhirnya bisa disembuhkan dengan kemoterapi, kembali beraktifitas dengan teman-teman sekolahnya, kesembuhan mana cukup membuatpenonton bernafas lega. Maklum sejak awal kisah, tak hentinya kesedihan ditampilkan, membuat tegang saraf haru. Konflik pertama ditampilkan cukup apik ketika sang ayah bertekad untuk makan segala obat baik medis maupun non medis agar si anak tidak merasa sendiri. Kisah cinta yang dijalinnya dengan teman sekolah juga menjadi hal yang menarik, menunjukkan kesetiaan sang kekasih walau si gadis telah buruk rupa karena sakitnya. Sementara itu pertengkaran sang ayah dengan mantan isteri yang terpaksa harus berjumpa karena merawat sang anak juga menjadi konflik tersendiri walau tidak cukup mengungkap mengapa mereka berpisah. Pada akhirnya, Keke kembali sakit dan akhirnya meninggal. Diangkat dari kisah nyata yang juga telah diangkat dari novel, film ini adalah film keluarga yang apik untuk ditonton. Ada pesan moral yang kuat di sini mengenai keutuhan keluarga, kesetiaan terhadap kekasih dalam keadaan yang teramat sulit, dan rasa sayang saudara dan orang tua. Ditampilkan secara apik pula dalam film ini adalah hubungan amat erat antara Keke dengan kawan-kawannya. Saya ada mendengar isak tangis penonton menyaksikan ending film ini yang ditutup dengan adegan meninggalnya Keke di Rumah Sakit yang diiringi tangis pilu keluarga dan segenap kawan-kawannya. Film ini menurut saya tidaklah mengecewakan untuk ditonton. Namun karena diangkat dari sebuah novel, adalah menjadi hal biasa manakala orang kecewa karena kesenjangan antara alam ide imajinasi yang terkonstruksi dari bacaan dan konkretisasi dalam rupa adegan film. Saya sendiri menonton film ini tanpa terlebih dahulu membaca novelnya, sehingga buat saya film ini tiada mengandung keberatan dan protes apapun karena saya memang tak punya ekspektasi apapun ketika berangkat menyaksikannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s