Kisah tentang Kereta Api Purbaya

Pemandangan dalam Gerbong KA Logawa, yang dahulunya bernama KA Purbaya.
Pemandangan dalam Gerbong KA Logawa, yang dahulunya bernama KA Purbaya. Photo: MKW

Purbaya, adalah nama tokoh kerajaan Mataram, putra dari Panembahan Senopati.  Tapi pernah suatu masa bagi masyarakat Purwokerto dan sekitarnya setidaknya pada medio 80 dan 90-an nama itu jauh lebih dikenal sebagai nama kereta api ekonomi yang melayani perjalanan sepanjang Purwokerto-Surabaya. Purbaya adalah akronim Purwokerto Surabaya, dua nama kota yang menjadi stasiun pemberangkatan sekaligus tujuan akhir.

Sebagai kereta api kelas ekonomi, Purbaya jauh dari menawarkan rasa nyaman bagi para penumpangya. Ia tidak berpengatur suhu udara.  Tempat duduknya yang berwarna hijau itu pun terasa keras di pantat. Kipas angin ada tergantung di langit-langit kereta, akan tetapi seringkali ia tak berputar mengusir panas di dalam gerbong ketika terik matahari menyengat. Akan tetapi, ketidaknyamanan ini menjadi peluang tersendiri bagi beberapa orang untuk mencari penghasilan dengan berdagang kipas. Dan kipas, berguna tak saja untuk mengusir panas dan mengeringkan keringat yang mengucur di tubuh kala panas, namun pula asap rokok yang kerap menyesakkan. Dan kalau sudah tersiksa panas maupun berhenti yang terlalu lama atau gabungan keduanya, menjadi hal biasa ketika orang mendecak-decakkan mulutnya tanda mengeluh dan tak sabar. Beberapa orang tertawa pait dan memaklumi dengan istilah sepur kluthuk, yang kurang lebih kereta api yang berjalan terlambat. Sepur sendiri sebenarnya serapan dari spoor, terma dari bahasa Belanda yang maknanya adalah jalur.

Pertama menaikinya adalah sekira 1988/1989, selepas berlibur lebaran di kota dimana banyak kerabat keluarga tinggal: Surabaya. Aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Tak ingin ikut pulang cepat bersama keluarga setelah libur panjang, aku memutuskan untuk menunda pulang ke Purwokerto dan tetap tinggal di Surabaya hingga libur sekolah usai. Dan di hari aku harus kembali kereta api inipun menjadi pilihannya. Ada rasa was-was  bercampur sedih ketika pertama menaikinya. Maklum itu pengalaman pertama berkereta api yang sekaligus pengalaman pertama bepergian sendiri, hal yang tentu menerbitkan bangga pada benak diri yang masih remaja. Sedih, karena enggan berpisahan dengan banyak saudara dan kerabat yang telanjur akrab selama liburan dan tiba-tiba harus sekian jam berada di kereta api bersama orang-orang yang baru ditemui.

Di masa-masa awal naik kereta api, aku selalu bergembira ketika kereta ini berjalan dengan cepat. Tapi lambat laun aku tahu belaka, ia toh tak bisa berlari semaunya karena sudah terpaku jadwal. Jika ada kereta api yang kelasnya lebih tinggi di depan maupun di hadapannya, ia mestilah menepi di stasiun terdekat. Orang menyebutnya dengan istilah ‘kres’ alias bersilang jalan. Sebentar-sebentar ia berhenti. Setasiun besar kecil ia akan berhenti. Setasiun seperti Walikukun,  Wojo, Cepiring, Brambanan, Maguwo, adalah beberapa saja halte yang terhitung kecil yang menjadi tempat ia berhenti.

Tiket Purbaya yang seingatku di setiap pemberangkatan disebut dengan “Kereta Api Cepat Purbaya” ini termasuk murah untuk ukuran kala itu, dan bisa jadi karena hal inilah maka begitu banyak orang mau untuk menelan segala ketidaknyamanannya. Akhir 80an aku ingat, Purwokerto Surabaya hanya perlu 4500 rupiah saja. Sedangkan untuk Jogjakarta Purwokerto kalaulah tak salah ingat 3000 rupiah. Tentu harga tiket itu menaik dan menaik, 6000 hingga 6500, dan selanjutnya aku tak ingat betul. Tiket kereta api kala itu masih serupa kartu domino: keras, kaku berwarna merah dan kecil saja. Beberapa orang akan menyelipkannya di bawah jam tangan. Aku sendiri, selalu memasukkannya ke dalam dompet.

Dan di kereta api ekonomi ini orang akan bisa menjumpai aneka pedagang asongan dari nasi pecel, brem, keripik belut, hingga nasi rames.  Juga kerupuk ikan tengiri, tahu asin, mainan anak, dan aneka buah yang tentu saja tergantung musimnya. Walau kelas ekonomi, kereta api ini juga memiliki layanan restoran kereta yang lumayan. Menu kesukaanku adalah bestik, serapan kata beef steak. Dan untuk makan ini, aku memerlukan pergi ke gerbong restorasi ketika jam makan siang kurasa telah menghampiri. Pengamen yang memasuki gerbong pun tiada habisnya, dari yang sekedar bernyanyi maupun yang menyapu dan membersihkan sampah yang ujungnya mengharapkan upah.

Sejak pengalaman pertama menaiki kereta api manakala masih duduk di bangku SMP itu, aku menjadi kerap menaiki kereta api ini tiap kali liburan ke Surabaya. Waktu tempuh ke Surabaya cukup melelahkan, tak kurang dari 12 jam. Berangkat dari Purwokerto jam 6 pagi, kereta api ini, kalaulah tak salah ingat, seharusnya masuk Surabaya pukul 17: 30. Terkadang ia dapat tepat waktu juga sampai di Surabaya, walau pernah juga kereta ini memasuki Stasiun Gubeng sekitar pukul 9 malam, atau 15 jam perjalanan. Di masa SMP aku selalu meminta kawanku, Fathoni, yang rumahnya ada di pinggir rel sekira lima menit setelah kereta meninggalkan Setasiun Purwokerto untuk menantiku lewat. Dan ketika kereta lewat di daerahnya kami akan saling melambaikan tangan. Hal biasa lagi konyol. Akan tetapi bagi remaja belasan tahun, hal itu adalah hal yang menyenangkan.

Berkereta api, terlebih di masa remaja, tak begitu hirau betul dengan keadaan. Sering kalaupun aku dapat tempat duduk, akan kuberikan pada orang yang tak kebagian tempat, asal mereka mau mengawasi barang-barangku. Aku sendiri suka duduk di pintu atau di gerbong barang bagian belakang berjalan kian kemari. Merokok dan minum kopi di mana saja bisa dilakukan. Bagi jiwa remaja, duduk dan menempatkan diri di sembarang tempat di kereta api adalah perwujudan kebebasan sesuatu yang terasa gagah. Kereta api adalah kendaraan raksasa, dengan suara menderu menimbulkan rasa senang tersendiri ketika berada di dalamnya. Menaikinya, bagiku pribadi, ada sensasi tersendiri terlebih pengetahuan dan penghayatan sebagai bagian dari keluarga kereta api. Kakekku almarhum, Soekandar Wignjosoebroto dan ayahnya yakni kakek buyutku Wongsoredjo, adalah pegawai Staatspoorweg (SS) yang kelak kemudian menjadi Djawatan Kereta Api (DKA).

Saking seringnya naik kereta ini, aku menjadi hafal bangunan-bangunan di sepanjang jalur kereta yang dilewatinya baik di Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Jawa Timur.  Juga banyak aneka tulisan yang ada di tembok, dan berbagai tempat maupun pemandangan lainnya dapat kutebak manakala aku berperjalanan dengannya. 12 jam di kereta api, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali melamun atau melakukan hal lain seperti membaca. Telpon genggam dan aneka gadget belum dikenal kala itu. Teka teki silang menjadi kesibukan orang untuk membunuh waktu.

Di masanya, Purbaya menjadi andalan bagi warga Purwokerto untuk mengunjungi Yogyakarta dalam satu hari. Berangkat dari Purwokerto jam 6 pagi tepat, ia akan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 10 atau 10:30. Karena kereta ini berhenti di Stasiun Tugu, mudahlah orang untuk menuju lokasi wisata terdekat: sepanjang jalan Malioboro. Pulang kembali ke Purwokerto, orang bisa menggunakan kereta yang sama yang datang dari Surabaya, sekitar pukul 4 sore. Ini menguntungkan bagi sesiapa saja remaja yang berkepentingan untuk pergi ke Jogja, entah sekedar jalan-jalan atau hendak mencari buku. Ke Jogja adalah perkara yang bisa dilakukan dalam sehari semalam.

Hingga masa mahasiswa di paruh akhir dekade 90-an, aku adalah pengguna setia kereta api ini. Puluhan kali aku bepergian dengannya dengan Surabaya/Purwokerto maupun Yogyakarta adalah tujuan utamanya. Namun begitu dalam ingatanku, tak sekalipun aku mendapat keberuntungan duduk bersebelahan dengan gadis sebaya sebagai teman bicara. Selalu saja di sebelahku duduk orang-orang tua yang sudah tentu tiada menarik di hati. Sudah tentu, ada kisah-kisahku sendiri bersama beberapa orang yang pernah singgah di hati dan kehidupanku di kereta api ini yang tak perlulah aku ceritakan di sini.

Kini, Purbaya telah tiada, atau setidaknya nama itu tak lagi dipakai. Menggantikan Purbaya adalah KA Logawa dengan trayek Purwokerto-Jember. Seiring dengan perbaikan pelayanan, maka waktu tempuhnya telah dipersingkat. Berangkat pada jam yang sama dengan Purbaya yakni jam 6 pagi, Logawa dijadwalkan tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sekira pukul 9:15. Seorang kolega berseloroh, menyebut KA Ekonomi ini dengan sebutan Argo Logawa, meminjam nama yang biasa digunakan oleh kereta api kelas eksekutif. Suatu kelakar yang memuji sebenarnya karena walaupun kelas ekonomi, namun ia mampu memberikan kecepatan dan ketepatan waktu tempuh yang diharapkan para penumpangnya.

Nijmegen, 21 April 2013

Advertisements