Naif Live in Purwokerto 30 March 2005

Ki-Ka: Fajar Endra Taruna (guitar), Franki Indrasmoro Sumbodo (Drums), David Bayu Danangjaya (Voc), Emil Hussain (Bass). Sumber foto: Naifband.com

Aku Rela menjadi lagu penutup show NAIF di GOR Satria Purwokerto, 30 Maret 2005. Dan demi NAIF pula ribuan penonton rela menembus hujan yang turun deras menjelang show untuk menyaksikan penampilan Emil dkk (bosan dengan David dkk). Show yang sukses, sekaligus menepis kekhawatiran saya bahwa setelah tur di banyak kota (yang pastilah amat meletihkan), mereka akan sempoyongan di Purwokerto. Tidak, NAIF tetap sehat bugar dan boleh dibilang semua tampil dengan performa yang prima. Jarwo misalnya, tampil dengan baju hitam lengan panjang dengan celana cut bray warna krem. Sementara David berbaju ‘jaman Krisbiantoro’ dan jeans biru. Pepeng berkaus singlet oranye dan celana pendek. Berbeda dengan penampilan personil lain yang tersimak ‘terpelihara’ (Emil misalnya malah tambah gemuk, dan Jarwo yang rapih bersih, serta David yang tetap montok), Pepeng bercambang agak lebat, mengingatkan saya akan wajah Nick Mason, drummer Pink Floyd. Walaupun pukulannya tetap bertenaga dan keras, terlihat di layar monitor wajah lelah bapak muda ini. Bisa dimaklumi, betapapun juga drummer paling boros kalori dibandingkan instrumentalis lainnya.
Lagu Towal Towel seperti biasa menjadi ajang goyang dangdut, dan penonton larut dalam goyang dangdut yang diprovokasi oleh David. Hebatnya, suara David yang digeber hampir setiap malam dalam rangkaian tur 1 Nafas 3 Cinta tetap terpelihara dengan baik. Tidak serak, tidak hilang, dan tetap bertenaga. Seperti biasa pula, lagu Curi-curi pandang menjadi momen untuk memperkenalkan band members. Untuk Purwokerto, Jarwo boleh berbangga, karena penonton nampaknya sudah hafal dan meneriakkan keras namanya sebelum David menyebutkan nama gitaris yang (menurut David) terhebat di dunia setelah Jimi Hendrix .
Lagu lain yang ditampilkan NAIF di Purwokerto antaranya Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia, Piknik 72, Mobil Balap, Hai Monas dan juga Posessif.
Sayangnya, komunikator utama dalam NAIF masih saja dipegang David. Personil lain yang sebetulnya berpotensi untuk berkomunikasi baik oral maupun bahasa tubuh kurang difungsikan, dan lebih sebagai pengiring. Demikian juga atraksi instrumen terasa kurang maksimal dan datar saja. Kecuali Pepeng, atraksi solo bass dan gitar mestinya bisa ditampilkan lebih lama dan memukau. Maka, menyaksikan NAIF di Purwokerto dan nyaris 2 tahun silam di Hard Rock Café Jakarta, rasanya sama saja.
Betapapun juga show NAIF di Purwokerto patutlah untuk dikatakan sukses. Penonton tidak saja memenuhi GOR, namun mereka juga turut bernyanyi bersama, dalam artian mereka tidak datang asal datang saja, akan tetapi boleh dikata adalah loyal fans. Hal lain yang patut dicatat, saya menjadi teringat obsesi NAIF yang pernah dilontarkan David beberapa tahun lalu yang ingin tampil tidak hanya di Ibukota dan Ibukota propinsi, namum juga di Dati II, dan kalau bisa di Dati III Dati IV dan seterusnya. Dan sebenarnyalah, NAIF bukan tampil di Kota Purwokerto, akan tetapi di Kecamatan Purwokerto Utara, karena secara administratif tidak ada lagi kota Purwokerto (dahulu adalah Kota Administratif ). Purwokerto kini hanyalah kumpulan empat kecamatan saja (masing-masing Purwokerto Utara, Timur, Selatan dan Barat), dan sekali-kali bukan kota dalam pengertian hukum pemerintahan. Jadi wahai semua saja di NAIF, selamat atas tercapainya cita-cita anda semua untuk manggung di Dati III!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s