Malaikat Tanpa Sayap (2012)

230px-MALAIKATTANPASAYAPFilm ini saya pilih untuk membunuh waktu selama penerbangan dengan pesawat Garuda dari Jakarta menuju Bangkok, minggu ke-tiga November 2012 silam. Tidak ada alasan pasti mengapa saya memilih film ini, tapi sebagai orang yang tidak lagi remaja, saya pikir menarik juga melihat film bergenre remaja seperti ini.

Malaikat Tanpa Sayap (MTS) dalam amatan saya bukanlah film berbiaya besar. Ia tak memerlukan banyak lokasi syuting. Kebanyakan hanya di seputar rumah, rumah sakit, dan tempat terbuka seperti di taman. Properti yang digunakan juga tidak ada yang wah. Ini adalah drama layar lebar. Ceritanya? Seorang remaja pria yang diperankan Adipati Dolken yang sejak awal dikisahkan bermasalah dengan sekolah, bukan karena kenakalannya, tapi karena nunggak bayar SPP. Keluarganya sendiri tergolong broken home. Si bapak (diperankan Surya Saputra) harus mengajak keluarganya pindah ke rumah sederhana karena hutang bank. Sang ibu meninggalkan rumah dan bahkan kemudian digambarkan dekat dengan lekaki lain. Singkat cerita, Vino, tokoh remaja tadi harus berada di rumah sakit karena sang adik terluka dan dirawat di sana. Bertemulah ia dengan seorang gadis manis dan keduanya menjadi akrab. Di rumah sakit itu pula, Vino yang mulai tak masuk sekolah bertemu dengan seorang yang biasa menjadi perantara donor organ.  Atas pengaruh sang perantara tersebut dan demi biaya pengobatan sang adik, Vino rela untuk menyatakan deal dengan sang makelar untuk mendonorkan jantungnya.

Berjalanlah cerita, dan Vino menjadi dekat dengan si gadis yang belakangan diketahui adalah penderita jantung. Ia berkunjung ke rumah si gadis, diterima dengan baik oleh si ayah (diperankan oleh Ikang Fawzi). Inilah awal mula ke wagu-annya ketika si gadis, yang digambarkan sebagai berasal dari keluarga kaya diperbolehkan saja oleh sang ayah bergaul dengan pemuda yang tak sekolah, bahkan hingga masuk kamar tidur. Pada satu titik, Vino menjawab keraguan si gadis (yang diperankan oleh Maudy Ayunda itu) bahwa ada orang yang bersedia menyerahkan segalanya bagi orang yang dicintai. Mungkin ini salah satu momen emosional yang hendak diciptakan di benak penonton terlebih ketika terungkap, bahwa jantung yang hendak didonorkan oleh Vino bakalan ditransplantasikan pada si gadis. Akan tetapi film ini tak cukup pas memberi pesan mengenai kerelaan berkorban, karena bukankah niat awal Vino adalah untuk menutup biaya rumah sakit adiknya (dan juga belakangan untuk menebus rumah yang disita bank)? Dengan kata lain, jantungnya memang akan didonorkan untuk si gadis, akan tetapi bukankah pada awalnya bukan itu maksudnya, melainkan maksud lain yang semata untuk keluarganya?

Lepas dari itu, emosi penonton yang ‘telah terharu biru’ akan tautan rasa asmara antara keduanya memang digiring kepada kekhawatiran akan berakhirnya hubungan serasi tersebut. Skenarionya: penonton pastilah ‘tak rela’ jika Vino harus mati demi memenuhi janjinya pada makelar organ tubuh agar segera jantungnya bisa dipindah ke tubuh si gadis. Bukankah Vino telah terikat kesepakatan dengan si makelar (yang dikisahkan kemudian berusaha dihindari Vino namun tak urung sang makelar selalu menemukannya dan menagih). Saya membayangkan Vino harus mati dan kemudian si gadis hidup. Tentu amat menyedihkan. Curiga saya, itulah yang diinginkan oleh skenario film ini, dan memang demikian suasana yang tercipta.

Dan, toh keberpihakan penonton diakomodir oleh cerita film ini. Manakala Vino telah sekarat karena menenggak sejumlah pil, di saat bersamaan sang ayah juga tertembak mati dalam suatu insiden pertengkaran antara ia dan istrinya. Pria idaman lain sang istri menembaknya, dan jelang kematiannya di rumah sakit, sang ayah meminta agar kewajiban donor sang anak ia ambil alih oleh dirinya.

Kisah diakhiri dengan hubungan kedua remaja itu yang tetap terjalin. Happy ending, karena Vino toh ternyata tak mati karena overdose. Juga transplantasi jantung bisa berlangsung dengan baik, terbukti si gadis bisa kembali sehat walau operasi  dalam film digambarkan dengan serta merta tanpa observasi dan prosedur medis sebagaimana layaknya operasi sungguhan.  Malaikat tanpa sayap, yakni si ayah, tinggal menjadi pusara, dan hanya bayang bayang ruh nya yang tersenyum bahagia di akhir cerita. Senyum bahagia sebagai malaikat penolong nyawa si gadis sekaligus nyawa anak lelakinya. Senyum bahagia yang aneh sebenarnya, karena bukankah ia terbunuh oleh selingkuhan isterinya, meninggalkan rumah tangganya yang porak poranda? Tapi nggak papalah, mungkin sutradara atau pembuat skenarionya lupa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s