Obrolan Soal Buku Musisiku KPMI

Foto: Widi Harrelson, diambil dari Group Facebook AKTUIL THE LEGEND
Foto: Widi Harrelson, diambil dari Group Facebook AKTUIL THE LEGEND

Akun Facebook (FB) Widi Harrelson pada Senin 17 Desember memposting foto dua buku Musisiku 1 & 2 di Group Aktuil The Legend. Foto tersebut dilengkapi dengan tulisan pendek dia:

Buku yang wajib di miliki …

Ada beberapa komentar singkat yang pada intinya memuji keberadaan buku itu. Tombol “like” pada posting tersebut bertambah banyak hingga akun FB Diens Marantika memberi komentar dengan pertanyaan sebagai berikut:

Maaf mau tanya nih…saya dengar2 bahwa buku MUSISIKU jilid 1 ini kabarnya dulu heboh ya soal gonjang ganjing ??? dan apakah buku MUSISIKU jilid 2 juga seheboh jilid 1 ??? MOHON di jelaskan barang kali ada yg tahu….

Sebetulnya tidak jelas benar apa sebetulnya yang dimaksud oleh Diens Marantika dengan “gonjang-ganjing”  dan “heboh” itu. Akun FB Roi Rahmanto memberi komentar sebagai berikut:

Mungkin sebaiknya sdr Jose Choa perlu menjelaskan masalah adanya musisi yg tdk nyaman krn ada penulisan yg tdk sesuai, bahkan musisi senior Titik Hamzah Darpus sampai naik pitam, gimana tuh ceritanya…

Karena persoalan mengenai isi buku dan kaitannya dengan naik pitamnya Titik Hamzah Darpus disebutkan sebagai respon atas pertanyaan “gonjang-ganjing”, saya merasa perlu memberikan tautan link polemik yang pernah terjadi antara saya dan akun Multiply (MP) atas nama Zay di Situs Multiply beberapa tahun silam. Hal ini karena ketidakpuasan, kemarahan, atau bahkan diistilahkan dengan “naik pitam” nya Titik Hamzah terkait langsung dengan tulisan soal Dara Puspita yang saya buat di buku Musisiku itu. Komentar saya berbunyi sebagai berikut:

Kalau minat batja, mungkin link di bawah ini bisa sekedar menjelaskan apa yang dipertanyakan di atas:https://nadatjerita.wordpress.com/2009/09/25/polemik-darpus-arsip-musik-indonesia-dan-kpmi/

Saya menyambung lagi dengan komentar:

salah satu highlight dalam tulisan itu: Kalaulah ada kesalahan baik substansial maupun redaksional, bukankah dalam dunia penerbitan segala kekurangan tersebut adalah fenomena wajar yang bisa dikoreksi dengan pembetulan, koreksi atau revisi dalam cetak ulang atau edisi revisi?

Akun FB Jose Choa Linge turut memberi komentar sebagai berikut:

Baik bung ‘Diens Marantika’ saya akan jawab tentang soal ‘Gonjang Ganjing’ di Buku MUSISIKU jilid 1 itu, sebenarnya hanya interen di keluarga KPMI tapi akhirnya tercium juga beberapa pembaca. Sebenarnya apa yang terjadi di Buku Musisiku jilid 1 bisa terhindari bila menekan Ego pribadi diri kita sendiri yang menerima mandat dipercaya sepenuhnya sebagai editing bukan sebagai MONOPOLI seseorang denga Ambisi Pribadi.. Akhirnta tulisan2 para personil KPMI banyak tidak ditemukan dalam bentuk keASLIannya dan berubah TOTAL menjadi buku MUSISIKU milik perOrangan sekitar 80%, kami baru sadari setelah Buku sdh terbit dan beredar di masyarakat didalamnya adalah berupa tulisan2 seseorang yang pernah gabung di KPMI. Jeleknya lagi seminggu sebelum cetak kami masih melihat dan menandatangani masing2 tulisan2 para anggotanya sama persis yang akan terbit, jahatnya pada saat masuk cetak berganti semuanya dengan tulisan2 seseorang itu.. Gila Benar, saya sempat stres dan ngamuk besar karena rata2 tulisan didalamnya itu banyak yang Para Pelakunya/nara sumbernya kurang berkenaan dan akibatnya saya kena damprat seperti yang sdh di ulas bro Manunggal K. Wardaya didepan teman2 di studio RRI dikiranya saya adalah penulisnya. Dulu saya tidak dipercaya di kelompok ini ‘saat saya bicarakan temuan saya kejanggalan2 di buku tersebut’ karena saya baru gabung dan seseorang itu sdh punya nama besar dan berakhir kericuhan dan tindakan pemecatan atau disuruh mundur secara tdk terhormat seseorang tersebut.

 Jose Choa merespon “gonjang-ganjing” buku Musisiku 1 lebih kepada persoalan perubahan naskah-naskah dalam Musisiku 1 yang amat kontras dari aslinya yang memanglah juga saya alami (dan sempat pula menjadi kekecewaan saya), selain juga persoalan terkait Titik Hamzah Darpus. Saya menambahkan kembali komentar sebagai berikut:
Tambahan: Kena damprat seniman itu bagian dari duka-nya berkegiatan nyata KPMI dalam dokumentasi seni. Mungkin ini kisah yang (di)besar(besarkan) oleh mereka yang di luar organisasi, buat kita sendiri? “halah, sudahlah. itu biasa aja”. Wajar, namanya juga perhubungan sesama manusia yang dinamik en bertensi en masing masing punya ego dan karakter yang unique. Kita berhimpun dan menulis sebenarnya dengan niat memuliakan para seniman senior, mengangkat kembali yang telah terlupakan (kaya judul albumnya Gembells nih Pahlawan Jang Dilupakan). Tadinya semuanya hanya artikel-artikel di Republika (terimakasih Pada Pak Gatot Triyono, sesepuh KPMI, pecinta musik Indonesia yang bekerja di lembaga penerbitan tersebut), kemudian kita usulkan gimana kalau dibukukan supaya abadi, dan lebih luas pembacanya. Bahwasanya setetes kesalahan kecil yang kita buat berupa kekurangakuratan tulisan dibalas dengan kobar api yang menyala dari salah satu seniman, sebenarnya sungguh tak seimbang dibanding apa yang telah kita kontribusikan dan korbankan, membuat para seniman yang tlah terlupakan sedikit dikenal lagi, diingat lagi, kembali mendapat salutation, terutama dari generasi yang lebih kini. Juga: membuat masyarakat jadi melek, atau yang sudah melek jadi lebih detail lagi dalam memahami. Kita sendiri? nggak ada penulisnya yang mendadak kaya dengan turut menulis buku itu. Yang dapet harum justeru para seniman yang diulas di dalamnya. Ini bisa dilihat dari komentar banyak orang setelah membaca buku itu jadi bisa berujar: “oh ada artis X, oh ada artis Y. Oh si X pernah keluarin album dangdut juga? oh group ini pernah ada dst”. Para Penulisnya? wah, enggak dapat ngetop karena turut menulis di sana! Nama-namanya juga ditulis kecil kecil. Dapet duit juga enggak. Bahkan tulisan-tulisan itu yang tadinya dimuat di Republika honornya sebagian maupun keseluruhannyapun untuk kontribusi organisasi. Tapi kita (at least saya) percaya, bahagia itu tidak saja ketika menerima, tapi manakala memberi. Tulisan2 dari kami yang memang bukan pakar musik, orang awam penggemar musik yang memaksa diri untuk menulis itu adalah pemberian kami untuk society, untuk musik negeri sendiri. Untuk kasus tulisan yang berubah, saya juga merasakan keterkejutan dan kekecewaan itu, karena saya menulis soal Lilis Suryani dan amat kaget tentu saja dengan perubahan besar-besaran. Nama saya ada di situ, tapi jadi enggan juga mengakui (terutama pada diri sendiri) kalau itu tulisan diri. Itu udah tulisan orang. Ya nggak papalah kalau lebih sempurna. Kembali ke Buku Musisiku 1&2: banyak kelemahan? ah ya wajar saja lah dalam dunia tulis menulis. ada kelemahan, ada kesalahan. Kalau orang mengerti hal ihwal perbukuan dan percetakan pasti mengenal adanyal edisi revisi. Oleh karena itu juga, buku tandingan, atau terbitan lain yang menjawab kelemahan itu justeru dinanti, sehingga kelemahan, kekurangan yang sebenarnya berangkat dari ketulusan dan keikhlasan untuk berkontribusi-berkorban baik waktu dan tenaga tidak direspon sebatas cela dan perendahan tanpa sedikitpun berusaha memaklumi atmosfir dan proses terwujudnya kedua kitab tersebut. Tabik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s