Dari Koes Bersaudara Ke Koes Plus: Sebuah Dialektika Tentang Masa Transisi

Yok Koeswoyo, menandatangani salah satu sampul PH Koes Plus milik saya jelang show reuni Koes Bersaudara 2011 di Purwokerto.
Yok Koeswoyo, pendatang di tubuh Koes Plus. Tampak dalam gambar Yok menandatangani salah satu sampul PH Koes Plus milik saya jelang show reuni Koes Bersaudara 2011 di Purwokerto.

Pada 25 Maret 2012, akun Facebook (FB) Puntho Pranowo Wienahyu mengirim tulisan seputar penggantian personil Koes Bersaudara di group FB Obrolan Seputar Koes Plus (OSK). Posting Puntho ini dalam perkembangannya bergulir ke banyak topik seputar  Koes Bersaudara, terutama hal ihwal pemenjaraan band pria legendaris ini. Suatu diskusi hangat yang hemat saya perlulah didokumentasi agar tak begitu saja menguap. Berikut adalah diskusi yang terjalin selengkapnya:

Berandai-andai,
Seandainya kala itu mas Yon dan mas Yok ‘juga’ menolak diajak mas Tonny untuk konsisten dalam bermusik,
Kira-kira siapa ya yang akan diajak mas Tonny sebagai “pengganti”?

Disebutnya nama Yok Koeswoyo membuat saya cukup heran, karena bukankah Yok memang memutuskan untuk tidak bergabung dengan Koes Plus pada awal didirikannya, sehubungan dengan hengkangnya Koesnomo sang drummer. Saya kemudian mengomentari demikian:

“Kala itu” yang mana yang anda maksud?1969 ketika Koesnomo keluar kemudian digantikan Kasmuri? Kalau itu yang dimaksud, Bukankah Yok memang menolak, dan oleh karenanya Koestono mengajak Totok A.R, bassplayer Philon Band yang ikut tinggal bersama anak-anak Koes? Dan jadilah album Koes Plus Vol.1 Dheg Dheg Plas tanpa Yok bukan? Hanya saja ketidakikutannya bukan soal konsisten atau tidak, melainkan kekecewaan, ngambek, karena KoesBers (yang telah jaya itu) harus selesai dan tiada lagi. Totok A.R bukan “kira kira” dan “andai-andai” tapi memang “fakta”.

Ada komentar dari akun FB lain menanyakan isi lagu pada vol. 1, namun tak saya tanggapi, bukan karena saya angkuh dan sombong, tapi hemat saya hal sederhana seperti itu dengan mudah bisa ditemukan di mesin pencari google.  Selanjutnya Puntho membalas komentar sebagai berikut:

Terimakasih Mas,maaf yang aku maksud dengan kala itu,kala dimana mas Tonny bertanya perihal ketegasan kepada adik-adiknya untuk memilih hidup di jalur musik atau tidak,soal mas Nomo diganti mas Murry dan mas Yok sempat diganti oleh Totok A.R sudah clear,maturnwun
Ingin tahu saja jika mas Yon waktu itu juga dalam posisi bimbang/tidak mengiyakan ya di musik,mungkinkah mas Tonny sudah menyiapkan alternatif lain untuk diajak bermusik bersama di luar Koes,karena sedemikian cerdasnya almarhum,
Bersyukur hal itu tidak terjadi

Respon di atas pada awalnya agak terasa aneh karena di satu sisi adanya Totok A.R. dikatakan sudah clear. tapi dalam kenyataannya ditanyakan. Atau mungkin jawaban saya telah memberi informasi yang menjelaskan, bisa jadi juga. Maka dari itu saya membalas komen sebagai berikut:

Sudah clear bagaimana, Lha itu anda (di posting) menanyakan juga soal Yok. Ini saya copas dari anda”Seandainya kala itu mas Yon dan mas Yok ‘juga’ menolak diajak mas Tonny untuk konsisten dalam bermusik,” [Oh atau mungkin urun jawaban dari saya cukup jelas, begitukah maksudnya?]

Puntho membalas komentar sebagai berikut:

Atau mungkin dipersempit lagi pertanyaannya,seandainya ketika itu mas Yon dan mas Yok menjawab tidak ketika ditanyai ketegasannya oleh mas Tonny dan memilih jalur di luar musik dan bukan karena ngambek,karena ngambeknya mas Yok akibat mas Nomo dikeluarkan mas Tonny karena tidak total menjawab akan fokus di musik
Siapa yang kira-kira bakal dipilih mas Tonny sebagai alternatifnya begitu Mas

Disambung lagi dengan komentar pendek sebagai berikut:

Soal mas Yok sudah dijawab mas Manunggal posisinya bisa diisi oleh Totok A.R

Setelah itu ada selingan komentar dari Akun FB Abednego T. Gumono dan Yusep Permana, ikut menimpali soal pergantian tersebut. Saya menambahkan komentar sebagai berikut:

ngambek, males, nggak konsisten, itu kan reason saja, yang tak begitu esensial. Yang utama , yang primer adalah penggantian. Yok Koeswoyo bukan saja “bisa” diganti Totok A.R tapi memang “sudah” (pernah) diganti Totok A.R. Untuk pertanyaan yang lebih sempit perihal penggantian Yon, saya tak hendak menjawab, karena buat saya tidaklah urgen andai-andai itu. Yang penting dalam hemat saya adalah fakta yang harus disadari bahwa Yok Koeswoyo adalah pendatang di entitas bernama Koes Plus. Ia memang personil Koes Bersaudara tapi ia bukan founding member Koes Plus. Ia baru masuk di volume 2. Bahkan sebenarnya sebelum Kasmuri juga ada Tommy Darmo yang mengisi posisi drums, namun karena permainannya dirasa tidak pas, maka Totok A.R merekomendasi pada Koestono agar merekrut Kasmuri. Perhatikan, bahwa Totok A.R duluan-lah yang menjadi “Plus” di tubuh Koes  (yang tinggal Koestono dan Koesyono), sehingga menjadi  Koes Plus. Plus yang pertama itu adalah Totok Adji Rahman aka Totok A.R, baru Plus yang  kedua adalah Kasmuri. Ini yang menurut saya lebih penting dihayati karena fact (fakta, kenyataan), dan bukan sekedar andai-andai.

Puntho memberi respon atas komentar saya sebagai berikut:

Tidak urgen andai-andai itu,tapi itulah pertanyaanya

Eh,siapa tahu ada yang mengetahui rencana/pemikiran lain/strategi mas Tonny waktu itu seandainya mas Yon dan mas Yok betul-betul menolak bergabung,kan siapa tau,

Katakanlah A mengajak B C D untuk hidup di jalur musik,andaikata B C D sama-sama menolak bergabung,kan mungkin saja si A ini mempunyai opsi lain yasudah aku (A) akan pilih E F G untuk kuajak bergabung,
Beda soal jika B C mau ,tapi D tidak,hingga si C ngambek hingga diisi oleh orang lain begitu juga dengan D 
Kalau bicara fakta,ya,seperti demikianlah yang sudah dan terjadi di kenyataan

Atas respon Puntho tersebut di atas, saya membalas sebagai berikut:

Quote: Eh,siapa tahu ada yang mengetahui rencana/pemikiran lain/strategi mas Tonny waktu itu seandainya mas Yon dan mas Yok betul-betul menolak bergabung,kan siapa tau, End Quote. Komentar: Saya kok nggak mudeng ya dengan pertanyaan andai-andai anda, kan memang Koesroyo menolak bergabung dengan band kelanjutan Koes Bersaudara yakni Koes Plus . Kok masih pakai kata “seandainya”? Yang pasti dan bukan andai-andai, Koesroyo tidak ikut mendirikan Koes Plus, dan posisi bassplayer diisi oleh Totok A.R dengan formasi awal Koestono, Koesyono, Totok, dan kemudian Tommy, yang kemudian yang terakhir diganti Kasmuri. Sebenarnya istilah Totok A.R “menggantikan” (tanda petik untuk penekanan) Yok, atau Kasmuri “menggantikan” Nomo juga tidak tepat secara falsafati, karena Koes Plus adalah entitas yang baru, berbeda dengan Koes Bers. Tonny Koeswoyo membentuk Koes Plus dengan dua anggota di luar keluarga Koeswoyo yakni Totok AR dan Kasmuri.

Wasis Susilo menyambung dengan komentar sebagai berikut:

Saya kok menduga rekrutment Toto AR oleh mas Tonny lebih bersifat “Show must go on” untuk alasan Koes Plus harus segera rekaman.. karena Tonny tidak menduga kalau Yok akhirnya ngambek melakukan “boikot” dengan “menyembunyikan” monitor speaker kontrol bass. padahal sebelumnya Yok dan Yon adalah lebih fokus bermusik malah berlatih vokal hingga pagi ketimbang Nomo…

Pula kemudian disambung dengan komentar sebagai berikut:

Yok Koeswoyo, soal persitiwa 1969 beliau beralasan, sebenarnya bukan soal solider atau ngambek, hanya soal kenyamanan dan perasaan asing dengan adanya orang baru setelah sepuluh tahun-an bersama sama Nomo…

Saya tidak hendak membantah apa yang disampaikan oleh Wasis Susilo karena bagi saya  apapun alasannya, yang menjadi issue utama adalah Koesroyo alias Yok toh tidak mau nge-band dengan orang di luar Koeswoyo. Selanjutnya Puntho menuliskan respon sebagai berikut:

Pernyataan:”Saya kok nggak mudeng ya dengan pertanyaan andai-andai anda, kan memang Koesroyo menolak bergabung dengan band kelanjutan Koes Bersaudara yakni Koes Plus” 
“Sebenarnya istilah Totok A.R “menggantikan” (tanda petik untuk penekanan) Yok, atau Kasmuri “menggantikan” Nomo juga tidak tepat secara falsafati, karena Koes Plus adalah entitas yang baru, berbeda dengan Koes Bers”
Akankah muncul Plus jika mas Nomo sang drummer Koes Bers itu bersedia fokus di musik?
Bukankah mas Tonny meminta ketegasan adik-adiknya yang juga anggota Koes Bersaudara itu untuk memilih fokus hidup di jalur musik atau tidak?

Ok Mas Manunggal K. Wardaya ,begini saja,
Pengandaian disini muncul,karena,pernah kulihat dan kudengar,kalau tidak salah sebuah wawancara di Youtube bahwa waktu itu yang benar-benar ingin fokus bermusik dan mengiyakan ajakan mas Tonny adalah mas Yon dan mas Yok,sedang mas Nomo lebih memilih di jalur bisnis atau apalah sebutannya
Selama menonton sebuah wawancara di Youtube itulah aku selintas berpikir,wah iya juga kalau waktu itu mas Yon dan mas Yok bersikap sama seperti mas Nomo,
Apa yang kira-kira akan dilakukan mas Tonny,apakah tetap merekrut Totok A.R untuk terus berada di Koes Plus(tidak sekedar agar show must go on saja untuk segera rekaman) bersama mas Murry dan X (seandainya atau jika atau andaikan mas Yon juga menolak)
Begitu lho Mas alasan mengapa pengandaian ini muncul

Saya mencoba memahami apa yang dimaksud oleh Puntho. Di bawah ini adalah komentar saya:

Oh demikian. Saya kira selintas saya telah menjawab, karena soal tidak serius, atau ngambek, atau segan dan takut pada Koestono (bisa jadi bukan??) atau apalah, itu tetap hanyalah menjadi alasan (yang kebenarannya hanya si pemilik alasan yang tau). Yang pasti, kalau masih mau ya pasti akan ada di band, kalau enggak ya dicari orang lain yang mau meneruskan. Koesroyo (Yok), apapun alasannya, kita tahu: tidak mau bergabung dengan band kelanjutan Koes Bersaudara. Harap diingat, soal hilangnya satu Koeswoyo di tubuh Koes Bersaudara bukan hal baru, bukan yang pertama terjadi dengan mundurnya Koesnomo. Sebelumnya Koesjono (Jon) juga mundur, dan band ini masih jalan. Mundurnya Koesnomo adalah hilangnya Koeswoyo yang kedua. Dan mundur/ngambek/apalah istilahnya Koesroyo adalah kehilangan Koeswoyo yang ketiga.

Puntho membalas sebagai berikut:

Yang pasti, kalau masih mau ya pasti akan ada di band, kalau enggak ya dicari orang lain yang mau meneruskan”

Dicari orang lain yang mau meneruskan,inilah pointnya,
Karena kembali ke bertanyanya mas Tonny,katakanlah ke mas Yon,
ya kalau mas Yon menjawab iya,kalau tidak?
Lha,siapa orang lain yang meneruskan?Apakah ada nama-nama kejutan(nama-nama musisi yang saat itu atau sampai saat ini terkenal )yang selama ini belum terkuak?
Apakah ada cerita tersendiri soal ini,atau seperti yang dibilang masYusep Permana bahwa mungkinkah mas Tonny akan bersolo karier?
Kalau ada ceritanya,ya syukur bertambah wawasan,kalau tidak ada,nggih sampun,kan begitu

Saya kemudian membalas sebagai berikut:

Kalau berandai-andai, semua spekulasi akan menjadi mungkin, dan itu kurang gregetnya berandai-andai (itulah mengapa saya lebih memilih memetik pelajaran dari fakta yang ada dan terlupakan daripada sekedar berandai). Akan tetapi kalau toh harus berandai andai juga, dan jawaban berandai-andai ini mempunyai nilai tersendiri (bukan sekedar angan belaka) maka perlu melihat siapa musisi yang ada di dekat mereka kala itu. Musisi yang dekat dengan Koes. Siapa? saya enggak tau. Kalau mau berandai yang menghasilkan simpulan dengan akurasi tinggi  sejarah harus digali bener, siapa yang deket dengan mereka. Akan tetapi analisa seperti ini tidak akan selalu berhasil karena dalam kasus Kasmuri, jelas dia bukan inner circle anak-anak Koes . Bukan crew bukan pula teman. Kasmuri dikenalkan oleh Totok AR. Totok AR sendiri direkrut karena sudah ikut anak-anak Koes dan tinggal bersama mereka. Juga Tommy Darmo sempat jadi drummer mereka walau akhirnya nggak jadi juga. Tapi ada hipotesa di sini bahwa yang direkrut ya orang dekat. Inner circle. Andaikan Yon nggak mau ikut dan tinggal Koestono? Salah satu andai-andai itu adalah Totok A.R akan merekomendasi vokalis lain yang ia kenal sebagaimana ia merekomendasi Kasmuri pada Koestono . Siapa? ya nggak tau juga. Namanya juga andai-andai. Nah satu hal hendak saya sampaikan di sini yang bukan sekedar andai-andai adalah ide Koes Plus berlima, yakni masuknya Koesroyo tanpa menggusur Totok A.R. Bukan andai-andai, karena ini adalah idee yang pernah dilontarkan Koestono sendiri. Sayangnya (atau untungnya???) Totok A.R menolak dan dengan rela mundur dari Koes Plus sehingga formasi Koes Plus sejak vol. 2 hingga beberapa tahun ke depannya menjadi Koestono, Koesyono, Koesroyo, dan Kasmuri.

Akun FB Subagyo Santosa memberi komentar sebagai berikut:

Tidak baik ber andai andai hal yang sudah berlalu.Ambil hikmah kejadian dimasa lalu,tatap masa depan penuh semangat.

Sementara Wasis Susilo menambahkan sebagai berikut:

versi lain… yang mengenalkan Kasmurry adalah Yon Koeswoyo melalui Tommy Dharmo… orang yang ikut “ngenger” di keluarga Koes… (yang kini konon mewakili keluarga Koes menggugat RPM produser CD Koes volume 1 dan 2)

Terhadap tambahan komentar di atas, saya memberi respon sebagai berikut:

Hemat saya berandai-andai tidak selalu tidak baik. ia bisa informatif pula, senyampang memang ada potensi sesuatu hal itu terjadi. Misal: Seandainya Koes Bersaudara tidak ditahan di Penjara Glodok, maka merekalah yang sebenarnya direncanakan untuk berangkat ke Bangkok, bukan Dara Puspita. Wasis Susilo: yak, dalam sejarah, versie berbeda adalah hal biasa. Versi yang saya tulis adalah versi Totok A.R yang disampaikan sendiri oleh Totok A.R pada saya beberapa pekan lalu. Justeru ini menjadi menarik: siapa sebenarnya yang ngenalin Kasmuri pada Koestono: Yon atau Totok? Atau yah, mereka bisa saja berangkat bersama sama sehingga punya klaim menjadi pihak yang mengenalkan.

Wasis Susilo memberi tambahan komentar soal nama-nama lain yang dikenal sebagai drummer yang konon pernah mengikuti semacam audisi. Berikut tulisannya:

Dalam ceritera yang lain pula… sebelum jatuh pilihan pada Kasmurry…. sebelumnya Koes Bersaudara didatangi beberapa drumer antara lain Eddy Tulis-Drumer Jazz, juga Fuad Hasan yang kemudian menjadi drumer God Bless… dan baru merasa mantap setelah jam session latihan dengan Kasmury yg kala itu masih tercatat sebagai drummer band Patas milik Kejaksaaan…

Saya memberi komentar cukup pendek sebagai berikut:

Kasmuri dari Patas dan Totok A.R dari Philon, dua musisi yang ditakdirkan sejarah jadi bagian dari Koes Plus Volume 1.

Respon-respon di atas cukup memberi kepuasan pada Puntho. Ia menulis sebagai berikut:

Inilah Mas,jawaban dari semula yang diinginkan,
Karena terjawab sudah rasa penasaran bahwa memang tidak ada nama lain katakanlah yang bisa jadi hampir meneruskan posisi Yon,atau cerita yang mengejutkan lainnya,
Misal ini hanya misalnya saja “Benny Panjaitan hampir saja jadi vokalis Koes Plus andai mas Yon menolak”,maaf sekali lagi ini hanya misalnya,
Andai disini pun bukan andai yang bersifat kosong bukan pula andai yang bersifat menyesali atau sejenisnya,tetapi andai disini lebih kepada apa ada opsi lain
Bagiku,pertama kali mendengar bahwa ada nama lain disamping Kasmuri seperti Fuad Hasan yang kemudian menjadi drummer God Bless,itu mengejutkan bahwa oh ternyata ada ya nama lain ya sebelum pilihan jatuh ke mas Murry,begitu

Siapa tau ada cerita baru disini kan jadi bertambah ilmu,tetapi jika tidak ada pun tidak menjadi soal karena fakta sejarah tidak bisa diingkari dan tidak ada pula yang perlu disesali

Dialektika di atas rupanya menarik perhatian beberapa anggota group. Udy Riyanto misalnya, yang kerap memberi tanda “like” menulis pendek sebagai berikut:

Informasi yg sangat menarik utk menambah wawasan saya ttg sejarah KB/KP.

Sedangkan akun FB Ferry Raya menulis sebagai berikut:

Info yg menarik. Sy baru tau kl pernah ada opsi formasi 5 personil.
Thx mas Manunggal n mas Puntho.

Akun FB Suryadi Rendra memberi apresiasi sebagai berikut:

Selalu ada tambahan wawasan dan informasi mengenai sejarah terbentuknya Koes Plus setelah mengikuti uraian dari pak Manunggal K. Wardaya dan pak Wasis Susilo. Maturnuwun sanget…

Selanjutnya terjadi ‘percakapan’ antar beberapa member group mengenai informasi yang dipandang bermanfaat hingga kemudian akun FB Ferry Raya menuliskan komentar sebagai berikut:

Mas Suryadi, ada bbrp cerita yg sampai skrg belum jelas, i.e.: cerita di belakang pemenjaraan KB. 
1. Ditangkap aparat krn memainkan lagu2 ‘ngak ngik ngok’ (ini yg plg banyak diketahui umum).
2. Ditangkap KOTI utk dijadikan spion ke Malaysia (Yok di acara Kick Andy).
3. Taktik lawan politik utk mendeskreditkan Soekarno (didukung AS dan Inggris).
4. Bbrp issue lagi yg saya sdh lupa.

Satu lagi adalah asal nama KP (bukan arti). Semua org di awal th 70an taunya istilah ‘Plus’ itu berasal dari APC Plus. Info itu berdasarkan interview Murry (mgkn jg Tonny) dgn media cetak. Tidak pernah ada bantahan atau koreksi. Tiba2 th 2012 (40th kemudian) saat acara off air di TV One Yon bilang (kira2): “Itu hanya halusinasi Murry.” Apa saya ngga berhak bingung??? Hehehe……

Komentar Ferry Raya ditujukan pada Akun FB Suryadi, akan tetapi bolehlah saya sebagai anggota group memberi pendapat. Pendapat saya tertulis sebagai berikut:

Mas Ferry Raya, saya bisa urun argumentasi sbb: 1. Ngak Ngik Ngok yang dimaksud sebenarnya dalam implementasi lapangan, adalah The Beatles. Harus diingat, fenomena Beatlemania yang melanda dunia kala itu termasuk Indonesia, The Beatles dianggap representasi Inggris sementara kita tahu, Inggris adalah kekuatan yang dianggap sebagai Neo Imperialism, Imperialism gaya baru. Sukarno menentang hal ini, dan oleh karenanyalah ia mengkampanyekan Ganyang Malaysia yang sebenarnya sasaran utamanya adalah Inggris. Jadi bukan sembarang ngak ngik ngok, karena di saat yang sama di pesta ulang tahun itu, anak-anak Irama Puspita (kelak jadi Dara Puspita) juga memainkan musik keras, tapi mereka toh tidak ditangkap. Periksa interview saya dengan Lies AR Dara Puspita di sini: http://www.youtube.com/watch?v=bEOL49plWxk kemudian untuk menjadi spion di Malaysia, jauh sebelum Talk Show Kick Andy dan Bukan Empat Mata, saya pernah berbincang dengan Pak Koesnomo di kediamannya di Magelang dan beliau berkisah, lebih kurang sebagai berikut : Mereka ditangkap dan skenarionya mereka akan lari ke Malaysia.Jadi seakan cari perlindungan di sana. Nah di sana itulah direncanakan mereka justeru menjadi spion, melihat keadaan di sana untuk kepentingan RI. Pak Koesnomo mengatakan bahwa dia itu tentara tanpa seragam, mendeskripsi dirinya yang telah kerap bekerjasama dengan pihak keamanan Indonesia melalui hal seni budaya (saya kemudian berfikir pastilah peran ini juga pernah diemban di East Timor dulunya bersama Koes Plus). Ini yang jadi tangkapan saya. Di Kick Andy, saya melihat hal yang rumit ini tidak terungkap dengan baik, maka menimbulkan kebingungan. Mungkin karena Andy Noya juga dalam bertanya kurang menggali lebih dalam, mungkin juga karena Koes yang menjawab kurang kronologis dan runtut. Juga di acara 4 Mata, karena Thukul kebanyakan guyon. Jadi sebenarnya pemenjaraan itu adalah pura-pura. Untuk ABC Plus, hal itu dinyatakan juga oleh Totok A.R pada saya, memang ABC Plus. Obat batuk. Diambil Plus-nya saja.

Terhadap respon saya, Ferry Raya memberi komentar sebagai berikut:

Mas Manunggal thx video-nya, menarik sekali. 
Mengenai butir 1 diatas, sy faham sekali dan sependapat dgn anda. Saya tdk akan pernah lupa ucapan Soekarno “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”. Tidak ada presiden kita, selain beliau, bahkan mgkn pemimpin negara2 lain, yg berani berkata spt itu.
Satu hal lg, slogan ‘Ganyang Malaysia’, selain negara itu dianggap satelit Inggris (nekolim), jg krn kebencian Soekarno terhdp Tunku Abdurrachman yg ingkar janji utk bersatu dgn Indonesia stlh Malàysia merdeka.
Tp dilain pihak, Inggris dan AS wajar utk merasa takut bila Indonesia menjadi lbh besar krn 2 hal:
1. Soekarno tdk mau didikte utk menjadi sekutu AS.
2. Kekuatiran Senator Mc Carthy soal banyaknya negara2 di asia yg jatuh ke tangan komunis (issue ini pula yg digunakan utk menggulingkan Soekarno).
Anyway, utk sy alasan dibalik penangkapan itu ttp blm jelas, krn stlh acara kick andy, Yon dlm suatu kesempatan msh mengatakan ‘masa main musik aja ditangkap?’
Mengenai APC Plus, saya jg yakin dgn apa yg dikatakan Murry. Masalahnya bila hal ini disanggah (oleh Yon), dan blm mendapat sanggahan lagi (dari Murry), menurut kebiasaan yg berlaku, pernyataan Yon dianggap benar. Padahal ini fakta penting, kl tdk bisa dikatakan sejarah. Tp mau gimana lagi? Sejarah kita, bahkan sejarah dunia, banyak yg rancu. 
Insya Allah kapan2 kita bisa copdar utk berbagi dgn lbh leluasa.

Menanggapi Ferry Raya, saya memberi jawaban sebagai berikut:

 Baik, soal alasan di balik penangkapan yang dinilai belum jelas terkait dengan bantahan Koesyono dan perihal nama APC Plus yang juga dinilai belum meyakinkan karena dibantah pula oleh Koesyono. Bagi saya yang tunduk pada hukum dialektika Hegel. maka sebenarnya argumentasi (tesis) adanya motof politik di balik penangkapan (sebagaimana diungkapkan Koesroyo yang anda kemukakan itu dan sebagaimana diungkapkan Koesnomo pada saya) itulah yang kebenarannya. Juga, perihal nama, itulah kebenarannya. Ini bukan karena sok benar. Karena jika (tesis) nama Koes Plus dibantah sebagai terinspirasi dari APC Plus, lantas apa argumentasi (antitesis) dari Koesyono? tidak ada, hanya sekedar membantah saja (seperti yang anda sampaikan “halusinasi Kasmuri”).Juga adakah alasan (antitesis) Yon soal penangkapan itu? Ternyata tidak ada. Dalam hukum dialektika, jika tidak ada antitesis, sebuah tesis harus diterima sebagai kebenaran. Kebenaran ini terbuka untuk dicabar, dibantah dengan antitesis, hingga timbul sintesis alias kebenaran baru. Demikian terus menerus sampai tak bisa dibantah lagi, kebenaran absolut. Jadi tidak mengandalkan kebiasaan belaka. Harus diingat, Yon tidak pernah menyinggung keberadaan Totok AR sebagai Plus di dalam Koes. Apakah itu kebenaran juga (karena telah menjadi kebiasaan)?

Jawaban saya yang agak panjang itu memancing respon dari Suryadi Rendra sebagai berikut:

Semakin menarik dan menimbulkan pertanyaan bagi saya. Yang sempat saya dengar adalah bahwa musik yang dimainkan Koes Bersaudara saat itu dianggap kontra revolusi oleh Bung Karno. Nah, apakah alasan pemenjaraan Koes Bersaudara yang dikatakan akan dijadikan spion di Malaysia bukan sekedar “pengobat kekekcewaaan”? Karena belum pernah saya mendengar bahwa untuk hal tersebut mereka sudah dibekali dengan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan tugas-tugas spionase. Seandainya tidak ada pelatihan khusus, begitu sederhanakah tugas spionase yang harus mereka emban? Mohon kiranya pak Manunggal K. Wardaya, pak Wasis Susiloataupun pak Ferry Raya bisa memberikan pencerahan. Maturnuwun.

Atas komentar itu saya memberi jawaban sebagai berikut:

Handiyanto, tehnisi Koes Bers termasuk yang tidak percaya akan spekulasi pemenjaraan bermotiof politik. Pada saya, ia mengatakan hanya ia (Handi) dan Koestono yang tahu apa sebenarnya. Saya lupa bagaimana persisnya kata akhir Handiyanto, tapi kalau tak silap, bagi dia dipenjarakan ya dipenjarakan saja karena tak segaris dengan kebijakan Demokrasi Terpimpin kala itu. Sementara Koesnomo pada saya dengan sama meyakinkannya pernah mengatakan spekulasi politik itu. Ada setidaknya dua kubu itu. Mana yang dipercaya, tentu terpulang pada anda/kita semua mau meyakini yang mana. Tentu kita tidak melulu mengandalkan mulut para pelaku sejarah. Kita pula bisa melakukan analisa dan spekulasi. Salah satu spekulasi yang ada pada saya adalah hal itu (motif politik) tidaklah diketahui oleh semua mereka di Koes Bersaudara sehingga wajar belaka jika si A ngomong gini, si B ngomong gitu. Analisa yang mendukung adalah : memang mereka perlu dipenjarakan dulu, dikesankan sebagai terkuya kuya (teraniaya) dulu, sehingga ketika mereka lari ke Malaysia yang seakan mencari suaka, mereka akan diterima. Tanpa itu, tentu kedatangan mereka dalam konteks perhubungan politik dua negara yang memanas akan mudah memanen curiga. Perihal spionage tanpa pelatihan, saya tak kompeten menjawab, karena itu soal tehnis. Tapi kalaupun harus menjawab, saya kira  tugas yang akan dibebankan negara pada mereka sudah tentu bukan berperan sebagai James Bond dengan segala kamuflase-nya yang penuh skill, melainkan lebih kepada sebagai informan. Hal ini bahkan seorang Frank Sinatra pun pernah melakukannya. Skenario ini tidak terjadi karena akhirnya ada Gestok di Jakarta. Pemenjaraan itu juga menggagalkan rencana untuk membawa Koes Bersaudara ke Bangkok untuk show di sana. Sebagai gantinya, Handiyanto memberi usul: Dara Puspita! ANDAI (kali ini saya berandai-andai) Koes Bersaudara tidak dipenjarakan, andai mereka jadi berangkat ke Bangkok, maka saya kira, tidak akan pernah ada lagu Pantai Pattaya dari Dara Puspita 🙂

Ferry Raya memberi komentar setelah saya sebagai berikut:

Suryadi Rendra@: Sy msh terlalu kecil ketika KB di penjara. Tp kesan yg saya tangkap, umum menilai, KB saat itu dianggáp tidak nasionalist. Bayangkan, tentara sdh dikirim ke perbatasan utk perang melawan Malaysia yg di backing Inggris, bahkan 2 org KKO (skrg Marinir) ditangkap dan digantung di Singapore (wkt itu msh bgn dr Malaysia) krn kegiatan spionase, sementara KB membawakan musik ngak ngik ngok? Yon sdr mengakui, salah satu hikmah pemenjaraan, KB menjadi lbh nasionalis dan mulai menulis lagu cinta air (walau secara pribadi saya menilai rentang waktunya terlalu lama, th 1965 – 1972/3 lagu Nusantara).
Ttp stlh Soekarno jatuh, seperti umum terjadi di politik, ‘semua fakta dan pendapat menjadi terbalik. Bukankah sejarah selalu milik penguasa????
Mengenai pelatihan menjadi mata2 sdh dijelaskan oleh mas Manunggal, dan saya sependapat.

Selanjutnya, Ferry Raya pula menambahkan komentar sebagai berikut:

Mas Manunggal sy sependapat, kita tdk boleh hanya bersandar pada mulut pelaku sejarah. Sdh terlalu banyak contoh, tp sy tdk ingin melebar. Bs kt bicarakan lain waktu.
Saya jg pernah dengar alasan pemenjaraan yg ‘sebenarnya’ hanya diketahui 2 org, tp baru tau kl yg seorang itu pak Handiyanto?
Mengenai penangkapan utk mengesankan KB terkuya kuya, adalah yg saya sebut sebelumnya sbg upaya utk mendeskreditkan Soekarno. Ttp hal ini tdk berhasil, plg tdk sampai saat Soekarno msh berkuasa. Yg pasti sejarah mencatat, KB dibebaskan hanya 2 hari sblm apa yg kita kenal dgn peristiwa G30S. Apakah pihak yg ‘sebenarnya’ menangkap KB punya hubungan dgn pelaku G30S? Atau sekedar kebetulan? Wallahualam.

Adapun Wasis Susilo kemudian memberi komentar yang cukup informatif seputar pemenjaraan Koes Bersaudara sebagai berikut:

karena muncul juga spekulasi… keluarnya Koes Bersaudara..akibat kebijakan Subandrio (PKI) bagian dari kampanye PKI… namun dari pihakABRi menyatakan merekalah yang berinisiatif…. mana yang benar walahu a;lam

Saya kemudian memberi komentar yang ditujukan pada Ferry Raya sebagai berikut:

Nee, saya tidak berfikiran sama dengan anda bahwa pemenjaraan untuk mendiskreditkan Sukarno. Pemenjaraan itu dalam pemahaman saya adalah untuk menimbulkan kesan bahwa mereka tak bebas di negeri sendiri, sehingga kalau mereka ‘ngungsi’ ke Malaysia, pelarian mereka akan diterima oleh Malaysia, dan tidak terlalu dicurigai sebagai political mission. Jika pemenjaraan ini dapat berjalan dengan lancar, maka hal ini akan memudahkan mereka dalam menjalankan misi spionage setibanya di Malaysia. Kalau memercayai teori ini, maka pemenjaraan itu harus dipandang sebagai bagian dari strategi politik negara dimana KB (atau setidaknya sebagian dari KB) mengetahui dan mendukung-nya. Sekaligus hendak dikatakan di sini: memercayai bahwa pemenjaraan adalah bagian dari spionage di satu sisi sementara melihat pemenjaraan itu (dengan polos- lugu) sebagai represivitas rejim Sukarno sudah tentu akan membawa kepada kebingungan yang fatal. Nggak akan nyambung. Untuk G30S saya tidak melihat adanya pertalian pembebasan itu dengan G30S, jadi saya lebih memandang faktor kebetulan saja. FYI: Darpus juga berangkat terbang ke Bangkok malam Gestok itu, dan saya rasa tidak ada hubungannya keberangkatan mereka ke Muang Thai dengan peristiwa yang tak terduga itu.

Ferry Raya memberi respon sebagai berikut:

Sekedar klarifikasi, mas Manunggal. Yg saya maksud sependapat dgn anda adalah: “Kita tdk boleh HANYA bersandar pada mulut pelaku sejarah saja.” Saya bahkan sangat setuju.
Mengenai alasan pemenjaraan yg sebenarnyà, saya tetap berpendapat ‘tidak jelas.’ Sedang alasan ‘utk mendeskreditkan Soekarno’ adalah sekedar info tambahan utk butir 3 dari 4 info yg saya miliki (terlepas dr kebenarannya) dan sebut diatas. Semoga menjadi jelas.
Utk kecenderungan tentu ada, yaitu butir 1. Alasan saya:
1. Itu pendapat paling awal dan tidak pernah dibantah (setau saya) selama Tonny Koewoyo masih hidup.
2. Lyric lagu2 era paska penangkapan, i.e.: ‘To The Called The Guilties’, ‘Poor Clown’ dsb. Disitu Tonny ‘meradang’. Tp tentu tdk semua yg diungkapkan di lagu2 tsb adalah fakta sejati selain bbrp kesalahan kecil.
3. Walaupun begitu, Tonny tentu tdk bisa menafikan pendapat umum yg berkembang waktu itu.

Saya pun memberi tanggapan sebagai berikut:

Terimakasih klarifikasinya. Untuk alasan pemenjaraan, saya tidak hendak memilih antara jelas atau tidak jelas seperti anda, melainkan memilih antara masuk akal atau tak masuk akal. Mensikapi alasan pemenjaraan sebagaimana dikemukakan berbagai spekulasi, maka alasan pemenjaraan dalam kerangka besar skenario politik (untuk spionage) sebagaimana disampaikan Koesnomo dan Koesroyo (?) bagi saya cukup masuk akal. Bahwa skenario itu diberitahukan pada sebagian (sehingga ada yang mengklaim tak tahu) atau keseluruhan mereka, sebelum atau sesudah ditangkap, itu soal lain yang perlu penyelidikan pula. Yang pasti, jika hendak menerima skenario politik lanjutan pasca pemenjaraan ( yakni mereka akan ke Malaysia untuk semacam berlindung padahal punya misi observasi politik), maka motif untuk pendiskreditan Sukarno tidak bisa diterima sebagai tujuan (mosok negara/Sukarno mau mendiskreditkan diri sendiri?. Ingat Sukarno teramat kuat pada saat itu, figur sentral dalam Demokrasi Terpimpin).Lantas tujuan utamanya apa? Tidak lain agar Malaysia menerima mereka (yang notabene dari negara ‘musuh’) selepas mereka dari penjara. Kenapa Malaysia diharapkan oleh para plotter di sini akan menerima KB? karena dengan dipenjarakan, maka KB akan dianggap Malaysia sebagai musuh negara RI, dan logika “musuhmu adalah kawan bagiku (ku, Malaysia)” akan terbangun baik di sana (Malaysia). Jika skenario ini berjalan dengan baik, tentu KB akan diterima di Malaysia dan memudahkan kerja mereka dalam arahan aparat Indonesia. Tentang ketiadaan bantahan selama Koestono masih hidup dalam hemat saya harus diletakkan dalam kerangka sosial politik kala itu. Harus diingat, Koestono wafat pada 1987, dan kala itu atmosfir politik represif autoritarian Suharto amat kuat (bahkan hingga satu dasawarsa setelah ia wafat), terlebih di era 70-80. Hal politik seperti ini, terlalu riskan dibicarakan. Untuk Lirik Guilties, saya pernah bertanya pada desainer cover Guilties, yakni Handiyanto sendiri (FYI, dia jugalah yang mendesain cover Domba). Ia yang mendesain gambar cover itu, memotret empat koes, dan merancang Font/huruf nya. Saya tanya mengapa hurufnya besar (GUILTIES) dan mengapa background hitam. Handiyanto menjawab bahwa itu adalah permintaan Koestono, menggambarkan dunia hukum Indonesia yang gelap, semua pakai uang. Juga mudahnya mencap Salah (Guilty) pada orang. “Untuk Mereka yang Dianggap/Disebut Bersalah”, kira kira translasinya bebasnya demikian. Mereka, dan bukan Kami (Koes). Dan liriknya kita perhatikan, bicara soal lawyer, soal court. Mereka, Koes, tidak pernah ke Court (pengadilan) dan tanpa lawyer. Lagu itu bukanlah experience mereka sendiri melainkan berkisah soal orang lain. Siapa? orang orang dalam Penjara Glodok yang mereka jumpai. Jadi konklusinya: lirik lagu itu jauh dari adekwat untuk digunakan sebagai petunjuk pemenjaraan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s