Sedikit Kisah Tentang Pembajakan Rekaman di Indonesia

Sekira bulan Oktober 2009 saya menanyakan pada Handiyanto perihal bajak membajak rekaman musik di tanah air. Handiyanto, mantan tehnisi Koes Bersaudara dan Dara Puspita yang juga banyak terlibat di Dimita Moulding Industries ini menjawab pertanyaan saya soal pembajakan di tanah air. Semoga bisa memberi sedikit terang mengenai hal ihwal pembajakan termasuk tentu saja, Koes Plus ataupun Koes Bers bajakan. Berikut pernyataan lengkapnya yang saya copy paste-kan dari surat elektronik yang dikirimkannya bertanggal 16  Oktober 2009:

Waktu tahun 70 an awal dunia bajakan lagu2 mulai gila2an disambung dengan pembajakan CD hingga sekarang ini.
Waktu masih zaman PH agak sulit untuk membajak tapi toh terjadi juga. Pembajak membuat matrix dari PH asli sehingga sulit dibedakan. Pembajakan PH itu kami sinyalir waktu th 67. Oom Dick dan saya berusaha mencari siapa yang memalsu,tapi sampai saya ke Eropa belum berhasil menemukan dan menangkapnya.
Waktu saya di Eropa Oom Dick cerita dalam suratnya, bahwa pembajakan kaset dilegalkan pihak Kepolisian dan Perindustrian dengan ‘membeli’ izin resmi. Rupanya instansi2 Pemerintah waktu itu belum mengenal hak2 cipta, edar, pokoknya siapa minta izin asal mau bayar pasti dapat.

Sekarang pun semua CD2 dengan label resmi di ‘pasar rakyat’ pasti palsu/bajakan. Lain dengan .’label gurem’ biasanya diproduksi dan diedarkan oleh group2 baru supaya cepat terkenal. Contohnya Inl yang mulai terkenal dariVCD ‘pasar rakyat’.

Untuk meniru label resmi itu mudah sekali. Banyak percetakan kecil2 yang mau mengerjakannya, yang penting ada order. Bagi si ‘pembonceng’ label akan lebih mudah memasarkannya. Orang Remaco sendiri heran karena beredar kaset label Remaco isinya rekaman Irama atau Dimita. Pusing deh berbisnis di Indonesia.

Advertisements