Diskusi Lain Lagi Tentang Sejarah dan Keanggotaan Koes Plus

Formasi Koes Plus: Koesyono, Kasmuri, Jack Kasbhi, Andolin
Formasi Koes Plus: Koesyono, Kasmuri, Jack Kasbhi, Andolin

Pada Jum’at 28 Desember 2012, Akun Facebook (FB) Dhodo Cansera memposting pada Group FB Obrolan Seputar Koes Plus mengenai album Koes Plus ’98 sebagai berikut:

Koes plus dengan personil Yon koeswoyo dan Murry ϑï bantu additional player jack kasbhi dan Andolin merupakan group Чάπƍ cukup produktif juga, sejak berkibar tahun 1997 s/d 2004 telah mengeluarkan album kurang lebih 10 album salah satu ϑï antaranya album ini ..

Posting itu segera mendapat apresiasi dari akun FB Abednego T. Gumono yang menulis sebagai berikut:

Mas Dodo, trmksh infonya, kira-kira knp bisa produktif juga? Apakah karena peran Andolin yang mumpuni dari segi skill musiknya?

Dhodo Cansera menjawab pertanyaan Abednego sebagai berikut:

ßз†ûĽ, peran andolin dan jack kasbhi lah Чάπƍ membuat mereka produktif, andolin adalah musisi Чάπƍ ß¡aså mengaransir lagu lagu batak sedangkan jack kasbhi adalah musisi lagu lagu melayu ..

Setelah satu komentar dari salah seorang member group, Abednego memberi tanggapan sebagai berikut:

Trmksh mas Dodo ulasan dan infonya: setuju. Sayang, Murry ksehatannya tak prima shngg formasi itu bubar.

Menjawab pertanyaan Abednego, Dhodo Cansera memberi jawab sebagai berikut:

Bubarnya formasi ini karena pembagian honor Чάπƍ tidak merata ..

Sebagaimana akun FB Ai Azhari, Abednego kemudian membalas dengan komentar sebagai berikut:

Sayang jika demikian mslh honor yg terjadi.Mungkin ecr kualitas formasi ini bagus juga,ya?

Saya turut memberi komentar di bawah ini:

Kalau mengikuti logika berpikir bahwa kedua orang itu (Jack dan Andolin) adalah additional, argumentasi pembagian honor yang tidak merata sebagai penyebab bubarnya formasi ini menjadi aneh bin janggal. Mengapa? Karena yang namanya additional, manalah ada honornya sama dengan artis utamanya?? Ketidakmerataan ini pasti kesepakatan dari awal JIKA mereka memang benar-benar additional. Lebih jauh,jika “pembagian honor yang tidak merata” hendak dipercaya sebagai penyebab rontoknya formasi ini, maka disadari atau tidak, pernyataan itu telah menggugurkan klaim bahwa kedua mereka itu adalah additional. Saya cukup memercayai soal pembagian honor yang tidak merata ini, karena saya termasuk memercayai (terlepas suka atau tidaknya saya dengan formasi ini) bahwa mereka adalah anggota Koes Plus tanpa embel embel additional.

Dhodo Cansera memberi respon atas komentar saya sebagai berikut:

Dalam wawancara ϑï acara kasak kusuk SCTV sekitar tahun 2005, yon koeswoyo mengungkapkan bahwa hal tersebut sehingga yon koeswoyo berjanji gªk akan memakai lάğΐ kedua orang tsb (andolin dan jack), sedangkan dalam wawancara tsb yon koeswoyo berharap Murry tetap bersama koes plus, karena personil koes plus hanya yon dan murry saat ini, itulah ungkapan yon koeswoyo pada saat itu (silahkan cari ϑï youtube rekaman video tsb άϑά koq)

Menanggapi Dhodo, saya memberi tanggapan sebagai berikut:

Ya tentu saat itu hanya tinggal Yon dan Murry. Mengapa? ya karena pernyataan itu dikeluarkan setelah keduanya (Jack dan Andolin) sudah keluar bukan? Kalau tidak keluar ya masih berempat formasi tadi.

Dhodo Cansera memberi komentar lagi sebagai berikut:

ADDITIONAL PLAYER bagi saya pribadi adalah istilah Чάπƍ paling tepat buat Šё♏Ʊα Чάπƍ pernah ikut terlibat dalam mengibarkan bendera koes plus setelah Tonny koeswoyo wafat ..
karena koes plus hanya terdiri ϑɑяϊ : 
1. Tonny koeswoyo
2. Yon koeswoyo
3. Yok koeswoyo
4. Murry

Ai Azhari memberi komentar sebagai berikut:

Apa pun yg terjadi dgn group ini itulah perjalan hidup mereka yg tak bisa dipungkiri tapi KBP adalah legendaris music dinusantara ini, bravo mas yon, yok, murry, nomo sukses slalu lagu2 mu kan tetap abadi SJN…..

Menganalisa alasan ketidakmerataan honor, saya mengemukakan argumen sebagai berikut:

Untuk keyakinan & fanatisme tiap tiap pribadi penggemar akan keanggotaan KB/P saya tak hendak menyentuh dan mengusik apalagi mencoba merubah. Semua fans punya taste sendiri-sendiri mana lineup yang paling dicintai dan dinilai paling ideal, paling solid, paling melegenda dst. Namun untuk objektifitas historik, saya akan mengatakan Jack dan Andolin bukan additional player Koes Plus . Kasus ketidaksamarataan honor (dan bukan preferensi pribadi saya akan lineup ttt) menguatkan argumen ini. Logikanya, mereka tak akan protes jika sejak awal status hukum mereka memang additional. Juga terkait dengan ini, saya akan mengatakan Koesroyo adalah pendatang di Koes Plus, menggantikan Totok A.R, bukan sebaliknya.

Dhodo Cansera menanggapi sebagai berikut:

Masalah pembagian honor tidak rata hanya ϑï tujukan kepada jack dan andolin, sedangkan antara yon dan murry mendapatkan porsi Чάπƍ sama, justru dalam tayangan tsb waktu itu yon koeswoyo mempertanyakan keberadaan posisi jack dan andolin Чάπƍ minta ϑï bagi rata .. Silahkan cari rekaman tsb ϑï youtube ..

Setelah itu Ai Azhari memberi tanggapan sebagai berikut:

Yaaaap…. Ceritanya begitu divolume 1 koes plus tanpa mas yok karena ikut simpati dgn mas nomo yg hengkang dari koes bersaudara waktu itu mas nomo disurus pilih oleh alm mas tony bermusic atau bisnis ya mas nomo pilih bisnis ..
Pilihan mas nomo itu benar … diantara anak2 Koeswoyo mas nomo lah yg hidupnya lumayan waktu itu….
He he he merderka !!!!

Akun FB Ferry Raya kemudian turut pula menghangatkan diskusi dengan memposting pertanyaan pada Dhodo Cansera sebagai berikut:

Mas Dhodo, sy ingin kembali ke masalah Additional Player tadi. Dgn segala hormat (saya maklum pendirian mas Dhodo sejak lama dan saya hargai itu), stlh menyimak kalimat mas Dhodo diatas: “…….pernah ikut terlibat dalam mengibarkan bendera Koes PlusSETELAH Tonny Koeswoyo wafat………dst.” saya agak sulit mencerna. Dlm hal ini, Totok AR ikut mengibarkan bendera KP SEBELUM Tonny Koeswoyo wafat (dan termasuk founding member – istilah mas Manungal) berarti tdk masuk kategori additional player dimaksud. Ttp mas Dhodo selanjutnya hanya menyebut 4 nama. Dlm hal ini terjadi ambiguous???

Menjawab Ferry Raya, Dhodo Cansera menjawab sebagai berikut:

Kalo kita melihat sejarah terbentuknya koes plus, kita akan ϑï suguhkan tentang ketegasan seorang Tonny koeswoyo mengeluarkan Nomo koeswoyo karena lebih memilih ke bisnis kemudian Tonny koeswoyo mencari pengganti posisi Nomo koeswoyo dan akhirnya terpilihlah Murry sebagai drummer koes plus, namun ketika sudah siap rekaman giliran Yok koeswoyo ngambek, maka masuknya Toto AR mungkin karena terpaksa dan tidak pernah ϑï perhitungkan sebelumnya oleh Tonny koeswoyo (maaf ini hanya pendapat pribadi saja) ..

Saya sepakat dengan Ferry Raya bahwa apa yang dikemukakan Dhodo Cansera terasa ambigu. Maka pada Ferry Raya khususnya, saya memberi komentar sebagai berikut:

Ferry Raya: Ambigu, karena ketika memandang Koes Plus, band ini tidak dianggap sebagai entitas baru, sehingga Koesroyo dianggap digantikan oleh Totok A.R.Padahal jika logika ini dianut dan dikukuhi secara konsisten, mestinya Kasmuri juga harus dianggap additional player. Kenapa? karena ia seharusnya pula diasumsikan menggantikan Koesnomo! Nyatanya? Kasmuri tidak pernah dianggap additional player, sementara posisi Totok A.R malah tidak jelas. Aneh. Kalau analisa saya, Koes Plus adalah entitas baru yang berbeda dengan KB, dimana Koesroyo tidak menjadi founding member nya. Oleh karenanya, memakai logika ini, Koesroyo lah yang menggantikan Totok A.R, bukan sebaliknya. Koesroyo adalah pendatang di tubuh Koes Plus. Soal Koesroyo kemudian bertahan lama dan lebih dikenal, itu adalah soal lain.

Dhodo Cansera memberi tanggapan sebagai berikut:

Mungkin saja Murry ßisa ϑï anggap sebagai additional player kalo saja nama band tersebut masih menggunakan Koes bersaudara, namun Чάπƍ terjadi tonny koeswoyo mengganti nama band tersebut menjadi koes plus itupun nama tersebut atas masukan ϑɑяϊ Murry setelah melihat papan reklame APC Plus, sedangkan keterlibatkan Toto AR mungkin saja karena terpaksa mengingat yok koeswoyo sedang ngambek, dan nyatanya ketika koes plus manggung Toto AR sudah tidak ϑï libatkan lάğΐ , sehingga album koes plus vol.1 laku ϑï pasaran, setelah koes plus bawakan dalam konsernya ϑï senayan

Saya melihat Dhodo Cansera cukup tegas mengatakan bahwa Kasmuri alias Murry bukan additional, akan tetapi nampak ragu dan enggan memberi status pada Totok A.R.  Oleh karenanya saya memberi tanggapan sebagai berikut:

Karena nama telah berganti Koes Plus, suatu entitas baru, maka Kasmuri bukanlah additional, sekaligus benarlah bahwa Koesroyo sebenarnyalah pendatang di tubuh Koes Plus  Koesroyo lah yang menggantikan Totok AR (sejak vol. 2) bukan sebaliknya, Totok A.R menggantikan Koesroyo (karena Totok AR tidak pernah bergabung dengan Koes Bersaudara!) Inilah mindset yang dalam pandangan saya kurang (untuk tidak mengatakan ‘tidak pernah’) difahami oleh banyak penggemar Koes Plus. Adapun terpaksa tidak terpaksanya keterlibatan Totok AR, tidaklah relevan untuk kemudian dijadikan penentu additional atau bukan. Sampul PH Vol. 1 tiada sehurufpun memuat pernyataan additional itu. Demikian juga laku atau tidak sukses maupun tidak rekaman yang dihasilkan tidaklah relevan untuk dijadikan penentu keanggotaan seseorang dalam band. Totok A.R dalam penuturannya sendiri kepada saya menyatakan sempat tour dengan Koes Plus di Jawa Barat dan juga Jawa Tengah. Jadi, tidak benar kalau tidak dilibatkan dalam manggung-nya Koes Plus.

Atas komentar saya, Dodo Cansera memberi respon sebagai berikut:

Terima kasih mas manunggal atas pencerahannya, selama ini sy belum pernah membaca artikel dan mendengar keterlibatan Toto AR dalam konsernya koes plus, dan baru kali ini sy mendengar langsung ϑɑяϊ penuturan mas manunggal, ternyata Toto AR pernah dilibatkan dalam konsernya koes plus, kemungkinan besar konsernya sekitar tahun 1969, karena pada tahun 1970 koes plus Чάπƍ beranggotakan Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo, Murry ketika tampil ϑï senayan menjadi band paling terfavorit ..

Ferry Raya kemudian memberikan komentar sebagai berikut:

Alhamdulillah, fakta2 penting satu persatu terungkap. Mudah2an kedepan, bila ada yg berinisiatif menulis sejarah KP, datanya lbh lengkap dan akurat.
Info tambahan: ketika KP tampil di TV One, Yon mengatakan ada 5 formasi KP, sdg mas Wasis, (wkt itu hadir sbg nara sumber) kl ngga salah mengajukan 11 atau 12 formasi. Perbedaan yg cukup besar. Mgkn hal ini kapan2 bisa dikupas di status tersendiri.

Akun Muhammad Rofiq kemudian muncul dan melontarkan pertanyaan yang agak keluar dari topik keanggotaan Koes Plus mengenai penerimaan masyarakat akan album Koes Plus Vol. 1 sebagai berikut:

Mas Wahono Adhi Hon….bener gak kalau aku berkesimpulan bahwa ketika formasi kp dg Totok ketika show kurang dapat diteima masyarakat dan saat kp dg Yok baru dapat sambutan yang luar biasa? Apakah di senayan saat Jambore merupakan pertama sekali kp tampil dg formasi Tonny Yon Yok Murry di atas panggung? Makasih…

Pertanyaan Rofiq memang tidak ditujukan pada saya, namun saya merasa perlu  pula urun pendapat. Maka saya menulis sebagai berikut:

Yang pada awalnya kurang diterima dari formasi awal titik beratnya sebenarnya bukan soal show akan tetapi lebih pada produk rekamannya. Sempat tidak laku. Nah kita harus kritis untuk menjawab pertanyaan besar: mengapa tidak laku?. Menjawab pertanyaan ini orang tak boleh tebak tebak buah manggis dengan menggunakan parameter kekinian saja, akan tetapi harus mengembalikan album vol. 1 pada tempus (masa) ketika album itu dilempar di pasaran pada akhir 60an dengan memahami betul bagaimana keinginan/selera pasar kala itu. Menengok rekaman-rekaman band pop rock kala itu, masyarakat pembeli piringan hitam (yang jelas bukan masyarakat bawah) menginginkan sebuah band membawakan lagu asing dan atau berbahasa asing setidaknya menyelipkannya dalam rekaman. Jika anda semakin barat, anda akan semakin keren. Kalau enggak barat enggak akan dibeli musik anda. Maka tengoklah rilisan group band kala itu menyisipkan lagu barat atau bahkan cover version. Trio Bimbo misalnya, membawakan Light My Fire (The Doors) di PH awal mereka. The Rollies? tak perlu ditanya, band ini ahli membawakan lagu orang baik di panggung maupun rekaman. Juga Pandjaitan Bersaudara. Dara Puspita menyisipkan Tom Jones dan The Bee Gees. Koes Plus? Pada vol. 1 sama sekali tidak ada lagu berbahasa Inggris dan lagu orang. Purely local, bahkan issue lokal! Adapun soal sambutan di Jamboree, saya kira kita harus kritis menginterpretasi tulisan telah lama pula menjadi rujukan di kalangan penggemar. Harap diingat, Jamboree adalah sebuah music festival yang menghadirkan beragam band, bukan show tunggal 1 band: hingga sambutan bisa sangat meriah, bisa pula sangat buruk. Mengapa? Karena kwantitas/jumlah audiens yang datang adalah akumulasi massa berbagai band. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang khusus menyaksikan show 1 band saja. Koes Plus diterima, dalam arti memang enggak dilempari waktu show itu walau membawakan lagu yang berbahasa Indonesia . Jangan salah, band yang tidak membawakan lagu berbahasa Inggris ( antara lain dialami oleh Bimbo, walau bukan di kesempatan yang sama) akan merasakan juga pahitnya dilempari.

Muhammad Rofiq memberikan tanggapan sebagai berikut:

Setahuku koes, tepatnya koesbers, apapun produknya justru membuat pasar senang. Contoh lagu berbahasa Indonesia Bus Sekolah, Pagi Yang Indah, Dara Manisku. Rasanya aku belum pernah baca phnya gak laku, padahal saat itu orang kaya yg punya ph player suka lagu berbahasa asing.

Ada juga yang bilang, katanya irama musiknya terlalu keras dengan dheg dheg plas atau kelelawar….hhhhaaaalllllaaaahhhh….di album koes bers juga keras dan laku.

Aku termasuk yang tidak percaya sepenuhnya analisa pengamat. Entah itu ekonomi, politic, atau musik. Karena diantata mereka kadang punya kepentingan sehingga ikut bermain dengan opininya.

Paling ideal membandingkan formasi kp dengan Yok atau bukan adalah dengan membuka catatan sejarah yang ada, dalam satu tempat pertunjukan (gedung atau kota tertentu) dalam periode waktu yang dekat, harga ticket gak berubah, harinya sama (libur atau kerja), nah bandingkan jumlah penonton yang hadir. 

Nah kalo di jambore yang notabene penontonya ‘heterogen’ dan mendapat sambutan, ini luar biasa.

Dhodo Cansera memberi tanggapan terutama soal show Koes Plus dalam formasi awal di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dinilainya belum meyakinkan. Selengkapnya komentarnya sebagai berikut:

benar mas Wahono Adhi Hon, dalam berbagai artikel tentang KBP yang pernah saya baca tidak ada satupun yang mengisahkan tentang shownya koes plus dengan formasi : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Toto AR dan Murry, termasuk di buku karya Yon koeswoyo (Panggung kehidupa), untuk meyakinkan gak ada salahnya di tanyakan lagi ke personil Yon koeswoyo atau Murry, apakah benar formasi vol.1 pernah show di jawa barat dan jawa tengah ..

Terhadap Dhodo Cansera dan Muhammad Rofiq saya memberi tanggapan terhadap komentar mereka sebagai berikut:

Dhodo Cansera: Untuk show dengan Totok A.R, pernyataan itu keluar dari mulut beliau sendiri pada saya. Jadi kalau anda benar, maka anggap saja Totok A.R berbohong, termasuk saya kena bohong dia. Atau alternatifnya, bisa jadi Koesyono lupa dan tidak detail, dia toh manusia juga. Mengingatkan: tidak semua hal ada dalam tangkapan media. Tidak ada di media, bukan berarti tidak ada suatu peristiwa. Sebaliknya ada sesuatu di media belum tentu ada benar benar terjadi di alam nyata. Muhammad Rofiq: Koes Bers era 62-64 konsepnya di rekaman lebih kepada duo [Jon & Jok], walau musisinya toh dimainkan oleh mereka bersaudara itu. Pula harus diingat saat itu negara (orde lama) begitu kuat pengaruhnya terhadap kesenian, kental warna nasionalisme dan kebanggaan pada budaya sendiri begitu kukuh. Mungkin representasi paling klimaks dari ini adalah PH Irama album Irama Lenso itu. Konteks setelah jatuhnya Soekarno tentu amat lain dengan akhir 60-an dimana musik barat amat lebih bebas dan diinginkan, dengan tuntutan pasar yang berbeda pula. Bersamaan dengan itu maka muncullah konsep full band, menggantikan konsep duo yang mulai terasa old-fashion.

Ai Azhari memberi komentar sebagai berikut:

Kalau kita kupas sedalam dalamnya sejarah dari KPB ini tak ada habis2nya, karena begitu peliknya sejarah group ini, tapi yg saya tau Toto Ar tak pernah ikut dalam show Toto Ar hanya terlibat dalam rekaman Volume 1 karena Yok ngambek dan dlm keadaan terpaksa waktu itu harus dicari pengganti Yok yaitu Toto Ar. Setelah keluar volume 1 PH tak laku dipasaran Murry sempat juga semacam putus asa dan pergi ke Brebes mengasingkan diri tapi setelah Koes Plus adakan konser disenayan barulah orang2 tau siapa Koes Plus dan PHnya pun laku keras dipasaran. Kalau saya ingat watku itu dari thn 1972 sampai 1976 dimana mana tempat hanya terdengar lagu2 Koes plus begitulah populernya anak2 Koeswoyo ini.

Muhammad Rofiq menimpali dengan komentar sebagai berikut:

Dari sejarah ‘terbaca’, saat koes bers dengan konsep duo dan kondisi nasionisme saat itu, produk koes laris manis. 

Demikian juga ketika era band ‘ala beatles’ tetap laris manis. 

Ketika era koes plus dengan dua koes yang ada di dalam, produk kurang laku. 

Begitu koes plus dengan tiga koes, produk laris manis lagi.
Rasanya dari produk gak ada perubahan besar (significant), demikian juga dari fans yang sudah kadung kenal dengan karakter musik koes. Perubahan dari dua koes menjadi tiga koes seperti efek domino karena seketika memancing emosi fansnya untuk memburu kembali produk koes plus. Tidak pakai lama. Seakan mengkonfirmasi fans yang sebelumnya suka, mampu tapi tidak mau menjadi mau.

Saya memberi tanggapan pada komentar Ai Azhari sebagai berikut:

Ai Azhari:yang anda tahu, Totok AR tidak pernah ikut show. Sama dengan Mas Dhodo Cansera yang mendasarkan pada media menyimpulkan tidak pernah ada tour Koes dengan Totok AR. Nah oleh karenanya justeru saya memberi tahu pada anda berdua, bahwa Totok AR pernah show dengan Koes Plus. Kok saya bisa berkata begini? karena saya diberitahu oleh Totok A.R sendiri, yang hemat saya adalah informasi sahih. Nah, setelah saya beritahu, tentu menjadi pilihan bebas setiap orang (termasuk anda berdua) untuk percaya maupun tidak percaya dengan apa yang dikatakan Totok A.R ini.

Setelah itu, komentar yang datang berisi perihal album volume 1. Wasis Susilo turut memberi terang dengan komentarnya sebagai berikut:

Ketika Koes Bersaudara (1968) ditinggalkan Nomo kemudian Yok .. tidak ada media yang menyatakan ketidak adaan kontrak Show Koes Bersaudara… artinya kontrak Show Koes Bersaudara tetap dilaksanakan oleh Koes Plus (Tonny Yon Toto AR, Murry).. walau mungkin Tulisan Latar Belakangnya tetap Koes Bersaudara.. seperti juga pada saat Bing Slamet menggantikan posisi Yok ketika berhalangan ketika Show Koes Bersaudara tahun 66….

Sementara Ferry Raya menimpali sebagai berikut:

Plg ideal mmg bertanya pd pelaku spt usul mas Dhodo, dgn catatan kt tdk bisa HANYA bersandar pd hal itu sajs. Contoh kasus: asal nama KP (bukan arti) yg amat sangat penting sekali, tp ternyata Yon tdk tau. Blm lagi faktor ‘U’ dan perjalanan yg teramat panjang. Banyak fakta yg tercampur aduk atau bahkan terlupakan. 
Contoh lain: Yon pernah claim lagu ‘Mengapa Kau Sedih’? (vol 2 Cipt Yok) sbg lagu Rap. Padahal kita tau, waktu itu rap blm ada, minimal belum banyak diketahui. Selain itu, unsur lagu2 rap, salah satunya: lirik yg berisi kritik sosial terhadap pemerintah/aparat/polisi/ketidak adilan sosial) sama sekali tdk ada dalam lagu itu. Silahkan simak lyric-nya dgn cermat. Dgn kata lain, lagu ‘Mengapa Kau Sedih’ tdk termasuk lagu rap. Apakah Yon berbohong? Blm tentu juga. Bisa jadi Yon (spt kebanyakan kt disini) tdk faham definisi lagu rap. Jadi itu bisa dimengerti. Tapi kl kebetulan ada yg tau, tentu tdk ada salahnya memberi tau/berbagi.

Mengenai album Dheg Dheg Plas yg terlambat laku (bukan tidak laku), mmg karena musik dan lyric-nya jauh melampaui masa-nya, dan masyarakat belum siap. Mohon diingat Dheg Dheg Plas dirilis th 1969. Silahkan baca kata pengantar di cover album itu (LP/PH, saya tdk tau apakah ada di cover cassette). Kl skrg kt denger album Dheg Dheg Plas, ya ngga ada yg aneh. Tp coba denger th 1969, blm tentu kita mau beli. 
Saya pernah baca wawancara Murry di media cetak, beliau cerita di marahin penyiar radio (kira2): “Oh kamu yg main lagu Kelelawar. Kl buat lagu yg bener.” Bayangkan!!!! Penyiar radio masa itu adalah org yg sangat ngerti lagu tp ngga bisa terima lagu KP. Apalagi yg cuma pendengar. 

Lagu2 KB spt Angin Laut, Senja, Pagi Yang Indah dll mmg terkenal dan cukup laku. Tp itu lagu2 manis sblm pemenjaraan. Lagu keras pasca pemenjaraan spt Poor Clown dan To The Called The Guilties apa bisa dibilang laku? Apa parameternya?
Tp ngga usah susah2, begini saja. Kl album To The So Called The Guilties dan Jadikan Aku Dombamu laku, Nomo tidak perlu bisnis dan KB tdk akan bubar. 

Mengenai Totok AR show bersama KP, sy jg blm pernah dengar sebelumnya. Tetapi spt kata pepatah ‘Kalau tidak mendengar ranting jatuh, bukan berarti hal itu tidak terjadi.’ Saya bersedia merubah opini saya. Apalagi sdh ada 2 org yg mengatakan. Bukankah kita disini utk berbagi? Berbagi adalah memberi dan menerima.

Agak banyak komentar yang masuk setelah itu, kebanyakan sepotong-sepotong dan kurang begitu esensial. Selanjutnya datang analisa kembali dari Ferry Raya:

Kenapa album Dheg Dheg Plas terlambat laku? Spekulasi sy, krn musik dan lyric-nya mendahului jaman, penggemar musik blm siap. Berikut saya kutip pengantar di album dimaksud: KOES PLUS. SEBUAH PH MEREKA JG TERBARU. PLUS * KESEMPURNAAN PERMAINAN MUSIK DAN TECHNIK MENYANYI JG. CHAS DAN BELUM ADA DUA-NJA!

Kata pengantar ini sama sekali bukan omong kosong. Yg paling penting, utk memahami album kita harus masuk time tunnel ke masa album ini di-rilis. Kl tdk, sulit utk memahami. Lagu2 rumit Yes, Genesis, Led Zeppelin saja terdengar biasa kl kita dengar skrg. Sbg ilustrasi, lagu2 yg hit sblm itu adalah ‘Patah Hati’ (Rachmat Kartolo), ‘Teluk Bajur’ (Ernie Johan) dll. Yg agak sejaman seingat sy album Titiek Sandhora n Muchsin: ‘Terang Bulan di Gunung’ (lagu Cina yg diterjemahkan), Bermain Tali (lagu India yg terjemahkan) dan satu lagu yg saya lupa judulnya (terjemahan lagu Silver Thread and Golden Needle).
Jadi begitu dengar “Disana disini, kesana kemari…….Mengapa kudengar hanya musik dan nyanyi……?” saya bengong asli.
Intro ‘Derita’ yg cuma 1 bar pukulan drum itu jgn dipandang remeh. Mgkn yg lebih dulu buat intro pake drum hanya lagu ‘Bilakah Kamu Tetap Disini’ (KB – Tonny). Sblmnya ya blm ada. Bgt juga dgn solo drum ditengah lagu ‘Tiba2 Kumenangis’ dan fill in lagu ‘Hilang Tak Berkesan’. 
Permainan bass Totok AR jg sangat dahsyat. Kl punya waktu silahkan dengar permainannya di lagu ‘Awan Hitam’, ‘Biar Berlalu’ dan ‘Lusa Mungkin Kau Datang.’ Tp sekali lagi, jgn lupa masuk time tunnel dulu.

Kl akhirnya lagu KP jd akrab dgn telinga, spekulasi sy krn penyiar radio mulai sering memutar lagu2 KP.

Saya pernah menulis artikel khusus album Dheg Dheg Plas utk majalah Fakta. Kl mas Rofiq berkenan, nanti saya kirim artikel-nya via email.

Ai Azhari menyambung dengan komentar sebagai berikut:

Seperti yg saya katakan tempo hari kalau kita buka kembali sejarah koes plus ini tak ada habisnya dari jamannya koes bersaudara hingga ke koes plus, apa lagi setiap orang opininya berlainan tapi kalau mau mencari kebenaran nya lebih baik tanyakan saja ke pelakunya

Disambung kemudian komentar dari Muhammad Rofiq sebagai berikut:

Bisa dipahami, masuk akal, kembali ke cita-cita semula. Kini muncul pertanyaan berikutnya, bagaiman proses mundurnya Totok AR dan masuknya Yok K? Ini nanti bakal terkait dengan latar belakang Kp formasi 3 koes di Senayan. Monggo yang dekat ama kedua beliau….

Akun FB Tjoeng Sun Hin memberi tanggapan sebagai berikut:

sy pernah baca tp udah lupa sumbernya, bahwa mas Yok memang sudah dianggap keluar dr group oleh mas Tonny, mengingat sikap keras mas Tonny dalam memegang teguh prinsip bermusik – bahkan mas Yon harus ‘legowo’ meninggalkan bangku kuliah di Trisakti demi memenuhi tantangan mas Tonny agar memilih musik atau tidak, dan karena ‘rayuan’ mas Murry lah dengan mengajukan berbagai argumen untuk meminta mas Tonny agar menerima kembali mas Yok, argumen yg salah satu dianggap masuk akal adalah sudah menyatunya duet mas Yon-Yok sejak di kb dan jam terbang sudah tinggi, karena sejak blm gabung mas Murry adalah pengagum berat kb saat mereka pentas di surabaya terutama duet vokal tersebut, akan memakan waktu lama lagi kalau dibentuk duet baru. Seperti kita tau ahirnya mas Tonny bisa menerima kembalinya mas Yok, tapi kalau benar mas Totok AR tetap mau dipertahankan jadi 5 formasi, artinya memang mas Tonny sangat mengalami dilema saat itu

Dhodo Cansera menambahkan:

untuk menghilangkan rasa was was dan keraguan ada baiknya kita tanyakan langsung kepada para pelakunya, termasuk pertanyaan dari mas Muhammad Rofiq, tentang mudurnya Toto AR dan masuknya Yok Koeswoyo ..

Saya kemudian menanggapi keraguan dan pernyataan beberapa rekan di atas sebagai berikut:

Seperti pernah saya singgung, saya sempat menanyakan hal itu pada Totok AR dalam rangka penulisan artikel soal “The Forgotten PLUS” ini untuk buku AKTUIL. Tentu saya tidak terlalu menjejas secara detail, seputar kembalinya Koesroyo dan keluarnya ia, karena purpose nya untuk bahan artikel saja. Dalam menghadapi narasumber ketika wawancara, anda akan bisa mengukur mana pertanyaan yang tak perlu ditanyakan, dan mana yang bisa ditanyakan. Walau ia yang mengalami, hal yang terlalu detail di luar ingatannya, akan menimbulkan frustasi untuk menjawab (ingat ini sudah lebih 40 tahun berlalu), padahal sebenarnya tak esensi benar untuk detail diketahui karena toh tak merubah esensi fakta yang terjadi. Tak semua bisa diingat dan dipaksa diingat hanya untuk menjawab hasrat keingintahuan kita (yang kemudian setelah kita puas tahu, ternyata semata untuk hasrat ingi tahu itu sendiri, serta tak mengarsipnya atau untuk tujuan yang lebih akuntabel semisal film dokumenter, buku, atau riset penelitian) . Saya bertanya lebih kurang kenapa mundur, beliau menjawab ya keluar aja, iklas aja. Nggak masalah. Kemudian menceritakan opsi Koes berlima sebagaimana ide Koestono, dan beliau tidak mau. Nada bicara tenang saja, tidak merasa kecewa. Yang terdengar kecewa adalah ketika menyinggung betapa selama ini, namanya tak pernah disebut dalam catatan sejarah, termasuk, klaimnya, Koesyono yang tak pernah menyebut namanya. Dia kecewa sekali. Bisa dimengerti: selama ini media, dan mungkin mereka yang mengaku penggemar, hanya secara sederhana melihat keluarnya Koesnomo dan masuknya Kasmuri sebagai awal terbentuknya Koes Plus , padahal bahkan masuknya Kasmuri sekalipun adalah rekomendasi dia. Totok AR adalah PLUS pertama di tubuh Koes Plus, bukan Kasmuri. Plus pertama dan Plus yang terlupakan. Kalau orang pandai melupakan Plus yang pertama ini, maka orang akan semakin pandai melupakan Plus yang lain di luar formasi legendaris Koestono Koesyono Koesroyo dan kasmuri.

Wasis Susilo menegaskan:

Salah satu alasan kenapa saya perlu meng”invetarisasi” setiap nama orang orang yang terlibat di dalam perjalanan Koes Bersaudara dan Koes Plus” termasuk berbeda pendapat soal jumlah formasi dengan Yon Koeswoyo di Radioshow yang disiarkan scr live di TV One tahun lalu , karena hal itu sebagai bentuk penghargaan bagi sesiapa yang memiliki andil thd group band kita (bagian dari membiasakan manusia Indonesia mengapresiasi dan menghargai prestasi anak bangsa sendiri) dan mendudukkan masalah pada tempatnya untuk definisi istilah “additional player” (bila memang ada) serta juga meminimalisir terjadinya kemungkinan “Kalau orang pandai melupakan Plus yang pertama ini, maka orang akan semakin pandai melupakan Plus yang lain di luar formasi legendaris Koestono Koesyono Koesroyo dan kasmuri.”

Terhadap dialektika di atas, datang tanggapan dari Tjhai Sin Sin, anak menantu Kasmuri aka Murry yang dalam hemat saya merupakan antitesis terhadap dialektika di atas. Penuturan Sin Sin ini penting untuk dibaca, memberi lurus atas dialog yang terjadi di atas. Padanya saya mengucapkan terimakasih. Selengkapnya tanggapan Sdr Sin Sin adalah sebagai berikut:

Mas Manunggal, mohon ijin untuk bercerita

Sebagai orang yang cukup sering mendampingi pa’Murry pada masa-masa Koes Plus formasi yang satu ini, dan sekaligus terlibat penuh saat pembentukan Murry’s Group pada waktu itu, saya berharap penjelasan saya ini dapat meluruskan kesimpang-siuran pandangan terhadap pecahnya Koes Plus ketika itu.
Saya sangat mengenal semua personil dengan baik karena kalau saya mendampingi pa’Murry show, saya adalah yg paling buyut diantara 4 personil sehingga jadi korban dari setiap dongeng dan permasalahan, dan saya sangat menikmatinya.

Mengenai keberadaan Oom Jack & Oom Andolin yang sdh 7 thn mendampingi Pak Murry & Pak Yon dalam mengibarkan bendera Koes plus adalah sebagai add.Player. Penetapan sebagai personil Koes Plus adalah melalui keputusan bersama antara Pak Murry dan Pak Yon, dan tentunya akan berpengaruh terhadap honor yang akan mereka terima. Pa’Murry terus mendorong Pak Yon utk mau menetapkan mereka sbg personil tetap dengan pemikiran bahwa Pak Jack & Pak Andolin sudah cukup lama mendampingi mereka. Walaupun permainan Pak Andolin terkadang sering tidak sesuai standard tetapi memiliki kecocokan secara kejiwaan diantara mereka. Pak Yon selaku leader tidak menyetujuinya sampai berakhirnya formatur ini, jadi saya berkesimpulan Pak Jack & Pak Andolin belum menjadi personil tetap Koes Plus.

Mengenai Honor yang diterima tidak merata sebagai pecahnya formasi ini, perlu saya jelaskan situasi yang terjadi pada saat itu bahwa Bonita, Istri Pak Yon ditunjuk sebagai Manager Koes Plus atas instruksi Pak Yon dan berwenang mengurus kontrak dan menerima pembayaran serta mendistribusikannya kepada setiap personil. Permasalahannya timbul tatkala order yang diterima ibu manager datang dari relasi para personil lain dimana honor yang disetujui dan tertuang dalam kontrak dengan yang disetorkan menyusut cukup besar. Hal ini sudah diketahui lama oleh para personil karena hubungan dekat para personil dengan penyelenggara memungkinkan terjadinya keterbukaan diantara mereka. Para personil memilih memaklumi keadaan tersebut sampai pada satu titik dimana atas prakarsa Pak Jack bersama dengan Personil lain akhirnya melaporkan kepada pak Yon atas apa yang telah terjadi selama ini.

Saat itu Pak Yon sangat marah dengan ibu manager dan dengan keras menegurnya di depan personil yang lain. Namun apa hendak dikata, kejadian terus berulang, dan kembali para personil melaporkan penyimpangan yang terjadi kepada Pak Yon dengan menyertakan bukti tertulis. Diluar dugaan, Pak Yon justru marah kepada Pak Jack dan sekaligus mengeluarkan Jack & Andolin dari Band karena dianggap susah diatur. Penjelasan yang saya dengar waktu itu adalah pemotongan kontrak harus terjadi untuk dibagikan kepada “orang dalem”, walaupun hal ini dibantah oleh pihak penyelenggara yang pada umumnya dikenal dengan sangat baik oleh para personil.

Sebagai Ilustrasi saja, seandainya saja nilai kontrak 12 dan diterima group bersih 10 setelah dipotong biaya operasi (biaya Manager, Crew, dll), maka honor dibagi kepada 4 personil dengan komposisi, dimana Pak Yon (40%), Pak Murry (30%), sisanya bagi rata antara Pak Jack dan Pak Andolin. ( sekali lagi ini sebuah ilustrasi). Maka dapat anda bayangkan jika nilai kontrak disusutkan menjadi 9 dan harus dipotong sana-sini, maka berapa yang dapat diterima personil, terlebih yang hanya add.Player..???

Pemecatan ini membuat pak Murry menjadi dilematis antara Koes Plus atau solideritas, dan akhir jawabannya telah anda ketahui semuanya dengan dibentuknya Murry’s Group. Dalam wawancara Pak Murry dengan salah satu stasiun TV swasta, beliau pernah menyampaikan bahwa beliau tidak berkeberatan jika Honor Pak Yon Lebih besar asalkan transparan, kita ini sudah pada tua-tua sebaiknya yang enak-enak saja (kira2 begitu pernyataan Pak Murry). Dalam wawancara yang lain, pak Yon menyampaikan berkeberatan jika honor dibagi rata, saya pikir itu tidak pernah terjadi. Para Add. Player juga sadar betul itu tidak pantas jika dilakukan, dan memang bukan itu inti persoalannya.

Akhir cerita, melalui perusahaan yang saya pimpin, kami memfasilitasi peluncuran Murry’s Group disebuah kafe di bilangan cibubur, dan jika teruskan cerita ini, mas manunggal pasti akan protes karena Blog’nya penuh dengan cerita saya (hahahha…).

Demikian cerita yang dapat saya bagikan sebagaimana apa yang saya alami selama saya mendampingi KOES PLUS.

Ada baiknya saya memperkenalkan diri saya agar para pembaca tidak bertanya2 siapa dan apa kapasitas saya dalam cerita ini.
Nama saya “Sin Sin”, dan sebenarnya saya kurang menyukai Koes Plus, tapi takdir bicara lain karena saat ini saya adalah menantu pa’Murry dari putri ketiganya “Rizzy” yang juga tidak suka jika saya dibawa-bawa mertua saya ikutan Koes Plus’an. 10 tahun sudah saya mendampingi pak Murry diberbagai kesempatan, tapi pangkat saya nggak naik-naik juga yaitu sebatas sie tranportasi dan konsumsi alias ngurusi Jajannya Pak Murry.
Sampai akhirnya waktu menyeret saya mulai menikmati karya Koes Plus dan turut bersimpati atas berbagai persoalan yang terjadi. Puncaknya saya memprakarsai pemberian Archiepelago Award bekerjasama dengan sahabat saya Robert Manan yang diselenggarakan di Balai Sarbini.

MERDEKA….

Advertisements