Gudeg Banyumas Asli “Ibu Anik” Pasar Wage Purwokerto

Gudeg Banyumas Purwokerto
Warung Gudeg Banyumas Dipandang dari Jalan. Photo: MKW

Mencari sarapan di Purwokerto di suatu pagi bersama keluarga di bulan Desember 2012, saya bingung juga memutar otak mencari arah tujuan: tempat makan mana kiranya yang tidak menguras isi kantong, dan bisa dinikmati segala usia? Kalau masuk rumah makan besar dengan aneka menu, pasti sedikit banyak bikin bangkrut apalagi jumlah peserta yang hendak makan tidak sedikit. Selain keluarga inti yang berjumlah 5 orang (termasuk saya), saya ada pula membawa pengasuh anak dan seorang keponakan. Mengikuti feeling, saya belokkan mobil yang melewati Jalan Komisaris Bambang Soeprapto, berbelok ke kanan memasuki Jalan Katamso menuju Pasar Wage. Saya sebenarnya mengambil jalan itu untuk menuju Jalan Jenderal Soedirman Timur mencari warung gudeg di sekitar sana yang pernah saya singgahi   yang saya kenang cukup lezat olahannya. Akan tetapi demi melihat sebuah warung bertuliskan Gudeg Banyumasan dengan banyak orang yang antri, saya putuskan untuk berhenti dan mencoba warung yang baru saya ketahui ini.

Gudeg Banyumas
Sayangnya, telur dan ayamnya bukan ayam kampung

Warung Gudeg Banyumas ini terletak di sebelah kanan jalan jika kita menghadap Selatan. Di spanduk yang terbentang di depan warung, tertulis lebih kurang 300 meter ke Utara dari Pasar Wage. Pagi ketika saya ke sana, banyak orang sudah antre mendapatkan giliran. Ada yang mau dibungkus, dana ada yang kepingin santap ditempat. Saya lihat aneka pilihan makanannya cukup pepak (Jawa: padat) juga. Saya memesan menu minimalis: gudeg dengan krecek, makanan olahan kulit sapi. Sebenarnya ada juga ayam dan telur, namun sayangnya keduanya bukan ayam kampung, sedangkan saya hanya makan ayam kampung, tidak makan ayam pedaging. Tapi saya bisa memahami: ayam kampung akan membuat harga jual gudeg menjadi mahal, sehingga ayam pedaging adalah satu-satunya opsi yang bisa diambil agar harga yang dipasang tak membuat pelanggan mengeluh.

Menu Minimalis: Gudeg dan Krecek
Menu Minimalis: Gudeg dan Krecek

Setelah dicoba, rasa gudegnya cukup mantap juga di lidah: lezat dan manis. Manis bumbu gulainya tidak bikin enek. Cecek dengan cabainya juga nglawuhi (istilah Jawa untuk nikmat dimakan bersama nasi). Sepiring gudeg ini saya habiskan dengan beberapa mendoan yang juga disediakan oleh Warung ini. Jatah nasi yang tadinya saya kira akan kurang ternyata cukup membuat kenyang, sehingga saya tak perlu meminta tambahan nasi. Dengan teh manis, dan sambil nonton televisi yang menayangkan film klasik dari MGM, sarapan saya di Gudeg Banyumasan itu menjadi sarapan yang istimewa dan seperti harapan saya, ternyata tak mahal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s