18++ Forever Love (2012)

Kara (Adipati Dolken) dan Mila (Kimberly Ryder). Perempuan di belakang keduanya adalah Scarlet.
Kara (Adipati Dolken) dan Mila (Kimberly Ryder). Perempuan di belakang keduanya adalah Scarlet.

Ingin tahu bagaimana seseorang dari latar belakang ekonomi supermapan,  yang terbiasa berbelanja dengan kartu kredit dan memakai aneka asesoris mahal  bisa  terampil bekerja sebagai buruh bangunan? Ingin tahu bagaimana orang yang digambarkan  terbiasa menggantungkan segalanya dengan uang dapat bekerja  sebagai security di tempat hiburan malam, tiba-tiba pandai dalam urusan membuat kandang, mengecat pagar bahkan jago berantem dan ditakuti preman? Semua keanehan bin kewaguan itu bisa dijumpai dalam film Forever Love yang disutradarai Nayato Fio Nuala ini.

Kara (diperankan Adipati Dolken) berada dalam situasi terjepit ketika sang kakek (diperankan oleh Roy Marten) yang mengasuhnya memutus segala support ketika ia memasuki umur 18, momen mana digambarkan di awal film dengan tidur bersama sang kekasih yang bernama Scarlet.  Ketiadaan support dari sang kakek membuat Kara tak lagi mempunyai sumber keuangan untuk menopang gaya hidupnya. Iapun mengambil keputusan yang amat radikal, sebuah tindakan yang rasanya di luar kewajaran yang bisa diprediksi akan dilakukan mereka kaum the haves. Ia meninggalkan kekasihnya, bersandal japit dan pergi, entah kemana dengan angkutan kota dan pula dengan bus ekonomi.

Sampai di sini, kisah dalam film ini  mulai kehilangan kewajarannya. Masa iya sampai sebegitunya orang memutuskan ketika upaya lain belum ditempuh? Ia toh bisa membantah dan mencoba dengan berbagai cara agar tetap menikmati fasilitas sang kakek. Atau dengan cara lain misalnya mengadu pada saudara dan teman dekat alih-alih memutuskan untuk hidup sendiri. Opsi-opsi yang wajar itu tiada sama sekali ditampilkan. Konyol, generasi sekarang barangkali akan mengatakan hal ini sebagai  lebay. Tapi yang pasti di sebuah terminal bus ia kemudian menjadi sasaran penjambretan, dan setelah berkelahi cukup seru dengan orang yang merampas gadgetnya, ia dikisahkan babak belur akibat perlawanan geng penjambret itu.

Saat itulah Mila (Kimberly Ryder), seorang gadis ayu bertubuh sintal bertampang indo, penjual kue dari kawasan padat penduduk  menolong dan membawanya ke rumah untuk dirawat. Suasana rumah yang sederhana namun hangat dan  kasih sayang serta perhatian sang gadis membuat Kara kerasan dan akhirnya tinggal bersama di rumah itu. Kara yang sejak kecil telah kehilangan orang tua dan haus akan kasih sayang digambarkan begitu akrab dan dekat pula dengan adik Mila, gadis kecil bernama Sasi. Perasaan kedua muda mudi berbeda latar belakang sosial yang tengah saling jatuh hati digambarkan dengan beberapa kali adegan tatapan mata penuh arti dan saling senyum. Satu kali bahkan Kara mencium kening Mila, yang tanpa mereka ketahui disaksikan oleh Ibu Mila yang tak memperlihatkan ekspresi khawatir atau terkejut. Aneh? Ini memang persoalan budaya. Setiap kepala penonton  dengan latar belakang budaya berbeda, akan punya jawaban berbeda untuk menilai jaanggal tidaknya sikap sang ibu yang permisif ini. Tapi mengingat keluarga Mila digambarkan cukup taat beragama (setidaknya dari adegan do’a sebelum makan, salam sebelum pergi) dan digambarkan dalam kelompok sosial yang masih tinggi kohesivitasnya, momen itu bagi saya terasa aneh dengan sendirinya.

Ibunda Mila (diperankan oleh Keke S. Renaldi) tiada sedikitpun menunjukkan ekspresi keberatan atas kehadiran lelaki muda ‘yang belum jelas’ di rumahnya bersama dua anak gadisnya. Ia bahkan menganjurkan agar Kara tinggal bersama hingga pulih benar. Gerak tubuh dan ekspresi yang dimainkan Ibu Mila menggambarkan persetujuan hubungan anak gadisnya dengan Kara. Sementara itu, Scarlet yang telah kehilangan jejak Kara terus berusaha mencari kekasihnya itu, hingga tak sengaja menemukan keberadaan kekasih yang meninggalkannya itu  tengah bekerja sebagai kuli bangunan di rumah mewah yang dibangun untuknya. Konflik yang terjadi adalah ketika Scarlet mempertanyakan cinta Kara padanya, dan kecemburuan Mila demi melihat lelaki yang ia rawat dan kemudian cintai itu telah ada memiliki kekasih. Mila yang pekerja keras, sederhana, yang berasal dari latar belakang sosial yang berbeda dari Kara, toh lebih dipilih Kara.

Happy ending? Tidak. Diceritakan bahwa Mila ternyata pernah mendonorkan liver nya untuk Sasi adiknya, dan karena itulah, ia mengalami komplikasi. Tak ada eksplanasi apapun dalam cerita semisal dengan adegan keterangan dokter untuk menjelaskan sakit yang dimaksud, sehingga mereka yang awam medis dapat menerima logika cerita ini. Mila hanya digambarkan dalam kondisi fisik yang terus menurun diawali dengan adegan batuk berdarah hingga adegan ia jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Adakah hubungan batuk berdarah itu dengan hati yang telah didonorkannya? tentu penonton berkategori awam macam saya tak tahu jawaban pastinya, apalagi tanpa pertolongan  Google. Yang pasti Kara  yang kemudian dinilai cukup mampu oleh sang kakek untuk mewarisi kekayaan keluarga ingin membawa Mila berobat ke Amerika. Sayang, Mila keburu meninggal dunia dalam sakitnya, sesaat setelah Kara mengecup bibirnya. Dalam perenungan Kara mengingati kekasihnya yang telah tiada, bayangan Mila yang tersenyum padanya muncul menyungging senyum.

Film ini mengingatkan saya pada film lain garapan sutradara Rako Prijanto yang juga dibintangi oleh Adipati Dolken berjudul Malaikat Tanpa Sayap (2012) yang juga saya tonton guna membunuh waktu di pesawat. Ada kemiripan di kedua film itu dimana seorang remaja pria yang entah darimana juntrungannya diperkenankan tinggal dan berdekatan dalam satu rumah oleh orang tua si gadis, gadis yang menderita sakit. Juga bagaimana di akhir kisah, si mati tersenyum menyisakan kebahagiaan di film yang tak seluruhnya berakhir bahagia alias happy.  [MKW].

Di atas daratan Eropa, dalam penerbangan antara Dubai dan Amsterdam 10 Januari 2013

Advertisements

2 thoughts on “18++ Forever Love (2012)”

  1. Keren banget filmnya… Tpi endingnya,andai bs dirubah..pengennya sih,mila sembuh…menikah dengan kara… Ksian kan kara ditinggal mati..hks hiks….

  2. Meneteskan Air Mata Melihat Perempuan Sekuat Itu Walaupun Didalam Dirinya Ada Penyakit Yang Begitu Parah Ia Derita 😥 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s