Koningin Emma School

Koningin Emma School Surabaya. Sumber Foto: Tropen Museum Amsterdam
Koningin Emma School Surabaya. Sumber Foto: Tropen Museum Amsterdam

Salah satu ratu Belanda yang aku hapal betul namanya adalah ratu Emma. Ini karena namanya diabadikan menjadi nama sekolah di Hindia Belanda alias Indonesia pada masa penjajahan. Dan nenekku, Siti Nardijah, adalah salah satu muridnya. Ini kuketahui dari kakekku, Soekandar Wignjosoebroto yang pernah kutanyai apakah Nenekku itu bisa baca tulis. Kakekkku menjawab bahwa ia, nenekku itu, tentu bisa baca tulis, karena ia alumni K.E.S. singkatan dari Koningin Ema School, alias Sekolah Ratu Emma. Pertanyaan dalam surat di tengah 80-an itu kuajukan karena nenekku tak pernah berkirim surat padaku.

Di negeri Belanda, aku berkesempatan menemukan salah satu foto KES di Surabaya. Di Facebook aku post dengan narasi berikut:

Wektu ku ketjil, hobiku berkirim surat pada Kakekku, Soekandar Wignjosoebroto (1902-1988), seorang pensiunan tata usaha Djawatan Kereta Api, jang telah merintis karir sedjak era Staatpoorwegen. Surat-suratnja hingga kini mingsi kusimpan. Padanja pernah kubertanja, kenapa Nenekku (Nardijah Wignjosoebroto) tak pernah berkirim surat padaku? Apakah dia tak bisa batja tulis? Kakekku mendjawab lewat surat: tentu bisa, dia dulu sekolah di Koiningin Emma School (KES), Solo. Dan ini kutemukan djuga arsip di Tropen Museum Amsterdam, sekolah KES itu, tapi di Surabaja (KES Solo sajangnja tidak ada dokumentasinja). Ini foto bertahun 1939, saat dia, Nenekku itu sudah pasti tak lagi djadi murid KES.

Soetandyo Wignjosoebroto yang tak lain adalah kakak Ibuku, Bapak Gedhe atau Pak Dhe dalam Jawa aku biasa memanggil memberikan komentar dan koreksi sebagai berikut:

Tambahan ceritera dan koreksi: kakek (Eyang Kakung) bekerja di Staatspoorwegen, semual di Manggarai (1920-1924), Madiun (1924-1935) dan Surabaya. Nenek (Eyang putriu) dulu murid KES Surakarta yang terletak di Banjasari Solo, tamat, belajar 7 tahun (1919-1926), tentu saja bisa baca tulis dan malah juga fasih berbahasa Belanda, dan ceriteranya lemngkap kalau sudah ceritera menganai ‘witte brood” dari Leiden.

Atas komentar seseorang, Soetandyo menambahkan lagi, menjelaskan kisah witte brood ini:

Itu ceritera perlawanan Leiden Melawan tentara Spanyol, bertahan walau dikepung berbulan-bulan dgn makan roti tawar Dan air mental. Witte brood jadi symbol kegigihan melawan penjajah. YangPutrinya Manunggal ini hafal betul peta Leiden berkat imajinasinya walau Blum pernah ke sana, yang semua kok cocok sesuai dgn saya liat ketika saya 3bulan tinggal di sana.

Ia kemudian menjelaskan mengenai Koningin Emma School sebagai berikut:

KES = Koningin Emma School. Koningin Emma = Ratu Emma adalah Buyut Ratu Belanda yang sekarang (Ratu Beatrix). KES dirikan oleh sebuah organisasi persaudaraan (brotherhood) sekuler (freemason) mendirikan banyak sekolahan di banyak kota di Indonesia, bukan atas biaya pemerintah kolonial. KES yang di Solo, pendidikan setara SD 7 tahun tempat Nenek Nardkiah belajar sewaktu masih remaja adalah khusus untuk anak perempuan pribumi. Tamatannya akan fasih 3 bahasa, Jawa, Melayu dan Belanda.

Advertisements