Eksploitasi Masa Lalu Dalam Karya Widdy Apriandi

Pengantar: Kritik sastra ini ditulis dalam rangka sayembara kritik sastra, dan berhasil dinobatkan sebagai salah satu kritik terbaik. Saya lupa penyelenggara sayembara tersebut, dan sayangnya karya Widdy Apriandi yang saya apresiasi juga tidak saya simpan. Apa boleh buat, inilah adanya. Seadanya.

Kenangan indah masa lalu adalah objek teramat luas untuk digali dalam sastra. Masa lalu dengan sendirinya menghadirkan nuansa pembanding, baik langsung maupun tak langsung, dengan apa yang sedang dipaparkan oleh seorang penulis dalam karyanya. Bacalah Blora , kumpulan cerita pendek karangan Pramoedya Ananta Toer dan di sana kita akan menemukan berbagai rekaman peristiwa masa kecil Pram yang digambarkannya tidak saja dengan detil, namun juga menyentuh, dan memikat. Pram mendeskripsikan kali Lusi sedemikian tajamnya, hingga menggiring pembacanya kepada imajinasi akan sebuah sungai yang membelah daratan gersang bumi Blora. Bacalah pula Dara-dara Mendut karangan Y.B Mangunwijaya, segera kita akan melayang pada segala nuansa masa lalu gadis-gadis perempuan Jawa belia yang dididik secara barat lengkap dengan romantika pahit getirnya perbenturan budaya Jawa dan Eropa (baca: Belanda). Kontras antara apa yang ada pada masa sekarang kejayaan serta haru biru masa lalu itulah yang ditawarkan oleh Widdy Apriandi, sang penulis cerita pendek Ruang Kelas Yang Tergusur.

Dikisahkan dalam cerita pendek itu, seorang mantan bintang kelas bernama Sujana, yang merasakan kekecewaan yang amat mendalam dan didera rasa kehilangan dan kehampaan. Betapa tidak, bekas ruang sekolahnya yang pernah begitu berarti dan selalu menempati ruang dalam kalbunya kini hanya sekedar menjadi lahan parkir. Ia menggeram, mengutuk, mengapa segudang prestasi yang lahir dari ruang kelas itu harus berakhir secara tragis. Simaklah ekspresi yang digunakan penulis untuk memberikan gambaran kekecewaan sekaligus kutukannya pada mereka yang menghilangkan ruang kenangannya itu:

Ruang kelas 3 IPS 2 yang dulu dipuji sedemikian rupa terampas benang sejarah gilang-gemilangnya.Habis dijarah oleh ambisi dan obsesi manusia-manusia yang terlanjur percaya dengan mitos pembangunan. Kelas teladan, kelas para bintang…itu dulu. Sekarang…lahan parkiran sekolah

Kemarahan dan rasa jengkel yang ada pada benak Sujana-tokoh utama dalam cerpen ini- dieksplorasi total oleh Widdy dari awal hingga akhir cerita. Uniknya, kemarahan yang berada di ranah ranah bathin sang bintang kelas digali sedemikian rupa oleh sang penulis menjadi interaksi dialektif sang tokoh dan perasaan bathinnya. Ini adalah karya sastra bergenre cerita pendek, dimana konflik yang diangkat oleh penulisnya begitu sederhana : rasa kehilangan akan sesuatu yang amat berarti: sebuah ruang kelas. Namun justeru ini menjadi nilai unik dari karya Widhi sekaligus menunjukkan pada kita bahwa konflik yang menjadi hal esensi dalam sastra bisa digali dari hal-hal yang terkesan remeh, dan tidak selalu melibatkan sekedar percintaan antar manusia apalagi seksualitas.

Namun demikian, rasa kehilangan ruang kelas itu yang dieksploitasi dalam ekspresi kegeraman nampak over exploited sehingga lambat laun menjadi membosankan. Simaklah betapa Sujana tak beranjak dari sekedar mengeluh dan mengutuk hilangnya ruang kelas dan memonopoli sentimentalnya sendiri, tanpa mau ‘melibatkan’ teman-teman sekelasnya. Padahal pada paragraf awal ia sudah memberikan gambaran dengan apik, yakni flash back akan canda tawa yang pernah menghiasi ruang kelas itu seperti yang ditulis pada paragraf awal:

Banyak prestasi yang lahir dari hasil pergulatan manusia-manusianya. Sorak-sorai kebahagiaan, suara tawa terkekeh-kekeh kegirangan seolah masih terdengar. Banyak cerita ; suka, duka, luka, senang dan sebagainya. Semua tercatat dalam gerakan debu yang gemar bercinta dengan peluh kelelahan khas anak SMA.

 

Demikianlah, Widdy menuliskan bahwa pernah dalam beberapa tahun silam ada “mereka yang bercanda tawa dan terkekeh”. Akan tetapi dimanakah keberadaan “mereka” dalam cerpen ini? Nihil, karena penulis menugaskan terlalu banyak pada Sujana untuk mengenang dan memikirkan imajinya sendiri tanpa sedikitpun melibatkan canda tawa mereka yang pernah mengisi ruang itu. Ia menjadi egois dan terjebak dalam gerutu dan dialognya dengan alam pikirnya sendiri.

Saya percaya bahwa cerita ini akan lebih menarik seandainya apa yang telah ia picu pada alinea awal menjadi pelengkap bombardir gerutu dan keluh kesah Sujana. Dengan kata lain, semua pelaku sorak sorai kebahagiaan, suara tawa terkekeh-kekeh kegirangan, dan juga cerita suka duka, luka, dan senang dan sebagainya” sebagaimana ditulis di paragraf awal juga ditampilkan walau lewat kenangan subjektif Sujana.

Kalaupun penulis tak hendak membawa pihak lain berkaitan dengan kenangannya atas ruang kelas itu, barangkali tidak akan terkesan membosankan jika eksplorasi yang dilakukan tidak sekedar pada sinisme Sujana pada kehancuran bangunan yang amat berarti dalam hidupnya itu. Berbagai ragam ekspresi sedih, lucu, dan konyol akan menarik pula diungkapkan dan membuat kisah pendek ini lebih beragam warna, sehingga pembaca tak segera lekas jenuh dengan satu ekspresi yang monoton : kegeraman.

Ending dari bacaan inipun terasa aneh, ketika dituliskan bahwa ada sebuah bangunan SD yang terletak tak jauh dari gerbang sekolah ambruk yang oleh karenanya mengakibatkan tewasnya dua orang anak sekolah dasar. Apa hubungannya bangunan SD yang ambruk dengan kelasnya yang hilang? Adakah kesamaannya sehingga ia perlu benar memasukkan ke dalam karangan ini? Benar bahwa keduanya adalah sama-sama bangunan, akan tetapi ruang kelas SMA yang diruntuhkan lebih karena untuk lahan parkir yang menurut Sujana adalah akibat kerakusan manusia. Sedangkan keruntuhan bangunan SD? Tak jelas apa yang menjadi pemicunya. Bisa jadi karena kondisinya sudah tua? Bisa jadi karena korupsi dalam pembangunannya sehingga membuatnya rapuh. Namun sekali lagi: adakah kaitan logisnya?

Saya khawatir tidak keduanya sama sekali tak berkaitan dan ini justeru membuat pembaca menjadi bingung. .

Advertisements