Senjahari di Jembatan Wiramandiri

Pengantar: Cerita Pendek ini pernah dimuat di majalah OZIP, sebuah majalah berbahasa Indonesia berbasis di Melbourne, Australia


Jembatan itu berdiri kokoh, membentang di atas aliran irigasi desa Wira Mandiri. Tenang dan gagah , setenang air yang mengalir dibawahnya. Dan air yang mengalir di bawahnya itu bukan sungai, hanya saluran irigasi. Dikarenakan hanya saluran irigasi itulah ada kalanya air mengalir deras, dan sering pula saluran kering tak berair. Semua tergantung dari petugas pengatur air, sang penguasa saluran. Dan jika air mengalir deras, semua yang tadinya terdampar di dasar sungai menjadi terhanyutkan: batang pohon pisang, daun-daun tua nan coklat dari pohon-pohon sepanjang saluran itu, tas plastik bekas, pembalut wanita, dan kotoran manusia. Dan jika air irigasi mengalir, maka senanglah para ibu di desa, karena itu berarti saat membuang sampah telah tiba. Jika sungai itu kering tak terairi, akan terlihatlah batu-batu besar kecil, pecahan kaca, botol-botol kecap bekas, pecahan ember dan banyak lagi di dasarnya. Dan di situ pulalah, dekat jembatan itu, kerbau-kerbau biasa mandi berkubang di waktu sore. Dan dekat jembatan itu pulalah pantat-pantat bayi desa biasa direndamkan dan dibasuh orang tua mereka jika kencing atau berhajat besar. Dan seperti nasib kebanyakan warga Wiramandiri, terkadang air irigasi yang mengalir keruh, terkadang sedikit bening, namun tak pernah sekali-kali benar-benar jernih.

Tepat di samping jembatan berdiri sebuah warung. Pemilik warung itu Gandung, seorang bekas blantik, makelar sapi. Kecil saja warung itu, berukuran satu kali satu setengah meter. Atapnya terbuat dari seng, dan dindingnya dari papan tripleks. Didalamnya dijual jajanan anak, rokok, es, roti-roti murah, rujak, dan kupon judi. Orang menyebutnya togel, toto gelap. Dan diatas jembatan itu pulalah pembicaraan-pembicaraan desa berlangsung. Dan siapa saja boleh duduk di atasnya. Setiap orang bebas saja membicarakan topik yang dicintainya.

 

Dan selepas ashar sore itu Darso telah duduk di atas jembatan itu, sama seperti sore-sore sebelumnya. Sepedamotor Yamaha keluaran 1980-an milik ayahnya diparkir di dekat jembatan. Rambutnya yang terurai sebahu masih basah, wangi berbau shampo. Baru saja ia mandi dan makan sore, mi ayam dagangan Pak Kasroji. Perutnya telah pun kenyang, badannya terasa segar. Seharian bergaul dengan sapi- sapi di pasar hewan sungguh melelahkan dan memuakkan. Lumayan pendapatan hari ini, limapuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk membeli beberapa kupon togel, dan sebungkus rokok filter. Sisanya? Ia telah berikan pada emaknya.

 

Dan di jembatan itu ia bisa leluasa mengamati gadis gadis sedesanya yang baru pulang dari kota. Ada yang sekolah, ada yang pulang berkerja. Dan ketika dilihatnya Paryanto, anak Pak Joko penjual tahu kupat pulang dari bekerja di kota, ia pun melirik dan mulai melamun: Kalau saja ayahku mampu membiayai, pasti aku sekarang akan bisa seperti Paryanto itu. Pak Joko, walau hanya berjualan tahu kupat cukup kuat membiayai anak-anaknya sekolah hingga SMU. Sedangkan ayahku? Ia hanyalah tukang gergaji, yang bekerja atau tidaknya tergantung panggilan. Tergantung ada tidaknya order. Ada yang mempekerjakan berarti bekerja, dan kalau tidak ada yang memerintahkannya menggergaji, berarti ia harus menganggur. Dengan ijasah SMU, Paryanto bisa bekerja di perusahaan swasta yang cukup mapan di kota, walau ia tidak menduduki jabatan yang penting. Setidaknya lulusan sekolah menengah seperti dia bisa mencari pekerjaan lebih baik di kota: memakai pakaian rapi, wangi, dan berseterika.

 

Dan Darso lantas tersenyum sendiri, malu pada dirinya sendiri. Bukan saja tidak mampu dalam soal biaya, prestasinya sejak sekolah dasar hingga kelas satu sekolah menengah pertama selalu buruk. Para guru telah bosan padanya. Pernah ia mendengar sang guru berkata padanya di gerbang SMP tempatnya bersekolah di sebelah utara desa:

 

“Tak usahlah engkau sekolah, Darso, percuma sahaja. Lebih baik engkau membantu ayahmu menggergaji”. Hingga kini Darso masih sangat ingat betapa ia merasa sangat sakit hati mendengar gurunya berkata seperti itu.

Dan sejak saat itu, ia pun telah benar-benar bosan pada para guru. Bosan belajar dan bosan pada sekolah. Dan ketika ayahnya mengajaknya untuk membantunya menggergaji kayu pada suatu ketika-ketika ia hendak naik ke kelas dua sekolah menengah pertama-ia pun menurutlah dengan gembira. Dan hari ketika ayahnya mengajaknya membantu menggergaji kayu itulah hari terakhir ia bersekolah. Sebelas tahun yang lalu, sampai akhirnya kini ia menjadi blantik sapi.

 

“Melamun saja kau ini, Darso” terdengar suara menegur. Sesaat ia terkejut, namun ia tak peduli. Ia tahu benar suara siapa itu, suara Manto, karyawan rendahan kabupaten yang selalu menyertainya duduk duduk di atas jembatan. Manto juga seusia dengannya, duapuluh lima tahun. Bedanya, walau mempunyai pekerjaan tetap, Manto selalu meminta rokok padanya, dan itu membuat Darso tak senang. Namun ada hal yang membuatnya terpaksa selalu melayani Manto. Pengetahuan Manto cukup luas, maklum, pekerjaannya di kabupaten memungkinkannya sering mencuri waktu untuk membaca koran. Dan dari koran itulah, Manto bisa sedikit membual perkembangan dunia termutakhir. Untuk soal yang satu ini tentu saja Darso kalah. Manalah ia sempat membaca koran? Ia hanya bisa membaca gelagat sapi, sapi bunting, sapi sakit, atau sapi yang hendak mati, atau paling-paling harga sapi akan menaik. Berita hangat yang ia ketahui hanyalah seputar kecelakaan yang sering terjadi di jalan raya antara desanya dengan pasar hewan tempatnya bekerja.

 

Sebaliknya Manto, karena pekerjaannya itu menjadikannya mengerti banyak tentang politik. Partai-partai, nama-nama pemimpin partai, mata uang asing, isu artis dalam dan luar negeri, perkembangan politik di Amerika, Eropa, Timur Tengah ia kuasai. Krisis di Irak, perkembangan Uni Eropa ia sedikit banyak tahu. Sejarah dan politik Indonesia ia pun cukup lancar bercakap. Apalagi di saat sekarang, ketika musim kampanye.

 

“Jaman sekarang hampir-hampir tak ada orang politik yang bisa dipercaya” Manto berkata, memulai pembicaraan membangun kewibawaannya. Matanya menerawang dingin ke arah jalan raya, mengharap orang memperhatikan wajahnya. Dan jika dirasa Darso telah mengamati wajahnya yang dibuat berwibawa itu, maka ia merasa senanglah. Sebenarnyalah tak ada seorangpun yang bertanya padanya. Darso pun tidak. Namun ia tak peduli. Biasanya toh ia memang selalu mulai berbicara dan topik yang dilemparkannya diterima juga, pikirnya. Ia mendekat pada Darso. Tanpa mengatakan sepatah katapun, diraihnya rokok di kantong baju kawannya itu. Makelar sapi itu hanya diam saja, sudah paham gelagat pegawai negeri rendahan ini. Sudah mempunyai gaji tetap, masih pula tega mengambil harta mewahnya. Padahal gaji Manto sebagai karyawan di kabupaten lebih dari cukup untuk membeli rokoknya sendiri. Apalagi Manto sering mendapat uang tip dari para pejabat dan pegawai kabupaten.

 

Manto menyulut rokok. Sigaret kretek itu kini telah menyala, merah warna apinya, membakar di ujungnya. Asap mulai mengepul, pekat, tebal dan gelap. Dan bibirnya yang tebal hitam itu memain-mainkan asap rokok yang tetap saja pekat, kental, abu-abu gelap. Disedotnya asap kuat-kuat dan dikeluarkan perlahan dari kedua lubang hidungnya. Asap berhamburan dikacaukan angin, angin sore, dan angin yang timbul karena lalu lalang angkutan pedesaan. Matanya terpejam, seolah menunjukkan pada Darso ia sangat menikmati rokok gratisnya itu.

 

“Ah, aku tak setuju!” kini Darso giliran angkat bicara setelah agak lama terdiam. Ia memang selalu mencabar apa saja kata Manto. Setidaknya dengan begitu aku akan menjadi cerdas pula, pikirnya. Dipandanginya Manto dengan mengejek. Ia berkata lagi:

“Kau tahu, malam menjelang hari Pemilu legislatif lalu? aku mendapat limpapuluhribu perak dari Pak Rambat, pimpinan cabang partai besar itu. Bukankah itu cerminan dari tokoh partai yang memihak rakyat?”

Manto diam saja, justeru tersenyum mengejek.

“Limapuluh ribu?Mereka membeli suaramu hanya limapuluh ribu?” Manto berkata sambil tertawa dan memandang Darso, tak kalah mengejek. Ia meludah ke samping, dan kemudian melanjutkan kembali perkataannya:

“Partai seperti itu adalah partai yang curang, kau tahu?”

Seketika Darso menjadi panas. Ada rasa kesal di hatinya yang menyentak. Ia balik bertanya pada Manto:

“Mengapa. Apa salahnya?”

“Mereka seharusnya tak berbuat begitu. Rusak semua negara ini jika memakai uang” Manto berkata lagi, kali ini dengan nada keras. Rokok ia permainkan di jarinya, diputar-putar, dijentikkan abunya. Antara sebentar ia memandang wajah kawannya yang mulai gusar. Ia tak peduli. Dihisapinya kembali rokok gratisnya itu, menunggu reaksi Darso.

Darso berfikir keras. Manto benar juga. Lagipula, biasanya dan seperti yang sudah sudah, Manto selalu benar. Perlu usaha keras untuk membuatnya tidak benar… dan kini ia sudah menemukan jawabannya. Berkata lagi:

“Ya, kau benar. Tetapi setelah pemilu, mana mau partai-partai itu memikirkan kita, hah?, mana mau?” Kini Darso kembali berkata semangat. Wajahnya didekatkan pada wajah Manto yang terus memandang ke arah lain. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah pegawai kabupaten itu. Berkata Darso lagi:

“Coba kau fikir, jika partai yang engkau pilih itu menang. Akan jadi apakah engkau, hah? jadi anggota dewan? jadi pejabat? Jadi juragan sapi? jadi….”

“ya benar, tak akan mungkin kita yang hanya orang biasa, orang rendahan seperti ini akan menjadi berubah nasib, hanya dengan ikut Pemilu. Satu-satunya yang bisa merubah nasib adalah ambil siapa uang siapa saja yang memberi pada kita. “ terdengar suara dari balik warung. Suara itu bernada pembelaan, pembelaan yang ditujukan pada Darso. Suara itu ternyata milik Gandung. Darso nampak senang. Ia tersenyum, dan senyumnya itu ia lemparkan dengan sukacita pada Gandung. Dengan isyarat dari matanya ia menyuruh Gandung untuk terus mencecar Manto.

Gandung menurut saja. Tanpa disuruh oleh makelar sapi itupun pun ia sudah sependapat dengan Darso. Kesempatan, apalagi dalam pemilu memang harus dimanfaatkan. Selama ini rakyat kecil saja yang dimanfaatkan oleh para petinggi partai sebagai pijakan anak tangga, demikian pikirnya. Berkata Gandung pada Manto beberapa saat kemudian:

“Kalau kita-kita mengambil barang lima, sepuluh, limabelas ribu dari mereka, tiada salahnya kan? Mereka juga rela melakukannya?” Ia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan:

“ Mereka untung, karena dapat suara dari kita. Dan kita juga untung karena mendapat uang dari mereka. Dimana-mana di dunia ini juga begitu. Jual beli, sah-sah saja adanya. Aku kemarin terima saja limapuluh ribu. Lumayan, aku bisa dapat tambahan untuk kulakan, membeli barang dagangan ke kota”

“Ya kalian benar juga” akhirnya Manto angkat bicara. Ia nampak menyerah.

“Tapi aku punya angan-angan juga kalau orang partai itu seperti Pak Wandi. Kalian tahu Pak Wandi?”

Darso dan Gandung berpandangan. Darso tak tahu menahu dengan orang yang disebut sebagai Pak Wandi itu. Akan tetapi Gandung tahu. Sambil menggaruk-garuk kakinya yang selalu gatal, pemilik warung itu kemudian berkata:

“Ya aku tahu, Wandi yang juga anggota dewan itu kan? kabarnya ia kemarin mendapat uang, agar ia dan partainya mensetujui laporan pertanggungjawaban bupati. Uang itu sendiri katanya diambil dari anggaran daerah. Sekitar tigapuluh juta.” Gandung berkata, tidak yakin. Ia hanya mendengar kabar itu dari mulut ke mulut, dari pelanggan warungnya, para pembeli kupon togel.

“Betul sekali. Persis!”Manto menjawabi. Rokoknya telah habis. Dijatuhkannya puntung itu ke tanah, dekat kakinya, dan dengan sandalnya ia hancurkan puntung yang tak berdaya itu. Antara sebentar kemudian ia berkata lagi, dengan nada mengejek. Telunjuknya mengacung-acung, mengarah pada wajah kedua temannya Gandung dan Darso. Manto melanjutkan:

 

“Pak Wandi itu yang perlu kita teladani. Coba kalian fikir, diberi uang sebesar itu ia tidak mau menerima. Padahal tidak ada resikonya jika seandainya ia mau menerima dan tutup mulut. Orang lain juga menerima kok. Paling tidak kalau satu kena, yang lain juga kena. Jadi pasti aman lah. Semua akan tutup mulut. Menjaga keamanan orang lain berarti juga menjaga kemanan diri sendiri! Aku berani bertaruh, kalau kalian jadi dia, kalau kalian-kalian ini anggota dewan seperti dia, pasti….pasti sudah kalian telan uang itu!”

Baik Gandung maupun Darso saling berpandangan dan terdiam, tercenung menghayati perkataan Manto. Benar juga, kalau sekiranya mereka menjadi Pak Wandi, sudah pasti uang sebesar itu akan mereka terima. Mengapa tidak? Bagi Gandung, uang puluhan juta bisa menjadi modal untuk memperbaiki warung dan menambah barang dagangan. Ia bisa berjualan minyak tanah dan beras. Ia bisa membeli tanah yang lebih luas dan membuka toko kelontong.

Lain lagi dengan apa yang ada di benak Darso. Dengan uang sebesar itu, ia akan membeli anak-anak sapi dan kambing. Ia akan memelihara dan menggembalakan sendiri kambing dan sapinya. Mereka kelak akan beranak pinak, tentu pembeli akan berdatangan ke rumahnya. Dan kalau sudah begitu, ia tak perlu lagi ke pasar untuk menjadi makelar sapi.

Dan ketika Darso dan Gandung masih berada di dalam lamunan masing-masing, Manto membumbui:

“Hebat bukan, ia tak menerima uang itu sepeserpun, sedikitpun tidak! Nah, apa pendapat kalian?”

Darso kini menjawabi:

“Apakah ia melaporkan kasus penyuapan itu pada Polisi?”

Manto diam saja, mencoba berfikir dan mengingat-ingat. Kemudian ia menjawab: “Tidak”

“Jadi ia tidak menerima uang itu, dan uang itu ia kembalikan pada yang menyuapnya?” Darso menusuk.

Agak lama Manto kembali terdiam. Ia kemudian berkata.

“Tidak. Uang itu tetap diterima oleh Pak Wandi, namun tidak dipakainya sendiri”

“Lantas?” tanya Darso dan Gandung, nyaris serempak.

“Uang itu dibagikan pada masyarakat. Pak Wandi dan seluruh anggota partainya turun ke desa Wira Sengsara. Di sana mereka membagi-bagikan bantuan sembako1! Hebat kan. Tidak rugi aku memilih partainya! ”

“Dibagikan pada masyarakat?” Gandung keheranan. “Masyarakat Desa Wira Sengsara? Mengapa tidak ke desa kita?” pemilik warung itu nampak jengkel dan kecewa. Mengapa tidak ke desanya saja, Desa Wira Mandiri?. Siapa tahu ia bisa mendapatkan barang lima atau limabelas ribu rupiah. Lumayanlah untuk membeli dedak pakan untuk ayam-ayamnya. Desa Wira Sengsara selalu saja mendapat bantuan dari segala penjuru bumi ini, gerutunya dalam hati. Semua itu karena desa itu melaporkan diri sebagai desa tertinggal, sehingga selalu mendapat bantuan pemerintah.

“ Soal mengapa bantuan hanya dibagikan ke desa Wira Sengsara itu aku tak tahu. Yang pasti masyarakat di sana sangat senang. Aku juga senang, keluargaku semua ada di sana” Manto berkata, tersenyum-senyum.

“Kalau begitu benar-benar hebat dan mulia si Wandi itu” kata Gandung.” Ia layak menjadi wakil rakyat, menjadi anggota dewan. Bukan begitu, Darso?”

Yang ditanya hanya mengangguk perlahan. Ia masih merenungi apa yang baru saja didengarnya. Uang suap, sembako, masyarakat Wira Sengsara…, polisi. Ada ia sedikit di benaknya tumbuh rasa kagum pada orang yang disebut sebagai Pak Wandi itu. Hebat benar dia. Dan mulailah imajinasinya akan sosok orang bernama Pak Wandi itu termuncul dalam benaknya. Ia pastilah berbadan sedang, dengan tinggi sekitar seratus enampuluh lima senti. Memakai baju safari warna biru tua dan berkopiah hitam gelap. Kulitnya kuning dengan bulu halus. Tangannya pastilah mengenakan jam tangan kulit, dan di jarinya melingkar cincin batu. Ah ya, ia pastilah juga membawa tas jinjing. Dan sorot matanya pastilah menyejukkan. Dan wajahnya pastilah bersih dan jernih.

Selagi Darso hanyut dalam lamunannya, Manto dan Gandung asyik memuji orang yang bernama Pak Wandi itu, memuji partainya. Dan kedua orang itupun saling berjanji akan memilih partainya kelak jika ada Pemilu lagi. Namun keasyikan dua orang itu terpecah dengan suara Darso yang tiba-tiba berkata perlahan:

“Sama saja. Membagikan uang suap ke masyarakat, juga bukan perbuatan terpuji” Darso tiba-tiba menyela, berkata dengan suara lirih. Rasa kagumnya yang baru tumbuh kepada Pak Wandi sendiri tiba-tiba memudar menjadi sirna.

“Orang boleh mengagumi dia, tapi sebenarnya yang ia lakukan adalah licik, kalian tahu itu?” kali ini ia menatap Manto dan Gandung dengan tajam. Gandung segera menyela:

“Licik katamu?”

“Ya, licik” Darso menjawab.

“Apa alasanmu mengatakan ia licik?. Ah kau ini sebenarnya hanya iri karena tak kebagian. Kau iri, karena kau bukan warga Wira Sengsara, heh?!. Kau iri kepada mereka karena kau tidak mendapat bahagian, begitu!?” Manto mencecar.

Darso menghela nafas sejenak, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dikeluarkannya rokok dari kantung baju dan diambilnya sebatang. Seperti biasa, sebelum ia sempat memasukkan kembali ke dalam kantung bajunya, Manto telah terlebih dahulu meraih rokok miliknya dan mengambil pula sebatang.

Makelar sapi itu kemudian menyulut rokoknya dengan tenang. Setelah menyala, diberikannya korek pada Manto. Setelah lima kali hisapan, kembali ia berkata:

“Begini, dia, Pak Wandi itu, mengatakan bahwa dia tak menerima uang suap. Betul begitu?” Matanya berpendaran memandangi Gandung dan Manto.

Gandung diam saja, sedangkan Manto menjawabi tak sabar dan tak senang: “Ya, memang begitu adanya.”

“Bagus” jawab Darso lagi, “dan kemudian ia membagi-bagikan uangnya kepada masyarakat Wira Sengsara, betul?”

“Iya, dan itulah hebatnya!” seru Manto. Asap rokok ia semburkan kuat-kuat ke wajah makelar sapi itu.

“Itulah hebatnya katamu?”

“Ya, itulah hebatnya. Mana ada di jaman sekarang orang mau berkorban untuk orang lain seperti Pak Wandi itu. Kalau engkau menjadi Pak Wandi, sudah pasti kau gunakan uang itu untuk membeli anak sapi kan? Mana mungkin akan kau bagikan pada warga desa?, ha..ha..ha. Aku tahu betul watakmu itu, Widarso!”

“Justeru itulah brengseknya!” Darso membalas cepat, suaranya seperti terpekik. Wajahnya memerah, nampak jengkel. Ia seolah mendapat kekuatan. Yakin benar akan kebenaran kata-katanya. Ia ingat betul kata-kata yang diajarkan ketika ia masih kanak: Berani karena benar, takut karena salah. Ia tidak menuduh. Ia merasa ada ketidakberesan dari Pak Wandi yang tak terlihat oleh Manto, oleh Gandung. Dan ia merasa perlu untuk membetulkannya. Berkatalah ia lagi:

“Uang yang dibagikan pada masyarakata adalah uang yang bukan haknya. Ia tak berhak membagikan uang-uang itu. Seharusnya kalau ia jujur, ia harus melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib, kepada polisi, supaya kasus itu diungkap.”

“Ia berbuat baik. Ya berbuat baik. Namun nampaknya saja ia berbuat baik. Sebenarnya apa yang ia lakukan itu, perbuatan baik itu, adalah untuk keuntungan diri dan partainya, kalian tahu?”

“Keuntungannya sendiri? Keuntungan partainya sendiri? Aku sungguh tak mengerti maksudmu, hai makelar sapi!”

“Ya, jelas itu bagian dari kampanye, dan kampanye yang tidak sah. Tidak halal. Pertama ia menerima suap, walau tidak ia makan sendiri. Ia tetap menerima itu, karena ia tidak mengembalikan atau setidaknya melaporkan pada Polisi. Yang kedua, ia kemudian mencitrakan diri sebagai orang yang bersih dengan membagikan pada masyarakat Wira Sengsara. Sebenarnya ia dan partainya kampanye dengan uang panas. Uang haram!”

Manto tercenung mendengar apa yang dikatakan Darso. Gandung hanya diam. Sambil memandangi wajah Darso yang kasar berlubang bekas jerawat, dalam hati mengagumi kawannya, makelar sapi itu.

“Sejak kapan engkau mulai memakai otakmu, Darso?” Manto bertanya meledek sekaligus jengkel karena kali ini Darso lebih pandai darinya. Namun dalam hati ia membenarkan perkataan kawanya barusan saja.

Untuk sesaat, mereka bertiga terdiam. Hanya asap rokok yang tersembur dari mulut mereka bertiga beradu, berbenturan untuk akhirnya pecah, hancur dan hilang lenyap terbawa angin.

“Orang seperti Pak Wandi itu justeru tak layak menjadi wakil kita, kalian tahu?!”

Gandung dan Manto semakin tercenung. Mereka berdua tak dapat berkata apa-apa. Darso melanjutkan lagi:

“Orang yang berbuat kebaikan, tapi untuk keuntungannya sendiri….” Pemuda itu berhenti sejenak, mengumpulkan segenap tenaga dan kemarahannya yang tersisa. Ia kemudian berkata dengan perlahan, dengan geram:

“Orang seperti itu harus dipandang licik daripada baik” Darso berkata lagi. Bibirnya bergerak-gerak, masih meletupkan rasa hatinya. Kedua temannya, Gandung dan Manto masih terdiam. Rokok di tangan Gandung sudah memendek. Beberapa saat mereka terdiam. Dan ketika beberapa petani dan kerbau-kerbaunya pulang melewati jembatan dan menyapa, mereka hanya mengangguk tak bersemangat. Semua membisu dalam kebekuan. Merenungi apa yang baru saja dikatakan oleh Darso.

“Kata-katamu di awal pembicaraan kita tadi itu betul sekali Manto, jaman sekarang tidak ada orang politik yang bisa dipercaya, bahkan mungkin sejak dahulu.” Darso bangkit berdiri dari duduknya di jembatan itu. Azan magrib mulai terdengar, nyaring membahana dari masjid desa. Manto dan Gandung pun segera melompat turun, bersiap hendak pulang.

“Ya tidak ada yang bisa dipercaya” Jawab Manto dan Gandung serempak. Mereka sepakat. Dan tanpa berbicara mereka juga bersepakat untuk kembali ke rumah masing-masing. Gandung bergegas menuju warungnya. Hendak ditutupnya warung itu sebentar untuk pulang dan kemudian menuju masjid, bersembahyang. Darso menstarter sepedamotornya. Manto membonceng dari belakang dan tak berapa lama, mereka pun telah meninggalkan jembatan di atas saluran irigasi itu. Air yang mengalir di bawahnya masih kecoklatan, mengalir tanpa suara menuju desa Wira Sengsara.

Melbourne, November 2004.

1 Sembilan bahan pokok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s