Selamat Jalan Purnomo

Pengantar: Cerpen ini adalah karya yang saya buat di awal-awal tahun percobaan menulis sastra bergenre Cerita Pendek. Saya mengirimkan karya ini untuk diikutkan dalam kompetisi menulis Cerpen yang diadakan Yayasan Citra Kasih. Cerpen ini terpilih sebagai salah satu pemenangnya dan kemudian dibukukan bersama cerpen terpilih lainnya dalam kompilasi cerpen: Metamorfosa Cicak di Atas Peta (2003)

 

Hari ini tepat satu bulan aku tinggal di rumah kost yang baru, sebuah rumah kecil tipe 21. Aku terpaksa mengontrak kamar, karena perusahaan farmasi tempatku bekerja, menempatkanku di kota kabupaten ini untuk memasarkan obat-obatan. Teman dan famili di kota ini aku samasekali tak punya. Mengontrak kamar kos oleh karenanya adalah satu-satunya pilihan.

Ibu pemilik rumah yang baik dan anak-anaknya yang lucu membuatku cepat kerasan tinggal di sini. Aku seperti merasa di rumah sendiri, seolah bersama ayah, ibu dan adik kecilku yang nakal. Sedikit banyak kerinduanku pada keluarga terobati dengan bercanda ria bersama mereka.

Aku pun menganggap rumah itu seperti rumah sendiri. Tak jarang aku ikut mengepel, membersihkan perabot rumah. Pendeknya aku sangat merasa nyaman tinggal di rumah yang sangat kecil akan tetapi menyenangkan ini.

Akan tetapi ada satu hal yang pada awalnya membuatku merasa risih dan terganggu. Pagi hari, tepatnya pagi di hari kedua aku menempati kamar kost, saat hendak berangkat bekerja aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki.

Ia bukan penghuni rumah, bukan pula warga sekitar perumahan. Ia adalah orang gila. Kukatakan gila karena dari penampilannya, lelaki itu memang tampak seperti orang tidak waras. Dilihat dari pakaiannya yang berlubang di sana sini dan kulit yang nampak jarang tersentuh air serta pandangannya yang kosong, tak salah lagi kalau dia memang orang gila.

Pertama kali ia menyapaku di hari kedua itu, aku baru saja hendak menstarter sepedamotor untuk berangkat bekerja. Saat itulah ia memanggilku :

“Mbak, minta nasi..”

Aku saat itu terdiam, bingung tak tahu harus berbuat apa. Lagipula kalau aku boleh berterus terang bau badannya…oh aku tak tahan Mencium aroma parfum saja aku tak tahan apalagi bau seperti ini, bau busuk!

“Mbak, minta nasi”, ia mengulangi lagi.

Aku semakin gemas dan jijik saja. Hampir saja ia kubentak kalau saja tidak teringat nasihat ibuku saat aku masih SMA:

Kalau ada orang meminta minta padamu, apalagi orang gila…, berilah Santi, engkau tak akan jadi miskin karena memberi kepada mereka. Justeru memberi kepada mereka adalah perbuatan yang sangat mulia, karena kita tidak mengharapkan pamrih dari orang-orang seperti itu….demikian nasihat Ibuku selalu.

Teringat oleh nasihat Ibu, segera kukeluarkan roti tawar bekal makan siang dari dalam tasku. Kusodorkan padanya;

“Ambil ini Mas, saya nggak punya nasi”, aku menyodorkan roti itu. Nafas kutahan agar aku tak menghirup baunya itu. Bisa-bisa hilang selera makanku selama seminggu.

Lelaki itu menyambut uluran rotiku. Tatapan matanya masih tetap kosong. Mulutnya menggumam tak pasti, mungkin ingin berterimakasih.

Segera disorongkannya roti itu ke dalam mulutnya, mengunyah. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Sembari makan, ia menatapku seolah ingin mengatakan ia sudah satu tahun tidak makan.

Namun wajah itu…aku akui ia sebenarnya adalah lelaki yang tampan. Namun aku tak sempat lebih lama memperhatikannya. Aku ada janji hari itu dengan beberapa apotek. Sepeda motor kustarter, untuk kemudian meluncur ke arah kota; berangkat bekerja.

Malam hari selepas makan malam, kutanyakan peristiwa pagi itu pada Ibu kost. Pada awalnya Ibu kost tidak mengetahui siapa yang aku maksudkan. Setelah menceritakan ciri-cirinya barulah ia teringat;

“Oh..dia….laki-lai itu.., namanya Si Pur, dia memang orang daerah sini Mbak Santi, tepatnya dari desa di belakang perumahan kita”, Ibu kost menceritakan. Ia melanjutkan lagi;

“Nama lengkapnya Purnomo. Orang bilang ia menjadi gila karena diguna gunai seorang wanita yang jatuh hati padanya namun bertepuk sebelah tangan”.

“Jatuh hati pada Si Pur ,bu?!” , aku bertanya heran.

“Ya, Pur memang berwajah tampan, tetapi dia sangat pemalu. Ia menolak cinta wanita tadi, dan tidak lama kemudian ia berubah menjadi gila”.

“Terus bu?”, aku menjadi penasaran. Kutatap wajah Ibu kost lekat-lekat, ingin mengetahui kelanjutan ceritera.

“Terus ya seperti yang mbak Santi lihat tadi pagi. Tapi soal diguna-guna, itu juga kata orang. Ibu tak tahu pasti. Sudahlah mbak Santi ndak usah membahas orang gila. Lebih baik Mbak Santi tidur, besok berangkat pagi to?” kata Ibu kost menutup pembicaraan sambil menepuk bahuku. Pandangan matanya begitu sejuk, seolah aku adalah anak kandungnya sendiri.

Dalam kamar aku terus membayangkan Si Pur alias Purnomo. Alangkah kasihan dia, harus menjadi orang gila hanya karena menolak cinta seorang perempuan….seharusnya ia adalah orang yang normal, seharusnya ia bisa bekerja.. seharusnya ia sudah berumah tangga…., aku terus berandai andai.

Aku menjadi menyesal telah berfikiran buruk dan bersikap tak ramah padanya. Tak terasa mataku semakin berat. Tanpa sadar, akupun akhirnya tertidur.

……….

Keesokan harinya, lelaki yang bernama Si Pur kembali meminta nasi padaku. Sama seperti hari pertama , kembali meminta nasi tepat saat aku hendak menstarter sepedamotor. Akhirnya sekali lagi kurelakan roti tawar yang sudah kusemat keju dan selai kacang itu. Tak sadar dalam hati aku mendengus ; huh, sudah dibikin enak-enak ee..h malah diminta orang. Orang gila lagi!

Namum segera aku beristighfar, mohon ampun padaNYA. Tak sepantasnya aku berfikir seperti itu. Bagaimanapun Si Pur adalah manusia. Dan ia adalah manusia yang malang..sungguh malang. Siapa yang mau jadi orang gila?

Ampuni aku Ya Allah….Pur, maafkan aku..

Segera kustarter motorku, meninggalkan Si Pur yang sedang sibuk melahap sarapan pagiku.

Sejak hari itu aku berjanji untuk memberikan makanan pada Si Pur setiap pagi. Manusia baru dikatakan manusia jika ia mempunyai kepedulian terhadap manusia lain, demikian seorang pengarang besar yang kukagumi pernah menulis.

Manusia yang tak peduli pada mereka yang tertindas, menderita dan sengsara adalah laksana ayam. Lihatlah ayam.., dia tak akan menangis sedih jika temannya disembelih. Ia akan tetap berjemur dan bermain tanah seolah tak ada apa apa terjadi di sekitarnya.

Maka, sejak itu setiap pagi menjelang berangkat bekerja seolah menjadi kebiasaan rutinku untuk menyiapkan dua sarapan. Satu untukku dan satu untuk Si Pur. Tak kubedakan antara roti yang akan kubawa sebagai bekal, dan roti jatah Si Pur. Aku tak boleh membedakan hanya karena ia orang gila. Jika aku memakai selai kacang, coklat, atau keju, jatah Si Pur pun aku beri pelengkap yang sama.

Seperti biasa, Si Pur hanya menggumam kala kuberikan roti sarapan paginya. Tatapan wajahnya masih kosong, hanya saja lambat laun ia sudah mulai nampak bisa tersenyum.

Namun tak pernah sekalipun ia menggangguku. Bahkan pernah pagi ini, ia menyodorkan beberapa buah jambu air. Ya jambu air yang sangat matang dan ranum, buah yang menjadi kegemaranku sejak kecil.

Tetapi ah..aku tak sampai bisa memakannya. Aku jijik. Tangan Si Pur begitu kotor. Tetapi aku terima saja pemberiannya. Walau ia gila, aku tak mau melukai perasaannya. Membunuh perasaan sama jahatnya dengan membunuh dalam arti fisik, demikian pernah kudengar hal itu dari seorang Ustadz. Di tengah jalan kuberikan jambu air itu pada anak-anak kecil, para pengamen di perempatan jalan besar di luar kompleks.

Siang ini tak seperti biasanya cepat sekali urusanku dengan para klien. Aku pun bisa pulang lebih awal. Kuputuskan untuk pergi ke supermarket, membeli kebutuhan sehari hari yang sudah menipis; pasta gigi, sabun, pelembab,..pembalutku juga sudah habis, selai kacang dan…ya, roti tawar. Roti tawar untuk bekal makan siangku setiap hari.

Tidak! Tidak hanya untukku!! Juga untuk Si Pur. Ya, untuk sarapan Si Pur!! Kuambil beberapa buah roti tawar. Tak lupa aku belikan beberapa batang coklat kegemaran anak Ibu kost. Dalam hati aku ingin segera sampai di rumah, memberikan oleh-oleh untuk anak Ibu Kost, Dani dan Luki.

Suasana terik di jalan membuatku memacu kencang sepedamotor ini. Huh, betapa gerahnya. Aku tak mengerti mengapa di bulan yang seharusnya musim hujan seperti ini, malah sengatan matahari yang kurasa. Sebaliknya di saat yang seharusnya musim kemarau, hujan tetap turun. Ah entahlah..

Kupacu dan kupacu sepedamotorku melintasi jalan raya protokol, membelok melewati pasar agar lebih cepat.

Kalau saja tak terhalang kerumunan orang, barangkali aku tak akan menghentikan laju kendaraanku. Aku mendengus dalam hati, ada apa sebenarnya, siang panas begini kok malah ribut?

Kulongokkan wajah ke tengah kerumunan tersebut. Seorang lelaki berlumuran darah, diam tergolek tak bergerak lagi. Nampaknya ia baru saja mengalami penganiayaan yang sangat berat oleh orang orang yang mengerumuninya.

“Dasar maling, tak tahu diri”, terdengar suara mengumpat.

“Pencuri sialan, mampus kau, mungkin ini bukan yang pertama kali ia mencuri jambu dagangan Yu Marni”, suara lain lagi menimpali. Tak kalah gemasnya, tak kalah kejam terdengar di telingaku.

Mendadak tubuhku serasa bergetar, aku rasakan badanku dingin. ‘Apakah itu dia….Apakah itu Si Pur?’

Kuhentikan sepedamotor dan berjalan mendekato pusat keramaian itu. Tak kupedulikan kerumunan orang yang menghalangi. Aku mensibakkan mereka dengan tanganku.

“Awas, minggir, beli jalan”, aku mulai histeris.

Ketika sampai di hadapan lelaki yang terkapar kaku, tangisku meledak sejadi-jadinya; “Pur….ada apa Pur….!!!! Tidak….’”

Laki-laki itu adalah Si Pur. Wajahnya hampir tak dapat dikenali karena dilumuri darah yang mulai mengental. Aku menggigil. Aku tak tahu mengapa…sambil menangis sejadi-jadinya aku berusaha membangunkannya. Kuguncang-guncang badannya.

“Pur, bangun Pur….!! Ini Mbak Santi..Ini Mbak Santi..”, aku terus melolong.

Orang-orang yang ada di sekeliling memandangiku heran. Terdengar mereka berbisik-bisik namun tak kuhiraukan. Satu demi satu mereka meninggalkanku. Aku terus menangis dan menangis. Si Pur tetap terdiam kaku, tak bergerak lagi.

Dua hari berlalu sudah sejak peristiwa itu. Kini tak ada lagi Si Pur yang meminta sarapan padaku. Tak ada lagi yang kubuatkan sarapan roti tawar bersalut selai kacang. Aku merasa sepi. .Aku merasa kehilangan, ya..kehilangan.

Akan tetapi aku tak malu merasa kehilangan Si Pur, walaupun ia adalah orang gila. Siapa melarang orang untuk menyayangi orang gila?!

Selamat jalan Pur, semoga engkau tenteram di sisiNYA. Tak akan kau rasakan lagi kelaparan, dan hinaan yang kaudapat di dunia. Selamat jalan Pur, selamat jalan Purnomo.

Purwokerto, Maret 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s