Jarig di Holland

Dalam bahasa Belanda, ulang tahun itu disebut dengan istilah “jarig“. Dan jarig  ke -38 ini aku lewatkan pula di negeri Belanda. Waktu  masih menunjukkan tanggal 23 Maret ketika Haryadi, kolega dari FISIP Unsoed mengirimkan ucapan selamat lewat Facebook. Hariyadi sedang berada di Australia, dan ketika kuterima ucapannya sekitar magrib 23 Maret waktu Belanda, ia pastilah sudah memasuki pagi hari 24 Maret.  Aku lahir di Jawa, dan karena Jawa pula sudah memasuki 24 Maret, maka kalau mau hitung-hitung ulang tahun, usiaku genap 38 tahun di tanggal 23 Maret waktu Belanda.

Seingatku ini adalah ulang tahun ke tiga aku tidak berada di negeri sendiri. Tahun lalu kulewatkan di Paris, dan 2004 lalu aku lewatkan di Melbourne. Sudah lama aku tak lagi menganggap ulang tahun sebagai hal istimewa. Ketika aku SMP dahulu memang ulang tahun terasa lain, dengan banyak bingkisan dari teman sekolah, terutama teman perempuan. Waktu SMA, beberapa adik kelas memberiku hadiah ulang tahun, mungkin ulang tahunku ke 17 pada 1992. Tanteku di Surabaya mengirimkan uang 20 ribu di dalam surat ketika aku berulang tahun ke 18 pada 1994 yang segera saja kubelikan kaset The Beatles BBC Session seharga kalau tak salah 16 ribu. Orang tuaku sendiri, tak pernah secara khusus membuat perayaan sekecil apapun untuk ulang tahun kami anak-anaknya.

Ulang tahun bagiku kini hanya konsep waktu saja. Ia tak merubah apa-apa. Bertambah umur? setiap orang bertambah tiap detik dalam hidupnya. Bertambah umur dan tentu saja semakin dekat dengan kematiannya. Namun begitu tentu perhatian banyak orang yang mengucapkan selamat tak urung membuat hati senang dan terharu. Ada banyak doa dan harapan, agar lekas kembali ke tanah air, selesai studi dengan baik, dan aneka harapan lainnya. Lewat Twitter, aku menerima banyak kiriman ucapan dan harapan., kebanyakan dari mahasiswaku baik yang masih kuliah maupun yang telah lulus dan bekerja. Teman dekat, keluarga, sahabat, orang-orang yang memiliki arti khusus, mengirim ucapan dan doa pula, lewat Facebook maupun BlackBerryMessenger. Dan walau barangkali ada diantaranya yang lebih kepada basa-basi, kuusahakan diri ini untuk membalasinya satu persatu. Perhatian, harus dibalas dengan perhatian. Setidaknya yang setimpa, kalau bisa: lebih.

23 Maret itu aku tengah berada di rumah Siswa Santoso di Ijmuiden, Provinsi Noord-Holland. Siswa seorang Indonesia yang sejak 1985 telah tinggal di Belanda, aktifis Indonesia sejak era Soeharto. Karena aku tidak minum alkohol, isteri Siswa yakni Eva membuatkan kami wedang sekoteng. Hangat dan manis. Sore hingga malam, aku dan Siswa lalui sambil mendengarkan aneka lagu dari piringan hitam koleksinya: Pink Floyd, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, John Mayall and The Bluesbreakers, juga King Crimson. Secara khusus kami memutar The Dark Side of The Moon dari Pink Floyd yang di tanggal yang sama berulang tahun ke 40 untuk rilisnya di Inggris.

Keesokan harinya, 24 Maret aku meninggalkan Ijmuiden menuju Amersfoort. Siswa mengantarkanku ke stasiun Haarlem. Sudah tentu pikiran melayang pada Tan Malaka, bapak bangsa yang pernah tinggal di kota ini. Tapi karena suhu yang amat dingin tak kurang dari nol derajat, aku tak sempat untuk melihat-lihat suasana kota yang berarti ini. Lagipun aku sudah janji untuk datang ke rumah Theo, sahabat yang tinggal di Amersfoort.

Sekira satu jam lebih aku sampai di Amersfoort setelah berganti kereta api di Amsterdam Centraal  dan di Utrecht Centraal. Dijemput oleh Theo dan ayahnya dengan mobil, sekali lagi kunikmati pemandangan yang jarang kualami: suasana pedalaman Belanda yang sepi dengan lahan pertanian yang teratur. Di rumah Theo itu kami bersama makan ketoprak yang dimasak oleh Ibu Theo, Mevrouw Kalleveen. Enak sekali, walau seperti umumnya Belanda, ketoprak itu tidak lah pedas. Theo memberiku hadiah ulang tahun kecil: magnet bergambarkan kota Amersfoort untuk lemari es dan sebuah CD musik Doe Maar.

Diskusi kami sepenuhnya ada di meja makan. Aku berkisah mengenai pembantaian massal 1965 di mana film terbaru tentang itu yakni “The Act of Killing” tengah banyak mendapat sorotan internasional dan memenangkan aneka award di berbagai film festival. Sebelumnya, 22 Maret aku juga menghadiri diskusi film itu di rumah Saskia Weiringa, gurubesar Universiteit van Amsterdam di Den Haag yang banyak studi tentang perempuan, termasuk mengenai Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang menjadi korban Orde Baru Suharto. Joshua Oppenheimer, sutradara film itu sendiri yang membincangkan film itu, dengan dilengkapi Stanley, eks Komnas HAM yang banyak menekuni soal Tragedi 1965.

Obrolanku dengan keluarga Theo juga berlanjut soal banyaknya istilah di Indonesia yang menggunakan bahasa Belanda. Banyak diantaranya masih digunakan seperti asbak, wastafel, loket, spoor, tapi banyak pula yang sudah tak lagi digunakan. Yang terakhir ini seperti afdruk untuk cetak, dimana kini orang lebih familiar dengan print. Juga pantalon untuk celana, besluit untuk surat keputusan, atapun plesir. Kami membandingkan betapa mudahnya orang Indonesia untuk membeli rokok, dan segala umur bisa membeli rokok, berbeda dengan Belanda dimana umur tertentu saja yang boleh membeli rokok.

Senja hari Theo dan ayahnya mengantarkanku ke Stasiun Amersfoort untuk kembali ke Nijmegen. Di dalam stasiun, aku dan Theo untuk kesekian kalinya saling berjabat tangan dan berharap akan dapat bertemu kembali denganku, kali ini untuk bertemu sebelum ia pergi meninggalkan Belanda, bersepeda ke berbagai negara termasuk ke Indonesia tahun 2014 nanti. Telah beberapa kali aku dan dia berjumpa baik di tempat tinggalku maupun di Nijmegen, kurasa aku akan berjumpa dengannya lagi dan tak masalah apakah kami akan bertemu kembali sebelum perginya, atau nanti sewaktu ia di Indonesia, atau kapanpun kami bisa jumpa lagi.

Dan minggu malam hari dingin dengan angin kencang itu sejenak bisa kuhindari selama perjalanan dalam kereta api dari Amersfoort hingga Utrecht Centraal. Menunggu kereta ke Nijmegen selama beberapa menit, aku mencari tempat yang hangat di dekat counter loket untuk melawan udara dingin di tanggal yang sebenarnya telah memasuki Spring itu. Dingin dan angin kencang tak urung kembali kujumpai pula setibanya di Stasiun Nijmegen, hingga kudapatkan bis yang membawa pulang. Setengah sembilan malam hari minggu 24 Maret 2013. 38 tahun silam, aku masih bayi merah dan ibuku pastilah masih lemah dalam melahirkanku, di Solo. Dan malam itu, 38 tahun setelahnya aku sendiri berjalan meninggalkan halte di Negeri Belanda, menembus malam, menyeberang jalan raya yang sepi untuk  berjalan dan sendiri berjalan berjuang melawan beku dan angin menderu dengan aneka pikiran di dalam hati, untuk pada akhirnya kembali ke kamar tinggakul yang sepi.

Nijmegen, 25 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s