Kisah Tentang Nanti

Jalan Tunjungan-Surabaya

Perlulah kutulis ini untuk mengenangnya: seorang perempuan sederhana, yang aku hanya bisa merabai saja wajahnya dalam sisa ingatan akannya di benak kepala. Namanya “Nanti”. Nanti, terdengar dan bermakna seperti “later on” dalam bahasa Inggris. Tapi bukan itu. Namanya memang Nanti, mungkin Kinanti. Dan Kinanti, kalaulah itu memang namanya, dalam bahasa Jawa bermakna (sesorang) ‘yang dinanti’. Mungkin saja begitu, mungkin karena orang tuanya dahulu sekian lama menantikan kehadirannya di dunia.

Ia kukenal di Surabaya, lewat  dua sahabat masing-masing bernama Dani dan Dhani, dua mahasiswi UNAIR, Surabaya. Keduanya, aku jumpai dalam show Mr. Big di Stadion Tambaksari Surabaya pada 15 Mei 1996. Bercakap ringan di stadion di sela-sela show, kami  bertiga menjadi akrab dan ketika aku kembali ke Purwokerto, persahabatan intu tetap terjalin dengan saling berkirim surat. Dalam kunjunganku ke Surabaya berikutnya yang kurasa masih di tahun yang sama itulah aku mendatangi mereka dan kemudian mengenal Nanti ini. Nanti tinggal satu rumah kos dengan mereka, bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) sebuah produk kosmetik di supermarket “Jaya”, di sekitar Dharmahusada. Aku sudah lupa, yang pasti suatu malam ketika aku mengunjungi dua sahabat itu di rumah kos mereka kami sepakat untuk pergi berjalan-jalan ke Tunjungan, dan Nanti ini ikut bersama kami. Mengapa dia ikut, dan siapa yang mengajak, sudah tentu tak dapat kuingat lagi.

Hari sudah gelap ketika kami bertiga menjemputnya di supermarket yang tak besar itu. Ia begitu ceria. Wajahnya manis, dengan mata berbinar yang kurasai indahnya. Rambutnya tak terlalu panjang, seingatku sepundak. Senyum dan tawanya renyah, mudah tertawa. Dengan begitu, ia menjadi menarik. Memesona. Dan dengan begitu pula di hatiku terbitlah rasa suka padanya. Malam itu kami berempat tertawa-tawa berjalan bersama menyusuri trotoar dari arah Blauran menuju Tunjungan. Lampu kota dan deru kendaraan sepanjang jalan yang penuh dengan sejarah kepahlawanan itu menelan tawa-tawa  dan percakapan kami, yang semuanya sudah aku lupa. Malam itu kami berempat gembira dan senang merenangi malam masa muda.

Aku berjalan di samping Nanti dan kugandeng tangannya, perempuan yang kami semua-termasuk aku- memanggilnya dengan panggilan “Mbak Nanti”. Dari penampilannya, sepertinya ia memang lebih tua dariku yang kala itu berumur 21 tahun. Entah bagaimana, akan tetapi itu terjadi begitu saja. Tak pernah sebelumnya aku menggandeng tangan  perempuan seperti itu, sepenuh rasa. Dan ia menerima gandeng tanganku, jari jari kami saling genggam sepanjang jalan, tak pernah lepas.  Hanya rasa bicara, bahwa aku menyukainya dan dari perasaanku akan genggam jari tangannya, ia pun ada memiliki rasa sama. Perasaan dan penilaian yang sudah barang tentu bisa jadi salah.

Aku tak ingat lagi kemana kami pergi setelah itu, mungkin hanya sekedar membuang waktu malam, atau memasuki Tunjungan Plaza. Dan malam itulah terakhir kali pula aku menjumpainya, sekitar 17 tahun silam sebelum tulisan ini aku buat. Jika bersandar pada ukuran ‘normal’ sudah tentu saat ini ia sudah atau pernah menikah, dan mungkin mempunyai anak atau tidak sama sekali. Wajahnya pasti sudah menjadi semakin dewasa, untuk tak mengatakan tua. Nanti, SPG kosmetik itu, dan aku yang masih mahasiswa tahun ketiga berjumpa dan berpisah untuk waktu yang singkat: beberapa jam saja.   Akan tetapi perjumpaan dan kebersamaan yang amat sebentar itu memberi aku satu makna kecil akan keindahan rasa, rasa yang hingga kini tak terlupa.

Nijmegen, 27 March 2013

Advertisements