Novel : Kunanti Engkau Di Jakarta

Pengantar:

Saya tengah berada di Melbourne, Australia pada akhir 2004 ketika mengetahui ada sayembara menulis novel yang diselenggarakan oleh Radio Nederland Siaran Indonesia (RANESI). Telah menulis beberapa cerita pendek sebelumnya, saya mencoba menulis novel ini yang akhirnya bisa saya selesaikan di tanah air untuk kemudian dikirimkan kepada panitia lomba. Novel ini tak memenangi kompetisi tersebut, yang kalau tak salah ingat memenangkan novel bergenre teenlit.

Saya pernah mencoba sekali, dua, tiga kali menawarkan naskah ini pada penerbit, namun kesemuanya menolak. Alasannya? Fuck yeah, saya tak ingat betul, tapi sudah pasti karena tidak memenuhi kriteria penerbit. Saya memang belum secara maksimal mengirimkan draft ini ke berbagai penerbit, tapi karena alasan sederhana : malas, maka bertahun setelah novel ini dihasilkan, ia hanya tersimpan di file storage saya di Google Drive.

Saya tak lagi pusing dengan pembukuan novel ini, dan daripada hanya teronggok saja maka saya upload di situs ini untuk berbagi karya ini dengan sesiapapun yang meminati sastra dan memiliki waktu luang untuk membaca karya tak terpilih ini.  Kalaulah ada yang hendak menerbitkannya dalam bentuk fisik/buku, atau format lain, dipersilakan sadja. Kontak manunggal.wardaya@gmail.com 

Download Novel dalam format MS-Word di sini

Selamat membatja:

Nijmegen, 17 April 2013

SYNOPSIS

Kunanti Engkau Di Jakarta adalah novel mengenai keadaan Indonesia paska Reformasi 1998. Para pelaku yang terlibat di dalamnya adalah dua orang pemuda, yang pernah menjadi mahasiswa di masa-masa sukar Orde Baru. Ketika Orde Baru sudah tumbang, mereka mengalami hal yang sama dialami oleh para eks mahasiswa lainnya: bekas pahlawan yang terlupakan dan tetap tergilas oleh sisa-sisa penindasan dan korupsi.

Sena mencari kakaknya, seorang perempuan yang lemah dan berubah menjadi aktivis buruh yang radikal di Jakarta. Di Ibukota, ia menumpang pada kawannya yang lama, Kresna, mantan aktivis pergerakan yang karena kesulitan hidup mengandalkan hidup dari berjualan narkotika. Diantara kedua sahabat lama itu hadirlah Ajeng yang sama-sama disukai oleh keduanya. Namun Ajeng lebih menaruh simpati pada Sena. Kesulitan ekonomi, masa depan yang belum pasti membuat cinta mereka tidak pula bisa segera dipastikan.

BAGIAN I

 

Jalan raya Klender sudah terlihat dari kaca sebelah kiri. Pagar-pagar besi biru putih yang memisahkan jalan raya dan rel kereta api seolah berlarian bergerak kabur dalam pandangan mata. Berganti-ganti saja apa yang terlihat: tembok penjara yang berkawat, rumah toko, warung tenda, bus besar kecil, pejalan kaki, sungai dan parit, metromini, mobil pribadi, sepeda motor dan angkutan umum, jembatan layang, pohon-pohon. Tak lama kemudian kereta mulai melambatkan lajunya memasuki setasiun Jatinegara. Jalannya semakin melambat dan melambat. Sejauh pandang mata dilemparkan ke luar terlihat jalur-jalur kereta api yang terlihat amat banyak, bercabangan. Kereta api bergerak semakin perlahan dan perlahan.

Apa yang terlihat kini tak kabur lagi, semakin lama semakin jelas. Beberapa orang terlihat berjalan-jalan di antara rel dengan pakaian yang kotor kecoklatan dan tak terurus. Dua orang pemulung terlihat membawa karung besar memunguti apa saja yang dianggap dapat menghasilkan uang: botol plastik bekas air mineral, kertas karton. Seorang lelaki tak bercelana berjalan malas menyeret kaki dengan pakaian menghitam dan berlubang serta mata memandang kosong: orang gila. Agak jauh darinya berjalan bergerombol anak-anak kecil bergerombol membawa gitar kecil dan kendang bernyanyi-nyanyi. Kuning sinar matahari sore menyinari wajah-wajah mereka, wajah-wajah yang gembira.

‘Kereta memasuki setasiun nampaknya. Ah tak terasa, perjalananku seharian ini sudah hampir selesai’, pikir Sena. Dilemparkannya kembali pandangannya ke arah luar kereta, melihat kepada rel-rel dan anak-anak kecil itu. Pikirannya melayang pada peristiwa menggemparkan yang pernah dilihatnya di televisi beberapa tahun silam. Seorang sakit jiwa bernama Siswanto mencabuli belasan anak, beberapa diantaranya adalah anak-anak tunawisma Jatinegara. Kesemua anak itu kemudian dibunuh, perutnya disilet hingga ususnya terburai. Sena bergidik mengingatnya. Bunyi rem kereta yang mendecit dan menimbulkan bau yang khas membuyarkan lamunannya. Kini yang telihat di kedua bola matanya hanyalah orang-orang yang berkerumun di setasiun. Macam-macam sajalah penampilannya.

Orang-orang yang memenuhi setasiun itu ada yang nampak hendak menjemput, ada yang kelihatannya hendak bepergian. Ada yang berombongan, ada yang sendirian. Ada yang sedih, dan ada pula yang terlihat habis menguras air matanya. Banyak yang wajahnya terlihat biasa saja, tak sedih tak pula gembira. Banyak pula yang sukar ditebak kedalaman hatinya karena berkacamata hitam, laki-laki ataupun perempuan. Ada pula dilihatnya pasangan suami isteri muda begitu kerepotan mengganti celana pendek anaknya yang mengompol. Si lelaki, sang suami, bapak si kecil nampaknya tak sabar, karena si kecil menangis meraung sejadinya, tak mau berganti celana.

Para penumpang dalam kereta sudah mulai berdiri, bahkan sejak lama tadi, sejak kereta belum lagi memasuki setasiun. Mereka yang berkenalan dan saling menjadi kawan bicara di sepanjang perjalanan bersalam-salaman dan berpesan pada masing masing kawan barunya agar saling mengunjungi dan berharap dapat berjumpa lagi. Ada diantara mereka saling bertukar nomor telepon sambil berjanji akan bertandang suatu saat jika ada kesempatan. Sena bangkit dari duduk. Ia tidak berpisahan dengan siapapun di kereta itu. Sepanjang perjalanan, ia duduk disamping lelaki tua yang sama sekali tak mengajaknya bicara. Dan kawan duduk di sampingnya itu sudah lebih dahulu turun di Setasiun Bekasi. Diregangkannya tubuh ke depan dan belakang, mengusir penat. Dibetulkannya pakaiannya yang kusut, terbawa tidurnya barusan. Dikibas-kibaskannya baju bagian depan, dan dengan mulutnya ditiupinya dadanya yang basah berbintik keringat. Ia memandang ke atas, tempat ia menaruh ransel bawaannya.

Ransel hijau, bekas ransel tentara. Ia sendiri mendapatkan ransel itu dari kakaknya, seorang serdadu. Sebentar saja ransel itu sudah berpindah ke punggung. Mulailah ia berjalan di lorong gerbong kereta menuju pintu, berbaris mengantri bersama dengan orang lain yang hendak turun. Sesekali tubuhnya membungkuk dan matanya memandangi ke arah luar. ‘Semoga kereta ini tak terlambat’, pikirnya.

Kereta telah benar-benar berhenti kini. Ada didengarnya para penumpang mengucap syukur dalam Arab. Dan orang-orangpun berebut hendak turun. Di depannya seorang nenek berpakaian Jawa lusuh berjalan amat lambat. Dalam hati ia mengutuki mengapa nenek itu tak segera saja mati. Namun ia teringat pada neneknya sendiri, dan dengan begitu ia menjadi kembali sabar. Perlu waktu agak lama menanti orang tua itu tertatih keluar dari pintu kereta. Didengarnya beberapa penumpang yang mengantri di belakangnya menggerutu dan mulai mendesak desak punggungnya.

“Sabarlah, ia orang tua. Tak mungkin aku mendorongnya,” kata Sena sambil menolehkan pandangan ke belakang, memandang tak senang. Sekaligus orang-orang yang tadi menggerutu dan mendesaknya terdiam. Nenek itu telah berhasil keluar setelah berjalan begitu lambat dan terseret-seret. Sena bergegas melompat dari gerbong.

‘Akhirnya sampai juga aku di Jakarta!,’ serunya dalam hati. Ia merasa lega. Setasiun Jatinegara yang panas, ramai akan orang dan ramai akan bau. Bau keringat, bau mesin kereta api, dan bau tubuh ratusan orang. Stasiun Meester Cornelis, demikian orang dahulu menyebutnya. Ia teringat: seorang kakek yang tinggal tak jauh dari rumahnya menyebut nama itu beberapa hari sebelum keberangkatannya dan menimbulkan kebingungan padanya. Dan kakek itu, yang padanya mengaku pernah tinggal di Jakarta pada awal revolusi 1945 menjadi bingung bukan kepalang, tak mengerti bahwa nama setasiun itu kini telah lebih dikenal sebagai Jatinegara.

Ia menengok ke depan belakang kanan dan kiri mencari-cari. ‘Di mana Kresna? Tiga hari lalu ia mengirim pesan dan berjanji menjemputku di sini jam empat sore. Tapi sekarang sudah jam lima ia belum nampak juga?’. Diraihnya sebatang rokok dari saku celana kirinya. Segera linting tembakau padat itu telah terselip di bibirnya. Ia mulai merokok, membakar rasa tak sabar dan kesalnya yang mulai tumbuh. Pandangannya diarahkan ke sekeliling.

Kereta yang baru saja ditumpanginya telah mulai bergerak lagi menuju kota. Belum juga nampak Kresna menjemput. Hatinya menjadi semakin kesal. Berjalan ia ke pinggir, bersandar pada dinding setasiun, meletakkan ransel dan melanjutkan merokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat. Pekat kental cokelat asapnya. Dirogohnya telepon genggam dari saku celananya dengan malas. Ia melirik: ‘tidak ada pesan baru!’. Dan ia buka lagi pesan pendek beberapa hari lalu yang masih di simpannya. Tidak salah, kawannya itu memang telah menyanggupi untuk menjemputnya hari ini.

“Maaf Pak, apakah kereta api yang baru saja datang itu terlambat dari jadwal kedatangan?,” tanyanya pada seorang petugas berseragam biru yang kebetulan lewat. Orang itu menoleh dan kemudian menjawab:

“Tidak, malah kereta itu lebih cepat limabelas menit dari biasanya. Memang ada apa?”

“Oh tidak, kawan saya berjanji menjemput saya di sini. Saya takut kalau kereta ini terlambat datang dan ia kemudian pulang.”

“Tunggulah saja di sini. Orang yang anda tunggu pasti akan datang,” orang berseragam itu berkata tanpa tersenyum dan segera berlalu. Sena mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Si seragam biru tak menyahut, terus berlalu.

Hatinya menjadi sedikit lebih tenang kini. Matanya bergera-gerak mengamati dan mencari kawan yang telah berjanji menjemputnya. Ketika sedang menanti tiba-tiba terdengar tangis putus asa seorang perempuan beberapa meter di sampingnya. Diliriknya ke arah kiri. Seorang perempuan berumur sekira duapuluhlima tahun mengenakan celana kain biru dengan baju kuning lengan panjang nampak sedang berurai air mata. Di sampingnya tergeletak sebuah travel bag. Beberapa lelaki mengerumuninya.

“Lain kali hati-hati kalau membawa uang banyak di tempat umum, apalagi di setasiun seperti Jatinegara ini,” salah seorang dari lelaki yang mengerumuninya berkata. Menasihati.

“Emang gimana kok sampai dompetmu hilang?”

“Saya tidak tahu Pak, sungguh. Baru saja masih ada di sini ketika saya sedang membeli karcis,” ujar perempuan itu sambil menepuk pantatnya sendiri, menunjukkan kantong belakang celananya. Ia menangis lagi.

“Kok bisa sampai kecopetan bagaimana?” tanya yang lain lagi.

Perempuan itu masih terisak, namun masih dapat menjawabi: “Tidak tahu. Saya baru saja mau membeli air minum di kantin,” tangan perempuan itu menunjuk ke sebuah kedai yang dimaksudkannya sebagai kantin itu.

“Terus?”

“Ketika saya rogoh celana, dompet saya sudah tak ada. Aduh bagaimana ini, uang itu adalah hasil saya bekerja selama hampir dua tahun jadi pembantu di sini. Apa kata Abah dan Umi nanti?” Perempuan itu terus mengeluh dan merintih. Ada terdengar sesekali ia meminta ampun pada Tuhan dan menyebutkan kesalahan-kesalahan dirinya sendiri. Ia meratap dan mengakui bahwa ia tak pernah bersedekah dan terlalu kikir dalam beramal. Sebentar kemudian ia membela diri :”Penghasilanku terlalu kecil, aku tak bisa bersedekah.” Tangisnya pun berlanjut. Melolong-lolong kini.

“Kasihan sekali ia,” gumam seorang perempuan berbaju seragam sebuah supermarket.

“Ya kasihan sekali,” gumam yang lain, seorang petugas kebersihan yang membawa tongkat pel. “Ia terlalu lugu. Banyak sekali copet di sini. Mestinya kalau ia sudah lama kerja di Jakarta ia sudah tahu. Hidup di Jakarta kalau tidak hati-hati bisa celaka!”. Seorang lelaki gemuk yang kebetulan melintas dan mempelajari apa yang telah terjadi sambil berlalu lagi mengatakan dengan pendek dan ketus: “Salahnya sendiri!” Beberapa orang yang lewat melongokkan kepalanya pula. Pertanyaan yang sama pun terlontar pada perempuan malang itu: Ada apa? Kenapa sampai hilang? Bagaimana ceritanya kok sampai hilang?. Dan sependengaran Sena, kesemuanya menutup pembicaraan dengan kalimat yang sama: Lain kali hati-hati! Dan semua kata-kata itu berbaur dengan bising suara orang di setasiun dan pengumuman serta peringatan datang dan perginya kereta.

Sena terus menengokkan kepalanya dan menajamkan pendengaran mengamati apa yang dilihat dan didengarnya itu. Seorang lelaki berumur sekitar empatpuluh lima, nampaknya petugas porter setasiun mengantar perempuan muda malang itu memasuki kereta api ekonomi yang akan ke arah timur. ‘Ah pencopetan, ada di mana saja. Tidak di kota besar tidak di kota kecil. Sama saja.’ Pikiran Sena melayang pada peristiwa yang pernah dialami Ibunya sendiri. Di sebuah pasar Ibunya kehilangan kalung emas. Untunglah ia mempunyai kenalan, seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya, yang berprofesi sebagai pencopet pasar. Melalui pertolongan kawannya itu kalung Ibunya dapat ditemukan kembali sebelum terburu dijual. Untuk itu ia mengganti sekedar uang rokok.

“Sena!,” tiba-tiba terdengar suara memanggil. Suara seorang laki-laki. Ia segera memalingkan pandangannya dari kereta api yang membawa perempuan yang baru saja dicopet itu. Apa yang dilihatnya kini adalah seorang berperawakan tegap dengan jaket jeans tua namun nampak tercuci bersih. Pemuda itu terlihat melambaikan tangan. Rambutnya agak panjang mencapai pundak. Ia berkacamata hitam, mengenakan sepatu kets berwarna putih yang sudah berubah kecoklatan.

“Aha…ha! Kresna, jadi juga kau menjemputku juga,” Sena memekik menyumpahi. Segera dihampirinya lelaki yang baru saja memanggilnya itu. Dipeluknya erat sambil berkata separuh berteriak.

“Hampir aku putus asa menunggumu, keparat!”

Yang dipeluk hanya tertawa. “Apa kabarmu, Sen?,” Kresna bertanya setelah keduanya selesai berpelukan. Ada keharuan di wajahnya. Beberapa orang melihat pada mereka dengan pandangan aneh. Kedua pemuda itu tak peduli.

“Baik,” Sena menjawab. “Baru dua tahun kita berpisah, rasanya sudah lama sekali, Kres!”

“Engkau masih saja seperti dulu, kawan. Badanmu itu masih kurus seperti orang kena tuberkolosis,” Kresna berkata. Dibukanya kaca mata hitamnya itu. Terlihat kini matanya yang tajam bersinar-sinar memandangi Sena.

“Orang susah dilarang gemuk, kau tahu?,” Sena tersenyum masam. Ia kemudian membalas:

“Kau sendiri masih seperti dahulu. Rambutmu panjang tak beraturan. Aku heran, apakah kau selalu tak punya uang untuk bercukur? Lagipula, kau akan terlihat lebih tampan kalau berambut pendek, bung!”

“Ah apalah arti rambut. Jangan kau nilai kecap dari botolnya. Tak akan mungkin kau bisa menilai mutu kecap dengan menjilati botolnya. Kita tak bisa menilai buku dari hanya sekedar melihat sampul mukanya saja.”

Sena menukas sengit: “Kau paling pandai berkilah!”

“Ha…ha..ha, aku mengatakan yang sebenarnya, apa adanya. Sudahlah, ayo kita segera ke luar. Kau sudah makan? Mau apa kita sekarang? Ngopi-ngopi dahulu?,” Kresna menawari.

Sena tersenyum. Ia kemudian berkata:

“Aku sudah makan. Tadi aku membeli nasi bungkus di Cirebon. Sepertinya kalau kita minum kopi dahulu akan lebih asyik.”

“Okelah kalau begitu. Ayo!”

Dan keduanya kemudian bergegas berjalan ke luar setasiun. Petugas meminta karcis Sena yang segera disodorkan oleh pemuda itu. Seolah maling yang disergap polisi beberapa sopir taksi dan juga tukang ojek telah menghadang menawarkan tumpangan, namun kedua pemuda itu tak peduli. Mereka berjalan terus ke luar, menyusuri jalan. Sepanjang jalan, pedagang kaki lima sajalah yang terlihat. Macam-macam saja yang mereka dagangkan: radio, obeng, kaus, tas ransel, kaset dan VCD bajakan.

“Ayo kita menyeberang ke sana,” Kresna separuh berteriak, mengajak kawannya itu, masuk ke dalam sebuah warung tenda tak jauh dari setasiun. Suara musik dangdut yang dipasang nyaris setiap pedagang serta gemuruh segala jenis kendaraan sepanjang jalan membuat mereka sukar mendengar apa yang dipercakapkan masing-masing.

Kedua pemuda itupun berkelebatan menyeberang jalan, menghindari berbagai kendaraan yang lewat dan saling salip. Dan dalam sekelebat pula mereka telah menemukan sebuah warung kopi.

“Nah sekarang kita beristirahat sebentar di sini, Sen. Kau mau apa, kopi, teh, atau …,” belum sempat Kresna meneruskan kata-katanya, Sena telah memotong:

“Kopi panas, yang kental dan manis!”

“Kau tak mau bir?”, Kresna bertanya sambil memicingkan matanya. Alis matanya menaik, menunjukkan keheranan yang amat sangat.

“Tidak, kopi saja. Sekarang bukan waktu berhura-hura!”

Kresna kembali memandang temannya aneh. Ia menahan tawa. Berkata kemudian: “Sungguh? Dahulu kau tak pernah menolak. Kau telah berubah sekarang!”

“Pokoknya aku tak mau bir. Kopi panas, titik!”

“Dulu kau yang sering membeli bir untuk kita, boss!”

“Diam bangsat, aku mau kopi. Kalau kamu mau bir, minumlah untuk dirimu sendiri!”

Kresna tak membantah lagi. Ia memesan kopi panas sesuai permintaan Sena. Keinginannya untuk mereguk bir ia batalkan, sebaliknya ia memesan segelas kopi susu panas. Selesai memesan, ia bertanya lagi:

“Kau mau makan?”

Sena menggelengkan kepalanya malas. Kepalanya menggeleng.

“Mi rebus mungkin?”Kresna tak berputus asa menawarkan.

“Sudah kukatakan padamu tadi, Kres, aku sudah makan di Cirebon. Aku masih kenyang.”

“Kau bohong! Jangan kuatir, aku yang bayar. Aku kaya.”

“Perlu aku muntah supaya kau percaya masih ada nasi bungkus di dalam perutku, Kres?”

Kresna tertawa demi melihat wajah jengkel sahabatnya itu.

Sena mengeluarkan Dji Sam Soe. Tiga batang telah ia hisapi sepanjang perjalanan dari Kutoarjo menuju Jakarta. Jumlah yang sedikit, sepertiga dari yang biasa ia mampu hisap dalam setengah harinya. Diambilnya sebatang, setelah itu disodorkannya bungkus rokok berwarna kuning itu pada Kresna.

“Merokoklah.”

“Terimakasih. Aku punya rokok sendiri”.

“Ambillah..,” Sena terus menyodorkan rokoknya. Matanya menatap meyakinkan

Kresna hanya mendengus dan mengambil sebatang.

“Aku membawa beberapa bungkus lagi, cukup untuk kita hisapi seminggu berdua.”

“Good”

Sena mengeluarkan korek api dari saku celananya. Dinyalakannya korek api itu, dan disulutkannya ke rokok. Setelah itu masih dengan batang korek yang sama disulutnya sigaret kawannya itu. Asap kental membubung dan mengepul dari mulut kedua pemuda itu. Keduanya kini asyik dengan asapnya masing-masing.

Seorang gadis datang dengan dua gelas kopi di tangannya. Dari penampilannya dapat ditebak masih mudalah umurnya. Wajahnya lebih dari cantik. Rambutnya dipotong pendek, tak sampai menyentuh pundak. Alisnya tipis. Matanya bulat berbinar. Ia memakai pakaian yang tak terlalu ketat, namun masih menonjolkan keindahan alami tubuhnya. Diletakannya kopi di hadapan Sena dan Kresna. Tersenyum ramah ia pada kedua sahabat itu.

“Diminum kopinya, bang.”

Gadis itu kemudian berlalu, masih dengan senyum yang memekar.

“Terimakasih,” kedua sahabat itu menjawab serempak, perlahan, seperti tersihir dan lumpuh. Antara berapa lama mata keduanya mengagumi gairah yang ditebarkan gadis itu.

“Siapa namamu?” Sena bertanya pada gadis itu, namun yang ditanya tak mendengar dan terus berjalan ke arah belakang warung. Suara musik dangdut dari warung-warung tenda dan kakilima di sekitar Setasiun Jatinegara telah menjadi penghalang niatnya untuk berkenalan dengan gadis itu. Kresna tertawa senang demi melihat raut kecewa pada wajah kawannya itu.

“Sudahlah, lupakan dia. Ayo diminum kopimu itu.”

Sena menggerutu dan kemudian menghirup kopi panasnya. Namun ia belum berputus asa. Demi dilihatnya gadis itu keluar dan membersihkan meja di samping tempat mereka duduk ia bertanya lagi:

“Siapa namamu?” kali ini Sena bertanya lebih keras. Gadis itu menolehkan kepalanya, dan melihat pada Sena. Ia kemudian tersenyum dan menjawab:

“Nama saya? Ipah.”

“Hanya Ipah?”

“Nining Saripah,” gadis itu menjawab cepat separuh berteriak Tangannya mengelap meja kuat-kuat dengan lap berwarna cokelat di tangannya. Bibirnya masih mengembang senyum.

“Kau pasti dari Jawa Barat!”

“Kok tahu?”

“Dari namamu.”

“Huh, bisa aja!”

Nining Saripah atau Ipah melirik pada Sena. Lirikan yang menggairahkan. Tangannya masih sibuk membersihkan meja di samping meja kedua pemuda itu. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Kresna memulai menyeruput kopi susunya. Matanya ikut mengawasi Ipah.

“Tasik?” tanya Sena lagi.

Ipah menggeleng.

“Garut?” Sena kembali menebak.

“Bukan!”

“Kuningan?”

Dua orang pemuda datang bermain gitar. Mengamen. Ipah berlari kecil ke belakang dan segera kembali sambil menyerahkan dua keping uang logam seratusan pada pengamen itu. Bertanya Sena lagi, semakin penasaran:

“Kau dari Kuningan ‘kan?”

Ipah menggeleng lagi. Tersenyum dikulum dan kemudian berkata:

“Sumedang.”

“Oohh…Sumedang. Berapa umurmu sekarang?” Sena bertanya lagi.

“Delapanbelas,” Gadis itu menjawab lagi.

“Berapa?” Sena bertanya lagi, “Aku tak mendengar!.”

Ipah kemudian menyebutkan lagi umurnya. Seorang pengunjung datang. Seorang laki-laki membawa tas besar. Sepertinya ia pedagang keliling. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Ia memesan segelas kopi dan mi rebus pada Ipah.

“Maaf bang, saya mesti bikin kopi lagi. Permisi,” dan gadis itu dengan segera berlalu menuju ke belakang warung. Sena mendengus, dan kemudian menghirup kopi panasnya. Ia kembali menatap Kresna dan berkata perlahan:

“Sayang benar dia. Semanis itu wajahnya dan semuda itu umurnya hanya bekerja di warung kopi. Kalau ia menjadi mahasiswa, atau kuliah diploma sekretaris, pastilah ia bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi pelayan warung kopi di sini.”

“Tapi siapa yang hendak membiayainya? Kalau ia anak orang kaya, takkan ia menghabiskan waktunya bekerja di sini. Uang, uang yang membuat ia harus bekerja di warung kopi!”

“Aku ragu kalau ia bersekolah sampai SMP.”

“Mungkin ia hanya bersekolah hingga SD,” Kresna menimpali tak acuh sambil membaca potongan koran bekas yang tergeletak di atas meja.

“Banyak orang tak punya biaya sehingga tak bisa sekolah seperti Ipah ini. Kasihan dia.”

“Tak selamanya karena kekurangan biaya orang tak bersekolah, Sen. Pendapat yang dangkal itu namanya,” Kresna menukas. Ia memandang wajah Sena dengan sungguh-sungguh, kemudian berkata lagi:

“Ada kalanya orang tua memang tak menginginkan anaknya untuk bersekolah tinggi-tinggi.”

Sena memotong: “Itu ‘kan dulu. Jaman sekarang sudah tak ada orang berfikiran seperti itu.”

“Naif kau” Kresna tak kalah memotong. Ia kemudian melanjutkan:

“Siapa bilang jaman sekarang sudah tak ada lagi orang yang menginginkan anaknya bersekolah tinggi? Bahkan pamanku sendiri begitu.”

“Pamanmu? Masa?!”

“Ya. Pamanku sendiri. Adik Bapakku. Ia punya usaha toko grosir yang besar di Kediri, tapi tetap saja anaknya tak bersekolah setelah tamat sekolah dasar. Baginya asalkan si anak sudah bersekolah dan bisa membaca serta berhitung, itu sudah cukup. Selanjutnya ia akan mengajari anaknya untuk berdagang.”

“Mereka tak percaya pada pendidikan barangkali,” Sena berkata.

“Mereka telah terdidik dan terkondisikan bahwa yang penting adalah menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak penting apakah mereka itu bodoh atau tidak. Yang jelas, yang ada di batok kepala mereka adalah berdagang dan berdagang serta mendapat keuntungan.”

Sena menimpali: “Ya, dan oleh karenanya tak jarang kita lihat orang yang begitu kaya, pengusaha truk, pemilik pangkalan minyak adalah orang yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau paling jauh sekolah menengah. Sementara kita yang sudah sarjana masih saja seperti ini, mencari pekerjaan kesana kemari,” Sena tertawa. Kresna ikut tertawa.

Sena menuang kopi yang masih mengepul panas itu ke dalam lepek. Kresna melakukan hal yang sama pada kopi susunya. Untuk beberapa saat keduanya asyik menyeruput minuman panas warung itu. Asasp beterbangan di sekitar mereka. Asap dari mulut mereka berdua, dan asap dari pengunjung warung barusan. Antara berapa lama, Kresna memulai kembali pembicaraan:

“Bagaimana perjalananmu seharian tadi? Lelah kau?”

Sena meregangkan tangannya menjawab: “Lumayan juga. Kau tahu bagaimana rasanya naik kereta ekonomi. Panas dan pengap. Setiap saat kita mesti mau berhenti, di setasiun manapun kereta api diberhentikan, bahkan di tengah sawah sekalipun. Kereta ekonomi harus mengalah pada kereta api bisnis, apalagi kereta kelas eksekutif.”

“Lain kali kalau kau hendak ke Jakarta, pastikan dirimu sudah cukup kaya!”

“Mengapa?”

“Supaya kau tidak perlu merasa lelah, dan aku bisa menunggu di ruang tunggu kelas eksekutif, tidak di peron dan mencarimu dengan berdesak desakan seperti tadi!,” gerutu Kresna. Si rambut panjang itu kemudian melanjutkan:

“Ada kau berkenalan dengan gadis cantik di kereta?”

Sena tak segera menjawab. Matanya masih berusaha mencari Ipah. Ada gadis itu dilihatnya sedang mencuci gelas dan piring di dalam ember bersama seorang lelaki tua. Mungkin ayahnya. Ipah tak melihat padanya. Kresna menuang kembali kopi panas ke dalam lepek dan kemudian menyeruputnya. Matanya melirik pada Sena, menunggu jawaban.

“Gimana. Kenalan dengan cewek tidak?”

Agak berapa lama baru Sena menjawab, “Huh, tidak. Sepanjang perjalanan aku duduk dengan seorang lelaki tua, seorang kakek. Dan ia sama sekali tak mengajakku berbicara. Ia hanya merokok dan merokok Seingatku, sejak dari Setasiun Kroya dimana ia naik, hanya rokoklah yang memasuki mulutnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya minum.”

“Kau menemukan teman perjalanan yang cocok!”

“Ah tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Ia tak pernah menawariku rokoknya itu,” Sena menggerutu, kemudian melanjutkan: “Lagipula seandainya aku ditawaripun aku takkan mau. Ia merokok kemenyan!” Keduanya lantas terbahak-bahak. Dari kejauhan Ipah melirik memandangi kedua pemuda yang sedang merayakan perjumpaannya itu. Kresna dan Sena kembali asyik dengan sigaret dan kopinya masing-masing. Antara berapa lama kemudian Kresna berkata: “Jadi maksudmu ke Jakarta hendak mencari kakakmu, Sen?”

Sena menganggukkan kepalanya, menjawab:

“Ya. Aku harus dapat menemukannya. Bapak menyuruhku untuk segera menemuinya di Jakarta. Yanti , kakakku itu, sudah empat tahun ini tak kembali pulang ke rumah. Ibuku sakit-sakitan dan terus memanggilnya. Maklumlah, dahulu hanya dia seorang yang paling menjadi kesayangan Ibu, karena ia satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Bapak ingin ia kembali pulang ke rumah demi kesembuhan Ibu.”

“Ibumu? Sakit apa dia?” Kresna memandang wajah sahabatnya itu dengan sungguh-sungguh. Ada dirasainya kesedihan dan keprihatinan yang dirasakan oleh Sena.

“Tak tahulah. Kami sudah habis pikir dengan sakit Ibu. Kami sudah membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang, Ibu hanya menderita gejala tipus biasa. Ibu sempat beberapa hari tinggal di rumah sakit. Namun tak sampai dua minggu kami terpaksa membawanya pulang, karena semakin lama biaya rumah sakit juga semakin mahal.”

“Aku turut prihatin.”

“Terimakasih.”

“Kau sudah mencoba pengobatan alternatif?”

“Ke dukun maksudmu?”

Kresna buru-buru membenarkan ucapannya: “Maksudku ke orang pintar, tidak harus ke dukun. Ke kyai atau ulama misalnya. Biasanya mereka mempunyai kemampuan yang tak dimiliki orang biasa untuk menyembuhkan.”

Sena menghela nafas sebentar. Ipah melihat padanya masih dengan tersenyum. Dan iapun tersenyum pada gadis itu. Kresna menendang kaki kawannya itu, yang membuat Sena tersadar dari lamunannya. Sena meneguk kopinya yang mulai mendingin dan menjawab:

“Kami sudah mengupayakan hal itu. Kata orang pintar, tidak ada masalah dengan kesehatan Ibu. Kami menduga, ibu hanya stres berkepanjangan akibat tiadanya kabar dari kakakku Yanti.”

“Apa kau tahu keadaan atau kabar kakakmu di Jakarta ini?”

“Aku tak tahu pasti. Sudah empat tahun ia pergi dan empat tahun pula ia tak memberi kabar. Bapak mengusirnya karena ia tak mau dikawinkan dengan laki-laki pilihan Bapak. Ia sakit hati,” Sena berkata sambil perlahan-lahan memukuli gelas kopinya dengan sendok, menimbulkan suara berdenting-denting.

“Ah…jaman sekarang, masih saja ada perjodohan. Orang dipaksa kawin dengan seseorang yang tak dicintainya. Sungguh tak masuk akal,” Kresna menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Sebenarnya, Bapak juga tak bersungguh-sungguh hendak mengusirnya. Bapak waktu itu hanya kalap saja, karena upaya Bapak untuk meyakinkannya bahwa pilihan Bapak adalah yang baik baginya tak pernah mempan. Kakakku lebih memilih Ardi, pemuda yang saat itu masih menganggur, dan pendidikannyapun tak tinggi. Ardi memang pernah kuliah, namun tak sampai selesai. Sedangkan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak adalah seorang guru sekolah dasar, seorang pegawai negeri, sarjana pula!”

Kresna terdiam demi mendengar kisah kawannya itu. Ada rasa simpati pada Sena. Ia kemudian berkata lagi:

“Lantas darimana engkau tahu bahwa ia ada di sini?”

Sena meneguk kopinya hingga tandas hingga ke ampasnya. Kresna menawarinya untu memesan gelas kedua, namun dengan isyarat tangan Sena menolakdan terus mengisap rokoknya yang telah memendek dan kemudian berkata:

“Ada orang kampung yang baru pulang dari sini mengabarkan bahwa ia mengetahui kakakku tinggal di Jakarta. Ia memberi kami alamat tinggal kakak. Ini aku membawa alamatnya,” Sena mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Diulurkannya pada Kresna.

“Aku harap ia masih tinggal di alamat itu, Kres. Kau tahu tempat seperti yang tertulis dalam kertas ini?”

Dengan tangan kirinya Kresna menerima potongan kertas yang sudah mulai berwarna coklat dan kumal itu. Ia membaca tulisan di kertas itu dan berfikir. Matanya menerawang ke luar, ke arah jalan raya. Beberapa kali ia menatap kembali alamat yang ditulis dengan tinta hijau yang sudah terlihat memudar itu. Matanya berpindahan dari kertas, ke arah jalan raya, kemudian menatap Sena, dan kembali lagi menatap kertas. Beberapa saat kemudian diserahkannya kembali lembaran putih kecoklatan itu pada Sena.

“Tahu tidak?” Sena menjadi gusar. Disemburkannya asap rokok kuat-kuat ke wajah sahabat lamanya itu. Yang ditanya menjawab:

“Ya, agak jauh dari sini. Tapi kurasa itu bukan perkara sukar. Aku bisa mengantarmu ke sana, asal kau mau bersabar, karena mencari alamat di Jakarta bukan perkara mudah.”

“Tapi kau kira-kira tahu atau tidak tempat itu?” Sena terus memburu. Matanya lekat-lekat mengawasi wajah Kresna, sahabat lamanya itu.

Kresna nampak kembali berfikir. Matanya kembali menerawang ke luar.

Sena menjadi tak sabar. Kembali ia bertanya:

“Tahu tidak kau, bangsat!?”

Perlahan Kresna menoleh pada Sena, mengisap rokoknya dan menjawab sehingga asap keluar berdesakan dari mulutnya yang berbicara: “Insya Allah aku tahu tempatnya. Aku pernah lewat daerah itu, walau tidak sampai masuk ke jalan yang tertulis di kertas ini. Tapi lepas dari itu, yakinlah. Kita akan coba. See how it goes!”

“Yah…let’s see how it goes,” Sena menimpali perlahan. Diseruputnya air sisa kopi yang tinggal berapa tetes itu.

“Ngomong-omong, apa yang kau lakukan di Kutoarjo setelah selesai kuliah?” Kresna bertanya, mengganti pembicaraan.

“Aku bekerja serabutan. Apa saja kulakukan. Menjadi makelar berbagai macam barang seperti sepeda motor, ke desa-desa mencari ayam kampung untuk dibuang ke Jakarta, jual beli handphone…, jual pakaian, apa saja kulakukan, asal aku bisa dapat uang, asal aku bisa beli pulsa dan rokok. Tentu saja sepanjang yang kulakukan itu halal. Kau tahu sendiri, Kutoarjo bukanlah kota besar.” Sena berkata lagi:

“Sekarang ini aku sedang merintis usaha peternakan puyuh.”

“Hey menarik sekali. Tak kusangka kau berbakat sebagai peternak. Sudah kaya kau rupanya.”

“Ya, namun harus kau ingat. Puyuh adalah binatang yang sangat rentan dengan penyakit. Resiko meruginya besar kalau kita memelihara puyuh. Apalagi belakangan hari ini sedang marak wabah flu burung.”

Kresna mengangguk-angguk mendengarkan ceritera sahabatnya itu. Sena melanjutkan lagi:

“Kau tahu, setelah aku lulus menjadi sarjana, orangtuaku berharap aku bisa bekerja mapan. Dan kau juga tahu apa yang mereka maksudkan dengan mapan. Bekerja di kantor, menjadi pegawai. Dan kalau bisa, menjadi pegawai negeri, atau pegawai pemerintah.”

“Harapan yang wajar dari orang tua.”

“Ya. Tapi sayangnya aku tak pernah tertarik untuk menjadi seperti apa yang diinginkan Bapak dan Ibuku. Aku lebih suka bekerja sendiri. Menjadi majikan bagi diriku sendiri dan menjadi buruh bagi diriku sendiri. Berdikari.”

“Berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno!” Kresna menyahut cepat, melengkapi.

“Ya, persis!.”

Kresna menganguk-angguk mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia berkata bahwa ia sangat mengerti, karena tuntutan yang sama terhadap dirinya pernah ia alami. Diceritakannya peristiwa lebih dari dua tahun silam. Ayah menyuruhnya menjadi pegawai kecamatan, menggantikan dirinya. Kresna menolak, karena itu sama saja dengan nepotisme, perbuatan yang ia kutuk ketika menjadi mahasiswa. Ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, sendirian. Dan ia tahu betapa hati ayahnya itu sangat terluka. Bukan saja karena Kresna adalah anak lelaki yang selalu dibanggakannya sejak kecil, akan tetapi dengan bekerja di desa, di kantor kecamatan, ada harapan bahwa kelak, Kresna bisa merawatnya melalui usia senjanya. Kepergian Kresna membuat sang ayah harus hidup sebatang kara, karena semua saudara Kresna telah bekerja di tempat lain yang jauh dari desa tempat mereka tinggal di Kediri. Ibunya sendiri telah lama meninggal dunia, sakit yang tak tersembuhkan.

“Merintis hidup memang tidak mudah Sen. Aku berdoa dan aku harap engkau berhasil dalam pekerjaanmu kali ini. Lakukan apa saja asal jangan nyolong dan mengambil hak orang lain.”

“Semoga saja.”

Hening kini. Seorang anak kecil datang meminta uang. Kedua pemuda itu hanya memandangi bocah kecil itu dan memberi isyarat bahwa mereka tak hendak beramal hari itu. Si bocah kecil pun berlalu sambil menggerutu.

“Kalau begitu ayo kita segera ke tempat kontrakanku. Kita bisa beristirahat lebih lega dan ngobrol lebih banyak di sana, bagaimana?”

“Jauhkah kamar kontrakanmu itu dari Jatinegara ini?”

“Tidak juga.”

“Berapa lama sampai ke sana?”

“Kira-kira satu jam. Itu kalau jalanan tidak begitu macet.”

“Sudah lama kau tinggal di sana?”

“Belum lama juga, tapi sudahlah yang penting kita sampai dahulu di sana, baru kita bisa bercerita lebih banyak.” Sena tak menghiraukan perkataan kawannya itu.

“Satu pertanyaan lagi, adakah gadis cantik yang tinggal dekat tempat tinggalmu?”tanya Sena. Ditinjunya perut Kresna perlahan.

“Diamlah kau!” Kresna tertawa, tak menjawab pertanyaan temannya

“Baiklah kalau begitu,” sahut Sena sambil mendengus kecewa, kemudian tertawa pula.

Kresna merogoh uang dari saku celananya. Sena dengan sigap mencegah, dan dengan sisa uang kembalian tiket kereta api ia membayar minuman mereka siang itu. Empat ribu limaratus perak untuk dua gelas kopi dan dua potong pisang goreng. Ipah menerima uang itu dengan tersenyum dan melambaikan tangannya pada kedua pemuda itu. Perempuan muda itu berkata: “Sering-sering mampir ke mari.” Kresna dan Sena tak menjawab, hanya mengangguk dan membalas senyum.

Kedua sahabat itu berjalan ke luar warung. Kembali mereka menghirup panas dan pengap udara asap kendaraan yang lalu lalang di sekitar setasiun. Beberapa tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasa. Taksi-taksi melambatkan lajunya dan menawarkan tumpangan tanpa argometer. Kedua pemuda itu menolak dan mengembangkan senyum terimakasih. Mereka terus berjalan dan tepat di tikungan jalan mereka melompat ke dalam sebuah mikrolet jurusan Kampung Melayu – Pasar Minggu yang masih berjalan cukup kencang. Angkutan umum berwarna biru muda itu membawa dua sahabat itu jauh meninggalkan Jatinegara, ke selatan Jakarta. Asap kendaraan terus mengepul memenuhi jalan. Langit tidak cerah tidak mendung. Jakarta tetaplah Jakarta, ramai dan tak pernah berhenti bernafas, bersuara,….dan melenguh.

Metro mini berjalan melambat. Serombongan orang tampak menyeberang jalan secara bersama-sama. Dua sahabat itu berkelebatan melompat keluar dengan lincah. Mata mereka liar menengok kanan kiri menerobos kendaraan yang melaju di samping metro mini. Seorang tukang ojek yang nyaris menyerempet berteriak mengumpati:

“Nyebrang yang benar dong, goblok lu!.” Pengendara motor yang lain meneriaki sambil melotot, namun kedua pemuda itu tak memedulikan. Kresna berjalan agak cepat di depan. Sena mengikuti. Agak kepayahan ia mengikuti langkah kawannya itu karena ransel hijau di punggungnya yang cukup berat. Dari pinggir jalan mereka memasuki gang sempit yang kian lama kian menurun. Sempit sekali gang itu, hanya cukup untuk dua orang yang berpapasan. Itupun pasti bersenggolan badan. Setelah berjalan separuh berlari selama hampir sepuluh menit, mereka kemudian sampai ke jalan yang lebih datar dan melebar. Sena terus saja berjalan cepat mengikuti sahabat lamanya itu tanpa banyak bertanya. Dalam hati ia mengeluh, sejak dari mulut gang bau kencing manusia dan bau selokan lah yang menusuk penciumannya. Kresna terus berjalan dan berjalan. Terkadang seperti berlarian kecil. Beberapa anak kecil meneriakinya karena ia menendang mobil mainan milik salah seorang dari mereka hingga terpental ke parit.

Pada ujung gang, Kresna membelok ke arah kiri dan melangkahkan kaki sekira sepuluh meter. Ia kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua. Sekaligus Seno yang ada di belakangnya ikut menghentikan langkah. Kresna membalikkan badan, berkata:

“Di sini tempat aku tinggal, Sen. Selamat datang.

Yang diajak bicara tak segera menjawab. Mendengus kepayahan. Bajunya tampak membasah oleh keringat. Ia kemudian berkata:

“Jauh juga. Sudah berapa lama kau tinggal di sini?”. Mata Sena berpendaran mengamati suasana sekitar. Rumah itu buatan tahun 1963, terbaca dari lubang angin di tembok depan bagian atas. Beberapa eternitnya nampak sudah menjuntai ke bawah, hijau menghitam ditumbuhi lumut. Sebagian besar temboknya pun berlumut dengan cat yang telah lama mengelupas. Sena teringat dengan eternit rumahnya senidiri yang tak jauh berbeda. Hitam melumut. Itu karena genting banyak yang pecah dan bocor. Sepanjang halaman rumah itu dipenuhi guguran daun-daun berwarna cokelat. Hanya beberapa pot berisi bunga mawar yang nampaknya betul-betul dirawat oleh penghuni rumah. Nafas Sena masih turun naik. Badannya berkeringat. Ransel diletakan begitu saja di tanah yang becek. Ia tak peduli ranselnya akan menjadi kotor. Ia begitu lelah.

Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan dari kawannya itu, Kresna membuka pintu pagar yang sudah berkarat dan menimbulkan suara mendecit memilukan itu kemudian melangkah masuk diikuti oleh sahabatnya. Dengan isyarat mata, ia menyuruh Sena untuk menutup kembali pintu pagar. Sena menurut dengan mengikutinya dan menutup kembali pintu pagar itu. Kresna terus berjalan memasuki pelataran rumah, menuju ke sebuah pintu di sebelah kiri rumah. Dikeluarkannya kunci dari kantong jaket, kemudian dibukanya pintu kamarnya.

“Nah silakan masuk, kawan. Selamat datang di kamarku.”

Kedua pemuda itu memasuki sebuah kamar. Kamar itu tidak luas tidak pula sempit. Sena menengadah ke langit-langit. Ia menjumlah eternit yang ada di kamar itu. ‘Empat kali empat setengah meter. Cukup luas. Kamar tidurku di Kutoarjo tidak seluas ini,’ pikir Sena.

“Tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk bertahan hidup di Jakarta. Di sini aku tinggal sejak dua tahun terakhir ini,” Kresna berkata seolah mengetahui apa yang ada di fikiran kawannya itu.

Sena melepas kaus kaki dan memasukannya ke dalam sepatu yang terlebih dahulu telah dilepaskan ketika ia memasuki kamar. Diletakkannya ransel di dekat sebuah meja di samping tempat tidur. Ia menghempaskan badannya, berbaring di tempat tidur.

Matanya memandangi isi kamar sahabatnya itu. Sebuah meja tulis dan kursi lipat terletak di samping tempat tidur. Kipas angin kecil yang terletak di atas meja terus berputar menghembuskan angin sejuk padanya. Rupanya Kresna tak pernah mematikan kipas angin itu. Beberapa foto tergantung di tembok. Foto ayah ibunya ada di tengah-tengah. Ada pula beberapa foto semasa ia menjadi mahasiswa, berambut panjang menyentuh pinggang memegang megaphone dalam sebuah unjukrasa bersama petani. Sebuah lukisan gadis berambut panjang separuh telanjang yang menaiki kuda terbang berwarna putih dan bersayap keemasan juga tergantung tepat di atas meja, lukisan Kresna sendiri. Sena masih mengenal lukisan itu. Lukisan itu jualah yang dahulu tergantung di kamar kos Kresna ketika ia masih menjadi mahasiswa. Ia masih ingat, Kresna mengatakan bahwa sosok gadis itu adalah perempuan dalam khayalnya yang menaiki Pegassus, kuda dalam mitologi Yunani. ‘Kuda itu sedang dalam perjalanan suci membawa gadis impianku ke hadapanku,’ demikian Kresna dahulu selalu berkata padanya.

“Ngopi lagi, Sen. Aku tak punya teh, karena hanya kopi saja yang aku minum. Ayo sikat!,” suara Kresna membangunkan Sena dari lamunan. Kresna meletakkan gelas berisi minuman panas berwarna hitam itu di atas meja. Ia kemudian melepas baju yang kemudian disampirkannya begitu saja di kursi lipat. Sejenak ia mengatur nafasnya, memandangi dadanya sendiri yang juga berkeringat. Kemudian dirogohnya bungkusan sigaret di saku celananya, mulai merokok. Setelah beberapa kali hisapan ia berkata, perlahan:

“Seperti inilah hidupku, kehidupanku. Hidup mengontrak kamar… jauh di dalam kampung pinggiran Jakarta,” Kresna berhenti sejenak. Dipandanginya sigaret di jemarinya. Ditiup-tiupnya pada bagian ujung yang menyala membara. Dengan sendok diambilnya ampas kopi dari dasar gelas kopinya sendiri dan ditorehkan pada sigaretnya. Dihisapinya kembali rokoknya itu, dan tak berapa lama kemudian berkata lagi:

“Kau mengerti sendiri betapa jauhnya kamar ini dari jalan raya, apalai dari pusat kota. Untuk menyewa kamar di daerah perkotaan rasanya tidak mungkin bagiku. Terlalu mahal. Di sini aku bisa membayar sedikit murah.”

Sena menukas cepat:

“Setidaknya kau bisa berbangga bahwa kau sudah hidup mandiri. Lihatlah aku ini. Aku belum lagi mandiri. Aku masih makan, mandi, tidur menumpang pada orang tuaku.”

“Tapi setidaknya kau juga membantu biaya sehari-hari kan? Maksudku dari usahamu beternak puyuh, menjadi makelar sepedamotor kau bisa membantu membayar pengeluaran seperti listrik, air dan..”

“Sudah barang tentu,” potong Sena. “Dari usahaku itu aku bisa membayar tagihan listrik. Untuk air, kami tak perlu membayar, karena kami menggunakan air sumur.”

“Oh ya, aku lupa. Rumahmu tak memakai air ledeng. Baguslah kalau begitu. Aku sendiri mau tak mau memang harus mengontrak kamar seperti ini, kecuali kalau ingin tinggal di bawah kolong jembatan. Dan aku tak mau tinggal di bawah kolong jembatan yang dingin dan bau air kali Jakarta yang busuk, coklat dan menghitam,” Kresna berkata.

“Berapa harus kau bayar sebulannya untuk menyewa kamar ini?”

“Sebulannya?”

“He-eh.”

Kresna terdiam sejenak. Matanya menatap tembok, namun bukan tembok yang sengaja dilihatnya. Pemuda itu nampak sedang menghitung-hitung dalam lamunannya.

“Tak pasti,” Kresna menghela nafas. Dihisapinya kembali rokoknya dengan khidmatnya beberapa kali. Terbatuk batuk sebentar, Ia kemudian meraih sebuah radio kecil. Jari jarinya memutar-mutar tombol gelombang yang sesuai dengan keinginan hatinya. Terdengar musik Hawaiian. Kresna rupanya menyukai musik itu. Ia berhenti dari mencari gelombang. Diletakannya kembali radio itu dan berkata.

“Aku membayar kamar ini semampuku.”

“Kok bisa?”

“Pemilik rumah tak begitu peduli berapa aku mau membayar. Mungkin karena mereka menganggap aku ini sudah seperti anak mereka. Kadang, oleh karenanya, aku membantu menyapu, mengepel, dan membuang sampah. Begitulah. Tapi aku juga harus cukup puas dengan kamar ini. Tak terlalu besar memang.”

“Sekali lagi kamar ini sudah lebih dari cukup kawan,” ujar Sena.

Kresna tertawa dan tersenyum simpul. “Ya, memang. Bagiku yang penting asal aku bisa tidur dan tidak kepanasan dan kehujanan saja.” Ia kemudian menyambung: “dan yang penting aku tidak tinggal di bawah kolong jembatan.”

Sena bertanya heran: “Mengapa kau selalu membandingkan dengan kolong jembatan. Mengapa kau begitu sinis dengan penghuni kolong jembatan?”

Kresna tertawa. Dijentikannya abu rokok ke dalam asbak. Berkata ia:

“Karena di Jakarta, kalau engkau hendak mencari tempat tinggal tanpa bayar, maka jawabannya adalah di bawah kolong jembatan. Aku kira tolok ukur kegagalan seseorang yang berjuang di Jakarta yang paling dasar adalah ketika ia sudah tak mampu menaungi tubuh dan kepalanya sendiri dari hujan, panas dan angin dengan layak, ha…ha..ha,” Kresna tergelak. Dengan begitu, matanya menjadi menyipit. Tak sampai lima detik kemudian ia berkata lagi dengan tawa yang mulai mereda:

“Ehem, tapi aku tak tahu pula. Mungkin saja sekalipun tinggal di kolong jembatan, di Jakarta ini orang harus bayar. Maklum di sini banyak preman berkeliaran, ha..ha..ha..ha..,” Kresna tergelak lagi.

Sena hanya mengangguk demi mendengarkan perkataan kawannya itu. Kresna kemudian berkata:

“Apapun keadaan kamarku ini, semoga bisa membuatmu betah selama di Jakarta ini, Sen.”

“Terimakasih sudah memberi aku tumpangan. Kamarmu ini sudah lebih dari bagus.”

“Kau bisa bayar dengan menggorengkan untukku daging puyuh kalau suatu saat nanti aku ke Kutoarjo”

“Gampang itu” Sena menukas.

Sena bangkit dari tempat tidur. Ia kini duduk bersila di tepi kasur, mulai merokok. Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan asap dan kopi masing-masing. Yang terdengar adalah musik Hawaiian dari radio dan suara mangkok yang dipukuli dengan sendok oleh pedagang siomay dan pedagang bakso. Kamar itu pun semakin menjadi pengap berasap. Kipas angin kecil yang terus berputar tak berdaya mengusir asap yang melayang dan berubah-ubah bentuk itu. Seolah mengerti dengan dengan keadaan, Kresna segera menghampiri jendela. Dibukanya jendela itu. Angin bertiup dari luar, mengusir asap-asap yang berkecamuk melayang-layang. Dan dengan terbukanya jendela dan masuknya angin ke dalam rumah, terlihatlah oleh Sena seorang gadis sedang duduk di loteng rumah sebelah. Hanya sedetik dua, namun telah membangkitkan kekaguman dan rasa untuk memiliki yang mendalam. Rambut gadis itu hitam dan tebal tergerai dipermainkan angin. Ia nampak sedang membaca sebuah buku, dan tak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengaguminya dengan sungguh.

“Kau lihat dia?” Kresna bertanya. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok. Dijentikannya kembali abu rokok ke dalam sebuah botol pecah yang dijadikannya asbak. Matanya memandangi gadis yang terlihat oleh matanya itu.

“Mmm, ya,” Seno menjawab, pura-pura acuh. Matanya kembali mengawasi gadis itu.

Kresna berkata lagi : “Ajeng namanya.”

“Ajeng?, nama yang sangat bagus. Nama Jawa.”

“Ya. Ia tinggal sebelah rumah ini. Biasanya sore hari seperti ini ia duduk-duduk di loteng.”

“Kau mengenalnya, Kres?”

“Ya, sangat.”

“Ia sangat manis,” Sena mengomentari. “Badannya bagus,” tambahnya lagi.

“Cantik, lembut, dan ayu” Kresna membalas. “Lebih manis daripada Ipah,” pemuda itu kini tiba-tiba terkikik. Sena menggerutu, namun hatinya membenarkan. Kedua matanya masih juga mengawasi gadis yang sedang duduk-duduk di lantai dua rumah sebelah. Rokok ia hisap begitu lama dan dalam. Bertanya lagi kemudian setelah agak lama terdiam.

“Apakah ia anak pemilik rumah sebelah, rumah loteng itu?”

Kresna menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak, bukan.”

“Lantas?”

Ia hanya tinggal di sana. Menumpang tinggal.”

“Pembantu, maksudmu?”

“Oh, tidak, sama sekali bukan. Tidak bisa disebut pembantu. Ia masih keponakan rumah sebelah. Ia lulusan sekolah menengah. Padaku ia mengaku sedang kursus bahasa Perancis. Karena ia tak mempunyai pekerjaan di kampungnya, ia akhirnya tinggal di rumah sebelah, barangkali dengan harapan ia bisa mendapat pekerjaan di Jakarta ini. Ia sering kemari. Mungkin nanti petang atau esok sore ia ke mari.”

“Sudah lama engkau mengenalnya, Kres?”

“Ya, beberapa hari setelah kedatangannya ke mari. Barangkali sudah lebih dari setengah tahun ini. Mungkin ia tahu kalau aku suka mengajari anak-anak di sekitar sini untuk menulis puisi atau menggambar. Ia sering datang, menulis puisi. Ia suka sekali menulis puisi. Ia sering meminta pendapatku tentang puisi-puisinya.”

“Ia suka puisi?” tanya Sena.

“Ya, dan seperti yang kukatakan tadi ia tak hanya suka puisi. Ia juga pandai mencipta. Aku sering membaca karangan-karangannya, karena ia selalu meminta pendapatku mengenai puisi-puisinya itu.”

“Baguskah tulisannya itu?”

“Menurutku, puisi-puisinya layak untuk dimuat di surat kabar. Tapi ia selalu menolak untuk mengirimkan karyanya ke media. Ia lebih suka membuat dan membaca puisinya itu untuk dinikmatinya sendiri.”

Sekejap saja tercipta rasa tak senang di hati Sena mendengar kata kawannya itu. Menulis puisi? Pastilah Kresna suka mengajarinya, gadis bernama Ajeng itu. Ia tahu benar dahulu Kresna adalah pegiat seni kampus yang terkenal. Kresna memang tak pernah mendapatkan juara pada berbagai lomba sastra karena ia sendiri tak begitu menyukai perlombaan, tapi karya-karyanya sering dimuat di majalah sastra daerah dan majalah-majalah mahasiswa. Puisinya, walau hanya dua buah, pernah dimuat dalam majalah nasional yang bergengsi. Puisinya juga pernah dibacakan dalam sebuah aksi mahasiswa yang meminta seorang menteri turun dari jabatan karena mengkorupsi dana haji.

“Melamun apa kau, Sen?” Kresna menegur. Matanya melirik sahabatnya yang baru datang itu. Asap rokok masih mengepul dari mulut dan hidungnya, berganti-gantian.

“Ah tidak,” tukas Sena cepat, sekaligus menutupi rasa cemburu yang mulai menyesaki dadanya. “Ngomong-ngomong, kau belum bercerita padaku apa pekerjaanmu sekarang, Kres?”

Yang ditanya hanya terdiam. Ia kemudian mengambil koran bekas di samping tempat tidurnya. Dengan koran itu dikipasinya dadanya yang masih berkeringat. Berkata kemudian, memberi jawaban:

“Seperti juga engkau, aku bekerja apa saja. Asal bisa menghasilkan uang. Ketika baru tiba di Jakarta, aku mengajar melukis pada anak-anak sekolah dasar.”

“Mengajar melukis?”

“Ya les gambar, kira-kira seperti itu. Muridku anak-anak sekitar sini saja.”

“Masih kau lanjutkan?”

“Tidak,” Kresna tertawa terbatuk-batuk. Ia kemudian berkata:

“Kebanyakan anak-anak di sini dari kalangan yang kurang mampu. Sedangkan aku butuh uang untuk menyambung hidup. Maka aku putuskan untuk beralih pekerjaan, apa saja yang cepat menghasilkan uang padaku aku kerjakan. Namun aku masih sesekali mengajar melukis dan menulis puisi pada anak-anak sekitar rumah ini. Pada mereka aku tak memungut biaya. Orang tuanya membayar dengan apa saja yang mereka mampu berikan. Terkadang mereka membawakan apa yang mereka punyai di rumah, terkadang mereka memberi rokok. Pernah pula ada yang memberi satu tas plastik penuh jeruk. Aku tak pernah meminta.” Sejenak ia tersenyum. Dilanjutkannya lagi ceritanya:

“Kau tahu, minggu-minggu pertama tiba di Jakarta, aku menjadi kernet sopir angkutan selain mengajar melukis. Yang ada di otakku saat itu adalah aku bisa beli makan, rokok, dan sedikit bayar sewa kamar ini. Menjadi bagian pemasaran buku-buku sekolahpun pernah kulakukan..”

“Kau pernah memasarkan buku-buku sekolah?”

“Ya.”

“Sales?”

“Ya. Ada apa dengan sales?”

“Nggak, nggak papa. Aku hanya kagum, kau berbakat dagang rupanya.”

“ Memasarkan buku itu persoalan yang mudah sebetulnya. Uang cepat kita dapatkan asal kita lihai. Yang harus kita lakukan adalah mendekati kepala sekolah dan para guru agar mau menggunakan buku kita.”

“Setelah itu?”

“Setelah itu, kita menjanjikan bonus yang besar pada mereka. Kalau bonus yang kita berikan besar, setinggi langit, mereka akan mau menggunakan buku kita.”

“Banyak uang kau dapat?”

“Ow, tentu. Sudah pasti. Dari satu sekolah saja aku bisa untung bersih untuk diriku sendiri sekitar dua hingga empat juta.”

“Apakah semua pejabat sekolah mau menerima bonus seperti itu? Ini kan jaman pembaharuan, jaman reformasi!”

“Memang benar, tapi selalu ada jalan.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka yang tak mau menerima bonus dengan alasan apapun cukup kita iming-imingi fasilitas sekolah. Komputer misalnya. Biasanya mereka mau.”

“Tak kusangka kau bisa begitu..” Sena berkata perlahan. Menyambung lagi ia: ”Kau dulu paling anti korupsi boss.”

Kresna tak menjawab. Tak ada yang perlu dijawab. Ia sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu, gugatan seperti itu. Dan semua pertanyaan dan gugatan itu tidak lain semua datang dari benaknya sendiri, yang kemudian menyalahkan dirinya sendiri. Berkata Sena kemudian:

“Mengapa engkau tak pertahankan pekerjaanmu sebagai sales buku?”

“Aku tak tega.” Kresna menghela nafas. “Dan aku tahu, aku tak bisa,” lanjutnya lagi. Ia menghisapi rokoknya beberapa kali. Terbatuk sebentar, meminum kopi, kemudian melanjutkan bicara:

“Aku teringat pada orang tua –orangtua mereka. Apa yang mereka bayarkan lebih dari limapuluh persen masuk ke dalam kantung para pejabat seperti itu. Aku tak tega karena aku ingat orangtuaku sendiri. Kalau yang menjadi orangtua murid adalah orang tua seperti ayahku, alangkah kasihannya.”

“Kau tak ingin menjadi pegawai negeri? Ikut tes calon pegawai negeri misalnya?”

“Percuma,” Kresna tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit dan mengejek.

“Percuma bagaimana?” Sena mendengus. Matanya mengawasi Kresna.

“Pernah aku ikut ujian untuk masuk ke sebuah BUMN. Waktu aku ujian di kantor pusatnya di Surabaya, aku bertemu kawan kita satu angkatan. Andarini. Kau ingat dia?”

“Andarini Kusumastuti?”

“Kau, kalau perempuan cantik bahkan nama belakangnyapun kau ingat. Sialan!”

Keduanya tertawa.

“Andarini yang pantatnya serupa buah salak?”

“Kau ini, pantat saja yang kau ingat. Otakmu kotor!”, dengus Kresna.

Sena tertawa terbahak, Kresna demikian pula. Untuk beberapa saat kemudian mereka justeru membicarakan apa yang terbilang mirip buah salak itu. Sena kemudian bertanya lagi:

“Yang kalau ujian selalu membawa contekan?”

Kresna mengangguk, kemudian berkata:

“Persis. Dia sering membawa contekan kalau ujian. Lulusnya pun agak terlambat dibanding mahasiswa lainnya. Aku berjumpa dengannya di tempat ujian. Aku dan banyak orang yang ikut ujian sangat gelisah dan takut akan gagal. Namun anehnya, ia kelihatan sangat tenang, seolah sedang ikut pesta saja dan bukannya tes pekerjaan.”

“Lantas?”

Kresna menghela nafas sejenak, kemudian berkata lagi:

“Tidak sampai satu bulan kemudian datang surat pemberitahuan. Aku gagal, padahal aku mampu mengerjakan semua bahan ujian dengan baik. Sebaliknya Andarini, sekaligus aku tahu bahwa ia termasuk yang diterima bekerja di perusahaan itu. Kau tahu mengapa?”

“Karena pantatnya itu!”

“Bukan, goblok! Ayolah, be serious!”

Sena menggeleng. Dijentikannya rokok ke dalam asbak. Matanya terus memandangi wajah kawannya. Dengan isyarat di wajahnya, ia menyuruh Kresna untuk segera melanjutkan berbicara.

“Bapaknya bekerja di perusahaan itu…”

“Menyebalkan betul!,” Sena meradang.

“Kau tahu berapa uang telah kuhabiskan untuk membayar ongkos bus dari Kediri ke Surabaya? Kau tahu berapa uang kubuang percuma untuk membeli alat tulis, baju kemeja yang patut untuk ikut tes tulis? untuk mengirimkan lamaran, membeli amplop, perangko? Dan semua percuma saja! Dan itu bukan yang pertama kalinya. Aku kasihan pada Bapak. Uang pensiunnya tak banyak, namun kuhabiskan dengan percuma saja untuk mengikuti tes terkutuk itu.” Kresna terlihat jengkel. Dilumatnya rokok yang telah semakin memendek itu ke dalam asbak. Ia kemudian berkata lagi.

“Negara ini akan semakin bangkrut kalau yang diambil, yang direkrut adalah orang-orang seperti itu. Orang-orang yang bodoh, tapi punya orang tua, atau punya relasi yang berkuasa.”

“Ya, aku jadi ingat akan Harun. Kau ingat dia?”, tanya Sena.

“Bagaimana aku bisa lupa. Harun, mahasiswa Hukum. Ia tak pernah sekalipun turun1. Ia selalu di balik layar. Walau begitu, konsep-konsep tuntutan kita banyak yang keluar dari otak dia,” kata Kresna.

“Ya. Harun yang cerdas. Syukur kalau kau masih ingat. Ia gagal menjadi pegawai negeri karena ia mesti membayar tigapuluh lima juta agar bisa lolos tes tahap terakhir”.

“Tigapuluhlima juta untuk status pegawai negeri?! Alangkah mahalnya!”

“Sukar dipercaya. Tapi memang itulah adanya. Orang tua Harun sebenarnya sudah siap untuk membayar tigapuluh lima juta. Mereka sudah siap menjual sebagian kebun salaknya untuk Harun. Namun Harun yang gagah, Harun yang lurus. Ia tidak mau menerima tawaran itu.”

“Bagaimana nasibnya sekarang?”

“Ia masih saja berdiam di rumahnya di Sleman. Hampir sama denganku, beternak ayam kampung. Terkadang ia sengaja datang ke rumahku sekedar untuk berkeluh kesah. Ia berkata bahwa dirinya sudah tak punya harapan lagi menjadi pegawai negeri. Putus asa dia, bung!”

Kedua sahabat itu kemudian terdiam, membincangkan dan merenungi nasib kawan-kawannya yang lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dengan hanya bermodal kejujuran dan keenceran otak. Soeharto telah turun. Amanat pembaharuan telah dicanangkan. Namun toh tetap sukar untuk bersaing secara murni.

Hari semakin sore. Kresna menanyakan apakah Senda ingin mandi. Sena yang masih lelah menolak, dan berkata ia akan mandi di malam hari saja karena mengantuk. Kresna tidak memaksa, karena ia pun merasakan kantuk yang amat sangat. Dan pada mulanya Kresna lebih dahulu tertidur. Sena mengamati sekeliling ruangan kamar itu. Dinding kamar itu dicat warna hijau tua, memberikan kesan suram. Ingin ia menonton televisi mengikuti berita sore, namun tak dilihatnya pesawat televisi. Hanya sebuah radio kecil tergeletak di atas meja. Ia kemudian merebahkan badan di lantai. Tak berapa lama kemudian Sena menyusul Kresna ke alam mimpi. Bintik keringat masih terlihat di dahi kepalanya ketika ia benar-benar berangkat ke alam tidurnya.

Lampu penerangan jalan dan sinar lampu dari rumah-rumah sekitar mulai dinyalakan. Kedua sahabat lama itu semakin jauh terbang ke alam bawah sadar masing-masing. Beberapa ekor lalat mencoba mengganggu, menghinggapi mulut dan mata, namun tak mampu mengusik mereka dari lelap akibat rasa kantuk dan lelah. Sinar matahari senja yang menerobosi kamar itu semakin meredup dan menyuram. Seekor cicak merayap memasuki gelas kopi kosong, meminumi sisa air gulanya yang pahit manis. Gelas kopi Kresna. Azan maghrib mulai terdengar bersahutan di langit pinggiran belantara Jakarta yang redup memerah. Kedua pemuda itu benar-benar telah tertidur…

BAGIAN II

 

“Bangun boss, sudah jam setengah delapan,” Kresna mengguncang tubuh Sena. Yang dibangunkan menggeliat sebentar, matanya langsung merasakan silau lampu neon. Belum sadar di mana ia berada. Dengan jari-jari tangan kiri, ia mengucek kedua bola matanya. Samar dilihatnya Kresna tersenyum. Wajah kawannya itu sudah terlihat segar. Rambut panjangnya yang basah terlihat sudah tersisir rapi dan diikat dengan karet gelang. Matanya segera berpendaran mencari jam dinding. Agak kabur dilihatnya jarum penunjuk pada jam dinding di kamar itu. Jarum pendek menuju ke angka delapan, dan jarum panjang menunjuk pada angka dua. ‘Sudah lebih dari jam delapan malam,’ serunya dalam hati. Dengan perasaan malas ia bangkit dari tidur.

“Kau sudah mandi rupanya?”

“Ya setengah jam lalu,” Kresna menjawab pendek. Ia mengenakan sarung, nampak sedang membaca sebuah buku. Di mulutnya telah terselip sebatang sigaret.

“Mengapa kau tak bangunkan aku?”

“Aku lihat kau sangat lelah, dan aku tak tega membangunkanmu. Almarhum Ibuku menasihati agar aku tak membangunkan orang selagi orang itu tidur.”

Sena menyangkal apa kata kawannya itu. Menurutnya, mengingatkan orang untuk shalat lebih mulia daripada membiarkannya untuk tidur. Kresna hanya mengangkat bahu dan meminta maaf serta mengatakan ia memang tak bisa membangunkan orang yang tidur. Ajaran ibunya telah mendarah daging semenjak ia masih kecil.

“Aku kehilangan magrib,” Sena menyesali.

“ Bukan hanya kau. Aku juga. Nah apakah kau hendak mandi sekarang?”

“Tentu saja. Lengket rasanya badanku ini. Berkeringat.”

“Kalau begitu mandilah. Kamar mandi ada di belakang kamar ini. Kalau kau tak membawa handuk, pakailah handukku. Shampo dan sabun semua ada kuletakkan pada lubang angin di kamar mandi. Pakai sesukamu.”

“Terimakasih. Aku membawa sendiri handuk dan pasta, berikut sikat giginya.”

“Lagipula…,” Sena berkata perlahan, tidak melanjutkan.

“Lagipula apa?”, Kresna menyahut. Ia berhenti sejenak dari membaca. Matanya memandang menyelidik.

“Lagipula…, aku tak mau tertular penyakit kulit kalau memakai sabunmu…”

“Bangsat!”

Sena tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Aku mandi sekarang.” Ia menguap sebentar sambil meregangkan tubuhnya.

“Agar kau tak mengantuk dan tertidur di kamar mandi, aku telah membuatkanmu kopi. Itu di atas meja kerjaku. Minumlah dahulu!”

“Sudah tiga kali dalam sehari ini aku minum kopi bersamamu!”

Kresna menukas cepat:

“Bagaimana kalau kita minum bir saja. Pertemuan ini mesti kita rayakan. Setuju?”

“Ini bukan saat bersenang-senang kawan,” jawab Sena. “Aku ke mari bukan bersukaria. Aku mencari kakakku yang menghilang. Lain kali sajalah.”

Kresna menyerah. Berkata ia putus asa: “Kalau kau tak suka kopi, kau boleh minum air di bak mandi. Aku tak punya teh atau minuman lain.”

Sena tak menjawabi lagi. Dihampirinya meja dan diambilnya kopi bagiannya. Diteguknya perlahan. Segar terasa, hangat mengaliri kerongkongannya. Puas menikmati kopi malamnya, ia menghampiri ransel hijau bawaannya dan dibukanya. Diambilnya handuk dan peralatan mandi untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sebelum memasuki kamar mandi, matanya mencuri pandang pada ruang tengah pemilik rumah. Sepi saja rumah itu, hanya seorang lelaki dan perempuan tua ditemani anjingnya menonton televisi. Halaman belakang nampak tak terawat. Beberapa tanaman anggrek nampak bergelantungan menghiasi. Namun anggrek-anggrek itupun nampak tak terawat dan tumbuh sekenanya. Ia menjadi teringat akan rumahnya sendiri. Halaman belakang rumah kini tak lagi terurus sejak Ibunya sakit. Dahulu, halaman belakang selalu bersih, tanpa sebatang daun keringpun mengotori. Berbagai macam bunga terawat bahkan hingga daunnya selalu dibersihkan oleh Ibunya. Kini, halaman belakang rumahnya menjadi layu dan kumuh.

Dilihatnya pula kemudian beberapa tumpukan karung yang entah apa isinya. Di pojok halaman belakang rumah itu terdapat kolam yang kering tak berair. Hanya patung anak kecil memegang kemaluan, yang berfungsi sebagai air mancur. Masa kejayaan patung itu nampaknya telah lama pudar.

Sena memasuki kamar mandi dan segera mengunci pintunya. Kamar mandi itu tak begitu lebar, namun juga tak terlalu sempit. Sebuah cermin kecil tergantung di dinding. Sudah tak bisa lagi digunakan, karena permukaannya telah tertutup noda bekas percikan air dan sabun. Teringat Sena akan kamar mandi di rumahnya yang begitu luas dan lega. Dengan begitu ia menjadi rindu akan rumahnya. ‘Sedang apakah Ibu sekarang? Semoga saja ia tidak sedang kambuh. Sedang apakah Bapak dan adik?’, ia terus berfikir. Namun segera ditepis lamunannya itu. ‘Aku hanya tiga hari berada di sini, aku harus berhasil menemui kakak. Dan segera setelah menemuinya, aku akan kembali,’ pikirnya membulatkan tekad. Dengan cepat ia melepaskan pakaiannya. Telanjang.

Diambilnya segayung air dan diguyurkannya kuat-kuat ke tubuhnya. Segar terasa. Diraihnya sabun dalam kantung plastik bawaannya, dan iapun mulailah menyabun tubuhnya yang lengket dan berbau keringat serta bau khas kereta api. ‘Kereta api busuk, kereta ekonomi sialan,’ ia mengutuki. Kakek tua yang duduk di sampingnya sepanjang perjalanan hingga Bekasi tanpa mengajak bicara ia kutuki pula.

Ketika sedang menyabun, terdengar olehnya suara perempuan mengucap salam. Nampaknya baru memasuki ruangan. ‘Ruangan siapakah? Ruangan Kresna atau ruangan yang empunya rumah? Terdengar ia bercakap-cakap. Amat merdu terdengar di telinganya. Dengan siapakah perempuan itu berbicara? Kresna? Suaranya amat indah, lembut dan manja. Dilambatkannya gerak tangannya dari bersabun. Telinga ia dekatkan pada pintu. Perempuan itu sesekali berbicara, namun lebih sering lagi tertawa. Menggairahkan. Ia dapat merasakan kelenjar-kelenjar tubuhnya memberontak mendengar suara indah itu. Tidak jelas benar apa yang dibicarakan karena suara air selokan di samping kamar mandi menghalanginya dari mendengarkan lebih jelas. Hanya apabila ia tertawa dapat jelas terdengar. Ya, suara perempuan itu nampaknya sedang berbicara dan bersenda gurau dengan Kresna. Barusaja terdengar Kresna tertawa, tawa yang khas, terbahak-bahak dan terbatuk. Dan antara sebentar tawa manja dan indah dan merdu itu juga terdengar. Cantikkah perempuan itu? Apakah ia yang bernama Ajeng?’. Pikiran Sena segera dijejali berbagai pertanyaan. Hatinya menggejolak. Ia ingin segera mengakhiri mandinya.

‘Ah, aku kemari hendak menjumpai kakak, dan bukannya mencari perempuan untuk dijadikan teman berkasih-kasihan,’ kembali Sena menasihati dirinya. Ia pun segera melanjutkan mandi. Setelah selesai, ia pun berjalan menuju kamar Kresna. Suara perempuan itu terdengar semakin jelas dan keras di telinganya. Sekaligus hatinya menjadi berdegup dan berdebar. ‘Suara itu begitu indah,’ pikirnya.

Dan ketika ia memasuki kamar, semakin jelaslah apa yang ada di hadapannya, pemilik suara merdu itu. Seorang gadis, berusia yang menurut taksirannya beberapa tahun di bawahnya. Wajahnya tidak bisa tidak adalah cantik, lembut dan manis. Ayu. Rambutnya yang lurus terikat tidak kencang, sepundak lebih sedikit. Alisnya begitu tebal, dan warna hitam di kedua bola matanya begitu gelap dan pekat. Bibirnya tipis dengan tahi lalat kecil di dagu sebelah kiri. Kulitnya kuning cenderung putih. Tubuhnya ramping namun tidak kurus. Ia tampak menarik dengan celana warna hitam dan baju lengan panjang coklat tua yang dikenakannya. Seketika Sena tersenyum malu. Malu pada gadis itu, juga malu pada dirinya sendiri karena belum bersisir dan tampak acak-acakan. Kresna tampak sedang duduk bersandar tembok kamar. Matanya menatap gadis itu dengan pandangan akrab sambil terus merokok dan memainkan asap sigaretnya. Ia sudah tidak membaca lagi.

Segera Sena mencari sisir di dalam ransel hijaunya. Setelah ditemukan, ia segera merapikan rambutnya Handuk yang masih basah dijejalkannya ke dalam tas. Salah tingkah. Perasaannya berkecamuk. ‘Gadis itu, tidak saja suaranya namun tubuhnya pun begitu indah’, pikirnya, sekaligus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah jatuh hati. Sedemikian cepatnya. Segera kemudian ia menghampiri Kresna, ikut duduk dan mengambil rokok.

“Jemur handukmu di ruang belakang, Sen. Kalau kau simpan dalam ransel, bisa lembab nanti. Penyakit panu bisa menyerangmu, kawan.” Sena tak segera menjawab. Ia bangkit dan pergi menjemur handuknya. Matanya melirik pada Kresna dan gadis itu. Beberapa saat setelah kembali ke kamar, Kresna berkata:

“Oh ya, Sen, ini yang namanya Ajeng. Dia yang kau lihat tadi siang di loteng sebelah rumah. Manis ‘kan? Nah, Ajeng, kenalkan kawanku ini, namanya Sena. Ia baru datang dari Purworejo.”

“Kutoarjo, goblok!”, Sena membetulkan. Kresna merengut. Sena mendekat pada gadis itu dan mengulurkan tangannya. Badannya maju ke depan. Gadis yang bernama Ajeng itu juga mengulurkan tangan, menyambut jabat tangannya. Tiada rasa canggung ternampak di wajahnya. Matanya yang bersinar-sinar seolah menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang berani dan cerdas. Lembut dan hangat Sena merasa jemari dan telapak tangan Ajeng, namun segera ditariknya dengan cepat.

“Mas ini teman Kresna?”, Ajeng bertanya. Wajahnya memandang lurus ke arah mata Sena, kedua matanya tajam memandang. Menusuk. Bibirnya menyungging senyum.

“Ya. Sejak kami masih sama sama kuliah di Yogyakarta. Setelah lulus dua tahun lalu kami tak pernah berjumpa. Kau sendiri sudah lama mengenal Kresna?”, Sena balas bertanya. Pertanyaan yang ia sendiri telah tahu jawabannya. Hatinya senang dapat lekas akrab dengan gadis itu.

“Sudah kukatakan padamu, sejak ia datang ke rumah sebelah, ia sudah bermain ke mari,” terdengar Kresna menggoda. Ajeng tertawa. Gadis itu meraih secarik kertas bekas dan digenggam kemudian dilemparkannya tepat mengenai kepala Kresna. Yang dilempar tak peduli, hanya tertawa.

Dan ketiganya kemudian larut dalam tawa. Kresna tersenyum-senyum melihat perkenalan Sena dan Ajeng. Ia kemudian berkata:

“Minum lagi kopimu, Sena.”

“Nantilah aku minum.”

“Kalau sudah dingin nanti tak enak lagi. Minumlah.”

Sena menurut, dan meraih gelas kopinya.

“Dan itu aku bawakan roti buatanku juga. Makanlah,” Ajeng berkata sambil tangannya menunjuk kepada piring berisi beberapa potong roti coklat.

“Ah lebih baik kuambilkan untukmu,” Ajeng bangkit dari duduknya, mengambil piring kecil berisi roti coklat itu. Diletakannya piring di samping gelas-gelas kopi dekat Sena. Dengan isyarat mata ia menyuruh Sena untuk mengambil roti buatannnya itu.

“Terimakasih.”

Tak perlu menunggu lama, tangannya kemudian meraih roti coklat dan dijejalkannya pada mulutnya.

“Enak rotimu ini. Pada siapa engkau belajar membuatnya?”

“Bibiku. Ia sering menerima pesanan roti dari tetangga sekitar sini.”

Sena meraih kembali gelas kopinya dan meminum beberapa teguk, mendorong roti coklat yang telah lumat itu masuk ke dalam perutnya. Matanya kembali melirik pada Ajeng. ‘Begitu ayu kau Ajeng,’ fikirnya.

Kedua orang pemuda dan gadis remaja itupun kemudian terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Dari percakapannya dengan Ajeng, mengertilah Sena bahwa gadis berwajah manis itu berasal dari sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Rumah yang ditempati Ajeng di sebelah kamar kos Kresna adalah rumah pamannya, adik ayah Ajeng. Sudah hampir satu tahun ini ia tinggal di sana.

“Seperti apakah Temanggung itu, Ajeng. Bisa kau ceritakan padaku?”

Ajeng terdiam sesaat. Pada Sena dan Kresna ia mengatakan tak tahu harus berceritera dari mana. Sena meminta agar Ajeng memulai dari mana saja ia suka. Ajeng mengangguk dan mulai berkisah:

“Temanggung adalah sebuah kota kecil. Daerah kami terletak sekitar satu setengah jam berkendaraan sepedamotor dari Yogyakarta. Di sana engkau bisa melihat banyak gunung yang indah, seperti gunung Sindoro dan Sumbing.”

“Pernah aku dengar Temanggung itu sentra tembakau. Kau tinggal di daerah tembakau?”, kali ini Kresna yang bertanya.

“Ya. Kau benar. Masyarakat di daerahku adalah masyarakat petani. Kebanyakan bertanam tembakau. Tentu saja kalau tembakau sudah dipanen, kami juga bertanam yang lain. Tapi semakin lama kaum mudanya sudah tidak ada yang bertani lagi. Kebanyakan menjadi buruh pabrik dan bekerja di pabrik-pabrik kayu yang banyak ada di sekitar sana atau di Magelang. Yang mendapat pendidikan tinggi bekerja di kota lain, seperti Yogya dan Semarang.”

“Ya, kurasa tak ada lagi generasi seusia kita-kita ini yang menjadi petani. Kalaulah ada pasti sangat sedikit,” Kresna menimpali. Ajeng dan Sena membenarkan perkataannya. Kresna melanjutkan:

“Jaman sekarang, kaum muda seperti kita, sekali ia berpendidikan sekolah menengah, ia tak akan mau menjadi petani. Yang dibenaknya hanyalah bekerja kantoran, mendapat gaji bulanan. Paling tidak berseragam. Tak mau pemuda sekarang ke sawah bersama kerbau, macul dan menanam padi. Panas dan hujan di sawah. Tak akan mau, bahkan anak petani sekalipun ingin menjadi pembesar. Namun aku tak menyalahkan mereka. Pendapatan petani sangat kecil, sangat minim. Kalian tahu, harga pupuk sangat mahal dan memberatkan. Belum lagi sering terjadi kelangkaan. Pupuk hilang di pasaran. Cuaca yang tak pasti juga sering menggagalkan panen. Wajar kalau para keluarga petani pun berfikir untuk beralih pekerjaan.”

“Ya, memang. Dahulu kita adalah negara pengekspor beras. Kini kita mengimpor, dari Thailand. Dari Vietnam. Ironis!” sahut Ajeng.

“Selain karena menjadi petani tidak lagi menguntungkan, generasi sekarang masih saja mengutamakan status, prestis Mereka rela menjadi pegawai honorer dengan upah yang sangat rendah dengan harapan suatu saat diangkat menjadi pegawai negeri. Padahal gaji honorer sangat kecil.”

Sena menimpali:

“Soal status itu aku setuju. Tetangga sebelah rumahku adalah contoh orang yang sangat terobsesi dengan status. Kalian bayangkan, penghasilannya sebagai kuli pabrik adalah limaratus limapuluh ribu sebulannya, cukup lumayan untuk kota kecil seperti kami. Tapi ia sangat terobsesi untuk menjadi guru…”, Sena berhenti sejenak, menghisapi rokoknya. Kresna tak lagi memperhatikan. Pemuda itu nampak serius membaca pesan yang baru saja masuk ke telepon genggamnya.

“Apa yang kemudian terjadi dengan kawanmu itu?” tanya Ajeng.

“Dia melepaskan pekerjaannya sebagai buruh.”

“Mengundurkan diri? Mengapa? Diterima sebagai guru?”

“Inilah masalahnya. Ia samasekali tak berpendidikan guru. Kau tahu, untuk menjadi guru sekolah menengah kini orang harus mempunyai gelar sarjana pendidikan. Kalau gelar itu tak dipunyainya, ia harus mempunyai akta mengajar.”

“Tetanggamu itu sarjana?”

“Lulus SMA saja kurasa tidak”.

“Guru gadungan kalau begitu?”

Sena mengangguk. Ia melanjutkan:

“Ia memalsu ijazah. Ia sangat ingin menjadi guru, karena di desa kami pekerjaan sebagai guru sangat dihormati. Pendeknya mempunyai kedudukan di masyarakat. Dan dengan begitu, ia memasang gelar sarjana pendidikan pada papan nama yang selalu dikenakan di bajunya. Pada orang-orang desa, ia mengaku mengajar di berbagai macam sekolah.”

“Temanmu itu penipu.”

“Bukan temanku, tetanggaku.”

“Ya tetanggamu. Dia penipu. Kok sampai sekarang tidak terbongkar juga?”

“Ya memang begitu jadinya. Namun herannya, banyak sekolah yang menaruh percaya padanya. Terbukti, paling tidak sampai keberangkatanku ke Jakarta ini ia masih kulihat mengenakan baju safari pergi mengajar!”

“Ada-ada saja.”

Sahut Sena:

“Yah.., masyarakat kita masih gila gelar. Tidak heran kalau sekarang gelar mudah didapat karena ada penjualnya. Tiba-tiba seseorang mendapat gelar doktor atau profesor, padahal ia tidak bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi,”

Ajeng menggerutu. Wajahnya berubah menjadi masam.

“Ada aku lihat di televisi, banyak diantara mereka dari kalangan artis, bintang film,” sambung Sena sambil membuang puntung rokoknya ke dalam asbak.

“Ya, dan lebih memalukan lagi mereka tidak malu-malu dan berkata di televisi bahwa apa yang diterimanya adalah suatu kehormatan. Kehormatan apa? Masakan mereka tak tahu bahwa mereka itu sebenarnya tak layak bergelar profesor karena tidak bekerja di perguruan tinggi?” sahut Ajeng lagi.

Kresna nampak telah selesai membalas pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Nampaknya ia tetap menyimak apa yang baru saja diperbincangkan oleh Ajeng dan Sena. Ia menatap kedua sahabatnya itu dan berkata:

“Lebih lucu lagi, mereka merasa yakin bahwa lembaga yang memberikan gelar itu kredibel hanya karena beberapa orang asing yang bertoga mewisuda mereka. Lucu sekali!”

“Entah akan jadi apa negeri ini kalau gelar mudah sekali didapat seperti sekarang ini,” Ajeng berkata lagi. Kresna menyahut:

“Sudah-sudah! Bicara mengenai ketidakberesan di negeri ini ada banyak yang lebih parah daripada sekedar gelar palsu. Ayo Ajeng, ceritakan lagi apa yang menarik dari daerah tempatmu berasal.”

Ajeng terdiam sejenak, mengingat ingat. Ia kemudian berkata:

“Orang-orang kota selalu mengatakan bahwa hawa di daerah kami sangat segar sehingga cocok untuk rumah tinggal atau rumah peristirahatan.”

“Seperti di Puncak barangkali?”

“Kira-kira seperti itu kalau engkau berada di tempat yang bernama Kledung. Kledung adalah dataran tertinggi di Pulau Jawa. Pemandangan di sana sangat indah. Gunung Sindoro dan Sumbing terlihat tinggi sekali, dengan pemandangan areal pertanian dan perkebunan kentang yang sangat hijau. Kau juga akan bisa melihat perkebunan teh dan tembakau yang luas.” Sena dan Kresna termangu mendengar ceritera Ajeng. Gadis itu melanjutkan lagi:

“Saat yang paling menggembirakan adalah ketika panen tembakau tiba. Daun tembakau yang sudah dirajang dijemur di tanah-tanah lapang, halaman penduduk, bahu jalan, dan juga di halaman rumah orang. Baunya sangat harum dan wangi. Kalian tahu, tahu ada semacam anggapan yang diterima umum bahwa rokok kretek belum bisa dinamakan rokok kretek sejati kalau tak memakai tembakau dari Temanggung?”

“Benarkah? Hmm…pengetahuan baru bagiku,” ujar Sena.

“Ya,” sahut Ajeng. ”Adalagi yang menarik. Kalau panen berhasil baik dan pasaran bagus, biasanya akan banyak pedagang yang datang. Mereka menjual pakaian, barang-barang pecah belah, kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi.”

“Pasar kaget maksudmu?” tanya Sena. Ia menyalakan rokoknya yang kedua.

“Semacam itulah,” sahut Ajeng. “Yang lucu, orang-orang tua kami tak senang membeli barang-barang yang murah. Mereka senang kalau harga yang ditawarkan mahal-mahal. Semakin mahal dan mereka bisa membeli, maka akan semakin senanglah, karena bisa berbangga pada tetangga.”

“Menarik sekali. Membuatku jadi ingin berjualan pakaian di tempatmu kalau musim panen tembakau,” Sena tertawa. “Kapankah musim panen itu?”

“Biasanya sekitar Agustus atau September tiap tahunnya. Kalau kau mau berjualan pakaian di sana, mungkin kau akan dapat banyak pembeli, dengan catatan harga tembakau sedang baik. Ada kalanya di masa panen tembakau, petani justeru merugi. “Apa penyebabnya?”

“Kadang hujan turun saat penjemuran…”

“Hanya itu?”

“Ada lagi. Terkadang tembakau dari luar daerah masuk. Merusak harga.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Ada permainan.”

“Permainan bagaimana?”

“Ya permainan, agar harga tembakau tidak mahal. Kau tahu, kalau harga sedang bagus, tembakau bisa sampai tujuhpuluh ribu rupiah satu kilogramnya. Tapi tahun lalu saja, satu kilogram hanya dihargai tigaribu, empatribu perak..”

“Oohh.. alangkah kasihannya para petani tembakau itu..”

“Ya, terkadang Bapakku sampai memilih untuk tidak memanen tembakau saja. Besar pasak dari tiangnya!”

Sena mengangguk angguk mendengarkan pelajaran baru dari Ajeng. Berkata lagi kemudian:

“Ceritakan yang lain lagi?”

“Di pinggir kabupaten, di daerah Pringsurat juga banyak pepohonan kelengkeng.” Gadis itu kemudian melanjutkan kembali:

“Sama seperti tembakau yang banyak dicampur dengan tembakau luar, kebanyakan kelengkeng yang dijual di sana adalah bukan dari daerah itu, terutama kalau bukan musimnya. Kelengkeng dari Jawa Timur banyak yang masuk dan merusak pasaran, karena rasanya tak seenak kelengkeng Pringsurat”.

Sena menimpali:

“Aku tidak tertarik membicarakan soal kelengkeng. Apalagi pedagang buah yang gemar menipu para pembeli dan tembakau yang dicampur-campur itu. Itu sudah cerita lama di negara ini. Aku tertarik pada ceritamu tadi. Katamu, banyak orang sekitar yang bekerja di pabrik kayu. Mengapa kau tak mencoba berkerja di pabrik kayu saja, dan malahan ke Jakarta?”

“Aku pernah mencobanya,” Ajeng menjawab.

“Ceritakan pada Sena mengapa tak kau teruskan pekerjaanmu itu Ajeng,” kata Kresna, seolah sudah mengetahui apa yang hendak diceriterakan oleh Ajeng.

“Karena upah yang diterima sangat rendah. Kau tahu dalam sehari kami harus bekerja duabelas jam. Kami mendapatkan bayaran sebesar tigapuluh ribu untuk itu. Sungguh pekerjaan yang sangat berat. Aku tak kuat, aku sering nyaris pingsan”.

“Tigapuluh ribu katamu?”

Ajeng mengangguk.

“Dan duabelas jam kerja?”

Ajeng mengangguk lagi dan berkata :

“Ya tigapuluh ribu rupiah saja.”

“Banyakkah yang bekerja di pabrik seperti itu?”

“Tentu saja. Banyak orang desa sekitar yang bekerja demi mendapatkan tigapuluh ribu rupiah untuk bekerja. Bagi mereka penghasilan sebesar itu sudah terbaik. Yang penting adalah menjaga kesehatan supaya tidak ambruk ketika bekerja.”

Tiga orang itu kemudian terdiam, merenungkan apa yang baru saja mereka perbincangkan. Antara berapa lama, Ajeng berkata:

“Ah, sudahlah lupakan saja soal upah rendah di pabrik kayu itu. Sedih aku mengenangnya. Oh ya, kata Kresna Mas Sena hendak mencari saudara perempuan Mas di Jakarta ini?” Ajeng bertanya kemudian.

“Panggil saja aku Sena, tak perlu kau memanggilku dengan Mas,” Sena menjawab lunak. Kresna melirik padanya.

“Ya, baiklah,” gadis itu tertawa lagi. ”Jadi engkau hendak mencari saudaramu di Jakarta, Sena?”

“Kresna menceritakan padamu?”

Ajeng tidak menjawab, hanya mengangguk dan memandang Sena lekat. Yang dipandang menjadi salah tingkah.

“Ya, aku hendak menyampaikan pesan dari Bapakku untuknya. Sudah kira-kira empat tahun ini ia meninggalkan rumah kami. Aku harap aku bisa kembali bersama-sama dengannya nanti ke Kutoarjo.”

“Ooh…,” Ajeng menggumam. Gadis itu kemudian berkata:

“Berapa hari rencanamu di sini?” tanya Ajeng.

“Tergantung. Kalau aku bisa menjumpainya esok, barangkali lusa aku sudah akan kembali. Tapi kalau esok hari aku masih belum menjumpai kakakku, kepulanganku bisa mundur lagi. Dan aku tak berharap akan berlama-lama di sini.”

“Mengapa? Engkau rindu dengan pacarmu?” Ajeng menatap Sena tajam. Di bibirnya terkembang senyum. Senyum yang agak terpaksa.

Sena tak segera menjawab. Kresna kemudian menimpali:

“Dia belum punya pacar. Ia selalu saja menolak cinta gadis-gadis yang menyukainya. Bukan begitu, Sena?” Kresna menggoda. Sena hanya tersenyum. Namun ia bisa melihat Ajeng memandangnya dengan tersenyum pula. Sangat indah, sangat manis. Hatinya bergetar. ‘Jika engkau yang mencintaiku, tak akan aku sia-siakan cintamu, Ajeng.’

Ingatannya melayang pada apa yang dialaminya hampir tiga tahun silam. Sri, adik kelas satu angkatan jatuh cinta padanya. Sri Rahayu Rismadewi. Mahasiswi yang lembut, polos dan mempesonakan. Dan mahasiswa mana di fakultasnya yang tak jatuh hati pada mahasiswi sederhana lagi ayu dan pandai seperti Sri? Sri menaruh hati padanya, semua kawan dekat Sri mengatakan hal itu pada Sena. Namun Sena tak pernah bisa membalas cinta Sri. Bukan karena Sri ada mempunyai kekurangan, bukan pula karena gadis itu tak berbudi baik. Ia memang tak menaruh hati, tak mempunyai perasaan istimewa. Masih kata kawan dekat Sri, gadis itu merasa sangat kecewa dengan sikap Sena. Akhirnya Sri menerima cinta Ronald, mahasiswa tampan dan anak pengusaha truk dari Manado. Sepanjang yang didengar Sena, mereka akhirnya menikah beberapa hari setelah Sri wisuda dan berbahagia serta hidup berkecukupan di Manado.

Ketiganya kini terdiam. Sena dan Kresna terus asyik dengan asap masing-masing. Ajeng mengambil secarik kertas dari buku tulis yang dibawanya dan mulai menulis dalam kertasnya. Sena mengambil buku harian dari ransel hijaunya. Ditulisnya apa saja yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Bapak mengantarnya ke Setasiun. Dan Bapak yang sudah renta dan layu masih pula menangisi kepergiannya, kepergian yang hanya beberapa hari saja. Namun ia paham, Bapak sangat menderita dengan sakitnya Ibu. Padanya Bapak berpesan agar pandai-pandai merayu kakaknya Yanti pulang ke desa:

“Katakan pada kakakmu Yanti, aku sudah tak murka lagi padanya. Katakan padanya, Bapak sayang padanya. Bapak juga akan menerima Ardi kalau ia sudah menikah dengan Yanti”, demikian yang dikatakan Bapaknya ketika peluit kereta telah ditiup. Dan sedu sedan Bapaknya itu semakin keras ketika kereta mulai bergerak. Sedu sedan dari seorang yang didera rasa bersalah pada darah dagingnya sendiri. Orang-orang di setasiun hampir semua melihat pada mereka. Bahkan penumpang di dalam kereta berusaha melongokkan kepalanya ke jendela.

“Aku akan segera menemuinya Pak, aku akan mengajaknya pulang. Bapak berdoa saja,” teriaknya saat itu. Tangannya melambai-lambai. Dan kereta berjalan semakin cepat dan cepat. Kereta ekonomi yang padat penumpang itu. Semakin lama, Bapaknya kemudian menjadi sebuah titik yang akhirnya hilang lenyap.

Sena terus melamun. Sebentar-sebentar ia menuliskan lagi apa yang diingatnya dalam sehari itu. Ia tersenyum mengingat pengamen yang dijumpainya di Setasiun Cirebon. Para pengamen waria, dan begitu genit manja mereka bernyanyi. Salah seorang yang menabuh kendang mencubit pipinya dengan gemasnya. Sena tertawa terkikik, sekaligus tawanya itu membuat Ajeng dan Kresna melihat padanya dengan tatapan heran. Kresna menggumam “Uwong gemblung2,” namun Sena tak peduli. Ia terus menulis. Diingatnya seorang bertubuh gempal dan berotot kekar sepanjang perjalanan dari Cirebon-Indramayu berjualan mangga. Mondar-mandir saja orang itu di dalam gerbong walau tak ada seorangpun penumpang yang tertarik membeli mangganya.

Untuk beberapa saat kamar itu berubah menjadi sepi. Kresna bertidur-tiduran di lantai sambil membaca buku. Sena berhenti dari menulis. Ia dapat membaca judul buku di tangan Kresna: The Good Earth , buku karangan Pearl S Buck.

Kembali pemuda itu menulisi buku hariannya. Beberapa saat kemudian ia melirik pada Ajeng. Gadis itu nampak masih saja sibuk menulis. Berhenti lagi Sena dari menulis. Bertanya ia pada Ajeng:

“Kau menulis puisi?”

“Darimana kau tahu aku menulis puisi?”

“Kresna yang memberitahuku. Ia berkata bahwa tulisanmu, puisi-puisimu sangat bagus.”

Gadis itu memandang pada Sena dan tersenyum malu. “Ya aku memang menulis puisi.”

“Boleh aku membaca puisimu?”, tanya Sena lagi. Ajeng tak segera mengiyakan. Beberapa detik kemudian ia menggeleng sambil tersenyum malu. Sena terus mendesak :

”Boleh aku lihat tulisanmu Ajeng?”

“Nanti kau pasti akan mengejek kalau kau tahu tulisanku tak bermutu.”

“Tidak”

“Tulisanku tidak baik, bacalah saja tulisan Kresna.”

“Aku tak butuh membaca tulisan Kresna. Aku ingin membacai karyamu.”

“Berjanjilah kau tak akan berkomentar macam-macam..”

“Aku berjanji aku tak akan mengejek hasil karyamu.”

Ajeng tak berkata lagi. Disodorkannya kertas di tangannya itu kepada Sena. Sena meraih kertas itu dan mulai membaca dalam hati:

 

Engkau’

Dan siapakah Engkau?

Mengharu perasaan

Menyinari gelap sedihku

Engkau

Racuni segala rasa

Dan engkau pula sembuhkan semua keluh

 

Andaikan engkau tak menjadi bagian diri

Tak akan diri kecewa

Aku takkan lara

Karena aku insyafi

Mencintaimu tak harus memilikimu

 

Kalau saja waktu dapat kutawar

Akan kusimpan indahnya malam dan kubingkai dalam hatiku

Agar engkau bisa melihat

Sinar bintang yang indah

Cahya bulan yang redup manja

Berkerlip bersinar dalam hatiku

Hanya untukmu

‘Puisi cinta?’ Sena bertanya dalam hati. ‘Nampaknya belum selesai ditulis. Ajeng belum membubuhkan tanggal di bawah puisi itu, seperti lazimnya puisi orang lain yang sering ia baca. Masih perlu beberapa bait lagi. Puisi cintakah ini?’. Seketika itu pula ia merasakan sesuatu. Rasa cemburu kembali tumbuh dan menyala di hatinya. ‘Cemburu? pada siapa? pada Kresna? Apakah mereka berkasih-kasihan? bercintaan? Dan mengapa pula aku harus cemburu dan sakit hati? Aku hanya tamu yang baru datang, dan tak sepantasnya aku mengharap yang lebih’.

“Kok jadi diam begitu, sudah selesai bacanya?”

Sena menggeragap dan menyahut sekenanya:

“Ini puisi karyamu sendiri?”

Ajeng mengangguk.

“Kapan engkau membuatnya?”

“Baru saja”.

“Di kamar ini?”, Sena bertanya dengan nada tak percaya. Ajeng mengangguk lagi, namun sejurus kemudian menggeleng cepat:

“Kalimat-kalimatnya sudah ada di dalam kepalaku sejak aku belum kemari. Mungkin sejak semalam sudah aku dapatkan kalimat dalam puisiku itu. Hanya baru aku tulis di kamar ini. Sewaktu kau mandi tadi aku mulai menulisnya, dan kuteruskan baru saja.”

Sena mengangguk-angguk mendengarkan. Disodorkannya kembali kertas berisi puisi itu kepada Ajeng. Berkata Sena kemudian:

“Apa yang dikatakan Kresna padaku memang benar.”

“Apa maksudmu?”

“Kau berbakat.”

Agak berapa lama keduanya terdiam, tak berkata-kata. Yang terdengar suara orang mengaji dari masjid. Beberapa saat kemudian Ajeng berkata:

“Terlalu memuji kau ini.”

“Sungguh. Pilihan kata yang kau gunakan tidak sembarang. Bukan kata atau kalimat yang biasa digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang membuat puisi dengan kalimat yang sudah terlalu umum. Tapi kau tidak.”

Agak lama keduanya terdiam. Kresna masih asyik dengan bukunya. Sesekali ia membuka kamus. Sena berkata lagi:

“Pastilah puisi itu engkau tujukan untuk kekasih hatimu,” tebak Sena. Menggelora kembali kini hatinya. Ia melirik pada Kresna. Yang dilirik masih saja terlihat asyik dengan buku usangnya, seolah tak peduli.

Ajeng menjawab cepat: “Tidak, itu bukan untuk siapa-siapa.”

“Lantas bagaimana engkau bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis seperti itu? Sudah jelas bahwa tulisan itu adalah ungkapan perasaan seseorang terhadap orang lain yang dikaguminya. Iya kan?”

“Benar. Akan tetapi rasa kagum, bahkan rasa cinta itu teramat luas, Sena. Aku bisa saja mengagumi seorang pemimpin atau politikus, penjahat, atau bromocorah atau siapapun, dan kubuat puisi seperti ini. Rasa kagum dan cinta tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk menyayangi seseorang atau manusia.”

Kresna berhenti dari membaca. Ia berkata:

“Apa yang dikatakan Ajeng benar. Cinta itu lebih luas dari sekedar seorang lelaki mencintai perempuan atau sebaliknya. Cinta kasih itu lebih luas dari sekedar perasaan birahi dan ingin memiliki. Cinta tak selalu ditujukan pada orang seperti yang kau pikirkan.”

“Tak selalu ditujukan pada orang. Mungkin pada cicak, tikus dan kecoa!”, ujar Sena mengejek. Hatinya menjadi gusar.

“Dan juga kalau perlu cinta pada anjing,” Kresna menyahut sungguh-sungguh. Ia kemudian bangkit berdiri dan meletakkan buku di atas meja. Diraihnya gelas kopi. Setelah beberapa kali teguk, ia kemudian menyambung:

“Jutaan orang mati demi cinta. Cinta kepada negara, cinta kepada tanah airnya, cinta kepada apa yang menjadi keyakinannya. Ada diantaranya yang mati karena gelap mata, cinta buta kepada negaranya. Memang ada yang rela berkorban demi cinta pada orang, yang mati karena cinta buta kepada kekasihnya. Ada yang rela mati demi barang dan benda. Demi cinta pada negara pulalah ada orang yang rela mati, walau kematiannya tidak selalu dianggap patriotik oleh semua orang.”

“Aku tak mengerti,” ujar Sena. Hatinya bertambah gusar.

“Kau pasti tahu, dan kau Ajeng pasti juga tahu berapa banyak pejuang kita yang mati bertempur melawan Belanda setelah Proklamasi tujuhbelas Agustus?”

“Kita merdeka dari Jepang, bukan Belanda.”

“Ya benar, maksudku setelah Belanda mencoba datang lagi kemari, ke Indonesia, goblok!”

“Oh, Oke,” sahut Sena

“Nah, mereka itu mati karena cinta kepada negara ini, negara yang saat itu baru saja lahir. Masih orok. Sedangkan tentara Belanda banyak pula yang mati. Mereka mati demi cinta mereka pada negara mereka, pada Kerajaan Belanda.”

“Aku masih tak mengerti,” sahut Sena. Ia menggaruk garuk kepalanya.

“Cinta memang tidak mudah dimengerti,” Kresna berkata seperti mengejek. Matanya melirik pada Ajeng. Gadis itu menunduk. Dengan isyarat tangan Kresna meminta kertas yang ada di tangan Ajeng. Gadis itu mengulurkannya. Kresna mulai membaca. Kamar itu kembali sunyi. Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

“Dari puisi Ajeng ini aku bisa menyimpulkan bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki. Bukan begitu Ajeng?”. Ajeng memandang pada Kresna dan mengangguk.

Sena melihat hal itu, membuatnya kembali terbakar. Ia merasa terdesak.

“Apa artinya kalau kita tak mampu memiliki apa yang ingin kita rawat dan sayangi. Apa artinya, misal, kita cinta pada negara ini, namun kita tak memilikinya secara utuh karena dijajah bangsa lain. Jaman dahulu mungkin penjajahan fisik. Namun sekarang bisa jadi penjajahan ekonomi. Penjajahan budaya. Neokolonialisme” Sena berkata berapi-api. Ia melanjutkan:

“Dan sudah sejak lama kita hanya merdeka secara badan. Tetapi secara spirit, secara kejiwaan kita sangat tergantung pada bangsa lain, pada bangsa asing. Ada kau dengar berita kemarin malam? Rupiah kita anjlok lagi. Semua orang menjerit. Kita kaya akan minyak. Kita kaya akan gas bumi, kaya akan kayu-kayu jati terbaik, rotan, kopi, jahe, satwa dan masih banyak lagi.”

“ Tapi kita masih saja miskin,” Ajeng menyahut.

“Itulah! Orang tua kita kesulitan membeli minyak tanah. Kayu-kayu jati kita entah ke mana. Ikan-ikan di laut dirampoki kapal asing setiap harinya. Ke mana larinya hasil tambang di Papua? ke Indonesiakah?!”

Sena melanjutkan lagi:

“Kau masih ingat masalah Timor Timur? Ketika aku masih mahasiswa, aku sangat mendukung perjuangan mereka. Akan tetapi ketika mereka melepaskan diri dari Indonesia, jujur kukatakan padamu aku merasa sangat sedih dan kalah. Dan tidak saja aku, namun banyak orang yang merasakan kesedihan itu. Kita cinta pada Timor Timur, tapi kita kehilangannya. Timtim sudah bukan bagian dari negara kita lagi”.

Kresna dan Ajeng memperhatikan Sena dengan sungguh-sungguh. Keduanya terdiam seperti anak kecil terkagum-kagum melihat pertunjukan sulap. Sena berkata lagi:

“Juga, misalkan cinta itu dalam arti yang sempit. Cinta seorang lelaki pada perempuan atau sebaliknya. Atau kaum homoseks terhadap sesama jenisnya.”

“Tau sekali kau tentang homoseks, Sen,” Kresna menimpali sambil tertawa.

“Mereka punya cinta juga toh? Cinta bukan monopoli heteroseks seperti kita. Oke, kembali lagi ke pembicaraan kita. Kau tahu apalah artinya kalau tak dapat memiliki dan mengasihi. Dukalara yang akan dirasakan.”

Kresna nampak hendak menjawabi apa yang menjadi ketidaksetujuan sahabatnya itu, namun tak jadi dilakukannya. Seseorang mengetuk pintu kamar. Ia segera bangkit dari duduk. Dihampirinya pintu dan dengan hati-hati dibukanya perlahan. Terlihat seorang lelaki. Kulitnya gelap, rambutnya panjang agak ikal. Wajahnya terlihat gelisah. Mereka berdua bercakap sejenak yang tak tertangkap oleh telinga Sena. Suara mangkok yang beradu dengan sendok dari tukang bakso di depan rumah begitu nyaring terdengar, menghalangi. Beberapa saat kemudian, Kresna menyuruh tamunya itu untuk masuk. Lelaki berambut ikal itu menurut, dan dengan mengendap ia memasuki kamar itu. Kini wajahnya terlihat lebih jelas. Seorang pemuda dengan wajah yang keras dengan anting di bibirnya. Lubang bekas jerawat banyak menghiasi kulit wajahnya yang hitam. Telinga sebelah kanannya terlihat tak utuh lagi seperti ada luka bekas senjata tajam. Ada terlihat oleh Sena tato di punggung tangan kanannya.

Mereka berdua tidak bergabung dengan Sena dan Ajeng, akan tetapi berbisik-bisik di balik pintu. Wajah Kresna nampak tegang. Otot-otot di keningnya bermunculan menonjol-nonjol. Hisapan pada sigaret di mulutnya nampak lebih cepat dan sering. Sesekali ia melongok ke luar memandang dengan gelisah pula. Namun begitu, ia nampak berusaha menguasai keadaan, menguasai perasaan hatinya sendiri.

Demi melihat hal itu, Sena menjadi teringat masa lalu, masa ketika Kresna sering bernegoisasi dengan aparat di tengah aksi unjuk rasa. Pemandangan yang sama beberapa tahun silam terlihat kembali di kedua matanya. Pemuda berambut ikal panjang itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dalam tas plastik dari balik bajunya. Bungkusan itu nampak dibalut rapat dengan kertas koran. Setelah itu lelaki itu meminta diri, sambil menepuk pundak Kresna. Keduanya terlihat berjabatan erat. Lirih Kresna berseru pada lelaki itu: “Hati-hati.” Sedetik dua kemudian pemuda itu hilanglah di gelapnya malam dan hiruk pikuknya jalan kampung.

Kresna nampak terus memandangi kepergian kawannya itu. Ada kecemasan ternampak di wajahnya. Ada rasa khawatir. Agak lama ia memandang ke luar.

“Kawanmu kah?” Sena bertanya.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Kresna. Bungkusan yang diberikan oleh pemuda tadi dipegangnya erat-erat. Sejenak ia terlihat bingung. Matanya memandang ke sekeliling kamar, namun tak sekalipun matanya itu memandang pada Sena dan Ajeng. Diseretnya meja kerjanya dan dengan sekali lompat ia telah berada di atasnya. Disingkapnya langit-langit kamar di atas meja kerja, dan segera setelah terbuka, bungkusan itu dilemparkannya perlahan. Ia kemudian melompat turun.

Sena memandang wajah Kresna dengan penuh tanya. Matanya kemudian melihat pada Ajeng. Gadis itu terlihat memandang tak senang pada Kresna seolah ingin mengatakan sesuatu. Tangannya menarik narik ujung celana panjangnya sendiri, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Ada apa Sen? Kau tak apa-apa?”

“Tidak ada apa-apa. Kenapa kalian diam? Nah, ada diantara kalian mau bakso? Atau nasi goreng?” Kresna bertanya pada Sena dan Ajeng. Tak ada jawaban keluar dari mulut keduanya. Sena tahu, dari nada bicara Kresna, kawannya itu tak sedang hendak menawari mereka makan, akan tetapi lebih terasa sebagai mengalihkan pembicaraan. Dan Kresna seakan tak membutuhkan jawaban. Ia segera menuju pintu kamar, memanggil seorang pedagang keliling dan memesan tiga piring nasi goreng.Ajeng buru-buru mengatakan bahwa ia lebih suka mi goreng. Maka pesanan malam itu menjadi dua piring nasi goreng dan sepiring mi goreng.

Tak sampai limabelas menit, ketiganya telah asyik dengan makan malam masing masing. Selesai bersantap, ketiganya masih bercakap-cakap dan bersenda gurau. Pedas dan hangatnya nasi goreng telah mencairkan kekakuan yang baru saja tercipta. Ajeng sempat kembali ke rumahnya sebentar untuk mengambil tiga kantung teh celup. Gelas kopi yang telah kosong kini berisi teh panas yang manis. Kresna mengatakan pada Sena, bahwa cinta tetaplah abadi, dan keabadian cinta tak dapat diukur dengan kepemilikan cinta. Sena hanya mengangguk malas, tak berniat untuk menanggapi lagi. Ajeng lebih banyak terdiam. Hingga mendekati jam sepuluh malam, Ajeng berpamitan pulang.

“Sampai jumpa lagi Sena, Kresna.”

“Ya sampai jumpa lagi. Mimpi tentang aku,” Kresna menggoda. Ajeng mencibir.

“Terimakasih, Assalamu’alaikum,” ucap Ajeng sambil terus berjalan pulang.

Sena membalas salam. Kresna hanya terdiam sambil memberi isyarat dengan anggukan.

Dan gadis itupun dengan lincahnya berlari menuju pagar rumah tingkat yang ada di samping rumah tinggal Kresna, menutupnya kembali, dan melambaikan tangan yang penghabisan.

“Besok kemarilah lagi, Ajeng,” Kresna separuh berteriak. Tangannya melambai pada Ajeng. Terdengar suara mengiyakan.

Kedua pemuda itu kembali memasuki kamar, menutup pintu dan melanjutkan kembali pembicaraan.

“Ajeng adalah pribadi yang menarik,” Kresna berkata. Ia mengambil sebatang rokok, melanjutkan lagi:

“Barangsiapa yang berhasil menguasai hatinya, memilikinya, maka sungguh beruntunglah ia. Ajeng sangat penyayang dan berhati lembut. Perasaannya halus. Aku yakin jiwanya adalah jiwa seniman.”

“Kau yang memiliki hatinya?” Sena berkata perlahan, menyelidik.

“Tidak. Bukan aku,” Kresna menjawab pendek.

“Kau pikir mudahkah bagi seorang lelaki untuk merebut hatinya?” Sena bertanya.

Terdengar pintu diketuk dari arah dalam. Rupanya lelaki tua si tuan rumah mendengar ada suara pendatang dan ia ingin tahu siapa yang bertamu malam itu. Kresna mengenalkan Sena padanya. Tuan rumah berpesan agar Sena menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Sena berterimakasih, dan tuan rumahpun kembali lagi ke dalam.

“Apa tadi yang kau tanyakan?”

Sena menjawab: “Aku bertanya apakah mudah memiliki hati seorang Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Ia kemudian berkata:

“Tergantung.”

“Tergantung bagaimana maksudmu?”

“Ajeng bukan perempuan cengeng. Ia sangat mandiri. Ia tak mau tergantung pada siapapun, apalagi terhadap lelaki. Namun ada kalanya, ia bisa lebih manja dari seorang anak umur dua tahun sekalipun.”

“Apakah anak dua tahun itu manja. Kau sok tahu!”

“aku hanya memberi perumpamaan, goblok! Tak usah dibahas.”

“Oke.”

Kresna melanjutkan: “Oleh karenanya, lelaki yang bisa merebut hatinya haruslah lelaki yang bisa memberikannya kebebasan sekaligus perindungan padanya.”

“Dan kehangatan..” Sena menyambung.

“Otakmu mesum..!” timpal Kresna.

“Just kidding bro!”

“Apakah aku memenuhi syarat itu?”, tanya Sena lagi. Ia menoleh pada Kresna.

“Tanyalah pada hatimu sendiri.”

“Ayolah, aku ingin mendengar pendapatmu.”

Kresna hanya diam tak menjawabi.

“Ayo, bicara bung!”

Kresna memandang pada Sena dan berkata:

“Aku tak mengetahui kedalaman hatimu.Kau sendiri yang lebih mengenal dirimu, apakah kau tipe lelaki yang mengekang atau tidak.”

Sena terdiam. Sebentar kemudian ia berkata:

“Perempuan adalah makhluk yang agung dan indah. Sudah sepantasnya kaum lelaki kita melindungi. Aku tak bisa mengerti mengapa ada lelaki yang sampai hati menyiksa dan berbuat kasar terhadap perempuan, apalagi terhadap isteri dan anak perempuannya sendiri.”

“Aku pernah membaca Sarinah”, kata Kresna. Ia kemudian menyambung: “Di sana disebutkan banyak suami menganggap dan memperlakukan isterinya seperti mutiara. Dan justeru karena anggapan itulah perlakuan suami terhadap isterinya lebih bersifat mengekang dan membatasi. Mutiara selalu ditaruh dalam kotak, atau tempat lain yang aman. Ditutup rapat-rapat.”

Keduanya terdiam kini. Merenungi apa yang baru saja diperbincangkan.

“Oleh karenanya, atas pertanyaanmu apakah kau termasuk lelaki yang bisa memberikan perlindungan padanya, kau sendirilah yang mestinya menjawab. Kau yang paling tahu dirimu sendiri..,” Kresna berkata perlahan.

Dan malampun terus berlanjut dengan bintang yang berhamburan di langit tepian Jakarta. Suara pengajian dari masjid sudah tak terdengar lagi. Dari jendela kamar, awan putih yang terkoyak angin terlihat jelas, tersinari lampu perkampungan dan perkotaan Jakarta. Awan bergerak cepat, seolah ingin mendahului sang waktu. Sambil bertiduran, kedua sahabat itu masih saja bercakap hingga menjelang tengah malam. Hingga akhirnya sebelum tidur, Kresna berkata:

“Aku khawatir tak bisa mengantarmu mencari rumah kakakmu esok hari, Sen.”

“Mengapa?”

“Aku harus ke Pasar Senen esok pagi-pagi benar. Ada barang pesanan yang harus aku antar ke pelanggan. Barang itu sudah harus kuantarkan sebelum jam sembilan.”

“Jadi esok hari aku tinggal di sini sendirian?”

“Aku akan meminta Ajeng akan menemanimu. Seingatku, ia tak ada jadwal kursus di hari Sabtu. Kurasa ia tak akan keberatan menemanimu di sini, atau sekedar untuk berjalan-jalan ke Pasar Baru. Pernah kau ke Pasar Baru?”

“Belum. Ini adalah kali kedua dalam hidupku pergi ke Jakarta. Yang pertama ketika aku masih SMP, study tour.”

“Kau harus pergi ke Pasar Baru, minimal satu kali dalam hidupmu!” Kresna tertawa geli, kemudian berkata lagi:

“Kau bisa pergi berjalan-jalan dengan Ajeng ke Pasar Baru atau tempat lain yang menarik hatimu. Kalau tak ada halangan lusa kita pergi mencari rumah kakakmu Yanti.”

Sena mengangguk. Fikirannya kembali teringat pada pemuda yang beberapa jam lalu datang ke kamar Kresna. ‘Adakah kaitannya dengan pemuda itu sehingga Kresna tak bisa mengantarkannya mencari rumah kakakku Sabtu esok hari?’, pikir Sena. Ia berhenti dari lamunan dan bertanya:

“Apakah Ajeng sudah cukup mengenal Jakarta?”

“Ajeng?”

“Ya, apakah dia sudah mengetahui seluk beluk Jakarta?”

“Aku rasa sudah, mengapa?”

“Karena seperti katamu, mungkin ia yang akan menemaniku esok mencari rumah kakakku.”

Kresna terdiam. Sena pun terdiam. Sejenak Sena menyesal karena telah menafsirkan sendiri perkataan kawannya itu. ‘Kresna tak pernah mengatakan bahwa Ajeng akan mengantarkanku mencari rumah kak Yanti. Yang dikatakan oleh Kresna adalah Ajeng akan dimintanya untuk menemani, mengantarkanku melihat-lihat Jakarta kalau ada waktu. Itu saja. Kalau benar bahwa Ajeng adalah kekasih Kresna, ia pasti tak rela,’ Sena berkata dalam hati.

“Ya, begitu juga boleh. Esok akan kukatakan hal ini padanya. Aku yakin ia tak berkeberatan,” jawab Kresna perlahan. Ada keengganan dalam nada bicaranya yang dapat dirasakan oleh Sena.

“Kres..,”

“Hehhhm?”

“Kau tak keberatan kalau aku pergi bersama Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Agak lama ia berdiam diri, kemudian berkata: “Aku?”

Sena bertanya: “Ya, kau tak keberatan jika aku pergi dengan Ajeng?”

“Tidak,” jawab Kresna tegas. “Lagipula mengapa aku harus berkeberatan? Pergilah dengannya esok. Temui kakakmu.”

“Kau takkan marah padaku?”

“Percayalah padaku,” Kresna berkata lagi. Ditatapnya mata Sena. Ia mengangguk pasti

“Engkau tak cemburu?” Sena memburu.

Kresna menjawab sambil menoleh pada Sena:

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya, percayalah. Antara aku dan Ajeng tak lebih dari sekedar teman. Mungkin kalau bisa ditarik lebih tinggi lagi hubungan kami adalah sekedar hubungan saudara. Hubungan kakak dengan adiknya. Sudahlah, sekarang lebih baik kita tidur.” Kresna membalikkan tubuhnya lagi. Deru nafasnya terdengar di keheningan malam di dalam kamar itu.

Sena tak menjawab ajakan Kresna untuk tidur. Matanya memang sudah terasa berat. Rasa kantuk semakin merasuki. Dan dalam kantuknya ia teringat kembali bayangan peristiwa hari ini: Bapak yang mengantarkannya ke Setasiun, dan pesan agar ia sebisa mungkin menemukan tempat tinggal kakaknya, menyampaikan amanat agar kakaknya itu segera pulang.

Dari ingatan akan ayahnya, Sena menjadi teringat kembali pada kakek yang duduk di sampingnya sewaktu di dalam kereta api. Merokok sajalah yang diperbuat kakek itu sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ingatannya melompat dari kakek yang duduk di sebelahnya pada kemolekan dan kecantikan Ipah, gadis penjual kopi yang manis, bertubuh padat dan menggairahkan. Dan segera saja pengamen waria yang mencubit pipinya pun bermunculan dengan wajah berganda-ganda dan tertawa-tawa dalam benaknya yang telah terjangkiti kantuk. Dan dengan begitu, ia menjadi terkenang dan rindu pada Ajeng, gadis yang baru saja dikenalnya.

Rasa kantuk terus menguasai. Ia terus berusaha membayangkan dan mengenangkan perjumpaan dan perkenalannya dengan Ajeng yang baru saja. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan, dan menimbulkan harapan. Dengkur Kresna mulai terdengar. Ada didengarnya pula suara kereta api dari kejauhan, membuatnya teringat pada lagu Locomotive dari Guns N Roses. Namun segera suara lirih deru kereta tergantikan suara gaduh sepasang kucing yang berkejaran di atap rumah melolong memadu birahi. Rasa kantuk semakin dahsyat, semakin perkasa memaksanya menutup kelopak mata. Hanya sebentar saja Sena mendengar dengkur kawannya dan gemuruh suara kereta api, karena sebelum kedua jarum jam menunjuk angka dua belas, ia telah larut dalam tidurnya sendiri, mengumandangkan dengkurnya sendiri. Kedua anak manusia itu tertidur berjajar, dengan bola lampu kamar yang terus menyala dan dengan serangga-serangga kecil yang terbang mengelilingi…

BAGIAN III

 

Matahari sudah mulai bersinar. Cahayanya yang putih kuning lembut menerobosi kamar melewati lubang-lubang angin dan beberapa celah kecil yang ada di pintu. Kedua pemuda itu telah bangun, bersembahyang subuh, mandi dan menyantap gorengan yang dibeli Kresna di ujung gang. Rokok pun telah mereka isapi sepagi itu. Dua gelas kopi berwarna hitam pekat mengepul-ngepul di atas meja.

“Kalau semua pemimpin di dunia seperti kita sekarang ini, duduk, merokok, dan minum kopi bersama, maka aku yakin tidak ada lagi peperangan yang terjadi di dunia ini,” Sena memulai.

“Apa maksudmu?”, Kresna bertanya heran. Diambilnya sepotong pisang goreng, dan dikunyahnya. Matanya mengawasi Sena, menunggu jawaban.

“Coba kau bayangkan, kalau saja Saddam Hussein dan Bush dan Tony Blair setiap hari minum kopi bersama, membicarakan permasalahan antar mereka dengan bersahabat seperti kita pagi hari ini, maka tak perlulah sampai ada agresi, sampai ada perang antar negara.”

Kedua pemuda itu tertawa terpingkal, memegangi perut masing-masing

Sena berkata lagi:

“Juga tak perlu ada perang separatis di negara kita. Tak perlu Timtim dan Aceh serta Papua ingin melepaskan diri. Apa yang pernah dinyanyikan Iwan Fals benar, uang untuk membeli persenjataan bisa lebih bermanfaat jika digunakan untuk kemakmuran rakyat. Bisa untuk membeli beras, membangun perpustakaan umum, bisa untuk membeli buku untuk anak sekolah. Para balita di negeri ini bisa merasakan sedapnya susu, sehingga otak mereka dapat berkembang dengan baik karena menyerap gizi dan vitamin yang cukup.”

Kresna mengangguk dan menyahut:

“Tepat sekali apa yang kau pikirkan itu. Yang lebih penting lagi, uang untuk membeli persenjataan dan peralatan tempur lainnya itu juga bisa digunakan untuk membiayai sekolah gadis pembuat kopi yang kita jumpai kemarin sore di Jatinegara itu, ha…ha..ha. Siapa namanya…Sa…?”

“Ipah. Nining Saripah,” Sena menjawab cepat.

“Aaaaaa… benar. Uang untuk membeli senjata dan amunisi bisa digunakan untuk membiayai pendidikan orang-orang yang tak beruntung seperti Ipah,” Kresna tertawa sambil terus mengunyahi pisang gorengnya. Berkata lagi:

“Cobalah, dengan sedikit keterampilan komputer saja, Ipah pasti akan bisa menguasai tugas-tugas kesekretarisan. Aku rasa tak akan sukar bagi dia untuk menguasai komputer dan internet. Kalau pengetahuan itu ia dapat dan peroleh, ia bisa perbaiki nasibnya. Ia bisa cari kerja yang lebih layak, dengan bayaran yang lebih besar dan terhormat. Tidak seperti sekarang, membuat mi rebus dan kopi saja yang ia mampu buat!”

“Hmmm akan tetapi kalau semua pembuat kopi seperti Ipah jadi sekretaris, rasanya dunia bisa jadi akan kacau, Kres!”

“Mengapa?,” Kresna menatap wajah sahabatnya itu heran. Diambilnya gelas kopi dan diteguk. Sena menjawab:

“Karena, tidak akan lagi ada gadis manis yang membuat kopi untuk kita kalau kita minum di warung, ha..ha..ha..ha!” kedua pemuda itu tertawa kembali tergelak-gelak.

Dan kemudian keduanya membayangkan Ipah dengan baju sekretaris, memakai kacamata atau lensa kontak dan menenteng komputer jinjing, serta menaiki mobil pribadi warna merah. Kembali kedua pemuda itu tertawa terkikik. Beberapa saat kemudian Sena berkata sungguh-sungguh:

“Tapi peperangan itu ada pula manfaatnya.”

“Apa itu?”, tanya Kresna sambil menghapus kedua bola matanya yang berair dengan jarinya.

“Perang berguna untuk menurunkan populasi di dunia. Perang adalah cara efektif untuk mengurangi jumlah penduduk Aku pernah mendengar hal ini dalam pelajaran ilmu negara.” Sena mengingat-ingat.

“Dan dengan perang, pasar senjata dunia akan terpelihara. Bagaimanapun kepentingan negara besar bermain di sini. Kau tahu negara-negara penghasil senjata? Mereka jugalah yang gemar membuat perang!”, Kresna menimpali.

Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan kopi masing-masing. Tak ada televisi di kamar itu. Sebagai gantinya mereka mendengarkan siaran berita yang dipancarkan oleh sebuah pemancar FM yang berkantor di Depok. Berita pagi itu: sebuah bom bunuh diri meledak di pinggiran kota Basrah, Irak. Limabelas orang tewas dalam insiden. Beberapa saat kemudian penyiar radio mengumumkan bahwa waktu telah menunjukkan pukul delapan.Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

“Nah, aku harus segera pergi, Sen. Sebentar lagi Ajeng akan datang untuk menemanimu. Aku telah bertemu dengannya ketika membeli gorengan ini. Ia sudah menyanggupi untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

“Jadi engkau ke Pasar Senen pagi ini?”

“Ya, seperti yang aku katakan padamu semalam. Aku harus mengantarkan sesuatu pada seseorang di sana,” Kresna menjawab tanpa melihat wajah sahabatnya itu.

“Naik apa kau?”

“Yang jelas bukan naik mobil pribadi..” sahut Kresna ketus. Dikenakannya jaket yang kemarin dipakai untuk menjemput Sena ke setasiun. Selesai itu, ia mengambil bungkusan yang semalam diletakannya di atas langit-langit atap kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk mengambilnya. Dalam sebentar saja ia telah kembali turun dengan bungkusan itu dimasukkan ke dalam baju, di balik jaketnya.

“Kalau engkau hendak minum, gula dan kopi aku letakkan di atas lemari pakaian. Ambil dan pakai sesukamu.”

“Aku bosa kopi.”

“Kalau begitu pergilah ke warung sana,” Kresna menunjuk ke arah warung tak jauh dari rumah tinggalnya. “Belilah apa yang kau suka. Ada juga bir di sana kalau kau sudah berubah pikiran. Kalau kau beli bir, jangan lupa sisakan untuk aku nanti sore atau malam, oke?”

Sena mengangguk sambil terus memandangi gerak-gerik sahabatnya itu. Kresna masih saja terlihat gagah. Dalam hati ia bertanya, ‘hendak mengantarkan apakah Kresna ke Pasar Senen? Dan bungkusan itu, apakah isinya? Mengapa ia nampak sangat berhati-hati dengan bungkusan itu?’

Kresna melangkah ke luar kamar untuk kemudian berjalan menuju pagar. Sena mengikuti dari belakang. Sebelum menghilang di tikungan, ia sempat melambaikan tangannya pada sahabat lamanya itu dan berteriak:

“Kalau engkau pergi dengan Ajeng, taruh saja kuncinya di bawah pot itu. Kalau aku pulang lebih dahulu aku tetap bisa masuk ke dalam kamar,” tangannya menunjuk pada sebuah pot berisi bunga mawar beberapa langkah dari pintu kamar Kresna. Sena mengangguk. Hanya dalam hitungan detik Kresna telah benar-benar menghilang dari pandangan.

Sena memasuki kembali kamar kawannya itu. Sepi kini yang ia rasakan. Sepagi itu. Diliriknya jam dinding. Sudah jam delapan pagi lewat lima menit. Ia mendengarkan siaran berita di radio lagi: ‘Kapal perang Republik Indonesia telah berjaga-jaga di sekitar Blok Ambalat mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin terjadi’. Ia menjadi teringat akan pesan pendek yang diterimanya dari kawannya dua hari lalu: Pesawat F-16 milik Angkatan Udara Indonesia telah berjaga-jaga di Bandara Sepinggan Balikpapan.

“Ah perang dan perang saja. Mengapa orang selalu disibukkan dengan perkelahian?”, Sena menggumam sendiri, berbicara pada dirinya sendiri. Ia kemudian memandangi jam dinding. ‘Kapan kiranya Ajeng akan datang kemari? Ah, Ajeng yang indah. Ajeng yang ayu. Senyumnya begitu menawan. Tatap matanya teduh dengan senyum yang membasahi keringnya hati. Tubuhnya pun indah, ramping. Pas sekali dengan pakaian yang dikenakannya semalam. Kekasih Kresnakah dia? Atau hanya sekedar teman?’. Dan dalam hati Sena mengharap kemungkinan kedua lah yang senyatanya ada di antara sahabat lamanya dan Ajeng.

‘Hmm..hendak apakah aku ini sekarang?’, pikirnya. Dihampirinya meja kerja Kresna. Ada beberapa buku yang berjajar tak beraturan di sana. Semuanya karangan dari penulis dunia: John Steinbeck, Pramoedya Ananta Toer, Tolstoy ,Camus, dan John Grisham. Dua buku tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka, tulisan Swami Vivekanda dan buku tulisan Pearl S. Buck yang semalam dibaca Kresna, The Good Earth.

‘Hmm..rupanya Kresna suka pula pada Camus’, seru Sena dalam hati. Ia tak menyukai Grisham dan Camus. Karangan Grisham dirasainya tak masuk akal, sementara tulisan Camus dikritiknya sebagai terlalu bertele. Baginya Harry Potter karya JK Rowling lebih masuk akal ketimbang Camus. Matanya kembali melihat-lihat jajaran buku yang ada di atas meja kerja Kresna. Beberapa buku filsafat karya John Stuart Mill dan John Locke ada pula di sana. Semua tertulis dalam Inggris. Walau Kresna tak terlalu pandai bahasa Inggris, namun ia tak mau membaca buku-buku terjemahan.

‘Kita harus membaca buku dalam bahasa Inggris, karena bahasa itu adalah bahasa dunia,’ begitu selalu dikatakan Kresna pada Sena ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Diakuinya, Kresna menguasai bahasa Inggris lebih baik darinya.

Sena tersenyum kecil lagi. Dahulu ketika masih mahasiswa, semua mahasiswa termasuk dirinya dan Kresna berlomba membaca atau setidaknya memiliki buku Zaratustra karangan Nietzche. Hatinya mengakui apa yang dilakukannya dahulu disertai maksud agar terkesan sebagai intelektual kampus. Ia sendiri penggemar buku-buku filsafat. Tak seperti kawan-kawannya yang lain yang lebih menggemari filsafat Yunani dan sejarah Imperium Roma, filsafat Jawa lah yang paling ia sukai. Pemikiran Jawa sangat mendalam serta penuh makna, begitu ia selalu meyakinkan pada kawan-kawannya.

Matanya berpendaran lagi, mengamat-amati. Kresna bukanlah penggemar musik yang fanatik. Sepanjang yang dapat diingat Sena, hanya dua artis yang disukai Kresna: Leo Kristi dan John Mayall, seorang penyanyi blues dari Inggris. Dan dari lima kaset yang tergeletak di mejanya, dua adalah album John Mayall dan sisanya album Leo Kristi. Tak ada foto perempuan barang sebuah pun ada di meja Kresna. ‘Berarti, antara mereka tak ada apa-apa. Mereka hanyalah kawan biasa saja. Bukankah biasanya orang yang berkasih-kasihan suka memasang foto orang yang dikasihi di meja atau tempat-tempat pribadi lainnya?’, pikirnya. Dengan begitu ia pun kembali merasa tenang. Namun sebentar kemudian hatinya sendiri membantahi:

‘Bisa saja, Kresna menyimpan foto Ajeng di dompet dan aku tak pernah melihatnya. Mungkin saja pula mereka berkasih-kasihan, akan tetapi tak pernah saling menukar foto. Lagipula, apakah foto dapat dijadikan ukuran kasih sayang seseorang? ‘, hatinya berkata lagi.

Ketukan pintu membangunkan Kresna dari lamunannya. Terdengar suara gadis mengucapkan salam dan selamat pagi. Suara Ajeng! Dan dengan begitu hati Sena menjadi melunjak-lunjak gembira.

“Alaikum salam,” balas pemuda itu. Sambil berjalan menuju pintu disisirinya rambutnya yang tak beraturan itu dengan jari jari tangannya.

Ketika pintu dibuka, nampak Ajeng tersenyum, berkata:

“Boleh aku masuk?”

Rasa kagum dan gembira yang entah datang dari mana membuat Sena tak mampu menjawabi pertanyaan sederhana itu. Dan lagipula, Ajeng nampak tak membutuhkan benar jawabannya. Kakinya telah melangkah masuk ke dalam kemar, pada detik yang sama ketika ia meminta ijin masuk. Sena mempersilakan Ajeng untuk duduk. Ajeng mengambil kursi dan menghempaskan pantatnya. Ia nampak segar dengan rambutnya yang masih basah namun telah tersisir. Aroma wangi memancar dari tubuhnya. Ia nampak memikat dengan celana jeans dan baju putih lengan panjang berenda. Hati Sena menjadi kacau. Gembira dan senang serta kikuk menjalar dan menguasai hatinya secara perlahan. ‘Apa yang harus kukatakan?’ pikirnya.

“Enak tidurmu semalam, Ajeng?”

“Lumayan. Aku sudah merasa segar kembali sekarang. Kau sendiri?”

“Pulas sekali. Mungkin karena masih terbawa capai seharian naik kereta api kelas kambing, ha..ha..ha…,” Sena tertawa. Ajeng tertawa pula. Sekaligus kekakuan di hati Sena telah mengendur.

“Kau mau minum apa? Mau kau kubuatkan kopi?“

“Tak usah repot-repot Sen, aku sudah sarapan dan minum susu sebelum kemari. Kresna berpesan padaku untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

Sena mengiyakan. Mengangguk.

“Kalau begitu sekarang saja kita berangkat.”

“Apa harus terburu-buru?”

“Tidak, akan tetapi aku tak begitu mengenal daerah itu. Kresna hanya memberikan ancar-ancar daerah itu padaku, dan kurasa aku tahu, walau aku tak yakin benar. Kau harus ingat kita sekarang di Jakarta, bukan di Kutoarjo. Hari ini mungkin masih ada jalan kampung, esok hari sudah tertutup beton apartemen.”

Sena mengangguk menyerah.

“Ya, ya ya, aku mengerti. Akan tetapi bolehkah aku merokok barang satu batang terlebih dahulu?”, Sena bertanya. Menawar. Sebenarnya tak ada rasa dalam mulutnya yang memanggilnya untuk menghisapi rokok. Keinginan untuk bercakap dan berakrab lebih lama-lah sesungguhnya yang membuatnya beralasan ingin merokok dahulu.

“Sesukamulah, dewa asap,” Ajeng menjawab pendek.

Dan Sena mulai menyalakan rokoknya.

“Kau perokok berat rupanya?”, tanya Ajeng. Wajahnya menunjukkan raut muka tak senang.

“Ah tidak juga.”

“Merokok tidak baik untuk kesehatan. Kau pasti tahu itu.”

Sena mengangguk.

“Bukan saja perokok itu sendiri yang rugi, akan tetapi orang lain yang ada disekitarnya,” kata Ajeng ketus. Sena menjadi terpojok. Ada rasa gembira bahwa perempuan yang mulai mengisi ruang hatinya itu memperhatikan dirinya, memperhatikan kesehatannya. Namun, ada pula ia rasai kecemasan bahwa lelaki perokok bukanlah tipe laki-laki pilihan Ajeng. Dalam hati ia bertekad untuk apabila perlu berhenti merokok untuk meraih simpati gadis itu.

Namun begitu Sena terus saja menghisapi sigaretnya. Matanya menerawang ke luar kamar, menembusi kaca jendela kamar. Sekejap kemudian kedua matanya telah mengarah pada wajah Ajeng dan berkata:

“Merokok memang tak baik untuk kesehatan, aku tahu itu.”

“Hanya orang bodoh yang tahu sesuatu yang tidak baik namun terus melakukannya!”, Ajeng menukas.

“Mungkin kau benar.”

“Merokok juga sangat tidak baik untuk mata,” Ajeng menyela.

“Tidak baik untuk mata? Apa hubungannya?”

“Tentu saja ada hubungannya…”

“ Setahuku merokok hanya merusak kesehatan paru-paru dan jantung,” kata Sena sambil membolak-balik bungkus rokok miliknya, mengamat-amati.

“Mata pencaharian, Sen!” Ajeng tertawa terbahak. Sena tertawa pula. Dan dengan begitu suasana menjadi semakin mencair. Pemuda itu kemudian berkata:

“Aku berniat untuk berhenti merokok kalau aku sudah menemukan orang yang pantas mendampingiku. Mungkin kalau aku sudah kawin nanti.”

“Ah, lama sekali. Berhenti merokok saja harus menunggu kawin…,” Ajeng tertawa lagi. Ia menyambung:

“Kucing saja kawin atau tidak kawin tidak merokok..”

“Aku bukan kucing!”

“Oh iya, aku lupa,” Ajeng tertawa lagi. Tangan kirinya menutupi giginya yang terlihat. “Sudah ada calonnya?” gadis itu melanjutkan.

“Belum. Mengapa? Kau mau?”

Dan Sena menjadi terkejut dengan pertanyaannya sendiri. ‘Mengapa aku bisa bertanya sejauh ini padanya? Aku baru saja berkenalan dengannya semalam. Bagaimana kalau ia tersinggung?’, fikirnya.

Ajeng tidak menjawab. Wajahnya terlihat malu dan memerah. Pandangan matanya dialihkan ke tembok kamar. Untuk berapa lama keduanya terdiam, menebak-nebak perasaan hati lawannya masing-masing. Tak ada suara. Keduanya diam tak bergerak-gerak. Seekor kecoa terlihat memakan remah roti coklat sisa sisa semalam.

“Sorry,” beberapa saat kemudian Sena berkata. Dimatikannya rokoknya yang masih panjang ke dalam asbak.

Ajeng tak menjawab. Matanya masih memandangi tembok dinding kamar Kresna.

Bertanya Sena pada Ajeng kemudian, memecah kebekuan :

“Kalau boleh tahu, mengapa engkau memilih Jakarta dan bukannya tinggal bersama orang tuamu di Temanggung?”

“Aku sudah menceritakan padamu semalam”.

“Aku tahu, engkau sudah menceritakan padaku semalam bahwa engkau tak kerasan bekerja di pabrik kayu. Namun kalau boleh tahu, apa kau punya alasan lain?”

“Memang aku mempunyai alasan yang lain.”

“Boleh aku tahu?”

Ajeng mengangguk. Berkata:

“Terpaksa,” Ajeng menjawab pendek.

“Terpaksa? Maksudmu?”

Gadis berambut panjang itu menghirup nafas perlahan. Matanya memandangi lantai kamar, dan dengan perlahan mendongakkan pandang kepada Sena. Lirih Ajeng berkata:

“Alasan yang sebenarnya mengapa aku pergi ke Jakarta adalah untuk menghindar dari Bapak.”

“Menghindar dari Bapakmu? Mengapa?”

“Ia hendak mengawinkanku dengan seseorang selepas aku selesai sekolah”, Ajeng tertunduk. Sena memperhatikan wajahnya. Tidak begitu jelas, karena wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam.

“Menikahkanmu?”, tanya Sena hati-hati. Dengan begitu ia teringat pada Yanti kakaknya. Nasib Ajeng hampir serupa benar dengan Yanti yang juga hanya lulus SMA3 Dan selepas SMA itulah Bapak menjodohkannya dengan Irsyad, putra Haji Baharuddin yang masih kerabat jauh dengan keluarganya. Irsyad sudah bekerja sebagai guru, dan telah mempunyai rumah sendiri. Sebetulnya rumah itu tidak dibangun atas keringat Irsyad sendiri. Ia hanya tinggal menempati. Haji Baharuddin telah membangunkan rumah itu untuknya. Bapak merasa, kalau kakaknya menikah dengan Irsyad, pastilah hidupnya akan bahagia. Walau dalam hati tak percaya bahwa perjodohan masih bisa diterima di era internet ini, Sena dapat mengerti jalan pikiran Bapaknya. Orang tua tak ada yang menghendaki anaknya hidup sengsara.

“Ya. Aku sudah hendak dinikahkan oleh Bapakku.”

“Kau tak mau?”

“Aku memohon pada Bapak untuk diberi kesempatan mencari pekerjaan di Jakarta. Aku berhasil meyakinkan Bapak bahwa jika aku bisa bekerja di kota ini, aku bisa mengiriminya banyak uang. Dengan begitu, ia tidak perlu menikahkanku dengan anak kawannya, kepada siapa ia mempunyai hutang selama ini. Hanya itu harapanku, agar aku bisa bekerja dan membayar hutang-hutang Bapak.” Gadis itu mulai terisak.

“Apa yang membuat Bapakmu sedemikian banyak mempunyai hutang?”

Ajeng tak menjawab. Ia menunduk. Jari jarinya saling memilin. Badannya terguncang. Ia mulai menangis.

“Maafkan aku, sepagi ini aku sudah membuatmu sedih.Kita berangkat sekarang?”

Ajeng menggeleng kuat. Ia masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Sena, bukan salahmu,” kata Ajeng kemudian dengan nada lirih. Ia mulai mengatur nafas, berusaha menguasai perasaan hatinya. Sena bangkit dari duduk, mengambil segelas air putih. Disodorkannya pada Ajeng.

“Ini minumlah dahulu, sehingga kau merasa enak.” Ajeng menurut. Gelas berisi air putih itu diteguknya. Beberapa saat kemudian ia sudah berhenti dari menangis. Bercerita kembali:

“Bapak adalah petani tembakau. Kebetulan panen pada tahun-tahun lalu selalu buruk, sehingga tiada keuntungan. Bapak harus berhutang untuk memelihara tanaman tembakau. Ia juga harus terus membeli pupuk, mengupah penggarap, membayar sekolah dua adikku, dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Singkat cerita, hasil panen tak seperti yang diharapkan. Hutang-hutang Bapak pada kawannya semakin besar. Dan kawannya itu tak akan menagih hutang, akan menganggap hutang Bapak selesai kalau aku bersedia kawin dengan anaknya.”

Sena menjadi terharu. Ia merasa iba dan tersentuh. Ingin rasanya memeluk dan membelai rambut gadis itu untuk memberikan ketentaraman, namun ia tak mempunyai keberanian. Tak mempunyai kekuatan. Hatinya mengatakan bahwa hal itu terlalu dini untuk dilakukan.

Ajeng melanjutkan lagi:

“Anak kawan Bapak yang hendak dijodohkan denganku itu pemuda yang baik dan santun. Namanya Tomo. Aryo Wahyutomo. Aku pernah dikenalkan padanya, dan kami sempat berbincang-bincang.”

“Kau sudah kenal?”

“Ya. Kami sudah saling kenal. Ia tampan, dan sudah bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Semarang. Pada mulanya pembicaraan kami kaku, karena terus terang aku tak ingin kawin muda, apalagi dengan cara dijodohkan dan dengan alasan utama sebagai pelunas hutang. Aku tak mau kehilangan masa depanku.”

“Dia juga suka padamu?” Sena bertanya menyelidik. Ia merasa tak senang.

“Alhamdulillah, Tomo juga berterus terang padaku bahwa ia juga tak suka dijodohkan oleh ayahnya. Padaku ia mengaku sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri. Kami menjadi saling simpati, dan oleh karena itu kami justeri saling menghargai dan mendukung serta mendoakan kebaikan masing-masing.”

“Hingga kemudian kau sampai Ke Jakarta ini?”

“Ya, seperti telah kukatakan padamu tadi. Aku meyakinkan Bapak bahwa dengan bekerja di Jakarta aku akan dapat membayar hutang-hutangnya dalam waktu singkat.”

“Lantas, apakah kau pernah mendapatkan pekerjaan di Jakarta ini?”

Ajeng tidak menjawab. Diusapnya matanya yang sembab dengan saputangan. Wajahnya kini kembali menatap Kresna. Gadis itu kemudian memulai kisahnya:

“Ya, pernah. Hanya tiga minggu sesudah tiba di Jakarta aku mendapat pekerjaan, menjadi sekretaris di sebuah perusahaan yang cukup besar. Perusahaan percetakan.”

Ajeng bercerita bahwa ia mendapat informasi sebuah percetakan membutuhkan seorang sekretaris. Dan pamannya mempertemukan dengan pemilik percetakan itu. Sang paman mengenal pemilik percetakan karena pernah berhubungan kerja beberapa tahun silam. Karena cekatan dan rajin serta penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik, Ajeng dengan cepat mendapat kepercayaan. Ia sering mendapatkan uang tambahan dengan bekerja lembur. “Bisa kau mengirim uang pada Bapakmu dengan gaji yang kau terima?”

Ajeng mengangguk. “Sekitar lima bulan aku bisa menyisihkan sebagian penghasilanku untuk aku kirim kepada Bapak. Namun kerjaku hanya bertahan selama lima bulan itu saja. Aku kemudian memutuskan untuk berhenti.”

“Berhenti? Mengapa?”

“Pemilik percetakan itu…dia sungguh.., ah..ia.. binatang! Ia pernah berusaha hendak memperkosaku!” Ajeng kemudian berceritera lagi: suatu sore, sekira pukul setengah tujuh, pemilik percetakan menyuruhnya untuk menyalin penjualan selama sebulan. Ia bekerja sendirian malam itu. Ketika itulah, sang majikan merayunya untuk melayani hasratnya, di kantor itu. Ajeng menolak, namun sang pemilik percetakan telah gelap mata.

“Ia membekapku dari belakang dengan kuat. Sangat kuat,” Ajeng memandang ke luar, ke arah jendela.

“Lantas?”

“Aku tak punya pilihan lain kecuali memohon padanya untuk melepaskanku. Ia tak mau menurut. Mungkin telinga dan hatinya telah tersumpal. Aku meronta dan berteriak. Namun tidak ada yang menolongku.”

“Ia lebih kuat darimu pasti..”

“Ya, memang ia sangat kuat. Aku sudah meludahi wajahnya. Tapi ia justeru semakin liar.”

“Lucu kedengarannya. Apa tak ada orang di sekitar kantormu?”

“Aku tahu persis ada dua orang satpam yang berjaga di percetakan itu”

“Kenapa mereka tak berbuat apa-apa?”

“Itulah. Aku juga tak tahu. Mestinya mereka tahu dan mendengar teriakanku. Namun mereka diam saja. Mungkin takut akan berakibat yang merugikan mereka sendiri jika menolongku.”

“Ya. Sebenarnya orang berbuat sesuatu selalu dikaitkan dengan kepentingan dan keuntungannya. Kalau perbuatan baik justeru dirasa akan mendatangkan celaka bagi diri, maka banyak orang memilih untuk bisu, mencari selamat. Lalu, berhasilkah pemilik pabrik itu…,” belum selesai Sena melanjutkan pertanyaannya, Ajeng telah mendahului:

“Alhamdulillah, tidak. Aku berhasil memukul kepalanya dengan asbak yang kuraih sekenanya, dan kemudian kupukul tubuhnya dengan kursi lipat yang biasa aku gunakan untuk duduk. Setelah itu aku lari. Dua orang satpam yang berjaga juga melihatku lari. Sekali lagi mereka hanya diam. Itulah hari terakhir aku bekerja di percetakan itu. Hampir lima bulan lalu.”

“Kau tidak melaporkannya pada polisi?”

Ajeng tertawa lemah, kemudian berkata:

“Melapor?,”Ajeng tertawa sinis. “Kau pikir mereka akan percaya omonganku? Salah-salah aku yang akan ditertawakan dan dicemooh serta dituduh sebagai telah menggoda majikan. Sudah banyak kasus seperti ini terjadi. Akhirnya toh kasus akan ditutup dengan dalih semua terjadi suka sama suka.” Gadis itu melanjutkan lagi:

“Bukannya pesimis, Sena, tapi sudah banyak contoh nyata seperti itu. Ibarat kata orang lapor kehilangan kambing, nantinya kita malah akan kehilangan sapi.”

Sena mengangguk-angguk membenarkan.

“Lantas apa rencanamu setelah ini?”

“Aku masih hendak menunggu sampai aku mendapat pekerjaan lagi. Aku harap, aku bisa bekerja dalam waktu-waktu ini. Sambil mengirimkan lamaran, sekarang ini mengikuti kursus bahasa Perancis.”

“Bahasa Perancis? Mengapa Perancis?”

“Karena itu adalah bahasa internasional kedua setelah Inggris. Kebetulan sewaktu sekolah bahasa Inggrisku lumayan baik. Aku berharap secepatnya bisa bekerja kembali, supaya aku segera bisa menghasilkan uang. Aku masih muda, Sena. Umurku baru hendak duapuluh. Aku pun ingin mengecap masa mudaku dengan sebaik-baiknya. Aku ingin mandiri, mempunyai pekerjaan dimana aku bisa mengembangkan diri dan kepribadianku. Aku harus bekerja dan berkarya di Jakarta ini, kalau tidak…”

“Kau harus pulang dan kawin dengan anak kawan Bapakmu?”sergah Sena. Ia merasa khawatir.

“Ya. Kalau aku tidak juga mendapat pekerjaan dalam tiga bulan ini Bapak akan menjemputku pulang. Paman sudah mengabarkan segalanya pada Bapak. Tebakanmu baru saja itu benar,” Ajeng berkata tak bersemangat. Matanya menatap Sena seolah ingin menyandarkan beban hati yang menggayuti.

“Kudoakan kau akan segera mendapat pekerjaan kembali, Ajeng. Aku mendoakanmu. Banyak kau mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan?”

Ajeng mengangguk.

“Semoga secepatnya ada panggilan pekerjaan untukmu.”

“Terimakasih.”

“Kau tak keberatan mengantarku hari ini?”

Ajeng menggelengkan kepalanya. “Mengapa harus keberatan? Sejak kemarin aku libur, karena jadwal kursusku dari Senin sampai Kamis. Kalau engkau mengajakku pergi, aku justeru senang bisa keluar dari rumah. Sepanjang hari yang kupandangi hanya itu-itu saja.” Ajeng kini telah pulih dari sedih hatinya, kembali tersenyum. Wajah gadis itu berseri-seri. Sena menjadi senang karenanya.

“Kita pergi sekarang?”

“Ya, rokokmu telah lama habis. Seharusnya kita sudah berada di jalan sekarang.”

“Engkau sendiri yang memikatku dengan ceritamu itu.”

Ajeng memberangut.

“Boleh aku lihat alamat kakakmu itu?” gadis itu bertanya. Sena mengangguk pasti. Pemuda itu segera merogoh saku belakang celananya, membuka dompet, meraih secarik kertas dan mengulurkannya pada Ajeng.

“Kata Kresna, engkau sudah cukup mengenal Jakarta.”

Gadis itu tidak menjawab. Ia mengangguk-angguk, mengatakan bahwa ia mengetahui alamat yang ditujukan dalam kertas sekaligus mengetahui angkutan umum apa yang harus dinaiki. Dikembalikannya kertas kecil itu pada Sena, dan berkata menggoda:

“Ayo, kita berangkat, tuan asap!”

Sena tertawa. Pemuda itu bangkit dari duduknya. Segera dikenakannya jaket kesayangannya itu. Ajeng berjalan mendahului ke luar kamar.

“Engkau tampak gagah dengan jaket itu,” puji Ajeng setelah keduanya telah keluar dari kamar. Matanya menatap teduh pada Sena.

Sena tersenyum. Ia memberanikan diri memandang lekat-lekat wajah gadis yang berdiri di hadapannya itu. Hatinya berdesir-desir. Yang dipandangi hanya tersenyum malu.

“Kau mau memakai ini? Pakailah supaya engkau terlindung dari debu dan panas,” Sena menawarkan jaketnya. Ajeng hanya diam, namun tangannya menerima tawaran Sena. Segera dikenakannya jaket jeans itu. Sena kembali tersenyum dan mengagumi.

Ia kemudian mengunci kamar. Sesuai dengan pesan Kresna, kunci itu ia letakkan di bawah pot berisi bunga mawar.

Keduanya kemudian berjalan meninggalkan kamar rumah itu. Berdua mereka menyusuri gang yang semakin menyempit dan menanjak. Hati Sena menjadi begitu riang. Beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh padanya. Pemuda itu merasa bangga kala mata orang memandang iri padanya yang berjalan dengan Ajeng. Sambil berjalan ia bersenandung.

When I’m Walking Beside Her

People Tell Me I’m Lucky

Yes I know I’m A Lucky Kind..

Matahari semakin menanjak tinggi. Suara kendaraan lalu lalang makin lama makin nyata terdengar membising di telinga. Bau kencing manusia mulai tercium kembali. Sena dan Ajeng sampai juga pada keramaian jalan raya yang sudah mulai macet. Tak perlu lama menunggu, apa yang mereka nantipun datang: sebuah mikrolet bergerak merayap. Keduanya segera melompat memasuki angkutan umum itu meluncur menuju kota…

Metromini yang ditumpangi Ajeng dan Sena bergerak perlahan, tersendat-sendat keluar dari terminal Blok M. Sena menunjukkan carik kertas alamat kepada kondektur dan memintanya untuk menurunkan mereka berdua di tempat terdekat. Sang kondektur terlihat mengernyitkan dahinya. Agak lama ia memandang ke arah depan seolah memikirkan sesuatu, kemudian mengangguk-angguk menyanggupi. Matanya tak melihat kepada Ajeng. Ia kembali sibuk mencari penumpang, berteriak dan memanggili mereka yang berdiri di jalan, menawarkan tumpangan.

Sena dan Ajeng duduk di bangku belakang. Metromini yang mereka tumpangi itu tak begitu penuh terisi. Pada kaca kedua pintunya banyak dipenuhi stiker, anjuran untuk membayar dengan uang pas. Sementara itu dari kanan maupun kiri jendela, jalanan terlihat macet. Suara klakson mobil, metromini, bus besar kecil, dan sepedamotor bersahutan, menjerit, saling meneriaki dan memaki. Asap knalpot dengan leluasa memasuki jendela dan pintu untuk akhirnya berputar dan mengepul di dalam bus, serta memasuki rongga tiap manusia yang bernafas di dalamnya.

“Apa pendapatmu tentang kota ini?” Sena bertanya, memulai pembicaraan dalam metromini.

“Jakarta? Kota yang sudah sangat kelebihan penduduk dan sudah tak nyaman lagi untuk ditinggali”.

“Ah bisa saja kau. Aku amat-amati kau kerasan saja tinggal di kota ini?”.

“Mulanya aku memang sangat sangat tak betah. Jalanan begitu ramai dan macet. Belum lagi banyak tempat yang rawan copet dan jambret serta penodongan.”

“Tentu sangat jauh berbeda dengan Temanggung, kan?”

“Ha..ha.., sudah barang tentu. Namun lambat laun aku sadar bahwa Jakarta juga lebih memberikan banyak janji daripada kota lain, apalagi kota kecil seperti kotaku. Aku mulai suka dengan Jakarta. Apa yang bisa diharapkan kalau kita tinggal di kota kecil? Apalagi kalau tinggal desa? Tidak ada harapan, Sen. Bisa jadi hutang Bapakku takkan terbayar kalau aku mencari kerja di sana. Sedangkan di Jakarta, aneka perusahaan besar kecil ada di sini. Semua perdagangan ada di sini. Pernah aku membaca bahwa sebagian besar uang berputar di Jakarta.”

Sena mengangguk angguk. Pandangan matanya dilemparkan ke arah luar, ke jalan raya. Ajeng bertanya:

“Kau sendiri, adakah keinginanmu untuk pindah ke kota ini?”

“Tidak”

“Samasekali tidak?”

“Ya,” jawab Sena mantap.

“Kau akan tertinggal. Nasib harus kau ubah di kota ini. Kalau kau tinggal di Kutoarjo saja, sampai tua kau akan begitu terus.”

“Tapi kalau kita hidup di kota kecil, kita masih bisa berkumpul dengan keluarga. Kita masih bisa melihat ayah dan ibu kita. Kita masih bisa memelihara ayam di halaman rumah kita. Bahkan ayam-ayam itu, bolehlah mereka tidur di dalam rumah kita kalau mereka suka.”

“Tapi apa artinya kalau kita selamanya kekurangan. Hidup bersama, berkumpul akan tetapi selalu kesusahan dan kekurangan. Apakah itu yang dinamakan bahagia? Mangan ora mangan sing penting ngumpul? Aku tak setuju.”

“Tergantung apa yang kau maknai dengan kekurangan itu. Kalau kau selalu memaknai kebutuhan hidup dengan hanya kebendaan saja, maka kau akan selalu kekurangan.”

“Begitukah?”

“Ya. Tidak saja di Jakarta, bahkan di manapun kau pijakkan kaki di bumi ini,” Sena berkata sungguh-sungguh. Ia melanjutkan:

“Tapi jika kau juga menganggap dan menghargai sesuatu yang non materi, yang abstrak, spiritual, maka kebahagiaan bisa kau dapat, walau secara materi kau tak begitu berkelebihan. Ingat, kalau kita hanya mencari benda dan kebendaan saja, maka selamanya hati kita tak akan pernah terpuaskan dan terpenuhi. Selalu saja kurang. Sebaliknya, orang akan tetap dapat merasakan apa yang disebut kamulyaning urip, tanpa harus selalu mengaitkan dengan kepemilikan kebendaan. Sugih tanpa banda.”

“Tapi kau, aku, dan semua orang adalah darah dan daging. Darah dan daging yang perlu makan, perlu minum, pakaian, dan tempat berteduh,” sergah Ajeng tak terima. Ia memprotes.

“Kita, kau dan aku bisa mencarinya di tempat kita masing-masing berasal. Tak harus di Jakarta ini. Tak harus berpenghasilan besar. Secukupnya saja. Di Jakarta jika engkau berpenghasilan besar, maka yang kau keluarkan akan besar pula. Di desa atau di daerah, asal kita bisa mensyukuri apa yang telah kita terima, maka tidak ada persoalan sebenarnya.”

Sena berkata lagi:

“Lagipula kalau aku harus tinggal di Jakarta, aku tak akan tahan dengan situasi semrawut dan kacau seperti di luar sana Ajeng. Coba kau lihat, mobil-mobil berebut hendak lewat terlebih dahulu. Sudah berapa lama kita ada di dalam metromini ini, tapi mungkin belum satu kilometer kita menempuh perjalanan. Selain situasi yang semrawut dan segala polusinya, Jakarta juga rawan. Banyak kejahatan.”

Ajeng mengiyakan, mengakui. Ia mengambil sebutir permen dan dikunyahnya. Disodorkannya beberapa butir pada Sena. Pemuda itu menggelengkan kepala dan berkata lagi:

“Kau lihat orang-orang itu?!”, Sena menunjuk pada sekawanan remaja lusuh di perempatan jalan yang mereka lalui. Berkata lagi:

“Mereka mencari makan di jalanan. Tak jelas benar apakah mereka pekerja seni atau penjahat. Kadang mereka menyanyi-nyanyi, bertepuk tangan tanpa orang dapat mendengar suaranya karena bisingnya lalu lintas. Namun tak jarang kalau dirasa ada kesempatan mereka memaksa kita untuk memberi uang. Dan kalau mereka tak kita beri uang, mereka bisa saja melukai kita.”

Ajeng segera memotong:

“Ya, tapi tidak semua anak jalanan seperti itu.”

“Engkau benar, Ajeng.”

“Tidak semua mereka jahat,” Ajeng menukas lagi.

“Sekali lagi kau benar Banyak diantara mereka yang benar-benar ingin menghibur, dan tidak memaksa. Akan tetapi kau pasti pernah melihat di televisi bagaimana mereka nekat menodong, menjambret dan berbuat kekerasan terhadap pengguna jalan. Terkadang mereka tidak saja menyanyi dan membawa gitar, tapi juga membawa celurit.”

“Mungkin yang kau maksudkan adalah pemalak, tukang peras yang menyamar sebagai pengamen,” Ajeng berkata membantah.

“Bisa jadi.”

“Ya, boleh jadi memang demikian.”

“Memang kita tak bisa menyamaratakan, menggeneralisir. Juga kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Lingkungan yang menjadikan mereka begitu. Kebanyakan mereka dari keluarga miskin. Ketika kecil, mereka tiada mampu bersekolah karena orang tua mereka tak mampu. Dan ketika mereka besar, hanya meminta-minta saja yang dapat mereka perbuat. Ijazah dan apapun yang formal mereka tak punya.”

“Kesalahan negara juga, mengapa tak memperhatikan mereka,” kata Ajeng seperti menggumam.

“Ya. Negara harus memperhatikan mereka. Kalau begini terus, akan seperti lingkaran setan yang tak ada ujung pangkal. Tak ada akhirnya. Keruwetan demi keruwetan.”

“Anak-anak jalanan itu…, bahkan mungkin mereka tidak punya orang tua atau tak pernah melihat orangtuanya sejak kecil, sejak mereka bayi. Anak hasil hubungan gelap.”

“Benar. Aku sering mendengar, banyak bayi, banyak anak ditelantarkan dan ditaruh begitu saja oleh orang tuanya di tepi jalan. Sudah sejak menjadi embrio orang tuanya membenci benar kehadiran mereka. Masih bagus kalau mereka tak mati ketika dibuang atau dibunuh ketika dilahirkan.”

Ajeng terdiam merenungi kata-kata Sena. Sebentar-sebentar ia membetulkan rambutnya yang dikibas-kibaskan angin yang masuk melalui pintu. Kondektur berjalan menghampiri menepuk pundak Sena menagih ongkos. Sena segera membayar dan kemudian berkata:

“Mereka, sejak dalam perut emaknya sudah menjadi daging dan nyawa yang tak diinginkan. Mereka tak berdosa. Nafsu orang tuanyalah yang membawa mereka ke dunia.”

Sena melanjutkan lagi, “Seharusnya pemerintah memperhatikan mereka. Konstitusi kita sudah mengamanatkan penyelenggara negara ini untuk memperhatikan mereka,” Ajeng mengangguk-angguk mendengarkan apa yang dikatakan Sena. Gadis itu kemudian berkata:

“Mungkin kita masih jauh dari titik itu, Sena. Banyak permasalahan besar yang dihadapi negara ini. Pemerintah tentu kewalahan dan serba salah mana yang harus diprioritaskan.”

“Tugas penyelenggara negara memang untuk mensejahterakan rakyatnya,” sergah Sena. “Kau benar. Namun kau harus ingat bahwa hampir setiap permasalahan yang melanda negara kita sudah dalam taraf yang sangat parah. Sialnya negara ini mempunyai begitu banyak masalah. Entah mana yang harus didahulukan, diprioritaskan. Ada masalah banjir, busung lapar, separatisme, pertikaian antar etnis, kesenjangan kaya miskin, belum lagi korupsi yang menjalar dari atas sampai bawah. Dari pejabat tingkat tinggi sampai korupsi di tingkat kelurahan dan desa,” Ajeng berhenti sejenak. Gadis itu berkata lagi:

“Siapapun pemerintahnya sekarang akan sangat berat untuk menyelesaikannya. Semua permasalahan dan penyakit sudah terbentuk begitu lama, sudah mendarah daging. Semua butuh penyelesaian segera. Semua permasalahan dituntut untuk diselesaikan di urutan pertama,” sahut gadis itu kemudian.

“Engkau benar Ajeng”, Sena menyahut. Kembali ia merasa kagum, bahwa Ajeng ternyata menaruh perhatian dan kepedulian pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.

Percakapan terhenti ketika sang kondektur memandang dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap turun. Ajeng dan Sena bangkit dari duduknya, dan menghampiri pintu metromini. Kendaraan itu berjalan melambat dan dengan begitu sang kondektur mendorong punggung keduanya. Sena menolehkan kepalanya melotot, akan tetapi kondektur itu tak memedulikannya. Bus terus berjalan meninggalkan mereka.

Sena dan Ajeng kini telah berada di pinggir jalan raya. Sena mengusap keringat di dahinya.Ajeng berkata lagi setelah keduanya mulai berjalan:

“Kalaulah hidup ini tak perlu uang…”

“Tidak mungkin,” Sena memotong sambil tertawa.

“Coba fikirkan, khayalkan Sena. Dengarkan dahulu apa yang aku maksud,” Ajeng menggerutu.

“Baik, lanjutkan apa katamu,” Sena berkata. Ada ia rasai malu telah memotong begitu saja perkataan Ajeng.

“Kalau saja hidup itu tak perlu uang. Kalau saja dalam hidup kita tak mengenal rasa lapar, maka aku mungkin akan sepakat denganmu bahwa kehidupan ini jauh lebih indah dinikmati apabila kita tinggal di desa.”

“Heem..”Sena tersenyum. Dipandanginya wajah Ajeng, dan dengan isyarat mata ia meminta gadis itu untuk terus berceritera.

“Di desa kehidupan jauh lebih baik. Di sana tidak ada polusi yang meracuni dada kita, meracuni dada para bayi dan juga dada para kambing, bebek dan ayam.”

“Serta sapi dan kerbau,” Sena menyahut. Ajeng mengangguk. ”Tak ada tekanan hidup. Orang masih bisa melihat hijaunya rumput dan indahnya suara yang timbul ketika pohon bambu diterpa angin. Lain dengan di Jakarta. Sukar bagimu untuk melihat rumput.Sukar bagimu melihat bahkan tanah kosong sekalipun.”

Sena terdiam merenungi apa yang dikatakan Ajeng. Ia merasai adanya kebenaran yang dikatakan oleh gadis yang sedang berjalan disampingnya itu. Dipandanginya sepanjang jalan raya. Semua hanyalah aspal dan beton. Sepanjang kanan dan kiri hanyalah pertokoan. Hanyalah beton, dan pagar-pagar besi. Dan jika mata dilemparkan jauh ke depan, belakang dan samping, hanya bangunan bertingkat dan rumah-rumah mewah saja yang terlihat.

“Sayangnya kita hidup harus dengan uang, Ajeng.”

“Itulah, Sena.”

“Bahkan untuk kencing dan buang air besar pun kita harus membayar.”

“Limaratus untuk kencing, dan seribu perak untuk buang air besar,” Ajeng menimpali dengan sinis.

“Yah, semua sekarang diukur dengan uang. Tidak ada pertolongan yang tulus. Di desa orang masih bisa meminta bantuan tetangganya untuk menyingkirkan batang pohon yang roboh misalnya. Di kota seperti Jakarta ini orang mestilah menawar harga sebuah jasa terlebih dahulu baru ia akan mendapatkan pertolongan.”

“Hey dari tadi kita hanya berjalan saja, tanpa tahu arah dan tujuan. Kemana sekarang kita, Ajeng?”

“Kita cari jalan yang tertulis di kertasmu itu. Mari kita tanyakan pada penjual warung di sebelah sana,” Ajeng berkata sambil menunjuk sebuah warung tenda, sekira limapuluh meter dari tempat mereka berdiri. Berdua mereka mendekati warung itu.

Lelaki tua penunggu warung mengatakan bahwa jalan seperti yang tertulis dalam kertas Sena ada tidak jauh dari tempat itu. Ia menunjuk sebuah titik di dekat jembatan di seberang jalan dan menyuruh keduanya untuk mengikuti saja gang pertama yang akan dijumpai. Sena dan Ajeng mengangguk dan berterimakasih. Keduanya kemudian kembali menyeberangi jalan raya.

“Menurut orang yang baru saja kita jumpai tadi, kita harus mendekati jembatan ini, Sen.”

“Ya, mari.”

Dan keduanya terus berjalan hingga menemukan sebuah gang yang tak begitu terlihat dari kejauhan. Kedua remaja itu berbelok memasuki. Beberapa ibu muda tampak sedang bercakap-cakap sambil menggendong anak dan saling membandingkan kelebihan anaknya masing-masing. Sementara beberapa ibu yang tak menggendong anak nampak mengerubungi tukang sayur, menawar-nawar harga.

“Di mana kira-kira rumah kakakku? Di kertas ini tertulis nomor tujupuluh enam.”

“Sekitar sini masih nomor limapuluhan, Sen. Ini berarti, kita masih harus berjalan ke dalam,” Ajeng menunjuk ke arah depan.

Sena mengangguk, menurut. Keduanya kemudian melanjutkan langkahnya. Sambil berjalan, kepala dan mata keduanya tak lepas mengawasi tembok depan atau gerbang pagar setiap rumah.

“Itu dia. Aku rasa itu nomornya, ya itu dia rumahnya,” Sena berkata separuh terpekik. Diraihnya tangan Ajeng, namun kemudian dilepaskannya lagi. ‘Mengapa aku menggandengnya?’ pikirnya. Ajeng hanya terdiam.

Keduanya berjalan mendekati rumah dengan nomor 76 yang terpasang pada tembok depan. Rumah itu tak terlalu bagus namun terlihat terawat. Dinding-dindingnya kokoh terbangun. Beberapa hiasan bergaya Jawa terpasang di tembok depan. Sebuah kentongan berbentuk cabai merah besar tergantung di dekat pintu depan. Pada samping rumah terlihat pintu yang terbuat dari seng yang terkesan ditutup sekenanya saja. Dari kejauhan Sena bisa menerawang halaman dalam rumah dari celah pintu itu. Ada dilihatnya tali jemuran dan berbagai macam pakaian tergantung di sana.

“Apakah menurutmu kakakku tinggal di sini, Jeng?”, tanya Sena.

“Mungkin saja.”

“Kau yakin di sini tempatnya?”

“Entahlah. Tapi setidaknya nomor rumah ini sama dengan yang ada di dalam kertas catatanmu”, Ajeng menggumam. Ia kemudian berkata lagi:

“Bagaimana kalau kita ketuk rumah ini dulu?”, Ajeng menyarankan.

“Benar, mari.”

Tiba-tiba terdengar suara orang, suara perempuan berkata keras sambil menunjuk pintu seng yang ada di samping rumah: “Kalau kalian mau ketemu orang kos, masuk saja, lewat pintu sebelah sono, noh”

Kedua remaja itu membalikkan kepala mencari arah suara yang berkata pada mereka. Suara itu berasal dari halaman sebuah rumah yang terletak tepat di depan rumah bernomor 76 itu. Seorang perempuan, berumur sekira limapuluh lima tahun terlihat memegang sapu lidi. Nampaknya ialah yang baru saja bicara.

“Maksud ibu, rumah ini tempat kos?” tanya Sena. Ia berjalan mendekati pagar rumah perempuan tua itu. Yang ditanya mengangguk. Ia kemudian berkata:

“Rumah itu memang rumah kos, ada banyak yang tinggal dari situ.”

Demi mendengar jawaban dari perempuan itu Sena menjadi bergairah. Ia kemudian bertanya lagi:

“Mungkin ibu kenal kakak saya Yanti? Dia dari Jawa Tengah, Kutoarjo.”

Perempuan yang memegang sapu itu tertawa terkekeh. “Semua yang kos di situ juga kebanyakan orang Jawa.”

“Oh…,” ujar Sena. Sekejap dalam hati ia merasa kesal melihat perempuan tua di depannya itu mentertawakannya.

“Coba kau tanyakan apakah dia kenal dengan kakakmu,” Ajeng membisik dekat telinga Sena. Dengan begitu pemuda itu bisa merasakan hembusan nafasnya, membuat konsentrasinya menghilang.

“Mungkin Ibu kenal dengan kakak saya, namanya Yanti,” Sena berkata ramah, tersadar kembali dari alam khayalnya. Hatinya masih saja kesal dengan tawa perempuan itu, namun ia sadar, ia membutuhkan bantuan darinya.

“Aku tidak mengenal nama itu. Yang kukenal hanya mereka yang mencucikan baju padaku. Itupun terkadang aku tak tahu persis namanya. Aku hanya mengenal wajahnya saja,” perempuan itu menjawab tak acuh kemudian meneruskan menyapu. “Mengapa kalian tak masuk saja ke dalam sana?”

Dengan begitu Ajeng dan Sena berjalan memasuki halaman rumah itu. Dibuka pintu samping oleh Ajeng, dan segera ternampak beberapa kamar berderet terlihat begitu memanjang. Kamar kos. Sena bisa mengenalinya. Setiap kamar mempunyai tempat sepatu sendiri. Akan tetapi, untuk menjemur pakaian, nampaknya setiap penghuni harus pandai berebut lahan, karena tali jemuran yang tersedia sangat pendek untuk pakaian begitu banyak kamar. Sena dan Ajeng masih saja berdiri di depan pintu seng yang telah sedikit terbuka itu.

“Kepada siapa kita harus bertanya?, semua kamar nampaknya sepi. Mungkin karena mereka bekerja?”

“Ya, barangkali begitu. Hey lihat itu ada seseorang datang kemari. Barangkali ia bisa membantu kita,” Sena menunjuk pada seorang perempuan bertubuh sintal berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun yang sedang menenteng sebuah ember. Nampaknya hendak mengambili jemurannya yang telah mengering.

Sena menegur:

“Maaf Mbak, boleh kami mengganggu sebentar?”

Perempuan itu menoleh. Diletakannya ember berwarna merah di tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah pintu samping.

“Mencari siapa, dik?” tanyanya ramah.

“Maaf Mbak, saya mencari kakak saya yang bernama Yanti”

“Yanti?”, perempuan itu nampak mengernyitkan dahinya.

“Ya, Mbak, Yanti namanya. Adakah Mbak mengenal dia?”

“Yanti yang mana, dik? Di sini ada dua Yanti. Yanti yang pertama, orang Padang. Nama lengkapnya Noviyanti. Ia sedang bekerja di pabrik.”

“Bukan, kakak saya dari Kutoarjo,” Seno memotong.

“Kutoarjo?”

“Ya”

“Oooh.., maksudmu Haryanti?” perempuan itu menjawab cepat. Menebak.

“Benar Mbak, kakak saya bernama Haryanti. Haryanti Puji Lestari,” sahut Sena gembira. “Tentu saja aku mengenalnya. Saat ini ia sedang bekerja. Sebaiknya adik kalau kemari jangan pada jam begini, percuma saja, semua sedang bekerja.”

“Bekerja?”

Perempuan itu mengangguk membenarkan. “Kakakmu Yanti bekerja di pabrik sepatu tak jauh dari sini. Ia baru kembali selepas Ashar nanti. Datanglah nanti malam atau esok, aku akan memberitahukan pada kakakmu.”

“Oh jadi Mbak pemilik rumah ini?” kali ini Ajeng ikut bergabung dalam pembicaraan.

“Tidak, tidak,” perempuan muda itu berkata sambil tertawa. Ia kemudian menjelaskan: “Aku hanya mengontrak kamar ini seperti kakak kalian. Suamiku saja yang bekerja.”

“Ohh..”, Sena dan Ajeng menjawab serempak. Sekaligus mereka berdua tahu, bahwa penghuni kamar kos adalah laki-laki dan perempuan.

“Kakak kalian baru akan kembali nanti Sesudah ashar. Biasanya ia segera kembali, dan tidak kemana-mana lagi.”

“Bagaimana Ajeng, apakah kita akan pulang dahulu dan kembali ke mari esok pagi-pagi sekali?” Sena bertanya.

Ajeng terdiam dan nampak berfikir. Bintik kecil keringat nampak bermunculan di keningnya. Berkata kemudian: “Terserah kau Sena, engkau yang lebih mengerti. Kapan engkau haru kembali pulang ke Kutoarjo?”

“Bapakku mengatakan kalau aku harus secepatnya pulang jika telah bertemu kakak,” Sena menjawab bimbang.

Tiba-tiba perempuan tadi berkata:

“Kalau kalian mau, kalian bisa menunggu kakak kalian di kamarku.”

Sena memandangi wajah Ajeng. Gadis itu hanya mengangkat bahu. Ada kegalauan baru di hati Sena. ‘Menunggu di sini? Berapa lama? Berapa jam? Kalau pulang ke rumah kos Kresna, akan makan waktu lagi, dan itu berarti esok hari aku tetap harus dan harus datang ke mari. Namun kalau aku menunggu di sini, Ajeng bisa kemalaman pulang.’

“Sudah, kalian menanti saja di sini. Kalian bisa singgah di kamarku, ayo!”, belum sempat Sena memikir lebih lama, tangan Ajeng sudah ditarik oleh perempuan itu. Ia terpaksa mengikuti. Mereka kemudian berjalan memasuki halaman dan jalan setapak samping rumah. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah kamar yang terletak di samping sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Gudang’.

“Nah ini kamarku. Kalian bisa menunggu di sini. Sebentar, akan kubuatkan kalian minum,” perempuan itu berkata. Ajeng dan Kresna buru-buru menolak, namun perempuan itu tak peduli. Ia telah bergegas ke luar kamar menuju dapur.

Kamar perempuan itu nampak sederhana. Ukurannya tidak terlalu besar. Sena mendongakkan kepala dan segera ia mengukur, luas kamar itu 4×4 meter. Tidak luas,namun juga tak terlalu sempit untuk pasangan suami isteri yang nampaknya belum mempunyai anak. Setidaknya itu disimpulkannya dari tidak adanya foto anak kecil atau bayi yang tergantung di dinding. Hanya foto perkawinan adat Minangkabau yang terpasang.

Di kamar itu ada terdapat televisi. Sebuah radio tape nampak tergeletak di atas meja. Sepertinya tak pernah digunakan. Debu terlihat menempel tebal di atasnya.

“Ini silakan diminum”, perempuan itu memasuki kamar sambil membawa tiga gelas kosong dan sebuah wadah air berisi air sirup. Dan segera saja Sena dan Ajeng menuangkan sirup yang menyegarkan itu ke dalam gelas masing-masing. Ketiga orang itu kemudian terlibat dalam perbincangan yang hangat.. Pada Ajeng dan Sena, ia memperkenalkan diri bernama Hilda. Pada Hilda Sena mengadukan apa yang baru saja mereka alami, tentang seorang Ibu yang nampaknya tinggal di rumah kos itu.

“Ah biasa. Itulah yang namanya Jakarta. Orang jarang saling mengenal. Jangan samakan dengan kehidupan di desa,” Hilda tersenyum menasihati. Ia kemudian berkata:

“Tapi tak semua orang di Jakarta begitu. Ada kalanya orang di sini bahkan lebih ramah daripada di desa.”

Sena mengangguk. Ajeng mengiyakan.

“Masih lamakah kakak saya pulang , Mbak Hilda?”.

“Kakak kalian akan datang dalam satu jam lagi, sabarlah. Santai saja menunggu di sini. Kalau kalian masih lelah, kalian bisa tidur di tempat tidurku,” kata Hilda pada Sena.

Baik Ajeng maupun Sena mengangguk hampir bersamaan. “ Terimakasih Mbak.”

“Tapi ingat, jangan tidur berdua!” Hilda tertawa. Ajeng dan Sena saling pandang untuk kemudian turut tertawa dan menjawab serempak: “Jangan khawatir, Mbak.”

“Kau tak apa-apa kalau kita pulang agak terlambat, Ajeng?”, Sena bertanya kemudian.

Ajeng menggelengkan kepalanya, menjawab:

“Tak mengapa, yang penting setelah ini kau mengantarkan aku kembali, jangan aku engkau culik ke Kutoarjo,” gadis itu berkata separuh tertawa. Sena hanya tersenyum. Hilda pun tertawa. Ketiganya kemudian kembali terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Perempuan itu menceritakan bahwa ia berasal dari Banjar Patroman, sebuah daerah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia adalah sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Suaminya yang berasal dari Padang juga sarjana. Namun persaingan kerja yang ketat dan indeks prestasi yang tidak begitu tinggi ditambah ketiadaan koneksi membuat keduanya hanya pasrah menjalani hidup seperti sekarang: Hilda menganggur, dan suaminya rela menjadi tenaga pengamanan pabrik. Menjadi satpam. Pada Sena dan Ajeng perempuan itu berkata bahwa ia sungguh berharap, suatu saat karir suaminya akan naik, dan ijazah sarjananya dipertimbangkan.

Menit demi menit berlalu. Pada Sena dan Ajeng, Hilda bercerita bahwa ia sering mendengar sepak terjang kakak Sena dari suaminya. Berkata Hilda kemudian:

“Kakakmu itu perempuan pemberani. Ia selalu menjadi pemimpin unjuk rasa buruh. Berkali-kali ia memimpin demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum dan protes terhadap pengusaha dan negara tentang keselamatan kerja.”

“Demonstrasi?”, Sena bertanya. Ada rasa terkejut dalam hatinya. Kakak? Menjadi pengunjuk rasa? Kakak yang pendiam itu? Rasanya tak mungkin…

“Ya. Ia pernah ditahan beberapa hari di kantor polisi. Ia sungguh berani. Ia berani berkorban dan berjuang tidak saja untuk harga dirinya, tapi untuk karyawan yang jumlahnya ribuan. Ia tak peduli akan keselamatan dirinya sendiri, sekalipun ia sering mendapat ancaman dan teror,” Hilda melanjutkan lagi.

“Aku tak pernah mengetahui hal itu,” Sena masih tak percaya.

“Engkau adiknya sendiri tak pernah tahu? Sungguhkah?” perempuan itu mengernyitkan dahinya keheranan.

“Ya, aku tak pernah mengetahui. Sudah empat tahun ini aku tak berjumpa dengannya.” Sena kemudian menceritakan semuanya tentang kakaknya Yanti pada Hilda. Perempuan itu hanya mengangguk angguk tanda mengerti.

Tiba-tiba terdengar suara serombongan orang memasuki halaman. Hilda segera beranjak dari duduknya. “Mungkin itu kakak kalian!” Ia bangkit dan mengintip dari jendela kamar, kemudian dengan wajah berseri-seri ia menatap wajah Sena dan Ajeng, berkata:

“Ya benar, ia sudah pulang. Nah, sekarang kalian bisa menjumpainya.”

“Sungguh? Kalau begitu kami minta diri. Terimakasih Mbak Hilda, maaf kalau kami jadi merepotkan,” kedua remaja itu serempak menjawabi.

“Ah tidak mengapa. Lupakan saja. Aku senang berkenalan dengan kalian. Mari aku antarkan aku ke kamar kakak kalian,” Hilda berkata dengan senyum mengembang di bibirnya.

Dan ketiganya kemudian segera bangkit dan menuju ke luar kamar. Hilda menghampiri rombongan perempuan berbaju seragam biru yang baru masuk. Dipanggilnya salah seorang dari rombongan perempuan yang baru saja masuk itu.

“Yanti..”

“Ya,” perempuan bernama Yanti itu menoleh. Tersenyum.

“Ada adikmu mencari…”

Seorang berambut panjang sebahu dengan baju biru, sama seperti yang dikenakan kawan perempuannya yang lain nampak menoleh. Wajahnya tersenyum, namun demi dilihatnya Sena, senyumnya berubah menjadi kekagetan yang amat sangat. Agak lama ia tercenung. Sena juga tak mampu berkata-kata. Apa yang dilihatnya adalah kakaknya sendiri. Darah dagingnya sendiri. Ia tak mampu memanggil keras.

“Sena kah kau?”, perempuan itu berjalan mendekati Sena. Jalannya dipercepat.

“Ya Kak.” Sena kini mampu berkata-kata, ada gemuruh di dadanya demi melihat saudara kandung yang sudah empat tahun tak pernah dilihatnya. Dihampirinya kakak perempuannya itu. Keduanya berpelukan terharu. Yanti mengucapkan terimakasih pada Hilda karena telah menyediakan kamar bagi adiknya untuk menunggu. Hilda hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju tempat jemuran, mengambili pakaiannya.

“Kau masih saja kurus, Sena. Kau harus banyak makan. Laki-laki harus terlihat gagah. Kau tidak sakit kan? Kau masih merokok?”, perempuan itu mengguncang-guncang pundak Sena dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan lainnya. Sena hanya tertawa bahagia. Ia senang melihat kakaknya kembali setelah empat tahun berpisah. Diceritakannya bagaimana sampai ia dapat mencari alamat tinggal kakaknya itu. Yanti hanya mengangguk-angguk kemudian berkata:

“Marilah masuk ke kamarku.” Dan ketiga orang itupun berjalan beriringan menuju ke sebuah pintu diantara beberapa pintu kamar kos itu.

“Ayo masuk. Ajak kawanmu serta, ayo!”

“Baik kak,” kata Sena. “Ayo Ajeng, masuk.”

Ajeng tidak menjawab, namun mengangguk pasti. Dilepaskannya sandal seperti Sena melepas sepatu ketika memasuki kamar Yanti kakak perempuannya itu. Sore hari telah menjelang. Cahaya di langit mulai meredup seiring melembutnya sinar mentari. Warnanya kini menjadi kuning keemasan. Awan yang ada berwarna kelabu keputihan. Dan suara kendaraan yang menggemuruh dari jalan raya serta deru pesawat terbang yang melintas sekali sekali masih terdengar lamat-lamat dari rumah kos yang besar itu. Satu persatu penghuni kamar di rumah itu kembali dan memasuki kamar masing-masing…

BAGIAN IV

 

Kamar yang ditempati Yanti tidak begitu luas, setidaknya jika dibandingkan dengan kamar Hilda. Namun begitu, ketiga orang itu masih dapat melakukan shalat ashar bersama dengan menggeser meja dan kursi yang ada di dalamnya. Pada dinding dekat pintu tergantung sebuah foto ukuran kartu pos dengan pigura model lama. Walau sudah mulai rusak karena lembabnya tembok, masih dapat terlihat seorang gadis muda berambut panjang sedang menggendong seorang anak lelaki kecil. Anak lelaki yang ada di gendongannya itu tak lain adalah Sena. Di belakang nampak berdiri kedua orangtuanya. Bapaknya berbaju batik, berpeci, berkumis, dan berkulit hitam gelap. Sedangkan Ibunya mengenakan kerudung dengan sorot mata yang lugu. Perempuan itu adalah ibunya. Foto itu diambil duapuluh satu tahun silam di Pantai Ayah, Kebumen.

Di samping dipan tempat tidur terdapat sebuah meja tulis. Di atasnya berderet rapi dan teratur berbagai buku hukum dan politik serta buku-buku mengenai perburuhan dan perundangan tentang ketenagakerjaan Di dinding tepat di atas meja belajar tertempel poster seorang perempuan yang sedang berteriak mengepalkan tangan dengan tulisan besar di bawahnya ‘Lindungi Hak Reproduksi!’. Tepat di samping poster itu tergantung foto Yanti dengan seorang yang dikenal Sena sebagai kekasih kakaknya bernama Ardi. Dari pakaian yang mereka kenakan di foto itu, Sena segera paham bahwa kakaknya telah menikah dengan Ardi pilihan hatinya itu.

“Bagaimana kabar Bapak dan Ibu, Sena? Oh ya, aku belum mengenal kawanmu ini, siapa namanya?”, Yanti mengulurkan tangannya pada Ajeng dan segera memperkenalkan diri. Ajeng menyambut uluran tangan dan menyebutkan namanya pula.

“Sudah lama kalian bersama-sama?” Yanti bertanya lagi.

“Kami baru mengenal semalam, Kak. Ajeng tinggal tak jauh dari rumah kawanku di pinggiran Jakarta Selatan. Kebetulan hari ini kawanku itu tak bisa menemaniku mencari rumah kosmu di Jakarta ini. Maka, Ajeng lah yang aku minta untuk menemani,” Sena menjawabi, tak segera mengatakan kabar orang tuanya.

“Ohh…begitu. Jadi kalian ini baru saling kenal…,” Yanti mengangguk-angguk.

“Kakak masih saja menyimpan foto itu?” tanya Sena. Tangannya menunjuk pada foto keluarga yang dipajang kakaknya itu. Ia tak segera menceritakan kabar orang tuanya pada kakaknya itu.

“Ya, malam hari sebelum meninggalkan rumah, aku memilih foto yang saat itu paling aku sayangi. Dan jika aku merasa rindu padamu, pada Bapak dan Ibu, aku selalu melihat foto itu. Aku sering menangis melihatnya.”

“Ibu dan Bapak juga sering menangis mengenang Kakak. Aku rasa mereka berdua rindu sekali pada Kakak, terutama Ibu.”

“Ya, aku mengerti. Aku tak mempunyai masalah dengan Ibu. Aku hanya mempunyai perbedaan pendapat dengan Bapak. Saat itu Bapak sudah sedemikian rupa hendak memaksaku kawin dengan Irsyad.”

Yanti berhenti sejenak. Seorang gadis penghuni kos mengetuk pintu dan kemudian bercakap cakap dengannya. Ia kemudian merogoh uang dari dompetnya, dan diberikan kepada gadis itu.

“Uang dukacita. Salah seorang ayah dari penghuni kos ini meninggal”, ia menjelaskan pada Sena dan Ajeng. Sena menyambung kembali pembicaraan:

“Jadi kakak telah menikah dengan Mas Ardi?”

“Ya,” Yanti menjawab pendek. Agak lama kemudian ia berkata:

“Aku memang menolak untuk kawin dengan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak. Tidak. Aku tidak pernah mengenalnya, dan aku memang tidak menyukainya. Bukan karena Irsyad tidak baik. Sama sekali bukan. Akan tetapi apapun alasan aku tidak menyukainya biarlah itu menjadi rahasia pribadiku yang aku rasa aku tak perlu ceritakan pada orang. Cinta tak bisa dipaksa.”

“Ada kudengar sampai kini Irsyad tidak mau kawin dengan siapapun,” kata Sena.

Yanti tidak menjawab. Perempuan itu terdiam.

Sena menghela nafas. Ia kemudian bertanya:

“Kakak tidak menyesal dengan keputusan kakak?”.

“Apa maksudmu?”

“Kakak bahagia meninggalkan rumah? Kakak tidak rindu pulang?”

Yanti tidak segera menjawab. Diambilnya gelas kosong dan diisinya dengan air sirup.

“Akupun tak tahu,” Yanti mengangkat kedua bahunya. “Permasalahan yang kuhadapi bukan rindu atau tidak rindu untuk pulang. Tentu aku sangat rindu rumah dan ingin pulang. Yang menjadi persoalan utama adalah sanggupkah aku tetap konsekuen dengan pendirianku.”

“Apa maksud kakak dengan konsekuen?”

Yanti tak segera menjawab pertanyaan Sena. Diambilnya gelas yang sudah terisi penuh air sirup, dan diminumnya perlahan sampai habis. Berkata perempuan itu kemudian:

“Begini, aku memutuskan daripada harus kawin dengan Irsyad, lebih baik aku keluar dari rumah dan hidup mandiri. Itu kulakukan semata karena saat itu aku tak mau aku sebagai anak semakin berhutang budi pada Bapak dan dipaksa membalas budi dengan melakukan hal yang tak aku sukai.”

“Kakak dan Mas Ardi langsung ke Jakarta?”

“Tidak”, Yanti menjawab cepat. Ia kemudian melanjutkan:

“Pada awalnya kami pergi ke Semarang. Sekitar empat bulan kami tinggal di sana. Mas Ardi mendapat pekerjaan sebagai penjaga dealer sepeda motor. Aku bekerja di sebuah pabrik tekstil di Ungaran.”

“Lantas mengapa kemudian kakak ke Jakarta?”

“Walau kami berdua bekerja, penghasilan kami berdua masih terlalu kecil. Maka dari itu kami memutuskan untuk sekalian saja mengadu nasib Jakarta, mencari penghidupan yang lebih baik.”

“Hingga kakak bekerja di pabrik sepatu seperti sekarang ini?”, tanya Sena.

Yanti mengangguk. Ia berkata:

“Ya, mendaftar menjadi buruh adalah pilihan termudah saat itu. Aku sadar, aku hanya berpendidikan SMA. Tapi aku tak mau menjadi orang yang tidak menyusahkan orang lain sekalipun itu suamiku sendiri. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri, menolong diriku sendiri,” perempuan itu menjawab perlahan namun tegas. Ketegasan yang dirasakan sebagai hal baru oleh Sena. Kakaknya yang dahulu, yang meninggalkan rumah hanyalah seorang perempuan biasa, gadis pinggiran kota kecil yang lemah lembut.

“Kalau kakak sudah menikah, maka di mana suami kakak sekarang?”, Sena bertanya lagi. Ia merasa agak heran, mengapa ada kesan seolah kakaknya tinggal di kamar itu sendirian. Tak ada ia melihat sepatu atau pakaian dan jaket lelaki tergantung di kamar kakaknya itu.

Agak lama ia mendapatkan jawaban, ketika kemudian Yanti berkata: “Saat ini aku memang tinggal sendirian di kamar kos ini.”

“Lantas di mana sekarang Mas Ardi?”

“Korea. Sudah dua tahun ini ia bekerja di sana. Tadinya ia bekerja di pabrik yang sama, di pabrik sepatu tempatku bekerja. Namun ia memutuskan untuk keluar negeri. Korea menjadi pilihannya. Aku bisa mengerti. Aku setuju dengan keputusannya karena bekerja di luar negeri bisa mendatangkan uang yang jauh lebih banyak dari bekerja di negeri sendiri.”

“Aku dengar kerja di luar negeri perlu modal yang besar untuk berangkat. Paling tidak butuh sampai limabelas bahkan duapuluh juta,” Ajeng menyela

“Kau benar, Ajeng. Kebetulan orangtua suamiku mendorongnya untuk berangkat ke luar negeri. Mereka menjual sawah untuk modal. Kata mereka, kalau suamiku sudah pulang kembali dari negeri orang, sebagian penghasilan yang didapat bisa untuk menebus kembali tanah yang telah dijual. Alhamdulillah, baru satu tahun bekerja ia sudah dapat mengirim uang pada orang tuanya untuk dapat dibelikan sawah kembali.”

Berbagai cerita kemudian mengalir lancar dari mulut Yanti. Perempuan itu berharap, sepulangnya suaminya bekerja dari Korea nanti mereka akan mampu membeli rumah sendiri di Bekasi walaupun kecil-kecilan. Ia juga berkeinginan membuka usaha bordir dan katering. Terkadang ia tertawa, terkadang berkata lirih dan seolah terisak. Ada kalanya nadanya datar dan ketus. Sesekali Sena menimpali perkataan kakaknya. Sesekali pula mereka saling berbantahan, berbicara dari hati ke hati dengan hangatnya.

Sementara itu Ajeng lebih banyak mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh Yanti dan Sena. Gadis itu memandangi dinding kamar kos itu. Tidak banyak hiasan yang dipasang. Hanya foto masa lalu dan foto pernikahan saja yang terpasang. Ada sebuah hiasan kristik yang dipasang dengan pigura. Dilihat dari piguranya kristik itu masih baru, setidaknya belum ada dua tahun.

“Kau suka kristik?”, Yanti bertanya pada Ajeng, menggoda. Yang ditanya tersenyum mengangguk. Ajeng kemudian berkata:

“Kristik itu bagus sekali, Kak. Gambar bunga mawar. Apakah kakak sendiri yang membuatnya?”

“Ya, aku membuatnya sendiri. Dahulu, ketika baru tiba di Jakarta, aku tak tahu harus berbuat apa untuk membunuh waktu,” kata Yanti. Diambilnya kristik yang tergantung di dinding dan disodorkannya pada Ajeng. “Ini ambillah untukmu.”

“Ah, tidak usah kak.”

“Ambillah. Aku bisa membuatnya lagi lain kali.”

Ajeng menolak namun Yanti terus memaksa.

“Terimakasih, Kak,” mata Ajeng bersinar-sinar menerima pemberian kakak Sena itu.

“Kak,” Sena mulai bicara lagi. Agak ragu ia memulai, namun ia sadar, bahwa cepat atau lambat, kabar tentang Ibu harus segera disampaikannya. “Kak, terus terang Bapaklah yang menyuruhku untuk pergi ke Jakarta dan mengajakmu untuk kembali ke rumah.”

“Aku sudah menduga. Bapak yang menyuruhmu,” Yanti menjawab dengan nada tak senang.

“Ibu sakit. Ibu mencari kakak terus. Kami semua sudah putus asa. Ibu sudah tak bisa dibujuk-bujuk lagi untuk bersabar. Bapak berharap, kakak mau kembali. Bapak berjanji, kalau kakak pulang, ia akan menerima kakak dan mas Ardi pulang dengan tangan terbuka”.

Yanti terdiam kini. Ia nampak terkejut mendengar perkataan Sena. Sejenak ia tak berkata-kata seperti merenungi sesuatu. Kepalanya kemudian menunduk. Wajahnya nampak keruh dan bingung mencerminkan kegelisahan yang menghebat di hatinya.

Sena melanjutkan lagi, berkata perlahan: “Aku tidak bohong. Percayalah padaku. Bapak sungguh-sungguh berharap kakak mau pulang. Bapak sudah tidak murka lagi pada kakak dan mas Ardi. Yang penting sekarang di hati Bapak adalah kepulangan kakak demi sembuhnya Ibu.”

“Bapak pernah berkata, bahwa ia tak akan pernah merestui hubungan kami…,” sahut Yanti.

“Sekali lagi kukatakan padamu Kak, kalau Bapak sudah mau menerima kalau kakak telah menikah dengan mas Ardi,” Sena berkata perlahan-lahan namun bersungguh-sungguh. Ia tahu benar, empat tahun silam kemarahan Bapak pada kakaknya itu sangatlah besar. Dan Yanti kakaknya menjadi terluka, serta memutuskan untuk lari dari rumah.

Yanti terdiam. Wajahnya memancarkan raut kesedihan. Sena menggeser duduknya beringsut menuju pintu dan mulai merokok, menunggu jawaban keluar dari mulut kakaknya.

Kini kamar itu hening tanpa suara. Yang terdengar hanyalah denting mangkok pedagang bakso serta gelak tawa perempuan-perempuan penghuni kos yang sedang mengantri di depan kamar mandi. Beberapa diantaranya nampak sebaya dengan Ajeng. Mereka nampak gembira dan melirik-lirik pada Sena, dan kemudian tertawa tergelak-gelak. Walau tak dapat jelas mendengar apa yang mereka perbincangkan, Sena bisa menebak: kebanyakan mereka berasal dari pesisir utara Jawa Barat. Sena melempar senyum yang disambut dengan tawa meledak riuh.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin pulang,” tiba-tiba Yanti berkata.”Namun sering aku berfikir, tak mungkin Bapak akan mengampuniku. Kau tahu betapa tidak senangnya Bapak pada mas Ardi, hanya karena ia saat itu belum bekerja.”

Sena mengangguk.

“Dan ia sangat yakin kalau aku kawin dengan Irsyad aku pasti akan lebih bahagia.”

“Aku bisa mengerti jalan pikiran Bapak.”

“Tidak hanya kau, akupun bisa mengerti. Yang tak bisa kumengerti adalah mengapa Bapak begitu memaksaku,” Yanti berkata meninggi.

“Tapi, demi mendengar kabar Ibu seperti sekarang, aku semakin ingin pulang. Aku lega mendengar Bapak sudah dapat menerima mas Ardi.”

“Kita pulang bersama-sama. Esok aku pulang dengan kereta api senja”.

“Aku tak bisa pulang sekarang, tidak dalam waktu dekat ini,” Yanti berkata perlahan.

“Mengapa?” Sena bertanya. Dihalaunya asap rokok yang mengalir melayang menuju ke dalam kamar. Ia menatap wajah saudaranya itu dengan sungguh-sungguh.

“Karena banyak yang harus aku kerjakan di minggu belakangan ini. Minggu depan Aku harus siap untuk terbang ke Manila.”

“Ke Manila? Filipina? Untuk Apa?” Sena terheran-heran. Kakaknya itu, perempuan lugu yang kini menjadi pekerja kota hendak ke luar negeri?

“ Menghadiri konferensi buruh.”

“Konferensi buruh?”

“Ya konferensi buruh perempuan se Asia Tenggara. Aku adalah perutusan dari negara kita bersama dengan dua teman lainnya.”

“Kakak diundang ke sana?” Sena masih tak percaya.

“Ya”

“Tapi bagaimana dengan Ibu…” Sena tidak melanjutkan lagi, karena kakaknya itu telah memotong:

“Aku sadar, kesembuhan dan kesehatan Ibu sangat penting. Tapi, yang akan aku lakukan juga tak kalah pentingnya, Sena. Aku akan memperjuangkan kepentingan buruh perempuan. Aku akan menyampaikan makalah mengenai hak kesehatan dan keselamatan kerja bagi perempuan.”

“Dalam bahasa Inggris?”

“Ya, dalam bahasa Inggris.”

“Kakak bisa berbahasa Inggris?”

“Tidak begitu baik. Tapi setidaknya orang dapat mengerti apa yang aku maksudkan Oleh karena itu aku terus belajar dan banyak membaca supaya bahasa Inggrisku membaik.”

“Kakak hebat,” Sena menjadi kagum. “Menyampaikan makalah dalam bahasa sendiri di sebuah forum resmi saja aku belum pernah, apalagi dalam bahasa Inggris.”

“Aku harap apa yang aku sampaikan bisa menjadikan tekanan untuk penguasa dan pengusaha di Asia Tenggara agar lebih memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan kerja bagi kaum pekerja, terutama buruh perempuan,” kata Yanti bersemangat. Berkata ia lagi, melanjutkan:

“Aku sudah rindu pulang, Sena. Tapi apa yang aku lakukan ini juga sangat penting, dan diharapkan oleh banyak buruh perempuan seperti aku. Ah, aku jadi bingung. Mudah-mudahan aku bukan anak durhaka karena tak segera menengok Ibu.”

“Aku bisa mengerti apa yang kau fikirkan,” Sena berkata kemudian. Dihisapnya rokok dengan perlahan dan dihembuskannya asap secara perlahan pula. Ajeng terbatuk-batuk membaui asap rokok Sena. Pemuda itu kemudian sibuk mengusiri asap agar tidak memasuki ruangan. Ia berkata lagi:

“Akan tetapi aku khawatir dengan apa yang kau lakukan,” Sena berkata perlahan.

Yanti mengernyitkan dahinya, berkata: “Maksudmu?”

Sena tak segera menjawab: “Aku rasa Bapak dan Ibupun akan semakin mengkhawatirkanmu kalau mereka mendengar Kakak sering ikut kegiatan buruh dan berdemonstrasi.”

“Darimana kau tahu kalau aku sering berdemonstrasi? Darimana kau mengetahui semua ini? Ah…pasti Hilda yang telah menceritakan segalanya padamu.”

Sena mengiyakan kata-kata kakaknya itu. Ia mengangguk.

“Kak”, kata Sena lagi. “Aku takut terjadi sesuatu padamu…”

“Maksudmu, kau takut aku akan mengalami nasib seperti Marsinah?”, Yanti memotong, seolah tahu apa yang dipikirkan adik lelakinya itu. Ia tersenyum, tidak cukup lebar untuk menunjukkan gingsul giginya. Diraihnya kembali gelasnya yang telah kosong itu dan diisinya dengan air sirop untuk kemudian diteguknya perlahan. Sena dan Ajeng hanya memandangi saja. Azan maghrib terdengar berkumandang, dan mereka bertiga terdiam dalam lamunan masing-masing, dalam pikiran masing masing.

“Kau tak perlu khawatir,” Yanti berkata kemudian ketika suara azan telah usai dikumandangkan. Ia menyambung lagi:

“Dalam perjuangan selalu ada pengorbanan. Sekecil apapun konsekuensi perjuangan harus kita terima dan perhitungkan. Oleh karenanya kita harus berjuang dengan sungguh sungguh dan dengan pemikiran matang. Tidak serampangan, dan mengawur saja. Tidak. Semua harus jelas dan dipahami dengan sadar, supaya orang juga tidak mudah mematahkan perjuangan kita. Dengan berbuat sesuatu bagi sesama kita, kita tak akan menyesal pernah hidup, pernah tinggal menyesaki bumi ini,” buruh perempuan itu berkata tidak keras tidak pula perlahan, namun terdengar menghujam di hati Sena. Ia berkata lagi:

“Engkau adalah mahasiswa.”

“Aku sudah lulus, Kak,” Sena memotong.

“Oh ya?”

“Ya, sudah dua tahun ini.”

“Sudahkah engkau mendapat pekerjaan?”

Sena kemudian menceritakan apa yang telah menjadi keputusannya untuk berwiraswasta. Ia menceriterakan pula apa yang menjadi kesibukannya kini, peternakan puyuh kecil-kecilan miliknya, jual beli motor dan apa saja yang dilakukannya di Kutoarjo. Yanti mengangguk-angguk memahami.

“Nah, engkau sudah lulus. Sebelum aku lari dari rumah, pernah aku dengar dari Bapak bahwa engkau pun aktif dalam kegiatan mahasiswa. Itu berarti engkau pun mengerti betapa beratnya perjuangan untuk menciptakan keadilan di negeri ini.”

“Ya, tentu saja,” sahut Sena. “Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Namun dengan berjuang, dengan berbuat sesuatu, hidup kita lebih berarti untuk kemanusiaan. Kita semakin menjadi manusia.”

“Persis,” sahut Yanti. Ia melanjutkan:

“Sudah sejak jaman dahulu, ketika negara ini belum lahir, Kartini memberikan pesan moral kepada kita semua, bahwa kita mestilah menjadi manusia yang berguna. Dan pesan-pesan moral Kartini itu dilakukannya jauh sebelum kita lahir ke dunia ini, dan ketika ia berada di usia yang jauh di bawahku sekarang ini.”

Sena terdiam mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya. Ia tak pernah membaca tulisan Kartini ataupun biografi pahlawan perempuan asal Jepara itu. Pun ia tak pernah membaca buku-buku yang berkaitan dengan pemikiran Kartini Yang diketahuinya tentang Kartini dari pelajaran sejarah di sekolah hanyalah ceritera tentang seorang putri bupati Jepara yang membina korespondensi dengan seorang perempuan Belanda, Nyonya Abendanon, dan surat-suratnya itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku oleh suami Nyonya Abendanon. Yang ia ketahui hanyalah bahwa Kartini memperjuangkan persamaan hak bagi kaum perempuan, emansipasi wanita. Lebih dari itu tidak pernah mendengar.

“Kartini tidak saja berjuang bagi perempuan, tapi ia menentang segala jenis perbudakan dan penghambaan manusia kepada manusia lainnya. Ia mendambakan persamaan hak tidak saja antara perempuan dan lelaki, tapi juga manusia yang satu terhadap manusia yang lain. Ia mencita-citakan kesejajaran.”

“Tentulah Kartini mempunyai keberanian yang lebih yang luarbiasa untuk ukuran jamannya pada masa itu, kak?” Ajeng membuka suaranya.

“Tepat sekali. Kartini melakukan hal itu, mengeluarkan pikirannya bukannya tanpa resiko. Untuk masa itu, lebih dari seratus tahun lalu dari sekarang, apa yang diimpikannya bagi rakyat pribumi adalah suatu kemewahan. Ada beberapa golongan baik di Hindia Belanda maupun di Negeri Belanda yang tak menyukainya,” Yanti menyambung.

“Yang tak suka pastilah mereka yang berpihak pada pemerintah kolonial,” Ajeng menebak.

“Benar. Mereka yang diuntungkan oleh penjajahan. Namun Kartini memilih untuk tidak tinggal diam dan menyerah. Ia tak mau hidup dalam pingitan seperti kebanyakan puteri bangsawan lainnya, yang mati yang lahir, tumbuh, kawin, mati kemudian terlupakan begitu saja oleh sejarah. Ia sibukkan dirinya dengan membaca dan menulis.”

“Ia memilih untuk menulis, mengeluarkan pikirannya. Ia mempunyai keinginan untuk maju dan bersekolah ke Negeri Belanda. Sayang, ia tak pernah sampai ke Belanda. Kalau ia bisa meraih sarjana di sana, pastilah lebih banyak lagi pemikiran-pemikirannya hebat yang dihasilkannya. Sayangnya lagi, ia mati dalam usia yang masih sangat muda,” ujar Ajeng.

“Betul sekali,” Yanti berkata senang.

“Kau pernah membaca buku tentang Kartini rupanya Ajeng?” Sena memandang pada Ajeng dengan heran. Ajeng mengangguk.

“Aku pernah membaca buku-bukunya dari perpustakaan daerah sewaktu aku masih di Temanggung. Aku juga ingin seperti Kartini. Aku tidak mau kawin begitu saja setelah lulus sekolah. Kawin, mengurus anak, melayani suami. Aku ingin maju dan memperoleh pendidikan dan pengalaman sebanyak aku bisa,” kata Ajeng lagi.

“Benar Ajeng. Aku dan kau lahir di jaman ini, di jaman serba mudah dan kontrol masyarakat terhadap penyelenggara negara ini lebih baik dari jaman Kartini, lebih baik dari jaman Marsinah. Aku berjuang di masa yang lebih baik daripada Dita Indah Sari4 yang sempat dipenjara oleh pemerintahan Soeharto. Aku berjuang di masa reformasi, di masa pembaharuan. Tidak, aku tak boleh menjadi penakut. Mereka bukan penakut. Marsinah boleh dianiayan dan dibunuh, tapi aku tidak boleh menjadi penakut. Ketakutan akan menyuburkan penindasan,” Yanti berkata berapi-api. Wajahnya yang tadinya putih itu kini memerah, seperti meluapkan perasaan hatinya. Ada kemarahan terhadap ketidakadilan yang ditangkap Sena di wajah kakaknya itu. Wajah yang dahulu lugu, yang tiga tahun lalu dikenalnya masih sebagai gadis pemalu. Kini apa yang ia lihat bukanlah seperti apa yang ia lihat tiga tahun silam. Kini yang ia lihat adalah singa betina yang murka, yang mengaum dan siap mencakari siapa saja yang menentang dirinya. Kini yang ada di depannya adalah seorang perempuan dengan kesadaran penuh, yang walaupun tak ternama berani berjuang untuk diri dan sesamanya. Dan yang didepannya itu adalah bagian dari kehidupannya sendiri: kakak kandungnya, yang sedarah dan sedaging dengannya.

“Tapi masa reformasi tidak selalu berarti sudah aman, Kak. Di masa Soeharto, Munir yang banyak mengkritik kebijakan pemerintah tak diapa-apakan. Kini, jauh hari setelah reformasi ia malah mati diracun!”.

“Kau benar. Orang-orang sebelum Munir seperti penyair Wiji Thukul pun entah sekarang di mana. Hilang dan tak pernah ada kabar. Mungkin sudah mati dibunuhi,” Yanti menghela nafas. Disibakannya rambutnya ke belakang. Ia kemudian berkata lagi:

“Masa reformasi , turunnya Soeharto, tidak lantas menjadikan semua hal menjadi baik dengan sendirinya. Segala sesuatu yang busuk peninggalan masa lalu selama tidak diungkap akan tetaplah membusuk.”

“Dan menggerogoti serta mengancam,” Sena menimpali.

“Ya menggerogoti. Apa saja digerogoti uang, kejiwaan, kewibawaan dan kepercayaan serta darah rakyat. Selama manusia Indonesia tidak sadar akan hak-haknya, dan tidak mempunyai keberanian untuk memperjuangkan haknya, maka selamanya pula mereka akan tertindas, termasuk kaum perempuan buruh seperti kami yang posisinya saja sudah lemah ketika berhadapan dengan modal besar!”

“Aku mengerti, Kak. Aku mengerti apa yang kau cita-citakan.”

“Aku senang mendengarnya. Setidaknya engkau bisa memahami aku. Setidaknya engkau bisa memahami mengapa aku tidak akan segera pulang dalam waktu satu dua hari ini, atau mungkin satu dua minggu ini. Aku sangat mengkhawatirkan kesehatan Ibu. Tapi akupun akan menyesal kalau aku tidak bisa berbuat yang terbaik untuk mereka yang senasib denganku,” Yanti berkata pada Sena, kali ini nadanya melunak. Ia berkata lagi kemudian:

“Aku harus memanfaatkan kesempatan untuk memperjuangkan apa yang sudah seharusnya menjadi hak kami. Agar perusahaan-perusahaan di negeri ini lebih memperhatikan kesejahteraan kami. Agar kami mendapat perlakuan yang manusiawi kala kami bekerja dan mendapatkan menstruasi. Agar kami mendapatkan perlindungan kesehatan yang layak ketika kami hamil. Agar kami mendapat upah yang sama dengan pekerja laki-laki. Perempuan adalah ibu dunia. Semua manusia dilahirkan dari perempuan. Hanya dari perempuan yang sehatlah lahir manusia-manusia yang sehat. Jika kami ini sakit dan terperas, akan seperti apakah anak-anak yang lahir dan keluar dari rahim kami?. Apa yang akan terjadi jika kami hamil dan kami tak diberi masker sehingga menghirupi racun yang nantinya juga akan dihirupi janin di perut kami?”

“Seburuk itukah perusahaan tempat kakak bekerja?”

Yanti tersenyum sejenak, kemudian berkata:

“Tidak. Perusahaan tempatku bekerja sudah cukup baik mensejahterakan karyawan. Tapi bukan berarti itu lantas membuatku tidak peduli pada nasib teman-teman buruh yang lain, di perusahaan lain yang masih lemah. Tapi sudahlah, kalian ke sini tidak untuk mengajakku untuk berdiskusi hal itu,” perempuan itu tersenyum. Nada bicaranya melunak.

Sena mengangguk. Pun Ajeng yang tidak terlibat terlalu banyak dalam pembicaraan mengangguk pula. Ketiganya bersepakat untuk sementara waktu mengakhiri pembicaraan dengan shalat bersama. Shalat maghrib. Selesai bersembahyang, Yanti memesan tiga piring mi goreng kepada penjual bakmi dan nasi goreng yang melewati jalan depan rumah kos itu. Maka sore menjelang malam itu mereka menyantap hidangan yang lezat itu di kamar yang mungil itu. Sesekali canda tawa membahana di dalam ruangan kamar. Sejenak mereka lupa akan apa yang baru saja mereka percakapkan.

Senja semakin menggelap. Lampu-lampu kamar kos mulai dinyalakan. Ajeng melirik arlojinya. Jam tujuh malam. Gadis itu kemudian memandang gelisah pada Sena. Pemuda itu segera mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ajeng dan dengan begitu ia meminta diri pada kakaknya itu. Yanti tak menahannya.

“Insya Allah, aku akan kembali segera setelah tugasku dari Manila selesai.”

“Kami menunggumu, Kak”.

“Kapan engkau akan kembali ke Kutoarjo, Sena?”, tanya Yanti.

“Mungkin besok”

“Esok hari?”

Sena mengangguk. Berkata:

“Aku sudah berhasil menemui kakak, jadi tak ada alasan bagiku untuk berlama-lama di sini. Aku harus kembali pulang membantu Bapak menjaga dan merawat Ibu.”

Yanti mengangguk-angguk. Ia kemudian meminta Sena untuk memberi nomor telepon genggamnya. Kakak beradik itu kemudian saling bertukar nomor. Setelah itu Yanti berkata:

“Baiklah kalau begitu. Doakan saja aku bisa pulang dalam waktu dekat ini. Sampaikan sembah sujudku pada Bapak dan Ibu. Aku tak akan berhenti berdoa untuk keselamatan dan kesehatan mereka.”

“Pasti, Kak, akan aku sampaikan. Kami juga mendoakanmu selalu.”

“Aku berharap Sena, setidaknya engkau bisa berceritera bahwa aku baik-baik saja di Jakarta, dan tidak kekurangan suatu apa. Kuharap engkau juga bisa menceritakan pada Bapak dan Ibu betapa pentingnya arti kehadiranku di Manila.”

Sena mengangguk.

“Jangan lupa untuk selalu berbaik-baik dengan Pak Darno.”

“ Pak Darno?”, Sena mengernyitkan dahinya.

“Ya, aku tahu, Bapak dan Ibu tak begitu suka dengan tetangga kita itu, karena ia terus saja memasang pagar bambu yang menggerogoti batas tanah kita. Namun kalau sampai ada apa-apa dengan Ibu, pada Pak Darnolah pertama sekali kita akan meminta tolong. Ingat kita hidup di desa, dan kita tak bisa saling melepaskan diri satu sama lain. Kau mengerti?”

Sena menganguk. Yanti kemudian bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya. Antara berapa lama kemudian ia keluar dengan amplop berwarna coklat di tangan. Disodorkannya amplop itu pada Sena.

“Ini, berikanlah pada Bapak, sekedar untuk menambah biaya pengobatan Ibu. Sekali lagi, sampaikan pada Bapak dan Ibu aku akan segera pulang ke Kutoarjo begitu tugasku telah selesai.”

Segera Sena menerima amplop dari tangan kakaknya itu, dan berkata:

“Pasti akan kusampaikan Kak. Nah, kak, kami pulang sekarang,” Sena memeluk kakak perempuannya itu. Ada ia rasai berat berpisahan lagi. Ajeng menyusul mengulurkan tangannya dan Yanti mencium pipi gadis muda itu.

“Rukun- rukunlah selalu dengan adikku,” ujar Yanti dengan penuh arti. Dicubitnya lembut pipi Ajeng. Ajeng tersenyum, menunduk malu, dan mengangguk. Ia tak tahu apakah Sena mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya itu. Yanti mengantarkan keduanya hingga pintu pagar rumah kos. Sebelum berpisah ia masih sempat mencium pipi Ajeng sekali lagi. “Baik-baik dengan adikku ya…”

Sena mendengar apa yang dikatakan kakaknya, sekaligus hatinya mendesir senang karena Ajeng tak berusaha membetulkan apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya itu. Setidaknya ada harapan bahwa Ajengpun menyukai dirinya. Ia sadar bahwa ia tak pernah mengatakan bahwa Ajeng adalah kekasihnya. Hatinya sajalah yang mengatakan bahwa Ajeng adalah perempuan yang sempurna, yang menarik hatinya, yang ingin ia miliki seutuhnya. Namun ia tak tahu sampai berapa kedalaman hati Ajeng untuknya. Ia hanya dapat merasakan, dan menduga-duga tanpa dapat memastikan.

Yanti berjalan mendekat pada Sena. Seolah mengerti, Ajeng berjalan mendahului keluar dari pagar rumah dan berpura-pura mengamat-amati pohon kaktus besar yang tumbuh di halaman rumah di samping rumah kos itu. Yanti berbisik, nyaris tak terdengar:

“Apakah dia kekasihmu, Sena?”

“Dia. Emm…bukan, Kak?”

“Kau berbohong padaku!”

“Sungguh. Aku baru saja mengenalnya semalam!” seru Sena tertahan.

“Kau suka padanya?”

Sena tak menjawab. Ada rasa malu menjalari tubuh dan hatinya. Ia memang menaruh simpati pada Ajeng. Ia mengagumi Ajeng bahkan sejak pertama kali ia melihatnya dari jendela kamar Kresna. Akan tetapi ia tak mampu mengakui bahwa ia menyukai gadis itu. Ia tak menjawab.

“Aku suka jika engkau bersamanya, Sena. Apapun hubunganmu dengannya sekarang, aku berharap suatu saat nanti ia akan mendampingimu. Kalian nampak serasi jika berjalan beriringan. Ia juga cantik dan anggun. Ia juga cerdas dan mempunyai kepribadian.”

“Jangan keras-keras, Kak!” Sena berkata sambil wajahnya memberangut menahan malu. Ia melirik pada Ajeng yang ada di kejauhan. Gadis itu masih mengamat-amati pohon kaktus.

“Ya sudahlah. Terserah padamu. Engkau jualah yang akan menjalaninya. Sampai bertemu lagi adikku. Semoga kita berjumpa dalam waktu dekat ini.”

“Aku menunggu kedatanganmu, Kak”

Yanti mengangguk pasti. Ditepuknya pundak adiknya, kemudian dilambaikannya tangan pada Ajeng. “Selamat jalan, semoga selamat. Hati-hati.”

Ajeng membalas lambaian tangan Yanti. Sena berjalan menyusul. Keduanya kemudian segera berjalan menyusuri gang menuju jalan raya.

“Kakakmu itu hebat, Sena,” Ajeng berkata pada Sena ketika mereka telah berada dalam metromini. “Aku tak menyangka, orang selembut kakakmu mempunyai pemikiran yang sangat cemerlang dan jauh ke depan.”

“Ya, aku juga tak menyangka ia bisa berubah. Aku tak pernah mengetahui sepak terjangnya di Jakarta. Nampaknya sudah lama ia menjadi aktivis.”

“Sepertinya begitu. Aku menaruh simpati yang besar pada perjuangannya.”

“Resikonya besar, Ajeng.”

“Ya. Aku tahu.”

“Aku khawatir pada keselamatan kakakku, Ajeng.”

“Aku bisa merasa kecemasanmu, Sen.” Ajeng berkata lirih. Rambutnya yang tak terikat itu dipermainkan angin. Beberapa helai diantaranya menyentuh menampar-nampar pundak Sena.

“Namun percayalah, ia melakukan hal yang benar. Ia adalah pejuang. Kau harus bangga memiliki saudara, memiliki kakak yang peduli pada nasib orang lain. Engkau harus bangga, walaupun kakakmu hanyalah seorang buruh, ia bukanlah buruh seperti kebanyakan buruh. Ia menolak untuk takut. Kalau kau takut akan keselamatannya, maka berdoalah. Berdoalah agar Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindunginya.”

Sena mengangguk. Berkata kemudian:

“Aku malu, Ajeng.”

“Malu? Apa maksudmu? Kakakmu melakukan sesuatu yang mulia. Ia melakukan sesuatu yang berharga, tidak saja untuk dirinya sendiri, namun untuk orang banyak. Mengapa kini kau merasa malu?”

Sena menghela nafas. Dilepaskannya pandangan ke arah jalan raya. Jakarta belum lagi tidur. Diliriknya arloji di tangan kanan Ajeng.’Hampir jam delapan malam,’ pikirnya. Metromini yang membawa keduanya telah memasuki kawasan terminal Blok M. Sena berkata lagi:

“Aku tidak malu atas apa yang dikerjakannya, Ajeng. Justeru aku malu pada kakakku sendiri,” Sena menunduk, memandangi sepatunya yang lusuh. Diambilnya sebatang sigaret dari kantung baju untuk kemudian dinyalakan dan dihisapi.

“Kau malu punya kakak seorang buruh?” Ajeng bertanya. Wajahnya menunjukan perasaan tak senang.

“Bukan, bukan itu maksudku.”

“Lantas?”

Sena menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya : ”Aku malu, kakakku, hanyalah seorang lulusan SMA.”

“Hmm, terus?” tanya Ajeng.

“Tapi ia mempunyai kesadaran yang lebih, yang jauh lebih mulia dari aku ini yang bersekolah hingga tingkat sarjana. Aku tidak seberani dan sehebat dia, bahkan ketika aku masih mahasiswa,” pemuda itu memainkan rokok di sela-sela jemarinya. Dipandanginya wajah Ajeng sejenak, kemudian matanya beralih melihat ke arah depan.

Metromini telah berhenti kini. Kondektur dan sopir berteriak mengusiri penumpang yang masih saja duduk. Ajeng dan Sena melompat keluar dan berjalan cepat menembusi keramaian terminal mencari kendaraan sambungan yang akan membawa pulang. Tak lama kemudian mereka sudah kembali duduk di bangku deretan tengah sebuah metromini. Pembicaraan mereka berlanjut lagi.

“Tidak ada orang yang sama di dunia ini, Sena. Dua orang yang terlahir kembar sekalipun mempunyai perbedaan,” Ajeng menghibur. Ia menggeser duduknya dekat pada Sena. Berkata Ajeng lagi:

“Apa yang dilakukan kakakmu memang mulia. Aku tak pernah mengenalnya selama ini. Akan tetapi sebagai perempuan, aku merasa berhutang budi padanya.”

Sena terdiam demi mendengar perkataan Ajeng. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan sakit Ibunya di desa, memikirkan Bapaknya yang segera menanti kabar darinya. Dirasakannya gelisah bercampur haru dan kagum terhadap Yanti kakaknya yang sedemikian berubah setelah tiga tahun berpisah dan keluar dari rumah. Dan dirinya sendiri, merasai adanya desakan cinta yang semakin menghebat dalam perasaannya. Cinta terhadap Ajeng, rasa terpikat yang amat sangat.

“Ajeng,” Sena berkata kemudian. “Ya,” gadis itu menoleh.

“Percayakah kau bahwa cinta tak harus selalu memiliki?”

“Apa maksudmu?”

“Jawab dahulu pertanyaanku.”

Ajeng tersenyum. Perlahan ia berkata: “Aku telah menjawab hal itu dalam puisiku semalam, Sena. Tidakkah kau ingat?”

Sena mengangguk menyadari.

“Mengapa kau yakini hal itu?”, tanya Sena kemudian.

Gadis itu mengambil selembar kertas tisu. Diusapkannya pada wajahnya sambil berkata:

“Mencintai lebih besar artinya daripada memiliki. Tidak memiliki adalah juga perwujudan cinta. Kau tahu Sena, kalau engkau suka akan binatang-binatang yang dilindungi seperti ular, orang utan, atau burung rajawali, maka jika engkau mencintainya, engkau akan melepaskannya dan bukannya membawa mereka dalam kehidupannya, terikat denganmu.”

Sena terdiam beberapa saat. Kondektur datang menghampiri dan menepuk pundaknya tanpa berkata-kata. Sena merogoh uang dari kantung celananya dan membayar tanpa berkata-kata pula. Berkata Sena kemudian:

“Jadi menurutmu kalau kita mencintai sesuatu, kita tak harus selalu berada di dekat sesuatu yang kita cintai itu?”

“Ya. Tak harus,” Ajeng menjawab cepat. Sambil mengikat rambutnya dengan karet, gadis itu berkata:

“Kau tahu para pekerja Indonesia di luar negeri? Mereka yang tersebar di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Taiwan?”

“He-em.”

“Bahkan kakak iparmu sendiri, ia juga bekerja di Korea meninggalkan Kak Yanti sendirian.” Lanjut Ajeng lagi:

“Mereka bekerja di sana, jauh dari apa yang mereka cintai di desa mereka sendiri. Jauh dari rumah, jauh dari kampung tempat mereka kawin. Jauh dari kuburan orangtua dan sungai tempat mereka mandi waktu kecil. Jauh dari anak, isteri atau suami mereka. Mereka bekerja di tanah yang lain, pada budaya lain. Mereka memakan makanan yang lain, yang tak pernah dimakan oleh Bapak ibu dan juga kakek moyangnya.”

“Kau terlalu berpanjang-panjang, Ajeng. Aku ingin…”

“Dengarlah dahulu…,”Ajeng potong Ajeng. Ia melanjutkan:

“Mereka itu bukannya tak mencintai apa yang mereka tinggalkan. Seorang isteri meninggalkan desanya, meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masih kecil demi mencari uang di negara lain. Mereka tahu, mereka harus bekerja keras dengan berbagai resiko yang mungkin mereka terima. Kau tahu, menjadi tenaga kerja di negara lain terlebih bagi perempuan bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan.”

“Aku tahu, banyak tenaga kerja perempuan kita mati di negara tetangga, banyak diantara mereka yang pulang cacat, tak dibayar gajinya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ada juga yang pulang sebagai mayat dengan luka-luka di sekujur badan. Sering kubaca di koran mereka menjadi korban pemerkosaan oleh majikan. Diseterika, dipukul…disundut rokok.”

“Nah, engkau mengerti sekarang. Mereka mau melakukan itu, maksudku, mereka rela menempuh apapun itu resikonya demi orang-orang yang mereka cintai. Kau tahu siapa yang mereka cintai itu? Yakni anak-anak mereka sendiri, suami-suami mereka sendiri, isteri-isteri mereka sendiri, dan orang tua mereka sendiri.”

“Dan negara mereka sendiri.”

“Tidak salah!”Ajeng berseru. Suaranya membuat kondektur menoleh ke arah mereka. Kedua remaja itu tak mempedulikan.

“Tidak semua orang yang tinggal dan bekerja di luar negeri tidak menyukai negara kita. Walaupun negara kita miskin, banyak diantara mereka masih bangga menjadi orang Indonesia, dan tidak mau berganti kewarganegaraan.”

“Aku yakin itu karena nasionalisme.”

“Dan juga patriotisme,” ujar Ajeng cepat. “Itu semua timbul dari rasa cinta kepada negara dan bangsa ini, yang walaupun miskin, carut marut dan penuh korupsi, tetaplah tanah air mereka. Tetaplah rumah di mana mereka dibesarkan.”

Metromini yang mereka tumpangi berjalan melambat. Kemacetan kini yang terlihat di depan. Dari kaca jendela mereka dapat melihat dan menyimpulkan: Pasar Minggu telah dekat. Setasiun kereta api Pasar Minggu telah terlihat dengan orang lalu lalang keluar masuk. Penjual pakaian, gorengan, sepatu bertebaran di sekitar setasiun. Sejauh yang mereka lihat, jalanan sudah menjadi padat dengan kendaraan dan udara penuh dengan asap yang menyesakkan. Orang-orang dengan wajah lelah terlihat berdiri menunggu kendaraan hingga badan jalan. Sena dan Ajeng bangkit dari duduknya, meminta sopir untuk menghentikan laju kendaraan, dan sedetik dua kemudian mereka telah melompat keluar…

BAGIAN V

 

Nafas pemuda itu terengah-engah. Sudah lebih dari empatpuluh menit ia berlari dan berlari tanpa berhenti. Sempat ia terjungkal terjerembab karena tersandung selang air antar rumah penduduk dan membuat lengan kanannya nyeri. Namun ia segera bangkit dan kembali berlari. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, dan kemudian menatap ke arah depan lagi, terus berlari sekuat tenaganya. Kedua kakinya berkejaran, menjejaki bumi dengan cepat dan berganti-ganti memasuki perkampungan-perkampungan di balik tembok-tembok bertingkat dan apartemen. Ia tahu benar setiap seluk beluk jalan kecil, jalan tikus.

Tiga orang telah mengejarnya. Dua diantara ketiga pengejarnya itu bertubuh kekar. Yang lebih penting: ketiga orang itu membawa senjata, membawa pistol. Dan ia mengerti betul, salah perhitungan terhadap pistol dan pemegangnya bisa membuatnya terbang ke neraka. Si kurus berambut keriting, seorang diantara tiga pengejarnya itu telah meletuskan senjata ke udara, berteriak dan memintanya untuk berhenti. Tapi ia tak mau menuruti. Baginya lebih baik mati tertembak daripada menyerah. Itu lebih terhormat dan jantan. Melawan dan melawan sudah menjadi pendiriannya.

Ia masih ingat nasib yang menimpa kawannya Endit belum lagi lima bulan lampau. Endit, pemuda pinggiran Cirebon itu menyerah ketika diancam dengan tembakan ke udara. Mungkin di benak Endit, menyerah akan membuatnya selamat dari tembakan, daripada lari dan akhirnya mati. Ia berhenti dan mengangkat tangan, pasrah. Endit menyerahkan bungkusan dari balik saku bajunya kepada pengejarnya: lebih dari setengah kilo dedaunan kering dari Aceh. Namun tetap saja peluru menembusi kedua betis kawannya itu. Endit tertangkap dan dihajar habis-habisan. Adegan itu disaksikannya di layar televisi di sebuah warung siang hari keesokan harinya. Wajah Endit memang tak lagi dapat dikenali karena kedua matanya telah membesar, melebam. Bibirnya membiru dan membengkak. Hanya tato bertulisakan ‘Doa Ibu’ di dada kanannya membuatnya yakin, bahwa yang dilihatnya di televisi adalah Dedi Supriyatna alias Endit, kawannya sendiri. Sejak saat itu ia tak lagi pernah berjumpa dengan Endit. Terakhir yang ia dengar, Endit telah dipindahkan ke Nusakambangan, dan sejak saat itu ia tak pernah mendengar kabar beritanya lagi. Dan sejak saat itu pula ia bertekad bulat: tak akan pernah mau bernasib seperti Endit.

Dan pemuda itu terus saja berlari, menerjang apa saja yang didepannya. Orang-orang yang sedang berdiri dan duduk sepanjang jalan tikus yang dilaluinya hanya memandangi, tak berusaha mencegah. Ia berlari dan terus berlari. Keluar dari jalan tikus, ia memasuki kerumunan sebuah pasar. Dilambatkannya kakinya, mulai berjalan cepat. Nafasnya masih memburu dan tersengal. Dipeganginya perutnya sendiri. ‘Masih ada, amanlah kau di sini!’, katanya pada dirinya sendiri. Ia terus menyusuri lorong-lorong di dalam pasar sampai menemukan sebuah jalan kecil. Sebuah gang. Dimasukinya gang itu dan kembali berlari kecil. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng di jalanan gang itu mengumpat karena ia telah membuyarkan permainan mereka. Ia tak peduli. Ia terus berlari. Beberapa kali kakinya nyaris terpeleset ketika menginjak genangan air yang ada di sepanjang gang. Terkadang ia melompat, berlari zig-zag…

Belum sampai di ujung gang yang menghubungkan jalan raya, ia membelok menuju jalan setapak kecil yang menurun, dan kemudian melompat ke bawah menuruni lembah ke bawah dan ke bawah, menyusuri lembah sungai yang menghitam dan berbau busuk. Matanya terus memandangi ke arah atas, ke arah belakang. Tiga orang itu tidak atau setidaknya belum kelihatan. Ia terus berlari dan berlari kecil. Sadar betul ia : sekali salah memilih pijakan, tubuhnya akan tergulung dan masuk ke dalam sungai berair hitam yang mengalir malas di bawahnya itu. Dan itu berarti akan memudahkan tiga orang pengejarnya untuk meringkusnya. Dan ia tak mau tertangkap dalam keadaan bau busuk.

Ia melambatkan kakinya kembali dan berjalan cepat menyusuri lembah sungai. Dengan lincah pula ia melompati pakaian, celana dalam, kutang milik penduduk sekitar yang sedang disebarkan, dijemur di lembah sungai itu. Sinar matahari yang terik membuatnya berkeringat deras. Ia tetap tak peduli. Di hadapannya terlihat jelas kini sebuah jembatan besar. Ia berjalan menurun dan menjejakkan kakiknya ke jalan setapak yang lebih landai di tepian sungai. Kini ia bisa kembali berlari. Ditengoknya kembali ke arah belakang atas. ’Tak ada yang mengejar’ katanya dalam hati, menenangakan dirinya sendiri. Ya, tak ada lagi yang mengejarnya di belakang. Dua orang berbadan kekar dan si kerempeng berambut keriting itu tak lagi terlihat di belakangnya. Ia semakin melambatkan larinya. Teduhnya bawah jembatan yang sudah terlihat di depan mata menggodanya untuk berjalan saja. Dan kini ia benar-benar telah berjalan memasuki jalan setapak bawah jembatan. Ia menghirup nafas kuat-kuat ke dalam dadanya. Rasa khawatir berangsur-angsur menghilang dari hatinya. Dilihatinya pemandangan di bawah jembatan itu. Jalan kecil itu ternyata menembusi bawah jembatan itu. Beberapa orang membuat rumah-rumah berdinding kardus dan seng. Rumah-rumah itu menempel pada pinggir jembatan bagian bawah.

Ia menghentikan langkahnya kini. Nafasnya masih memburu. Dilepaskannya jaket, dan dibukanya kancing depan bajunya yang telah basah oleh keringat, dan sekaligus terlihat di dadanya bintik-bintik keringat besar kecil menetes-netes. Dilihatnya sekali ke arah belakang jalanan lembah yang baru saja ia lalui, memastikan. ‘Benar-benar aman sekarang. Tak ada yang mengikutiku.’ Ia duduk dan mengucap syukur: Tuhan melindungi dirinya hari ini. Dan pada Tuhan dan pada dirinya sendiri ia berjanji akan lebih rajin lagi bersembahyang. Sudah lebih dari empat kali ia mengalami hal seperti ini, diburu dan dikejar. Empat kali pula ia menyabung nyawa. Dan ia tahu betul resiko dari apa yang dikerjakannya: penjara, tahanan, sel, bui, atau ditembak mati sebelum sampai diseret ke pengadilan. Dan satu atau dua hari setelah penangkapan atau penembakan atas dirinya, bahkan orang di kampungnya pun akan melihat wajahnya di televisi sebagai penyakit yang lebih menjijikkan daripada borok. Dan ia bisa menebak apa yang menjadi komentar orang di kampung, kampungnya sendiri apabila melihat wajahnya ditayangkan di televisi sebagai pesakitan: ‘Alangkah sayangnya, sejak kecil ia sebenarnya anak yang pandai dan selalu juara kelas, pelajar teladan, dan pintar berdeklamasi’. Ia tahu, ia bukan bintang film atau penyanyi yang bisa membayar pengacara sekaligus juru bicara yang sanggup membantah dan berkelit bahwa apa yang dimilikinya, yang diikuasainya itu bukan miliknya. Ia sadar, statusnya yang bukan siapa-siapa kecuali sebagai tikus Jakarta yang pantas digebuk sampai mampus. Ia sadar, ia tak akan membuat siapapun atau lembaga manapun memprotes kalau ia sampai disiksa dan wajahnya yang berdarah-darah atau bahkan mayatnya ditayangkan di televisi. Ia sadar, bahwa ia hanyalah satu dari ribuan tikus dan celurut yang ada dan mencari hidup di belantara metropolitan Jakarta. Dan ia tahu, di mana saja manusia selalu membenci manusia tikus sepertinya. Golongan manapun membencinya. Semua orang menyatakan perang terhadap apa yang dilakukannya. Sebuah organisasi terang-terangan menginginkan orang sepertinya dihukum pancung atau dibakar di depan massa.

Ia semakin betah duduk di bawah jembatan itu. Suara gemuruh kendaraan yang menderu di atas kepalanya tak mengganggunya dari keinginan untuk sejenak beristirahat, mengaso. Ia tak ingin segera pulang. Dirogohnya saku belakang celananya, mengeluarkan dompet. Dibukanya lipatan dompet itu. Sebatang sigaret yang tersimpan di lipatan diambilnya. Sebentar kemudian ia telah menyalakan rokoknya itu. Dua detik kemudian, asap kental lembab abu-abu menyembur-nyembur dari mulut dan hidungnya. Dingin rasanya, sejuk di bawah jembatan itu. Busuknya bau air sungai membuatnya sedikit mual, namun lambat laun ia menjadi terbiasa. Angin yang mengalir lembut ke bawah jembatan membuatnya mengantuk dan ingin merebahkan badan. Namun ia urungkan keinginannya itu. Tak ada dilihatinya kertas koran atau kertas kardus yang dapat digunakan sebagai alas. Ada beberapa kardus tertumpuk, akan tetapi ia tahu, kardus-kardus itu pastilah ada pemiliknya. Ia tetap duduk, melipat kakinya ke dada. Ada ia rasai kedamaian kehidupan di bawah jembatan itu.

Sambil terus mengisapi sigaret, matanya berkeliaran memandangi seluruh bawah jembatan. Ada banyak coretan terdapat di dindingnya, coretan dengan cat semprot. Ia menjadi teringat kenangan beberapa tahun silam, menggambari tembok stadion Kridosono dalam sebuah acara seni lukis tembok di Yogyakarta. Matanya kini memandang ke arah sungai. Air sungai berwarna hitam dan baunya sangat menusuk penciuman. Macam-macam saja benda yang mengambang dan terdampar: botol plastik, kayu, dan aneka sampah plastik. Ada dilihatnya bangkai seekor kucing yang mengambang tak bergerak, tersangkut pada sebuah kayu. Tiba-tiba, datang seorang lelaki seumur pamannya berjalan menghampiri dan menyapa:

“Jangan lama-lama duduk di sini, air di sini bau busuk!” suara itu terdengar ramah, memecah kebisuan, menawarkan percakapan.

“Ah tidak apa-apa Pak. Maaf Pak, saya numpang merokok di sini.”

“Silakan saja. Jembatan di atas itu bukan milikku. Engkau tak perlu meminta ijin padaku,” orang itu menjawab sambil tertawa. Ia tak berbaju, hanya bercelana pendek warna hitam. Kepalanya mengenakan peci kumal yang sudah berubah warna dari hitam menjadi cokelat muda. Tangannya nampak masih kotor dengan noda-noda hitam kecoklatan. Nampaknya ia sudah terbiasa dengan hal itu, tak kelihatan ia merasa gatal atau risih. Ia memanggul sebuah karung besar. Isinya ratusan botol bekas air mineral.

Orang itu mendekat dan duduk dekatnya. Karungnya diletakannya di dekat tumpukan karton bekas. Ia merogoh kantung belakang celana pendeknya itu, mengambil rokok. “Dari ke mana hendak ke mana?”

“Saya hendak pulang,” jawab pemuda itu sekenanya.

“Engkau bukan orang sini, bukan?”.

“Saya baru saja pulang dari rumah kawan di perkampungan atas sana,” pemuda itu menunjuk ke arah atas lembah sungai. Perkampungan tepi pasar yang baru saja dilewatinya. Ia berbohong.

“Emm..sering lewat sini? Rasanya aku belum pernah melihatmu. Baru sekali ini saja aku melihatmu.”

“Tidak Pak, memang belum pernah. Biasanya saya lewat jalan atas, jalan gang itu kemudian langsung keluar lewat jalan raya. Kebetulan saya hanya ingin mengunjungi kampung di sebelah sana. Saya dengar di sana ada orang yang menjual buku-buku bekas,” pemuda itu berbohong lagi. “Bapak sendiri apakah tinggal di sini?” pemuda itu bertanya mengalihkan pembicaraan, dan upayanya itu berhasil.

“Ya, aku tinggal di sini.”

“Bersama keluarga Bapak?”

Orang itu mengangguk angguk dan berkata:

“Isteri dan anakku juga tinggal di sini.”

Pemuda itu bertanya kemudian:

“Di mana rumah Bapak?”

“Di sini. Di bawah jembatan ini. Itu rumah kami,” orang itu menunjuk pada salah satu gubuk berdinding kayu dan seng serta kertas di bawah jembatan itu. “Maksudku, itu gubuk kami.”

“Sudah lama Bapak tinggal di sini?” pemuda itu bertanya lagi. Rasa kantuknya hilang tergantikan oleh rasa ingin tahu yang besar mengenai kehidupan lelaki yang ada di sampingnya itu. Dalam hati ia mengagumi orang yang baru saja dikenalnya ini. Kolong jembatan tentu bukan lingkungan impian untuk dapat hidup tenang dan damai. Ia sendiri memimpikan tinggal di perumahan sederhana, dengan isteri dan anak yang selalu menanti kepulangannya dari bekerja. Bagi dirinya sendiri, tinggal di bawah kolong jembatan adalah lambang kegagalan terbesar setiap orang yang merantau di Jakarta.

“Hampir enambelas tahun ini,” lelaki itu menjawab. Ia membetulkan letak pecinya.

“Enambelas tahun?!” pemuda itu mendecak heran.

“He-em.”

“Bapak tidak pernah diusir oleh pemerintah kota, oleh petugas tramtib?”

“Diusir?” orang itu menolehkan kepalanya lagi, memandang dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu. Ia kemudian melepaskan pecinya. Dengan begitu, terlihat jelas oleh pemuda itu wajah orang yang ada di hadapannya. Alis matanya yang tebal telah mulai memutih. Rambutnya yang tidak terlalu lebat juga telah memutih. Kulit wajahnya seperti kulit tubuhnya, hitam. Bibirnya tidak tebal, akan tetapi telah menghitam keunguan. Bibir perokok berat. Gigi-ginya yang kokoh terlihat menguning kecoklatan terkena nikotin. Wajahnya menampakkan garis-garis keras, menyiratkan watak yang tegas, namun dengan budi yang halus.

Pemuda itu melanjutkan lagi: “Ya, diusir. Petugas tramtib, apakah mereka sering datang ke mari?”

“Soal itu,” orang itu tak segera melanjutkan. Ia mengisapi rokoknya dengan khidmat, kemudian berkata lagi setelah terbatuk-batuk: ”Terlalu sering kami hadapi. Tapi begitu mereka pergi, dua atau tiga hari kami akan datang kemari lagi. Selalu saja begitu kejadiannya,” orang itu tertawa hambar sambil menepuk pundak pemuda itu.

“Bapak dipukuli ketika Bapak diusir dari sini?” pemuda itu bertanya. Rokok yang memendek dicampakannya dekat kakinya. Dengan sekali injak, matilah rokok itu.

Pembicaraan mereka terhenti. Seorang perempuan berusia sekira empatpuluh lima tahun mendekati. Ia membawa sebuah tas plastik hitam. Diserahkannya pada lelaki itu. Kepada sang pemuda, orang itu memperkenalkannya sebagai isterinya.

“Ini isteriku, dia adalah permaisuriku yang tercantik. Permaisuri kolong jembatan, hahaha..hahah…,” orang itu tertawa terkekeh. Perempuan itu memberangut. Ia kemudian pergi berlalu. Dan pemuda itu tertawalah serta.

Dengan segera lelaki itu membuka bungkusan tas plastik hitam di tangannya. Rupa-rupanya tas plastik itu berisi pisang goreng, tempe, dan tahu goreng yang masih panas.

“Ayolah dimakan, kebetulan kami ada rezeki hari ini. Ayo silakan…”

Perut yang lapar karena belum terisi makan siang dan tenaga yang terkuras dalam pelarian membuat pemuda itu tak merasa perlu untuk berbasa basi. Diambilnya sepotong tahu goreng dan dijejalkannya pada mulutnya dengan rakus.

Seorang anak kecil berjalan melintas. Ia bertelanjang dada dan bercelana pendek berwarna merah, celana anak sekolah dasar. Orang itu menghentikan langkah anak itu dan mengatakan sesuatu serta memberikan sejumlah uang padanya. Anak kecil itu nampak mengangguk mahfum, kemudian berlari kencang ke atas lembah sambil bernyanyi-nyanyi riang.

“Tunggulah barang lima menit, sebentar lagi akan ada rokok untukmu,” orang itu tersenyum. Diambilnya sepotong pisang goreng dan disorongkannya ke dalam mulut.

“Dia anak Bapak?”

“Bukan, anakku belum pulang.”

“Sekolah?”

Orang itu tertawa. “Ya, sekolah.”

“Di mana Pak? Sekitar sini saja?”

Tawa orang itu makin keras. “Di tempat sampah, mencari botol bekas…!”

Sekaligus tawa orang itu meledak sejadinya. Mentertawai nasibnya sendiri. Pemuda itu tersenyum kecut.

“Lantas, anak siapakah dia?”

“Aku tak tahu siapa orang tuanya,” orang itu masih tertawa. “Ia tidur di mana saja. Di rumah siapa saja di pinggiran kali ini ia biasa tidur. Makannya pun dari belas kasihan kami-kami ini yang juga tidak berkelebihan.” Orang mengambil sepotong tahu goreng. Mulutnya mengunyah mengecap-ngecap. Pemuda itu merasa risih mendengarnya.

“Oh ya, engkau bertanya apakah kami ini pernah diusir dan dipukuli supaya kami enyah dari sini, betul begitu?” orang itu melirik. Tawanya telah mereda kini. “Kalau yang engkau maksudkan adalah ditertibkan…”, orang itu tak segera melanjutkan. Wajahnya tampak mengejek. Ia berkata lagi:

“Sudah selalu dan semestinya ketika para petugas datang mereka memukuli kami dan menghancurkan apa saja yang kami punya.”

“Bapak tidak melawan?”

“Melawan dengan menolak untuk pindah maksudmu?”

“Ya”

“Seperti para pedagang di Pasar Minggu kemarin hari?”

“Ya,” pemuda itu mengangguk. Lelaki itu terdiam sesaat, menggaruk-garuki kakinya. Rokoknya yang telah memendek dijentikkannya kuat-kuat ke tengah sungai. Berkata lagi ia kemudian:

“Tidak. Kami tak pernah melawan. Biasanya kami hanya pasrah. Kami mengerti kami tak berhak tinggal di sini. Kami mengerti bahwa mereka hanya melakukan apa yang ditugaskan oleh atasan mereka. Lagipula kalau kami melawan, kami bisa mendatangkan celaka kepada kami sendiri. Kami bisa ditahan.”

Anak kecil yang diperintah untuk membeli rokok datang sambil berlari. Dengan terengah-engah diserahkannya sebungkus rokok kretek kepada orang itu. Beberapa detik kemudian ia telah berlari lagi dan bernyanyi nyanyi girang sambil sesekali melompat. Limaratus rupiah upahnya sore itu. Orang itu membuka rokoknya, mengambil sebatang dan disodorkannya pada pemuda itu. Kedua orang itu melanjutkan perbincangannya:

“Bapak tak ingin pindah dari sini?” pemuda itu bertanya. Pertanyaan yang segera ia rasai sebagai pertanyaan bodoh. Kalau saja ia menjadi orang yang sedang ia tanyai itu, ia sudah tahu jawabannya: pasti ingin pindah ke tempat yang lebih layak.

“Tidak. Aku tak ingin pindah. Bagiku, jembatan ini sudah terlalu baik buatku. Lagipula, orang seperti aku ini manalah mungkin mampu membeli tanah di kota? Aku hanya pengumpul botol plastik, pengumpul kertas kardus dan apa saja yang berharga yang dapat aku temui di tempat sampah.” Orang itu menjawabi getir. Rokoknya yang mengepulkan asap tipis tak dihisapinya.

“Mungkin kalau aku berumur sampai duaratus tahun sekalipun, aku tak akan mampu membeli rumah di Jakarta. Dan kalaupun aku mempunyai banyak uang, apakah kau pikir masih ada tanah yang menganggur di Jakarta? Semua tanah telah tertutup oleh beton,” ia tertawa sinis, sinis pada nasib dirinya sendiri.

“Lagipula, tinggal di sini jauh lebih aman daripada kalau aku tinggal di rumah-rumah biasa, apalagi rumah mewah. Mereka yang tinggal di rumah mahal setiap pagi, petang dan malam selalu saja dipusingkan dengan ancaman perampok, garong atau pencoleng. Sedangkan di sini, di bawah jembatan ini aku tak perlu khawatir dirampok. Aku tak punya uang.”

Pemuda itu membenarkan. Dalam hatinya ia membayangkan, seandainya ia adalah perampok atau pencoleng, rasanya tak ada nafsu baginya merampok orang yang tinggal di bawah jembatan itu.

“Kau lihat kelelawar-kelelawar itu?”, orang itu bertanya sambil menunjuk kelelawar yang menggantung di bawah jembatan. Pemuda itu mengangguk. Matanya memandangi serombongan kelelawar yang menggantung bergerombol di bawah jembatan. Tenang saja binatang-binatang bersayap itu menggantung, sama sekali tak terusik gemuruh suara jalan raya di atasnya.

“Mereka, para kelelawar, para kalong itu tak perlu rumah yang baik. Bagi mereka jembatan ini sudah menjadi rumah mereka yang terindah.”

“Karena mereka kelelawar, mereka tak membangun rumah,” pemuda itu menyela. Orang itu membalas cepat:

“Aku sama saja dengan mereka. Aku tak perlu rumah yang baik. Bagiku tinggal di bawah jembatan ini sudah cukup. Lebih dari cukup. Aku tak perlu bermimpi untuk hidup seperti orang pada umumnya. Tuhan telah takdirkan nasibku seperti ini, menjadi orang yang tak mampu, tak berkekayaan, dan aku menerimanya sebagai garis hidup yang harus aku lalui. Aku hanyalah pemulung, yang makan dan tidur di sekitar sampah. Masyarakatpun melihatku sebagai sampah. Kau tahu, sampah selalu disingkirkan, dipinggirkan, dan dibuang. Aku juga adalah orang yang terpinggirkan, orang yang tersingkir, dan terbuang.”

“Tapi Tuhan tak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu sendiri tak berusaha mengubahnya,” pemuda itu memprotes.

“Aku tahu. Sejak kau belum lahir aku sudah sering mendengarkan hal itu. Akupun sudah berusaha sekuat aku mampu, sekuat aku bisa. Namun dari dahulu hingga kini sama saja. Salahkah aku kalau beranggapan bahwa apa yang kualami ini adalah suatu takdir sang Pencipta?”

“Tapi Bapak ini bukan kelelawar. Bapak bukan binatang. Bapak adalah manusia.”

“Ya memang begitu. Akan tetapi berapa banyak manusia di bumi ini yang melihatku sebagai manusia. Berapa banyak?”, orang itu menolehkan kepalanya, bertanya menggugat. Nada bicaranya getir. Pandangan matanya menusuk. Ia melanjutkan lagi:

“Di mata orang banyak, di mata negara, aku ini bagaikan belatung yang menggerayangi bangkai. Sesuatu yang sudah semestinya terjadi dan bukan hal aneh lagi,” ia berkata serak, terbatuk-batuk, kemudian meludah membuang riaknya.

“Mungkin di matamu begitu pula!”, orang itu berkata lagi seolah menuduh. Pemuda itu tak menjawab.

“Aku adalah pemulung. Hidupku dari sampah, berpindah-pindah dari gundukan sampah yang satu ke gundukan sampah yang lain. Dan sudah sepantasnya bagi pemulung seperti aku untuk hidup bersama sampah itu sendiri, sebagaimana belatung hidup dengan bangkai. Pemulung hidup dan mati bersama sampah. Pada suatu titik, mungkin orang menganggap aku tak ubahnya sampah itu sendiri.”

Pemuda itu tercenung. Ada ia rasai perasaan yang sama yang dirasai orang yang sedang duduk di sampingnya. Ia pun merasa dirinya adalah sampah.

“Saya juga bukan siapa-siapa seperti Bapak,” pemuda itu berkata berusaha menyenangkan hati lawan bicaranya yang seperti banteng terluka itu.

“Setidaknya engkau masih muda dan berpengharapan besar. Aku tahu, engkau pasti orang terdidik.”

“Dari mana Bapak tahu kalau saya berpendidikan?” pemuda itu bertanya heran.

“Sorot matamu. Matamu itu menunjukkan bahwa engkau orang berpengetahuan, berpendidikan. Kau tak bisa berbohong padaku soal ini. Engkau punya harapan besar, jauh lebih besar dari aku. Asalkan engkau mau bekerja keras. Asalkan engkau tidak melakukan hal-hal yang tolol, hal-hal yang bodoh,” orang itu berkata menasihati.

Sejenak pemuda itu terkaget. Ia tercenung meresapi kata-kata yang baru saja didengarnya itu. Orang itu tak mengatakan dengan pasti apa yang ia maksud dengan melakukan hal yang bodoh. Akan tetapi ada dirasainya rasa malu menjalari hatinya. Ada dirasainya hatinya sendiri mengakui kebodohan yang selama ini dilakukannya, dengan kaki, dengan tangan dan otaknya sendiri. Dengan keinsyafannya sendiri.

“Engkau sudah berkeluarga?”, orang itu bertanya lagi. Rokoknya telah memendek. Seperti yang pertama, dijentikannya rokoknya kuat kuat hingga terpental ke tengah sungai itu.

“Belum, Pak. Manalah ada gadis yang mau pada saya?”

“Pasti ada. Wajahmu tampan. Apalagi kalau kau mau mencukur rambutmu itu. Aku jelek begini juga punya bini,” orang itu tertawa. Pemuda itu ikut tertawa.

“Orang tua sekarang ingin anak gadisnya kawin dengan laki-laki yang sukses, orang yang kerja kantoran, tidak dengan orang seperti saya.”

“Ngomong-ngomong apa yang engkau kerjakan sekarang? Maksudku apa pekerjaanmu?”

“Pekerjaan saya?”

Orang itu mengangguk.

Sejenak pemuda itu terdiam, berfikir keras. Didongakkannya sedikit kepalanya memandangi langit-langit jembatan. Beton yang membentuk jembatan itu nampak kokoh. Nampaknya dibangun pada tahun delapanpuluhan. Jembatan model serupa pernah ia lihat di Kediri, kota dekat tempatnya berasal.

“Malu saya mengatakannya Pak.”

“Mengapa harus malu? Aku tak pernah malu mengatakan kalau aku adalah pemulung.”

“Saya melakukan hal yang bodoh, seperti yang Bapak katakan tadi,” pemuda itu menjawabi dengan lirih.

“Melakukan hal yang bodoh? apa itu?”, kini orang itu bertanya heran.

“Saya ini adalah orang yang melakukan pekerjaan bodoh,” Pemuda itu mengulangi kata-katanya lagi. Menggugat dirinya sendiri.

“Ada aku perhatikan engkau seperti habis dikejar-kejar sesuatu?” orang itu bertanya. Pemuda itu terdiam.

“Kau melakukan kesalahan?”

Pemuda itu tetap diam. Wajahnya tak berani menatap orang itu. Dipandanginya atas jembatan. Dirasainya mata beberapa ekor kelelawar menatap benci dan mengejek. Ia tertunduk.

“Apa yang kau lakukan?”

“Saya berdagang barang terkutuk.”

“Barang terkutuk? Kupon togel?”

Pemuda itu menggeleng.

“Obat-obatan?”, orang itu menebak lagi.

Pemuda itu kembali menggeleng. Diambilnya sebuah kerikil kecil di dekat kakinya dan dijentikannya kuat-kuat ke tengah sungai.

“Sejenis itu, Pak.”

“Ganja?”

Pemuda itu kini terdiam.

“Jadi berjualan ganja?”

Pemuda itu tetap terdiam. Hatinya menggejolak hebat.

“Jadi baru saja engkau lari dari kejaran petugas? Dari kejaran polisi?”

Pemuda itu mengangguk perlahan. Wajahnya menunduk, diam. Orang itu terdiam. Ia memandang dengan tatapan tak senang. Suara bising kendaraan masih saja terdengar, dan asap kendaraan ada juga yang merasuk hingga ke bawah jembatan terhirup oleh keduanya. Beberapa anak kecil berlarian melintas mengejar layang-layang putus.

“Mengapa engkau melakukan hal itu? Apa yang kau lakukan sungguh celaka. Kau meracuni jiwa banyak orang. Kau merusak tubuh banyak orang.”

Pemuda itu masih menunduk. Apa yang dikatakan oleh orang di sampingnya sudah terlalu sering ia dengar.

“Adakah kau pernah membayangkan betapa sedihnya keluarga yang mempunyai anak atau saudara yang ketagihan barang daganganmu itu?”

Pemuda itu mengangguk perlahan.

“ Mereka sangat sedih dan hancur. Dan engkau, engkau yang ada di sampingku inilah perusaknya.”

“Saya tahu Pak.”

“Tapi kau tidak mau peduli. Engkau ini hanya mementingkan diri saja.”

“Saya mengerti Pak.”

“Kau tak pernah merasa salah dengan perbuatanmu,” orang itu semakin mencecar.

“Saya tahu apa yang saya lakukan salah,” Sena memotong, merintih. Diangkatnya wajahnya kini. Pemulung itu mendengus.

“Kau tidak tahu kalau apa yang kau lakukan itu salah!” orang itu berkata. Kali ini nadanya lebih keras.

“Saya tahu betul Pak..”

“Ya, kau bilang begitu, tapi sebenarnya kau sama sekali tidak tahu!”

Pemuda itu terdiam. Ia tidak melawan. Orang itu melanjutkan lagi:

“Lantas mengapa kau tetap melakukannya? Apakah tak ada pekerjaan lain yang bisa mendatangkan uang halal selain berdagang barang-barang terkutuk seperti itu?”

Pemuda itu kembali menunduk. Ia tak berkata-kata.

“Mengapa, hei?”, orang itu mencecar. Suaranya menggelegar. Beberapa anak yang sedang bermain layang-layang tak jauh dari tempat mereka duduk memandang dengan tatapan heran. Dan sekaligus pemuda itu menjadi teringat pada ayahnya yang keras.

“Masihkah barang itu padamu?”

Pemuda itu mengangguk lesu.

“Berikan padaku,” orang itu memerintah.

Pemuda itu tak berkata-kata. Dikeluarkannya bungkusan dari balik bajunya dan diberikan pada orang yang duduk di sampingnya itu.

Orang itu menerima bungkusan yang diberikan oleh sang pemuda. Ia kemudian berdiri dan mengambil ancang-ancang. Dan dengan sekali lempar, bungkusan itu jatuhlah ke tengah sungai, mengambang sebentar dan perlahan kemudian tenggelam. Pemuda itu terdiam memandangi. Ia tak berusaha mencegah. Orang itu duduk kembali di sampingnya dan berkata lagi:

“Kalau kau tak mampu mencari makan dengan jalan halal, datanglah kemari setiap hari. Kalau hanya memberimu makan tiga kali sehari, aku rasa aku dan isteriku masih sanggup!”

“Kau dengarkah itu?”

Pemuda itu mengangguk. Ia tetap terdiam. Kata-kata orang di sampingnya itu begitu terasa menusuk hatinya. Nasihat yang sama beribu kali telah ia dengar dan baca, namun tak pernah membuatnya merasa tersentuh. Bahkan nasihat dari gadis yang ia kasihi tak pernah mampu merubah pendiriannya. Akan tetapi dari kalimat yang keluar dari mulut orang bertubuh kotor yang tinggal di bawah jembatan ini, ia seolah menemukan kebenaran.

“Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang membuatmu berbuat seperti ini?”

Pemuda itu menghela nafas kemudian berkata:

“Ada kekecewaan terhadap diri saya, kekecewaan terhadap keluarga saya. Kekecewaan terhadap negara ini yang tak mampu menampung orang seperti saya.”

Sejenak orang itu terdiam meresapi perkataan pemuda yang duduk di sampingnya itu. Seorang anak lelaki berusia sekira enambelas tahun datang menghampiri. Ia bertopi kumal, bersandal jepit, bercelana pendek kotor, dan memakai kaus yang berlubang-lubang. Ia membawa karung yang nampak telah penuh terisi botol plastik bekas wadah air mineral. Orang itu memperkenalkan remaja itu pada sang pemuda sebagai anaknya. Berkata orang itu kemudian:

“Aku tak akan memaksamu untuk berceritera lebih jauh.”

“Terimakasih, Bapak bisa mengerti saya.”

“Tapi percayalah, kalau kau mau, jalan dan kesempatan bagimu sangat luas dan luas. Engkau ini sarjana bukan?”

pemuda itu menggeleng,

“Ayolah mengakui. Kau ini sarjana bukan? Aku bisa melihat dari sorot matamu. Sorot matamu itu penuh dengan ilmu sekolahan.”

Pemuda itu mengangguk.

“Engkau bisa melakukan kerja yang jauh lebih pantas dan beradab untuk dilakukan seorang sarjana daripada mengedarkan barang busuk sialan itu.”

Pemuda itu terdiam. Ada rasa malu dan sesal bertumbuhan di hatinya mengakui kalau dirinya adalah sarjana. ‘Kalau aku sarjana, mengapa siang hari begini berjalan-jalan di pinggir kali? Mengapa aku berlarian di gang-gang sempit? Kalau aku sarjana, mengapa polisi mengejar aku?’ Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang sangat hina dan tercela di mata orang? Mengapa aku harus melakukan pekerjaan yang dikutuk oleh ibuku sendiri seandainya ia masih hidup? Mengapa aku melakukan pekerjaan yang bisa membuat orang kehilangan akal sehatnya?’, pertanyaan itu mengitar-ngitari pemikirannya sendiri.

“Engkau pernah berusaha mencari kerja sesuai dengan ijazahmu?”

Pemuda itu mengangguk. “Namun saya selalu gagal. Saya putus asa.”

“Kau tak boleh berputus asa.”

Pemuda itu mengangguk.

“Insya Allah, mulai esok saya akan memulai lagi usaha untuk mencari kerja. Melakukan pekerjaan yang halal. Doakan agar saya segera mendapatkan pekerjaan, agar saya tak melakukan hal yang buruk ini kembali.

“Sudah barang tentu akan aku doakan.”

“Terimakasih, Pak.”

“Tapi ingat, kalau engkau sudah menjadi orang yang berkemampuan, jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu.”

“Saya berjanji”

“Sungguh?”.

“Saya bersungguh-sungguh, Pak.”

“Dan kalau kau telah menjadi orang yang mempunyai penghasilan yang lebih dari cukup untuk engkau makan dan tabung, maka ingatlah hari ini, kejadian hari ini, pertemuan kita ini. Kau dengar itu?”

“Saya tak akan lupa pada peristiwa hari ini, Pak.”

“ Jangan lupakan orang-orang seperti aku ini.”

“Sudah barang tentu.”

“Kalau engkau merasa kesulitan dalam menghadapi hidup, ingatlah diriku. Ingatlah diriku yang hidup jauh lebih sulit darimu.”

Pemuda itu mengiyakan.

“Dan jika engkau mempunyai kekuasaan,” kata orang itu bergetar, “jangan makan keringat dan darah kami.” Suara orang itu terdengar parau. Nadanya mendesak dan sinis. Ia melanjutkan:

“Kami hanya bertahan hidup di kota ini. Kami juga tak tahu mengapa kami harus hidup seperti ini. Kami ingin dianggap seperti manusia, seperti mereka yang di dalam mobil-mobil mahal yang melintas di atas jembatan ini,” pemulung itu kembali pada rintihannya semula.

“Bapak juga harus berjanji pada saya.”

“Berjanji padamu?”

“Ya. Bapak harus berjanji pada saya untuk tidak berputus asa. Bahwa masih ada harapan bagi Bapak untuk hidup lebih layak dari sekarang.” Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk untuk kemudian berkata:

“Kalau begitu, kita sama-sama berjanji.”

Pemuda itu mengiyakan. Diliriknya arloji di tangan kanannya: hampir jam enam sore. Ia berdiri dan segera berpamitan, yang disambut dengan uluran tangan yang menjabat erat. Pemuda itu berjalan pergi. Ia melambaikan tangan.

“Sering-seringlah kemari kalau kau ada waktu,” orang itu berseru.

“Ya, Pak,” pemuda menengok sebentar dan menganggukkan kepala. Ia kemudian kembali berjalan.

Tidak sampai semenit kemudian kedua kakinya telah menemukan jalan setapak yang mengarah ke atas. Sejauh yang ia lihat, rumah-rumah liar sajalah yang ada di dekat jembatan itu. Kesemuanya nampak tak beraturan. Orang-orang laki-laki perempuan terlihat mandi dan mencuci piringnya di sungai yang sama. Semua terlihat oleh mata pemuda itu dengan jelas. Penciumannya sendiri membaui asap sampah-sampah yang dibakar di lembah sungai yang terbawa angin sore.

Terus ia berjalan mendaki lembah berumput kering itu menuju ke atas. Berkelok-kelok saja jalan setapak itu. Terkadang ia harus melangkah panjang menghindari batu besar atau menghindari serombongan anak kecil yang sedang asyik membandingkan kehebatan layang-layangnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian sampailah akhirnya ia di tepi jalan raya. Suara klakson kendaraan umum dan pribadi bergantian memasuki pendengarannya. Merah langit senja telah semakin meredup, kesekian juta kalinya dalam sejarah. Awan abu-abu gelap di atas kepala meniupkan rasa sedih dalam benaknya. Jakarta masih saja ramai, sesak, dan angkuh. Asap kendaraan mendesak desak ke segala arah, ke atas dan meluncuri ke bawah, ke lembah sepanjang sungai yang berair hitam itu.

Ia merasa hampa. ‘Hendak kemanakah kini? Pulang? dan apa yang hendak aku cari dengan kepulanganku? Dan siapa yang akan menyambutku?’, ia bertanya pada hatinya sendiri dan pada kesadaran dan akalnya sendiri. Dan segera ia memberi jawab atas pertanyaan hatinya : ‘Tak ada!’. Matanya menengok kembali ke arah belakang, ke arah bawah. Masih dilihatnya orang yang duduk dan bercakap dengannya di bawah jembatan tadi, pemulung itu. Dari kejauhan, tubuhnya tampak hitam mengkilat. Ia mengangkuti kardus-kardus bekas dan mengumpulkannya dekat rumahnya, rumah yang tak ingin ditinggalkannya, rumah terbaiknya. Anak dan isterinya tampak membantu.

Pemuda itu kembali berjalan lesu menyusuri trotoar. Terkadang ia turun ke jalan dan naik lagi ke trotoar menghindari warung-warung tenda yang mulai didirikan. Senja hari, pedagang kaki lima mulai memasang tenda-tenda mereka, menguasai jalur pejalan kaki. Ia merasa hampa. Dihampirinya seorang anak kecil, pedagang rokok. diulurkannya selembar uang ribuan dan diambilnya sendiri rokok kesukaanya. Si kecil penjual rokok mengulurkan kembalian tiga keping uang ratusan. Pemuda itu menggelengkan kepala dan meminta si anak menyimpan saja kembalian itu untuknya.

Pemuda itu kembali berjalan. Dihisapinya rokoknya dengan tak bersemangat. Asap pekat dari mulut dan hidungnya berhamburan lagi, berhantaman dengan asap kendaraan yang lalu lalang. Matanya memandangi keadaan sekeliling. Sejuk udara sore bercampur asap masih mengitarinya. Lampu-lampu penerangan jalan dan pertokoan mulai dinyalakan. Beberapa orang yang lewat berjalan kaki nampak sudah segar, pertanda telah terguyur air mandi sore. Dipandanginya badannya sendiri, pakaiannya sendiri, tubuhnya sendiri. Jaketnya yang kemarin hari masih bersih kini telah kotor bernoda tanah dan berbau keringat. Lengan kanannya masih terasa nyeri dan pegal-pegal akibat terjatuh tadi siang.

Tiba-tiba kenangan masa lalu bermunculan di hatinya. Ketika masih kanak-kanak, pakaiannya yang kotor selalu dibersihkan oleh Ibunya. Dan jika ia pulang dari bermain bola dengan pakain bersimbah lumpur, ibunya yang lembut dan penyabar tak pernah memurkai. Ibunya itu akan mencium pipinya, menyuruhnya segera mandi dan menggorengkan telur bebek serta petai kesukaannya. Dan semua itu telah berlalu dan musnah, lebih dari delapanbelas tahun silam. Ibunya kini telah terbaring di pemakaman sepi pinggir desa tempatnya berasal, ratusan kilometer dari Jakarta.

Ingatannya kemudian melayang pada gadis yang dikaguminya. Betapa ia sangat mencintai gadis itu. Cinta yang belum tersampai, yang belum terangkai. Cinta yang teramat berat untuk disampaikan, disuarakan dengan kata-kata. Kalaulah cinta itu bersambut, hendak dengan apa ia akan membikinnya menjadi lebih indah? Kedua bola matanya menjadi basah, hatinya menjadi sedih. Di tengah keramaian Jakarta tiba-tiba saja ia rasai hampa dan kerinduan yang amat sangat pada perempuan yang dikasihinya itu. Kerinduan itu sekaligus pula menggandeng kerinduan pada desa tempat ia berasal.

‘Sesore itu udara desa tidak akan sesesak seperti di sini, penuh dengan asap kendaraan’, keluhnya di antara perih hatinya yang menangis. Namun sejurus kemudian ia segera terbangun dari lamunan hatinya, ia harus segera kembali ke tempatnya tinggal. Ia mempunyai kawan yang bertamu, dan sudah sepatutnya ia harus mengawaninya. Lirih ia berbisik pada dirinya sendiri: “boys don’t cry”. Disibakkannya rambutnya yang memanjang sebahu dan diusapnya kedua bola matanya yang membasah dengan lengan bajunya. Sebuah bus dengan suara mesin yang menggemuruh melintas. Kondektur yang bergelantungan di pintu berteriak-teriak padanya : “Minggu…Minggu…Minggu.!”. Pemuda itu melambaikan tangannya dan berlari memburu. Sebuah sepeda motor nyaris saja menabraknya. Sang pengendara menoleh dan berteriak :”Bangsat!”. Pemuda itu tak membalas. Ia terus berlari menghindari beberapa sepedamotor yang melaju kencang,, kemudian dengan sigap melompat ke dalam bus menembusi belantara Jakarta yang telah ditelan senja.

Ajeng menarik tangan Sena agar menunggu metromini beberapa meter setelah lampu merah. Sena menurut saja, berjalan mengikuti. Diterobosinya kerumunan orang yang sedang menunggu kendaraan untuk pulang. Tak sampai lima menit mereka telah mendapatkan metromini yang belum lagi penuh terisi menuju ke arah Depok. Dalam kendaraan itu mereka kembali melanjutkan pembicaraan:

“Seandainya engkau boleh memilih, apakah engkau akan bekerja di negara lain tapi dengan penghasilan besar, ataukah kau ingin bekerja di negeri ini dengan penghasilan pas-pasan?”

“Aku memilih yang pertama.”

“Seandainya engkau mempunyai keluarga, mempunyai suami dan anak, apakah engkau juga akan memilih bekerja di luar negeri, menjadi TKW walau harus berpisah dengan suami dan anak yang kau sayangi?”

“Akan kulakukan hal itu?”

“Dengan resiko apapun?”

“Ya, dengan resiko apapun.”

“Sungguhkah itu, Ajeng?”

“Ya, sungguh. Lebih baik aku bekerja keras sementara waktu, beberapa tahun dan bisa mendapatkan modal untuk keluargaku, untuk kemudian kembali dan merintis masa depan baru.”

“Bagaimana kalau…,” Sena tak melanjutkan. Ia menjadi gugup. Dilemparkannya pandangan ke arah luar.

“Bagaimana…bagaimana maksudmu?” Ajeng menjadi gusar.

“Bagaimana kalau yang menjadi suamimu itu adalah…aku!?” Sena berkata cepat. Dipaksanya wajahnya untuk melihat raut muka Ajeng. Wajah gadis itu dilihatnya menunduk. Sena memburu:

“Apakah engkau juga akan meninggalkanku?”

Ajeng terdiam, tak menjawab.

“Walaupun apa yang kau dapat, walau penghasilanmu besar. Jawablah Ajeng?”

Gadis itu menyibakkan rambutnya. Ia masih menunduk. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Beberapa saat kemudian ditatapnya wajah Sena, berkata:

“Mengapa engkau menanyakan hal itu padaku, Sena?”

Keduanya berpandang-pandangan. Metromini masih melaju, terkadang kencang dan terkadang tersendat kemacetan. Angin malam menyusup deras ke dalam melalui jendela dan pintu, menerbitkan hawa dingin.

Sena menggeser duduknya merapat pada Ajeng. Dengan agak menunduk ia berkata, perlahan di telinga gadis itu:

“Karena aku mencintaimu Ajeng, dan aku tak ingin kau tinggalkan. Aku tak mau jauh darimu”, sekaligus ucapannya telah membuat gemuruh di dadanya semakin menggelora. Ia tak peduli apapun yang akan dikatakan oleh Ajeng. Ia pun tak mengerti darimana kekuatan untuk mengatakan perasaannya itu timbul.

“Ajeng,” ucap Sena lirih.

Gadis itu hanya menoleh lesu untuk kemudian kembali menunduk. Tangannya meremas-remas selembar tisu yang mulai menghancur.

“Apakah engkau mau menerimaku?”

Ajeng tetap terdiam. Ia merasa bibirnya seolah terkunci. Ada ia rasai kebimbangan. Beberapa saat kemudian ia berkata lemah:

“Haruskah aku menjawab sekarang, Sena?”.

“Sekarang atau nanti sama saja, Ajeng.” “Katakanlah sekarang,” Sena terus mendesak.

“Engkau terlalu memaksa!” Ajeng merintih.

“Terserah apa katamu.”

Ajeng tertunduk dan terdiam. Sena memandang wajahnya lekat-lekat. Digenggamnya tangan gadis itu erat-erat.

“Katakanlah. Aku akan menerima apapun keputusanmu.”

Ajeng menghela nafas. Dicampakkannya tisu di tangannya yang telah menghancur itu.

Sena terus memburu. “Kau sayang padaku?”

Ajeng mengangguk kemudian berkata: “Aku sayang padamu, Sen.”

Sena terdiam demi mendengar jawaban Ajeng. Ia merasakan pemandangannya berkunang kunang. Keindahan dan kebahagiaan yang luarbiasa kini ia rasakan. Rasa cinta yang mengendap sedari semalam kini tertumpah sudah. ‘Ajeng mencintaiku’ hatinya bersorak. Segera setelah ia berhasil menguasai perasaannya kembali, Sena berkata:

“Kau mau mendampingi hidupku, Ajeng?”

Ajeng tak menjawab. Wajahnya nampak diliputi kebimbangan. Ditatapnya wajah Sena. Ia mengangguk lemah.

“Tapi kita berjauhan, Sena.”

Dua orang pengamen masuk ketika metromini yang ditumpangi Ajeng dan Sena berhenti di pintu perlintasan kereta api. Seorang dari pengamen itu memainkan gitar, dan yang seorang lagi bertepuk tangan sambil bernyanyi. Suara nyanyian dan petikan gitar cukup keras, membuat Sena dan Ajeng menghentikan percakapan. Tak sampai sepuluh menit kemudian, dua orang pengamen itu telah turun. Palang pintu perlintasan kereta api telah dibuka dan metromini telah kembali melaju. Mereka pun kembali berbicara:

“Kau tadi bicara soal jarak? Jarak bukan masalah kalau kita saling percaya. Esok senja mungkin aku akan kembali ke Kutoarjo. Tapi aku bisa kembali lagi ke Jakarta ini.”

“Aku bingung, Sena.”

“Apa yang kau fikirkan ?”

“Aku mengkhawatirkan Kresna.”

“Kresna?”, sekaligus Sena menjadi terkejut demi mendengar nama sahabatnya diucapkan oleh mulut gadis di dekatnya itu. Hatinya menjadi tak senang.

“Ya, aku takut ia akan berubah sikap padaku.”

“Engkau telah berhubungan dengan Kresna, begitu maksudmu?”

Dengan cepat Ajeng menggeleng.

“Lalu mengapa engkau harus khawatir?”

Ajeng menatap wajah Sena dan berkata:

“Ia pernah menyatakan perasaanya padaku.”

“Menyatakan perasaannya? Ia mencintaimu?”

Ajeng mengangguk.

“Dan kau terima?”

Ajeng menggeleng.

“Kau menolak cintanya?”

Ajeng tidak mengangguk, tidak pula menggeleng.

“Mengapa engkau merasa takut padanya? takut kalau ia marah padamu?”

Ajeng menghela nafas panjang. Ia kemudian berkata:

“Jujur aku akui, Sena, aku pun merasai ada rasa sayang dan kagum padanya”.

Sekaligus kata-kata Ajeng menjadikan Sena kembali terbakar.

“Namun saat itu aku tak mau menerimanya”.

“Mengapa?”

“Aku tak mau menjadi kekasih seorang pengedar”.

“Pengedar apa?”

“Pengedar apa lagi menurutmu? Tentu bukan pengedar koran!”, sahut Ajeng ketus. “Pengedar…narkotika maksudmu.”

“Sejenis itu.”

Ajeng kemudian menatap Sena dengan sungguh-sungguh. Gadis itu berkata:

“Kresna sahabatmu adalah seorang pengedar ganja, dan aku tak mau menjadi kekasih seorang pengedar.” Ajeng kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Peristiwa itu terjadi kira-kira empat bulan yang lalu. Sejak awal mengenal Kresna, ia sudah menaruh simpati dengan pembawaan Kresna yang tenang, dewasa dan bijaksana. Kresna mempunyai jiwa seni, sesuatu yang sangat berkesesuaian dengan hatinya. Namun lambat laun ia mengerti bahwa Kresna telah terlibat dalam peredaran ganja, walaupun tak pernah sekalipun dilihatnya Kresna menikmati barang terlarang itu. Dan ketika Kresna menyatakan cintanya, tegas Ajeng menolak. Suatu keputusan yang sesungguhnya dirasa berat oleh gadis itu, karena jauh dalam hatinya iapun menyimpan simpati pada Kresna. Kresna sangat terpukul dengan penolakannya itu. Ajeng kemudian berjanji jika Kresna rela meninggalkan perbuatannya yang terlarang itu, ia akan menerima cintanya. Sayangnya, Kresna tak segera menunjukkan sikap yang tegas. Kresna masih saja menjadi pengedar.

Sena terdiam mendengar penuturan Ajeng. Terkejut dan sedih dirinya mengetahui bahwa Kresna sahabat karibnya itu ternyata seorang pengedar ganja. Dirasainya pula dadanya menjadi sesak, terisi rasa cemburu. Cemburu kepada kawannya sendiri. Cemburu kepada sahabatnya yang menolongnya memberi tumpangan tinggal di Jakarta.

“Jadi kaupun suka padanya, Ajeng?”

Ajeng tidak menjawab. Ia mempermainkan jari jemarinya. Matanya menatap gelisah ke arah luar.

“Sukakah engkau pada Kresna?” Sena memburu.

Ajeng mengangguk lemah. Ia berkata:

“Aku harus jujur untuk mengatakan bahwa aku memang menaruh simpati padanya. Walau seperti yang aku katakan padamu, aku pernah menolak cintanya.”

“Penolakan bersyarat,” Sena menukas.

Ajeng tak memedulikan. Sena menerjang lagi:

“Engkau telah berjanji padanya, bahwa engkau akan menerimanya kapanpun ia bersedia meninggalkan apa yang diperbuatnya itu. Dan hari ini engkau menerima cintaku padamu….”

Ajeng masih saja terdiam.

“Kalau begitu, aku harus mengatakan apa adanya pada Kresna nanti malam, agar segala sesuatunya jelas dan tak ada yang mengganjal,” Sena berkata lagi.

“Tapi…,” Ajeng tak melanjutkan. Ia kembali terdiam.

“Aku akan menjelaskan pada Kresna bahwa mulai hari ini, malam ini engkau telah menjadi milikku.”

“Jangan, Sena. Aku minta…”.

“Tak mengapa Ajeng.”

“Aku mohon jangan,” Ajeng menghiba. Pandangan matanya sayu.

“Aku tak merebutmu darinya.”

Ajeng terdiam. Ia hanya menunduk.

“Sepertinya kita sudah akan sampai Ajeng?”

Gadis itu mendongakkan kepala, terkejut. Ia memandang ke arah depan. Benar apa yang dikatakan Sena, metromini telah mendekati daerah tempat tinggal Kresna sekaligus rumah pamannya tempat ia tinggal. Segera ia meminta sopir untuk menghentikan laju kendaraan. Ajeng dan Sena kemudian melompat keluar dan segera berlari ke tepi jalan yang sudah tak begitu ramai.

Sena menggandeng tangan Ajeng. Ada dirasainya kebahagiaan malam itu. Namun ada pula keraguan berkecamuk di hatinya. Ragu, apakah Ajeng sungguh-sungguh mencintainya. Keduanya terus berjalan dan berjalan, memasuki gang yang sempit, menurun, dan berbau kencing manusia. Tanpa disadari oleh mereka, seseorang berjalan mengikuti dari belakang. Pandangan mata orang itu tajam, baju dan jaketnya nampak kotor terutama bagian sikunya. Sebatang rokok yang baru dinyalakan terselip di bibirnya. Ia berjalan mengikuti dari jarak enam meter.

“Jam berapa sekarang?” tanya Sena.

Gadis itu tak langsung menjawab. Sambil berjalan, ia berusaha melihat pada pergelangan tangan kirinya. Upayanya tak berhasil. Ia kemudian menghentikan langkah. Sena demikian pula menghentikan langkahnya. Cahaya sinar lampu neon dari sebuah rumah tingkat membuatnya mampu melihat jarum jam. Orang yang mengikuti mereka ikut berhenti menyandar pada sisi tembok yang gelap. Mengisap rokok.

“Sudah hampir jam sembilan malam.”

“Jam sembilan?”

“Kurang sepuluh menit.”

“Sudah semalam itu?”

“Ketika kita naik dari Pasar Minggu saat itu sudah jam setengah sembilan kurang sedikit.”

Keduanya terus berjalan. Beberapa ekor kucing lari ketakutan demi mendengar langkah mereka. Serombongan pemuda yang duduk-duduk di gardu ronda melihat tanpa senyum pada mereka. Sena melempar senyum pada mereka, sedikit membungkukkan badan dan terus berjalan. Berlalu. Orang yang mengikuti langkah Ajeng dan Sena dari belakang juga tersenyum pada rombongan pemuda yang sedang duduk duduk itu, melambaikan tangan.

“Alangkah sepinya daerah ini.”

“Ya memang. Kebanyakan orang yang tinggal di daerah ini adalah pekerja di kota. Pegawai rendahan. Kerja mereka jauh di kota.”

“Apa hubungannya dengan suasana sepi?”

“Mereka baru pulang ketika hari menjelang Isya. Sesampainya di rumah mereka makan, mandi kemudian langsung pergi tidur. Esok pagi benar mereka harus sudah bangun dan berangkat kerja.”

“Alangkah lelahnya hidup di Jakarta,” Sena berkata lirih.

Ajeng menimpali:

“Memang begitu. Di sini, anak-anak mandi jam lima setiap paginya, dan sebelum jam enam pagi mereka sudah berangkat ke sekolah kalau tak mau terjebak macet.”

“Rasa-rasanya aku tak akan kuat hidup di Jakarta. Aku lebih suka tinggal di daerah.”

“Kau akan terbiasa juga nantinya kalau kau tinggal di Jakarta.”

Gadis itu menambahi lagi:

“Lihatlah aku. Aku juga berasal dari daerah kecil sepertimu. Aku tak pernah mengalami kemacetan, polusi kendaraan selama hidupku di sana.”

“Bagaimana kau membiasakan diri?”

“Dengan menikmatinya. Tiada jalan terbaik kecuali demikian, Sena.”

“Termasuk menikmati semua kemacetan, dan kerawanan seperti preman, copet dan kapak merah?”

“Mungkin begitu. Yang pasti, kita tak boleh takut tinggal di kota ini. Sekali kita merasa takut, selamanya kita tak akan pernah keluar rumah, dan dengan begitu maka tidak akan ada yang kita capai.”

Keduanya terus melangkah. Jalan yang mereka lalui semakin melebar. Rumah yang ditinggali Kresna semakin dekat. Sedangkan atap rumah bertingkat di sampingnya yang ditinggali Ajeng sudah mulai terlihat. Sebelum mendekati rumah, Sena menarik Ajeng ke tanah pekarangan sempit yang tak terlalu terkena cahaya. Cahaya bulan dan lampu penerangan.

“Ajeng. Aku aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakanlah,” Ajeng berkata separuh berbisik.

“Aku ingin berterimakasih. Engkau telah menerima hatiku.”

Ajeng tak menjawab.

“Ijinkan aku mencium keningmu.”

“Jangan, Sena” Ajeng menolak.

Sena tak peduli. Pemuda itu menunduk, mencium kening gadis itu. Ada damai ia rasai di hatinya. Ajeng hanya terdiam, matanya memandang pada Sena dengan penuh rasa yang berkecamuk di hatinya.

“Kau sayang padaku Ajeng?”

“Haruskahkah aku menjawabnya?”

Sena mengangguk.

“Kurasa aku tak perlu berkata-kata. Kau sudah tahu kedalaman hatiku.”

“Ketika pertama melihatmu kemarin, aku sudah yakin bahwa aku menyayangimu, Ajeng.”

Ajeng memandang Sena dengan sungguh. Berkata kemudian:

“Terlalu cepatkah apa yang kita rasa Sena? Terlalu cepatkah apa yang kita putuskan ini?”

“Aku tak tahu Ajeng.”

“Hanya satu hari perkenalan kita.”

“Ya, baru satu hari,” Sena menggumam.

“Dan kita belum lagi saling mengenal dengan baik. Lebih mendalam. Kau ragu padaku Sena?”

Sena menggeleng. Ia balik bertanya:

“Kau berjanji akan selalu setia?”

“Aku berjanji.”

“Tapi kita berjauhan Ajeng. Esok aku akan pulang, dan aku tak tahu kapan kita akan berjumpa lagi.”

“Jarak tak akan mampu memisahkan. Kalau kita saling mencintai, maka jarak bukanlah penghalang bukan. Justeru kita akan berpisah untuk kembali.”

“Aku tak ingin kehilangan engkau Ajeng.”

“Tak perlu kau katakan itu Sena, aku juga tak mau kehilangan engkau.”

“Tapi engkau tinggal jauh dari Kutoarjo,” Sena merengek.

“Engkau bisa menyusulku ke mari. Kita bisa bersama-sama mencari hidup di Jakarta.”

“Tapi aku takut dengan Jakarta. Aku Jakarta phobi!”.

“Kau mesti berusaha, sena. Kau pasti bisa.”

“Sungguh?”

Ajeng mengangguk.

“Untukmu kulakukan segalanya Ajeng. Gerombolan kapak merahpun akan kulawan bilamana perlu!,” Sena tertawa lirih. Ajeng tersenyum.

“Kau gombal…”

“Akan kuajari mereka beternak ayam, supaya mereka tak merampasi harta orang!”

“Di Jakarta tak ada lahan untuk beternak ayam, Sena!”

Dan mereka berdua tertawa lirih, kemudian saling berpelukan erat. Bintang-bintang di atas langit malam Jakarta yang cerah memancarkan cahaya berkerlipan seolah menyoraki. Gemuruh suara jalan raya sayup terdengar, tak dihiraukan oleh mereka. Gerimis kecil mulai turun.

“Mari kita ke kamar Kresna dahulu.”

“Lebih baik aku pulang saja, Sena.”

“ Minum-minumlah barang satu gelas kopi sebelum engkau pulang?”

Ajeng menyerah. Keduanya kemudian beranjak dari tempatnya.

“Boleh aku ikut minum kopi?”, terdengar suara dari belakang. Sena dan Ajeng menoleh, mencari sumber suara itu. Dari kegelapan muncul sesosok bayangan manusia bergerak menghampiri. Sinar bulan dan lampu neon pelataran rumah menerangi wajahnya. Ia nampak terlihat lusuh dan kuyu namun masih bisa tersenyum. Senyum yang tawar.

“Kresna,” Ajeng dan Sena berkata nyaris serempak. “Kau juga baru pulang?”

“Ya. Aku satu kendaraan dengan kalian.”

“Satu metromini dengan kami?” tanya Ajeng heran.

“Ya sejak dari Pasar Minggu?”

“Dari Pasar Minggu?”

Kresna mengangguk. “Aku duduk di belakang kalian.”

“Mengapa kau tak menegur kami?” Ajeng bertanya gelisah. Matanya berganti-gantian memandang pada Sena dan Kresna. Ada raut khawatir di wajahnya.

“Tak mengapa, aku tak ingin mengganggu pembicaraan kalian. Hey, bagaimana kalau kita minum-minum kopi dahulu?”

Sena dan Ajeng saling berpandangan. ‘Kresna telah mengikuti sejak dari Pasar Minggu? Kalau begitu ia telah mengetahui semua pembicaraanku dengan Ajeng. Kalau begitu ia telah mengetahui pembicaraan apa saja yang keluar dari mulutku dan mulut Ajeng…,’ fikir Sena.

“Ayo, jadi ‘kan kita ngopi?” tanya Kresna lagi. Ia tersenyum. Sena dan Ajeng mengiyakan. Dan ketiga orang itu pun kemudian berjalan memasuki pelataran rumah tua itu. Suara kereta api dari kejauhan masih menderu merasuk di gelapnya malam, dan gerimis hujan yang turun semakin menderas…

BAGIAN VI

 

Tiga gelas kopi telah terhidang di atas meja. Ajeng sendiri yang meracik minuman itu. Asapnya masih mengepul-ngepul, bergulat dan beradu dengan asap rokok yang menyembur-nyembur dari mulut dan hidung Sena dan Kresna. Ajeng duduk di lantai di samping Sena, melipat tangan pada kakinya. Kresna duduk bersandar pada tembok. Sena memulai percakapan:

“Jadi kau sudah mengetahui semua, Kres?”

Kresna tak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kau marah padaku, Kresna?” tanya Ajeng.

“Marah? padamu?” Kresna tertawa. Jari-jarinya memainkan asbak tiruan patung suku Asmat.

“Aku takut kau membenciku!”

“Tak ada alasan padaku untuk membencimu. Kau berhak memilih siapa yang engkau suka dan percaya untuk mendampingimu. Kau manusia bebas.”

“Aku pernah berjanji padamu…”

“Janji bisa berubah, dan itu wajar. Aku menghargai keputusan kalian.”

“Maafkan aku,” Ajeng berkata lemah.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Sena menyukaimu. Bukan begitu Sen?” Kresna bertanya pada Sena. Sena mengangguk. Kresna berkata lagi:

“Dan kau sayang pada Sena ?”

Ajeng tak menjawab. Kepalanya menunduk. Kresna mendesah. Beberapa saat ia terdiam. Jari-jari memutar-mutar sigaret yang terus mengepulkan asap tipis, tak dihisapi. Suasana kamar menjadi hening, hanya suara rintik hujan dari luar rumah yang terdengar. Berkata Kresna lagi:

“Sena, sebaiknya aku jujur padamu. Aku memang pernah mencintai Ajeng.”

“Ajeng telah menceriterakan semua padaku,” sahut Sena.

“Dan kau tahu keputusannya untukku bukan?”

Sena mengangguk.

“Dan kini, Ajeng telah menentukan pilihannya.”

“Maafkan aku Kres. Kedatanganku ke sini justeru menghancurkan harapanmu. Sungguh bukan maksudku.”

“Tak ada yang perlu aku maafkan Sena. Semua orang bebas untuk memilih. Memilih apa yang disukainya. Aku memegang teguh prinsip itu dalam hidupku.”

“Dan ingin pula kukatakan padamu Sena, Ajeng, bahwa hari ini aku telah bertekad dan memutuskan untuk berhenti sebagai pengedar!”.

“Engkau?” Ajeng terperanjat, berkata lirih.

Kresna mengangguk pasti.

“Engkau telah berhenti?” Sungguhkah itu?”

Kresna mengangguk lagi. Tersenyum.

Ajeng terdiam. Sena mengucap syukur.

“Maafkan aku Sena, aku tak jujur padamu. Selama ini aku hanyalah seorang pengedar ganja.”

Sena mengatakan pada Kresna bahwa ia sudah mendengar mengenai hal itu dari Ajeng. Berkata Sena kemudian:

“Ada kalanya kita tak harus menceriterakan semua yang ada di diri kita pada orang lain.”

“Semua orang berhak mempunyai rahasianya sendiri,”sambung Ajeng. Gadis itu berkata kemudian:

“Yang penting kau sudah menyadari apa yang kau lakukan itu salah, Kresna.”

Kresna mengangguk-angguk, kemudian berkata:

“Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan kembali ke Kediri. Ke rumahku sendiri.”

“Kau akan tinggalkan Jakarta?”, tanya Sena.

Kresna mengangguk.

“Mengapa harus kau tinggalkan Jakarta?” tanya Ajeng. “Kau bisa berganti pekerjaan.”

“Dan mengapa aku harus tetap tinggal di Jakarta?”, potong Kresna cepat. Ia kemudian berkata lagi.

“Tak ada tempat bagiku di Jakarta. Aku harus pulang.” Kresna kemudian memandang pada Sena dan Ajeng, berkata:

“Dari lubuk hatiku yang terdalam kuucapkan selamat pada kalian berdua.”

Ajeng dan Sena mengamini perlahan.

Kresna mengangguk. Berkata ia kemudian: “Kuharap, hubungan kalian akan langgeng”. Dijabatinya tangan Ajeng dan kemudian dipeluknya Sena. Dengan begitu, kerikuhan yang baru saja meliputi suasana kamar itupun kembali mencair. Gelas kopi berdentingan sebagai tanda sukacita. Mereka bertiga kemudian berjanji akan merayakan kebahagiaan dengan berjalan-jalan ke Pasar Baru esok minggu sebelum kepulangan Sena ke Kutoarjo.

Beberapa saat kemudian Ajeng meminta diri karena waktu sudah mendekati pukul sepuluh malam. Kresna tetap tinggal di kamar menyulut rokok keduanya, sedangkan Sena melepas kepergian gadis itu hingga ke pintu pagar. Tak lama kemudian Sena telah kembali berada di kamar. Kedua pemuda itu pun bercakap-cakap kembali.

“Jadi kau pulang esok, Sena?”

“Ya. Aku harus kembali esok hari”.

“Pagi atau malam?”

“Senja hari.”

“Aku akan mengantarmu.”

“Terimakasih. Ajeng juga akan mengantarku.”

“Sudah kau temui kakakmu Yanti?”

“Sudah.”

“Bagaimana keadaannya?”

Sena kemudian menceritakan semua yang dialaminya hari itu pada Kresna. Tentang perempuan tua yang tinggal di depan rumah kos Yanti. Tentang Hilda, yang tinggal dalam satu rumah kos dengan kakaknya. Tentang aktivitas kakak perempuannya itu, dan tentang rencana kepulangan Yanti segera setelah menghadiri acara di Filipina.

“Syukurlah kalau begitu. Keluarga kalian akan utuh lagi dalam waktu dekat. Aku turut senang.”

“Aku harap begitu.”

“Aku juga akan pulang ke Kediri. Akan kucoba lagi segala peluang yang ada. Mungkin aku perlu belajar darimu beternak ayam, atau bebek.”

“Mungkin ada baiknya kau menuruti nasihat ayahmu, menjadi pegawai Kecamatan”.

“Entahlah. Barangkali aku memang harus mencobanya. Aku harus lebih realistis.”

“Dalam hidup terkadang kita dituntut untuk mau berkompromi, berdamai dengan keadaan. Tak bisa kita memaksakan selalu apa yang menjadi kehendak kita. Apa yang kita yakini sebagai benar, belum tentu tepat dan baik dalam pelaksanaannya”, Sena berkata. Ia menguap panjang, kemudian melanjutkan lagi:

“Ada baiknya kukira jika kau bekerja membangun desamu sendiri. Setidaknya itu lebih baik daripada kau menjadi pengedar. Kau tahu, selain resiko besar, keluargamu jugalah yang akan rugi jika kau sampai tertangkap.”

“Aku tahu,” Kresna mengangguk. Ingatannya melayang kembali pada pemulung yang dijumpainya hari itu.

“Ingatlah almarhum ibumu.”

Kresna mengangguk.

“Kapan kira-kira kau tinggalkan Jakarta?”

“Aku belum tahu. Mungkin dalam satu atau dua minggu ini.”

“Mampirlah ke Kutoarjo.”

“Insya Allah, akan kuusahakan.”

“Aku mengantuk, Kres,” Sena menguap lagi kemudian merebahkan badannya.

“Mandi dan shalatlah dahulu. Baru kau tidur.”

“Oh iya, aku lupa belum shalat. Terimakasih sudah mengingatkan, Kres.”

Kresna tersenyum. Sena melangkah menuju pintu belakang, ke kamar mandi. Setelah selesai Kresna pun mandi. Keduanya kemudian bersembahyang bersama, berjamaah. Sena memimpin shalat, menjadi imam. Selesai shalat Sena keluar dan memesan dua piring mi rebus. Keduanya kemudian menikmati santap malam yang panas dan mengepul itu dengan lahap. Setelah makan, rokok kembali mereka hisapi. Berkata Kresna pada Sena:

“Kadang kala, apa yang kita hadapi sungguh di luar dari apa yang kita rencanakan.”

“Dan sama sekali tak kita duga.”

“Semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”

Sena mengangguk kemudian berkata:

“Aku mengantuk.”

“Tidurlah dahulu. Aku belum mengantuk,” sahut Kresna. Sena mengangguk. Dimatikannya rokok yang masih panjang dan kemudian dihempaskannya badannya di tempat tidur. Kresna bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri meja kerjanya. Diambilnya kaset John Mayall dan diputarnya di cassette player, hadiah ayahnya sepuluh tahun silam ketika menjadi juara baca puisi tingkat SMA se-kabupaten. Dimatikannya lampu ruangan dan menyalakan lampu yang lebih kecil, lampu duduk. Malam semakin pekat. Gerimis hujan belum juga mereda. Sesekali cahaya kilat menembusi kamarnya, tanpa suara guntur mengikuti. Dilihatnya ke samping, Sena telah tidur dengan bintik keringat di dahi dan mulut yang sedikit menganga. Kresna tersenyum melihatnya. Dihisapinya rokoknya. Dikenangnya peristiwa yang baru saja dialaminya. Dengan begitu ia kembali mengucap syukur karena telah lolos dari kejaran maut. Kresna merebahkan badan memandang ke langit langit. Dan di langit-langit itu wajah lelaki pemulung yang ia tak sempat tahu namanya tiba-tiba menjelma. Lelaki yang membuang bungkusan miliknya, yang biasanya ia pertahankan dengan segenap harga diri dan bahkan nyawanya sendiri. Ia memejamkan matanya sejenak, berdoa agar Tuhan mensejahterakan lelaki itu dan menghapus dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Wajah Ajeng yang tersenyum mengembang datang menggantikan. Ia pun tersenyum sekaligus benaknya berandai-andai: ‘jika Sena tak datang kemari, barangkali malam ini adalah malam yang sempurna’…

Tiba-tiba dirasainya hatinya menjadi pedih dan menyesali. Namun ia cepat tersadar kembali, berkata lirih pada dirinya sendiri: ‘Aku tidak boleh berhenti melangkah. Jalan hidupku masih panjang..”. Dan ia tersenyum, pada dirinya sendiri. Tak ada yang melihat dan mendengar ia berkata-kata. Sena telah lama terlelap dan mulai mendengkur. Gerimis yang turun semakin menderas dan angin malam yang dingin berhembusan liar memasuki jendela kamarnya. Kresna bangkit menutup jendela, kemudian merebahkan badannya di samping Sena. Kembali bayangan-bayangan muncul di benaknya. Ia semakin mengantuk dan akhirnya tertidur. Kamar yang temaram itu menjadi sunyi. Hanya John Mayall yang masih bernyanyi, bersenandung sendiri tanpa ada yang mendengarkan…


Sebuah mikrolet berhenti agak jauh dari Setasiun Jatinegara. Sena, Kresna dan Ajeng berlompatan keluar dari dalamnya untuk kemudian berjalan menuju setasiun. Sena memandangi keadaan sekitar. Apa yang dilihatnya masih saja sama dengan dua hari yang lalu: warung tenda, tukang ojek yang bergerombol, dan taksi-taksi yang parkir di depan setasiun. Lampu-lampu penerangan, lampu-lampu kendaraan, serta lampu-lampu warung dan toko telah dinyalakan menyambut hari yang telah menggelap. Sena melirik pada sebuah warung tenda tak jauh dari titik tempatnya berdiri. Seorang gadis dengan baki kosong di tangan kirinya melambaikan tangan padanya sambil berteriak. ‘Ipah!’, seru Sena dalam hati. Ia tak dapat mendengar apa yang diteriakkan oleh gadis penjual kopi itu. Tapi dari gerak mulutnya, Sena tahu bahwa gadis itu memintanya untuk mampir dan minum kopi. Sena melambaikan tangan, dan mengembangkan senyum terimakasih, memberi isyarat penolakan. Kresna melambaikan tangan pada gadis itu, kemudian meninju bahu Sena, menggoda. Ajeng memandangi dengan wajah tak senang.

Ketiganya kemudian menyeberang memasuki setasiun. Sena mengantri membeli karcis, sementara Ajeng dan Kresna menunggu sambil duduk di bangku peron.

“Sebentar lagi Sena akan kembali pulang. Kau pasti sedih,” kata Kresna memulai percakapan.

Ajeng mengangguk tanpa berkata-kata.

“Sudah kalian bicarakan kapan kiranya kalian akan bertemu kembali?”

“Belum.”

“Sewaktu-waktu ia bisa ke Jakarta,” hibur Kresna.

“Kuharap begitu..”

“Sekarang waktu untuk kita berjuang. Kau berjuang agar kau dapat pekerjaan yang baik. Sena demikian pula. Ia sedang merintis usahanya di Kutoarjo. Ia seorang yang ulet. Aku sendiri akan memulai hidup baru di Kediri..”

“Ya, sekarang waktu untuk kita berjuang,” gumam Ajeng.

Kresna mengiyakan.

Percakapan mereka terputus. Sena datang menghampiri dengan selembar tiket di tangannya.

“Dapat tiket?”

“Selalu ada tiket untuk kereta api ekonomi..” Sena tersenyum kecut.

Ajeng dan Kresna tertawa. Tawa yang hambar. Tawa perpisahan.

“Aku bisa duduk di mana saja. Di bangku bagus, duduk di lantaipun sudah biasa dan sudah sepatutnya..”

Ajeng memberikan sebungkus permen untuk bekal Sena. Ia lantas menawarkan diri untuk membelikan air minum, namun Sena menolak.

Dari pengeras suara terdengar himbauan agar penumpang kereta segera memasuki gerbong karena kereta api akan segera diberangkatkan. Kresna bangkit dari duduknya, dan memeluk Sena. Ditepuk-tepuknya punggung sahabatnya itu sambil mulutnya mengucapkan selamat jalan. Sena membalas pelukan Kresna dengan ucapan terimakasih.

“Mampirlah ke rumahku kalau kau pulang ke Kediri.”

“Akan aku usahakan,” jawab Kresna sambil menyodorkan sebungkus rokok pada Sena.

“Ambillah ini untuk bekalmu di jalan.”

“Terimakasih. Aku sudah punya,” Sena menolak. Ia berkata lagi:

“Aku titipkan Ajeng padamu. Tolong jaga dia.”

Kresna mengangguk.

Sena membetulkan letak ranselnya. Ia kemudian menoleh pada Ajeng dan berkata:

“Ajeng, aku pulang dahulu.”

“Hati-hati Sena,” Ajeng menjawab.

Sena mengulurkan tangannya, yang disambut dengan cium oleh Ajeng.

“Jangan sampai hilang tiketmu,” sambung Ajeng lagi. Sena mengangguk pasti. Ia kemudian berjalan mendekati pintu gerbong. Ajeng mengiringi langkahnya dan Kresna mengikuti dari belakang.

Terdengar peluit tanda kereta api diberangkatkan. Beberapa pedagang asongan nampak berlompatan keluar dari kereta. Beberapa diantara mereka menggerutu karena dagangannya tak laku.

“Aku akan kembali lagi kemari.”

“Kapankah kiranya?”

“Sesegera mungkin.”

“Aku akan selalu menunggu, Sena.”

“Aku akan menikahimu Ajeng..”

“Berdoalah yang terbaik untuk kita, Sena..”

Kereta api mulai bergerak. Para pengantar yang berdiri di peron melambai-lambaikan tangan. Ada yang menangis dan ada pula yang biasa saja. Sena berjalan di samping kereta api, tak segera naik.

“Naiklah Sena, nanti kau tertinggal,” Ajeng berkata. Matanya berkaca-kaca.

“Aku tak mau berpisah denganmu Ajeng.”

“Masuklah ke dalam kereta, Sena, akan ada waktu bagi kita untuk bertemu lagi. Kunanti engkau di Jakarta..” Ajeng menatap mata Sena dengan sungguh sungguh. Pandangan matanya lemah redup. Rambut panjangnya yang tak diikat itu beterbangan tertiup angin malam Jakarta.

“Tak akan lama aku akan kembali lagi, menjemputmu.”

Ajeng berlarian kecil mengikuti laju kereta. Kresna membuntuti di belakangnya, berjalan gontai.

Kereta kini bergerak semakin cepat. Tak ada pilihan lain bagi Sena kecuali harus melompat ke pintu kereta. Beberapa orang dalam kereta memandangi dengan raut muka yang berbeda-beda.

Sena tak segera masuk ke dalam gerbong. Pemuda itu berdiri di pintu. Wajahnya menjadi keruh. Tangannya melambai-lambai pada Ajeng, pada Kresna. Dilihatnya Ajeng menahan airmata dan Kresna sahabatnya menenangkan. Suara gadisnya itu tak terdengar lagi, kalah oleh gemuruh roda kereta api. Bayangan Ajeng dan Kresna semakin lama semakin mengecil, mengabur. Sekaligus hal itu menerbitkan kesedihan di hati Sena. Kerinduan yang amat sangat mulai mencakari hatinya. Sebagaimana bayangan ayahnya ketika ia meninggalkan Kutoarjo, bayangan Ajeng lama-lama hanyalah menjadi titik yang kemudian lenyap dari pandangan mata.

Sena membalikkan tubuh sambil matanya mencari tempat duduk yang tersisa. ‘Semua bangku kereta api telah penuh terisi,’ fikirnya. Beberapa orang terlihat duduk dan bertiduran di lantai. Tak ada tempat baginya. Ia memutuskan untuk berdiri saja di dekat pintu, dekat toilet kereta. Dengan begitu, bau kencing dan kotoran manusia menusuki hidungnya. Ingin ia berpindah masuk ke bagian dalam gerbong, namun diurungkannya. Bahkan di lantai kereta orang telah banyak bergeletakan. Tak ada tempat lagi baginya. Dengan malas diletakannya ransel hijaunya itu di lantai. Matanya memandang keluar. Pagar besi pembatas biru putih terlihat kembali di pelupuk matanya, persis sama dengan tiga hari lalu ketika ia memasuki Jakarta. Jalan Klender masih saja ramai, dan tembok penjara yang terlihat masih saja kokoh, dengan kawat-kawat berduri dan menara penjaganya.

Sena menatap jendela, memandang ke arah luar. Gelap saja apa yang ia lihat dengan binar-binar cahaya lampu yang muncul dan hilang dengan cepatnya. Terlintas dalam benaknya untuk merokok, namun sebentar saja keinginan itu telah meredup kembali. Dilihatnya pemandangan dalam gerbong dari tempatnya berdiri. Beberapa penumpang tampak sudah atau sedang berusaha memejamkan mata, larut dalam mimpi dan khayal masing-masing. Ia kemudian duduk, menggelesot di lantai. Dicobanya untuk memejamkan mata, mengenang semua yang baru saja dijalani, dialami dan dirasakan di Jakarta. Wajah Ajeng menguasai benaknya, berganti-ganti dengan senyum dan harap. Dalam hati ia berdoa agar ada kemudahan baginya dan Ajeng untuk bersatu, entah di Jakarta atau di Kutoarjo. Namun antara sebentar kemudian ia mengharap agar kemungkinan kedualah yang dikabulkan. Bayangan diri Kresna muncul kini, dan iapun mendoa kemudahan bagi sahabatnya untuk memulai hidup baru di Kediri. Dibisikannya pula perlahan doa untuk Yanti agar dapat segera kembali berkumpul di Kutoarjo. Dan tanpa dapat ditolak, bayangan Ipah bermunculan dan menari-nari menggoda dalam benaknya. Dan dengan mata terpejam serta bibir mengembang senyum ia mendoakan gadis penjual kopi itu.

Beragam-ragam harapan dan rencana kemudian terbangun, bercabang-cabang dan meruntuh dalam pemikirannya. Hatinya berandai-andai membawa Ajeng ke Kutoarjo dan menikahinya atau pula merantau ke Jakarta dan mencari pekerjaan bersama. Terlintas pula di benaknya untuk ikut melunasi hutang ayah Ajeng dan membangun rumahtangga di Temanggung. Sena terus merenung dan berandai-andai. Angin malam yang merasuk dari pintu gerbong yang tak tertutup rapat serta gemuruh suara roda kereta api yang melindas-lindas rel menjadi irama yang membuat ia semakin terkantuk-kantuk. Matanya semakin terasa berat, kehilangan daya pancarnya, dan tak lama kemudian iapun terpejam. Dan kereta api yang membawanya itu terus bergerak semakin m

SYNOPSIS

Kunanti Engkau Di Jakarta adalah novel mengenai keadaan Indonesia paska Reformasi 1998. Para pelaku yang terlibat di dalamnya adalah dua orang pemuda, yang pernah menjadi mahasiswa di masa-masa sukar Orde Baru. Ketika Orde Baru sudah tumbang, mereka mengalami hal yang sama dialami oleh para eks mahasiswa lainnya: bekas pahlawan yang terlupakan dan tetap tergilas oleh sisa-sisa penindasan dan korupsi.

Sena mencari kakaknya, seorang perempuan yang lemah dan berubah menjadi aktivis buruh yang radikal di Jakarta. Di Ibukota, ia menumpang pada kawannya yang lama, Kresna, mantan aktivis pergerakan yang karena kesulitan hidup mengandalkan hidup dari berjualan narkotika. Diantara kedua sahabat lama itu hadirlah Ajeng yang sama-sama disukai oleh keduanya. Namun Ajeng lebih menaruh simpati pada Sena. Kesulitan ekonomi, masa depan yang belum pasti membuat cinta mereka tidak pula bisa segera dipastikan.

BAGIAN I

 

Jalan raya Klender sudah terlihat dari kaca sebelah kiri. Pagar-pagar besi biru putih yang memisahkan jalan raya dan rel kereta api seolah berlarian bergerak kabur dalam pandangan mata. Berganti-ganti saja apa yang terlihat: tembok penjara yang berkawat, rumah toko, warung tenda, bus besar kecil, pejalan kaki, sungai dan parit, metromini, mobil pribadi, sepeda motor dan angkutan umum, jembatan layang, pohon-pohon. Tak lama kemudian kereta mulai melambatkan lajunya memasuki setasiun Jatinegara. Jalannya semakin melambat dan melambat. Sejauh pandang mata dilemparkan ke luar terlihat jalur-jalur kereta api yang terlihat amat banyak, bercabangan. Kereta api bergerak semakin perlahan dan perlahan.

Apa yang terlihat kini tak kabur lagi, semakin lama semakin jelas. Beberapa orang terlihat berjalan-jalan di antara rel dengan pakaian yang kotor kecoklatan dan tak terurus. Dua orang pemulung terlihat membawa karung besar memunguti apa saja yang dianggap dapat menghasilkan uang: botol plastik bekas air mineral, kertas karton. Seorang lelaki tak bercelana berjalan malas menyeret kaki dengan pakaian menghitam dan berlubang serta mata memandang kosong: orang gila. Agak jauh darinya berjalan bergerombol anak-anak kecil bergerombol membawa gitar kecil dan kendang bernyanyi-nyanyi. Kuning sinar matahari sore menyinari wajah-wajah mereka, wajah-wajah yang gembira.

‘Kereta memasuki setasiun nampaknya. Ah tak terasa, perjalananku seharian ini sudah hampir selesai’, pikir Sena. Dilemparkannya kembali pandangannya ke arah luar kereta, melihat kepada rel-rel dan anak-anak kecil itu. Pikirannya melayang pada peristiwa menggemparkan yang pernah dilihatnya di televisi beberapa tahun silam. Seorang sakit jiwa bernama Siswanto mencabuli belasan anak, beberapa diantaranya adalah anak-anak tunawisma Jatinegara. Kesemua anak itu kemudian dibunuh, perutnya disilet hingga ususnya terburai. Sena bergidik mengingatnya. Bunyi rem kereta yang mendecit dan menimbulkan bau yang khas membuyarkan lamunannya. Kini yang telihat di kedua bola matanya hanyalah orang-orang yang berkerumun di setasiun. Macam-macam sajalah penampilannya.

Orang-orang yang memenuhi setasiun itu ada yang nampak hendak menjemput, ada yang kelihatannya hendak bepergian. Ada yang berombongan, ada yang sendirian. Ada yang sedih, dan ada pula yang terlihat habis menguras air matanya. Banyak yang wajahnya terlihat biasa saja, tak sedih tak pula gembira. Banyak pula yang sukar ditebak kedalaman hatinya karena berkacamata hitam, laki-laki ataupun perempuan. Ada pula dilihatnya pasangan suami isteri muda begitu kerepotan mengganti celana pendek anaknya yang mengompol. Si lelaki, sang suami, bapak si kecil nampaknya tak sabar, karena si kecil menangis meraung sejadinya, tak mau berganti celana.

Para penumpang dalam kereta sudah mulai berdiri, bahkan sejak lama tadi, sejak kereta belum lagi memasuki setasiun. Mereka yang berkenalan dan saling menjadi kawan bicara di sepanjang perjalanan bersalam-salaman dan berpesan pada masing masing kawan barunya agar saling mengunjungi dan berharap dapat berjumpa lagi. Ada diantara mereka saling bertukar nomor telepon sambil berjanji akan bertandang suatu saat jika ada kesempatan. Sena bangkit dari duduk. Ia tidak berpisahan dengan siapapun di kereta itu. Sepanjang perjalanan, ia duduk disamping lelaki tua yang sama sekali tak mengajaknya bicara. Dan kawan duduk di sampingnya itu sudah lebih dahulu turun di Setasiun Bekasi. Diregangkannya tubuh ke depan dan belakang, mengusir penat. Dibetulkannya pakaiannya yang kusut, terbawa tidurnya barusan. Dikibas-kibaskannya baju bagian depan, dan dengan mulutnya ditiupinya dadanya yang basah berbintik keringat. Ia memandang ke atas, tempat ia menaruh ransel bawaannya.

Ransel hijau, bekas ransel tentara. Ia sendiri mendapatkan ransel itu dari kakaknya, seorang serdadu. Sebentar saja ransel itu sudah berpindah ke punggung. Mulailah ia berjalan di lorong gerbong kereta menuju pintu, berbaris mengantri bersama dengan orang lain yang hendak turun. Sesekali tubuhnya membungkuk dan matanya memandangi ke arah luar. ‘Semoga kereta ini tak terlambat’, pikirnya.

Kereta telah benar-benar berhenti kini. Ada didengarnya para penumpang mengucap syukur dalam Arab. Dan orang-orangpun berebut hendak turun. Di depannya seorang nenek berpakaian Jawa lusuh berjalan amat lambat. Dalam hati ia mengutuki mengapa nenek itu tak segera saja mati. Namun ia teringat pada neneknya sendiri, dan dengan begitu ia menjadi kembali sabar. Perlu waktu agak lama menanti orang tua itu tertatih keluar dari pintu kereta. Didengarnya beberapa penumpang yang mengantri di belakangnya menggerutu dan mulai mendesak desak punggungnya.

“Sabarlah, ia orang tua. Tak mungkin aku mendorongnya,” kata Sena sambil menolehkan pandangan ke belakang, memandang tak senang. Sekaligus orang-orang yang tadi menggerutu dan mendesaknya terdiam. Nenek itu telah berhasil keluar setelah berjalan begitu lambat dan terseret-seret. Sena bergegas melompat dari gerbong.

‘Akhirnya sampai juga aku di Jakarta!,’ serunya dalam hati. Ia merasa lega. Setasiun Jatinegara yang panas, ramai akan orang dan ramai akan bau. Bau keringat, bau mesin kereta api, dan bau tubuh ratusan orang. Stasiun Meester Cornelis, demikian orang dahulu menyebutnya. Ia teringat: seorang kakek yang tinggal tak jauh dari rumahnya menyebut nama itu beberapa hari sebelum keberangkatannya dan menimbulkan kebingungan padanya. Dan kakek itu, yang padanya mengaku pernah tinggal di Jakarta pada awal revolusi 1945 menjadi bingung bukan kepalang, tak mengerti bahwa nama setasiun itu kini telah lebih dikenal sebagai Jatinegara.

Ia menengok ke depan belakang kanan dan kiri mencari-cari. ‘Di mana Kresna? Tiga hari lalu ia mengirim pesan dan berjanji menjemputku di sini jam empat sore. Tapi sekarang sudah jam lima ia belum nampak juga?’. Diraihnya sebatang rokok dari saku celana kirinya. Segera linting tembakau padat itu telah terselip di bibirnya. Ia mulai merokok, membakar rasa tak sabar dan kesalnya yang mulai tumbuh. Pandangannya diarahkan ke sekeliling.

Kereta yang baru saja ditumpanginya telah mulai bergerak lagi menuju kota. Belum juga nampak Kresna menjemput. Hatinya menjadi semakin kesal. Berjalan ia ke pinggir, bersandar pada dinding setasiun, meletakkan ransel dan melanjutkan merokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat. Pekat kental cokelat asapnya. Dirogohnya telepon genggam dari saku celananya dengan malas. Ia melirik: ‘tidak ada pesan baru!’. Dan ia buka lagi pesan pendek beberapa hari lalu yang masih di simpannya. Tidak salah, kawannya itu memang telah menyanggupi untuk menjemputnya hari ini.

“Maaf Pak, apakah kereta api yang baru saja datang itu terlambat dari jadwal kedatangan?,” tanyanya pada seorang petugas berseragam biru yang kebetulan lewat. Orang itu menoleh dan kemudian menjawab:

“Tidak, malah kereta itu lebih cepat limabelas menit dari biasanya. Memang ada apa?”

“Oh tidak, kawan saya berjanji menjemput saya di sini. Saya takut kalau kereta ini terlambat datang dan ia kemudian pulang.”

“Tunggulah saja di sini. Orang yang anda tunggu pasti akan datang,” orang berseragam itu berkata tanpa tersenyum dan segera berlalu. Sena mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Si seragam biru tak menyahut, terus berlalu.

Hatinya menjadi sedikit lebih tenang kini. Matanya bergera-gerak mengamati dan mencari kawan yang telah berjanji menjemputnya. Ketika sedang menanti tiba-tiba terdengar tangis putus asa seorang perempuan beberapa meter di sampingnya. Diliriknya ke arah kiri. Seorang perempuan berumur sekira duapuluhlima tahun mengenakan celana kain biru dengan baju kuning lengan panjang nampak sedang berurai air mata. Di sampingnya tergeletak sebuah travel bag. Beberapa lelaki mengerumuninya.

“Lain kali hati-hati kalau membawa uang banyak di tempat umum, apalagi di setasiun seperti Jatinegara ini,” salah seorang dari lelaki yang mengerumuninya berkata. Menasihati.

“Emang gimana kok sampai dompetmu hilang?”

“Saya tidak tahu Pak, sungguh. Baru saja masih ada di sini ketika saya sedang membeli karcis,” ujar perempuan itu sambil menepuk pantatnya sendiri, menunjukkan kantong belakang celananya. Ia menangis lagi.

“Kok bisa sampai kecopetan bagaimana?” tanya yang lain lagi.

Perempuan itu masih terisak, namun masih dapat menjawabi: “Tidak tahu. Saya baru saja mau membeli air minum di kantin,” tangan perempuan itu menunjuk ke sebuah kedai yang dimaksudkannya sebagai kantin itu.

“Terus?”

“Ketika saya rogoh celana, dompet saya sudah tak ada. Aduh bagaimana ini, uang itu adalah hasil saya bekerja selama hampir dua tahun jadi pembantu di sini. Apa kata Abah dan Umi nanti?” Perempuan itu terus mengeluh dan merintih. Ada terdengar sesekali ia meminta ampun pada Tuhan dan menyebutkan kesalahan-kesalahan dirinya sendiri. Ia meratap dan mengakui bahwa ia tak pernah bersedekah dan terlalu kikir dalam beramal. Sebentar kemudian ia membela diri :”Penghasilanku terlalu kecil, aku tak bisa bersedekah.” Tangisnya pun berlanjut. Melolong-lolong kini.

“Kasihan sekali ia,” gumam seorang perempuan berbaju seragam sebuah supermarket.

“Ya kasihan sekali,” gumam yang lain, seorang petugas kebersihan yang membawa tongkat pel. “Ia terlalu lugu. Banyak sekali copet di sini. Mestinya kalau ia sudah lama kerja di Jakarta ia sudah tahu. Hidup di Jakarta kalau tidak hati-hati bisa celaka!”. Seorang lelaki gemuk yang kebetulan melintas dan mempelajari apa yang telah terjadi sambil berlalu lagi mengatakan dengan pendek dan ketus: “Salahnya sendiri!” Beberapa orang yang lewat melongokkan kepalanya pula. Pertanyaan yang sama pun terlontar pada perempuan malang itu: Ada apa? Kenapa sampai hilang? Bagaimana ceritanya kok sampai hilang?. Dan sependengaran Sena, kesemuanya menutup pembicaraan dengan kalimat yang sama: Lain kali hati-hati! Dan semua kata-kata itu berbaur dengan bising suara orang di setasiun dan pengumuman serta peringatan datang dan perginya kereta.

Sena terus menengokkan kepalanya dan menajamkan pendengaran mengamati apa yang dilihat dan didengarnya itu. Seorang lelaki berumur sekitar empatpuluh lima, nampaknya petugas porter setasiun mengantar perempuan muda malang itu memasuki kereta api ekonomi yang akan ke arah timur. ‘Ah pencopetan, ada di mana saja. Tidak di kota besar tidak di kota kecil. Sama saja.’ Pikiran Sena melayang pada peristiwa yang pernah dialami Ibunya sendiri. Di sebuah pasar Ibunya kehilangan kalung emas. Untunglah ia mempunyai kenalan, seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya, yang berprofesi sebagai pencopet pasar. Melalui pertolongan kawannya itu kalung Ibunya dapat ditemukan kembali sebelum terburu dijual. Untuk itu ia mengganti sekedar uang rokok.

“Sena!,” tiba-tiba terdengar suara memanggil. Suara seorang laki-laki. Ia segera memalingkan pandangannya dari kereta api yang membawa perempuan yang baru saja dicopet itu. Apa yang dilihatnya kini adalah seorang berperawakan tegap dengan jaket jeans tua namun nampak tercuci bersih. Pemuda itu terlihat melambaikan tangan. Rambutnya agak panjang mencapai pundak. Ia berkacamata hitam, mengenakan sepatu kets berwarna putih yang sudah berubah kecoklatan.

“Aha…ha! Kresna, jadi juga kau menjemputku juga,” Sena memekik menyumpahi. Segera dihampirinya lelaki yang baru saja memanggilnya itu. Dipeluknya erat sambil berkata separuh berteriak.

“Hampir aku putus asa menunggumu, keparat!”

Yang dipeluk hanya tertawa. “Apa kabarmu, Sen?,” Kresna bertanya setelah keduanya selesai berpelukan. Ada keharuan di wajahnya. Beberapa orang melihat pada mereka dengan pandangan aneh. Kedua pemuda itu tak peduli.

“Baik,” Sena menjawab. “Baru dua tahun kita berpisah, rasanya sudah lama sekali, Kres!”

“Engkau masih saja seperti dulu, kawan. Badanmu itu masih kurus seperti orang kena tuberkolosis,” Kresna berkata. Dibukanya kaca mata hitamnya itu. Terlihat kini matanya yang tajam bersinar-sinar memandangi Sena.

“Orang susah dilarang gemuk, kau tahu?,” Sena tersenyum masam. Ia kemudian membalas:

“Kau sendiri masih seperti dahulu. Rambutmu panjang tak beraturan. Aku heran, apakah kau selalu tak punya uang untuk bercukur? Lagipula, kau akan terlihat lebih tampan kalau berambut pendek, bung!”

“Ah apalah arti rambut. Jangan kau nilai kecap dari botolnya. Tak akan mungkin kau bisa menilai mutu kecap dengan menjilati botolnya. Kita tak bisa menilai buku dari hanya sekedar melihat sampul mukanya saja.”

Sena menukas sengit: “Kau paling pandai berkilah!”

“Ha…ha..ha, aku mengatakan yang sebenarnya, apa adanya. Sudahlah, ayo kita segera ke luar. Kau sudah makan? Mau apa kita sekarang? Ngopi-ngopi dahulu?,” Kresna menawari.

Sena tersenyum. Ia kemudian berkata:

“Aku sudah makan. Tadi aku membeli nasi bungkus di Cirebon. Sepertinya kalau kita minum kopi dahulu akan lebih asyik.”

“Okelah kalau begitu. Ayo!”

Dan keduanya kemudian bergegas berjalan ke luar setasiun. Petugas meminta karcis Sena yang segera disodorkan oleh pemuda itu. Seolah maling yang disergap polisi beberapa sopir taksi dan juga tukang ojek telah menghadang menawarkan tumpangan, namun kedua pemuda itu tak peduli. Mereka berjalan terus ke luar, menyusuri jalan. Sepanjang jalan, pedagang kaki lima sajalah yang terlihat. Macam-macam saja yang mereka dagangkan: radio, obeng, kaus, tas ransel, kaset dan VCD bajakan.

“Ayo kita menyeberang ke sana,” Kresna separuh berteriak, mengajak kawannya itu, masuk ke dalam sebuah warung tenda tak jauh dari setasiun. Suara musik dangdut yang dipasang nyaris setiap pedagang serta gemuruh segala jenis kendaraan sepanjang jalan membuat mereka sukar mendengar apa yang dipercakapkan masing-masing.

Kedua pemuda itupun berkelebatan menyeberang jalan, menghindari berbagai kendaraan yang lewat dan saling salip. Dan dalam sekelebat pula mereka telah menemukan sebuah warung kopi.

“Nah sekarang kita beristirahat sebentar di sini, Sen. Kau mau apa, kopi, teh, atau …,” belum sempat Kresna meneruskan kata-katanya, Sena telah memotong:

“Kopi panas, yang kental dan manis!”

“Kau tak mau bir?”, Kresna bertanya sambil memicingkan matanya. Alis matanya menaik, menunjukkan keheranan yang amat sangat.

“Tidak, kopi saja. Sekarang bukan waktu berhura-hura!”

Kresna kembali memandang temannya aneh. Ia menahan tawa. Berkata kemudian: “Sungguh? Dahulu kau tak pernah menolak. Kau telah berubah sekarang!”

“Pokoknya aku tak mau bir. Kopi panas, titik!”

“Dulu kau yang sering membeli bir untuk kita, boss!”

“Diam bangsat, aku mau kopi. Kalau kamu mau bir, minumlah untuk dirimu sendiri!”

Kresna tak membantah lagi. Ia memesan kopi panas sesuai permintaan Sena. Keinginannya untuk mereguk bir ia batalkan, sebaliknya ia memesan segelas kopi susu panas. Selesai memesan, ia bertanya lagi:

“Kau mau makan?”

Sena menggelengkan kepalanya malas. Kepalanya menggeleng.

“Mi rebus mungkin?”Kresna tak berputus asa menawarkan.

“Sudah kukatakan padamu tadi, Kres, aku sudah makan di Cirebon. Aku masih kenyang.”

“Kau bohong! Jangan kuatir, aku yang bayar. Aku kaya.”

“Perlu aku muntah supaya kau percaya masih ada nasi bungkus di dalam perutku, Kres?”

Kresna tertawa demi melihat wajah jengkel sahabatnya itu.

Sena mengeluarkan Dji Sam Soe. Tiga batang telah ia hisapi sepanjang perjalanan dari Kutoarjo menuju Jakarta. Jumlah yang sedikit, sepertiga dari yang biasa ia mampu hisap dalam setengah harinya. Diambilnya sebatang, setelah itu disodorkannya bungkus rokok berwarna kuning itu pada Kresna.

“Merokoklah.”

“Terimakasih. Aku punya rokok sendiri”.

“Ambillah..,” Sena terus menyodorkan rokoknya. Matanya menatap meyakinkan

Kresna hanya mendengus dan mengambil sebatang.

“Aku membawa beberapa bungkus lagi, cukup untuk kita hisapi seminggu berdua.”

“Good”

Sena mengeluarkan korek api dari saku celananya. Dinyalakannya korek api itu, dan disulutkannya ke rokok. Setelah itu masih dengan batang korek yang sama disulutnya sigaret kawannya itu. Asap kental membubung dan mengepul dari mulut kedua pemuda itu. Keduanya kini asyik dengan asapnya masing-masing.

Seorang gadis datang dengan dua gelas kopi di tangannya. Dari penampilannya dapat ditebak masih mudalah umurnya. Wajahnya lebih dari cantik. Rambutnya dipotong pendek, tak sampai menyentuh pundak. Alisnya tipis. Matanya bulat berbinar. Ia memakai pakaian yang tak terlalu ketat, namun masih menonjolkan keindahan alami tubuhnya. Diletakannya kopi di hadapan Sena dan Kresna. Tersenyum ramah ia pada kedua sahabat itu.

“Diminum kopinya, bang.”

Gadis itu kemudian berlalu, masih dengan senyum yang memekar.

“Terimakasih,” kedua sahabat itu menjawab serempak, perlahan, seperti tersihir dan lumpuh. Antara berapa lama mata keduanya mengagumi gairah yang ditebarkan gadis itu.

“Siapa namamu?” Sena bertanya pada gadis itu, namun yang ditanya tak mendengar dan terus berjalan ke arah belakang warung. Suara musik dangdut dari warung-warung tenda dan kakilima di sekitar Setasiun Jatinegara telah menjadi penghalang niatnya untuk berkenalan dengan gadis itu. Kresna tertawa senang demi melihat raut kecewa pada wajah kawannya itu.

“Sudahlah, lupakan dia. Ayo diminum kopimu itu.”

Sena menggerutu dan kemudian menghirup kopi panasnya. Namun ia belum berputus asa. Demi dilihatnya gadis itu keluar dan membersihkan meja di samping tempat mereka duduk ia bertanya lagi:

“Siapa namamu?” kali ini Sena bertanya lebih keras. Gadis itu menolehkan kepalanya, dan melihat pada Sena. Ia kemudian tersenyum dan menjawab:

“Nama saya? Ipah.”

“Hanya Ipah?”

“Nining Saripah,” gadis itu menjawab cepat separuh berteriak Tangannya mengelap meja kuat-kuat dengan lap berwarna cokelat di tangannya. Bibirnya masih mengembang senyum.

“Kau pasti dari Jawa Barat!”

“Kok tahu?”

“Dari namamu.”

“Huh, bisa aja!”

Nining Saripah atau Ipah melirik pada Sena. Lirikan yang menggairahkan. Tangannya masih sibuk membersihkan meja di samping meja kedua pemuda itu. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Kresna memulai menyeruput kopi susunya. Matanya ikut mengawasi Ipah.

“Tasik?” tanya Sena lagi.

Ipah menggeleng.

“Garut?” Sena kembali menebak.

“Bukan!”

“Kuningan?”

Dua orang pemuda datang bermain gitar. Mengamen. Ipah berlari kecil ke belakang dan segera kembali sambil menyerahkan dua keping uang logam seratusan pada pengamen itu. Bertanya Sena lagi, semakin penasaran:

“Kau dari Kuningan ‘kan?”

Ipah menggeleng lagi. Tersenyum dikulum dan kemudian berkata:

“Sumedang.”

“Oohh…Sumedang. Berapa umurmu sekarang?” Sena bertanya lagi.

“Delapanbelas,” Gadis itu menjawab lagi.

“Berapa?” Sena bertanya lagi, “Aku tak mendengar!.”

Ipah kemudian menyebutkan lagi umurnya. Seorang pengunjung datang. Seorang laki-laki membawa tas besar. Sepertinya ia pedagang keliling. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Ia memesan segelas kopi dan mi rebus pada Ipah.

“Maaf bang, saya mesti bikin kopi lagi. Permisi,” dan gadis itu dengan segera berlalu menuju ke belakang warung. Sena mendengus, dan kemudian menghirup kopi panasnya. Ia kembali menatap Kresna dan berkata perlahan:

“Sayang benar dia. Semanis itu wajahnya dan semuda itu umurnya hanya bekerja di warung kopi. Kalau ia menjadi mahasiswa, atau kuliah diploma sekretaris, pastilah ia bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi pelayan warung kopi di sini.”

“Tapi siapa yang hendak membiayainya? Kalau ia anak orang kaya, takkan ia menghabiskan waktunya bekerja di sini. Uang, uang yang membuat ia harus bekerja di warung kopi!”

“Aku ragu kalau ia bersekolah sampai SMP.”

“Mungkin ia hanya bersekolah hingga SD,” Kresna menimpali tak acuh sambil membaca potongan koran bekas yang tergeletak di atas meja.

“Banyak orang tak punya biaya sehingga tak bisa sekolah seperti Ipah ini. Kasihan dia.”

“Tak selamanya karena kekurangan biaya orang tak bersekolah, Sen. Pendapat yang dangkal itu namanya,” Kresna menukas. Ia memandang wajah Sena dengan sungguh-sungguh, kemudian berkata lagi:

“Ada kalanya orang tua memang tak menginginkan anaknya untuk bersekolah tinggi-tinggi.”

Sena memotong: “Itu ‘kan dulu. Jaman sekarang sudah tak ada orang berfikiran seperti itu.”

“Naif kau” Kresna tak kalah memotong. Ia kemudian melanjutkan:

“Siapa bilang jaman sekarang sudah tak ada lagi orang yang menginginkan anaknya bersekolah tinggi? Bahkan pamanku sendiri begitu.”

“Pamanmu? Masa?!”

“Ya. Pamanku sendiri. Adik Bapakku. Ia punya usaha toko grosir yang besar di Kediri, tapi tetap saja anaknya tak bersekolah setelah tamat sekolah dasar. Baginya asalkan si anak sudah bersekolah dan bisa membaca serta berhitung, itu sudah cukup. Selanjutnya ia akan mengajari anaknya untuk berdagang.”

“Mereka tak percaya pada pendidikan barangkali,” Sena berkata.

“Mereka telah terdidik dan terkondisikan bahwa yang penting adalah menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak penting apakah mereka itu bodoh atau tidak. Yang jelas, yang ada di batok kepala mereka adalah berdagang dan berdagang serta mendapat keuntungan.”

Sena menimpali: “Ya, dan oleh karenanya tak jarang kita lihat orang yang begitu kaya, pengusaha truk, pemilik pangkalan minyak adalah orang yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau paling jauh sekolah menengah. Sementara kita yang sudah sarjana masih saja seperti ini, mencari pekerjaan kesana kemari,” Sena tertawa. Kresna ikut tertawa.

Sena menuang kopi yang masih mengepul panas itu ke dalam lepek. Kresna melakukan hal yang sama pada kopi susunya. Untuk beberapa saat keduanya asyik menyeruput minuman panas warung itu. Asasp beterbangan di sekitar mereka. Asap dari mulut mereka berdua, dan asap dari pengunjung warung barusan. Antara berapa lama, Kresna memulai kembali pembicaraan:

“Bagaimana perjalananmu seharian tadi? Lelah kau?”

Sena meregangkan tangannya menjawab: “Lumayan juga. Kau tahu bagaimana rasanya naik kereta ekonomi. Panas dan pengap. Setiap saat kita mesti mau berhenti, di setasiun manapun kereta api diberhentikan, bahkan di tengah sawah sekalipun. Kereta ekonomi harus mengalah pada kereta api bisnis, apalagi kereta kelas eksekutif.”

“Lain kali kalau kau hendak ke Jakarta, pastikan dirimu sudah cukup kaya!”

“Mengapa?”

“Supaya kau tidak perlu merasa lelah, dan aku bisa menunggu di ruang tunggu kelas eksekutif, tidak di peron dan mencarimu dengan berdesak desakan seperti tadi!,” gerutu Kresna. Si rambut panjang itu kemudian melanjutkan:

“Ada kau berkenalan dengan gadis cantik di kereta?”

Sena tak segera menjawab. Matanya masih berusaha mencari Ipah. Ada gadis itu dilihatnya sedang mencuci gelas dan piring di dalam ember bersama seorang lelaki tua. Mungkin ayahnya. Ipah tak melihat padanya. Kresna menuang kembali kopi panas ke dalam lepek dan kemudian menyeruputnya. Matanya melirik pada Sena, menunggu jawaban.

“Gimana. Kenalan dengan cewek tidak?”

Agak berapa lama baru Sena menjawab, “Huh, tidak. Sepanjang perjalanan aku duduk dengan seorang lelaki tua, seorang kakek. Dan ia sama sekali tak mengajakku berbicara. Ia hanya merokok dan merokok Seingatku, sejak dari Setasiun Kroya dimana ia naik, hanya rokoklah yang memasuki mulutnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya minum.”

“Kau menemukan teman perjalanan yang cocok!”

“Ah tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Ia tak pernah menawariku rokoknya itu,” Sena menggerutu, kemudian melanjutkan: “Lagipula seandainya aku ditawaripun aku takkan mau. Ia merokok kemenyan!” Keduanya lantas terbahak-bahak. Dari kejauhan Ipah melirik memandangi kedua pemuda yang sedang merayakan perjumpaannya itu. Kresna dan Sena kembali asyik dengan sigaret dan kopinya masing-masing. Antara berapa lama kemudian Kresna berkata: “Jadi maksudmu ke Jakarta hendak mencari kakakmu, Sen?”

Sena menganggukkan kepalanya, menjawab:

“Ya. Aku harus dapat menemukannya. Bapak menyuruhku untuk segera menemuinya di Jakarta. Yanti , kakakku itu, sudah empat tahun ini tak kembali pulang ke rumah. Ibuku sakit-sakitan dan terus memanggilnya. Maklumlah, dahulu hanya dia seorang yang paling menjadi kesayangan Ibu, karena ia satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Bapak ingin ia kembali pulang ke rumah demi kesembuhan Ibu.”

“Ibumu? Sakit apa dia?” Kresna memandang wajah sahabatnya itu dengan sungguh-sungguh. Ada dirasainya kesedihan dan keprihatinan yang dirasakan oleh Sena.

“Tak tahulah. Kami sudah habis pikir dengan sakit Ibu. Kami sudah membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang, Ibu hanya menderita gejala tipus biasa. Ibu sempat beberapa hari tinggal di rumah sakit. Namun tak sampai dua minggu kami terpaksa membawanya pulang, karena semakin lama biaya rumah sakit juga semakin mahal.”

“Aku turut prihatin.”

“Terimakasih.”

“Kau sudah mencoba pengobatan alternatif?”

“Ke dukun maksudmu?”

Kresna buru-buru membenarkan ucapannya: “Maksudku ke orang pintar, tidak harus ke dukun. Ke kyai atau ulama misalnya. Biasanya mereka mempunyai kemampuan yang tak dimiliki orang biasa untuk menyembuhkan.”

Sena menghela nafas sebentar. Ipah melihat padanya masih dengan tersenyum. Dan iapun tersenyum pada gadis itu. Kresna menendang kaki kawannya itu, yang membuat Sena tersadar dari lamunannya. Sena meneguk kopinya yang mulai mendingin dan menjawab:

“Kami sudah mengupayakan hal itu. Kata orang pintar, tidak ada masalah dengan kesehatan Ibu. Kami menduga, ibu hanya stres berkepanjangan akibat tiadanya kabar dari kakakku Yanti.”

“Apa kau tahu keadaan atau kabar kakakmu di Jakarta ini?”

“Aku tak tahu pasti. Sudah empat tahun ia pergi dan empat tahun pula ia tak memberi kabar. Bapak mengusirnya karena ia tak mau dikawinkan dengan laki-laki pilihan Bapak. Ia sakit hati,” Sena berkata sambil perlahan-lahan memukuli gelas kopinya dengan sendok, menimbulkan suara berdenting-denting.

“Ah…jaman sekarang, masih saja ada perjodohan. Orang dipaksa kawin dengan seseorang yang tak dicintainya. Sungguh tak masuk akal,” Kresna menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Sebenarnya, Bapak juga tak bersungguh-sungguh hendak mengusirnya. Bapak waktu itu hanya kalap saja, karena upaya Bapak untuk meyakinkannya bahwa pilihan Bapak adalah yang baik baginya tak pernah mempan. Kakakku lebih memilih Ardi, pemuda yang saat itu masih menganggur, dan pendidikannyapun tak tinggi. Ardi memang pernah kuliah, namun tak sampai selesai. Sedangkan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak adalah seorang guru sekolah dasar, seorang pegawai negeri, sarjana pula!”

Kresna terdiam demi mendengar kisah kawannya itu. Ada rasa simpati pada Sena. Ia kemudian berkata lagi:

“Lantas darimana engkau tahu bahwa ia ada di sini?”

Sena meneguk kopinya hingga tandas hingga ke ampasnya. Kresna menawarinya untu memesan gelas kedua, namun dengan isyarat tangan Sena menolakdan terus mengisap rokoknya yang telah memendek dan kemudian berkata:

“Ada orang kampung yang baru pulang dari sini mengabarkan bahwa ia mengetahui kakakku tinggal di Jakarta. Ia memberi kami alamat tinggal kakak. Ini aku membawa alamatnya,” Sena mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Diulurkannya pada Kresna.

“Aku harap ia masih tinggal di alamat itu, Kres. Kau tahu tempat seperti yang tertulis dalam kertas ini?”

Dengan tangan kirinya Kresna menerima potongan kertas yang sudah mulai berwarna coklat dan kumal itu. Ia membaca tulisan di kertas itu dan berfikir. Matanya menerawang ke luar, ke arah jalan raya. Beberapa kali ia menatap kembali alamat yang ditulis dengan tinta hijau yang sudah terlihat memudar itu. Matanya berpindahan dari kertas, ke arah jalan raya, kemudian menatap Sena, dan kembali lagi menatap kertas. Beberapa saat kemudian diserahkannya kembali lembaran putih kecoklatan itu pada Sena.

“Tahu tidak?” Sena menjadi gusar. Disemburkannya asap rokok kuat-kuat ke wajah sahabat lamanya itu. Yang ditanya menjawab:

“Ya, agak jauh dari sini. Tapi kurasa itu bukan perkara sukar. Aku bisa mengantarmu ke sana, asal kau mau bersabar, karena mencari alamat di Jakarta bukan perkara mudah.”

“Tapi kau kira-kira tahu atau tidak tempat itu?” Sena terus memburu. Matanya lekat-lekat mengawasi wajah Kresna, sahabat lamanya itu.

Kresna nampak kembali berfikir. Matanya kembali menerawang ke luar.

Sena menjadi tak sabar. Kembali ia bertanya:

“Tahu tidak kau, bangsat!?”

Perlahan Kresna menoleh pada Sena, mengisap rokoknya dan menjawab sehingga asap keluar berdesakan dari mulutnya yang berbicara: “Insya Allah aku tahu tempatnya. Aku pernah lewat daerah itu, walau tidak sampai masuk ke jalan yang tertulis di kertas ini. Tapi lepas dari itu, yakinlah. Kita akan coba. See how it goes!”

“Yah…let’s see how it goes,” Sena menimpali perlahan. Diseruputnya air sisa kopi yang tinggal berapa tetes itu.

“Ngomong-omong, apa yang kau lakukan di Kutoarjo setelah selesai kuliah?” Kresna bertanya, mengganti pembicaraan.

“Aku bekerja serabutan. Apa saja kulakukan. Menjadi makelar berbagai macam barang seperti sepeda motor, ke desa-desa mencari ayam kampung untuk dibuang ke Jakarta, jual beli handphone…, jual pakaian, apa saja kulakukan, asal aku bisa dapat uang, asal aku bisa beli pulsa dan rokok. Tentu saja sepanjang yang kulakukan itu halal. Kau tahu sendiri, Kutoarjo bukanlah kota besar.” Sena berkata lagi:

“Sekarang ini aku sedang merintis usaha peternakan puyuh.”

“Hey menarik sekali. Tak kusangka kau berbakat sebagai peternak. Sudah kaya kau rupanya.”

“Ya, namun harus kau ingat. Puyuh adalah binatang yang sangat rentan dengan penyakit. Resiko meruginya besar kalau kita memelihara puyuh. Apalagi belakangan hari ini sedang marak wabah flu burung.”

Kresna mengangguk-angguk mendengarkan ceritera sahabatnya itu. Sena melanjutkan lagi:

“Kau tahu, setelah aku lulus menjadi sarjana, orangtuaku berharap aku bisa bekerja mapan. Dan kau juga tahu apa yang mereka maksudkan dengan mapan. Bekerja di kantor, menjadi pegawai. Dan kalau bisa, menjadi pegawai negeri, atau pegawai pemerintah.”

“Harapan yang wajar dari orang tua.”

“Ya. Tapi sayangnya aku tak pernah tertarik untuk menjadi seperti apa yang diinginkan Bapak dan Ibuku. Aku lebih suka bekerja sendiri. Menjadi majikan bagi diriku sendiri dan menjadi buruh bagi diriku sendiri. Berdikari.”

“Berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno!” Kresna menyahut cepat, melengkapi.

“Ya, persis!.”

Kresna menganguk-angguk mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia berkata bahwa ia sangat mengerti, karena tuntutan yang sama terhadap dirinya pernah ia alami. Diceritakannya peristiwa lebih dari dua tahun silam. Ayah menyuruhnya menjadi pegawai kecamatan, menggantikan dirinya. Kresna menolak, karena itu sama saja dengan nepotisme, perbuatan yang ia kutuk ketika menjadi mahasiswa. Ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, sendirian. Dan ia tahu betapa hati ayahnya itu sangat terluka. Bukan saja karena Kresna adalah anak lelaki yang selalu dibanggakannya sejak kecil, akan tetapi dengan bekerja di desa, di kantor kecamatan, ada harapan bahwa kelak, Kresna bisa merawatnya melalui usia senjanya. Kepergian Kresna membuat sang ayah harus hidup sebatang kara, karena semua saudara Kresna telah bekerja di tempat lain yang jauh dari desa tempat mereka tinggal di Kediri. Ibunya sendiri telah lama meninggal dunia, sakit yang tak tersembuhkan.

“Merintis hidup memang tidak mudah Sen. Aku berdoa dan aku harap engkau berhasil dalam pekerjaanmu kali ini. Lakukan apa saja asal jangan nyolong dan mengambil hak orang lain.”

“Semoga saja.”

Hening kini. Seorang anak kecil datang meminta uang. Kedua pemuda itu hanya memandangi bocah kecil itu dan memberi isyarat bahwa mereka tak hendak beramal hari itu. Si bocah kecil pun berlalu sambil menggerutu.

“Kalau begitu ayo kita segera ke tempat kontrakanku. Kita bisa beristirahat lebih lega dan ngobrol lebih banyak di sana, bagaimana?”

“Jauhkah kamar kontrakanmu itu dari Jatinegara ini?”

“Tidak juga.”

“Berapa lama sampai ke sana?”

“Kira-kira satu jam. Itu kalau jalanan tidak begitu macet.”

“Sudah lama kau tinggal di sana?”

“Belum lama juga, tapi sudahlah yang penting kita sampai dahulu di sana, baru kita bisa bercerita lebih banyak.” Sena tak menghiraukan perkataan kawannya itu.

“Satu pertanyaan lagi, adakah gadis cantik yang tinggal dekat tempat tinggalmu?”tanya Sena. Ditinjunya perut Kresna perlahan.

“Diamlah kau!” Kresna tertawa, tak menjawab pertanyaan temannya

“Baiklah kalau begitu,” sahut Sena sambil mendengus kecewa, kemudian tertawa pula.

Kresna merogoh uang dari saku celananya. Sena dengan sigap mencegah, dan dengan sisa uang kembalian tiket kereta api ia membayar minuman mereka siang itu. Empat ribu limaratus perak untuk dua gelas kopi dan dua potong pisang goreng. Ipah menerima uang itu dengan tersenyum dan melambaikan tangannya pada kedua pemuda itu. Perempuan muda itu berkata: “Sering-sering mampir ke mari.” Kresna dan Sena tak menjawab, hanya mengangguk dan membalas senyum.

Kedua sahabat itu berjalan ke luar warung. Kembali mereka menghirup panas dan pengap udara asap kendaraan yang lalu lalang di sekitar setasiun. Beberapa tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasa. Taksi-taksi melambatkan lajunya dan menawarkan tumpangan tanpa argometer. Kedua pemuda itu menolak dan mengembangkan senyum terimakasih. Mereka terus berjalan dan tepat di tikungan jalan mereka melompat ke dalam sebuah mikrolet jurusan Kampung Melayu – Pasar Minggu yang masih berjalan cukup kencang. Angkutan umum berwarna biru muda itu membawa dua sahabat itu jauh meninggalkan Jatinegara, ke selatan Jakarta. Asap kendaraan terus mengepul memenuhi jalan. Langit tidak cerah tidak mendung. Jakarta tetaplah Jakarta, ramai dan tak pernah berhenti bernafas, bersuara,….dan melenguh.

Metro mini berjalan melambat. Serombongan orang tampak menyeberang jalan secara bersama-sama. Dua sahabat itu berkelebatan melompat keluar dengan lincah. Mata mereka liar menengok kanan kiri menerobos kendaraan yang melaju di samping metro mini. Seorang tukang ojek yang nyaris menyerempet berteriak mengumpati:

“Nyebrang yang benar dong, goblok lu!.” Pengendara motor yang lain meneriaki sambil melotot, namun kedua pemuda itu tak memedulikan. Kresna berjalan agak cepat di depan. Sena mengikuti. Agak kepayahan ia mengikuti langkah kawannya itu karena ransel hijau di punggungnya yang cukup berat. Dari pinggir jalan mereka memasuki gang sempit yang kian lama kian menurun. Sempit sekali gang itu, hanya cukup untuk dua orang yang berpapasan. Itupun pasti bersenggolan badan. Setelah berjalan separuh berlari selama hampir sepuluh menit, mereka kemudian sampai ke jalan yang lebih datar dan melebar. Sena terus saja berjalan cepat mengikuti sahabat lamanya itu tanpa banyak bertanya. Dalam hati ia mengeluh, sejak dari mulut gang bau kencing manusia dan bau selokan lah yang menusuk penciumannya. Kresna terus berjalan dan berjalan. Terkadang seperti berlarian kecil. Beberapa anak kecil meneriakinya karena ia menendang mobil mainan milik salah seorang dari mereka hingga terpental ke parit.

Pada ujung gang, Kresna membelok ke arah kiri dan melangkahkan kaki sekira sepuluh meter. Ia kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua. Sekaligus Seno yang ada di belakangnya ikut menghentikan langkah. Kresna membalikkan badan, berkata:

“Di sini tempat aku tinggal, Sen. Selamat datang.

Yang diajak bicara tak segera menjawab. Mendengus kepayahan. Bajunya tampak membasah oleh keringat. Ia kemudian berkata:

“Jauh juga. Sudah berapa lama kau tinggal di sini?”. Mata Sena berpendaran mengamati suasana sekitar. Rumah itu buatan tahun 1963, terbaca dari lubang angin di tembok depan bagian atas. Beberapa eternitnya nampak sudah menjuntai ke bawah, hijau menghitam ditumbuhi lumut. Sebagian besar temboknya pun berlumut dengan cat yang telah lama mengelupas. Sena teringat dengan eternit rumahnya senidiri yang tak jauh berbeda. Hitam melumut. Itu karena genting banyak yang pecah dan bocor. Sepanjang halaman rumah itu dipenuhi guguran daun-daun berwarna cokelat. Hanya beberapa pot berisi bunga mawar yang nampaknya betul-betul dirawat oleh penghuni rumah. Nafas Sena masih turun naik. Badannya berkeringat. Ransel diletakan begitu saja di tanah yang becek. Ia tak peduli ranselnya akan menjadi kotor. Ia begitu lelah.

Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan dari kawannya itu, Kresna membuka pintu pagar yang sudah berkarat dan menimbulkan suara mendecit memilukan itu kemudian melangkah masuk diikuti oleh sahabatnya. Dengan isyarat mata, ia menyuruh Sena untuk menutup kembali pintu pagar. Sena menurut dengan mengikutinya dan menutup kembali pintu pagar itu. Kresna terus berjalan memasuki pelataran rumah, menuju ke sebuah pintu di sebelah kiri rumah. Dikeluarkannya kunci dari kantong jaket, kemudian dibukanya pintu kamarnya.

“Nah silakan masuk, kawan. Selamat datang di kamarku.”

Kedua pemuda itu memasuki sebuah kamar. Kamar itu tidak luas tidak pula sempit. Sena menengadah ke langit-langit. Ia menjumlah eternit yang ada di kamar itu. ‘Empat kali empat setengah meter. Cukup luas. Kamar tidurku di Kutoarjo tidak seluas ini,’ pikir Sena.

“Tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk bertahan hidup di Jakarta. Di sini aku tinggal sejak dua tahun terakhir ini,” Kresna berkata seolah mengetahui apa yang ada di fikiran kawannya itu.

Sena melepas kaus kaki dan memasukannya ke dalam sepatu yang terlebih dahulu telah dilepaskan ketika ia memasuki kamar. Diletakkannya ransel di dekat sebuah meja di samping tempat tidur. Ia menghempaskan badannya, berbaring di tempat tidur.

Matanya memandangi isi kamar sahabatnya itu. Sebuah meja tulis dan kursi lipat terletak di samping tempat tidur. Kipas angin kecil yang terletak di atas meja terus berputar menghembuskan angin sejuk padanya. Rupanya Kresna tak pernah mematikan kipas angin itu. Beberapa foto tergantung di tembok. Foto ayah ibunya ada di tengah-tengah. Ada pula beberapa foto semasa ia menjadi mahasiswa, berambut panjang menyentuh pinggang memegang megaphone dalam sebuah unjukrasa bersama petani. Sebuah lukisan gadis berambut panjang separuh telanjang yang menaiki kuda terbang berwarna putih dan bersayap keemasan juga tergantung tepat di atas meja, lukisan Kresna sendiri. Sena masih mengenal lukisan itu. Lukisan itu jualah yang dahulu tergantung di kamar kos Kresna ketika ia masih menjadi mahasiswa. Ia masih ingat, Kresna mengatakan bahwa sosok gadis itu adalah perempuan dalam khayalnya yang menaiki Pegassus, kuda dalam mitologi Yunani. ‘Kuda itu sedang dalam perjalanan suci membawa gadis impianku ke hadapanku,’ demikian Kresna dahulu selalu berkata padanya.

“Ngopi lagi, Sen. Aku tak punya teh, karena hanya kopi saja yang aku minum. Ayo sikat!,” suara Kresna membangunkan Sena dari lamunan. Kresna meletakkan gelas berisi minuman panas berwarna hitam itu di atas meja. Ia kemudian melepas baju yang kemudian disampirkannya begitu saja di kursi lipat. Sejenak ia mengatur nafasnya, memandangi dadanya sendiri yang juga berkeringat. Kemudian dirogohnya bungkusan sigaret di saku celananya, mulai merokok. Setelah beberapa kali hisapan ia berkata, perlahan:

“Seperti inilah hidupku, kehidupanku. Hidup mengontrak kamar… jauh di dalam kampung pinggiran Jakarta,” Kresna berhenti sejenak. Dipandanginya sigaret di jemarinya. Ditiup-tiupnya pada bagian ujung yang menyala membara. Dengan sendok diambilnya ampas kopi dari dasar gelas kopinya sendiri dan ditorehkan pada sigaretnya. Dihisapinya kembali rokoknya itu, dan tak berapa lama kemudian berkata lagi:

“Kau mengerti sendiri betapa jauhnya kamar ini dari jalan raya, apalai dari pusat kota. Untuk menyewa kamar di daerah perkotaan rasanya tidak mungkin bagiku. Terlalu mahal. Di sini aku bisa membayar sedikit murah.”

Sena menukas cepat:

“Setidaknya kau bisa berbangga bahwa kau sudah hidup mandiri. Lihatlah aku ini. Aku belum lagi mandiri. Aku masih makan, mandi, tidur menumpang pada orang tuaku.”

“Tapi setidaknya kau juga membantu biaya sehari-hari kan? Maksudku dari usahamu beternak puyuh, menjadi makelar sepedamotor kau bisa membantu membayar pengeluaran seperti listrik, air dan..”

“Sudah barang tentu,” potong Sena. “Dari usahaku itu aku bisa membayar tagihan listrik. Untuk air, kami tak perlu membayar, karena kami menggunakan air sumur.”

“Oh ya, aku lupa. Rumahmu tak memakai air ledeng. Baguslah kalau begitu. Aku sendiri mau tak mau memang harus mengontrak kamar seperti ini, kecuali kalau ingin tinggal di bawah kolong jembatan. Dan aku tak mau tinggal di bawah kolong jembatan yang dingin dan bau air kali Jakarta yang busuk, coklat dan menghitam,” Kresna berkata.

“Berapa harus kau bayar sebulannya untuk menyewa kamar ini?”

“Sebulannya?”

“He-eh.”

Kresna terdiam sejenak. Matanya menatap tembok, namun bukan tembok yang sengaja dilihatnya. Pemuda itu nampak sedang menghitung-hitung dalam lamunannya.

“Tak pasti,” Kresna menghela nafas. Dihisapinya kembali rokoknya dengan khidmatnya beberapa kali. Terbatuk batuk sebentar, Ia kemudian meraih sebuah radio kecil. Jari jarinya memutar-mutar tombol gelombang yang sesuai dengan keinginan hatinya. Terdengar musik Hawaiian. Kresna rupanya menyukai musik itu. Ia berhenti dari mencari gelombang. Diletakannya kembali radio itu dan berkata.

“Aku membayar kamar ini semampuku.”

“Kok bisa?”

“Pemilik rumah tak begitu peduli berapa aku mau membayar. Mungkin karena mereka menganggap aku ini sudah seperti anak mereka. Kadang, oleh karenanya, aku membantu menyapu, mengepel, dan membuang sampah. Begitulah. Tapi aku juga harus cukup puas dengan kamar ini. Tak terlalu besar memang.”

“Sekali lagi kamar ini sudah lebih dari cukup kawan,” ujar Sena.

Kresna tertawa dan tersenyum simpul. “Ya, memang. Bagiku yang penting asal aku bisa tidur dan tidak kepanasan dan kehujanan saja.” Ia kemudian menyambung: “dan yang penting aku tidak tinggal di bawah kolong jembatan.”

Sena bertanya heran: “Mengapa kau selalu membandingkan dengan kolong jembatan. Mengapa kau begitu sinis dengan penghuni kolong jembatan?”

Kresna tertawa. Dijentikannya abu rokok ke dalam asbak. Berkata ia:

“Karena di Jakarta, kalau engkau hendak mencari tempat tinggal tanpa bayar, maka jawabannya adalah di bawah kolong jembatan. Aku kira tolok ukur kegagalan seseorang yang berjuang di Jakarta yang paling dasar adalah ketika ia sudah tak mampu menaungi tubuh dan kepalanya sendiri dari hujan, panas dan angin dengan layak, ha…ha..ha,” Kresna tergelak. Dengan begitu, matanya menjadi menyipit. Tak sampai lima detik kemudian ia berkata lagi dengan tawa yang mulai mereda:

“Ehem, tapi aku tak tahu pula. Mungkin saja sekalipun tinggal di kolong jembatan, di Jakarta ini orang harus bayar. Maklum di sini banyak preman berkeliaran, ha..ha..ha..ha..,” Kresna tergelak lagi.

Sena hanya mengangguk demi mendengarkan perkataan kawannya itu. Kresna kemudian berkata:

“Apapun keadaan kamarku ini, semoga bisa membuatmu betah selama di Jakarta ini, Sen.”

“Terimakasih sudah memberi aku tumpangan. Kamarmu ini sudah lebih dari bagus.”

“Kau bisa bayar dengan menggorengkan untukku daging puyuh kalau suatu saat nanti aku ke Kutoarjo”

“Gampang itu” Sena menukas.

Sena bangkit dari tempat tidur. Ia kini duduk bersila di tepi kasur, mulai merokok. Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan asap dan kopi masing-masing. Yang terdengar adalah musik Hawaiian dari radio dan suara mangkok yang dipukuli dengan sendok oleh pedagang siomay dan pedagang bakso. Kamar itu pun semakin menjadi pengap berasap. Kipas angin kecil yang terus berputar tak berdaya mengusir asap yang melayang dan berubah-ubah bentuk itu. Seolah mengerti dengan dengan keadaan, Kresna segera menghampiri jendela. Dibukanya jendela itu. Angin bertiup dari luar, mengusir asap-asap yang berkecamuk melayang-layang. Dan dengan terbukanya jendela dan masuknya angin ke dalam rumah, terlihatlah oleh Sena seorang gadis sedang duduk di loteng rumah sebelah. Hanya sedetik dua, namun telah membangkitkan kekaguman dan rasa untuk memiliki yang mendalam. Rambut gadis itu hitam dan tebal tergerai dipermainkan angin. Ia nampak sedang membaca sebuah buku, dan tak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengaguminya dengan sungguh.

“Kau lihat dia?” Kresna bertanya. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok. Dijentikannya kembali abu rokok ke dalam sebuah botol pecah yang dijadikannya asbak. Matanya memandangi gadis yang terlihat oleh matanya itu.

“Mmm, ya,” Seno menjawab, pura-pura acuh. Matanya kembali mengawasi gadis itu.

Kresna berkata lagi : “Ajeng namanya.”

“Ajeng?, nama yang sangat bagus. Nama Jawa.”

“Ya. Ia tinggal sebelah rumah ini. Biasanya sore hari seperti ini ia duduk-duduk di loteng.”

“Kau mengenalnya, Kres?”

“Ya, sangat.”

“Ia sangat manis,” Sena mengomentari. “Badannya bagus,” tambahnya lagi.

“Cantik, lembut, dan ayu” Kresna membalas. “Lebih manis daripada Ipah,” pemuda itu kini tiba-tiba terkikik. Sena menggerutu, namun hatinya membenarkan. Kedua matanya masih juga mengawasi gadis yang sedang duduk-duduk di lantai dua rumah sebelah. Rokok ia hisap begitu lama dan dalam. Bertanya lagi kemudian setelah agak lama terdiam.

“Apakah ia anak pemilik rumah sebelah, rumah loteng itu?”

Kresna menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak, bukan.”

“Lantas?”

Ia hanya tinggal di sana. Menumpang tinggal.”

“Pembantu, maksudmu?”

“Oh, tidak, sama sekali bukan. Tidak bisa disebut pembantu. Ia masih keponakan rumah sebelah. Ia lulusan sekolah menengah. Padaku ia mengaku sedang kursus bahasa Perancis. Karena ia tak mempunyai pekerjaan di kampungnya, ia akhirnya tinggal di rumah sebelah, barangkali dengan harapan ia bisa mendapat pekerjaan di Jakarta ini. Ia sering kemari. Mungkin nanti petang atau esok sore ia ke mari.”

“Sudah lama engkau mengenalnya, Kres?”

“Ya, beberapa hari setelah kedatangannya ke mari. Barangkali sudah lebih dari setengah tahun ini. Mungkin ia tahu kalau aku suka mengajari anak-anak di sekitar sini untuk menulis puisi atau menggambar. Ia sering datang, menulis puisi. Ia suka sekali menulis puisi. Ia sering meminta pendapatku tentang puisi-puisinya.”

“Ia suka puisi?” tanya Sena.

“Ya, dan seperti yang kukatakan tadi ia tak hanya suka puisi. Ia juga pandai mencipta. Aku sering membaca karangan-karangannya, karena ia selalu meminta pendapatku mengenai puisi-puisinya itu.”

“Baguskah tulisannya itu?”

“Menurutku, puisi-puisinya layak untuk dimuat di surat kabar. Tapi ia selalu menolak untuk mengirimkan karyanya ke media. Ia lebih suka membuat dan membaca puisinya itu untuk dinikmatinya sendiri.”

Sekejap saja tercipta rasa tak senang di hati Sena mendengar kata kawannya itu. Menulis puisi? Pastilah Kresna suka mengajarinya, gadis bernama Ajeng itu. Ia tahu benar dahulu Kresna adalah pegiat seni kampus yang terkenal. Kresna memang tak pernah mendapatkan juara pada berbagai lomba sastra karena ia sendiri tak begitu menyukai perlombaan, tapi karya-karyanya sering dimuat di majalah sastra daerah dan majalah-majalah mahasiswa. Puisinya, walau hanya dua buah, pernah dimuat dalam majalah nasional yang bergengsi. Puisinya juga pernah dibacakan dalam sebuah aksi mahasiswa yang meminta seorang menteri turun dari jabatan karena mengkorupsi dana haji.

“Melamun apa kau, Sen?” Kresna menegur. Matanya melirik sahabatnya yang baru datang itu. Asap rokok masih mengepul dari mulut dan hidungnya, berganti-gantian.

“Ah tidak,” tukas Sena cepat, sekaligus menutupi rasa cemburu yang mulai menyesaki dadanya. “Ngomong-ngomong, kau belum bercerita padaku apa pekerjaanmu sekarang, Kres?”

Yang ditanya hanya terdiam. Ia kemudian mengambil koran bekas di samping tempat tidurnya. Dengan koran itu dikipasinya dadanya yang masih berkeringat. Berkata kemudian, memberi jawaban:

“Seperti juga engkau, aku bekerja apa saja. Asal bisa menghasilkan uang. Ketika baru tiba di Jakarta, aku mengajar melukis pada anak-anak sekolah dasar.”

“Mengajar melukis?”

“Ya les gambar, kira-kira seperti itu. Muridku anak-anak sekitar sini saja.”

“Masih kau lanjutkan?”

“Tidak,” Kresna tertawa terbatuk-batuk. Ia kemudian berkata:

“Kebanyakan anak-anak di sini dari kalangan yang kurang mampu. Sedangkan aku butuh uang untuk menyambung hidup. Maka aku putuskan untuk beralih pekerjaan, apa saja yang cepat menghasilkan uang padaku aku kerjakan. Namun aku masih sesekali mengajar melukis dan menulis puisi pada anak-anak sekitar rumah ini. Pada mereka aku tak memungut biaya. Orang tuanya membayar dengan apa saja yang mereka mampu berikan. Terkadang mereka membawakan apa yang mereka punyai di rumah, terkadang mereka memberi rokok. Pernah pula ada yang memberi satu tas plastik penuh jeruk. Aku tak pernah meminta.” Sejenak ia tersenyum. Dilanjutkannya lagi ceritanya:

“Kau tahu, minggu-minggu pertama tiba di Jakarta, aku menjadi kernet sopir angkutan selain mengajar melukis. Yang ada di otakku saat itu adalah aku bisa beli makan, rokok, dan sedikit bayar sewa kamar ini. Menjadi bagian pemasaran buku-buku sekolahpun pernah kulakukan..”

“Kau pernah memasarkan buku-buku sekolah?”

“Ya.”

“Sales?”

“Ya. Ada apa dengan sales?”

“Nggak, nggak papa. Aku hanya kagum, kau berbakat dagang rupanya.”

“ Memasarkan buku itu persoalan yang mudah sebetulnya. Uang cepat kita dapatkan asal kita lihai. Yang harus kita lakukan adalah mendekati kepala sekolah dan para guru agar mau menggunakan buku kita.”

“Setelah itu?”

“Setelah itu, kita menjanjikan bonus yang besar pada mereka. Kalau bonus yang kita berikan besar, setinggi langit, mereka akan mau menggunakan buku kita.”

“Banyak uang kau dapat?”

“Ow, tentu. Sudah pasti. Dari satu sekolah saja aku bisa untung bersih untuk diriku sendiri sekitar dua hingga empat juta.”

“Apakah semua pejabat sekolah mau menerima bonus seperti itu? Ini kan jaman pembaharuan, jaman reformasi!”

“Memang benar, tapi selalu ada jalan.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka yang tak mau menerima bonus dengan alasan apapun cukup kita iming-imingi fasilitas sekolah. Komputer misalnya. Biasanya mereka mau.”

“Tak kusangka kau bisa begitu..” Sena berkata perlahan. Menyambung lagi ia: ”Kau dulu paling anti korupsi boss.”

Kresna tak menjawab. Tak ada yang perlu dijawab. Ia sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu, gugatan seperti itu. Dan semua pertanyaan dan gugatan itu tidak lain semua datang dari benaknya sendiri, yang kemudian menyalahkan dirinya sendiri. Berkata Sena kemudian:

“Mengapa engkau tak pertahankan pekerjaanmu sebagai sales buku?”

“Aku tak tega.” Kresna menghela nafas. “Dan aku tahu, aku tak bisa,” lanjutnya lagi. Ia menghisapi rokoknya beberapa kali. Terbatuk sebentar, meminum kopi, kemudian melanjutkan bicara:

“Aku teringat pada orang tua –orangtua mereka. Apa yang mereka bayarkan lebih dari limapuluh persen masuk ke dalam kantung para pejabat seperti itu. Aku tak tega karena aku ingat orangtuaku sendiri. Kalau yang menjadi orangtua murid adalah orang tua seperti ayahku, alangkah kasihannya.”

“Kau tak ingin menjadi pegawai negeri? Ikut tes calon pegawai negeri misalnya?”

“Percuma,” Kresna tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit dan mengejek.

“Percuma bagaimana?” Sena mendengus. Matanya mengawasi Kresna.

“Pernah aku ikut ujian untuk masuk ke sebuah BUMN. Waktu aku ujian di kantor pusatnya di Surabaya, aku bertemu kawan kita satu angkatan. Andarini. Kau ingat dia?”

“Andarini Kusumastuti?”

“Kau, kalau perempuan cantik bahkan nama belakangnyapun kau ingat. Sialan!”

Keduanya tertawa.

“Andarini yang pantatnya serupa buah salak?”

“Kau ini, pantat saja yang kau ingat. Otakmu kotor!”, dengus Kresna.

Sena tertawa terbahak, Kresna demikian pula. Untuk beberapa saat kemudian mereka justeru membicarakan apa yang terbilang mirip buah salak itu. Sena kemudian bertanya lagi:

“Yang kalau ujian selalu membawa contekan?”

Kresna mengangguk, kemudian berkata:

“Persis. Dia sering membawa contekan kalau ujian. Lulusnya pun agak terlambat dibanding mahasiswa lainnya. Aku berjumpa dengannya di tempat ujian. Aku dan banyak orang yang ikut ujian sangat gelisah dan takut akan gagal. Namun anehnya, ia kelihatan sangat tenang, seolah sedang ikut pesta saja dan bukannya tes pekerjaan.”

“Lantas?”

Kresna menghela nafas sejenak, kemudian berkata lagi:

“Tidak sampai satu bulan kemudian datang surat pemberitahuan. Aku gagal, padahal aku mampu mengerjakan semua bahan ujian dengan baik. Sebaliknya Andarini, sekaligus aku tahu bahwa ia termasuk yang diterima bekerja di perusahaan itu. Kau tahu mengapa?”

“Karena pantatnya itu!”

“Bukan, goblok! Ayolah, be serious!”

Sena menggeleng. Dijentikannya rokok ke dalam asbak. Matanya terus memandangi wajah kawannya. Dengan isyarat di wajahnya, ia menyuruh Kresna untuk segera melanjutkan berbicara.

“Bapaknya bekerja di perusahaan itu…”

“Menyebalkan betul!,” Sena meradang.

“Kau tahu berapa uang telah kuhabiskan untuk membayar ongkos bus dari Kediri ke Surabaya? Kau tahu berapa uang kubuang percuma untuk membeli alat tulis, baju kemeja yang patut untuk ikut tes tulis? untuk mengirimkan lamaran, membeli amplop, perangko? Dan semua percuma saja! Dan itu bukan yang pertama kalinya. Aku kasihan pada Bapak. Uang pensiunnya tak banyak, namun kuhabiskan dengan percuma saja untuk mengikuti tes terkutuk itu.” Kresna terlihat jengkel. Dilumatnya rokok yang telah semakin memendek itu ke dalam asbak. Ia kemudian berkata lagi.

“Negara ini akan semakin bangkrut kalau yang diambil, yang direkrut adalah orang-orang seperti itu. Orang-orang yang bodoh, tapi punya orang tua, atau punya relasi yang berkuasa.”

“Ya, aku jadi ingat akan Harun. Kau ingat dia?”, tanya Sena.

“Bagaimana aku bisa lupa. Harun, mahasiswa Hukum. Ia tak pernah sekalipun turun1. Ia selalu di balik layar. Walau begitu, konsep-konsep tuntutan kita banyak yang keluar dari otak dia,” kata Kresna.

“Ya. Harun yang cerdas. Syukur kalau kau masih ingat. Ia gagal menjadi pegawai negeri karena ia mesti membayar tigapuluh lima juta agar bisa lolos tes tahap terakhir”.

“Tigapuluhlima juta untuk status pegawai negeri?! Alangkah mahalnya!”

“Sukar dipercaya. Tapi memang itulah adanya. Orang tua Harun sebenarnya sudah siap untuk membayar tigapuluh lima juta. Mereka sudah siap menjual sebagian kebun salaknya untuk Harun. Namun Harun yang gagah, Harun yang lurus. Ia tidak mau menerima tawaran itu.”

“Bagaimana nasibnya sekarang?”

“Ia masih saja berdiam di rumahnya di Sleman. Hampir sama denganku, beternak ayam kampung. Terkadang ia sengaja datang ke rumahku sekedar untuk berkeluh kesah. Ia berkata bahwa dirinya sudah tak punya harapan lagi menjadi pegawai negeri. Putus asa dia, bung!”

Kedua sahabat itu kemudian terdiam, membincangkan dan merenungi nasib kawan-kawannya yang lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dengan hanya bermodal kejujuran dan keenceran otak. Soeharto telah turun. Amanat pembaharuan telah dicanangkan. Namun toh tetap sukar untuk bersaing secara murni.

Hari semakin sore. Kresna menanyakan apakah Senda ingin mandi. Sena yang masih lelah menolak, dan berkata ia akan mandi di malam hari saja karena mengantuk. Kresna tidak memaksa, karena ia pun merasakan kantuk yang amat sangat. Dan pada mulanya Kresna lebih dahulu tertidur. Sena mengamati sekeliling ruangan kamar itu. Dinding kamar itu dicat warna hijau tua, memberikan kesan suram. Ingin ia menonton televisi mengikuti berita sore, namun tak dilihatnya pesawat televisi. Hanya sebuah radio kecil tergeletak di atas meja. Ia kemudian merebahkan badan di lantai. Tak berapa lama kemudian Sena menyusul Kresna ke alam mimpi. Bintik keringat masih terlihat di dahi kepalanya ketika ia benar-benar berangkat ke alam tidurnya.

Lampu penerangan jalan dan sinar lampu dari rumah-rumah sekitar mulai dinyalakan. Kedua sahabat lama itu semakin jauh terbang ke alam bawah sadar masing-masing. Beberapa ekor lalat mencoba mengganggu, menghinggapi mulut dan mata, namun tak mampu mengusik mereka dari lelap akibat rasa kantuk dan lelah. Sinar matahari senja yang menerobosi kamar itu semakin meredup dan menyuram. Seekor cicak merayap memasuki gelas kopi kosong, meminumi sisa air gulanya yang pahit manis. Gelas kopi Kresna. Azan maghrib mulai terdengar bersahutan di langit pinggiran belantara Jakarta yang redup memerah. Kedua pemuda itu benar-benar telah tertidur…

BAGIAN II

 

“Bangun boss, sudah jam setengah delapan,” Kresna mengguncang tubuh Sena. Yang dibangunkan menggeliat sebentar, matanya langsung merasakan silau lampu neon. Belum sadar di mana ia berada. Dengan jari-jari tangan kiri, ia mengucek kedua bola matanya. Samar dilihatnya Kresna tersenyum. Wajah kawannya itu sudah terlihat segar. Rambut panjangnya yang basah terlihat sudah tersisir rapi dan diikat dengan karet gelang. Matanya segera berpendaran mencari jam dinding. Agak kabur dilihatnya jarum penunjuk pada jam dinding di kamar itu. Jarum pendek menuju ke angka delapan, dan jarum panjang menunjuk pada angka dua. ‘Sudah lebih dari jam delapan malam,’ serunya dalam hati. Dengan perasaan malas ia bangkit dari tidur.

“Kau sudah mandi rupanya?”

“Ya setengah jam lalu,” Kresna menjawab pendek. Ia mengenakan sarung, nampak sedang membaca sebuah buku. Di mulutnya telah terselip sebatang sigaret.

“Mengapa kau tak bangunkan aku?”

“Aku lihat kau sangat lelah, dan aku tak tega membangunkanmu. Almarhum Ibuku menasihati agar aku tak membangunkan orang selagi orang itu tidur.”

Sena menyangkal apa kata kawannya itu. Menurutnya, mengingatkan orang untuk shalat lebih mulia daripada membiarkannya untuk tidur. Kresna hanya mengangkat bahu dan meminta maaf serta mengatakan ia memang tak bisa membangunkan orang yang tidur. Ajaran ibunya telah mendarah daging semenjak ia masih kecil.

“Aku kehilangan magrib,” Sena menyesali.

“ Bukan hanya kau. Aku juga. Nah apakah kau hendak mandi sekarang?”

“Tentu saja. Lengket rasanya badanku ini. Berkeringat.”

“Kalau begitu mandilah. Kamar mandi ada di belakang kamar ini. Kalau kau tak membawa handuk, pakailah handukku. Shampo dan sabun semua ada kuletakkan pada lubang angin di kamar mandi. Pakai sesukamu.”

“Terimakasih. Aku membawa sendiri handuk dan pasta, berikut sikat giginya.”

“Lagipula…,” Sena berkata perlahan, tidak melanjutkan.

“Lagipula apa?”, Kresna menyahut. Ia berhenti sejenak dari membaca. Matanya memandang menyelidik.

“Lagipula…, aku tak mau tertular penyakit kulit kalau memakai sabunmu…”

“Bangsat!”

Sena tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

“Aku mandi sekarang.” Ia menguap sebentar sambil meregangkan tubuhnya.

“Agar kau tak mengantuk dan tertidur di kamar mandi, aku telah membuatkanmu kopi. Itu di atas meja kerjaku. Minumlah dahulu!”

“Sudah tiga kali dalam sehari ini aku minum kopi bersamamu!”

Kresna menukas cepat:

“Bagaimana kalau kita minum bir saja. Pertemuan ini mesti kita rayakan. Setuju?”

“Ini bukan saat bersenang-senang kawan,” jawab Sena. “Aku ke mari bukan bersukaria. Aku mencari kakakku yang menghilang. Lain kali sajalah.”

Kresna menyerah. Berkata ia putus asa: “Kalau kau tak suka kopi, kau boleh minum air di bak mandi. Aku tak punya teh atau minuman lain.”

Sena tak menjawabi lagi. Dihampirinya meja dan diambilnya kopi bagiannya. Diteguknya perlahan. Segar terasa, hangat mengaliri kerongkongannya. Puas menikmati kopi malamnya, ia menghampiri ransel hijau bawaannya dan dibukanya. Diambilnya handuk dan peralatan mandi untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sebelum memasuki kamar mandi, matanya mencuri pandang pada ruang tengah pemilik rumah. Sepi saja rumah itu, hanya seorang lelaki dan perempuan tua ditemani anjingnya menonton televisi. Halaman belakang nampak tak terawat. Beberapa tanaman anggrek nampak bergelantungan menghiasi. Namun anggrek-anggrek itupun nampak tak terawat dan tumbuh sekenanya. Ia menjadi teringat akan rumahnya sendiri. Halaman belakang rumah kini tak lagi terurus sejak Ibunya sakit. Dahulu, halaman belakang selalu bersih, tanpa sebatang daun keringpun mengotori. Berbagai macam bunga terawat bahkan hingga daunnya selalu dibersihkan oleh Ibunya. Kini, halaman belakang rumahnya menjadi layu dan kumuh.

Dilihatnya pula kemudian beberapa tumpukan karung yang entah apa isinya. Di pojok halaman belakang rumah itu terdapat kolam yang kering tak berair. Hanya patung anak kecil memegang kemaluan, yang berfungsi sebagai air mancur. Masa kejayaan patung itu nampaknya telah lama pudar.

Sena memasuki kamar mandi dan segera mengunci pintunya. Kamar mandi itu tak begitu lebar, namun juga tak terlalu sempit. Sebuah cermin kecil tergantung di dinding. Sudah tak bisa lagi digunakan, karena permukaannya telah tertutup noda bekas percikan air dan sabun. Teringat Sena akan kamar mandi di rumahnya yang begitu luas dan lega. Dengan begitu ia menjadi rindu akan rumahnya. ‘Sedang apakah Ibu sekarang? Semoga saja ia tidak sedang kambuh. Sedang apakah Bapak dan adik?’, ia terus berfikir. Namun segera ditepis lamunannya itu. ‘Aku hanya tiga hari berada di sini, aku harus berhasil menemui kakak. Dan segera setelah menemuinya, aku akan kembali,’ pikirnya membulatkan tekad. Dengan cepat ia melepaskan pakaiannya. Telanjang.

Diambilnya segayung air dan diguyurkannya kuat-kuat ke tubuhnya. Segar terasa. Diraihnya sabun dalam kantung plastik bawaannya, dan iapun mulailah menyabun tubuhnya yang lengket dan berbau keringat serta bau khas kereta api. ‘Kereta api busuk, kereta ekonomi sialan,’ ia mengutuki. Kakek tua yang duduk di sampingnya sepanjang perjalanan hingga Bekasi tanpa mengajak bicara ia kutuki pula.

Ketika sedang menyabun, terdengar olehnya suara perempuan mengucap salam. Nampaknya baru memasuki ruangan. ‘Ruangan siapakah? Ruangan Kresna atau ruangan yang empunya rumah? Terdengar ia bercakap-cakap. Amat merdu terdengar di telinganya. Dengan siapakah perempuan itu berbicara? Kresna? Suaranya amat indah, lembut dan manja. Dilambatkannya gerak tangannya dari bersabun. Telinga ia dekatkan pada pintu. Perempuan itu sesekali berbicara, namun lebih sering lagi tertawa. Menggairahkan. Ia dapat merasakan kelenjar-kelenjar tubuhnya memberontak mendengar suara indah itu. Tidak jelas benar apa yang dibicarakan karena suara air selokan di samping kamar mandi menghalanginya dari mendengarkan lebih jelas. Hanya apabila ia tertawa dapat jelas terdengar. Ya, suara perempuan itu nampaknya sedang berbicara dan bersenda gurau dengan Kresna. Barusaja terdengar Kresna tertawa, tawa yang khas, terbahak-bahak dan terbatuk. Dan antara sebentar tawa manja dan indah dan merdu itu juga terdengar. Cantikkah perempuan itu? Apakah ia yang bernama Ajeng?’. Pikiran Sena segera dijejali berbagai pertanyaan. Hatinya menggejolak. Ia ingin segera mengakhiri mandinya.

‘Ah, aku kemari hendak menjumpai kakak, dan bukannya mencari perempuan untuk dijadikan teman berkasih-kasihan,’ kembali Sena menasihati dirinya. Ia pun segera melanjutkan mandi. Setelah selesai, ia pun berjalan menuju kamar Kresna. Suara perempuan itu terdengar semakin jelas dan keras di telinganya. Sekaligus hatinya menjadi berdegup dan berdebar. ‘Suara itu begitu indah,’ pikirnya.

Dan ketika ia memasuki kamar, semakin jelaslah apa yang ada di hadapannya, pemilik suara merdu itu. Seorang gadis, berusia yang menurut taksirannya beberapa tahun di bawahnya. Wajahnya tidak bisa tidak adalah cantik, lembut dan manis. Ayu. Rambutnya yang lurus terikat tidak kencang, sepundak lebih sedikit. Alisnya begitu tebal, dan warna hitam di kedua bola matanya begitu gelap dan pekat. Bibirnya tipis dengan tahi lalat kecil di dagu sebelah kiri. Kulitnya kuning cenderung putih. Tubuhnya ramping namun tidak kurus. Ia tampak menarik dengan celana warna hitam dan baju lengan panjang coklat tua yang dikenakannya. Seketika Sena tersenyum malu. Malu pada gadis itu, juga malu pada dirinya sendiri karena belum bersisir dan tampak acak-acakan. Kresna tampak sedang duduk bersandar tembok kamar. Matanya menatap gadis itu dengan pandangan akrab sambil terus merokok dan memainkan asap sigaretnya. Ia sudah tidak membaca lagi.

Segera Sena mencari sisir di dalam ransel hijaunya. Setelah ditemukan, ia segera merapikan rambutnya Handuk yang masih basah dijejalkannya ke dalam tas. Salah tingkah. Perasaannya berkecamuk. ‘Gadis itu, tidak saja suaranya namun tubuhnya pun begitu indah’, pikirnya, sekaligus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah jatuh hati. Sedemikian cepatnya. Segera kemudian ia menghampiri Kresna, ikut duduk dan mengambil rokok.

“Jemur handukmu di ruang belakang, Sen. Kalau kau simpan dalam ransel, bisa lembab nanti. Penyakit panu bisa menyerangmu, kawan.” Sena tak segera menjawab. Ia bangkit dan pergi menjemur handuknya. Matanya melirik pada Kresna dan gadis itu. Beberapa saat setelah kembali ke kamar, Kresna berkata:

“Oh ya, Sen, ini yang namanya Ajeng. Dia yang kau lihat tadi siang di loteng sebelah rumah. Manis ‘kan? Nah, Ajeng, kenalkan kawanku ini, namanya Sena. Ia baru datang dari Purworejo.”

“Kutoarjo, goblok!”, Sena membetulkan. Kresna merengut. Sena mendekat pada gadis itu dan mengulurkan tangannya. Badannya maju ke depan. Gadis yang bernama Ajeng itu juga mengulurkan tangan, menyambut jabat tangannya. Tiada rasa canggung ternampak di wajahnya. Matanya yang bersinar-sinar seolah menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang berani dan cerdas. Lembut dan hangat Sena merasa jemari dan telapak tangan Ajeng, namun segera ditariknya dengan cepat.

“Mas ini teman Kresna?”, Ajeng bertanya. Wajahnya memandang lurus ke arah mata Sena, kedua matanya tajam memandang. Menusuk. Bibirnya menyungging senyum.

“Ya. Sejak kami masih sama sama kuliah di Yogyakarta. Setelah lulus dua tahun lalu kami tak pernah berjumpa. Kau sendiri sudah lama mengenal Kresna?”, Sena balas bertanya. Pertanyaan yang ia sendiri telah tahu jawabannya. Hatinya senang dapat lekas akrab dengan gadis itu.

“Sudah kukatakan padamu, sejak ia datang ke rumah sebelah, ia sudah bermain ke mari,” terdengar Kresna menggoda. Ajeng tertawa. Gadis itu meraih secarik kertas bekas dan digenggam kemudian dilemparkannya tepat mengenai kepala Kresna. Yang dilempar tak peduli, hanya tertawa.

Dan ketiganya kemudian larut dalam tawa. Kresna tersenyum-senyum melihat perkenalan Sena dan Ajeng. Ia kemudian berkata:

“Minum lagi kopimu, Sena.”

“Nantilah aku minum.”

“Kalau sudah dingin nanti tak enak lagi. Minumlah.”

Sena menurut, dan meraih gelas kopinya.

“Dan itu aku bawakan roti buatanku juga. Makanlah,” Ajeng berkata sambil tangannya menunjuk kepada piring berisi beberapa potong roti coklat.

“Ah lebih baik kuambilkan untukmu,” Ajeng bangkit dari duduknya, mengambil piring kecil berisi roti coklat itu. Diletakannya piring di samping gelas-gelas kopi dekat Sena. Dengan isyarat mata ia menyuruh Sena untuk mengambil roti buatannnya itu.

“Terimakasih.”

Tak perlu menunggu lama, tangannya kemudian meraih roti coklat dan dijejalkannya pada mulutnya.

“Enak rotimu ini. Pada siapa engkau belajar membuatnya?”

“Bibiku. Ia sering menerima pesanan roti dari tetangga sekitar sini.”

Sena meraih kembali gelas kopinya dan meminum beberapa teguk, mendorong roti coklat yang telah lumat itu masuk ke dalam perutnya. Matanya kembali melirik pada Ajeng. ‘Begitu ayu kau Ajeng,’ fikirnya.

Kedua orang pemuda dan gadis remaja itupun kemudian terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Dari percakapannya dengan Ajeng, mengertilah Sena bahwa gadis berwajah manis itu berasal dari sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Rumah yang ditempati Ajeng di sebelah kamar kos Kresna adalah rumah pamannya, adik ayah Ajeng. Sudah hampir satu tahun ini ia tinggal di sana.

“Seperti apakah Temanggung itu, Ajeng. Bisa kau ceritakan padaku?”

Ajeng terdiam sesaat. Pada Sena dan Kresna ia mengatakan tak tahu harus berceritera dari mana. Sena meminta agar Ajeng memulai dari mana saja ia suka. Ajeng mengangguk dan mulai berkisah:

“Temanggung adalah sebuah kota kecil. Daerah kami terletak sekitar satu setengah jam berkendaraan sepedamotor dari Yogyakarta. Di sana engkau bisa melihat banyak gunung yang indah, seperti gunung Sindoro dan Sumbing.”

“Pernah aku dengar Temanggung itu sentra tembakau. Kau tinggal di daerah tembakau?”, kali ini Kresna yang bertanya.

“Ya. Kau benar. Masyarakat di daerahku adalah masyarakat petani. Kebanyakan bertanam tembakau. Tentu saja kalau tembakau sudah dipanen, kami juga bertanam yang lain. Tapi semakin lama kaum mudanya sudah tidak ada yang bertani lagi. Kebanyakan menjadi buruh pabrik dan bekerja di pabrik-pabrik kayu yang banyak ada di sekitar sana atau di Magelang. Yang mendapat pendidikan tinggi bekerja di kota lain, seperti Yogya dan Semarang.”

“Ya, kurasa tak ada lagi generasi seusia kita-kita ini yang menjadi petani. Kalaulah ada pasti sangat sedikit,” Kresna menimpali. Ajeng dan Sena membenarkan perkataannya. Kresna melanjutkan:

“Jaman sekarang, kaum muda seperti kita, sekali ia berpendidikan sekolah menengah, ia tak akan mau menjadi petani. Yang dibenaknya hanyalah bekerja kantoran, mendapat gaji bulanan. Paling tidak berseragam. Tak mau pemuda sekarang ke sawah bersama kerbau, macul dan menanam padi. Panas dan hujan di sawah. Tak akan mau, bahkan anak petani sekalipun ingin menjadi pembesar. Namun aku tak menyalahkan mereka. Pendapatan petani sangat kecil, sangat minim. Kalian tahu, harga pupuk sangat mahal dan memberatkan. Belum lagi sering terjadi kelangkaan. Pupuk hilang di pasaran. Cuaca yang tak pasti juga sering menggagalkan panen. Wajar kalau para keluarga petani pun berfikir untuk beralih pekerjaan.”

“Ya, memang. Dahulu kita adalah negara pengekspor beras. Kini kita mengimpor, dari Thailand. Dari Vietnam. Ironis!” sahut Ajeng.

“Selain karena menjadi petani tidak lagi menguntungkan, generasi sekarang masih saja mengutamakan status, prestis Mereka rela menjadi pegawai honorer dengan upah yang sangat rendah dengan harapan suatu saat diangkat menjadi pegawai negeri. Padahal gaji honorer sangat kecil.”

Sena menimpali:

“Soal status itu aku setuju. Tetangga sebelah rumahku adalah contoh orang yang sangat terobsesi dengan status. Kalian bayangkan, penghasilannya sebagai kuli pabrik adalah limaratus limapuluh ribu sebulannya, cukup lumayan untuk kota kecil seperti kami. Tapi ia sangat terobsesi untuk menjadi guru…”, Sena berhenti sejenak, menghisapi rokoknya. Kresna tak lagi memperhatikan. Pemuda itu nampak serius membaca pesan yang baru saja masuk ke telepon genggamnya.

“Apa yang kemudian terjadi dengan kawanmu itu?” tanya Ajeng.

“Dia melepaskan pekerjaannya sebagai buruh.”

“Mengundurkan diri? Mengapa? Diterima sebagai guru?”

“Inilah masalahnya. Ia samasekali tak berpendidikan guru. Kau tahu, untuk menjadi guru sekolah menengah kini orang harus mempunyai gelar sarjana pendidikan. Kalau gelar itu tak dipunyainya, ia harus mempunyai akta mengajar.”

“Tetanggamu itu sarjana?”

“Lulus SMA saja kurasa tidak”.

“Guru gadungan kalau begitu?”

Sena mengangguk. Ia melanjutkan:

“Ia memalsu ijazah. Ia sangat ingin menjadi guru, karena di desa kami pekerjaan sebagai guru sangat dihormati. Pendeknya mempunyai kedudukan di masyarakat. Dan dengan begitu, ia memasang gelar sarjana pendidikan pada papan nama yang selalu dikenakan di bajunya. Pada orang-orang desa, ia mengaku mengajar di berbagai macam sekolah.”

“Temanmu itu penipu.”

“Bukan temanku, tetanggaku.”

“Ya tetanggamu. Dia penipu. Kok sampai sekarang tidak terbongkar juga?”

“Ya memang begitu jadinya. Namun herannya, banyak sekolah yang menaruh percaya padanya. Terbukti, paling tidak sampai keberangkatanku ke Jakarta ini ia masih kulihat mengenakan baju safari pergi mengajar!”

“Ada-ada saja.”

Sahut Sena:

“Yah.., masyarakat kita masih gila gelar. Tidak heran kalau sekarang gelar mudah didapat karena ada penjualnya. Tiba-tiba seseorang mendapat gelar doktor atau profesor, padahal ia tidak bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi,”

Ajeng menggerutu. Wajahnya berubah menjadi masam.

“Ada aku lihat di televisi, banyak diantara mereka dari kalangan artis, bintang film,” sambung Sena sambil membuang puntung rokoknya ke dalam asbak.

“Ya, dan lebih memalukan lagi mereka tidak malu-malu dan berkata di televisi bahwa apa yang diterimanya adalah suatu kehormatan. Kehormatan apa? Masakan mereka tak tahu bahwa mereka itu sebenarnya tak layak bergelar profesor karena tidak bekerja di perguruan tinggi?” sahut Ajeng lagi.

Kresna nampak telah selesai membalas pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Nampaknya ia tetap menyimak apa yang baru saja diperbincangkan oleh Ajeng dan Sena. Ia menatap kedua sahabatnya itu dan berkata:

“Lebih lucu lagi, mereka merasa yakin bahwa lembaga yang memberikan gelar itu kredibel hanya karena beberapa orang asing yang bertoga mewisuda mereka. Lucu sekali!”

“Entah akan jadi apa negeri ini kalau gelar mudah sekali didapat seperti sekarang ini,” Ajeng berkata lagi. Kresna menyahut:

“Sudah-sudah! Bicara mengenai ketidakberesan di negeri ini ada banyak yang lebih parah daripada sekedar gelar palsu. Ayo Ajeng, ceritakan lagi apa yang menarik dari daerah tempatmu berasal.”

Ajeng terdiam sejenak, mengingat ingat. Ia kemudian berkata:

“Orang-orang kota selalu mengatakan bahwa hawa di daerah kami sangat segar sehingga cocok untuk rumah tinggal atau rumah peristirahatan.”

“Seperti di Puncak barangkali?”

“Kira-kira seperti itu kalau engkau berada di tempat yang bernama Kledung. Kledung adalah dataran tertinggi di Pulau Jawa. Pemandangan di sana sangat indah. Gunung Sindoro dan Sumbing terlihat tinggi sekali, dengan pemandangan areal pertanian dan perkebunan kentang yang sangat hijau. Kau juga akan bisa melihat perkebunan teh dan tembakau yang luas.” Sena dan Kresna termangu mendengar ceritera Ajeng. Gadis itu melanjutkan lagi:

“Saat yang paling menggembirakan adalah ketika panen tembakau tiba. Daun tembakau yang sudah dirajang dijemur di tanah-tanah lapang, halaman penduduk, bahu jalan, dan juga di halaman rumah orang. Baunya sangat harum dan wangi. Kalian tahu, tahu ada semacam anggapan yang diterima umum bahwa rokok kretek belum bisa dinamakan rokok kretek sejati kalau tak memakai tembakau dari Temanggung?”

“Benarkah? Hmm…pengetahuan baru bagiku,” ujar Sena.

“Ya,” sahut Ajeng. ”Adalagi yang menarik. Kalau panen berhasil baik dan pasaran bagus, biasanya akan banyak pedagang yang datang. Mereka menjual pakaian, barang-barang pecah belah, kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi.”

“Pasar kaget maksudmu?” tanya Sena. Ia menyalakan rokoknya yang kedua.

“Semacam itulah,” sahut Ajeng. “Yang lucu, orang-orang tua kami tak senang membeli barang-barang yang murah. Mereka senang kalau harga yang ditawarkan mahal-mahal. Semakin mahal dan mereka bisa membeli, maka akan semakin senanglah, karena bisa berbangga pada tetangga.”

“Menarik sekali. Membuatku jadi ingin berjualan pakaian di tempatmu kalau musim panen tembakau,” Sena tertawa. “Kapankah musim panen itu?”

“Biasanya sekitar Agustus atau September tiap tahunnya. Kalau kau mau berjualan pakaian di sana, mungkin kau akan dapat banyak pembeli, dengan catatan harga tembakau sedang baik. Ada kalanya di masa panen tembakau, petani justeru merugi. “Apa penyebabnya?”

“Kadang hujan turun saat penjemuran…”

“Hanya itu?”

“Ada lagi. Terkadang tembakau dari luar daerah masuk. Merusak harga.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Ada permainan.”

“Permainan bagaimana?”

“Ya permainan, agar harga tembakau tidak mahal. Kau tahu, kalau harga sedang bagus, tembakau bisa sampai tujuhpuluh ribu rupiah satu kilogramnya. Tapi tahun lalu saja, satu kilogram hanya dihargai tigaribu, empatribu perak..”

“Oohh.. alangkah kasihannya para petani tembakau itu..”

“Ya, terkadang Bapakku sampai memilih untuk tidak memanen tembakau saja. Besar pasak dari tiangnya!”

Sena mengangguk angguk mendengarkan pelajaran baru dari Ajeng. Berkata lagi kemudian:

“Ceritakan yang lain lagi?”

“Di pinggir kabupaten, di daerah Pringsurat juga banyak pepohonan kelengkeng.” Gadis itu kemudian melanjutkan kembali:

“Sama seperti tembakau yang banyak dicampur dengan tembakau luar, kebanyakan kelengkeng yang dijual di sana adalah bukan dari daerah itu, terutama kalau bukan musimnya. Kelengkeng dari Jawa Timur banyak yang masuk dan merusak pasaran, karena rasanya tak seenak kelengkeng Pringsurat”.

Sena menimpali:

“Aku tidak tertarik membicarakan soal kelengkeng. Apalagi pedagang buah yang gemar menipu para pembeli dan tembakau yang dicampur-campur itu. Itu sudah cerita lama di negara ini. Aku tertarik pada ceritamu tadi. Katamu, banyak orang sekitar yang bekerja di pabrik kayu. Mengapa kau tak mencoba berkerja di pabrik kayu saja, dan malahan ke Jakarta?”

“Aku pernah mencobanya,” Ajeng menjawab.

“Ceritakan pada Sena mengapa tak kau teruskan pekerjaanmu itu Ajeng,” kata Kresna, seolah sudah mengetahui apa yang hendak diceriterakan oleh Ajeng.

“Karena upah yang diterima sangat rendah. Kau tahu dalam sehari kami harus bekerja duabelas jam. Kami mendapatkan bayaran sebesar tigapuluh ribu untuk itu. Sungguh pekerjaan yang sangat berat. Aku tak kuat, aku sering nyaris pingsan”.

“Tigapuluh ribu katamu?”

Ajeng mengangguk.

“Dan duabelas jam kerja?”

Ajeng mengangguk lagi dan berkata :

“Ya tigapuluh ribu rupiah saja.”

“Banyakkah yang bekerja di pabrik seperti itu?”

“Tentu saja. Banyak orang desa sekitar yang bekerja demi mendapatkan tigapuluh ribu rupiah untuk bekerja. Bagi mereka penghasilan sebesar itu sudah terbaik. Yang penting adalah menjaga kesehatan supaya tidak ambruk ketika bekerja.”

Tiga orang itu kemudian terdiam, merenungkan apa yang baru saja mereka perbincangkan. Antara berapa lama, Ajeng berkata:

“Ah, sudahlah lupakan saja soal upah rendah di pabrik kayu itu. Sedih aku mengenangnya. Oh ya, kata Kresna Mas Sena hendak mencari saudara perempuan Mas di Jakarta ini?” Ajeng bertanya kemudian.

“Panggil saja aku Sena, tak perlu kau memanggilku dengan Mas,” Sena menjawab lunak. Kresna melirik padanya.

“Ya, baiklah,” gadis itu tertawa lagi. ”Jadi engkau hendak mencari saudaramu di Jakarta, Sena?”

“Kresna menceritakan padamu?”

Ajeng tidak menjawab, hanya mengangguk dan memandang Sena lekat. Yang dipandang menjadi salah tingkah.

“Ya, aku hendak menyampaikan pesan dari Bapakku untuknya. Sudah kira-kira empat tahun ini ia meninggalkan rumah kami. Aku harap aku bisa kembali bersama-sama dengannya nanti ke Kutoarjo.”

“Ooh…,” Ajeng menggumam. Gadis itu kemudian berkata:

“Berapa hari rencanamu di sini?” tanya Ajeng.

“Tergantung. Kalau aku bisa menjumpainya esok, barangkali lusa aku sudah akan kembali. Tapi kalau esok hari aku masih belum menjumpai kakakku, kepulanganku bisa mundur lagi. Dan aku tak berharap akan berlama-lama di sini.”

“Mengapa? Engkau rindu dengan pacarmu?” Ajeng menatap Sena tajam. Di bibirnya terkembang senyum. Senyum yang agak terpaksa.

Sena tak segera menjawab. Kresna kemudian menimpali:

“Dia belum punya pacar. Ia selalu saja menolak cinta gadis-gadis yang menyukainya. Bukan begitu, Sena?” Kresna menggoda. Sena hanya tersenyum. Namun ia bisa melihat Ajeng memandangnya dengan tersenyum pula. Sangat indah, sangat manis. Hatinya bergetar. ‘Jika engkau yang mencintaiku, tak akan aku sia-siakan cintamu, Ajeng.’

Ingatannya melayang pada apa yang dialaminya hampir tiga tahun silam. Sri, adik kelas satu angkatan jatuh cinta padanya. Sri Rahayu Rismadewi. Mahasiswi yang lembut, polos dan mempesonakan. Dan mahasiswa mana di fakultasnya yang tak jatuh hati pada mahasiswi sederhana lagi ayu dan pandai seperti Sri? Sri menaruh hati padanya, semua kawan dekat Sri mengatakan hal itu pada Sena. Namun Sena tak pernah bisa membalas cinta Sri. Bukan karena Sri ada mempunyai kekurangan, bukan pula karena gadis itu tak berbudi baik. Ia memang tak menaruh hati, tak mempunyai perasaan istimewa. Masih kata kawan dekat Sri, gadis itu merasa sangat kecewa dengan sikap Sena. Akhirnya Sri menerima cinta Ronald, mahasiswa tampan dan anak pengusaha truk dari Manado. Sepanjang yang didengar Sena, mereka akhirnya menikah beberapa hari setelah Sri wisuda dan berbahagia serta hidup berkecukupan di Manado.

Ketiganya kini terdiam. Sena dan Kresna terus asyik dengan asap masing-masing. Ajeng mengambil secarik kertas dari buku tulis yang dibawanya dan mulai menulis dalam kertasnya. Sena mengambil buku harian dari ransel hijaunya. Ditulisnya apa saja yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Bapak mengantarnya ke Setasiun. Dan Bapak yang sudah renta dan layu masih pula menangisi kepergiannya, kepergian yang hanya beberapa hari saja. Namun ia paham, Bapak sangat menderita dengan sakitnya Ibu. Padanya Bapak berpesan agar pandai-pandai merayu kakaknya Yanti pulang ke desa:

“Katakan pada kakakmu Yanti, aku sudah tak murka lagi padanya. Katakan padanya, Bapak sayang padanya. Bapak juga akan menerima Ardi kalau ia sudah menikah dengan Yanti”, demikian yang dikatakan Bapaknya ketika peluit kereta telah ditiup. Dan sedu sedan Bapaknya itu semakin keras ketika kereta mulai bergerak. Sedu sedan dari seorang yang didera rasa bersalah pada darah dagingnya sendiri. Orang-orang di setasiun hampir semua melihat pada mereka. Bahkan penumpang di dalam kereta berusaha melongokkan kepalanya ke jendela.

“Aku akan segera menemuinya Pak, aku akan mengajaknya pulang. Bapak berdoa saja,” teriaknya saat itu. Tangannya melambai-lambai. Dan kereta berjalan semakin cepat dan cepat. Kereta ekonomi yang padat penumpang itu. Semakin lama, Bapaknya kemudian menjadi sebuah titik yang akhirnya hilang lenyap.

Sena terus melamun. Sebentar-sebentar ia menuliskan lagi apa yang diingatnya dalam sehari itu. Ia tersenyum mengingat pengamen yang dijumpainya di Setasiun Cirebon. Para pengamen waria, dan begitu genit manja mereka bernyanyi. Salah seorang yang menabuh kendang mencubit pipinya dengan gemasnya. Sena tertawa terkikik, sekaligus tawanya itu membuat Ajeng dan Kresna melihat padanya dengan tatapan heran. Kresna menggumam “Uwong gemblung2,” namun Sena tak peduli. Ia terus menulis. Diingatnya seorang bertubuh gempal dan berotot kekar sepanjang perjalanan dari Cirebon-Indramayu berjualan mangga. Mondar-mandir saja orang itu di dalam gerbong walau tak ada seorangpun penumpang yang tertarik membeli mangganya.

Untuk beberapa saat kamar itu berubah menjadi sepi. Kresna bertidur-tiduran di lantai sambil membaca buku. Sena berhenti dari menulis. Ia dapat membaca judul buku di tangan Kresna: The Good Earth , buku karangan Pearl S Buck.

Kembali pemuda itu menulisi buku hariannya. Beberapa saat kemudian ia melirik pada Ajeng. Gadis itu nampak masih saja sibuk menulis. Berhenti lagi Sena dari menulis. Bertanya ia pada Ajeng:

“Kau menulis puisi?”

“Darimana kau tahu aku menulis puisi?”

“Kresna yang memberitahuku. Ia berkata bahwa tulisanmu, puisi-puisimu sangat bagus.”

Gadis itu memandang pada Sena dan tersenyum malu. “Ya aku memang menulis puisi.”

“Boleh aku membaca puisimu?”, tanya Sena lagi. Ajeng tak segera mengiyakan. Beberapa detik kemudian ia menggeleng sambil tersenyum malu. Sena terus mendesak :

”Boleh aku lihat tulisanmu Ajeng?”

“Nanti kau pasti akan mengejek kalau kau tahu tulisanku tak bermutu.”

“Tidak”

“Tulisanku tidak baik, bacalah saja tulisan Kresna.”

“Aku tak butuh membaca tulisan Kresna. Aku ingin membacai karyamu.”

“Berjanjilah kau tak akan berkomentar macam-macam..”

“Aku berjanji aku tak akan mengejek hasil karyamu.”

Ajeng tak berkata lagi. Disodorkannya kertas di tangannya itu kepada Sena. Sena meraih kertas itu dan mulai membaca dalam hati:

 

Engkau’

Dan siapakah Engkau?

Mengharu perasaan

Menyinari gelap sedihku

Engkau

Racuni segala rasa

Dan engkau pula sembuhkan semua keluh

 

Andaikan engkau tak menjadi bagian diri

Tak akan diri kecewa

Aku takkan lara

Karena aku insyafi

Mencintaimu tak harus memilikimu

 

Kalau saja waktu dapat kutawar

Akan kusimpan indahnya malam dan kubingkai dalam hatiku

Agar engkau bisa melihat

Sinar bintang yang indah

Cahya bulan yang redup manja

Berkerlip bersinar dalam hatiku

Hanya untukmu

‘Puisi cinta?’ Sena bertanya dalam hati. ‘Nampaknya belum selesai ditulis. Ajeng belum membubuhkan tanggal di bawah puisi itu, seperti lazimnya puisi orang lain yang sering ia baca. Masih perlu beberapa bait lagi. Puisi cintakah ini?’. Seketika itu pula ia merasakan sesuatu. Rasa cemburu kembali tumbuh dan menyala di hatinya. ‘Cemburu? pada siapa? pada Kresna? Apakah mereka berkasih-kasihan? bercintaan? Dan mengapa pula aku harus cemburu dan sakit hati? Aku hanya tamu yang baru datang, dan tak sepantasnya aku mengharap yang lebih’.

“Kok jadi diam begitu, sudah selesai bacanya?”

Sena menggeragap dan menyahut sekenanya:

“Ini puisi karyamu sendiri?”

Ajeng mengangguk.

“Kapan engkau membuatnya?”

“Baru saja”.

“Di kamar ini?”, Sena bertanya dengan nada tak percaya. Ajeng mengangguk lagi, namun sejurus kemudian menggeleng cepat:

“Kalimat-kalimatnya sudah ada di dalam kepalaku sejak aku belum kemari. Mungkin sejak semalam sudah aku dapatkan kalimat dalam puisiku itu. Hanya baru aku tulis di kamar ini. Sewaktu kau mandi tadi aku mulai menulisnya, dan kuteruskan baru saja.”

Sena mengangguk-angguk mendengarkan. Disodorkannya kembali kertas berisi puisi itu kepada Ajeng. Berkata Sena kemudian:

“Apa yang dikatakan Kresna padaku memang benar.”

“Apa maksudmu?”

“Kau berbakat.”

Agak berapa lama keduanya terdiam, tak berkata-kata. Yang terdengar suara orang mengaji dari masjid. Beberapa saat kemudian Ajeng berkata:

“Terlalu memuji kau ini.”

“Sungguh. Pilihan kata yang kau gunakan tidak sembarang. Bukan kata atau kalimat yang biasa digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang membuat puisi dengan kalimat yang sudah terlalu umum. Tapi kau tidak.”

Agak lama keduanya terdiam. Kresna masih asyik dengan bukunya. Sesekali ia membuka kamus. Sena berkata lagi:

“Pastilah puisi itu engkau tujukan untuk kekasih hatimu,” tebak Sena. Menggelora kembali kini hatinya. Ia melirik pada Kresna. Yang dilirik masih saja terlihat asyik dengan buku usangnya, seolah tak peduli.

Ajeng menjawab cepat: “Tidak, itu bukan untuk siapa-siapa.”

“Lantas bagaimana engkau bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis seperti itu? Sudah jelas bahwa tulisan itu adalah ungkapan perasaan seseorang terhadap orang lain yang dikaguminya. Iya kan?”

“Benar. Akan tetapi rasa kagum, bahkan rasa cinta itu teramat luas, Sena. Aku bisa saja mengagumi seorang pemimpin atau politikus, penjahat, atau bromocorah atau siapapun, dan kubuat puisi seperti ini. Rasa kagum dan cinta tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk menyayangi seseorang atau manusia.”

Kresna berhenti dari membaca. Ia berkata:

“Apa yang dikatakan Ajeng benar. Cinta itu lebih luas dari sekedar seorang lelaki mencintai perempuan atau sebaliknya. Cinta kasih itu lebih luas dari sekedar perasaan birahi dan ingin memiliki. Cinta tak selalu ditujukan pada orang seperti yang kau pikirkan.”

“Tak selalu ditujukan pada orang. Mungkin pada cicak, tikus dan kecoa!”, ujar Sena mengejek. Hatinya menjadi gusar.

“Dan juga kalau perlu cinta pada anjing,” Kresna menyahut sungguh-sungguh. Ia kemudian bangkit berdiri dan meletakkan buku di atas meja. Diraihnya gelas kopi. Setelah beberapa kali teguk, ia kemudian menyambung:

“Jutaan orang mati demi cinta. Cinta kepada negara, cinta kepada tanah airnya, cinta kepada apa yang menjadi keyakinannya. Ada diantaranya yang mati karena gelap mata, cinta buta kepada negaranya. Memang ada yang rela berkorban demi cinta pada orang, yang mati karena cinta buta kepada kekasihnya. Ada yang rela mati demi barang dan benda. Demi cinta pada negara pulalah ada orang yang rela mati, walau kematiannya tidak selalu dianggap patriotik oleh semua orang.”

“Aku tak mengerti,” ujar Sena. Hatinya bertambah gusar.

“Kau pasti tahu, dan kau Ajeng pasti juga tahu berapa banyak pejuang kita yang mati bertempur melawan Belanda setelah Proklamasi tujuhbelas Agustus?”

“Kita merdeka dari Jepang, bukan Belanda.”

“Ya benar, maksudku setelah Belanda mencoba datang lagi kemari, ke Indonesia, goblok!”

“Oh, Oke,” sahut Sena

“Nah, mereka itu mati karena cinta kepada negara ini, negara yang saat itu baru saja lahir. Masih orok. Sedangkan tentara Belanda banyak pula yang mati. Mereka mati demi cinta mereka pada negara mereka, pada Kerajaan Belanda.”

“Aku masih tak mengerti,” sahut Sena. Ia menggaruk garuk kepalanya.

“Cinta memang tidak mudah dimengerti,” Kresna berkata seperti mengejek. Matanya melirik pada Ajeng. Gadis itu menunduk. Dengan isyarat tangan Kresna meminta kertas yang ada di tangan Ajeng. Gadis itu mengulurkannya. Kresna mulai membaca. Kamar itu kembali sunyi. Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

“Dari puisi Ajeng ini aku bisa menyimpulkan bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki. Bukan begitu Ajeng?”. Ajeng memandang pada Kresna dan mengangguk.

Sena melihat hal itu, membuatnya kembali terbakar. Ia merasa terdesak.

“Apa artinya kalau kita tak mampu memiliki apa yang ingin kita rawat dan sayangi. Apa artinya, misal, kita cinta pada negara ini, namun kita tak memilikinya secara utuh karena dijajah bangsa lain. Jaman dahulu mungkin penjajahan fisik. Namun sekarang bisa jadi penjajahan ekonomi. Penjajahan budaya. Neokolonialisme” Sena berkata berapi-api. Ia melanjutkan:

“Dan sudah sejak lama kita hanya merdeka secara badan. Tetapi secara spirit, secara kejiwaan kita sangat tergantung pada bangsa lain, pada bangsa asing. Ada kau dengar berita kemarin malam? Rupiah kita anjlok lagi. Semua orang menjerit. Kita kaya akan minyak. Kita kaya akan gas bumi, kaya akan kayu-kayu jati terbaik, rotan, kopi, jahe, satwa dan masih banyak lagi.”

“ Tapi kita masih saja miskin,” Ajeng menyahut.

“Itulah! Orang tua kita kesulitan membeli minyak tanah. Kayu-kayu jati kita entah ke mana. Ikan-ikan di laut dirampoki kapal asing setiap harinya. Ke mana larinya hasil tambang di Papua? ke Indonesiakah?!”

Sena melanjutkan lagi:

“Kau masih ingat masalah Timor Timur? Ketika aku masih mahasiswa, aku sangat mendukung perjuangan mereka. Akan tetapi ketika mereka melepaskan diri dari Indonesia, jujur kukatakan padamu aku merasa sangat sedih dan kalah. Dan tidak saja aku, namun banyak orang yang merasakan kesedihan itu. Kita cinta pada Timor Timur, tapi kita kehilangannya. Timtim sudah bukan bagian dari negara kita lagi”.

Kresna dan Ajeng memperhatikan Sena dengan sungguh-sungguh. Keduanya terdiam seperti anak kecil terkagum-kagum melihat pertunjukan sulap. Sena berkata lagi:

“Juga, misalkan cinta itu dalam arti yang sempit. Cinta seorang lelaki pada perempuan atau sebaliknya. Atau kaum homoseks terhadap sesama jenisnya.”

“Tau sekali kau tentang homoseks, Sen,” Kresna menimpali sambil tertawa.

“Mereka punya cinta juga toh? Cinta bukan monopoli heteroseks seperti kita. Oke, kembali lagi ke pembicaraan kita. Kau tahu apalah artinya kalau tak dapat memiliki dan mengasihi. Dukalara yang akan dirasakan.”

Kresna nampak hendak menjawabi apa yang menjadi ketidaksetujuan sahabatnya itu, namun tak jadi dilakukannya. Seseorang mengetuk pintu kamar. Ia segera bangkit dari duduk. Dihampirinya pintu dan dengan hati-hati dibukanya perlahan. Terlihat seorang lelaki. Kulitnya gelap, rambutnya panjang agak ikal. Wajahnya terlihat gelisah. Mereka berdua bercakap sejenak yang tak tertangkap oleh telinga Sena. Suara mangkok yang beradu dengan sendok dari tukang bakso di depan rumah begitu nyaring terdengar, menghalangi. Beberapa saat kemudian, Kresna menyuruh tamunya itu untuk masuk. Lelaki berambut ikal itu menurut, dan dengan mengendap ia memasuki kamar itu. Kini wajahnya terlihat lebih jelas. Seorang pemuda dengan wajah yang keras dengan anting di bibirnya. Lubang bekas jerawat banyak menghiasi kulit wajahnya yang hitam. Telinga sebelah kanannya terlihat tak utuh lagi seperti ada luka bekas senjata tajam. Ada terlihat oleh Sena tato di punggung tangan kanannya.

Mereka berdua tidak bergabung dengan Sena dan Ajeng, akan tetapi berbisik-bisik di balik pintu. Wajah Kresna nampak tegang. Otot-otot di keningnya bermunculan menonjol-nonjol. Hisapan pada sigaret di mulutnya nampak lebih cepat dan sering. Sesekali ia melongok ke luar memandang dengan gelisah pula. Namun begitu, ia nampak berusaha menguasai keadaan, menguasai perasaan hatinya sendiri.

Demi melihat hal itu, Sena menjadi teringat masa lalu, masa ketika Kresna sering bernegoisasi dengan aparat di tengah aksi unjuk rasa. Pemandangan yang sama beberapa tahun silam terlihat kembali di kedua matanya. Pemuda berambut ikal panjang itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dalam tas plastik dari balik bajunya. Bungkusan itu nampak dibalut rapat dengan kertas koran. Setelah itu lelaki itu meminta diri, sambil menepuk pundak Kresna. Keduanya terlihat berjabatan erat. Lirih Kresna berseru pada lelaki itu: “Hati-hati.” Sedetik dua kemudian pemuda itu hilanglah di gelapnya malam dan hiruk pikuknya jalan kampung.

Kresna nampak terus memandangi kepergian kawannya itu. Ada kecemasan ternampak di wajahnya. Ada rasa khawatir. Agak lama ia memandang ke luar.

“Kawanmu kah?” Sena bertanya.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Kresna. Bungkusan yang diberikan oleh pemuda tadi dipegangnya erat-erat. Sejenak ia terlihat bingung. Matanya memandang ke sekeliling kamar, namun tak sekalipun matanya itu memandang pada Sena dan Ajeng. Diseretnya meja kerjanya dan dengan sekali lompat ia telah berada di atasnya. Disingkapnya langit-langit kamar di atas meja kerja, dan segera setelah terbuka, bungkusan itu dilemparkannya perlahan. Ia kemudian melompat turun.

Sena memandang wajah Kresna dengan penuh tanya. Matanya kemudian melihat pada Ajeng. Gadis itu terlihat memandang tak senang pada Kresna seolah ingin mengatakan sesuatu. Tangannya menarik narik ujung celana panjangnya sendiri, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Ada apa Sen? Kau tak apa-apa?”

“Tidak ada apa-apa. Kenapa kalian diam? Nah, ada diantara kalian mau bakso? Atau nasi goreng?” Kresna bertanya pada Sena dan Ajeng. Tak ada jawaban keluar dari mulut keduanya. Sena tahu, dari nada bicara Kresna, kawannya itu tak sedang hendak menawari mereka makan, akan tetapi lebih terasa sebagai mengalihkan pembicaraan. Dan Kresna seakan tak membutuhkan jawaban. Ia segera menuju pintu kamar, memanggil seorang pedagang keliling dan memesan tiga piring nasi goreng.Ajeng buru-buru mengatakan bahwa ia lebih suka mi goreng. Maka pesanan malam itu menjadi dua piring nasi goreng dan sepiring mi goreng.

Tak sampai limabelas menit, ketiganya telah asyik dengan makan malam masing masing. Selesai bersantap, ketiganya masih bercakap-cakap dan bersenda gurau. Pedas dan hangatnya nasi goreng telah mencairkan kekakuan yang baru saja tercipta. Ajeng sempat kembali ke rumahnya sebentar untuk mengambil tiga kantung teh celup. Gelas kopi yang telah kosong kini berisi teh panas yang manis. Kresna mengatakan pada Sena, bahwa cinta tetaplah abadi, dan keabadian cinta tak dapat diukur dengan kepemilikan cinta. Sena hanya mengangguk malas, tak berniat untuk menanggapi lagi. Ajeng lebih banyak terdiam. Hingga mendekati jam sepuluh malam, Ajeng berpamitan pulang.

“Sampai jumpa lagi Sena, Kresna.”

“Ya sampai jumpa lagi. Mimpi tentang aku,” Kresna menggoda. Ajeng mencibir.

“Terimakasih, Assalamu’alaikum,” ucap Ajeng sambil terus berjalan pulang.

Sena membalas salam. Kresna hanya terdiam sambil memberi isyarat dengan anggukan.

Dan gadis itupun dengan lincahnya berlari menuju pagar rumah tingkat yang ada di samping rumah tinggal Kresna, menutupnya kembali, dan melambaikan tangan yang penghabisan.

“Besok kemarilah lagi, Ajeng,” Kresna separuh berteriak. Tangannya melambai pada Ajeng. Terdengar suara mengiyakan.

Kedua pemuda itu kembali memasuki kamar, menutup pintu dan melanjutkan kembali pembicaraan.

“Ajeng adalah pribadi yang menarik,” Kresna berkata. Ia mengambil sebatang rokok, melanjutkan lagi:

“Barangsiapa yang berhasil menguasai hatinya, memilikinya, maka sungguh beruntunglah ia. Ajeng sangat penyayang dan berhati lembut. Perasaannya halus. Aku yakin jiwanya adalah jiwa seniman.”

“Kau yang memiliki hatinya?” Sena berkata perlahan, menyelidik.

“Tidak. Bukan aku,” Kresna menjawab pendek.

“Kau pikir mudahkah bagi seorang lelaki untuk merebut hatinya?” Sena bertanya.

Terdengar pintu diketuk dari arah dalam. Rupanya lelaki tua si tuan rumah mendengar ada suara pendatang dan ia ingin tahu siapa yang bertamu malam itu. Kresna mengenalkan Sena padanya. Tuan rumah berpesan agar Sena menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Sena berterimakasih, dan tuan rumahpun kembali lagi ke dalam.

“Apa tadi yang kau tanyakan?”

Sena menjawab: “Aku bertanya apakah mudah memiliki hati seorang Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Ia kemudian berkata:

“Tergantung.”

“Tergantung bagaimana maksudmu?”

“Ajeng bukan perempuan cengeng. Ia sangat mandiri. Ia tak mau tergantung pada siapapun, apalagi terhadap lelaki. Namun ada kalanya, ia bisa lebih manja dari seorang anak umur dua tahun sekalipun.”

“Apakah anak dua tahun itu manja. Kau sok tahu!”

“aku hanya memberi perumpamaan, goblok! Tak usah dibahas.”

“Oke.”

Kresna melanjutkan: “Oleh karenanya, lelaki yang bisa merebut hatinya haruslah lelaki yang bisa memberikannya kebebasan sekaligus perindungan padanya.”

“Dan kehangatan..” Sena menyambung.

“Otakmu mesum..!” timpal Kresna.

“Just kidding bro!”

“Apakah aku memenuhi syarat itu?”, tanya Sena lagi. Ia menoleh pada Kresna.

“Tanyalah pada hatimu sendiri.”

“Ayolah, aku ingin mendengar pendapatmu.”

Kresna hanya diam tak menjawabi.

“Ayo, bicara bung!”

Kresna memandang pada Sena dan berkata:

“Aku tak mengetahui kedalaman hatimu.Kau sendiri yang lebih mengenal dirimu, apakah kau tipe lelaki yang mengekang atau tidak.”

Sena terdiam. Sebentar kemudian ia berkata:

“Perempuan adalah makhluk yang agung dan indah. Sudah sepantasnya kaum lelaki kita melindungi. Aku tak bisa mengerti mengapa ada lelaki yang sampai hati menyiksa dan berbuat kasar terhadap perempuan, apalagi terhadap isteri dan anak perempuannya sendiri.”

“Aku pernah membaca Sarinah”, kata Kresna. Ia kemudian menyambung: “Di sana disebutkan banyak suami menganggap dan memperlakukan isterinya seperti mutiara. Dan justeru karena anggapan itulah perlakuan suami terhadap isterinya lebih bersifat mengekang dan membatasi. Mutiara selalu ditaruh dalam kotak, atau tempat lain yang aman. Ditutup rapat-rapat.”

Keduanya terdiam kini. Merenungi apa yang baru saja diperbincangkan.

“Oleh karenanya, atas pertanyaanmu apakah kau termasuk lelaki yang bisa memberikan perlindungan padanya, kau sendirilah yang mestinya menjawab. Kau yang paling tahu dirimu sendiri..,” Kresna berkata perlahan.

Dan malampun terus berlanjut dengan bintang yang berhamburan di langit tepian Jakarta. Suara pengajian dari masjid sudah tak terdengar lagi. Dari jendela kamar, awan putih yang terkoyak angin terlihat jelas, tersinari lampu perkampungan dan perkotaan Jakarta. Awan bergerak cepat, seolah ingin mendahului sang waktu. Sambil bertiduran, kedua sahabat itu masih saja bercakap hingga menjelang tengah malam. Hingga akhirnya sebelum tidur, Kresna berkata:

“Aku khawatir tak bisa mengantarmu mencari rumah kakakmu esok hari, Sen.”

“Mengapa?”

“Aku harus ke Pasar Senen esok pagi-pagi benar. Ada barang pesanan yang harus aku antar ke pelanggan. Barang itu sudah harus kuantarkan sebelum jam sembilan.”

“Jadi esok hari aku tinggal di sini sendirian?”

“Aku akan meminta Ajeng akan menemanimu. Seingatku, ia tak ada jadwal kursus di hari Sabtu. Kurasa ia tak akan keberatan menemanimu di sini, atau sekedar untuk berjalan-jalan ke Pasar Baru. Pernah kau ke Pasar Baru?”

“Belum. Ini adalah kali kedua dalam hidupku pergi ke Jakarta. Yang pertama ketika aku masih SMP, study tour.”

“Kau harus pergi ke Pasar Baru, minimal satu kali dalam hidupmu!” Kresna tertawa geli, kemudian berkata lagi:

“Kau bisa pergi berjalan-jalan dengan Ajeng ke Pasar Baru atau tempat lain yang menarik hatimu. Kalau tak ada halangan lusa kita pergi mencari rumah kakakmu Yanti.”

Sena mengangguk. Fikirannya kembali teringat pada pemuda yang beberapa jam lalu datang ke kamar Kresna. ‘Adakah kaitannya dengan pemuda itu sehingga Kresna tak bisa mengantarkannya mencari rumah kakakku Sabtu esok hari?’, pikir Sena. Ia berhenti dari lamunan dan bertanya:

“Apakah Ajeng sudah cukup mengenal Jakarta?”

“Ajeng?”

“Ya, apakah dia sudah mengetahui seluk beluk Jakarta?”

“Aku rasa sudah, mengapa?”

“Karena seperti katamu, mungkin ia yang akan menemaniku esok mencari rumah kakakku.”

Kresna terdiam. Sena pun terdiam. Sejenak Sena menyesal karena telah menafsirkan sendiri perkataan kawannya itu. ‘Kresna tak pernah mengatakan bahwa Ajeng akan mengantarkanku mencari rumah kak Yanti. Yang dikatakan oleh Kresna adalah Ajeng akan dimintanya untuk menemani, mengantarkanku melihat-lihat Jakarta kalau ada waktu. Itu saja. Kalau benar bahwa Ajeng adalah kekasih Kresna, ia pasti tak rela,’ Sena berkata dalam hati.

“Ya, begitu juga boleh. Esok akan kukatakan hal ini padanya. Aku yakin ia tak berkeberatan,” jawab Kresna perlahan. Ada keengganan dalam nada bicaranya yang dapat dirasakan oleh Sena.

“Kres..,”

“Hehhhm?”

“Kau tak keberatan kalau aku pergi bersama Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Agak lama ia berdiam diri, kemudian berkata: “Aku?”

Sena bertanya: “Ya, kau tak keberatan jika aku pergi dengan Ajeng?”

“Tidak,” jawab Kresna tegas. “Lagipula mengapa aku harus berkeberatan? Pergilah dengannya esok. Temui kakakmu.”

“Kau takkan marah padaku?”

“Percayalah padaku,” Kresna berkata lagi. Ditatapnya mata Sena. Ia mengangguk pasti

“Engkau tak cemburu?” Sena memburu.

Kresna menjawab sambil menoleh pada Sena:

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya, percayalah. Antara aku dan Ajeng tak lebih dari sekedar teman. Mungkin kalau bisa ditarik lebih tinggi lagi hubungan kami adalah sekedar hubungan saudara. Hubungan kakak dengan adiknya. Sudahlah, sekarang lebih baik kita tidur.” Kresna membalikkan tubuhnya lagi. Deru nafasnya terdengar di keheningan malam di dalam kamar itu.

Sena tak menjawab ajakan Kresna untuk tidur. Matanya memang sudah terasa berat. Rasa kantuk semakin merasuki. Dan dalam kantuknya ia teringat kembali bayangan peristiwa hari ini: Bapak yang mengantarkannya ke Setasiun, dan pesan agar ia sebisa mungkin menemukan tempat tinggal kakaknya, menyampaikan amanat agar kakaknya itu segera pulang.

Dari ingatan akan ayahnya, Sena menjadi teringat kembali pada kakek yang duduk di sampingnya sewaktu di dalam kereta api. Merokok sajalah yang diperbuat kakek itu sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ingatannya melompat dari kakek yang duduk di sebelahnya pada kemolekan dan kecantikan Ipah, gadis penjual kopi yang manis, bertubuh padat dan menggairahkan. Dan segera saja pengamen waria yang mencubit pipinya pun bermunculan dengan wajah berganda-ganda dan tertawa-tawa dalam benaknya yang telah terjangkiti kantuk. Dan dengan begitu, ia menjadi terkenang dan rindu pada Ajeng, gadis yang baru saja dikenalnya.

Rasa kantuk terus menguasai. Ia terus berusaha membayangkan dan mengenangkan perjumpaan dan perkenalannya dengan Ajeng yang baru saja. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan, dan menimbulkan harapan. Dengkur Kresna mulai terdengar. Ada didengarnya pula suara kereta api dari kejauhan, membuatnya teringat pada lagu Locomotive dari Guns N Roses. Namun segera suara lirih deru kereta tergantikan suara gaduh sepasang kucing yang berkejaran di atap rumah melolong memadu birahi. Rasa kantuk semakin dahsyat, semakin perkasa memaksanya menutup kelopak mata. Hanya sebentar saja Sena mendengar dengkur kawannya dan gemuruh suara kereta api, karena sebelum kedua jarum jam menunjuk angka dua belas, ia telah larut dalam tidurnya sendiri, mengumandangkan dengkurnya sendiri. Kedua anak manusia itu tertidur berjajar, dengan bola lampu kamar yang terus menyala dan dengan serangga-serangga kecil yang terbang mengelilingi…

BAGIAN III

 

Matahari sudah mulai bersinar. Cahayanya yang putih kuning lembut menerobosi kamar melewati lubang-lubang angin dan beberapa celah kecil yang ada di pintu. Kedua pemuda itu telah bangun, bersembahyang subuh, mandi dan menyantap gorengan yang dibeli Kresna di ujung gang. Rokok pun telah mereka isapi sepagi itu. Dua gelas kopi berwarna hitam pekat mengepul-ngepul di atas meja.

“Kalau semua pemimpin di dunia seperti kita sekarang ini, duduk, merokok, dan minum kopi bersama, maka aku yakin tidak ada lagi peperangan yang terjadi di dunia ini,” Sena memulai.

“Apa maksudmu?”, Kresna bertanya heran. Diambilnya sepotong pisang goreng, dan dikunyahnya. Matanya mengawasi Sena, menunggu jawaban.

“Coba kau bayangkan, kalau saja Saddam Hussein dan Bush dan Tony Blair setiap hari minum kopi bersama, membicarakan permasalahan antar mereka dengan bersahabat seperti kita pagi hari ini, maka tak perlulah sampai ada agresi, sampai ada perang antar negara.”

Kedua pemuda itu tertawa terpingkal, memegangi perut masing-masing

Sena berkata lagi:

“Juga tak perlu ada perang separatis di negara kita. Tak perlu Timtim dan Aceh serta Papua ingin melepaskan diri. Apa yang pernah dinyanyikan Iwan Fals benar, uang untuk membeli persenjataan bisa lebih bermanfaat jika digunakan untuk kemakmuran rakyat. Bisa untuk membeli beras, membangun perpustakaan umum, bisa untuk membeli buku untuk anak sekolah. Para balita di negeri ini bisa merasakan sedapnya susu, sehingga otak mereka dapat berkembang dengan baik karena menyerap gizi dan vitamin yang cukup.”

Kresna mengangguk dan menyahut:

“Tepat sekali apa yang kau pikirkan itu. Yang lebih penting lagi, uang untuk membeli persenjataan dan peralatan tempur lainnya itu juga bisa digunakan untuk membiayai sekolah gadis pembuat kopi yang kita jumpai kemarin sore di Jatinegara itu, ha…ha..ha. Siapa namanya…Sa…?”

“Ipah. Nining Saripah,” Sena menjawab cepat.

“Aaaaaa… benar. Uang untuk membeli senjata dan amunisi bisa digunakan untuk membiayai pendidikan orang-orang yang tak beruntung seperti Ipah,” Kresna tertawa sambil terus mengunyahi pisang gorengnya. Berkata lagi:

“Cobalah, dengan sedikit keterampilan komputer saja, Ipah pasti akan bisa menguasai tugas-tugas kesekretarisan. Aku rasa tak akan sukar bagi dia untuk menguasai komputer dan internet. Kalau pengetahuan itu ia dapat dan peroleh, ia bisa perbaiki nasibnya. Ia bisa cari kerja yang lebih layak, dengan bayaran yang lebih besar dan terhormat. Tidak seperti sekarang, membuat mi rebus dan kopi saja yang ia mampu buat!”

“Hmmm akan tetapi kalau semua pembuat kopi seperti Ipah jadi sekretaris, rasanya dunia bisa jadi akan kacau, Kres!”

“Mengapa?,” Kresna menatap wajah sahabatnya itu heran. Diambilnya gelas kopi dan diteguk. Sena menjawab:

“Karena, tidak akan lagi ada gadis manis yang membuat kopi untuk kita kalau kita minum di warung, ha..ha..ha..ha!” kedua pemuda itu tertawa kembali tergelak-gelak.

Dan kemudian keduanya membayangkan Ipah dengan baju sekretaris, memakai kacamata atau lensa kontak dan menenteng komputer jinjing, serta menaiki mobil pribadi warna merah. Kembali kedua pemuda itu tertawa terkikik. Beberapa saat kemudian Sena berkata sungguh-sungguh:

“Tapi peperangan itu ada pula manfaatnya.”

“Apa itu?”, tanya Kresna sambil menghapus kedua bola matanya yang berair dengan jarinya.

“Perang berguna untuk menurunkan populasi di dunia. Perang adalah cara efektif untuk mengurangi jumlah penduduk Aku pernah mendengar hal ini dalam pelajaran ilmu negara.” Sena mengingat-ingat.

“Dan dengan perang, pasar senjata dunia akan terpelihara. Bagaimanapun kepentingan negara besar bermain di sini. Kau tahu negara-negara penghasil senjata? Mereka jugalah yang gemar membuat perang!”, Kresna menimpali.

Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan kopi masing-masing. Tak ada televisi di kamar itu. Sebagai gantinya mereka mendengarkan siaran berita yang dipancarkan oleh sebuah pemancar FM yang berkantor di Depok. Berita pagi itu: sebuah bom bunuh diri meledak di pinggiran kota Basrah, Irak. Limabelas orang tewas dalam insiden. Beberapa saat kemudian penyiar radio mengumumkan bahwa waktu telah menunjukkan pukul delapan.Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

“Nah, aku harus segera pergi, Sen. Sebentar lagi Ajeng akan datang untuk menemanimu. Aku telah bertemu dengannya ketika membeli gorengan ini. Ia sudah menyanggupi untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

“Jadi engkau ke Pasar Senen pagi ini?”

“Ya, seperti yang aku katakan padamu semalam. Aku harus mengantarkan sesuatu pada seseorang di sana,” Kresna menjawab tanpa melihat wajah sahabatnya itu.

“Naik apa kau?”

“Yang jelas bukan naik mobil pribadi..” sahut Kresna ketus. Dikenakannya jaket yang kemarin dipakai untuk menjemput Sena ke setasiun. Selesai itu, ia mengambil bungkusan yang semalam diletakannya di atas langit-langit atap kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk mengambilnya. Dalam sebentar saja ia telah kembali turun dengan bungkusan itu dimasukkan ke dalam baju, di balik jaketnya.

“Kalau engkau hendak minum, gula dan kopi aku letakkan di atas lemari pakaian. Ambil dan pakai sesukamu.”

“Aku bosa kopi.”

“Kalau begitu pergilah ke warung sana,” Kresna menunjuk ke arah warung tak jauh dari rumah tinggalnya. “Belilah apa yang kau suka. Ada juga bir di sana kalau kau sudah berubah pikiran. Kalau kau beli bir, jangan lupa sisakan untuk aku nanti sore atau malam, oke?”

Sena mengangguk sambil terus memandangi gerak-gerik sahabatnya itu. Kresna masih saja terlihat gagah. Dalam hati ia bertanya, ‘hendak mengantarkan apakah Kresna ke Pasar Senen? Dan bungkusan itu, apakah isinya? Mengapa ia nampak sangat berhati-hati dengan bungkusan itu?’

Kresna melangkah ke luar kamar untuk kemudian berjalan menuju pagar. Sena mengikuti dari belakang. Sebelum menghilang di tikungan, ia sempat melambaikan tangannya pada sahabat lamanya itu dan berteriak:

“Kalau engkau pergi dengan Ajeng, taruh saja kuncinya di bawah pot itu. Kalau aku pulang lebih dahulu aku tetap bisa masuk ke dalam kamar,” tangannya menunjuk pada sebuah pot berisi bunga mawar beberapa langkah dari pintu kamar Kresna. Sena mengangguk. Hanya dalam hitungan detik Kresna telah benar-benar menghilang dari pandangan.

Sena memasuki kembali kamar kawannya itu. Sepi kini yang ia rasakan. Sepagi itu. Diliriknya jam dinding. Sudah jam delapan pagi lewat lima menit. Ia mendengarkan siaran berita di radio lagi: ‘Kapal perang Republik Indonesia telah berjaga-jaga di sekitar Blok Ambalat mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin terjadi’. Ia menjadi teringat akan pesan pendek yang diterimanya dari kawannya dua hari lalu: Pesawat F-16 milik Angkatan Udara Indonesia telah berjaga-jaga di Bandara Sepinggan Balikpapan.

“Ah perang dan perang saja. Mengapa orang selalu disibukkan dengan perkelahian?”, Sena menggumam sendiri, berbicara pada dirinya sendiri. Ia kemudian memandangi jam dinding. ‘Kapan kiranya Ajeng akan datang kemari? Ah, Ajeng yang indah. Ajeng yang ayu. Senyumnya begitu menawan. Tatap matanya teduh dengan senyum yang membasahi keringnya hati. Tubuhnya pun indah, ramping. Pas sekali dengan pakaian yang dikenakannya semalam. Kekasih Kresnakah dia? Atau hanya sekedar teman?’. Dan dalam hati Sena mengharap kemungkinan kedua lah yang senyatanya ada di antara sahabat lamanya dan Ajeng.

‘Hmm..hendak apakah aku ini sekarang?’, pikirnya. Dihampirinya meja kerja Kresna. Ada beberapa buku yang berjajar tak beraturan di sana. Semuanya karangan dari penulis dunia: John Steinbeck, Pramoedya Ananta Toer, Tolstoy ,Camus, dan John Grisham. Dua buku tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka, tulisan Swami Vivekanda dan buku tulisan Pearl S. Buck yang semalam dibaca Kresna, The Good Earth.

‘Hmm..rupanya Kresna suka pula pada Camus’, seru Sena dalam hati. Ia tak menyukai Grisham dan Camus. Karangan Grisham dirasainya tak masuk akal, sementara tulisan Camus dikritiknya sebagai terlalu bertele. Baginya Harry Potter karya JK Rowling lebih masuk akal ketimbang Camus. Matanya kembali melihat-lihat jajaran buku yang ada di atas meja kerja Kresna. Beberapa buku filsafat karya John Stuart Mill dan John Locke ada pula di sana. Semua tertulis dalam Inggris. Walau Kresna tak terlalu pandai bahasa Inggris, namun ia tak mau membaca buku-buku terjemahan.

‘Kita harus membaca buku dalam bahasa Inggris, karena bahasa itu adalah bahasa dunia,’ begitu selalu dikatakan Kresna pada Sena ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Diakuinya, Kresna menguasai bahasa Inggris lebih baik darinya.

Sena tersenyum kecil lagi. Dahulu ketika masih mahasiswa, semua mahasiswa termasuk dirinya dan Kresna berlomba membaca atau setidaknya memiliki buku Zaratustra karangan Nietzche. Hatinya mengakui apa yang dilakukannya dahulu disertai maksud agar terkesan sebagai intelektual kampus. Ia sendiri penggemar buku-buku filsafat. Tak seperti kawan-kawannya yang lain yang lebih menggemari filsafat Yunani dan sejarah Imperium Roma, filsafat Jawa lah yang paling ia sukai. Pemikiran Jawa sangat mendalam serta penuh makna, begitu ia selalu meyakinkan pada kawan-kawannya.

Matanya berpendaran lagi, mengamat-amati. Kresna bukanlah penggemar musik yang fanatik. Sepanjang yang dapat diingat Sena, hanya dua artis yang disukai Kresna: Leo Kristi dan John Mayall, seorang penyanyi blues dari Inggris. Dan dari lima kaset yang tergeletak di mejanya, dua adalah album John Mayall dan sisanya album Leo Kristi. Tak ada foto perempuan barang sebuah pun ada di meja Kresna. ‘Berarti, antara mereka tak ada apa-apa. Mereka hanyalah kawan biasa saja. Bukankah biasanya orang yang berkasih-kasihan suka memasang foto orang yang dikasihi di meja atau tempat-tempat pribadi lainnya?’, pikirnya. Dengan begitu ia pun kembali merasa tenang. Namun sebentar kemudian hatinya sendiri membantahi:

‘Bisa saja, Kresna menyimpan foto Ajeng di dompet dan aku tak pernah melihatnya. Mungkin saja pula mereka berkasih-kasihan, akan tetapi tak pernah saling menukar foto. Lagipula, apakah foto dapat dijadikan ukuran kasih sayang seseorang? ‘, hatinya berkata lagi.

Ketukan pintu membangunkan Kresna dari lamunannya. Terdengar suara gadis mengucapkan salam dan selamat pagi. Suara Ajeng! Dan dengan begitu hati Sena menjadi melunjak-lunjak gembira.

“Alaikum salam,” balas pemuda itu. Sambil berjalan menuju pintu disisirinya rambutnya yang tak beraturan itu dengan jari jari tangannya.

Ketika pintu dibuka, nampak Ajeng tersenyum, berkata:

“Boleh aku masuk?”

Rasa kagum dan gembira yang entah datang dari mana membuat Sena tak mampu menjawabi pertanyaan sederhana itu. Dan lagipula, Ajeng nampak tak membutuhkan benar jawabannya. Kakinya telah melangkah masuk ke dalam kemar, pada detik yang sama ketika ia meminta ijin masuk. Sena mempersilakan Ajeng untuk duduk. Ajeng mengambil kursi dan menghempaskan pantatnya. Ia nampak segar dengan rambutnya yang masih basah namun telah tersisir. Aroma wangi memancar dari tubuhnya. Ia nampak memikat dengan celana jeans dan baju putih lengan panjang berenda. Hati Sena menjadi kacau. Gembira dan senang serta kikuk menjalar dan menguasai hatinya secara perlahan. ‘Apa yang harus kukatakan?’ pikirnya.

“Enak tidurmu semalam, Ajeng?”

“Lumayan. Aku sudah merasa segar kembali sekarang. Kau sendiri?”

“Pulas sekali. Mungkin karena masih terbawa capai seharian naik kereta api kelas kambing, ha..ha..ha…,” Sena tertawa. Ajeng tertawa pula. Sekaligus kekakuan di hati Sena telah mengendur.

“Kau mau minum apa? Mau kau kubuatkan kopi?“

“Tak usah repot-repot Sen, aku sudah sarapan dan minum susu sebelum kemari. Kresna berpesan padaku untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

Sena mengiyakan. Mengangguk.

“Kalau begitu sekarang saja kita berangkat.”

“Apa harus terburu-buru?”

“Tidak, akan tetapi aku tak begitu mengenal daerah itu. Kresna hanya memberikan ancar-ancar daerah itu padaku, dan kurasa aku tahu, walau aku tak yakin benar. Kau harus ingat kita sekarang di Jakarta, bukan di Kutoarjo. Hari ini mungkin masih ada jalan kampung, esok hari sudah tertutup beton apartemen.”

Sena mengangguk menyerah.

“Ya, ya ya, aku mengerti. Akan tetapi bolehkah aku merokok barang satu batang terlebih dahulu?”, Sena bertanya. Menawar. Sebenarnya tak ada rasa dalam mulutnya yang memanggilnya untuk menghisapi rokok. Keinginan untuk bercakap dan berakrab lebih lama-lah sesungguhnya yang membuatnya beralasan ingin merokok dahulu.

“Sesukamulah, dewa asap,” Ajeng menjawab pendek.

Dan Sena mulai menyalakan rokoknya.

“Kau perokok berat rupanya?”, tanya Ajeng. Wajahnya menunjukkan raut muka tak senang.

“Ah tidak juga.”

“Merokok tidak baik untuk kesehatan. Kau pasti tahu itu.”

Sena mengangguk.

“Bukan saja perokok itu sendiri yang rugi, akan tetapi orang lain yang ada disekitarnya,” kata Ajeng ketus. Sena menjadi terpojok. Ada rasa gembira bahwa perempuan yang mulai mengisi ruang hatinya itu memperhatikan dirinya, memperhatikan kesehatannya. Namun, ada pula ia rasai kecemasan bahwa lelaki perokok bukanlah tipe laki-laki pilihan Ajeng. Dalam hati ia bertekad untuk apabila perlu berhenti merokok untuk meraih simpati gadis itu.

Namun begitu Sena terus saja menghisapi sigaretnya. Matanya menerawang ke luar kamar, menembusi kaca jendela kamar. Sekejap kemudian kedua matanya telah mengarah pada wajah Ajeng dan berkata:

“Merokok memang tak baik untuk kesehatan, aku tahu itu.”

“Hanya orang bodoh yang tahu sesuatu yang tidak baik namun terus melakukannya!”, Ajeng menukas.

“Mungkin kau benar.”

“Merokok juga sangat tidak baik untuk mata,” Ajeng menyela.

“Tidak baik untuk mata? Apa hubungannya?”

“Tentu saja ada hubungannya…”

“ Setahuku merokok hanya merusak kesehatan paru-paru dan jantung,” kata Sena sambil membolak-balik bungkus rokok miliknya, mengamat-amati.

“Mata pencaharian, Sen!” Ajeng tertawa terbahak. Sena tertawa pula. Dan dengan begitu suasana menjadi semakin mencair. Pemuda itu kemudian berkata:

“Aku berniat untuk berhenti merokok kalau aku sudah menemukan orang yang pantas mendampingiku. Mungkin kalau aku sudah kawin nanti.”

“Ah, lama sekali. Berhenti merokok saja harus menunggu kawin…,” Ajeng tertawa lagi. Ia menyambung:

“Kucing saja kawin atau tidak kawin tidak merokok..”

“Aku bukan kucing!”

“Oh iya, aku lupa,” Ajeng tertawa lagi. Tangan kirinya menutupi giginya yang terlihat. “Sudah ada calonnya?” gadis itu melanjutkan.

“Belum. Mengapa? Kau mau?”

Dan Sena menjadi terkejut dengan pertanyaannya sendiri. ‘Mengapa aku bisa bertanya sejauh ini padanya? Aku baru saja berkenalan dengannya semalam. Bagaimana kalau ia tersinggung?’, fikirnya.

Ajeng tidak menjawab. Wajahnya terlihat malu dan memerah. Pandangan matanya dialihkan ke tembok kamar. Untuk berapa lama keduanya terdiam, menebak-nebak perasaan hati lawannya masing-masing. Tak ada suara. Keduanya diam tak bergerak-gerak. Seekor kecoa terlihat memakan remah roti coklat sisa sisa semalam.

“Sorry,” beberapa saat kemudian Sena berkata. Dimatikannya rokoknya yang masih panjang ke dalam asbak.

Ajeng tak menjawab. Matanya masih memandangi tembok dinding kamar Kresna.

Bertanya Sena pada Ajeng kemudian, memecah kebekuan :

“Kalau boleh tahu, mengapa engkau memilih Jakarta dan bukannya tinggal bersama orang tuamu di Temanggung?”

“Aku sudah menceritakan padamu semalam”.

“Aku tahu, engkau sudah menceritakan padaku semalam bahwa engkau tak kerasan bekerja di pabrik kayu. Namun kalau boleh tahu, apa kau punya alasan lain?”

“Memang aku mempunyai alasan yang lain.”

“Boleh aku tahu?”

Ajeng mengangguk. Berkata:

“Terpaksa,” Ajeng menjawab pendek.

“Terpaksa? Maksudmu?”

Gadis berambut panjang itu menghirup nafas perlahan. Matanya memandangi lantai kamar, dan dengan perlahan mendongakkan pandang kepada Sena. Lirih Ajeng berkata:

“Alasan yang sebenarnya mengapa aku pergi ke Jakarta adalah untuk menghindar dari Bapak.”

“Menghindar dari Bapakmu? Mengapa?”

“Ia hendak mengawinkanku dengan seseorang selepas aku selesai sekolah”, Ajeng tertunduk. Sena memperhatikan wajahnya. Tidak begitu jelas, karena wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam.

“Menikahkanmu?”, tanya Sena hati-hati. Dengan begitu ia teringat pada Yanti kakaknya. Nasib Ajeng hampir serupa benar dengan Yanti yang juga hanya lulus SMA3 Dan selepas SMA itulah Bapak menjodohkannya dengan Irsyad, putra Haji Baharuddin yang masih kerabat jauh dengan keluarganya. Irsyad sudah bekerja sebagai guru, dan telah mempunyai rumah sendiri. Sebetulnya rumah itu tidak dibangun atas keringat Irsyad sendiri. Ia hanya tinggal menempati. Haji Baharuddin telah membangunkan rumah itu untuknya. Bapak merasa, kalau kakaknya menikah dengan Irsyad, pastilah hidupnya akan bahagia. Walau dalam hati tak percaya bahwa perjodohan masih bisa diterima di era internet ini, Sena dapat mengerti jalan pikiran Bapaknya. Orang tua tak ada yang menghendaki anaknya hidup sengsara.

“Ya. Aku sudah hendak dinikahkan oleh Bapakku.”

“Kau tak mau?”

“Aku memohon pada Bapak untuk diberi kesempatan mencari pekerjaan di Jakarta. Aku berhasil meyakinkan Bapak bahwa jika aku bisa bekerja di kota ini, aku bisa mengiriminya banyak uang. Dengan begitu, ia tidak perlu menikahkanku dengan anak kawannya, kepada siapa ia mempunyai hutang selama ini. Hanya itu harapanku, agar aku bisa bekerja dan membayar hutang-hutang Bapak.” Gadis itu mulai terisak.

“Apa yang membuat Bapakmu sedemikian banyak mempunyai hutang?”

Ajeng tak menjawab. Ia menunduk. Jari jarinya saling memilin. Badannya terguncang. Ia mulai menangis.

“Maafkan aku, sepagi ini aku sudah membuatmu sedih.Kita berangkat sekarang?”

Ajeng menggeleng kuat. Ia masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Sena, bukan salahmu,” kata Ajeng kemudian dengan nada lirih. Ia mulai mengatur nafas, berusaha menguasai perasaan hatinya. Sena bangkit dari duduk, mengambil segelas air putih. Disodorkannya pada Ajeng.

“Ini minumlah dahulu, sehingga kau merasa enak.” Ajeng menurut. Gelas berisi air putih itu diteguknya. Beberapa saat kemudian ia sudah berhenti dari menangis. Bercerita kembali:

“Bapak adalah petani tembakau. Kebetulan panen pada tahun-tahun lalu selalu buruk, sehingga tiada keuntungan. Bapak harus berhutang untuk memelihara tanaman tembakau. Ia juga harus terus membeli pupuk, mengupah penggarap, membayar sekolah dua adikku, dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Singkat cerita, hasil panen tak seperti yang diharapkan. Hutang-hutang Bapak pada kawannya semakin besar. Dan kawannya itu tak akan menagih hutang, akan menganggap hutang Bapak selesai kalau aku bersedia kawin dengan anaknya.”

Sena menjadi terharu. Ia merasa iba dan tersentuh. Ingin rasanya memeluk dan membelai rambut gadis itu untuk memberikan ketentaraman, namun ia tak mempunyai keberanian. Tak mempunyai kekuatan. Hatinya mengatakan bahwa hal itu terlalu dini untuk dilakukan.

Ajeng melanjutkan lagi:

“Anak kawan Bapak yang hendak dijodohkan denganku itu pemuda yang baik dan santun. Namanya Tomo. Aryo Wahyutomo. Aku pernah dikenalkan padanya, dan kami sempat berbincang-bincang.”

“Kau sudah kenal?”

“Ya. Kami sudah saling kenal. Ia tampan, dan sudah bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Semarang. Pada mulanya pembicaraan kami kaku, karena terus terang aku tak ingin kawin muda, apalagi dengan cara dijodohkan dan dengan alasan utama sebagai pelunas hutang. Aku tak mau kehilangan masa depanku.”

“Dia juga suka padamu?” Sena bertanya menyelidik. Ia merasa tak senang.

“Alhamdulillah, Tomo juga berterus terang padaku bahwa ia juga tak suka dijodohkan oleh ayahnya. Padaku ia mengaku sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri. Kami menjadi saling simpati, dan oleh karena itu kami justeri saling menghargai dan mendukung serta mendoakan kebaikan masing-masing.”

“Hingga kemudian kau sampai Ke Jakarta ini?”

“Ya, seperti telah kukatakan padamu tadi. Aku meyakinkan Bapak bahwa dengan bekerja di Jakarta aku akan dapat membayar hutang-hutangnya dalam waktu singkat.”

“Lantas, apakah kau pernah mendapatkan pekerjaan di Jakarta ini?”

Ajeng tidak menjawab. Diusapnya matanya yang sembab dengan saputangan. Wajahnya kini kembali menatap Kresna. Gadis itu kemudian memulai kisahnya:

“Ya, pernah. Hanya tiga minggu sesudah tiba di Jakarta aku mendapat pekerjaan, menjadi sekretaris di sebuah perusahaan yang cukup besar. Perusahaan percetakan.”

Ajeng bercerita bahwa ia mendapat informasi sebuah percetakan membutuhkan seorang sekretaris. Dan pamannya mempertemukan dengan pemilik percetakan itu. Sang paman mengenal pemilik percetakan karena pernah berhubungan kerja beberapa tahun silam. Karena cekatan dan rajin serta penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik, Ajeng dengan cepat mendapat kepercayaan. Ia sering mendapatkan uang tambahan dengan bekerja lembur. “Bisa kau mengirim uang pada Bapakmu dengan gaji yang kau terima?”

Ajeng mengangguk. “Sekitar lima bulan aku bisa menyisihkan sebagian penghasilanku untuk aku kirim kepada Bapak. Namun kerjaku hanya bertahan selama lima bulan itu saja. Aku kemudian memutuskan untuk berhenti.”

“Berhenti? Mengapa?”

“Pemilik percetakan itu…dia sungguh.., ah..ia.. binatang! Ia pernah berusaha hendak memperkosaku!” Ajeng kemudian berceritera lagi: suatu sore, sekira pukul setengah tujuh, pemilik percetakan menyuruhnya untuk menyalin penjualan selama sebulan. Ia bekerja sendirian malam itu. Ketika itulah, sang majikan merayunya untuk melayani hasratnya, di kantor itu. Ajeng menolak, namun sang pemilik percetakan telah gelap mata.

“Ia membekapku dari belakang dengan kuat. Sangat kuat,” Ajeng memandang ke luar, ke arah jendela.

“Lantas?”

“Aku tak punya pilihan lain kecuali memohon padanya untuk melepaskanku. Ia tak mau menurut. Mungkin telinga dan hatinya telah tersumpal. Aku meronta dan berteriak. Namun tidak ada yang menolongku.”

“Ia lebih kuat darimu pasti..”

“Ya, memang ia sangat kuat. Aku sudah meludahi wajahnya. Tapi ia justeru semakin liar.”

“Lucu kedengarannya. Apa tak ada orang di sekitar kantormu?”

“Aku tahu persis ada dua orang satpam yang berjaga di percetakan itu”

“Kenapa mereka tak berbuat apa-apa?”

“Itulah. Aku juga tak tahu. Mestinya mereka tahu dan mendengar teriakanku. Namun mereka diam saja. Mungkin takut akan berakibat yang merugikan mereka sendiri jika menolongku.”

“Ya. Sebenarnya orang berbuat sesuatu selalu dikaitkan dengan kepentingan dan keuntungannya. Kalau perbuatan baik justeru dirasa akan mendatangkan celaka bagi diri, maka banyak orang memilih untuk bisu, mencari selamat. Lalu, berhasilkah pemilik pabrik itu…,” belum selesai Sena melanjutkan pertanyaannya, Ajeng telah mendahului:

“Alhamdulillah, tidak. Aku berhasil memukul kepalanya dengan asbak yang kuraih sekenanya, dan kemudian kupukul tubuhnya dengan kursi lipat yang biasa aku gunakan untuk duduk. Setelah itu aku lari. Dua orang satpam yang berjaga juga melihatku lari. Sekali lagi mereka hanya diam. Itulah hari terakhir aku bekerja di percetakan itu. Hampir lima bulan lalu.”

“Kau tidak melaporkannya pada polisi?”

Ajeng tertawa lemah, kemudian berkata:

“Melapor?,”Ajeng tertawa sinis. “Kau pikir mereka akan percaya omonganku? Salah-salah aku yang akan ditertawakan dan dicemooh serta dituduh sebagai telah menggoda majikan. Sudah banyak kasus seperti ini terjadi. Akhirnya toh kasus akan ditutup dengan dalih semua terjadi suka sama suka.” Gadis itu melanjutkan lagi:

“Bukannya pesimis, Sena, tapi sudah banyak contoh nyata seperti itu. Ibarat kata orang lapor kehilangan kambing, nantinya kita malah akan kehilangan sapi.”

Sena mengangguk-angguk membenarkan.

“Lantas apa rencanamu setelah ini?”

“Aku masih hendak menunggu sampai aku mendapat pekerjaan lagi. Aku harap, aku bisa bekerja dalam waktu-waktu ini. Sambil mengirimkan lamaran, sekarang ini mengikuti kursus bahasa Perancis.”

“Bahasa Perancis? Mengapa Perancis?”

“Karena itu adalah bahasa internasional kedua setelah Inggris. Kebetulan sewaktu sekolah bahasa Inggrisku lumayan baik. Aku berharap secepatnya bisa bekerja kembali, supaya aku segera bisa menghasilkan uang. Aku masih muda, Sena. Umurku baru hendak duapuluh. Aku pun ingin mengecap masa mudaku dengan sebaik-baiknya. Aku ingin mandiri, mempunyai pekerjaan dimana aku bisa mengembangkan diri dan kepribadianku. Aku harus bekerja dan berkarya di Jakarta ini, kalau tidak…”

“Kau harus pulang dan kawin dengan anak kawan Bapakmu?”sergah Sena. Ia merasa khawatir.

“Ya. Kalau aku tidak juga mendapat pekerjaan dalam tiga bulan ini Bapak akan menjemputku pulang. Paman sudah mengabarkan segalanya pada Bapak. Tebakanmu baru saja itu benar,” Ajeng berkata tak bersemangat. Matanya menatap Sena seolah ingin menyandarkan beban hati yang menggayuti.

“Kudoakan kau akan segera mendapat pekerjaan kembali, Ajeng. Aku mendoakanmu. Banyak kau mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan?”

Ajeng mengangguk.

“Semoga secepatnya ada panggilan pekerjaan untukmu.”

“Terimakasih.”

“Kau tak keberatan mengantarku hari ini?”

Ajeng menggelengkan kepalanya. “Mengapa harus keberatan? Sejak kemarin aku libur, karena jadwal kursusku dari Senin sampai Kamis. Kalau engkau mengajakku pergi, aku justeru senang bisa keluar dari rumah. Sepanjang hari yang kupandangi hanya itu-itu saja.” Ajeng kini telah pulih dari sedih hatinya, kembali tersenyum. Wajah gadis itu berseri-seri. Sena menjadi senang karenanya.

“Kita pergi sekarang?”

“Ya, rokokmu telah lama habis. Seharusnya kita sudah berada di jalan sekarang.”

“Engkau sendiri yang memikatku dengan ceritamu itu.”

Ajeng memberangut.

“Boleh aku lihat alamat kakakmu itu?” gadis itu bertanya. Sena mengangguk pasti. Pemuda itu segera merogoh saku belakang celananya, membuka dompet, meraih secarik kertas dan mengulurkannya pada Ajeng.

“Kata Kresna, engkau sudah cukup mengenal Jakarta.”

Gadis itu tidak menjawab. Ia mengangguk-angguk, mengatakan bahwa ia mengetahui alamat yang ditujukan dalam kertas sekaligus mengetahui angkutan umum apa yang harus dinaiki. Dikembalikannya kertas kecil itu pada Sena, dan berkata menggoda:

“Ayo, kita berangkat, tuan asap!”

Sena tertawa. Pemuda itu bangkit dari duduknya. Segera dikenakannya jaket kesayangannya itu. Ajeng berjalan mendahului ke luar kamar.

“Engkau tampak gagah dengan jaket itu,” puji Ajeng setelah keduanya telah keluar dari kamar. Matanya menatap teduh pada Sena.

Sena tersenyum. Ia memberanikan diri memandang lekat-lekat wajah gadis yang berdiri di hadapannya itu. Hatinya berdesir-desir. Yang dipandangi hanya tersenyum malu.

“Kau mau memakai ini? Pakailah supaya engkau terlindung dari debu dan panas,” Sena menawarkan jaketnya. Ajeng hanya diam, namun tangannya menerima tawaran Sena. Segera dikenakannya jaket jeans itu. Sena kembali tersenyum dan mengagumi.

Ia kemudian mengunci kamar. Sesuai dengan pesan Kresna, kunci itu ia letakkan di bawah pot berisi bunga mawar.

Keduanya kemudian berjalan meninggalkan kamar rumah itu. Berdua mereka menyusuri gang yang semakin menyempit dan menanjak. Hati Sena menjadi begitu riang. Beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh padanya. Pemuda itu merasa bangga kala mata orang memandang iri padanya yang berjalan dengan Ajeng. Sambil berjalan ia bersenandung.

When I’m Walking Beside Her

People Tell Me I’m Lucky

Yes I know I’m A Lucky Kind..

Matahari semakin menanjak tinggi. Suara kendaraan lalu lalang makin lama makin nyata terdengar membising di telinga. Bau kencing manusia mulai tercium kembali. Sena dan Ajeng sampai juga pada keramaian jalan raya yang sudah mulai macet. Tak perlu lama menunggu, apa yang mereka nantipun datang: sebuah mikrolet bergerak merayap. Keduanya segera melompat memasuki angkutan umum itu meluncur menuju kota…

Metromini yang ditumpangi Ajeng dan Sena bergerak perlahan, tersendat-sendat keluar dari terminal Blok M. Sena menunjukkan carik kertas alamat kepada kondektur dan memintanya untuk menurunkan mereka berdua di tempat terdekat. Sang kondektur terlihat mengernyitkan dahinya. Agak lama ia memandang ke arah depan seolah memikirkan sesuatu, kemudian mengangguk-angguk menyanggupi. Matanya tak melihat kepada Ajeng. Ia kembali sibuk mencari penumpang, berteriak dan memanggili mereka yang berdiri di jalan, menawarkan tumpangan.

Sena dan Ajeng duduk di bangku belakang. Metromini yang mereka tumpangi itu tak begitu penuh terisi. Pada kaca kedua pintunya banyak dipenuhi stiker, anjuran untuk membayar dengan uang pas. Sementara itu dari kanan maupun kiri jendela, jalanan terlihat macet. Suara klakson mobil, metromini, bus besar kecil, dan sepedamotor bersahutan, menjerit, saling meneriaki dan memaki. Asap knalpot dengan leluasa memasuki jendela dan pintu untuk akhirnya berputar dan mengepul di dalam bus, serta memasuki rongga tiap manusia yang bernafas di dalamnya.

“Apa pendapatmu tentang kota ini?” Sena bertanya, memulai pembicaraan dalam metromini.

“Jakarta? Kota yang sudah sangat kelebihan penduduk dan sudah tak nyaman lagi untuk ditinggali”.

“Ah bisa saja kau. Aku amat-amati kau kerasan saja tinggal di kota ini?”.

“Mulanya aku memang sangat sangat tak betah. Jalanan begitu ramai dan macet. Belum lagi banyak tempat yang rawan copet dan jambret serta penodongan.”

“Tentu sangat jauh berbeda dengan Temanggung, kan?”

“Ha..ha.., sudah barang tentu. Namun lambat laun aku sadar bahwa Jakarta juga lebih memberikan banyak janji daripada kota lain, apalagi kota kecil seperti kotaku. Aku mulai suka dengan Jakarta. Apa yang bisa diharapkan kalau kita tinggal di kota kecil? Apalagi kalau tinggal desa? Tidak ada harapan, Sen. Bisa jadi hutang Bapakku takkan terbayar kalau aku mencari kerja di sana. Sedangkan di Jakarta, aneka perusahaan besar kecil ada di sini. Semua perdagangan ada di sini. Pernah aku membaca bahwa sebagian besar uang berputar di Jakarta.”

Sena mengangguk angguk. Pandangan matanya dilemparkan ke arah luar, ke jalan raya. Ajeng bertanya:

“Kau sendiri, adakah keinginanmu untuk pindah ke kota ini?”

“Tidak”

“Samasekali tidak?”

“Ya,” jawab Sena mantap.

“Kau akan tertinggal. Nasib harus kau ubah di kota ini. Kalau kau tinggal di Kutoarjo saja, sampai tua kau akan begitu terus.”

“Tapi kalau kita hidup di kota kecil, kita masih bisa berkumpul dengan keluarga. Kita masih bisa melihat ayah dan ibu kita. Kita masih bisa memelihara ayam di halaman rumah kita. Bahkan ayam-ayam itu, bolehlah mereka tidur di dalam rumah kita kalau mereka suka.”

“Tapi apa artinya kalau kita selamanya kekurangan. Hidup bersama, berkumpul akan tetapi selalu kesusahan dan kekurangan. Apakah itu yang dinamakan bahagia? Mangan ora mangan sing penting ngumpul? Aku tak setuju.”

“Tergantung apa yang kau maknai dengan kekurangan itu. Kalau kau selalu memaknai kebutuhan hidup dengan hanya kebendaan saja, maka kau akan selalu kekurangan.”

“Begitukah?”

“Ya. Tidak saja di Jakarta, bahkan di manapun kau pijakkan kaki di bumi ini,” Sena berkata sungguh-sungguh. Ia melanjutkan:

“Tapi jika kau juga menganggap dan menghargai sesuatu yang non materi, yang abstrak, spiritual, maka kebahagiaan bisa kau dapat, walau secara materi kau tak begitu berkelebihan. Ingat, kalau kita hanya mencari benda dan kebendaan saja, maka selamanya hati kita tak akan pernah terpuaskan dan terpenuhi. Selalu saja kurang. Sebaliknya, orang akan tetap dapat merasakan apa yang disebut kamulyaning urip, tanpa harus selalu mengaitkan dengan kepemilikan kebendaan. Sugih tanpa banda.”

“Tapi kau, aku, dan semua orang adalah darah dan daging. Darah dan daging yang perlu makan, perlu minum, pakaian, dan tempat berteduh,” sergah Ajeng tak terima. Ia memprotes.

“Kita, kau dan aku bisa mencarinya di tempat kita masing-masing berasal. Tak harus di Jakarta ini. Tak harus berpenghasilan besar. Secukupnya saja. Di Jakarta jika engkau berpenghasilan besar, maka yang kau keluarkan akan besar pula. Di desa atau di daerah, asal kita bisa mensyukuri apa yang telah kita terima, maka tidak ada persoalan sebenarnya.”

Sena berkata lagi:

“Lagipula kalau aku harus tinggal di Jakarta, aku tak akan tahan dengan situasi semrawut dan kacau seperti di luar sana Ajeng. Coba kau lihat, mobil-mobil berebut hendak lewat terlebih dahulu. Sudah berapa lama kita ada di dalam metromini ini, tapi mungkin belum satu kilometer kita menempuh perjalanan. Selain situasi yang semrawut dan segala polusinya, Jakarta juga rawan. Banyak kejahatan.”

Ajeng mengiyakan, mengakui. Ia mengambil sebutir permen dan dikunyahnya. Disodorkannya beberapa butir pada Sena. Pemuda itu menggelengkan kepala dan berkata lagi:

“Kau lihat orang-orang itu?!”, Sena menunjuk pada sekawanan remaja lusuh di perempatan jalan yang mereka lalui. Berkata lagi:

“Mereka mencari makan di jalanan. Tak jelas benar apakah mereka pekerja seni atau penjahat. Kadang mereka menyanyi-nyanyi, bertepuk tangan tanpa orang dapat mendengar suaranya karena bisingnya lalu lintas. Namun tak jarang kalau dirasa ada kesempatan mereka memaksa kita untuk memberi uang. Dan kalau mereka tak kita beri uang, mereka bisa saja melukai kita.”

Ajeng segera memotong:

“Ya, tapi tidak semua anak jalanan seperti itu.”

“Engkau benar, Ajeng.”

“Tidak semua mereka jahat,” Ajeng menukas lagi.

“Sekali lagi kau benar Banyak diantara mereka yang benar-benar ingin menghibur, dan tidak memaksa. Akan tetapi kau pasti pernah melihat di televisi bagaimana mereka nekat menodong, menjambret dan berbuat kekerasan terhadap pengguna jalan. Terkadang mereka tidak saja menyanyi dan membawa gitar, tapi juga membawa celurit.”

“Mungkin yang kau maksudkan adalah pemalak, tukang peras yang menyamar sebagai pengamen,” Ajeng berkata membantah.

“Bisa jadi.”

“Ya, boleh jadi memang demikian.”

“Memang kita tak bisa menyamaratakan, menggeneralisir. Juga kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Lingkungan yang menjadikan mereka begitu. Kebanyakan mereka dari keluarga miskin. Ketika kecil, mereka tiada mampu bersekolah karena orang tua mereka tak mampu. Dan ketika mereka besar, hanya meminta-minta saja yang dapat mereka perbuat. Ijazah dan apapun yang formal mereka tak punya.”

“Kesalahan negara juga, mengapa tak memperhatikan mereka,” kata Ajeng seperti menggumam.

“Ya. Negara harus memperhatikan mereka. Kalau begini terus, akan seperti lingkaran setan yang tak ada ujung pangkal. Tak ada akhirnya. Keruwetan demi keruwetan.”

“Anak-anak jalanan itu…, bahkan mungkin mereka tidak punya orang tua atau tak pernah melihat orangtuanya sejak kecil, sejak mereka bayi. Anak hasil hubungan gelap.”

“Benar. Aku sering mendengar, banyak bayi, banyak anak ditelantarkan dan ditaruh begitu saja oleh orang tuanya di tepi jalan. Sudah sejak menjadi embrio orang tuanya membenci benar kehadiran mereka. Masih bagus kalau mereka tak mati ketika dibuang atau dibunuh ketika dilahirkan.”

Ajeng terdiam merenungi kata-kata Sena. Sebentar-sebentar ia membetulkan rambutnya yang dikibas-kibaskan angin yang masuk melalui pintu. Kondektur berjalan menghampiri menepuk pundak Sena menagih ongkos. Sena segera membayar dan kemudian berkata:

“Mereka, sejak dalam perut emaknya sudah menjadi daging dan nyawa yang tak diinginkan. Mereka tak berdosa. Nafsu orang tuanyalah yang membawa mereka ke dunia.”

Sena melanjutkan lagi, “Seharusnya pemerintah memperhatikan mereka. Konstitusi kita sudah mengamanatkan penyelenggara negara ini untuk memperhatikan mereka,” Ajeng mengangguk-angguk mendengarkan apa yang dikatakan Sena. Gadis itu kemudian berkata:

“Mungkin kita masih jauh dari titik itu, Sena. Banyak permasalahan besar yang dihadapi negara ini. Pemerintah tentu kewalahan dan serba salah mana yang harus diprioritaskan.”

“Tugas penyelenggara negara memang untuk mensejahterakan rakyatnya,” sergah Sena. “Kau benar. Namun kau harus ingat bahwa hampir setiap permasalahan yang melanda negara kita sudah dalam taraf yang sangat parah. Sialnya negara ini mempunyai begitu banyak masalah. Entah mana yang harus didahulukan, diprioritaskan. Ada masalah banjir, busung lapar, separatisme, pertikaian antar etnis, kesenjangan kaya miskin, belum lagi korupsi yang menjalar dari atas sampai bawah. Dari pejabat tingkat tinggi sampai korupsi di tingkat kelurahan dan desa,” Ajeng berhenti sejenak. Gadis itu berkata lagi:

“Siapapun pemerintahnya sekarang akan sangat berat untuk menyelesaikannya. Semua permasalahan dan penyakit sudah terbentuk begitu lama, sudah mendarah daging. Semua butuh penyelesaian segera. Semua permasalahan dituntut untuk diselesaikan di urutan pertama,” sahut gadis itu kemudian.

“Engkau benar Ajeng”, Sena menyahut. Kembali ia merasa kagum, bahwa Ajeng ternyata menaruh perhatian dan kepedulian pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.

Percakapan terhenti ketika sang kondektur memandang dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap turun. Ajeng dan Sena bangkit dari duduknya, dan menghampiri pintu metromini. Kendaraan itu berjalan melambat dan dengan begitu sang kondektur mendorong punggung keduanya. Sena menolehkan kepalanya melotot, akan tetapi kondektur itu tak memedulikannya. Bus terus berjalan meninggalkan mereka.

Sena dan Ajeng kini telah berada di pinggir jalan raya. Sena mengusap keringat di dahinya.Ajeng berkata lagi setelah keduanya mulai berjalan:

“Kalaulah hidup ini tak perlu uang…”

“Tidak mungkin,” Sena memotong sambil tertawa.

“Coba fikirkan, khayalkan Sena. Dengarkan dahulu apa yang aku maksud,” Ajeng menggerutu.

“Baik, lanjutkan apa katamu,” Sena berkata. Ada ia rasai malu telah memotong begitu saja perkataan Ajeng.

“Kalau saja hidup itu tak perlu uang. Kalau saja dalam hidup kita tak mengenal rasa lapar, maka aku mungkin akan sepakat denganmu bahwa kehidupan ini jauh lebih indah dinikmati apabila kita tinggal di desa.”

“Heem..”Sena tersenyum. Dipandanginya wajah Ajeng, dan dengan isyarat mata ia meminta gadis itu untuk terus berceritera.

“Di desa kehidupan jauh lebih baik. Di sana tidak ada polusi yang meracuni dada kita, meracuni dada para bayi dan juga dada para kambing, bebek dan ayam.”

“Serta sapi dan kerbau,” Sena menyahut. Ajeng mengangguk. ”Tak ada tekanan hidup. Orang masih bisa melihat hijaunya rumput dan indahnya suara yang timbul ketika pohon bambu diterpa angin. Lain dengan di Jakarta. Sukar bagimu untuk melihat rumput.Sukar bagimu melihat bahkan tanah kosong sekalipun.”

Sena terdiam merenungi apa yang dikatakan Ajeng. Ia merasai adanya kebenaran yang dikatakan oleh gadis yang sedang berjalan disampingnya itu. Dipandanginya sepanjang jalan raya. Semua hanyalah aspal dan beton. Sepanjang kanan dan kiri hanyalah pertokoan. Hanyalah beton, dan pagar-pagar besi. Dan jika mata dilemparkan jauh ke depan, belakang dan samping, hanya bangunan bertingkat dan rumah-rumah mewah saja yang terlihat.

“Sayangnya kita hidup harus dengan uang, Ajeng.”

“Itulah, Sena.”

“Bahkan untuk kencing dan buang air besar pun kita harus membayar.”

“Limaratus untuk kencing, dan seribu perak untuk buang air besar,” Ajeng menimpali dengan sinis.

“Yah, semua sekarang diukur dengan uang. Tidak ada pertolongan yang tulus. Di desa orang masih bisa meminta bantuan tetangganya untuk menyingkirkan batang pohon yang roboh misalnya. Di kota seperti Jakarta ini orang mestilah menawar harga sebuah jasa terlebih dahulu baru ia akan mendapatkan pertolongan.”

“Hey dari tadi kita hanya berjalan saja, tanpa tahu arah dan tujuan. Kemana sekarang kita, Ajeng?”

“Kita cari jalan yang tertulis di kertasmu itu. Mari kita tanyakan pada penjual warung di sebelah sana,” Ajeng berkata sambil menunjuk sebuah warung tenda, sekira limapuluh meter dari tempat mereka berdiri. Berdua mereka mendekati warung itu.

Lelaki tua penunggu warung mengatakan bahwa jalan seperti yang tertulis dalam kertas Sena ada tidak jauh dari tempat itu. Ia menunjuk sebuah titik di dekat jembatan di seberang jalan dan menyuruh keduanya untuk mengikuti saja gang pertama yang akan dijumpai. Sena dan Ajeng mengangguk dan berterimakasih. Keduanya kemudian kembali menyeberangi jalan raya.

“Menurut orang yang baru saja kita jumpai tadi, kita harus mendekati jembatan ini, Sen.”

“Ya, mari.”

Dan keduanya terus berjalan hingga menemukan sebuah gang yang tak begitu terlihat dari kejauhan. Kedua remaja itu berbelok memasuki. Beberapa ibu muda tampak sedang bercakap-cakap sambil menggendong anak dan saling membandingkan kelebihan anaknya masing-masing. Sementara beberapa ibu yang tak menggendong anak nampak mengerubungi tukang sayur, menawar-nawar harga.

“Di mana kira-kira rumah kakakku? Di kertas ini tertulis nomor tujupuluh enam.”

“Sekitar sini masih nomor limapuluhan, Sen. Ini berarti, kita masih harus berjalan ke dalam,” Ajeng menunjuk ke arah depan.

Sena mengangguk, menurut. Keduanya kemudian melanjutkan langkahnya. Sambil berjalan, kepala dan mata keduanya tak lepas mengawasi tembok depan atau gerbang pagar setiap rumah.

“Itu dia. Aku rasa itu nomornya, ya itu dia rumahnya,” Sena berkata separuh terpekik. Diraihnya tangan Ajeng, namun kemudian dilepaskannya lagi. ‘Mengapa aku menggandengnya?’ pikirnya. Ajeng hanya terdiam.

Keduanya berjalan mendekati rumah dengan nomor 76 yang terpasang pada tembok depan. Rumah itu tak terlalu bagus namun terlihat terawat. Dinding-dindingnya kokoh terbangun. Beberapa hiasan bergaya Jawa terpasang di tembok depan. Sebuah kentongan berbentuk cabai merah besar tergantung di dekat pintu depan. Pada samping rumah terlihat pintu yang terbuat dari seng yang terkesan ditutup sekenanya saja. Dari kejauhan Sena bisa menerawang halaman dalam rumah dari celah pintu itu. Ada dilihatnya tali jemuran dan berbagai macam pakaian tergantung di sana.

“Apakah menurutmu kakakku tinggal di sini, Jeng?”, tanya Sena.

“Mungkin saja.”

“Kau yakin di sini tempatnya?”

“Entahlah. Tapi setidaknya nomor rumah ini sama dengan yang ada di dalam kertas catatanmu”, Ajeng menggumam. Ia kemudian berkata lagi:

“Bagaimana kalau kita ketuk rumah ini dulu?”, Ajeng menyarankan.

“Benar, mari.”

Tiba-tiba terdengar suara orang, suara perempuan berkata keras sambil menunjuk pintu seng yang ada di samping rumah: “Kalau kalian mau ketemu orang kos, masuk saja, lewat pintu sebelah sono, noh”

Kedua remaja itu membalikkan kepala mencari arah suara yang berkata pada mereka. Suara itu berasal dari halaman sebuah rumah yang terletak tepat di depan rumah bernomor 76 itu. Seorang perempuan, berumur sekira limapuluh lima tahun terlihat memegang sapu lidi. Nampaknya ialah yang baru saja bicara.

“Maksud ibu, rumah ini tempat kos?” tanya Sena. Ia berjalan mendekati pagar rumah perempuan tua itu. Yang ditanya mengangguk. Ia kemudian berkata:

“Rumah itu memang rumah kos, ada banyak yang tinggal dari situ.”

Demi mendengar jawaban dari perempuan itu Sena menjadi bergairah. Ia kemudian bertanya lagi:

“Mungkin ibu kenal kakak saya Yanti? Dia dari Jawa Tengah, Kutoarjo.”

Perempuan yang memegang sapu itu tertawa terkekeh. “Semua yang kos di situ juga kebanyakan orang Jawa.”

“Oh…,” ujar Sena. Sekejap dalam hati ia merasa kesal melihat perempuan tua di depannya itu mentertawakannya.

“Coba kau tanyakan apakah dia kenal dengan kakakmu,” Ajeng membisik dekat telinga Sena. Dengan begitu pemuda itu bisa merasakan hembusan nafasnya, membuat konsentrasinya menghilang.

“Mungkin Ibu kenal dengan kakak saya, namanya Yanti,” Sena berkata ramah, tersadar kembali dari alam khayalnya. Hatinya masih saja kesal dengan tawa perempuan itu, namun ia sadar, ia membutuhkan bantuan darinya.

“Aku tidak mengenal nama itu. Yang kukenal hanya mereka yang mencucikan baju padaku. Itupun terkadang aku tak tahu persis namanya. Aku hanya mengenal wajahnya saja,” perempuan itu menjawab tak acuh kemudian meneruskan menyapu. “Mengapa kalian tak masuk saja ke dalam sana?”

Dengan begitu Ajeng dan Sena berjalan memasuki halaman rumah itu. Dibuka pintu samping oleh Ajeng, dan segera ternampak beberapa kamar berderet terlihat begitu memanjang. Kamar kos. Sena bisa mengenalinya. Setiap kamar mempunyai tempat sepatu sendiri. Akan tetapi, untuk menjemur pakaian, nampaknya setiap penghuni harus pandai berebut lahan, karena tali jemuran yang tersedia sangat pendek untuk pakaian begitu banyak kamar. Sena dan Ajeng masih saja berdiri di depan pintu seng yang telah sedikit terbuka itu.

“Kepada siapa kita harus bertanya?, semua kamar nampaknya sepi. Mungkin karena mereka bekerja?”

“Ya, barangkali begitu. Hey lihat itu ada seseorang datang kemari. Barangkali ia bisa membantu kita,” Sena menunjuk pada seorang perempuan bertubuh sintal berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun yang sedang menenteng sebuah ember. Nampaknya hendak mengambili jemurannya yang telah mengering.

Sena menegur:

“Maaf Mbak, boleh kami mengganggu sebentar?”

Perempuan itu menoleh. Diletakannya ember berwarna merah di tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah pintu samping.

“Mencari siapa, dik?” tanyanya ramah.

“Maaf Mbak, saya mencari kakak saya yang bernama Yanti”

“Yanti?”, perempuan itu nampak mengernyitkan dahinya.

“Ya, Mbak, Yanti namanya. Adakah Mbak mengenal dia?”

“Yanti yang mana, dik? Di sini ada dua Yanti. Yanti yang pertama, orang Padang. Nama lengkapnya Noviyanti. Ia sedang bekerja di pabrik.”

“Bukan, kakak saya dari Kutoarjo,” Seno memotong.

“Kutoarjo?”

“Ya”

“Oooh.., maksudmu Haryanti?” perempuan itu menjawab cepat. Menebak.

“Benar Mbak, kakak saya bernama Haryanti. Haryanti Puji Lestari,” sahut Sena gembira. “Tentu saja aku mengenalnya. Saat ini ia sedang bekerja. Sebaiknya adik kalau kemari jangan pada jam begini, percuma saja, semua sedang bekerja.”

“Bekerja?”

Perempuan itu mengangguk membenarkan. “Kakakmu Yanti bekerja di pabrik sepatu tak jauh dari sini. Ia baru kembali selepas Ashar nanti. Datanglah nanti malam atau esok, aku akan memberitahukan pada kakakmu.”

“Oh jadi Mbak pemilik rumah ini?” kali ini Ajeng ikut bergabung dalam pembicaraan.

“Tidak, tidak,” perempuan muda itu berkata sambil tertawa. Ia kemudian menjelaskan: “Aku hanya mengontrak kamar ini seperti kakak kalian. Suamiku saja yang bekerja.”

“Ohh..”, Sena dan Ajeng menjawab serempak. Sekaligus mereka berdua tahu, bahwa penghuni kamar kos adalah laki-laki dan perempuan.

“Kakak kalian baru akan kembali nanti Sesudah ashar. Biasanya ia segera kembali, dan tidak kemana-mana lagi.”

“Bagaimana Ajeng, apakah kita akan pulang dahulu dan kembali ke mari esok pagi-pagi sekali?” Sena bertanya.

Ajeng terdiam dan nampak berfikir. Bintik kecil keringat nampak bermunculan di keningnya. Berkata kemudian: “Terserah kau Sena, engkau yang lebih mengerti. Kapan engkau haru kembali pulang ke Kutoarjo?”

“Bapakku mengatakan kalau aku harus secepatnya pulang jika telah bertemu kakak,” Sena menjawab bimbang.

Tiba-tiba perempuan tadi berkata:

“Kalau kalian mau, kalian bisa menunggu kakak kalian di kamarku.”

Sena memandangi wajah Ajeng. Gadis itu hanya mengangkat bahu. Ada kegalauan baru di hati Sena. ‘Menunggu di sini? Berapa lama? Berapa jam? Kalau pulang ke rumah kos Kresna, akan makan waktu lagi, dan itu berarti esok hari aku tetap harus dan harus datang ke mari. Namun kalau aku menunggu di sini, Ajeng bisa kemalaman pulang.’

“Sudah, kalian menanti saja di sini. Kalian bisa singgah di kamarku, ayo!”, belum sempat Sena memikir lebih lama, tangan Ajeng sudah ditarik oleh perempuan itu. Ia terpaksa mengikuti. Mereka kemudian berjalan memasuki halaman dan jalan setapak samping rumah. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah kamar yang terletak di samping sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Gudang’.

“Nah ini kamarku. Kalian bisa menunggu di sini. Sebentar, akan kubuatkan kalian minum,” perempuan itu berkata. Ajeng dan Kresna buru-buru menolak, namun perempuan itu tak peduli. Ia telah bergegas ke luar kamar menuju dapur.

Kamar perempuan itu nampak sederhana. Ukurannya tidak terlalu besar. Sena mendongakkan kepala dan segera ia mengukur, luas kamar itu 4×4 meter. Tidak luas,namun juga tak terlalu sempit untuk pasangan suami isteri yang nampaknya belum mempunyai anak. Setidaknya itu disimpulkannya dari tidak adanya foto anak kecil atau bayi yang tergantung di dinding. Hanya foto perkawinan adat Minangkabau yang terpasang.

Di kamar itu ada terdapat televisi. Sebuah radio tape nampak tergeletak di atas meja. Sepertinya tak pernah digunakan. Debu terlihat menempel tebal di atasnya.

“Ini silakan diminum”, perempuan itu memasuki kamar sambil membawa tiga gelas kosong dan sebuah wadah air berisi air sirup. Dan segera saja Sena dan Ajeng menuangkan sirup yang menyegarkan itu ke dalam gelas masing-masing. Ketiga orang itu kemudian terlibat dalam perbincangan yang hangat.. Pada Ajeng dan Sena, ia memperkenalkan diri bernama Hilda. Pada Hilda Sena mengadukan apa yang baru saja mereka alami, tentang seorang Ibu yang nampaknya tinggal di rumah kos itu.

“Ah biasa. Itulah yang namanya Jakarta. Orang jarang saling mengenal. Jangan samakan dengan kehidupan di desa,” Hilda tersenyum menasihati. Ia kemudian berkata:

“Tapi tak semua orang di Jakarta begitu. Ada kalanya orang di sini bahkan lebih ramah daripada di desa.”

Sena mengangguk. Ajeng mengiyakan.

“Masih lamakah kakak saya pulang , Mbak Hilda?”.

“Kakak kalian akan datang dalam satu jam lagi, sabarlah. Santai saja menunggu di sini. Kalau kalian masih lelah, kalian bisa tidur di tempat tidurku,” kata Hilda pada Sena.

Baik Ajeng maupun Sena mengangguk hampir bersamaan. “ Terimakasih Mbak.”

“Tapi ingat, jangan tidur berdua!” Hilda tertawa. Ajeng dan Sena saling pandang untuk kemudian turut tertawa dan menjawab serempak: “Jangan khawatir, Mbak.”

“Kau tak apa-apa kalau kita pulang agak terlambat, Ajeng?”, Sena bertanya kemudian.

Ajeng menggelengkan kepalanya, menjawab:

“Tak mengapa, yang penting setelah ini kau mengantarkan aku kembali, jangan aku engkau culik ke Kutoarjo,” gadis itu berkata separuh tertawa. Sena hanya tersenyum. Hilda pun tertawa. Ketiganya kemudian kembali terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Perempuan itu menceritakan bahwa ia berasal dari Banjar Patroman, sebuah daerah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia adalah sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Suaminya yang berasal dari Padang juga sarjana. Namun persaingan kerja yang ketat dan indeks prestasi yang tidak begitu tinggi ditambah ketiadaan koneksi membuat keduanya hanya pasrah menjalani hidup seperti sekarang: Hilda menganggur, dan suaminya rela menjadi tenaga pengamanan pabrik. Menjadi satpam. Pada Sena dan Ajeng perempuan itu berkata bahwa ia sungguh berharap, suatu saat karir suaminya akan naik, dan ijazah sarjananya dipertimbangkan.

Menit demi menit berlalu. Pada Sena dan Ajeng, Hilda bercerita bahwa ia sering mendengar sepak terjang kakak Sena dari suaminya. Berkata Hilda kemudian:

“Kakakmu itu perempuan pemberani. Ia selalu menjadi pemimpin unjuk rasa buruh. Berkali-kali ia memimpin demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum dan protes terhadap pengusaha dan negara tentang keselamatan kerja.”

“Demonstrasi?”, Sena bertanya. Ada rasa terkejut dalam hatinya. Kakak? Menjadi pengunjuk rasa? Kakak yang pendiam itu? Rasanya tak mungkin…

“Ya. Ia pernah ditahan beberapa hari di kantor polisi. Ia sungguh berani. Ia berani berkorban dan berjuang tidak saja untuk harga dirinya, tapi untuk karyawan yang jumlahnya ribuan. Ia tak peduli akan keselamatan dirinya sendiri, sekalipun ia sering mendapat ancaman dan teror,” Hilda melanjutkan lagi.

“Aku tak pernah mengetahui hal itu,” Sena masih tak percaya.

“Engkau adiknya sendiri tak pernah tahu? Sungguhkah?” perempuan itu mengernyitkan dahinya keheranan.

“Ya, aku tak pernah mengetahui. Sudah empat tahun ini aku tak berjumpa dengannya.” Sena kemudian menceritakan semuanya tentang kakaknya Yanti pada Hilda. Perempuan itu hanya mengangguk angguk tanda mengerti.

Tiba-tiba terdengar suara serombongan orang memasuki halaman. Hilda segera beranjak dari duduknya. “Mungkin itu kakak kalian!” Ia bangkit dan mengintip dari jendela kamar, kemudian dengan wajah berseri-seri ia menatap wajah Sena dan Ajeng, berkata:

“Ya benar, ia sudah pulang. Nah, sekarang kalian bisa menjumpainya.”

“Sungguh? Kalau begitu kami minta diri. Terimakasih Mbak Hilda, maaf kalau kami jadi merepotkan,” kedua remaja itu serempak menjawabi.

“Ah tidak mengapa. Lupakan saja. Aku senang berkenalan dengan kalian. Mari aku antarkan aku ke kamar kakak kalian,” Hilda berkata dengan senyum mengembang di bibirnya.

Dan ketiganya kemudian segera bangkit dan menuju ke luar kamar. Hilda menghampiri rombongan perempuan berbaju seragam biru yang baru masuk. Dipanggilnya salah seorang dari rombongan perempuan yang baru saja masuk itu.

“Yanti..”

“Ya,” perempuan bernama Yanti itu menoleh. Tersenyum.

“Ada adikmu mencari…”

Seorang berambut panjang sebahu dengan baju biru, sama seperti yang dikenakan kawan perempuannya yang lain nampak menoleh. Wajahnya tersenyum, namun demi dilihatnya Sena, senyumnya berubah menjadi kekagetan yang amat sangat. Agak lama ia tercenung. Sena juga tak mampu berkata-kata. Apa yang dilihatnya adalah kakaknya sendiri. Darah dagingnya sendiri. Ia tak mampu memanggil keras.

“Sena kah kau?”, perempuan itu berjalan mendekati Sena. Jalannya dipercepat.

“Ya Kak.” Sena kini mampu berkata-kata, ada gemuruh di dadanya demi melihat saudara kandung yang sudah empat tahun tak pernah dilihatnya. Dihampirinya kakak perempuannya itu. Keduanya berpelukan terharu. Yanti mengucapkan terimakasih pada Hilda karena telah menyediakan kamar bagi adiknya untuk menunggu. Hilda hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju tempat jemuran, mengambili pakaiannya.

“Kau masih saja kurus, Sena. Kau harus banyak makan. Laki-laki harus terlihat gagah. Kau tidak sakit kan? Kau masih merokok?”, perempuan itu mengguncang-guncang pundak Sena dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan lainnya. Sena hanya tertawa bahagia. Ia senang melihat kakaknya kembali setelah empat tahun berpisah. Diceritakannya bagaimana sampai ia dapat mencari alamat tinggal kakaknya itu. Yanti hanya mengangguk-angguk kemudian berkata:

“Marilah masuk ke kamarku.” Dan ketiga orang itupun berjalan beriringan menuju ke sebuah pintu diantara beberapa pintu kamar kos itu.

“Ayo masuk. Ajak kawanmu serta, ayo!”

“Baik kak,” kata Sena. “Ayo Ajeng, masuk.”

Ajeng tidak menjawab, namun mengangguk pasti. Dilepaskannya sandal seperti Sena melepas sepatu ketika memasuki kamar Yanti kakak perempuannya itu. Sore hari telah menjelang. Cahaya di langit mulai meredup seiring melembutnya sinar mentari. Warnanya kini menjadi kuning keemasan. Awan yang ada berwarna kelabu keputihan. Dan suara kendaraan yang menggemuruh dari jalan raya serta deru pesawat terbang yang melintas sekali sekali masih terdengar lamat-lamat dari rumah kos yang besar itu. Satu persatu penghuni kamar di rumah itu kembali dan memasuki kamar masing-masing…

BAGIAN IV

 

Kamar yang ditempati Yanti tidak begitu luas, setidaknya jika dibandingkan dengan kamar Hilda. Namun begitu, ketiga orang itu masih dapat melakukan shalat ashar bersama dengan menggeser meja dan kursi yang ada di dalamnya. Pada dinding dekat pintu tergantung sebuah foto ukuran kartu pos dengan pigura model lama. Walau sudah mulai rusak karena lembabnya tembok, masih dapat terlihat seorang gadis muda berambut panjang sedang menggendong seorang anak lelaki kecil. Anak lelaki yang ada di gendongannya itu tak lain adalah Sena. Di belakang nampak berdiri kedua orangtuanya. Bapaknya berbaju batik, berpeci, berkumis, dan berkulit hitam gelap. Sedangkan Ibunya mengenakan kerudung dengan sorot mata yang lugu. Perempuan itu adalah ibunya. Foto itu diambil duapuluh satu tahun silam di Pantai Ayah, Kebumen.

Di samping dipan tempat tidur terdapat sebuah meja tulis. Di atasnya berderet rapi dan teratur berbagai buku hukum dan politik serta buku-buku mengenai perburuhan dan perundangan tentang ketenagakerjaan Di dinding tepat di atas meja belajar tertempel poster seorang perempuan yang sedang berteriak mengepalkan tangan dengan tulisan besar di bawahnya ‘Lindungi Hak Reproduksi!’. Tepat di samping poster itu tergantung foto Yanti dengan seorang yang dikenal Sena sebagai kekasih kakaknya bernama Ardi. Dari pakaian yang mereka kenakan di foto itu, Sena segera paham bahwa kakaknya telah menikah dengan Ardi pilihan hatinya itu.

“Bagaimana kabar Bapak dan Ibu, Sena? Oh ya, aku belum mengenal kawanmu ini, siapa namanya?”, Yanti mengulurkan tangannya pada Ajeng dan segera memperkenalkan diri. Ajeng menyambut uluran tangan dan menyebutkan namanya pula.

“Sudah lama kalian bersama-sama?” Yanti bertanya lagi.

“Kami baru mengenal semalam, Kak. Ajeng tinggal tak jauh dari rumah kawanku di pinggiran Jakarta Selatan. Kebetulan hari ini kawanku itu tak bisa menemaniku mencari rumah kosmu di Jakarta ini. Maka, Ajeng lah yang aku minta untuk menemani,” Sena menjawabi, tak segera mengatakan kabar orang tuanya.

“Ohh…begitu. Jadi kalian ini baru saling kenal…,” Yanti mengangguk-angguk.

“Kakak masih saja menyimpan foto itu?” tanya Sena. Tangannya menunjuk pada foto keluarga yang dipajang kakaknya itu. Ia tak segera menceritakan kabar orang tuanya pada kakaknya itu.

“Ya, malam hari sebelum meninggalkan rumah, aku memilih foto yang saat itu paling aku sayangi. Dan jika aku merasa rindu padamu, pada Bapak dan Ibu, aku selalu melihat foto itu. Aku sering menangis melihatnya.”

“Ibu dan Bapak juga sering menangis mengenang Kakak. Aku rasa mereka berdua rindu sekali pada Kakak, terutama Ibu.”

“Ya, aku mengerti. Aku tak mempunyai masalah dengan Ibu. Aku hanya mempunyai perbedaan pendapat dengan Bapak. Saat itu Bapak sudah sedemikian rupa hendak memaksaku kawin dengan Irsyad.”

Yanti berhenti sejenak. Seorang gadis penghuni kos mengetuk pintu dan kemudian bercakap cakap dengannya. Ia kemudian merogoh uang dari dompetnya, dan diberikan kepada gadis itu.

“Uang dukacita. Salah seorang ayah dari penghuni kos ini meninggal”, ia menjelaskan pada Sena dan Ajeng. Sena menyambung kembali pembicaraan:

“Jadi kakak telah menikah dengan Mas Ardi?”

“Ya,” Yanti menjawab pendek. Agak lama kemudian ia berkata:

“Aku memang menolak untuk kawin dengan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak. Tidak. Aku tidak pernah mengenalnya, dan aku memang tidak menyukainya. Bukan karena Irsyad tidak baik. Sama sekali bukan. Akan tetapi apapun alasan aku tidak menyukainya biarlah itu menjadi rahasia pribadiku yang aku rasa aku tak perlu ceritakan pada orang. Cinta tak bisa dipaksa.”

“Ada kudengar sampai kini Irsyad tidak mau kawin dengan siapapun,” kata Sena.

Yanti tidak menjawab. Perempuan itu terdiam.

Sena menghela nafas. Ia kemudian bertanya:

“Kakak tidak menyesal dengan keputusan kakak?”.

“Apa maksudmu?”

“Kakak bahagia meninggalkan rumah? Kakak tidak rindu pulang?”

Yanti tidak segera menjawab. Diambilnya gelas kosong dan diisinya dengan air sirup.

“Akupun tak tahu,” Yanti mengangkat kedua bahunya. “Permasalahan yang kuhadapi bukan rindu atau tidak rindu untuk pulang. Tentu aku sangat rindu rumah dan ingin pulang. Yang menjadi persoalan utama adalah sanggupkah aku tetap konsekuen dengan pendirianku.”

“Apa maksud kakak dengan konsekuen?”

Yanti tak segera menjawab pertanyaan Sena. Diambilnya gelas yang sudah terisi penuh air sirup, dan diminumnya perlahan sampai habis. Berkata perempuan itu kemudian:

“Begini, aku memutuskan daripada harus kawin dengan Irsyad, lebih baik aku keluar dari rumah dan hidup mandiri. Itu kulakukan semata karena saat itu aku tak mau aku sebagai anak semakin berhutang budi pada Bapak dan dipaksa membalas budi dengan melakukan hal yang tak aku sukai.”

“Kakak dan Mas Ardi langsung ke Jakarta?”

“Tidak”, Yanti menjawab cepat. Ia kemudian melanjutkan:

“Pada awalnya kami pergi ke Semarang. Sekitar empat bulan kami tinggal di sana. Mas Ardi mendapat pekerjaan sebagai penjaga dealer sepeda motor. Aku bekerja di sebuah pabrik tekstil di Ungaran.”

“Lantas mengapa kemudian kakak ke Jakarta?”

“Walau kami berdua bekerja, penghasilan kami berdua masih terlalu kecil. Maka dari itu kami memutuskan untuk sekalian saja mengadu nasib Jakarta, mencari penghidupan yang lebih baik.”

“Hingga kakak bekerja di pabrik sepatu seperti sekarang ini?”, tanya Sena.

Yanti mengangguk. Ia berkata:

“Ya, mendaftar menjadi buruh adalah pilihan termudah saat itu. Aku sadar, aku hanya berpendidikan SMA. Tapi aku tak mau menjadi orang yang tidak menyusahkan orang lain sekalipun itu suamiku sendiri. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri, menolong diriku sendiri,” perempuan itu menjawab perlahan namun tegas. Ketegasan yang dirasakan sebagai hal baru oleh Sena. Kakaknya yang dahulu, yang meninggalkan rumah hanyalah seorang perempuan biasa, gadis pinggiran kota kecil yang lemah lembut.

“Kalau kakak sudah menikah, maka di mana suami kakak sekarang?”, Sena bertanya lagi. Ia merasa agak heran, mengapa ada kesan seolah kakaknya tinggal di kamar itu sendirian. Tak ada ia melihat sepatu atau pakaian dan jaket lelaki tergantung di kamar kakaknya itu.

Agak lama ia mendapatkan jawaban, ketika kemudian Yanti berkata: “Saat ini aku memang tinggal sendirian di kamar kos ini.”

“Lantas di mana sekarang Mas Ardi?”

“Korea. Sudah dua tahun ini ia bekerja di sana. Tadinya ia bekerja di pabrik yang sama, di pabrik sepatu tempatku bekerja. Namun ia memutuskan untuk keluar negeri. Korea menjadi pilihannya. Aku bisa mengerti. Aku setuju dengan keputusannya karena bekerja di luar negeri bisa mendatangkan uang yang jauh lebih banyak dari bekerja di negeri sendiri.”

“Aku dengar kerja di luar negeri perlu modal yang besar untuk berangkat. Paling tidak butuh sampai limabelas bahkan duapuluh juta,” Ajeng menyela

“Kau benar, Ajeng. Kebetulan orangtua suamiku mendorongnya untuk berangkat ke luar negeri. Mereka menjual sawah untuk modal. Kata mereka, kalau suamiku sudah pulang kembali dari negeri orang, sebagian penghasilan yang didapat bisa untuk menebus kembali tanah yang telah dijual. Alhamdulillah, baru satu tahun bekerja ia sudah dapat mengirim uang pada orang tuanya untuk dapat dibelikan sawah kembali.”

Berbagai cerita kemudian mengalir lancar dari mulut Yanti. Perempuan itu berharap, sepulangnya suaminya bekerja dari Korea nanti mereka akan mampu membeli rumah sendiri di Bekasi walaupun kecil-kecilan. Ia juga berkeinginan membuka usaha bordir dan katering. Terkadang ia tertawa, terkadang berkata lirih dan seolah terisak. Ada kalanya nadanya datar dan ketus. Sesekali Sena menimpali perkataan kakaknya. Sesekali pula mereka saling berbantahan, berbicara dari hati ke hati dengan hangatnya.

Sementara itu Ajeng lebih banyak mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh Yanti dan Sena. Gadis itu memandangi dinding kamar kos itu. Tidak banyak hiasan yang dipasang. Hanya foto masa lalu dan foto pernikahan saja yang terpasang. Ada sebuah hiasan kristik yang dipasang dengan pigura. Dilihat dari piguranya kristik itu masih baru, setidaknya belum ada dua tahun.

“Kau suka kristik?”, Yanti bertanya pada Ajeng, menggoda. Yang ditanya tersenyum mengangguk. Ajeng kemudian berkata:

“Kristik itu bagus sekali, Kak. Gambar bunga mawar. Apakah kakak sendiri yang membuatnya?”

“Ya, aku membuatnya sendiri. Dahulu, ketika baru tiba di Jakarta, aku tak tahu harus berbuat apa untuk membunuh waktu,” kata Yanti. Diambilnya kristik yang tergantung di dinding dan disodorkannya pada Ajeng. “Ini ambillah untukmu.”

“Ah, tidak usah kak.”

“Ambillah. Aku bisa membuatnya lagi lain kali.”

Ajeng menolak namun Yanti terus memaksa.

“Terimakasih, Kak,” mata Ajeng bersinar-sinar menerima pemberian kakak Sena itu.

“Kak,” Sena mulai bicara lagi. Agak ragu ia memulai, namun ia sadar, bahwa cepat atau lambat, kabar tentang Ibu harus segera disampaikannya. “Kak, terus terang Bapaklah yang menyuruhku untuk pergi ke Jakarta dan mengajakmu untuk kembali ke rumah.”

“Aku sudah menduga. Bapak yang menyuruhmu,” Yanti menjawab dengan nada tak senang.

“Ibu sakit. Ibu mencari kakak terus. Kami semua sudah putus asa. Ibu sudah tak bisa dibujuk-bujuk lagi untuk bersabar. Bapak berharap, kakak mau kembali. Bapak berjanji, kalau kakak pulang, ia akan menerima kakak dan mas Ardi pulang dengan tangan terbuka”.

Yanti terdiam kini. Ia nampak terkejut mendengar perkataan Sena. Sejenak ia tak berkata-kata seperti merenungi sesuatu. Kepalanya kemudian menunduk. Wajahnya nampak keruh dan bingung mencerminkan kegelisahan yang menghebat di hatinya.

Sena melanjutkan lagi, berkata perlahan: “Aku tidak bohong. Percayalah padaku. Bapak sungguh-sungguh berharap kakak mau pulang. Bapak sudah tidak murka lagi pada kakak dan mas Ardi. Yang penting sekarang di hati Bapak adalah kepulangan kakak demi sembuhnya Ibu.”

“Bapak pernah berkata, bahwa ia tak akan pernah merestui hubungan kami…,” sahut Yanti.

“Sekali lagi kukatakan padamu Kak, kalau Bapak sudah mau menerima kalau kakak telah menikah dengan mas Ardi,” Sena berkata perlahan-lahan namun bersungguh-sungguh. Ia tahu benar, empat tahun silam kemarahan Bapak pada kakaknya itu sangatlah besar. Dan Yanti kakaknya menjadi terluka, serta memutuskan untuk lari dari rumah.

Yanti terdiam. Wajahnya memancarkan raut kesedihan. Sena menggeser duduknya beringsut menuju pintu dan mulai merokok, menunggu jawaban keluar dari mulut kakaknya.

Kini kamar itu hening tanpa suara. Yang terdengar hanyalah denting mangkok pedagang bakso serta gelak tawa perempuan-perempuan penghuni kos yang sedang mengantri di depan kamar mandi. Beberapa diantaranya nampak sebaya dengan Ajeng. Mereka nampak gembira dan melirik-lirik pada Sena, dan kemudian tertawa tergelak-gelak. Walau tak dapat jelas mendengar apa yang mereka perbincangkan, Sena bisa menebak: kebanyakan mereka berasal dari pesisir utara Jawa Barat. Sena melempar senyum yang disambut dengan tawa meledak riuh.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin pulang,” tiba-tiba Yanti berkata.”Namun sering aku berfikir, tak mungkin Bapak akan mengampuniku. Kau tahu betapa tidak senangnya Bapak pada mas Ardi, hanya karena ia saat itu belum bekerja.”

Sena mengangguk.

“Dan ia sangat yakin kalau aku kawin dengan Irsyad aku pasti akan lebih bahagia.”

“Aku bisa mengerti jalan pikiran Bapak.”

“Tidak hanya kau, akupun bisa mengerti. Yang tak bisa kumengerti adalah mengapa Bapak begitu memaksaku,” Yanti berkata meninggi.

“Tapi, demi mendengar kabar Ibu seperti sekarang, aku semakin ingin pulang. Aku lega mendengar Bapak sudah dapat menerima mas Ardi.”

“Kita pulang bersama-sama. Esok aku pulang dengan kereta api senja”.

“Aku tak bisa pulang sekarang, tidak dalam waktu dekat ini,” Yanti berkata perlahan.

“Mengapa?” Sena bertanya. Dihalaunya asap rokok yang mengalir melayang menuju ke dalam kamar. Ia menatap wajah saudaranya itu dengan sungguh-sungguh.

“Karena banyak yang harus aku kerjakan di minggu belakangan ini. Minggu depan Aku harus siap untuk terbang ke Manila.”

“Ke Manila? Filipina? Untuk Apa?” Sena terheran-heran. Kakaknya itu, perempuan lugu yang kini menjadi pekerja kota hendak ke luar negeri?

“ Menghadiri konferensi buruh.”

“Konferensi buruh?”

“Ya konferensi buruh perempuan se Asia Tenggara. Aku adalah perutusan dari negara kita bersama dengan dua teman lainnya.”

“Kakak diundang ke sana?” Sena masih tak percaya.

“Ya”

“Tapi bagaimana dengan Ibu…” Sena tidak melanjutkan lagi, karena kakaknya itu telah memotong:

“Aku sadar, kesembuhan dan kesehatan Ibu sangat penting. Tapi, yang akan aku lakukan juga tak kalah pentingnya, Sena. Aku akan memperjuangkan kepentingan buruh perempuan. Aku akan menyampaikan makalah mengenai hak kesehatan dan keselamatan kerja bagi perempuan.”

“Dalam bahasa Inggris?”

“Ya, dalam bahasa Inggris.”

“Kakak bisa berbahasa Inggris?”

“Tidak begitu baik. Tapi setidaknya orang dapat mengerti apa yang aku maksudkan Oleh karena itu aku terus belajar dan banyak membaca supaya bahasa Inggrisku membaik.”

“Kakak hebat,” Sena menjadi kagum. “Menyampaikan makalah dalam bahasa sendiri di sebuah forum resmi saja aku belum pernah, apalagi dalam bahasa Inggris.”

“Aku harap apa yang aku sampaikan bisa menjadikan tekanan untuk penguasa dan pengusaha di Asia Tenggara agar lebih memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan kerja bagi kaum pekerja, terutama buruh perempuan,” kata Yanti bersemangat. Berkata ia lagi, melanjutkan:

“Aku sudah rindu pulang, Sena. Tapi apa yang aku lakukan ini juga sangat penting, dan diharapkan oleh banyak buruh perempuan seperti aku. Ah, aku jadi bingung. Mudah-mudahan aku bukan anak durhaka karena tak segera menengok Ibu.”

“Aku bisa mengerti apa yang kau fikirkan,” Sena berkata kemudian. Dihisapnya rokok dengan perlahan dan dihembuskannya asap secara perlahan pula. Ajeng terbatuk-batuk membaui asap rokok Sena. Pemuda itu kemudian sibuk mengusiri asap agar tidak memasuki ruangan. Ia berkata lagi:

“Akan tetapi aku khawatir dengan apa yang kau lakukan,” Sena berkata perlahan.

Yanti mengernyitkan dahinya, berkata: “Maksudmu?”

Sena tak segera menjawab: “Aku rasa Bapak dan Ibupun akan semakin mengkhawatirkanmu kalau mereka mendengar Kakak sering ikut kegiatan buruh dan berdemonstrasi.”

“Darimana kau tahu kalau aku sering berdemonstrasi? Darimana kau mengetahui semua ini? Ah…pasti Hilda yang telah menceritakan segalanya padamu.”

Sena mengiyakan kata-kata kakaknya itu. Ia mengangguk.

“Kak”, kata Sena lagi. “Aku takut terjadi sesuatu padamu…”

“Maksudmu, kau takut aku akan mengalami nasib seperti Marsinah?”, Yanti memotong, seolah tahu apa yang dipikirkan adik lelakinya itu. Ia tersenyum, tidak cukup lebar untuk menunjukkan gingsul giginya. Diraihnya kembali gelasnya yang telah kosong itu dan diisinya dengan air sirop untuk kemudian diteguknya perlahan. Sena dan Ajeng hanya memandangi saja. Azan maghrib terdengar berkumandang, dan mereka bertiga terdiam dalam lamunan masing-masing, dalam pikiran masing masing.

“Kau tak perlu khawatir,” Yanti berkata kemudian ketika suara azan telah usai dikumandangkan. Ia menyambung lagi:

“Dalam perjuangan selalu ada pengorbanan. Sekecil apapun konsekuensi perjuangan harus kita terima dan perhitungkan. Oleh karenanya kita harus berjuang dengan sungguh sungguh dan dengan pemikiran matang. Tidak serampangan, dan mengawur saja. Tidak. Semua harus jelas dan dipahami dengan sadar, supaya orang juga tidak mudah mematahkan perjuangan kita. Dengan berbuat sesuatu bagi sesama kita, kita tak akan menyesal pernah hidup, pernah tinggal menyesaki bumi ini,” buruh perempuan itu berkata tidak keras tidak pula perlahan, namun terdengar menghujam di hati Sena. Ia berkata lagi:

“Engkau adalah mahasiswa.”

“Aku sudah lulus, Kak,” Sena memotong.

“Oh ya?”

“Ya, sudah dua tahun ini.”

“Sudahkah engkau mendapat pekerjaan?”

Sena kemudian menceritakan apa yang telah menjadi keputusannya untuk berwiraswasta. Ia menceriterakan pula apa yang menjadi kesibukannya kini, peternakan puyuh kecil-kecilan miliknya, jual beli motor dan apa saja yang dilakukannya di Kutoarjo. Yanti mengangguk-angguk memahami.

“Nah, engkau sudah lulus. Sebelum aku lari dari rumah, pernah aku dengar dari Bapak bahwa engkau pun aktif dalam kegiatan mahasiswa. Itu berarti engkau pun mengerti betapa beratnya perjuangan untuk menciptakan keadilan di negeri ini.”

“Ya, tentu saja,” sahut Sena. “Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Namun dengan berjuang, dengan berbuat sesuatu, hidup kita lebih berarti untuk kemanusiaan. Kita semakin menjadi manusia.”

“Persis,” sahut Yanti. Ia melanjutkan:

“Sudah sejak jaman dahulu, ketika negara ini belum lahir, Kartini memberikan pesan moral kepada kita semua, bahwa kita mestilah menjadi manusia yang berguna. Dan pesan-pesan moral Kartini itu dilakukannya jauh sebelum kita lahir ke dunia ini, dan ketika ia berada di usia yang jauh di bawahku sekarang ini.”

Sena terdiam mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya. Ia tak pernah membaca tulisan Kartini ataupun biografi pahlawan perempuan asal Jepara itu. Pun ia tak pernah membaca buku-buku yang berkaitan dengan pemikiran Kartini Yang diketahuinya tentang Kartini dari pelajaran sejarah di sekolah hanyalah ceritera tentang seorang putri bupati Jepara yang membina korespondensi dengan seorang perempuan Belanda, Nyonya Abendanon, dan surat-suratnya itu kemudian diterbitkan dalam sebuah buku oleh suami Nyonya Abendanon. Yang ia ketahui hanyalah bahwa Kartini memperjuangkan persamaan hak bagi kaum perempuan, emansipasi wanita. Lebih dari itu tidak pernah mendengar.

“Kartini tidak saja berjuang bagi perempuan, tapi ia menentang segala jenis perbudakan dan penghambaan manusia kepada manusia lainnya. Ia mendambakan persamaan hak tidak saja antara perempuan dan lelaki, tapi juga manusia yang satu terhadap manusia yang lain. Ia mencita-citakan kesejajaran.”

“Tentulah Kartini mempunyai keberanian yang lebih yang luarbiasa untuk ukuran jamannya pada masa itu, kak?” Ajeng membuka suaranya.

“Tepat sekali. Kartini melakukan hal itu, mengeluarkan pikirannya bukannya tanpa resiko. Untuk masa itu, lebih dari seratus tahun lalu dari sekarang, apa yang diimpikannya bagi rakyat pribumi adalah suatu kemewahan. Ada beberapa golongan baik di Hindia Belanda maupun di Negeri Belanda yang tak menyukainya,” Yanti menyambung.

“Yang tak suka pastilah mereka yang berpihak pada pemerintah kolonial,” Ajeng menebak.

“Benar. Mereka yang diuntungkan oleh penjajahan. Namun Kartini memilih untuk tidak tinggal diam dan menyerah. Ia tak mau hidup dalam pingitan seperti kebanyakan puteri bangsawan lainnya, yang mati yang lahir, tumbuh, kawin, mati kemudian terlupakan begitu saja oleh sejarah. Ia sibukkan dirinya dengan membaca dan menulis.”

“Ia memilih untuk menulis, mengeluarkan pikirannya. Ia mempunyai keinginan untuk maju dan bersekolah ke Negeri Belanda. Sayang, ia tak pernah sampai ke Belanda. Kalau ia bisa meraih sarjana di sana, pastilah lebih banyak lagi pemikiran-pemikirannya hebat yang dihasilkannya. Sayangnya lagi, ia mati dalam usia yang masih sangat muda,” ujar Ajeng.

“Betul sekali,” Yanti berkata senang.

“Kau pernah membaca buku tentang Kartini rupanya Ajeng?” Sena memandang pada Ajeng dengan heran. Ajeng mengangguk.

“Aku pernah membaca buku-bukunya dari perpustakaan daerah sewaktu aku masih di Temanggung. Aku juga ingin seperti Kartini. Aku tidak mau kawin begitu saja setelah lulus sekolah. Kawin, mengurus anak, melayani suami. Aku ingin maju dan memperoleh pendidikan dan pengalaman sebanyak aku bisa,” kata Ajeng lagi.

“Benar Ajeng. Aku dan kau lahir di jaman ini, di jaman serba mudah dan kontrol masyarakat terhadap penyelenggara negara ini lebih baik dari jaman Kartini, lebih baik dari jaman Marsinah. Aku berjuang di masa yang lebih baik daripada Dita Indah Sari4 yang sempat dipenjara oleh pemerintahan Soeharto. Aku berjuang di masa reformasi, di masa pembaharuan. Tidak, aku tak boleh menjadi penakut. Mereka bukan penakut. Marsinah boleh dianiayan dan dibunuh, tapi aku tidak boleh menjadi penakut. Ketakutan akan menyuburkan penindasan,” Yanti berkata berapi-api. Wajahnya yang tadinya putih itu kini memerah, seperti meluapkan perasaan hatinya. Ada kemarahan terhadap ketidakadilan yang ditangkap Sena di wajah kakaknya itu. Wajah yang dahulu lugu, yang tiga tahun lalu dikenalnya masih sebagai gadis pemalu. Kini apa yang ia lihat bukanlah seperti apa yang ia lihat tiga tahun silam. Kini yang ia lihat adalah singa betina yang murka, yang mengaum dan siap mencakari siapa saja yang menentang dirinya. Kini yang ada di depannya adalah seorang perempuan dengan kesadaran penuh, yang walaupun tak ternama berani berjuang untuk diri dan sesamanya. Dan yang didepannya itu adalah bagian dari kehidupannya sendiri: kakak kandungnya, yang sedarah dan sedaging dengannya.

“Tapi masa reformasi tidak selalu berarti sudah aman, Kak. Di masa Soeharto, Munir yang banyak mengkritik kebijakan pemerintah tak diapa-apakan. Kini, jauh hari setelah reformasi ia malah mati diracun!”.

“Kau benar. Orang-orang sebelum Munir seperti penyair Wiji Thukul pun entah sekarang di mana. Hilang dan tak pernah ada kabar. Mungkin sudah mati dibunuhi,” Yanti menghela nafas. Disibakannya rambutnya ke belakang. Ia kemudian berkata lagi:

“Masa reformasi , turunnya Soeharto, tidak lantas menjadikan semua hal menjadi baik dengan sendirinya. Segala sesuatu yang busuk peninggalan masa lalu selama tidak diungkap akan tetaplah membusuk.”

“Dan menggerogoti serta mengancam,” Sena menimpali.

“Ya menggerogoti. Apa saja digerogoti uang, kejiwaan, kewibawaan dan kepercayaan serta darah rakyat. Selama manusia Indonesia tidak sadar akan hak-haknya, dan tidak mempunyai keberanian untuk memperjuangkan haknya, maka selamanya pula mereka akan tertindas, termasuk kaum perempuan buruh seperti kami yang posisinya saja sudah lemah ketika berhadapan dengan modal besar!”

“Aku mengerti, Kak. Aku mengerti apa yang kau cita-citakan.”

“Aku senang mendengarnya. Setidaknya engkau bisa memahami aku. Setidaknya engkau bisa memahami mengapa aku tidak akan segera pulang dalam waktu satu dua hari ini, atau mungkin satu dua minggu ini. Aku sangat mengkhawatirkan kesehatan Ibu. Tapi akupun akan menyesal kalau aku tidak bisa berbuat yang terbaik untuk mereka yang senasib denganku,” Yanti berkata pada Sena, kali ini nadanya melunak. Ia berkata lagi kemudian:

“Aku harus memanfaatkan kesempatan untuk memperjuangkan apa yang sudah seharusnya menjadi hak kami. Agar perusahaan-perusahaan di negeri ini lebih memperhatikan kesejahteraan kami. Agar kami mendapat perlakuan yang manusiawi kala kami bekerja dan mendapatkan menstruasi. Agar kami mendapatkan perlindungan kesehatan yang layak ketika kami hamil. Agar kami mendapat upah yang sama dengan pekerja laki-laki. Perempuan adalah ibu dunia. Semua manusia dilahirkan dari perempuan. Hanya dari perempuan yang sehatlah lahir manusia-manusia yang sehat. Jika kami ini sakit dan terperas, akan seperti apakah anak-anak yang lahir dan keluar dari rahim kami?. Apa yang akan terjadi jika kami hamil dan kami tak diberi masker sehingga menghirupi racun yang nantinya juga akan dihirupi janin di perut kami?”

“Seburuk itukah perusahaan tempat kakak bekerja?”

Yanti tersenyum sejenak, kemudian berkata:

“Tidak. Perusahaan tempatku bekerja sudah cukup baik mensejahterakan karyawan. Tapi bukan berarti itu lantas membuatku tidak peduli pada nasib teman-teman buruh yang lain, di perusahaan lain yang masih lemah. Tapi sudahlah, kalian ke sini tidak untuk mengajakku untuk berdiskusi hal itu,” perempuan itu tersenyum. Nada bicaranya melunak.

Sena mengangguk. Pun Ajeng yang tidak terlibat terlalu banyak dalam pembicaraan mengangguk pula. Ketiganya bersepakat untuk sementara waktu mengakhiri pembicaraan dengan shalat bersama. Shalat maghrib. Selesai bersembahyang, Yanti memesan tiga piring mi goreng kepada penjual bakmi dan nasi goreng yang melewati jalan depan rumah kos itu. Maka sore menjelang malam itu mereka menyantap hidangan yang lezat itu di kamar yang mungil itu. Sesekali canda tawa membahana di dalam ruangan kamar. Sejenak mereka lupa akan apa yang baru saja mereka percakapkan.

Senja semakin menggelap. Lampu-lampu kamar kos mulai dinyalakan. Ajeng melirik arlojinya. Jam tujuh malam. Gadis itu kemudian memandang gelisah pada Sena. Pemuda itu segera mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ajeng dan dengan begitu ia meminta diri pada kakaknya itu. Yanti tak menahannya.

“Insya Allah, aku akan kembali segera setelah tugasku dari Manila selesai.”

“Kami menunggumu, Kak”.

“Kapan engkau akan kembali ke Kutoarjo, Sena?”, tanya Yanti.

“Mungkin besok”

“Esok hari?”

Sena mengangguk. Berkata:

“Aku sudah berhasil menemui kakak, jadi tak ada alasan bagiku untuk berlama-lama di sini. Aku harus kembali pulang membantu Bapak menjaga dan merawat Ibu.”

Yanti mengangguk-angguk. Ia kemudian meminta Sena untuk memberi nomor telepon genggamnya. Kakak beradik itu kemudian saling bertukar nomor. Setelah itu Yanti berkata:

“Baiklah kalau begitu. Doakan saja aku bisa pulang dalam waktu dekat ini. Sampaikan sembah sujudku pada Bapak dan Ibu. Aku tak akan berhenti berdoa untuk keselamatan dan kesehatan mereka.”

“Pasti, Kak, akan aku sampaikan. Kami juga mendoakanmu selalu.”

“Aku berharap Sena, setidaknya engkau bisa berceritera bahwa aku baik-baik saja di Jakarta, dan tidak kekurangan suatu apa. Kuharap engkau juga bisa menceritakan pada Bapak dan Ibu betapa pentingnya arti kehadiranku di Manila.”

Sena mengangguk.

“Jangan lupa untuk selalu berbaik-baik dengan Pak Darno.”

“ Pak Darno?”, Sena mengernyitkan dahinya.

“Ya, aku tahu, Bapak dan Ibu tak begitu suka dengan tetangga kita itu, karena ia terus saja memasang pagar bambu yang menggerogoti batas tanah kita. Namun kalau sampai ada apa-apa dengan Ibu, pada Pak Darnolah pertama sekali kita akan meminta tolong. Ingat kita hidup di desa, dan kita tak bisa saling melepaskan diri satu sama lain. Kau mengerti?”

Sena menganguk. Yanti kemudian bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya. Antara berapa lama kemudian ia keluar dengan amplop berwarna coklat di tangan. Disodorkannya amplop itu pada Sena.

“Ini, berikanlah pada Bapak, sekedar untuk menambah biaya pengobatan Ibu. Sekali lagi, sampaikan pada Bapak dan Ibu aku akan segera pulang ke Kutoarjo begitu tugasku telah selesai.”

Segera Sena menerima amplop dari tangan kakaknya itu, dan berkata:

“Pasti akan kusampaikan Kak. Nah, kak, kami pulang sekarang,” Sena memeluk kakak perempuannya itu. Ada ia rasai berat berpisahan lagi. Ajeng menyusul mengulurkan tangannya dan Yanti mencium pipi gadis muda itu.

“Rukun- rukunlah selalu dengan adikku,” ujar Yanti dengan penuh arti. Dicubitnya lembut pipi Ajeng. Ajeng tersenyum, menunduk malu, dan mengangguk. Ia tak tahu apakah Sena mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya itu. Yanti mengantarkan keduanya hingga pintu pagar rumah kos. Sebelum berpisah ia masih sempat mencium pipi Ajeng sekali lagi. “Baik-baik dengan adikku ya…”

Sena mendengar apa yang dikatakan kakaknya, sekaligus hatinya mendesir senang karena Ajeng tak berusaha membetulkan apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya itu. Setidaknya ada harapan bahwa Ajengpun menyukai dirinya. Ia sadar bahwa ia tak pernah mengatakan bahwa Ajeng adalah kekasihnya. Hatinya sajalah yang mengatakan bahwa Ajeng adalah perempuan yang sempurna, yang menarik hatinya, yang ingin ia miliki seutuhnya. Namun ia tak tahu sampai berapa kedalaman hati Ajeng untuknya. Ia hanya dapat merasakan, dan menduga-duga tanpa dapat memastikan.

Yanti berjalan mendekat pada Sena. Seolah mengerti, Ajeng berjalan mendahului keluar dari pagar rumah dan berpura-pura mengamat-amati pohon kaktus besar yang tumbuh di halaman rumah di samping rumah kos itu. Yanti berbisik, nyaris tak terdengar:

“Apakah dia kekasihmu, Sena?”

“Dia. Emm…bukan, Kak?”

“Kau berbohong padaku!”

“Sungguh. Aku baru saja mengenalnya semalam!” seru Sena tertahan.

“Kau suka padanya?”

Sena tak menjawab. Ada rasa malu menjalari tubuh dan hatinya. Ia memang menaruh simpati pada Ajeng. Ia mengagumi Ajeng bahkan sejak pertama kali ia melihatnya dari jendela kamar Kresna. Akan tetapi ia tak mampu mengakui bahwa ia menyukai gadis itu. Ia tak menjawab.

“Aku suka jika engkau bersamanya, Sena. Apapun hubunganmu dengannya sekarang, aku berharap suatu saat nanti ia akan mendampingimu. Kalian nampak serasi jika berjalan beriringan. Ia juga cantik dan anggun. Ia juga cerdas dan mempunyai kepribadian.”

“Jangan keras-keras, Kak!” Sena berkata sambil wajahnya memberangut menahan malu. Ia melirik pada Ajeng yang ada di kejauhan. Gadis itu masih mengamat-amati pohon kaktus.

“Ya sudahlah. Terserah padamu. Engkau jualah yang akan menjalaninya. Sampai bertemu lagi adikku. Semoga kita berjumpa dalam waktu dekat ini.”

“Aku menunggu kedatanganmu, Kak”

Yanti mengangguk pasti. Ditepuknya pundak adiknya, kemudian dilambaikannya tangan pada Ajeng. “Selamat jalan, semoga selamat. Hati-hati.”

Ajeng membalas lambaian tangan Yanti. Sena berjalan menyusul. Keduanya kemudian segera berjalan menyusuri gang menuju jalan raya.

“Kakakmu itu hebat, Sena,” Ajeng berkata pada Sena ketika mereka telah berada dalam metromini. “Aku tak menyangka, orang selembut kakakmu mempunyai pemikiran yang sangat cemerlang dan jauh ke depan.”

“Ya, aku juga tak menyangka ia bisa berubah. Aku tak pernah mengetahui sepak terjangnya di Jakarta. Nampaknya sudah lama ia menjadi aktivis.”

“Sepertinya begitu. Aku menaruh simpati yang besar pada perjuangannya.”

“Resikonya besar, Ajeng.”

“Ya. Aku tahu.”

“Aku khawatir pada keselamatan kakakku, Ajeng.”

“Aku bisa merasa kecemasanmu, Sen.” Ajeng berkata lirih. Rambutnya yang tak terikat itu dipermainkan angin. Beberapa helai diantaranya menyentuh menampar-nampar pundak Sena.

“Namun percayalah, ia melakukan hal yang benar. Ia adalah pejuang. Kau harus bangga memiliki saudara, memiliki kakak yang peduli pada nasib orang lain. Engkau harus bangga, walaupun kakakmu hanyalah seorang buruh, ia bukanlah buruh seperti kebanyakan buruh. Ia menolak untuk takut. Kalau kau takut akan keselamatannya, maka berdoalah. Berdoalah agar Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindunginya.”

Sena mengangguk. Berkata kemudian:

“Aku malu, Ajeng.”

“Malu? Apa maksudmu? Kakakmu melakukan sesuatu yang mulia. Ia melakukan sesuatu yang berharga, tidak saja untuk dirinya sendiri, namun untuk orang banyak. Mengapa kini kau merasa malu?”

Sena menghela nafas. Dilepaskannya pandangan ke arah jalan raya. Jakarta belum lagi tidur. Diliriknya arloji di tangan kanan Ajeng.’Hampir jam delapan malam,’ pikirnya. Metromini yang membawa keduanya telah memasuki kawasan terminal Blok M. Sena berkata lagi:

“Aku tidak malu atas apa yang dikerjakannya, Ajeng. Justeru aku malu pada kakakku sendiri,” Sena menunduk, memandangi sepatunya yang lusuh. Diambilnya sebatang sigaret dari kantung baju untuk kemudian dinyalakan dan dihisapi.

“Kau malu punya kakak seorang buruh?” Ajeng bertanya. Wajahnya menunjukan perasaan tak senang.

“Bukan, bukan itu maksudku.”

“Lantas?”

Sena menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya : ”Aku malu, kakakku, hanyalah seorang lulusan SMA.”

“Hmm, terus?” tanya Ajeng.

“Tapi ia mempunyai kesadaran yang lebih, yang jauh lebih mulia dari aku ini yang bersekolah hingga tingkat sarjana. Aku tidak seberani dan sehebat dia, bahkan ketika aku masih mahasiswa,” pemuda itu memainkan rokok di sela-sela jemarinya. Dipandanginya wajah Ajeng sejenak, kemudian matanya beralih melihat ke arah depan.

Metromini telah berhenti kini. Kondektur dan sopir berteriak mengusiri penumpang yang masih saja duduk. Ajeng dan Sena melompat keluar dan berjalan cepat menembusi keramaian terminal mencari kendaraan sambungan yang akan membawa pulang. Tak lama kemudian mereka sudah kembali duduk di bangku deretan tengah sebuah metromini. Pembicaraan mereka berlanjut lagi.

“Tidak ada orang yang sama di dunia ini, Sena. Dua orang yang terlahir kembar sekalipun mempunyai perbedaan,” Ajeng menghibur. Ia menggeser duduknya dekat pada Sena. Berkata Ajeng lagi:

“Apa yang dilakukan kakakmu memang mulia. Aku tak pernah mengenalnya selama ini. Akan tetapi sebagai perempuan, aku merasa berhutang budi padanya.”

Sena terdiam demi mendengar perkataan Ajeng. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan sakit Ibunya di desa, memikirkan Bapaknya yang segera menanti kabar darinya. Dirasakannya gelisah bercampur haru dan kagum terhadap Yanti kakaknya yang sedemikian berubah setelah tiga tahun berpisah dan keluar dari rumah. Dan dirinya sendiri, merasai adanya desakan cinta yang semakin menghebat dalam perasaannya. Cinta terhadap Ajeng, rasa terpikat yang amat sangat.

“Ajeng,” Sena berkata kemudian. “Ya,” gadis itu menoleh.

“Percayakah kau bahwa cinta tak harus selalu memiliki?”

“Apa maksudmu?”

“Jawab dahulu pertanyaanku.”

Ajeng tersenyum. Perlahan ia berkata: “Aku telah menjawab hal itu dalam puisiku semalam, Sena. Tidakkah kau ingat?”

Sena mengangguk menyadari.

“Mengapa kau yakini hal itu?”, tanya Sena kemudian.

Gadis itu mengambil selembar kertas tisu. Diusapkannya pada wajahnya sambil berkata:

“Mencintai lebih besar artinya daripada memiliki. Tidak memiliki adalah juga perwujudan cinta. Kau tahu Sena, kalau engkau suka akan binatang-binatang yang dilindungi seperti ular, orang utan, atau burung rajawali, maka jika engkau mencintainya, engkau akan melepaskannya dan bukannya membawa mereka dalam kehidupannya, terikat denganmu.”

Sena terdiam beberapa saat. Kondektur datang menghampiri dan menepuk pundaknya tanpa berkata-kata. Sena merogoh uang dari kantung celananya dan membayar tanpa berkata-kata pula. Berkata Sena kemudian:

“Jadi menurutmu kalau kita mencintai sesuatu, kita tak harus selalu berada di dekat sesuatu yang kita cintai itu?”

“Ya. Tak harus,” Ajeng menjawab cepat. Sambil mengikat rambutnya dengan karet, gadis itu berkata:

“Kau tahu para pekerja Indonesia di luar negeri? Mereka yang tersebar di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Taiwan?”

“He-em.”

“Bahkan kakak iparmu sendiri, ia juga bekerja di Korea meninggalkan Kak Yanti sendirian.” Lanjut Ajeng lagi:

“Mereka bekerja di sana, jauh dari apa yang mereka cintai di desa mereka sendiri. Jauh dari rumah, jauh dari kampung tempat mereka kawin. Jauh dari kuburan orangtua dan sungai tempat mereka mandi waktu kecil. Jauh dari anak, isteri atau suami mereka. Mereka bekerja di tanah yang lain, pada budaya lain. Mereka memakan makanan yang lain, yang tak pernah dimakan oleh Bapak ibu dan juga kakek moyangnya.”

“Kau terlalu berpanjang-panjang, Ajeng. Aku ingin…”

“Dengarlah dahulu…,”Ajeng potong Ajeng. Ia melanjutkan:

“Mereka itu bukannya tak mencintai apa yang mereka tinggalkan. Seorang isteri meninggalkan desanya, meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masih kecil demi mencari uang di negara lain. Mereka tahu, mereka harus bekerja keras dengan berbagai resiko yang mungkin mereka terima. Kau tahu, menjadi tenaga kerja di negara lain terlebih bagi perempuan bukanlah sesuatu yang selalu menyenangkan.”

“Aku tahu, banyak tenaga kerja perempuan kita mati di negara tetangga, banyak diantara mereka yang pulang cacat, tak dibayar gajinya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ada juga yang pulang sebagai mayat dengan luka-luka di sekujur badan. Sering kubaca di koran mereka menjadi korban pemerkosaan oleh majikan. Diseterika, dipukul…disundut rokok.”

“Nah, engkau mengerti sekarang. Mereka mau melakukan itu, maksudku, mereka rela menempuh apapun itu resikonya demi orang-orang yang mereka cintai. Kau tahu siapa yang mereka cintai itu? Yakni anak-anak mereka sendiri, suami-suami mereka sendiri, isteri-isteri mereka sendiri, dan orang tua mereka sendiri.”

“Dan negara mereka sendiri.”

“Tidak salah!”Ajeng berseru. Suaranya membuat kondektur menoleh ke arah mereka. Kedua remaja itu tak mempedulikan.

“Tidak semua orang yang tinggal dan bekerja di luar negeri tidak menyukai negara kita. Walaupun negara kita miskin, banyak diantara mereka masih bangga menjadi orang Indonesia, dan tidak mau berganti kewarganegaraan.”

“Aku yakin itu karena nasionalisme.”

“Dan juga patriotisme,” ujar Ajeng cepat. “Itu semua timbul dari rasa cinta kepada negara dan bangsa ini, yang walaupun miskin, carut marut dan penuh korupsi, tetaplah tanah air mereka. Tetaplah rumah di mana mereka dibesarkan.”

Metromini yang mereka tumpangi berjalan melambat. Kemacetan kini yang terlihat di depan. Dari kaca jendela mereka dapat melihat dan menyimpulkan: Pasar Minggu telah dekat. Setasiun kereta api Pasar Minggu telah terlihat dengan orang lalu lalang keluar masuk. Penjual pakaian, gorengan, sepatu bertebaran di sekitar setasiun. Sejauh yang mereka lihat, jalanan sudah menjadi padat dengan kendaraan dan udara penuh dengan asap yang menyesakkan. Orang-orang dengan wajah lelah terlihat berdiri menunggu kendaraan hingga badan jalan. Sena dan Ajeng bangkit dari duduknya, meminta sopir untuk menghentikan laju kendaraan, dan sedetik dua kemudian mereka telah melompat keluar…

BAGIAN V

 

Nafas pemuda itu terengah-engah. Sudah lebih dari empatpuluh menit ia berlari dan berlari tanpa berhenti. Sempat ia terjungkal terjerembab karena tersandung selang air antar rumah penduduk dan membuat lengan kanannya nyeri. Namun ia segera bangkit dan kembali berlari. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, dan kemudian menatap ke arah depan lagi, terus berlari sekuat tenaganya. Kedua kakinya berkejaran, menjejaki bumi dengan cepat dan berganti-ganti memasuki perkampungan-perkampungan di balik tembok-tembok bertingkat dan apartemen. Ia tahu benar setiap seluk beluk jalan kecil, jalan tikus.

Tiga orang telah mengejarnya. Dua diantara ketiga pengejarnya itu bertubuh kekar. Yang lebih penting: ketiga orang itu membawa senjata, membawa pistol. Dan ia mengerti betul, salah perhitungan terhadap pistol dan pemegangnya bisa membuatnya terbang ke neraka. Si kurus berambut keriting, seorang diantara tiga pengejarnya itu telah meletuskan senjata ke udara, berteriak dan memintanya untuk berhenti. Tapi ia tak mau menuruti. Baginya lebih baik mati tertembak daripada menyerah. Itu lebih terhormat dan jantan. Melawan dan melawan sudah menjadi pendiriannya.

Ia masih ingat nasib yang menimpa kawannya Endit belum lagi lima bulan lampau. Endit, pemuda pinggiran Cirebon itu menyerah ketika diancam dengan tembakan ke udara. Mungkin di benak Endit, menyerah akan membuatnya selamat dari tembakan, daripada lari dan akhirnya mati. Ia berhenti dan mengangkat tangan, pasrah. Endit menyerahkan bungkusan dari balik saku bajunya kepada pengejarnya: lebih dari setengah kilo dedaunan kering dari Aceh. Namun tetap saja peluru menembusi kedua betis kawannya itu. Endit tertangkap dan dihajar habis-habisan. Adegan itu disaksikannya di layar televisi di sebuah warung siang hari keesokan harinya. Wajah Endit memang tak lagi dapat dikenali karena kedua matanya telah membesar, melebam. Bibirnya membiru dan membengkak. Hanya tato bertulisakan ‘Doa Ibu’ di dada kanannya membuatnya yakin, bahwa yang dilihatnya di televisi adalah Dedi Supriyatna alias Endit, kawannya sendiri. Sejak saat itu ia tak lagi pernah berjumpa dengan Endit. Terakhir yang ia dengar, Endit telah dipindahkan ke Nusakambangan, dan sejak saat itu ia tak pernah mendengar kabar beritanya lagi. Dan sejak saat itu pula ia bertekad bulat: tak akan pernah mau bernasib seperti Endit.

Dan pemuda itu terus saja berlari, menerjang apa saja yang didepannya. Orang-orang yang sedang berdiri dan duduk sepanjang jalan tikus yang dilaluinya hanya memandangi, tak berusaha mencegah. Ia berlari dan terus berlari. Keluar dari jalan tikus, ia memasuki kerumunan sebuah pasar. Dilambatkannya kakinya, mulai berjalan cepat. Nafasnya masih memburu dan tersengal. Dipeganginya perutnya sendiri. ‘Masih ada, amanlah kau di sini!’, katanya pada dirinya sendiri. Ia terus menyusuri lorong-lorong di dalam pasar sampai menemukan sebuah jalan kecil. Sebuah gang. Dimasukinya gang itu dan kembali berlari kecil. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng di jalanan gang itu mengumpat karena ia telah membuyarkan permainan mereka. Ia tak peduli. Ia terus berlari. Beberapa kali kakinya nyaris terpeleset ketika menginjak genangan air yang ada di sepanjang gang. Terkadang ia melompat, berlari zig-zag…

Belum sampai di ujung gang yang menghubungkan jalan raya, ia membelok menuju jalan setapak kecil yang menurun, dan kemudian melompat ke bawah menuruni lembah ke bawah dan ke bawah, menyusuri lembah sungai yang menghitam dan berbau busuk. Matanya terus memandangi ke arah atas, ke arah belakang. Tiga orang itu tidak atau setidaknya belum kelihatan. Ia terus berlari dan berlari kecil. Sadar betul ia : sekali salah memilih pijakan, tubuhnya akan tergulung dan masuk ke dalam sungai berair hitam yang mengalir malas di bawahnya itu. Dan itu berarti akan memudahkan tiga orang pengejarnya untuk meringkusnya. Dan ia tak mau tertangkap dalam keadaan bau busuk.

Ia melambatkan kakinya kembali dan berjalan cepat menyusuri lembah sungai. Dengan lincah pula ia melompati pakaian, celana dalam, kutang milik penduduk sekitar yang sedang disebarkan, dijemur di lembah sungai itu. Sinar matahari yang terik membuatnya berkeringat deras. Ia tetap tak peduli. Di hadapannya terlihat jelas kini sebuah jembatan besar. Ia berjalan menurun dan menjejakkan kakiknya ke jalan setapak yang lebih landai di tepian sungai. Kini ia bisa kembali berlari. Ditengoknya kembali ke arah belakang atas. ’Tak ada yang mengejar’ katanya dalam hati, menenangakan dirinya sendiri. Ya, tak ada lagi yang mengejarnya di belakang. Dua orang berbadan kekar dan si kerempeng berambut keriting itu tak lagi terlihat di belakangnya. Ia semakin melambatkan larinya. Teduhnya bawah jembatan yang sudah terlihat di depan mata menggodanya untuk berjalan saja. Dan kini ia benar-benar telah berjalan memasuki jalan setapak bawah jembatan. Ia menghirup nafas kuat-kuat ke dalam dadanya. Rasa khawatir berangsur-angsur menghilang dari hatinya. Dilihatinya pemandangan di bawah jembatan itu. Jalan kecil itu ternyata menembusi bawah jembatan itu. Beberapa orang membuat rumah-rumah berdinding kardus dan seng. Rumah-rumah itu menempel pada pinggir jembatan bagian bawah.

Ia menghentikan langkahnya kini. Nafasnya masih memburu. Dilepaskannya jaket, dan dibukanya kancing depan bajunya yang telah basah oleh keringat, dan sekaligus terlihat di dadanya bintik-bintik keringat besar kecil menetes-netes. Dilihatnya sekali ke arah belakang jalanan lembah yang baru saja ia lalui, memastikan. ‘Benar-benar aman sekarang. Tak ada yang mengikutiku.’ Ia duduk dan mengucap syukur: Tuhan melindungi dirinya hari ini. Dan pada Tuhan dan pada dirinya sendiri ia berjanji akan lebih rajin lagi bersembahyang. Sudah lebih dari empat kali ia mengalami hal seperti ini, diburu dan dikejar. Empat kali pula ia menyabung nyawa. Dan ia tahu betul resiko dari apa yang dikerjakannya: penjara, tahanan, sel, bui, atau ditembak mati sebelum sampai diseret ke pengadilan. Dan satu atau dua hari setelah penangkapan atau penembakan atas dirinya, bahkan orang di kampungnya pun akan melihat wajahnya di televisi sebagai penyakit yang lebih menjijikkan daripada borok. Dan ia bisa menebak apa yang menjadi komentar orang di kampung, kampungnya sendiri apabila melihat wajahnya ditayangkan di televisi sebagai pesakitan: ‘Alangkah sayangnya, sejak kecil ia sebenarnya anak yang pandai dan selalu juara kelas, pelajar teladan, dan pintar berdeklamasi’. Ia tahu, ia bukan bintang film atau penyanyi yang bisa membayar pengacara sekaligus juru bicara yang sanggup membantah dan berkelit bahwa apa yang dimilikinya, yang diikuasainya itu bukan miliknya. Ia sadar, statusnya yang bukan siapa-siapa kecuali sebagai tikus Jakarta yang pantas digebuk sampai mampus. Ia sadar, ia tak akan membuat siapapun atau lembaga manapun memprotes kalau ia sampai disiksa dan wajahnya yang berdarah-darah atau bahkan mayatnya ditayangkan di televisi. Ia sadar, bahwa ia hanyalah satu dari ribuan tikus dan celurut yang ada dan mencari hidup di belantara metropolitan Jakarta. Dan ia tahu, di mana saja manusia selalu membenci manusia tikus sepertinya. Golongan manapun membencinya. Semua orang menyatakan perang terhadap apa yang dilakukannya. Sebuah organisasi terang-terangan menginginkan orang sepertinya dihukum pancung atau dibakar di depan massa.

Ia semakin betah duduk di bawah jembatan itu. Suara gemuruh kendaraan yang menderu di atas kepalanya tak mengganggunya dari keinginan untuk sejenak beristirahat, mengaso. Ia tak ingin segera pulang. Dirogohnya saku belakang celananya, mengeluarkan dompet. Dibukanya lipatan dompet itu. Sebatang sigaret yang tersimpan di lipatan diambilnya. Sebentar kemudian ia telah menyalakan rokoknya itu. Dua detik kemudian, asap kental lembab abu-abu menyembur-nyembur dari mulut dan hidungnya. Dingin rasanya, sejuk di bawah jembatan itu. Busuknya bau air sungai membuatnya sedikit mual, namun lambat laun ia menjadi terbiasa. Angin yang mengalir lembut ke bawah jembatan membuatnya mengantuk dan ingin merebahkan badan. Namun ia urungkan keinginannya itu. Tak ada dilihatinya kertas koran atau kertas kardus yang dapat digunakan sebagai alas. Ada beberapa kardus tertumpuk, akan tetapi ia tahu, kardus-kardus itu pastilah ada pemiliknya. Ia tetap duduk, melipat kakinya ke dada. Ada ia rasai kedamaian kehidupan di bawah jembatan itu.

Sambil terus mengisapi sigaret, matanya berkeliaran memandangi seluruh bawah jembatan. Ada banyak coretan terdapat di dindingnya, coretan dengan cat semprot. Ia menjadi teringat kenangan beberapa tahun silam, menggambari tembok stadion Kridosono dalam sebuah acara seni lukis tembok di Yogyakarta. Matanya kini memandang ke arah sungai. Air sungai berwarna hitam dan baunya sangat menusuk penciuman. Macam-macam saja benda yang mengambang dan terdampar: botol plastik, kayu, dan aneka sampah plastik. Ada dilihatnya bangkai seekor kucing yang mengambang tak bergerak, tersangkut pada sebuah kayu. Tiba-tiba, datang seorang lelaki seumur pamannya berjalan menghampiri dan menyapa:

“Jangan lama-lama duduk di sini, air di sini bau busuk!” suara itu terdengar ramah, memecah kebisuan, menawarkan percakapan.

“Ah tidak apa-apa Pak. Maaf Pak, saya numpang merokok di sini.”

“Silakan saja. Jembatan di atas itu bukan milikku. Engkau tak perlu meminta ijin padaku,” orang itu menjawab sambil tertawa. Ia tak berbaju, hanya bercelana pendek warna hitam. Kepalanya mengenakan peci kumal yang sudah berubah warna dari hitam menjadi cokelat muda. Tangannya nampak masih kotor dengan noda-noda hitam kecoklatan. Nampaknya ia sudah terbiasa dengan hal itu, tak kelihatan ia merasa gatal atau risih. Ia memanggul sebuah karung besar. Isinya ratusan botol bekas air mineral.

Orang itu mendekat dan duduk dekatnya. Karungnya diletakannya di dekat tumpukan karton bekas. Ia merogoh kantung belakang celana pendeknya itu, mengambil rokok. “Dari ke mana hendak ke mana?”

“Saya hendak pulang,” jawab pemuda itu sekenanya.

“Engkau bukan orang sini, bukan?”.

“Saya baru saja pulang dari rumah kawan di perkampungan atas sana,” pemuda itu menunjuk ke arah atas lembah sungai. Perkampungan tepi pasar yang baru saja dilewatinya. Ia berbohong.

“Emm..sering lewat sini? Rasanya aku belum pernah melihatmu. Baru sekali ini saja aku melihatmu.”

“Tidak Pak, memang belum pernah. Biasanya saya lewat jalan atas, jalan gang itu kemudian langsung keluar lewat jalan raya. Kebetulan saya hanya ingin mengunjungi kampung di sebelah sana. Saya dengar di sana ada orang yang menjual buku-buku bekas,” pemuda itu berbohong lagi. “Bapak sendiri apakah tinggal di sini?” pemuda itu bertanya mengalihkan pembicaraan, dan upayanya itu berhasil.

“Ya, aku tinggal di sini.”

“Bersama keluarga Bapak?”

Orang itu mengangguk angguk dan berkata:

“Isteri dan anakku juga tinggal di sini.”

Pemuda itu bertanya kemudian:

“Di mana rumah Bapak?”

“Di sini. Di bawah jembatan ini. Itu rumah kami,” orang itu menunjuk pada salah satu gubuk berdinding kayu dan seng serta kertas di bawah jembatan itu. “Maksudku, itu gubuk kami.”

“Sudah lama Bapak tinggal di sini?” pemuda itu bertanya lagi. Rasa kantuknya hilang tergantikan oleh rasa ingin tahu yang besar mengenai kehidupan lelaki yang ada di sampingnya itu. Dalam hati ia mengagumi orang yang baru saja dikenalnya ini. Kolong jembatan tentu bukan lingkungan impian untuk dapat hidup tenang dan damai. Ia sendiri memimpikan tinggal di perumahan sederhana, dengan isteri dan anak yang selalu menanti kepulangannya dari bekerja. Bagi dirinya sendiri, tinggal di bawah kolong jembatan adalah lambang kegagalan terbesar setiap orang yang merantau di Jakarta.

“Hampir enambelas tahun ini,” lelaki itu menjawab. Ia membetulkan letak pecinya.

“Enambelas tahun?!” pemuda itu mendecak heran.

“He-em.”

“Bapak tidak pernah diusir oleh pemerintah kota, oleh petugas tramtib?”

“Diusir?” orang itu menolehkan kepalanya lagi, memandang dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu. Ia kemudian melepaskan pecinya. Dengan begitu, terlihat jelas oleh pemuda itu wajah orang yang ada di hadapannya. Alis matanya yang tebal telah mulai memutih. Rambutnya yang tidak terlalu lebat juga telah memutih. Kulit wajahnya seperti kulit tubuhnya, hitam. Bibirnya tidak tebal, akan tetapi telah menghitam keunguan. Bibir perokok berat. Gigi-ginya yang kokoh terlihat menguning kecoklatan terkena nikotin. Wajahnya menampakkan garis-garis keras, menyiratkan watak yang tegas, namun dengan budi yang halus.

Pemuda itu melanjutkan lagi: “Ya, diusir. Petugas tramtib, apakah mereka sering datang ke mari?”

“Soal itu,” orang itu tak segera melanjutkan. Ia mengisapi rokoknya dengan khidmat, kemudian berkata lagi setelah terbatuk-batuk: ”Terlalu sering kami hadapi. Tapi begitu mereka pergi, dua atau tiga hari kami akan datang kemari lagi. Selalu saja begitu kejadiannya,” orang itu tertawa hambar sambil menepuk pundak pemuda itu.

“Bapak dipukuli ketika Bapak diusir dari sini?” pemuda itu bertanya. Rokok yang memendek dicampakannya dekat kakinya. Dengan sekali injak, matilah rokok itu.

Pembicaraan mereka terhenti. Seorang perempuan berusia sekira empatpuluh lima tahun mendekati. Ia membawa sebuah tas plastik hitam. Diserahkannya pada lelaki itu. Kepada sang pemuda, orang itu memperkenalkannya sebagai isterinya.

“Ini isteriku, dia adalah permaisuriku yang tercantik. Permaisuri kolong jembatan, hahaha..hahah…,” orang itu tertawa terkekeh. Perempuan itu memberangut. Ia kemudian pergi berlalu. Dan pemuda itu tertawalah serta.

Dengan segera lelaki itu membuka bungkusan tas plastik hitam di tangannya. Rupa-rupanya tas plastik itu berisi pisang goreng, tempe, dan tahu goreng yang masih panas.

“Ayolah dimakan, kebetulan kami ada rezeki hari ini. Ayo silakan…”

Perut yang lapar karena belum terisi makan siang dan tenaga yang terkuras dalam pelarian membuat pemuda itu tak merasa perlu untuk berbasa basi. Diambilnya sepotong tahu goreng dan dijejalkannya pada mulutnya dengan rakus.

Seorang anak kecil berjalan melintas. Ia bertelanjang dada dan bercelana pendek berwarna merah, celana anak sekolah dasar. Orang itu menghentikan langkah anak itu dan mengatakan sesuatu serta memberikan sejumlah uang padanya. Anak kecil itu nampak mengangguk mahfum, kemudian berlari kencang ke atas lembah sambil bernyanyi-nyanyi riang.

“Tunggulah barang lima menit, sebentar lagi akan ada rokok untukmu,” orang itu tersenyum. Diambilnya sepotong pisang goreng dan disorongkannya ke dalam mulut.

“Dia anak Bapak?”

“Bukan, anakku belum pulang.”

“Sekolah?”

Orang itu tertawa. “Ya, sekolah.”

“Di mana Pak? Sekitar sini saja?”

Tawa orang itu makin keras. “Di tempat sampah, mencari botol bekas…!”

Sekaligus tawa orang itu meledak sejadinya. Mentertawai nasibnya sendiri. Pemuda itu tersenyum kecut.

“Lantas, anak siapakah dia?”

“Aku tak tahu siapa orang tuanya,” orang itu masih tertawa. “Ia tidur di mana saja. Di rumah siapa saja di pinggiran kali ini ia biasa tidur. Makannya pun dari belas kasihan kami-kami ini yang juga tidak berkelebihan.” Orang mengambil sepotong tahu goreng. Mulutnya mengunyah mengecap-ngecap. Pemuda itu merasa risih mendengarnya.

“Oh ya, engkau bertanya apakah kami ini pernah diusir dan dipukuli supaya kami enyah dari sini, betul begitu?” orang itu melirik. Tawanya telah mereda kini. “Kalau yang engkau maksudkan adalah ditertibkan…”, orang itu tak segera melanjutkan. Wajahnya tampak mengejek. Ia berkata lagi:

“Sudah selalu dan semestinya ketika para petugas datang mereka memukuli kami dan menghancurkan apa saja yang kami punya.”

“Bapak tidak melawan?”

“Melawan dengan menolak untuk pindah maksudmu?”

“Ya”

“Seperti para pedagang di Pasar Minggu kemarin hari?”

“Ya,” pemuda itu mengangguk. Lelaki itu terdiam sesaat, menggaruk-garuki kakinya. Rokoknya yang telah memendek dijentikkannya kuat-kuat ke tengah sungai. Berkata lagi ia kemudian:

“Tidak. Kami tak pernah melawan. Biasanya kami hanya pasrah. Kami mengerti kami tak berhak tinggal di sini. Kami mengerti bahwa mereka hanya melakukan apa yang ditugaskan oleh atasan mereka. Lagipula kalau kami melawan, kami bisa mendatangkan celaka kepada kami sendiri. Kami bisa ditahan.”

Anak kecil yang diperintah untuk membeli rokok datang sambil berlari. Dengan terengah-engah diserahkannya sebungkus rokok kretek kepada orang itu. Beberapa detik kemudian ia telah berlari lagi dan bernyanyi nyanyi girang sambil sesekali melompat. Limaratus rupiah upahnya sore itu. Orang itu membuka rokoknya, mengambil sebatang dan disodorkannya pada pemuda itu. Kedua orang itu melanjutkan perbincangannya:

“Bapak tak ingin pindah dari sini?” pemuda itu bertanya. Pertanyaan yang segera ia rasai sebagai pertanyaan bodoh. Kalau saja ia menjadi orang yang sedang ia tanyai itu, ia sudah tahu jawabannya: pasti ingin pindah ke tempat yang lebih layak.

“Tidak. Aku tak ingin pindah. Bagiku, jembatan ini sudah terlalu baik buatku. Lagipula, orang seperti aku ini manalah mungkin mampu membeli tanah di kota? Aku hanya pengumpul botol plastik, pengumpul kertas kardus dan apa saja yang berharga yang dapat aku temui di tempat sampah.” Orang itu menjawabi getir. Rokoknya yang mengepulkan asap tipis tak dihisapinya.

“Mungkin kalau aku berumur sampai duaratus tahun sekalipun, aku tak akan mampu membeli rumah di Jakarta. Dan kalaupun aku mempunyai banyak uang, apakah kau pikir masih ada tanah yang menganggur di Jakarta? Semua tanah telah tertutup oleh beton,” ia tertawa sinis, sinis pada nasib dirinya sendiri.

“Lagipula, tinggal di sini jauh lebih aman daripada kalau aku tinggal di rumah-rumah biasa, apalagi rumah mewah. Mereka yang tinggal di rumah mahal setiap pagi, petang dan malam selalu saja dipusingkan dengan ancaman perampok, garong atau pencoleng. Sedangkan di sini, di bawah jembatan ini aku tak perlu khawatir dirampok. Aku tak punya uang.”

Pemuda itu membenarkan. Dalam hatinya ia membayangkan, seandainya ia adalah perampok atau pencoleng, rasanya tak ada nafsu baginya merampok orang yang tinggal di bawah jembatan itu.

“Kau lihat kelelawar-kelelawar itu?”, orang itu bertanya sambil menunjuk kelelawar yang menggantung di bawah jembatan. Pemuda itu mengangguk. Matanya memandangi serombongan kelelawar yang menggantung bergerombol di bawah jembatan. Tenang saja binatang-binatang bersayap itu menggantung, sama sekali tak terusik gemuruh suara jalan raya di atasnya.

“Mereka, para kelelawar, para kalong itu tak perlu rumah yang baik. Bagi mereka jembatan ini sudah menjadi rumah mereka yang terindah.”

“Karena mereka kelelawar, mereka tak membangun rumah,” pemuda itu menyela. Orang itu membalas cepat:

“Aku sama saja dengan mereka. Aku tak perlu rumah yang baik. Bagiku tinggal di bawah jembatan ini sudah cukup. Lebih dari cukup. Aku tak perlu bermimpi untuk hidup seperti orang pada umumnya. Tuhan telah takdirkan nasibku seperti ini, menjadi orang yang tak mampu, tak berkekayaan, dan aku menerimanya sebagai garis hidup yang harus aku lalui. Aku hanyalah pemulung, yang makan dan tidur di sekitar sampah. Masyarakatpun melihatku sebagai sampah. Kau tahu, sampah selalu disingkirkan, dipinggirkan, dan dibuang. Aku juga adalah orang yang terpinggirkan, orang yang tersingkir, dan terbuang.”

“Tapi Tuhan tak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu sendiri tak berusaha mengubahnya,” pemuda itu memprotes.

“Aku tahu. Sejak kau belum lahir aku sudah sering mendengarkan hal itu. Akupun sudah berusaha sekuat aku mampu, sekuat aku bisa. Namun dari dahulu hingga kini sama saja. Salahkah aku kalau beranggapan bahwa apa yang kualami ini adalah suatu takdir sang Pencipta?”

“Tapi Bapak ini bukan kelelawar. Bapak bukan binatang. Bapak adalah manusia.”

“Ya memang begitu. Akan tetapi berapa banyak manusia di bumi ini yang melihatku sebagai manusia. Berapa banyak?”, orang itu menolehkan kepalanya, bertanya menggugat. Nada bicaranya getir. Pandangan matanya menusuk. Ia melanjutkan lagi:

“Di mata orang banyak, di mata negara, aku ini bagaikan belatung yang menggerayangi bangkai. Sesuatu yang sudah semestinya terjadi dan bukan hal aneh lagi,” ia berkata serak, terbatuk-batuk, kemudian meludah membuang riaknya.

“Mungkin di matamu begitu pula!”, orang itu berkata lagi seolah menuduh. Pemuda itu tak menjawab.

“Aku adalah pemulung. Hidupku dari sampah, berpindah-pindah dari gundukan sampah yang satu ke gundukan sampah yang lain. Dan sudah sepantasnya bagi pemulung seperti aku untuk hidup bersama sampah itu sendiri, sebagaimana belatung hidup dengan bangkai. Pemulung hidup dan mati bersama sampah. Pada suatu titik, mungkin orang menganggap aku tak ubahnya sampah itu sendiri.”

Pemuda itu tercenung. Ada ia rasai perasaan yang sama yang dirasai orang yang sedang duduk di sampingnya. Ia pun merasa dirinya adalah sampah.

“Saya juga bukan siapa-siapa seperti Bapak,” pemuda itu berkata berusaha menyenangkan hati lawan bicaranya yang seperti banteng terluka itu.

“Setidaknya engkau masih muda dan berpengharapan besar. Aku tahu, engkau pasti orang terdidik.”

“Dari mana Bapak tahu kalau saya berpendidikan?” pemuda itu bertanya heran.

“Sorot matamu. Matamu itu menunjukkan bahwa engkau orang berpengetahuan, berpendidikan. Kau tak bisa berbohong padaku soal ini. Engkau punya harapan besar, jauh lebih besar dari aku. Asalkan engkau mau bekerja keras. Asalkan engkau tidak melakukan hal-hal yang tolol, hal-hal yang bodoh,” orang itu berkata menasihati.

Sejenak pemuda itu terkaget. Ia tercenung meresapi kata-kata yang baru saja didengarnya itu. Orang itu tak mengatakan dengan pasti apa yang ia maksud dengan melakukan hal yang bodoh. Akan tetapi ada dirasainya rasa malu menjalari hatinya. Ada dirasainya hatinya sendiri mengakui kebodohan yang selama ini dilakukannya, dengan kaki, dengan tangan dan otaknya sendiri. Dengan keinsyafannya sendiri.

“Engkau sudah berkeluarga?”, orang itu bertanya lagi. Rokoknya telah memendek. Seperti yang pertama, dijentikannya rokoknya kuat kuat hingga terpental ke tengah sungai itu.

“Belum, Pak. Manalah ada gadis yang mau pada saya?”

“Pasti ada. Wajahmu tampan. Apalagi kalau kau mau mencukur rambutmu itu. Aku jelek begini juga punya bini,” orang itu tertawa. Pemuda itu ikut tertawa.

“Orang tua sekarang ingin anak gadisnya kawin dengan laki-laki yang sukses, orang yang kerja kantoran, tidak dengan orang seperti saya.”

“Ngomong-ngomong apa yang engkau kerjakan sekarang? Maksudku apa pekerjaanmu?”

“Pekerjaan saya?”

Orang itu mengangguk.

Sejenak pemuda itu terdiam, berfikir keras. Didongakkannya sedikit kepalanya memandangi langit-langit jembatan. Beton yang membentuk jembatan itu nampak kokoh. Nampaknya dibangun pada tahun delapanpuluhan. Jembatan model serupa pernah ia lihat di Kediri, kota dekat tempatnya berasal.

“Malu saya mengatakannya Pak.”

“Mengapa harus malu? Aku tak pernah malu mengatakan kalau aku adalah pemulung.”

“Saya melakukan hal yang bodoh, seperti yang Bapak katakan tadi,” pemuda itu menjawabi dengan lirih.

“Melakukan hal yang bodoh? apa itu?”, kini orang itu bertanya heran.

“Saya ini adalah orang yang melakukan pekerjaan bodoh,” Pemuda itu mengulangi kata-katanya lagi. Menggugat dirinya sendiri.

“Ada aku perhatikan engkau seperti habis dikejar-kejar sesuatu?” orang itu bertanya. Pemuda itu terdiam.

“Kau melakukan kesalahan?”

Pemuda itu tetap diam. Wajahnya tak berani menatap orang itu. Dipandanginya atas jembatan. Dirasainya mata beberapa ekor kelelawar menatap benci dan mengejek. Ia tertunduk.

“Apa yang kau lakukan?”

“Saya berdagang barang terkutuk.”

“Barang terkutuk? Kupon togel?”

Pemuda itu menggeleng.

“Obat-obatan?”, orang itu menebak lagi.

Pemuda itu kembali menggeleng. Diambilnya sebuah kerikil kecil di dekat kakinya dan dijentikannya kuat-kuat ke tengah sungai.

“Sejenis itu, Pak.”

“Ganja?”

Pemuda itu kini terdiam.

“Jadi berjualan ganja?”

Pemuda itu tetap terdiam. Hatinya menggejolak hebat.

“Jadi baru saja engkau lari dari kejaran petugas? Dari kejaran polisi?”

Pemuda itu mengangguk perlahan. Wajahnya menunduk, diam. Orang itu terdiam. Ia memandang dengan tatapan tak senang. Suara bising kendaraan masih saja terdengar, dan asap kendaraan ada juga yang merasuk hingga ke bawah jembatan terhirup oleh keduanya. Beberapa anak kecil berlarian melintas mengejar layang-layang putus.

“Mengapa engkau melakukan hal itu? Apa yang kau lakukan sungguh celaka. Kau meracuni jiwa banyak orang. Kau merusak tubuh banyak orang.”

Pemuda itu masih menunduk. Apa yang dikatakan oleh orang di sampingnya sudah terlalu sering ia dengar.

“Adakah kau pernah membayangkan betapa sedihnya keluarga yang mempunyai anak atau saudara yang ketagihan barang daganganmu itu?”

Pemuda itu mengangguk perlahan.

“ Mereka sangat sedih dan hancur. Dan engkau, engkau yang ada di sampingku inilah perusaknya.”

“Saya tahu Pak.”

“Tapi kau tidak mau peduli. Engkau ini hanya mementingkan diri saja.”

“Saya mengerti Pak.”

“Kau tak pernah merasa salah dengan perbuatanmu,” orang itu semakin mencecar.

“Saya tahu apa yang saya lakukan salah,” Sena memotong, merintih. Diangkatnya wajahnya kini. Pemulung itu mendengus.

“Kau tidak tahu kalau apa yang kau lakukan itu salah!” orang itu berkata. Kali ini nadanya lebih keras.

“Saya tahu betul Pak..”

“Ya, kau bilang begitu, tapi sebenarnya kau sama sekali tidak tahu!”

Pemuda itu terdiam. Ia tidak melawan. Orang itu melanjutkan lagi:

“Lantas mengapa kau tetap melakukannya? Apakah tak ada pekerjaan lain yang bisa mendatangkan uang halal selain berdagang barang-barang terkutuk seperti itu?”

Pemuda itu kembali menunduk. Ia tak berkata-kata.

“Mengapa, hei?”, orang itu mencecar. Suaranya menggelegar. Beberapa anak yang sedang bermain layang-layang tak jauh dari tempat mereka duduk memandang dengan tatapan heran. Dan sekaligus pemuda itu menjadi teringat pada ayahnya yang keras.

“Masihkah barang itu padamu?”

Pemuda itu mengangguk lesu.

“Berikan padaku,” orang itu memerintah.

Pemuda itu tak berkata-kata. Dikeluarkannya bungkusan dari balik bajunya dan diberikan pada orang yang duduk di sampingnya itu.

Orang itu menerima bungkusan yang diberikan oleh sang pemuda. Ia kemudian berdiri dan mengambil ancang-ancang. Dan dengan sekali lempar, bungkusan itu jatuhlah ke tengah sungai, mengambang sebentar dan perlahan kemudian tenggelam. Pemuda itu terdiam memandangi. Ia tak berusaha mencegah. Orang itu duduk kembali di sampingnya dan berkata lagi:

“Kalau kau tak mampu mencari makan dengan jalan halal, datanglah kemari setiap hari. Kalau hanya memberimu makan tiga kali sehari, aku rasa aku dan isteriku masih sanggup!”

“Kau dengarkah itu?”

Pemuda itu mengangguk. Ia tetap terdiam. Kata-kata orang di sampingnya itu begitu terasa menusuk hatinya. Nasihat yang sama beribu kali telah ia dengar dan baca, namun tak pernah membuatnya merasa tersentuh. Bahkan nasihat dari gadis yang ia kasihi tak pernah mampu merubah pendiriannya. Akan tetapi dari kalimat yang keluar dari mulut orang bertubuh kotor yang tinggal di bawah jembatan ini, ia seolah menemukan kebenaran.

“Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang membuatmu berbuat seperti ini?”

Pemuda itu menghela nafas kemudian berkata:

“Ada kekecewaan terhadap diri saya, kekecewaan terhadap keluarga saya. Kekecewaan terhadap negara ini yang tak mampu menampung orang seperti saya.”

Sejenak orang itu terdiam meresapi perkataan pemuda yang duduk di sampingnya itu. Seorang anak lelaki berusia sekira enambelas tahun datang menghampiri. Ia bertopi kumal, bersandal jepit, bercelana pendek kotor, dan memakai kaus yang berlubang-lubang. Ia membawa karung yang nampak telah penuh terisi botol plastik bekas wadah air mineral. Orang itu memperkenalkan remaja itu pada sang pemuda sebagai anaknya. Berkata orang itu kemudian:

“Aku tak akan memaksamu untuk berceritera lebih jauh.”

“Terimakasih, Bapak bisa mengerti saya.”

“Tapi percayalah, kalau kau mau, jalan dan kesempatan bagimu sangat luas dan luas. Engkau ini sarjana bukan?”

pemuda itu menggeleng,

“Ayolah mengakui. Kau ini sarjana bukan? Aku bisa melihat dari sorot matamu. Sorot matamu itu penuh dengan ilmu sekolahan.”

Pemuda itu mengangguk.

“Engkau bisa melakukan kerja yang jauh lebih pantas dan beradab untuk dilakukan seorang sarjana daripada mengedarkan barang busuk sialan itu.”

Pemuda itu terdiam. Ada rasa malu dan sesal bertumbuhan di hatinya mengakui kalau dirinya adalah sarjana. ‘Kalau aku sarjana, mengapa siang hari begini berjalan-jalan di pinggir kali? Mengapa aku berlarian di gang-gang sempit? Kalau aku sarjana, mengapa polisi mengejar aku?’ Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang sangat hina dan tercela di mata orang? Mengapa aku harus melakukan pekerjaan yang dikutuk oleh ibuku sendiri seandainya ia masih hidup? Mengapa aku melakukan pekerjaan yang bisa membuat orang kehilangan akal sehatnya?’, pertanyaan itu mengitar-ngitari pemikirannya sendiri.

“Engkau pernah berusaha mencari kerja sesuai dengan ijazahmu?”

Pemuda itu mengangguk. “Namun saya selalu gagal. Saya putus asa.”

“Kau tak boleh berputus asa.”

Pemuda itu mengangguk.

“Insya Allah, mulai esok saya akan memulai lagi usaha untuk mencari kerja. Melakukan pekerjaan yang halal. Doakan agar saya segera mendapatkan pekerjaan, agar saya tak melakukan hal yang buruk ini kembali.

“Sudah barang tentu akan aku doakan.”

“Terimakasih, Pak.”

“Tapi ingat, kalau engkau sudah menjadi orang yang berkemampuan, jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu.”

“Saya berjanji”

“Sungguh?”.

“Saya bersungguh-sungguh, Pak.”

“Dan kalau kau telah menjadi orang yang mempunyai penghasilan yang lebih dari cukup untuk engkau makan dan tabung, maka ingatlah hari ini, kejadian hari ini, pertemuan kita ini. Kau dengar itu?”

“Saya tak akan lupa pada peristiwa hari ini, Pak.”

“ Jangan lupakan orang-orang seperti aku ini.”

“Sudah barang tentu.”

“Kalau engkau merasa kesulitan dalam menghadapi hidup, ingatlah diriku. Ingatlah diriku yang hidup jauh lebih sulit darimu.”

Pemuda itu mengiyakan.

“Dan jika engkau mempunyai kekuasaan,” kata orang itu bergetar, “jangan makan keringat dan darah kami.” Suara orang itu terdengar parau. Nadanya mendesak dan sinis. Ia melanjutkan:

“Kami hanya bertahan hidup di kota ini. Kami juga tak tahu mengapa kami harus hidup seperti ini. Kami ingin dianggap seperti manusia, seperti mereka yang di dalam mobil-mobil mahal yang melintas di atas jembatan ini,” pemulung itu kembali pada rintihannya semula.

“Bapak juga harus berjanji pada saya.”

“Berjanji padamu?”

“Ya. Bapak harus berjanji pada saya untuk tidak berputus asa. Bahwa masih ada harapan bagi Bapak untuk hidup lebih layak dari sekarang.” Orang itu tersenyum dan mengangguk-angguk untuk kemudian berkata:

“Kalau begitu, kita sama-sama berjanji.”

Pemuda itu mengiyakan. Diliriknya arloji di tangan kanannya: hampir jam enam sore. Ia berdiri dan segera berpamitan, yang disambut dengan uluran tangan yang menjabat erat. Pemuda itu berjalan pergi. Ia melambaikan tangan.

“Sering-seringlah kemari kalau kau ada waktu,” orang itu berseru.

“Ya, Pak,” pemuda menengok sebentar dan menganggukkan kepala. Ia kemudian kembali berjalan.

Tidak sampai semenit kemudian kedua kakinya telah menemukan jalan setapak yang mengarah ke atas. Sejauh yang ia lihat, rumah-rumah liar sajalah yang ada di dekat jembatan itu. Kesemuanya nampak tak beraturan. Orang-orang laki-laki perempuan terlihat mandi dan mencuci piringnya di sungai yang sama. Semua terlihat oleh mata pemuda itu dengan jelas. Penciumannya sendiri membaui asap sampah-sampah yang dibakar di lembah sungai yang terbawa angin sore.

Terus ia berjalan mendaki lembah berumput kering itu menuju ke atas. Berkelok-kelok saja jalan setapak itu. Terkadang ia harus melangkah panjang menghindari batu besar atau menghindari serombongan anak kecil yang sedang asyik membandingkan kehebatan layang-layangnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian sampailah akhirnya ia di tepi jalan raya. Suara klakson kendaraan umum dan pribadi bergantian memasuki pendengarannya. Merah langit senja telah semakin meredup, kesekian juta kalinya dalam sejarah. Awan abu-abu gelap di atas kepala meniupkan rasa sedih dalam benaknya. Jakarta masih saja ramai, sesak, dan angkuh. Asap kendaraan mendesak desak ke segala arah, ke atas dan meluncuri ke bawah, ke lembah sepanjang sungai yang berair hitam itu.

Ia merasa hampa. ‘Hendak kemanakah kini? Pulang? dan apa yang hendak aku cari dengan kepulanganku? Dan siapa yang akan menyambutku?’, ia bertanya pada hatinya sendiri dan pada kesadaran dan akalnya sendiri. Dan segera ia memberi jawab atas pertanyaan hatinya : ‘Tak ada!’. Matanya menengok kembali ke arah belakang, ke arah bawah. Masih dilihatnya orang yang duduk dan bercakap dengannya di bawah jembatan tadi, pemulung itu. Dari kejauhan, tubuhnya tampak hitam mengkilat. Ia mengangkuti kardus-kardus bekas dan mengumpulkannya dekat rumahnya, rumah yang tak ingin ditinggalkannya, rumah terbaiknya. Anak dan isterinya tampak membantu.

Pemuda itu kembali berjalan lesu menyusuri trotoar. Terkadang ia turun ke jalan dan naik lagi ke trotoar menghindari warung-warung tenda yang mulai didirikan. Senja hari, pedagang kaki lima mulai memasang tenda-tenda mereka, menguasai jalur pejalan kaki. Ia merasa hampa. Dihampirinya seorang anak kecil, pedagang rokok. diulurkannya selembar uang ribuan dan diambilnya sendiri rokok kesukaanya. Si kecil penjual rokok mengulurkan kembalian tiga keping uang ratusan. Pemuda itu menggelengkan kepala dan meminta si anak menyimpan saja kembalian itu untuknya.

Pemuda itu kembali berjalan. Dihisapinya rokoknya dengan tak bersemangat. Asap pekat dari mulut dan hidungnya berhamburan lagi, berhantaman dengan asap kendaraan yang lalu lalang. Matanya memandangi keadaan sekeliling. Sejuk udara sore bercampur asap masih mengitarinya. Lampu-lampu penerangan jalan dan pertokoan mulai dinyalakan. Beberapa orang yang lewat berjalan kaki nampak sudah segar, pertanda telah terguyur air mandi sore. Dipandanginya badannya sendiri, pakaiannya sendiri, tubuhnya sendiri. Jaketnya yang kemarin hari masih bersih kini telah kotor bernoda tanah dan berbau keringat. Lengan kanannya masih terasa nyeri dan pegal-pegal akibat terjatuh tadi siang.

Tiba-tiba kenangan masa lalu bermunculan di hatinya. Ketika masih kanak-kanak, pakaiannya yang kotor selalu dibersihkan oleh Ibunya. Dan jika ia pulang dari bermain bola dengan pakain bersimbah lumpur, ibunya yang lembut dan penyabar tak pernah memurkai. Ibunya itu akan mencium pipinya, menyuruhnya segera mandi dan menggorengkan telur bebek serta petai kesukaannya. Dan semua itu telah berlalu dan musnah, lebih dari delapanbelas tahun silam. Ibunya kini telah terbaring di pemakaman sepi pinggir desa tempatnya berasal, ratusan kilometer dari Jakarta.

Ingatannya kemudian melayang pada gadis yang dikaguminya. Betapa ia sangat mencintai gadis itu. Cinta yang belum tersampai, yang belum terangkai. Cinta yang teramat berat untuk disampaikan, disuarakan dengan kata-kata. Kalaulah cinta itu bersambut, hendak dengan apa ia akan membikinnya menjadi lebih indah? Kedua bola matanya menjadi basah, hatinya menjadi sedih. Di tengah keramaian Jakarta tiba-tiba saja ia rasai hampa dan kerinduan yang amat sangat pada perempuan yang dikasihinya itu. Kerinduan itu sekaligus pula menggandeng kerinduan pada desa tempat ia berasal.

‘Sesore itu udara desa tidak akan sesesak seperti di sini, penuh dengan asap kendaraan’, keluhnya di antara perih hatinya yang menangis. Namun sejurus kemudian ia segera terbangun dari lamunan hatinya, ia harus segera kembali ke tempatnya tinggal. Ia mempunyai kawan yang bertamu, dan sudah sepatutnya ia harus mengawaninya. Lirih ia berbisik pada dirinya sendiri: “boys don’t cry”. Disibakkannya rambutnya yang memanjang sebahu dan diusapnya kedua bola matanya yang membasah dengan lengan bajunya. Sebuah bus dengan suara mesin yang menggemuruh melintas. Kondektur yang bergelantungan di pintu berteriak-teriak padanya : “Minggu…Minggu…Minggu.!”. Pemuda itu melambaikan tangannya dan berlari memburu. Sebuah sepeda motor nyaris saja menabraknya. Sang pengendara menoleh dan berteriak :”Bangsat!”. Pemuda itu tak membalas. Ia terus berlari menghindari beberapa sepedamotor yang melaju kencang,, kemudian dengan sigap melompat ke dalam bus menembusi belantara Jakarta yang telah ditelan senja.

Ajeng menarik tangan Sena agar menunggu metromini beberapa meter setelah lampu merah. Sena menurut saja, berjalan mengikuti. Diterobosinya kerumunan orang yang sedang menunggu kendaraan untuk pulang. Tak sampai lima menit mereka telah mendapatkan metromini yang belum lagi penuh terisi menuju ke arah Depok. Dalam kendaraan itu mereka kembali melanjutkan pembicaraan:

“Seandainya engkau boleh memilih, apakah engkau akan bekerja di negara lain tapi dengan penghasilan besar, ataukah kau ingin bekerja di negeri ini dengan penghasilan pas-pasan?”

“Aku memilih yang pertama.”

“Seandainya engkau mempunyai keluarga, mempunyai suami dan anak, apakah engkau juga akan memilih bekerja di luar negeri, menjadi TKW walau harus berpisah dengan suami dan anak yang kau sayangi?”

“Akan kulakukan hal itu?”

“Dengan resiko apapun?”

“Ya, dengan resiko apapun.”

“Sungguhkah itu, Ajeng?”

“Ya, sungguh. Lebih baik aku bekerja keras sementara waktu, beberapa tahun dan bisa mendapatkan modal untuk keluargaku, untuk kemudian kembali dan merintis masa depan baru.”

“Bagaimana kalau…,” Sena tak melanjutkan. Ia menjadi gugup. Dilemparkannya pandangan ke arah luar.

“Bagaimana…bagaimana maksudmu?” Ajeng menjadi gusar.

“Bagaimana kalau yang menjadi suamimu itu adalah…aku!?” Sena berkata cepat. Dipaksanya wajahnya untuk melihat raut muka Ajeng. Wajah gadis itu dilihatnya menunduk. Sena memburu:

“Apakah engkau juga akan meninggalkanku?”

Ajeng terdiam, tak menjawab.

“Walaupun apa yang kau dapat, walau penghasilanmu besar. Jawablah Ajeng?”

Gadis itu menyibakkan rambutnya. Ia masih menunduk. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Beberapa saat kemudian ditatapnya wajah Sena, berkata:

“Mengapa engkau menanyakan hal itu padaku, Sena?”

Keduanya berpandang-pandangan. Metromini masih melaju, terkadang kencang dan terkadang tersendat kemacetan. Angin malam menyusup deras ke dalam melalui jendela dan pintu, menerbitkan hawa dingin.

Sena menggeser duduknya merapat pada Ajeng. Dengan agak menunduk ia berkata, perlahan di telinga gadis itu:

“Karena aku mencintaimu Ajeng, dan aku tak ingin kau tinggalkan. Aku tak mau jauh darimu”, sekaligus ucapannya telah membuat gemuruh di dadanya semakin menggelora. Ia tak peduli apapun yang akan dikatakan oleh Ajeng. Ia pun tak mengerti darimana kekuatan untuk mengatakan perasaannya itu timbul.

“Ajeng,” ucap Sena lirih.

Gadis itu hanya menoleh lesu untuk kemudian kembali menunduk. Tangannya meremas-remas selembar tisu yang mulai menghancur.

“Apakah engkau mau menerimaku?”

Ajeng tetap terdiam. Ia merasa bibirnya seolah terkunci. Ada ia rasai kebimbangan. Beberapa saat kemudian ia berkata lemah:

“Haruskah aku menjawab sekarang, Sena?”.

“Sekarang atau nanti sama saja, Ajeng.” “Katakanlah sekarang,” Sena terus mendesak.

“Engkau terlalu memaksa!” Ajeng merintih.

“Terserah apa katamu.”

Ajeng tertunduk dan terdiam. Sena memandang wajahnya lekat-lekat. Digenggamnya tangan gadis itu erat-erat.

“Katakanlah. Aku akan menerima apapun keputusanmu.”

Ajeng menghela nafas. Dicampakkannya tisu di tangannya yang telah menghancur itu.

Sena terus memburu. “Kau sayang padaku?”

Ajeng mengangguk kemudian berkata: “Aku sayang padamu, Sen.”

Sena terdiam demi mendengar jawaban Ajeng. Ia merasakan pemandangannya berkunang kunang. Keindahan dan kebahagiaan yang luarbiasa kini ia rasakan. Rasa cinta yang mengendap sedari semalam kini tertumpah sudah. ‘Ajeng mencintaiku’ hatinya bersorak. Segera setelah ia berhasil menguasai perasaannya kembali, Sena berkata:

“Kau mau mendampingi hidupku, Ajeng?”

Ajeng tak menjawab. Wajahnya nampak diliputi kebimbangan. Ditatapnya wajah Sena. Ia mengangguk lemah.

“Tapi kita berjauhan, Sena.”

Dua orang pengamen masuk ketika metromini yang ditumpangi Ajeng dan Sena berhenti di pintu perlintasan kereta api. Seorang dari pengamen itu memainkan gitar, dan yang seorang lagi bertepuk tangan sambil bernyanyi. Suara nyanyian dan petikan gitar cukup keras, membuat Sena dan Ajeng menghentikan percakapan. Tak sampai sepuluh menit kemudian, dua orang pengamen itu telah turun. Palang pintu perlintasan kereta api telah dibuka dan metromini telah kembali melaju. Mereka pun kembali berbicara:

“Kau tadi bicara soal jarak? Jarak bukan masalah kalau kita saling percaya. Esok senja mungkin aku akan kembali ke Kutoarjo. Tapi aku bisa kembali lagi ke Jakarta ini.”

“Aku bingung, Sena.”

“Apa yang kau fikirkan ?”

“Aku mengkhawatirkan Kresna.”

“Kresna?”, sekaligus Sena menjadi terkejut demi mendengar nama sahabatnya diucapkan oleh mulut gadis di dekatnya itu. Hatinya menjadi tak senang.

“Ya, aku takut ia akan berubah sikap padaku.”

“Engkau telah berhubungan dengan Kresna, begitu maksudmu?”

Dengan cepat Ajeng menggeleng.

“Lalu mengapa engkau harus khawatir?”

Ajeng menatap wajah Sena dan berkata:

“Ia pernah menyatakan perasaanya padaku.”

“Menyatakan perasaannya? Ia mencintaimu?”

Ajeng mengangguk.

“Dan kau terima?”

Ajeng menggeleng.

“Kau menolak cintanya?”

Ajeng tidak mengangguk, tidak pula menggeleng.

“Mengapa engkau merasa takut padanya? takut kalau ia marah padamu?”

Ajeng menghela nafas panjang. Ia kemudian berkata:

“Jujur aku akui, Sena, aku pun merasai ada rasa sayang dan kagum padanya”.

Sekaligus kata-kata Ajeng menjadikan Sena kembali terbakar.

“Namun saat itu aku tak mau menerimanya”.

“Mengapa?”

“Aku tak mau menjadi kekasih seorang pengedar”.

“Pengedar apa?”

“Pengedar apa lagi menurutmu? Tentu bukan pengedar koran!”, sahut Ajeng ketus. “Pengedar…narkotika maksudmu.”

“Sejenis itu.”

Ajeng kemudian menatap Sena dengan sungguh-sungguh. Gadis itu berkata:

“Kresna sahabatmu adalah seorang pengedar ganja, dan aku tak mau menjadi kekasih seorang pengedar.” Ajeng kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Peristiwa itu terjadi kira-kira empat bulan yang lalu. Sejak awal mengenal Kresna, ia sudah menaruh simpati dengan pembawaan Kresna yang tenang, dewasa dan bijaksana. Kresna mempunyai jiwa seni, sesuatu yang sangat berkesesuaian dengan hatinya. Namun lambat laun ia mengerti bahwa Kresna telah terlibat dalam peredaran ganja, walaupun tak pernah sekalipun dilihatnya Kresna menikmati barang terlarang itu. Dan ketika Kresna menyatakan cintanya, tegas Ajeng menolak. Suatu keputusan yang sesungguhnya dirasa berat oleh gadis itu, karena jauh dalam hatinya iapun menyimpan simpati pada Kresna. Kresna sangat terpukul dengan penolakannya itu. Ajeng kemudian berjanji jika Kresna rela meninggalkan perbuatannya yang terlarang itu, ia akan menerima cintanya. Sayangnya, Kresna tak segera menunjukkan sikap yang tegas. Kresna masih saja menjadi pengedar.

Sena terdiam mendengar penuturan Ajeng. Terkejut dan sedih dirinya mengetahui bahwa Kresna sahabat karibnya itu ternyata seorang pengedar ganja. Dirasainya pula dadanya menjadi sesak, terisi rasa cemburu. Cemburu kepada kawannya sendiri. Cemburu kepada sahabatnya yang menolongnya memberi tumpangan tinggal di Jakarta.

“Jadi kaupun suka padanya, Ajeng?”

Ajeng tidak menjawab. Ia mempermainkan jari jemarinya. Matanya menatap gelisah ke arah luar.

“Sukakah engkau pada Kresna?” Sena memburu.

Ajeng mengangguk lemah. Ia berkata:

“Aku harus jujur untuk mengatakan bahwa aku memang menaruh simpati padanya. Walau seperti yang aku katakan padamu, aku pernah menolak cintanya.”

“Penolakan bersyarat,” Sena menukas.

Ajeng tak memedulikan. Sena menerjang lagi:

“Engkau telah berjanji padanya, bahwa engkau akan menerimanya kapanpun ia bersedia meninggalkan apa yang diperbuatnya itu. Dan hari ini engkau menerima cintaku padamu….”

Ajeng masih saja terdiam.

“Kalau begitu, aku harus mengatakan apa adanya pada Kresna nanti malam, agar segala sesuatunya jelas dan tak ada yang mengganjal,” Sena berkata lagi.

“Tapi…,” Ajeng tak melanjutkan. Ia kembali terdiam.

“Aku akan menjelaskan pada Kresna bahwa mulai hari ini, malam ini engkau telah menjadi milikku.”

“Jangan, Sena. Aku minta…”.

“Tak mengapa Ajeng.”

“Aku mohon jangan,” Ajeng menghiba. Pandangan matanya sayu.

“Aku tak merebutmu darinya.”

Ajeng terdiam. Ia hanya menunduk.

“Sepertinya kita sudah akan sampai Ajeng?”

Gadis itu mendongakkan kepala, terkejut. Ia memandang ke arah depan. Benar apa yang dikatakan Sena, metromini telah mendekati daerah tempat tinggal Kresna sekaligus rumah pamannya tempat ia tinggal. Segera ia meminta sopir untuk menghentikan laju kendaraan. Ajeng dan Sena kemudian melompat keluar dan segera berlari ke tepi jalan yang sudah tak begitu ramai.

Sena menggandeng tangan Ajeng. Ada dirasainya kebahagiaan malam itu. Namun ada pula keraguan berkecamuk di hatinya. Ragu, apakah Ajeng sungguh-sungguh mencintainya. Keduanya terus berjalan dan berjalan, memasuki gang yang sempit, menurun, dan berbau kencing manusia. Tanpa disadari oleh mereka, seseorang berjalan mengikuti dari belakang. Pandangan mata orang itu tajam, baju dan jaketnya nampak kotor terutama bagian sikunya. Sebatang rokok yang baru dinyalakan terselip di bibirnya. Ia berjalan mengikuti dari jarak enam meter.

“Jam berapa sekarang?” tanya Sena.

Gadis itu tak langsung menjawab. Sambil berjalan, ia berusaha melihat pada pergelangan tangan kirinya. Upayanya tak berhasil. Ia kemudian menghentikan langkah. Sena demikian pula menghentikan langkahnya. Cahaya sinar lampu neon dari sebuah rumah tingkat membuatnya mampu melihat jarum jam. Orang yang mengikuti mereka ikut berhenti menyandar pada sisi tembok yang gelap. Mengisap rokok.

“Sudah hampir jam sembilan malam.”

“Jam sembilan?”

“Kurang sepuluh menit.”

“Sudah semalam itu?”

“Ketika kita naik dari Pasar Minggu saat itu sudah jam setengah sembilan kurang sedikit.”

Keduanya terus berjalan. Beberapa ekor kucing lari ketakutan demi mendengar langkah mereka. Serombongan pemuda yang duduk-duduk di gardu ronda melihat tanpa senyum pada mereka. Sena melempar senyum pada mereka, sedikit membungkukkan badan dan terus berjalan. Berlalu. Orang yang mengikuti langkah Ajeng dan Sena dari belakang juga tersenyum pada rombongan pemuda yang sedang duduk duduk itu, melambaikan tangan.

“Alangkah sepinya daerah ini.”

“Ya memang. Kebanyakan orang yang tinggal di daerah ini adalah pekerja di kota. Pegawai rendahan. Kerja mereka jauh di kota.”

“Apa hubungannya dengan suasana sepi?”

“Mereka baru pulang ketika hari menjelang Isya. Sesampainya di rumah mereka makan, mandi kemudian langsung pergi tidur. Esok pagi benar mereka harus sudah bangun dan berangkat kerja.”

“Alangkah lelahnya hidup di Jakarta,” Sena berkata lirih.

Ajeng menimpali:

“Memang begitu. Di sini, anak-anak mandi jam lima setiap paginya, dan sebelum jam enam pagi mereka sudah berangkat ke sekolah kalau tak mau terjebak macet.”

“Rasa-rasanya aku tak akan kuat hidup di Jakarta. Aku lebih suka tinggal di daerah.”

“Kau akan terbiasa juga nantinya kalau kau tinggal di Jakarta.”

Gadis itu menambahi lagi:

“Lihatlah aku. Aku juga berasal dari daerah kecil sepertimu. Aku tak pernah mengalami kemacetan, polusi kendaraan selama hidupku di sana.”

“Bagaimana kau membiasakan diri?”

“Dengan menikmatinya. Tiada jalan terbaik kecuali demikian, Sena.”

“Termasuk menikmati semua kemacetan, dan kerawanan seperti preman, copet dan kapak merah?”

“Mungkin begitu. Yang pasti, kita tak boleh takut tinggal di kota ini. Sekali kita merasa takut, selamanya kita tak akan pernah keluar rumah, dan dengan begitu maka tidak akan ada yang kita capai.”

Keduanya terus melangkah. Jalan yang mereka lalui semakin melebar. Rumah yang ditinggali Kresna semakin dekat. Sedangkan atap rumah bertingkat di sampingnya yang ditinggali Ajeng sudah mulai terlihat. Sebelum mendekati rumah, Sena menarik Ajeng ke tanah pekarangan sempit yang tak terlalu terkena cahaya. Cahaya bulan dan lampu penerangan.

“Ajeng. Aku aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Katakanlah,” Ajeng berkata separuh berbisik.

“Aku ingin berterimakasih. Engkau telah menerima hatiku.”

Ajeng tak menjawab.

“Ijinkan aku mencium keningmu.”

“Jangan, Sena” Ajeng menolak.

Sena tak peduli. Pemuda itu menunduk, mencium kening gadis itu. Ada damai ia rasai di hatinya. Ajeng hanya terdiam, matanya memandang pada Sena dengan penuh rasa yang berkecamuk di hatinya.

“Kau sayang padaku Ajeng?”

“Haruskahkah aku menjawabnya?”

Sena mengangguk.

“Kurasa aku tak perlu berkata-kata. Kau sudah tahu kedalaman hatiku.”

“Ketika pertama melihatmu kemarin, aku sudah yakin bahwa aku menyayangimu, Ajeng.”

Ajeng memandang Sena dengan sungguh. Berkata kemudian:

“Terlalu cepatkah apa yang kita rasa Sena? Terlalu cepatkah apa yang kita putuskan ini?”

“Aku tak tahu Ajeng.”

“Hanya satu hari perkenalan kita.”

“Ya, baru satu hari,” Sena menggumam.

“Dan kita belum lagi saling mengenal dengan baik. Lebih mendalam. Kau ragu padaku Sena?”

Sena menggeleng. Ia balik bertanya:

“Kau berjanji akan selalu setia?”

“Aku berjanji.”

“Tapi kita berjauhan Ajeng. Esok aku akan pulang, dan aku tak tahu kapan kita akan berjumpa lagi.”

“Jarak tak akan mampu memisahkan. Kalau kita saling mencintai, maka jarak bukanlah penghalang bukan. Justeru kita akan berpisah untuk kembali.”

“Aku tak ingin kehilangan engkau Ajeng.”

“Tak perlu kau katakan itu Sena, aku juga tak mau kehilangan engkau.”

“Tapi engkau tinggal jauh dari Kutoarjo,” Sena merengek.

“Engkau bisa menyusulku ke mari. Kita bisa bersama-sama mencari hidup di Jakarta.”

“Tapi aku takut dengan Jakarta. Aku Jakarta phobi!”.

“Kau mesti berusaha, sena. Kau pasti bisa.”

“Sungguh?”

Ajeng mengangguk.

“Untukmu kulakukan segalanya Ajeng. Gerombolan kapak merahpun akan kulawan bilamana perlu!,” Sena tertawa lirih. Ajeng tersenyum.

“Kau gombal…”

“Akan kuajari mereka beternak ayam, supaya mereka tak merampasi harta orang!”

“Di Jakarta tak ada lahan untuk beternak ayam, Sena!”

Dan mereka berdua tertawa lirih, kemudian saling berpelukan erat. Bintang-bintang di atas langit malam Jakarta yang cerah memancarkan cahaya berkerlipan seolah menyoraki. Gemuruh suara jalan raya sayup terdengar, tak dihiraukan oleh mereka. Gerimis kecil mulai turun.

“Mari kita ke kamar Kresna dahulu.”

“Lebih baik aku pulang saja, Sena.”

“ Minum-minumlah barang satu gelas kopi sebelum engkau pulang?”

Ajeng menyerah. Keduanya kemudian beranjak dari tempatnya.

“Boleh aku ikut minum kopi?”, terdengar suara dari belakang. Sena dan Ajeng menoleh, mencari sumber suara itu. Dari kegelapan muncul sesosok bayangan manusia bergerak menghampiri. Sinar bulan dan lampu neon pelataran rumah menerangi wajahnya. Ia nampak terlihat lusuh dan kuyu namun masih bisa tersenyum. Senyum yang tawar.

“Kresna,” Ajeng dan Sena berkata nyaris serempak. “Kau juga baru pulang?”

“Ya. Aku satu kendaraan dengan kalian.”

“Satu metromini dengan kami?” tanya Ajeng heran.

“Ya sejak dari Pasar Minggu?”

“Dari Pasar Minggu?”

Kresna mengangguk. “Aku duduk di belakang kalian.”

“Mengapa kau tak menegur kami?” Ajeng bertanya gelisah. Matanya berganti-gantian memandang pada Sena dan Kresna. Ada raut khawatir di wajahnya.

“Tak mengapa, aku tak ingin mengganggu pembicaraan kalian. Hey, bagaimana kalau kita minum-minum kopi dahulu?”

Sena dan Ajeng saling berpandangan. ‘Kresna telah mengikuti sejak dari Pasar Minggu? Kalau begitu ia telah mengetahui semua pembicaraanku dengan Ajeng. Kalau begitu ia telah mengetahui pembicaraan apa saja yang keluar dari mulutku dan mulut Ajeng…,’ fikir Sena.

“Ayo, jadi ‘kan kita ngopi?” tanya Kresna lagi. Ia tersenyum. Sena dan Ajeng mengiyakan. Dan ketiga orang itu pun kemudian berjalan memasuki pelataran rumah tua itu. Suara kereta api dari kejauhan masih menderu merasuk di gelapnya malam, dan gerimis hujan yang turun semakin menderas…

BAGIAN VI

 

Tiga gelas kopi telah terhidang di atas meja. Ajeng sendiri yang meracik minuman itu. Asapnya masih mengepul-ngepul, bergulat dan beradu dengan asap rokok yang menyembur-nyembur dari mulut dan hidung Sena dan Kresna. Ajeng duduk di lantai di samping Sena, melipat tangan pada kakinya. Kresna duduk bersandar pada tembok. Sena memulai percakapan:

“Jadi kau sudah mengetahui semua, Kres?”

Kresna tak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kau marah padaku, Kresna?” tanya Ajeng.

“Marah? padamu?” Kresna tertawa. Jari-jarinya memainkan asbak tiruan patung suku Asmat.

“Aku takut kau membenciku!”

“Tak ada alasan padaku untuk membencimu. Kau berhak memilih siapa yang engkau suka dan percaya untuk mendampingimu. Kau manusia bebas.”

“Aku pernah berjanji padamu…”

“Janji bisa berubah, dan itu wajar. Aku menghargai keputusan kalian.”

“Maafkan aku,” Ajeng berkata lemah.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Sena menyukaimu. Bukan begitu Sen?” Kresna bertanya pada Sena. Sena mengangguk. Kresna berkata lagi:

“Dan kau sayang pada Sena ?”

Ajeng tak menjawab. Kepalanya menunduk. Kresna mendesah. Beberapa saat ia terdiam. Jari-jari memutar-mutar sigaret yang terus mengepulkan asap tipis, tak dihisapi. Suasana kamar menjadi hening, hanya suara rintik hujan dari luar rumah yang terdengar. Berkata Kresna lagi:

“Sena, sebaiknya aku jujur padamu. Aku memang pernah mencintai Ajeng.”

“Ajeng telah menceriterakan semua padaku,” sahut Sena.

“Dan kau tahu keputusannya untukku bukan?”

Sena mengangguk.

“Dan kini, Ajeng telah menentukan pilihannya.”

“Maafkan aku Kres. Kedatanganku ke sini justeru menghancurkan harapanmu. Sungguh bukan maksudku.”

“Tak ada yang perlu aku maafkan Sena. Semua orang bebas untuk memilih. Memilih apa yang disukainya. Aku memegang teguh prinsip itu dalam hidupku.”

“Dan ingin pula kukatakan padamu Sena, Ajeng, bahwa hari ini aku telah bertekad dan memutuskan untuk berhenti sebagai pengedar!”.

“Engkau?” Ajeng terperanjat, berkata lirih.

Kresna mengangguk pasti.

“Engkau telah berhenti?” Sungguhkah itu?”

Kresna mengangguk lagi. Tersenyum.

Ajeng terdiam. Sena mengucap syukur.

“Maafkan aku Sena, aku tak jujur padamu. Selama ini aku hanyalah seorang pengedar ganja.”

Sena mengatakan pada Kresna bahwa ia sudah mendengar mengenai hal itu dari Ajeng. Berkata Sena kemudian:

“Ada kalanya kita tak harus menceriterakan semua yang ada di diri kita pada orang lain.”

“Semua orang berhak mempunyai rahasianya sendiri,”sambung Ajeng. Gadis itu berkata kemudian:

“Yang penting kau sudah menyadari apa yang kau lakukan itu salah, Kresna.”

Kresna mengangguk-angguk, kemudian berkata:

“Mungkin dalam waktu dekat ini aku akan kembali ke Kediri. Ke rumahku sendiri.”

“Kau akan tinggalkan Jakarta?”, tanya Sena.

Kresna mengangguk.

“Mengapa harus kau tinggalkan Jakarta?” tanya Ajeng. “Kau bisa berganti pekerjaan.”

“Dan mengapa aku harus tetap tinggal di Jakarta?”, potong Kresna cepat. Ia kemudian berkata lagi.

“Tak ada tempat bagiku di Jakarta. Aku harus pulang.” Kresna kemudian memandang pada Sena dan Ajeng, berkata:

“Dari lubuk hatiku yang terdalam kuucapkan selamat pada kalian berdua.”

Ajeng dan Sena mengamini perlahan.

Kresna mengangguk. Berkata ia kemudian: “Kuharap, hubungan kalian akan langgeng”. Dijabatinya tangan Ajeng dan kemudian dipeluknya Sena. Dengan begitu, kerikuhan yang baru saja meliputi suasana kamar itupun kembali mencair. Gelas kopi berdentingan sebagai tanda sukacita. Mereka bertiga kemudian berjanji akan merayakan kebahagiaan dengan berjalan-jalan ke Pasar Baru esok minggu sebelum kepulangan Sena ke Kutoarjo.

Beberapa saat kemudian Ajeng meminta diri karena waktu sudah mendekati pukul sepuluh malam. Kresna tetap tinggal di kamar menyulut rokok keduanya, sedangkan Sena melepas kepergian gadis itu hingga ke pintu pagar. Tak lama kemudian Sena telah kembali berada di kamar. Kedua pemuda itu pun bercakap-cakap kembali.

“Jadi kau pulang esok, Sena?”

“Ya. Aku harus kembali esok hari”.

“Pagi atau malam?”

“Senja hari.”

“Aku akan mengantarmu.”

“Terimakasih. Ajeng juga akan mengantarku.”

“Sudah kau temui kakakmu Yanti?”

“Sudah.”

“Bagaimana keadaannya?”

Sena kemudian menceritakan semua yang dialaminya hari itu pada Kresna. Tentang perempuan tua yang tinggal di depan rumah kos Yanti. Tentang Hilda, yang tinggal dalam satu rumah kos dengan kakaknya. Tentang aktivitas kakak perempuannya itu, dan tentang rencana kepulangan Yanti segera setelah menghadiri acara di Filipina.

“Syukurlah kalau begitu. Keluarga kalian akan utuh lagi dalam waktu dekat. Aku turut senang.”

“Aku harap begitu.”

“Aku juga akan pulang ke Kediri. Akan kucoba lagi segala peluang yang ada. Mungkin aku perlu belajar darimu beternak ayam, atau bebek.”

“Mungkin ada baiknya kau menuruti nasihat ayahmu, menjadi pegawai Kecamatan”.

“Entahlah. Barangkali aku memang harus mencobanya. Aku harus lebih realistis.”

“Dalam hidup terkadang kita dituntut untuk mau berkompromi, berdamai dengan keadaan. Tak bisa kita memaksakan selalu apa yang menjadi kehendak kita. Apa yang kita yakini sebagai benar, belum tentu tepat dan baik dalam pelaksanaannya”, Sena berkata. Ia menguap panjang, kemudian melanjutkan lagi:

“Ada baiknya kukira jika kau bekerja membangun desamu sendiri. Setidaknya itu lebih baik daripada kau menjadi pengedar. Kau tahu, selain resiko besar, keluargamu jugalah yang akan rugi jika kau sampai tertangkap.”

“Aku tahu,” Kresna mengangguk. Ingatannya melayang kembali pada pemulung yang dijumpainya hari itu.

“Ingatlah almarhum ibumu.”

Kresna mengangguk.

“Kapan kira-kira kau tinggalkan Jakarta?”

“Aku belum tahu. Mungkin dalam satu atau dua minggu ini.”

“Mampirlah ke Kutoarjo.”

“Insya Allah, akan kuusahakan.”

“Aku mengantuk, Kres,” Sena menguap lagi kemudian merebahkan badannya.

“Mandi dan shalatlah dahulu. Baru kau tidur.”

“Oh iya, aku lupa belum shalat. Terimakasih sudah mengingatkan, Kres.”

Kresna tersenyum. Sena melangkah menuju pintu belakang, ke kamar mandi. Setelah selesai Kresna pun mandi. Keduanya kemudian bersembahyang bersama, berjamaah. Sena memimpin shalat, menjadi imam. Selesai shalat Sena keluar dan memesan dua piring mi rebus. Keduanya kemudian menikmati santap malam yang panas dan mengepul itu dengan lahap. Setelah makan, rokok kembali mereka hisapi. Berkata Kresna pada Sena:

“Kadang kala, apa yang kita hadapi sungguh di luar dari apa yang kita rencanakan.”

“Dan sama sekali tak kita duga.”

“Semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa.”

Sena mengangguk kemudian berkata:

“Aku mengantuk.”

“Tidurlah dahulu. Aku belum mengantuk,” sahut Kresna. Sena mengangguk. Dimatikannya rokok yang masih panjang dan kemudian dihempaskannya badannya di tempat tidur. Kresna bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri meja kerjanya. Diambilnya kaset John Mayall dan diputarnya di cassette player, hadiah ayahnya sepuluh tahun silam ketika menjadi juara baca puisi tingkat SMA se-kabupaten. Dimatikannya lampu ruangan dan menyalakan lampu yang lebih kecil, lampu duduk. Malam semakin pekat. Gerimis hujan belum juga mereda. Sesekali cahaya kilat menembusi kamarnya, tanpa suara guntur mengikuti. Dilihatnya ke samping, Sena telah tidur dengan bintik keringat di dahi dan mulut yang sedikit menganga. Kresna tersenyum melihatnya. Dihisapinya rokoknya. Dikenangnya peristiwa yang baru saja dialaminya. Dengan begitu ia kembali mengucap syukur karena telah lolos dari kejaran maut. Kresna merebahkan badan memandang ke langit langit. Dan di langit-langit itu wajah lelaki pemulung yang ia tak sempat tahu namanya tiba-tiba menjelma. Lelaki yang membuang bungkusan miliknya, yang biasanya ia pertahankan dengan segenap harga diri dan bahkan nyawanya sendiri. Ia memejamkan matanya sejenak, berdoa agar Tuhan mensejahterakan lelaki itu dan menghapus dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Wajah Ajeng yang tersenyum mengembang datang menggantikan. Ia pun tersenyum sekaligus benaknya berandai-andai: ‘jika Sena tak datang kemari, barangkali malam ini adalah malam yang sempurna’…

Tiba-tiba dirasainya hatinya menjadi pedih dan menyesali. Namun ia cepat tersadar kembali, berkata lirih pada dirinya sendiri: ‘Aku tidak boleh berhenti melangkah. Jalan hidupku masih panjang..”. Dan ia tersenyum, pada dirinya sendiri. Tak ada yang melihat dan mendengar ia berkata-kata. Sena telah lama terlelap dan mulai mendengkur. Gerimis yang turun semakin menderas dan angin malam yang dingin berhembusan liar memasuki jendela kamarnya. Kresna bangkit menutup jendela, kemudian merebahkan badannya di samping Sena. Kembali bayangan-bayangan muncul di benaknya. Ia semakin mengantuk dan akhirnya tertidur. Kamar yang temaram itu menjadi sunyi. Hanya John Mayall yang masih bernyanyi, bersenandung sendiri tanpa ada yang mendengarkan…


Sebuah mikrolet berhenti agak jauh dari Setasiun Jatinegara. Sena, Kresna dan Ajeng berlompatan keluar dari dalamnya untuk kemudian berjalan menuju setasiun. Sena memandangi keadaan sekitar. Apa yang dilihatnya masih saja sama dengan dua hari yang lalu: warung tenda, tukang ojek yang bergerombol, dan taksi-taksi yang parkir di depan setasiun. Lampu-lampu penerangan, lampu-lampu kendaraan, serta lampu-lampu warung dan toko telah dinyalakan menyambut hari yang telah menggelap. Sena melirik pada sebuah warung tenda tak jauh dari titik tempatnya berdiri. Seorang gadis dengan baki kosong di tangan kirinya melambaikan tangan padanya sambil berteriak. ‘Ipah!’, seru Sena dalam hati. Ia tak dapat mendengar apa yang diteriakkan oleh gadis penjual kopi itu. Tapi dari gerak mulutnya, Sena tahu bahwa gadis itu memintanya untuk mampir dan minum kopi. Sena melambaikan tangan, dan mengembangkan senyum terimakasih, memberi isyarat penolakan. Kresna melambaikan tangan pada gadis itu, kemudian meninju bahu Sena, menggoda. Ajeng memandangi dengan wajah tak senang.

Ketiganya kemudian menyeberang memasuki setasiun. Sena mengantri membeli karcis, sementara Ajeng dan Kresna menunggu sambil duduk di bangku peron.

“Sebentar lagi Sena akan kembali pulang. Kau pasti sedih,” kata Kresna memulai percakapan.

Ajeng mengangguk tanpa berkata-kata.

“Sudah kalian bicarakan kapan kiranya kalian akan bertemu kembali?”

“Belum.”

“Sewaktu-waktu ia bisa ke Jakarta,” hibur Kresna.

“Kuharap begitu..”

“Sekarang waktu untuk kita berjuang. Kau berjuang agar kau dapat pekerjaan yang baik. Sena demikian pula. Ia sedang merintis usahanya di Kutoarjo. Ia seorang yang ulet. Aku sendiri akan memulai hidup baru di Kediri..”

“Ya, sekarang waktu untuk kita berjuang,” gumam Ajeng.

Kresna mengiyakan.

Percakapan mereka terputus. Sena datang menghampiri dengan selembar tiket di tangannya.

“Dapat tiket?”

“Selalu ada tiket untuk kereta api ekonomi..” Sena tersenyum kecut.

Ajeng dan Kresna tertawa. Tawa yang hambar. Tawa perpisahan.

“Aku bisa duduk di mana saja. Di bangku bagus, duduk di lantaipun sudah biasa dan sudah sepatutnya..”

Ajeng memberikan sebungkus permen untuk bekal Sena. Ia lantas menawarkan diri untuk membelikan air minum, namun Sena menolak.

Dari pengeras suara terdengar himbauan agar penumpang kereta segera memasuki gerbong karena kereta api akan segera diberangkatkan. Kresna bangkit dari duduknya, dan memeluk Sena. Ditepuk-tepuknya punggung sahabatnya itu sambil mulutnya mengucapkan selamat jalan. Sena membalas pelukan Kresna dengan ucapan terimakasih.

“Mampirlah ke rumahku kalau kau pulang ke Kediri.”

“Akan aku usahakan,” jawab Kresna sambil menyodorkan sebungkus rokok pada Sena.

“Ambillah ini untuk bekalmu di jalan.”

“Terimakasih. Aku sudah punya,” Sena menolak. Ia berkata lagi:

“Aku titipkan Ajeng padamu. Tolong jaga dia.”

Kresna mengangguk.

Sena membetulkan letak ranselnya. Ia kemudian menoleh pada Ajeng dan berkata:

“Ajeng, aku pulang dahulu.”

“Hati-hati Sena,” Ajeng menjawab.

Sena mengulurkan tangannya, yang disambut dengan cium oleh Ajeng.

“Jangan sampai hilang tiketmu,” sambung Ajeng lagi. Sena mengangguk pasti. Ia kemudian berjalan mendekati pintu gerbong. Ajeng mengiringi langkahnya dan Kresna mengikuti dari belakang.

Terdengar peluit tanda kereta api diberangkatkan. Beberapa pedagang asongan nampak berlompatan keluar dari kereta. Beberapa diantara mereka menggerutu karena dagangannya tak laku.

“Aku akan kembali lagi kemari.”

“Kapankah kiranya?”

“Sesegera mungkin.”

“Aku akan selalu menunggu, Sena.”

“Aku akan menikahimu Ajeng..”

“Berdoalah yang terbaik untuk kita, Sena..”

Kereta api mulai bergerak. Para pengantar yang berdiri di peron melambai-lambaikan tangan. Ada yang menangis dan ada pula yang biasa saja. Sena berjalan di samping kereta api, tak segera naik.

“Naiklah Sena, nanti kau tertinggal,” Ajeng berkata. Matanya berkaca-kaca.

“Aku tak mau berpisah denganmu Ajeng.”

“Masuklah ke dalam kereta, Sena, akan ada waktu bagi kita untuk bertemu lagi. Kunanti engkau di Jakarta..” Ajeng menatap mata Sena dengan sungguh sungguh. Pandangan matanya lemah redup. Rambut panjangnya yang tak diikat itu beterbangan tertiup angin malam Jakarta.

“Tak akan lama aku akan kembali lagi, menjemputmu.”

Ajeng berlarian kecil mengikuti laju kereta. Kresna membuntuti di belakangnya, berjalan gontai.

Kereta kini bergerak semakin cepat. Tak ada pilihan lain bagi Sena kecuali harus melompat ke pintu kereta. Beberapa orang dalam kereta memandangi dengan raut muka yang berbeda-beda.

Sena tak segera masuk ke dalam gerbong. Pemuda itu berdiri di pintu. Wajahnya menjadi keruh. Tangannya melambai-lambai pada Ajeng, pada Kresna. Dilihatnya Ajeng menahan airmata dan Kresna sahabatnya menenangkan. Suara gadisnya itu tak terdengar lagi, kalah oleh gemuruh roda kereta api. Bayangan Ajeng dan Kresna semakin lama semakin mengecil, mengabur. Sekaligus hal itu menerbitkan kesedihan di hati Sena. Kerinduan yang amat sangat mulai mencakari hatinya. Sebagaimana bayangan ayahnya ketika ia meninggalkan Kutoarjo, bayangan Ajeng lama-lama hanyalah menjadi titik yang kemudian lenyap dari pandangan mata.

Sena membalikkan tubuh sambil matanya mencari tempat duduk yang tersisa. ‘Semua bangku kereta api telah penuh terisi,’ fikirnya. Beberapa orang terlihat duduk dan bertiduran di lantai. Tak ada tempat baginya. Ia memutuskan untuk berdiri saja di dekat pintu, dekat toilet kereta. Dengan begitu, bau kencing dan kotoran manusia menusuki hidungnya. Ingin ia berpindah masuk ke bagian dalam gerbong, namun diurungkannya. Bahkan di lantai kereta orang telah banyak bergeletakan. Tak ada tempat lagi baginya. Dengan malas diletakannya ransel hijaunya itu di lantai. Matanya memandang keluar. Pagar besi pembatas biru putih terlihat kembali di pelupuk matanya, persis sama dengan tiga hari lalu ketika ia memasuki Jakarta. Jalan Klender masih saja ramai, dan tembok penjara yang terlihat masih saja kokoh, dengan kawat-kawat berduri dan menara penjaganya.

Sena menatap jendela, memandang ke arah luar. Gelap saja apa yang ia lihat dengan binar-binar cahaya lampu yang muncul dan hilang dengan cepatnya. Terlintas dalam benaknya untuk merokok, namun sebentar saja keinginan itu telah meredup kembali. Dilihatnya pemandangan dalam gerbong dari tempatnya berdiri. Beberapa penumpang tampak sudah atau sedang berusaha memejamkan mata, larut dalam mimpi dan khayal masing-masing. Ia kemudian duduk, menggelesot di lantai. Dicobanya untuk memejamkan mata, mengenang semua yang baru saja dijalani, dialami dan dirasakan di Jakarta. Wajah Ajeng menguasai benaknya, berganti-ganti dengan senyum dan harap. Dalam hati ia berdoa agar ada kemudahan baginya dan Ajeng untuk bersatu, entah di Jakarta atau di Kutoarjo. Namun antara sebentar kemudian ia mengharap agar kemungkinan kedualah yang dikabulkan. Bayangan diri Kresna muncul kini, dan iapun mendoa kemudahan bagi sahabatnya untuk memulai hidup baru di Kediri. Dibisikannya pula perlahan doa untuk Yanti agar dapat segera kembali berkumpul di Kutoarjo. Dan tanpa dapat ditolak, bayangan Ipah bermunculan dan menari-nari menggoda dalam benaknya. Dan dengan mata terpejam serta bibir mengembang senyum ia mendoakan gadis penjual kopi itu.

Beragam-ragam harapan dan rencana kemudian terbangun, bercabang-cabang dan meruntuh dalam pemikirannya. Hatinya berandai-andai membawa Ajeng ke Kutoarjo dan menikahinya atau pula merantau ke Jakarta dan mencari pekerjaan bersama. Terlintas pula di benaknya untuk ikut melunasi hutang ayah Ajeng dan membangun rumahtangga di Temanggung. Sena terus merenung dan berandai-andai. Angin malam yang merasuk dari pintu gerbong yang tak tertutup rapat serta gemuruh suara roda kereta api yang melindas-lindas rel menjadi irama yang membuat ia semakin terkantuk-kantuk. Matanya semakin terasa berat, kehilangan daya pancarnya, dan tak lama kemudian iapun terpejam. Dan kereta api yang membawanya itu terus bergerak semakin menjauhi Jakarta dengan ratusan mimpi dan khayalan di dalamnya, dengan ratusan harapan yang berlain-lainan…melaju dan melaju terus ke timur menembusi gelapnya malam…

Melbourne, November 2004 – Purwokerto, September 2005

 dikenal dengan julukan Robot Gedek

1 maksudnya turun ke jalan, berdemonstrasi.

2 Orang gila (Jawa)

 Maksudnya buku berjudul Sarinah, karangan Ir. Soekarno

3 Sekolah Menengah Atas, kini SMU, Sekolah Menengah Umum.

 makan tak makan yang penting kumpul (Jawa)

 kemuliaan hidup (Jawa)

 kaya tanpa materi (Jawa)

4 aktivis buruh, sempat dipenjara di masa pemerintahan Orde Baru Soeharto.

 Aktivis pembela Hak Asasi Manusia, Direktur LSM Imparsial, meninggal dalam penerbangan Jakarta – Amsterdam.

 tramtib, singkatan dari Ketentraman dan Ketertiban

 Isteri (Betawi)

 singkatan dari toto gelap, sebuah bentuk perjudian.

enjauhi Jakarta dengan ratusan mimpi dan khayalan di dalamnya, dengan ratusan harapan yang berlain-lainan…melaju dan melaju terus ke timur menembusi gelapnya malam…

Melbourne, November 2004 – Purwokerto, September 2005

 dikenal dengan julukan Robot Gedek

1 maksudnya turun ke jalan, berdemonstrasi.

2 Orang gila (Jawa)

 Maksudnya buku berjudul Sarinah, karangan Ir. Soekarno

3 Sekolah Menengah Atas, kini SMU, Sekolah Menengah Umum.

 makan tak makan yang penting kumpul (Jawa)

 kemuliaan hidup (Jawa)

 kaya tanpa materi (Jawa)

4 aktivis buruh, sempat dipenjara di masa pemerintahan Orde Baru Soeharto.

 Aktivis pembela Hak Asasi Manusia, Direktur LSM Imparsial, meninggal dalam penerbangan Jakarta – Amsterdam.

 tramtib, singkatan dari Ketentraman dan Ketertiban

 Isteri (Betawi)

 singkatan dari toto gelap, sebuah bentuk perjudian.

SYNOPSIS

Kunanti Engkau Di Jakarta adalah novel mengenai keadaan Indonesia paska Reformasi 1998. Para pelaku yang terlibat di dalamnya adalah dua orang pemuda, yang pernah menjadi mahasiswa di masa-masa sukar Orde Baru. Ketika Orde Baru sudah tumbang, mereka mengalami hal yang sama dialami oleh para eks mahasiswa lainnya: bekas pahlawan yang terlupakan dan tetap tergilas oleh sisa-sisa penindasan dan korupsi.

Sena mencari kakaknya, seorang perempuan yang lemah dan berubah menjadi aktivis buruh yang radikal di Jakarta. Di Ibukota, ia menumpang pada kawannya yang lama, Kresna, mantan aktivis pergerakan yang karena kesulitan hidup mengandalkan hidup dari berjualan narkotika. Diantara kedua sahabat lama itu hadirlah Ajeng yang sama-sama disukai oleh keduanya. Namun Ajeng lebih menaruh simpati pada Sena. Kesulitan ekonomi, masa depan yang belum pasti membuat cinta mereka tidak pula bisa segera dipastikan.

BAGIAN I

 

Jalan raya Klender sudah terlihat dari kaca sebelah kiri. Pagar-pagar besi biru putih yang memisahkan jalan raya dan rel kereta api seolah berlarian bergerak kabur dalam pandangan mata. Berganti-ganti saja apa yang terlihat: tembok penjara yang berkawat, rumah toko, warung tenda, bus besar kecil, pejalan kaki, sungai dan parit, metromini, mobil pribadi, sepeda motor dan angkutan umum, jembatan layang, pohon-pohon. Tak lama kemudian kereta mulai melambatkan lajunya memasuki setasiun Jatinegara. Jalannya semakin melambat dan melambat. Sejauh pandang mata dilemparkan ke luar terlihat jalur-jalur kereta api yang terlihat amat banyak, bercabangan. Kereta api bergerak semakin perlahan dan perlahan.

Apa yang terlihat kini tak kabur lagi, semakin lama semakin jelas. Beberapa orang terlihat berjalan-jalan di antara rel dengan pakaian yang kotor kecoklatan dan tak terurus. Dua orang pemulung terlihat membawa karung besar memunguti apa saja yang dianggap dapat menghasilkan uang: botol plastik bekas air mineral, kertas karton. Seorang lelaki tak bercelana berjalan malas menyeret kaki dengan pakaian menghitam dan berlubang serta mata memandang kosong: orang gila. Agak jauh darinya berjalan bergerombol anak-anak kecil bergerombol membawa gitar kecil dan kendang bernyanyi-nyanyi. Kuning sinar matahari sore menyinari wajah-wajah mereka, wajah-wajah yang gembira.

Kereta memasuki setasiun nampaknya. Ah tak terasa, perjalananku seharian ini sudah hampir selesai’, pikir Sena. Dilemparkannya kembali pandangannya ke arah luar kereta, melihat kepada rel-rel dan anak-anak kecil itu. Pikirannya melayang pada peristiwa menggemparkan yang pernah dilihatnya di televisi beberapa tahun silam. Seorang sakit jiwa bernama Siswanto mencabuli belasan anak, beberapa diantaranya adalah anak-anak tunawisma Jatinegara. Kesemua anak itu kemudian dibunuh, perutnya disilet hingga ususnya terburai. Sena bergidik mengingatnya. Bunyi rem kereta yang mendecit dan menimbulkan bau yang khas membuyarkan lamunannya. Kini yang telihat di kedua bola matanya hanyalah orang-orang yang berkerumun di setasiun. Macam-macam sajalah penampilannya.

Orang-orang yang memenuhi setasiun itu ada yang nampak hendak menjemput, ada yang kelihatannya hendak bepergian. Ada yang berombongan, ada yang sendirian. Ada yang sedih, dan ada pula yang terlihat habis menguras air matanya. Banyak yang wajahnya terlihat biasa saja, tak sedih tak pula gembira. Banyak pula yang sukar ditebak kedalaman hatinya karena berkacamata hitam, laki-laki ataupun perempuan. Ada pula dilihatnya pasangan suami isteri muda begitu kerepotan mengganti celana pendek anaknya yang mengompol. Si lelaki, sang suami, bapak si kecil nampaknya tak sabar, karena si kecil menangis meraung sejadinya, tak mau berganti celana.

Para penumpang dalam kereta sudah mulai berdiri, bahkan sejak lama tadi, sejak kereta belum lagi memasuki setasiun. Mereka yang berkenalan dan saling menjadi kawan bicara di sepanjang perjalanan bersalam-salaman dan berpesan pada masing masing kawan barunya agar saling mengunjungi dan berharap dapat berjumpa lagi. Ada diantara mereka saling bertukar nomor telepon sambil berjanji akan bertandang suatu saat jika ada kesempatan. Sena bangkit dari duduk. Ia tidak berpisahan dengan siapapun di kereta itu. Sepanjang perjalanan, ia duduk disamping lelaki tua yang sama sekali tak mengajaknya bicara. Dan kawan duduk di sampingnya itu sudah lebih dahulu turun di Setasiun Bekasi. Diregangkannya tubuh ke depan dan belakang, mengusir penat. Dibetulkannya pakaiannya yang kusut, terbawa tidurnya barusan. Dikibas-kibaskannya baju bagian depan, dan dengan mulutnya ditiupinya dadanya yang basah berbintik keringat. Ia memandang ke atas, tempat ia menaruh ransel bawaannya.

Ransel hijau, bekas ransel tentara. Ia sendiri mendapatkan ransel itu dari kakaknya, seorang serdadu. Sebentar saja ransel itu sudah berpindah ke punggung. Mulailah ia berjalan di lorong gerbong kereta menuju pintu, berbaris mengantri bersama dengan orang lain yang hendak turun. Sesekali tubuhnya membungkuk dan matanya memandangi ke arah luar. ‘Semoga kereta ini tak terlambat’, pikirnya.

Kereta telah benar-benar berhenti kini. Ada didengarnya para penumpang mengucap syukur dalam Arab. Dan orang-orangpun berebut hendak turun. Di depannya seorang nenek berpakaian Jawa lusuh berjalan amat lambat. Dalam hati ia mengutuki mengapa nenek itu tak segera saja mati. Namun ia teringat pada neneknya sendiri, dan dengan begitu ia menjadi kembali sabar. Perlu waktu agak lama menanti orang tua itu tertatih keluar dari pintu kereta. Didengarnya beberapa penumpang yang mengantri di belakangnya menggerutu dan mulai mendesak desak punggungnya.

Sabarlah, ia orang tua. Tak mungkin aku mendorongnya,” kata Sena sambil menolehkan pandangan ke belakang, memandang tak senang. Sekaligus orang-orang yang tadi menggerutu dan mendesaknya terdiam. Nenek itu telah berhasil keluar setelah berjalan begitu lambat dan terseret-seret. Sena bergegas melompat dari gerbong.

Akhirnya sampai juga aku di Jakarta!,’ serunya dalam hati. Ia merasa lega. Setasiun Jatinegara yang panas, ramai akan orang dan ramai akan bau. Bau keringat, bau mesin kereta api, dan bau tubuh ratusan orang. Stasiun MeesterCornelis, demikian orang dahulu menyebutnya. Ia teringat: seorang kakek yang tinggal tak jauh dari rumahnya menyebut nama itu beberapa hari sebelum keberangkatannya dan menimbulkan kebingungan padanya. Dan kakek itu, yang padanya mengaku pernah tinggal di Jakarta pada awal revolusi 1945 menjadi bingung bukan kepalang, tak mengerti bahwa nama setasiun itu kini telah lebih dikenal sebagai Jatinegara.

Ia menengok ke depan belakang kanan dan kiri mencari-cari. ‘Di mana Kresna? Tiga hari lalu ia mengirim pesan dan berjanji menjemputku di sini jam empat sore. Tapi sekarang sudah jam lima ia belum nampak juga?’. Diraihnya sebatang rokok dari saku celana kirinya. Segera linting tembakau padat itu telah terselip di bibirnya. Ia mulai merokok, membakar rasa tak sabar dan kesalnya yang mulai tumbuh. Pandangannya diarahkan ke sekeliling.

Kereta yang baru saja ditumpanginya telah mulai bergerak lagi menuju kota. Belum juga nampak Kresna menjemput. Hatinya menjadi semakin kesal. Berjalan ia ke pinggir, bersandar pada dinding setasiun, meletakkan ransel dan melanjutkan merokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat. Pekat kental cokelat asapnya. Dirogohnya telepon genggam dari saku celananya dengan malas. Ia melirik: ‘tidak ada pesan baru!’. Dan ia buka lagi pesan pendek beberapa hari lalu yang masih di simpannya. Tidak salah, kawannya itu memang telah menyanggupi untuk menjemputnya hari ini.

Maaf Pak, apakah kereta api yang baru saja datang itu terlambat dari jadwal kedatangan?,” tanyanya pada seorang petugas berseragam biru yang kebetulan lewat. Orang itu menoleh dan kemudian menjawab:

Tidak, malah kereta itu lebih cepat limabelas menit dari biasanya. Memang ada apa?”

Oh tidak, kawan saya berjanji menjemput saya di sini. Saya takut kalau kereta ini terlambat datang dan ia kemudian pulang.”

Tunggulah saja di sini. Orang yang anda tunggu pasti akan datang,” orang berseragam itu berkata tanpa tersenyum dan segera berlalu. Sena mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Si seragam biru tak menyahut, terus berlalu.

Hatinya menjadi sedikit lebih tenang kini. Matanya bergera-gerak mengamati dan mencari kawan yang telah berjanji menjemputnya. Ketika sedang menanti tiba-tiba terdengar tangis putus asa seorang perempuan beberapa meter di sampingnya. Diliriknya ke arah kiri. Seorang perempuan berumur sekira duapuluhlima tahun mengenakan celana kain biru dengan baju kuning lengan panjang nampak sedang berurai air mata. Di sampingnya tergeletak sebuah travel bag. Beberapa lelaki mengerumuninya.

Lain kali hati-hati kalau membawa uang banyak di tempat umum, apalagi di setasiun seperti Jatinegara ini,” salah seorang dari lelaki yang mengerumuninya berkata. Menasihati.

Emang gimana kok sampai dompetmu hilang?”

Saya tidak tahu Pak, sungguh. Baru saja masih ada di sini ketika saya sedang membeli karcis,” ujar perempuan itu sambil menepuk pantatnya sendiri, menunjukkan kantong belakang celananya. Ia menangis lagi.

Kok bisa sampai kecopetan bagaimana?” tanya yang lain lagi.

Perempuan itu masih terisak, namun masih dapat menjawabi: “Tidak tahu. Saya baru saja mau membeli air minum di kantin,” tangan perempuan itu menunjuk ke sebuah kedai yang dimaksudkannya sebagai kantin itu.

Terus?”

Ketika saya rogoh celana, dompet saya sudah tak ada. Aduh bagaimana ini, uang itu adalah hasil saya bekerja selama hampir dua tahun jadi pembantu di sini. Apa kata Abah dan Umi nanti?” Perempuan itu terus mengeluh dan merintih. Ada terdengar sesekali ia meminta ampun pada Tuhan dan menyebutkan kesalahan-kesalahan dirinya sendiri. Ia meratap dan mengakui bahwa ia tak pernah bersedekah dan terlalu kikir dalam beramal. Sebentar kemudian ia membela diri :”Penghasilanku terlalu kecil, aku tak bisa bersedekah.” Tangisnya pun berlanjut. Melolong-lolong kini.

Kasihan sekali ia,” gumam seorang perempuan berbaju seragam sebuah supermarket.

Ya kasihan sekali,” gumam yang lain, seorang petugas kebersihan yang membawa tongkat pel. “Ia terlalu lugu. Banyak sekali copet di sini. Mestinya kalau ia sudah lama kerja di Jakarta ia sudah tahu. Hidup di Jakarta kalau tidak hati-hati bisa celaka!”. Seorang lelaki gemuk yang kebetulan melintas dan mempelajari apa yang telah terjadi sambil berlalu lagi mengatakan dengan pendek dan ketus: “Salahnya sendiri!” Beberapa orang yang lewat melongokkan kepalanya pula. Pertanyaan yang sama pun terlontar pada perempuan malang itu: Ada apa? Kenapa sampai hilang? Bagaimana ceritanya kok sampai hilang?. Dan sependengaran Sena, kesemuanya menutup pembicaraan dengan kalimat yang sama: Lain kali hati-hati! Dan semua kata-kata itu berbaur dengan bising suara orang di setasiun dan pengumuman serta peringatan datang dan perginya kereta.

Sena terus menengokkan kepalanya dan menajamkan pendengaran mengamati apa yang dilihat dan didengarnya itu. Seorang lelaki berumur sekitar empatpuluh lima, nampaknya petugas porter setasiun mengantar perempuan muda malang itu memasuki kereta api ekonomi yang akan ke arah timur. ‘Ah pencopetan, ada di mana saja. Tidak di kota besar tidak di kota kecil. Sama saja.’ Pikiran Sena melayang pada peristiwa yang pernah dialami Ibunya sendiri. Di sebuah pasar Ibunya kehilangan kalung emas. Untunglah ia mempunyai kenalan, seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya, yang berprofesi sebagai pencopet pasar. Melalui pertolongan kawannya itu kalung Ibunya dapat ditemukan kembali sebelum terburu dijual. Untuk itu ia mengganti sekedar uang rokok.

Sena!,” tiba-tiba terdengar suara memanggil. Suara seorang laki-laki. Ia segera memalingkan pandangannya dari kereta api yang membawa perempuan yang baru saja dicopet itu. Apa yang dilihatnya kini adalah seorang berperawakan tegap dengan jaket jeans tua namun nampak tercuci bersih. Pemuda itu terlihat melambaikan tangan. Rambutnya agak panjang mencapai pundak. Ia berkacamata hitam, mengenakan sepatu kets berwarna putih yang sudah berubah kecoklatan.

Aha…ha! Kresna, jadi juga kau menjemputku juga,” Sena memekik menyumpahi. Segera dihampirinya lelaki yang baru saja memanggilnya itu. Dipeluknya erat sambil berkata separuh berteriak.

Hampir aku putus asa menunggumu, keparat!”

Yang dipeluk hanya tertawa. “Apa kabarmu, Sen?,” Kresna bertanya setelah keduanya selesai berpelukan. Ada keharuan di wajahnya. Beberapa orang melihat pada mereka dengan pandangan aneh. Kedua pemuda itu tak peduli.

Baik,” Sena menjawab. “Baru dua tahun kita berpisah, rasanya sudah lama sekali, Kres!”

Engkau masih saja seperti dulu, kawan. Badanmu itu masih kurus seperti orang kena tuberkolosis,” Kresna berkata. Dibukanya kaca mata hitamnya itu. Terlihat kini matanya yang tajam bersinar-sinar memandangi Sena.

Orang susah dilarang gemuk, kau tahu?,” Sena tersenyum masam. Ia kemudian membalas:

Kau sendiri masih seperti dahulu. Rambutmu panjang tak beraturan. Aku heran, apakah kau selalu tak punya uang untuk bercukur? Lagipula, kau akan terlihat lebih tampan kalau berambut pendek, bung!”

Ah apalah arti rambut. Jangan kau nilai kecap dari botolnya. Tak akan mungkin kau bisa menilai mutu kecap dengan menjilati botolnya. Kita tak bisa menilai buku dari hanya sekedar melihat sampul mukanya saja.”

Sena menukas sengit: “Kau paling pandai berkilah!”

Ha…ha..ha, aku mengatakan yang sebenarnya, apa adanya. Sudahlah, ayo kita segera ke luar. Kau sudah makan? Mau apa kita sekarang? Ngopi-ngopi dahulu?,” Kresna menawari.

Sena tersenyum. Ia kemudian berkata:

Aku sudah makan. Tadi aku membeli nasi bungkus di Cirebon. Sepertinya kalau kita minum kopi dahulu akan lebih asyik.”

Okelah kalau begitu. Ayo!”

Dan keduanya kemudian bergegas berjalan ke luar setasiun. Petugas meminta karcis Sena yang segera disodorkan oleh pemuda itu. Seolah maling yang disergap polisi beberapa sopir taksi dan juga tukang ojek telah menghadang menawarkan tumpangan, namun kedua pemuda itu tak peduli. Mereka berjalan terus ke luar, menyusuri jalan. Sepanjang jalan, pedagang kaki lima sajalah yang terlihat. Macam-macam saja yang mereka dagangkan: radio, obeng, kaus, tas ransel, kaset dan VCD bajakan.

Ayo kita menyeberang ke sana,” Kresna separuh berteriak, mengajak kawannya itu, masuk ke dalam sebuah warung tenda tak jauh dari setasiun. Suara musik dangdut yang dipasang nyaris setiap pedagang serta gemuruh segala jenis kendaraan sepanjang jalan membuat mereka sukar mendengar apa yang dipercakapkan masing-masing.

Kedua pemuda itupun berkelebatan menyeberang jalan, menghindari berbagai kendaraan yang lewat dan saling salip. Dan dalam sekelebat pula mereka telah menemukan sebuah warung kopi.

Nah sekarang kita beristirahat sebentar di sini, Sen. Kau mau apa, kopi, teh, atau …,” belum sempat Kresna meneruskan kata-katanya, Sena telah memotong:

Kopi panas, yang kental dan manis!”

Kau tak mau bir?”, Kresna bertanya sambil memicingkan matanya. Alis matanya menaik, menunjukkan keheranan yang amat sangat.

Tidak, kopi saja. Sekarang bukan waktu berhura-hura!”

Kresna kembali memandang temannya aneh. Ia menahan tawa. Berkata kemudian: “Sungguh? Dahulu kau tak pernah menolak. Kau telah berubah sekarang!”

Pokoknya aku tak mau bir. Kopi panas, titik!”

Dulu kau yang sering membeli bir untuk kita, boss!”

Diam bangsat, aku mau kopi. Kalau kamu mau bir, minumlah untuk dirimu sendiri!”

Kresna tak membantah lagi. Ia memesan kopi panas sesuai permintaan Sena. Keinginannya untuk mereguk bir ia batalkan, sebaliknya ia memesan segelas kopi susu panas. Selesai memesan, ia bertanya lagi:

Kau mau makan?”

Sena menggelengkan kepalanya malas. Kepalanya menggeleng.

Mi rebus mungkin?”Kresna tak berputus asa menawarkan.

Sudah kukatakan padamu tadi, Kres, aku sudah makan di Cirebon. Aku masih kenyang.”

Kau bohong! Jangan kuatir, aku yang bayar. Aku kaya.”

Perlu aku muntah supaya kau percaya masih ada nasi bungkus di dalam perutku, Kres?”

Kresna tertawa demi melihat wajah jengkel sahabatnya itu.

Sena mengeluarkan Dji Sam Soe. Tiga batang telah ia hisapi sepanjang perjalanan dari Kutoarjo menuju Jakarta. Jumlah yang sedikit, sepertiga dari yang biasa ia mampu hisap dalam setengah harinya. Diambilnya sebatang, setelah itu disodorkannya bungkus rokok berwarna kuning itu pada Kresna.

Merokoklah.”

Terimakasih. Aku punya rokok sendiri”.

Ambillah..,” Sena terus menyodorkan rokoknya. Matanya menatap meyakinkan

Kresna hanya mendengus dan mengambil sebatang.

Aku membawa beberapa bungkus lagi, cukup untuk kita hisapi seminggu berdua.”

Good

Sena mengeluarkan korek api dari saku celananya. Dinyalakannya korek api itu, dan disulutkannya ke rokok. Setelah itu masih dengan batang korek yang sama disulutnya sigaret kawannya itu. Asap kental membubung dan mengepul dari mulut kedua pemuda itu. Keduanya kini asyik dengan asapnya masing-masing.

Seorang gadis datang dengan dua gelas kopi di tangannya. Dari penampilannya dapat ditebak masih mudalah umurnya. Wajahnya lebih dari cantik. Rambutnya dipotong pendek, tak sampai menyentuh pundak. Alisnya tipis. Matanya bulat berbinar. Ia memakai pakaian yang tak terlalu ketat, namun masih menonjolkan keindahan alami tubuhnya. Diletakannya kopi di hadapan Sena dan Kresna. Tersenyum ramah ia pada kedua sahabat itu.

Diminum kopinya, bang.”

Gadis itu kemudian berlalu, masih dengan senyum yang memekar.

Terimakasih,” kedua sahabat itu menjawab serempak, perlahan, seperti tersihir dan lumpuh. Antara berapa lama mata keduanya mengagumi gairah yang ditebarkan gadis itu.

Siapa namamu?” Sena bertanya pada gadis itu, namun yang ditanya tak mendengar dan terus berjalan ke arah belakang warung. Suara musik dangdut dari warung-warung tenda dan kakilima di sekitar Setasiun Jatinegara telah menjadi penghalang niatnya untuk berkenalan dengan gadis itu. Kresna tertawa senang demi melihat raut kecewa pada wajah kawannya itu.

Sudahlah, lupakan dia. Ayo diminum kopimu itu.”

Sena menggerutu dan kemudian menghirup kopi panasnya. Namun ia belum berputus asa. Demi dilihatnya gadis itu keluar dan membersihkan meja di samping tempat mereka duduk ia bertanya lagi:

Siapa namamu?” kali ini Sena bertanya lebih keras. Gadis itu menolehkan kepalanya, dan melihat pada Sena. Ia kemudian tersenyum dan menjawab:

Nama saya? Ipah.”

Hanya Ipah?”

Nining Saripah,” gadis itu menjawab cepat separuh berteriak Tangannya mengelap meja kuat-kuat dengan lap berwarna cokelat di tangannya. Bibirnya masih mengembang senyum.

Kau pasti dari Jawa Barat!”

Kok tahu?”

Dari namamu.”

Huh, bisa aja!”

Nining Saripah atau Ipah melirik pada Sena. Lirikan yang menggairahkan. Tangannya masih sibuk membersihkan meja di samping meja kedua pemuda itu. Ia kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Kresna memulai menyeruput kopi susunya. Matanya ikut mengawasi Ipah.

Tasik?” tanya Sena lagi.

Ipah menggeleng.

Garut?” Sena kembali menebak.

Bukan!”

Kuningan?”

Dua orang pemuda datang bermain gitar. Mengamen. Ipah berlari kecil ke belakang dan segera kembali sambil menyerahkan dua keping uang logam seratusan pada pengamen itu. Bertanya Sena lagi, semakin penasaran:

Kau dari Kuningan ‘kan?”

Ipah menggeleng lagi. Tersenyum dikulum dan kemudian berkata:

Sumedang.”

Oohh…Sumedang. Berapa umurmu sekarang?” Sena bertanya lagi.

Delapanbelas,” Gadis itu menjawab lagi.

Berapa?” Sena bertanya lagi, “Aku tak mendengar!.”

Ipah kemudian menyebutkan lagi umurnya. Seorang pengunjung datang. Seorang laki-laki membawa tas besar. Sepertinya ia pedagang keliling. Wajahnya nampak lelah dan kuyu. Ia memesan segelas kopi dan mi rebus pada Ipah.

Maaf bang, saya mesti bikin kopi lagi. Permisi,” dan gadis itu dengan segera berlalu menuju ke belakang warung. Sena mendengus, dan kemudian menghirup kopi panasnya. Ia kembali menatap Kresna dan berkata perlahan:

Sayang benar dia. Semanis itu wajahnya dan semuda itu umurnya hanya bekerja di warung kopi. Kalau ia menjadi mahasiswa, atau kuliah diploma sekretaris, pastilah ia bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi pelayan warung kopi di sini.”

Tapi siapa yang hendak membiayainya? Kalau ia anak orang kaya, takkan ia menghabiskan waktunya bekerja di sini. Uang, uang yang membuat ia harus bekerja di warung kopi!”

Aku ragu kalau ia bersekolah sampai SMP.”

Mungkin ia hanya bersekolah hingga SD,” Kresna menimpali tak acuh sambil membaca potongan koran bekas yang tergeletak di atas meja.

Banyak orang tak punya biaya sehingga tak bisa sekolah seperti Ipah ini. Kasihan dia.”

Tak selamanya karena kekurangan biaya orang tak bersekolah, Sen. Pendapat yang dangkal itu namanya,” Kresna menukas. Ia memandang wajah Sena dengan sungguh-sungguh, kemudian berkata lagi:

Ada kalanya orang tua memang tak menginginkan anaknya untuk bersekolah tinggi-tinggi.”

Sena memotong: “Itu ‘kan dulu. Jaman sekarang sudah tak ada orang berfikiran seperti itu.”

Naif kau” Kresna tak kalah memotong. Ia kemudian melanjutkan:

Siapa bilang jaman sekarang sudah tak ada lagi orang yang menginginkan anaknya bersekolah tinggi? Bahkan pamanku sendiri begitu.”

Pamanmu? Masa?!”

Ya. Pamanku sendiri. Adik Bapakku. Ia punya usaha toko grosir yang besar di Kediri, tapi tetap saja anaknya tak bersekolah setelah tamat sekolah dasar. Baginya asalkan si anak sudah bersekolah dan bisa membaca serta berhitung, itu sudah cukup. Selanjutnya ia akan mengajari anaknya untuk berdagang.”

Mereka tak percaya pada pendidikan barangkali,” Sena berkata.

Mereka telah terdidik dan terkondisikan bahwa yang penting adalah menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak penting apakah mereka itu bodoh atau tidak. Yang jelas, yang ada di batok kepala mereka adalah berdagang dan berdagang serta mendapat keuntungan.”

Sena menimpali: “Ya, dan oleh karenanya tak jarang kita lihat orang yang begitu kaya, pengusaha truk, pemilik pangkalan minyak adalah orang yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau paling jauh sekolah menengah. Sementara kita yang sudah sarjana masih saja seperti ini, mencari pekerjaan kesana kemari,” Sena tertawa. Kresna ikut tertawa.

Sena menuang kopi yang masih mengepul panas itu ke dalam lepek. Kresna melakukan hal yang sama pada kopi susunya. Untuk beberapa saat keduanya asyik menyeruput minuman panas warung itu. Asasp beterbangan di sekitar mereka. Asap dari mulut mereka berdua, dan asap dari pengunjung warung barusan. Antara berapa lama, Kresna memulai kembali pembicaraan:

Bagaimana perjalananmu seharian tadi? Lelah kau?”

Sena meregangkan tangannya menjawab: “Lumayan juga. Kau tahu bagaimana rasanya naik kereta ekonomi. Panas dan pengap. Setiap saat kita mesti mau berhenti, di setasiun manapun kereta api diberhentikan, bahkan di tengah sawah sekalipun. Kereta ekonomi harus mengalah pada kereta api bisnis, apalagi kereta kelas eksekutif.”

Lain kali kalau kau hendak ke Jakarta, pastikan dirimu sudah cukup kaya!”

Mengapa?”

Supaya kau tidak perlu merasa lelah, dan aku bisa menunggu di ruang tunggu kelas eksekutif, tidak di peron dan mencarimu dengan berdesak desakan seperti tadi!,” gerutu Kresna. Si rambut panjang itu kemudian melanjutkan:

Ada kau berkenalan dengan gadis cantik di kereta?”

Sena tak segera menjawab. Matanya masih berusaha mencari Ipah. Ada gadis itu dilihatnya sedang mencuci gelas dan piring di dalam ember bersama seorang lelaki tua. Mungkin ayahnya. Ipah tak melihat padanya. Kresna menuang kembali kopi panas ke dalam lepek dan kemudian menyeruputnya. Matanya melirik pada Sena, menunggu jawaban.

Gimana. Kenalan dengan cewek tidak?”

Agak berapa lama baru Sena menjawab, “Huh, tidak. Sepanjang perjalanan aku duduk dengan seorang lelaki tua, seorang kakek. Dan ia sama sekali tak mengajakku berbicara. Ia hanya merokok dan merokok Seingatku, sejak dari Setasiun Kroya dimana ia naik, hanya rokoklah yang memasuki mulutnya. Tak pernah sekalipun aku melihatnya minum.”

Kau menemukan teman perjalanan yang cocok!”

Ah tidak.”

Kenapa tidak?”

Ia tak pernah menawariku rokoknya itu,” Sena menggerutu, kemudian melanjutkan: “Lagipula seandainya aku ditawaripun aku takkan mau. Ia merokok kemenyan!” Keduanya lantas terbahak-bahak. Dari kejauhan Ipah melirik memandangi kedua pemuda yang sedang merayakan perjumpaannya itu. Kresna dan Sena kembali asyik dengan sigaret dan kopinya masing-masing. Antara berapa lama kemudian Kresna berkata: “Jadi maksudmu ke Jakarta hendak mencari kakakmu, Sen?”

Sena menganggukkan kepalanya, menjawab:

Ya. Aku harus dapat menemukannya. Bapak menyuruhku untuk segera menemuinya di Jakarta. Yanti , kakakku itu, sudah empat tahun ini tak kembali pulang ke rumah. Ibuku sakit-sakitan dan terus memanggilnya. Maklumlah, dahulu hanya dia seorang yang paling menjadi kesayangan Ibu, karena ia satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Bapak ingin ia kembali pulang ke rumah demi kesembuhan Ibu.”

Ibumu? Sakit apa dia?” Kresna memandang wajah sahabatnya itu dengan sungguh-sungguh. Ada dirasainya kesedihan dan keprihatinan yang dirasakan oleh Sena.

Tak tahulah. Kami sudah habis pikir dengan sakit Ibu. Kami sudah membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang, Ibu hanya menderita gejala tipus biasa. Ibu sempat beberapa hari tinggal di rumah sakit. Namun tak sampai dua minggu kami terpaksa membawanya pulang, karena semakin lama biaya rumah sakit juga semakin mahal.”

Aku turut prihatin.”

Terimakasih.”

Kau sudah mencoba pengobatan alternatif?”

Ke dukun maksudmu?”

Kresna buru-buru membenarkan ucapannya: “Maksudku ke orang pintar, tidak harus ke dukun. Ke kyai atau ulama misalnya. Biasanya mereka mempunyai kemampuan yang tak dimiliki orang biasa untuk menyembuhkan.”

Sena menghela nafas sebentar. Ipah melihat padanya masih dengan tersenyum. Dan iapun tersenyum pada gadis itu. Kresna menendang kaki kawannya itu, yang membuat Sena tersadar dari lamunannya. Sena meneguk kopinya yang mulai mendingin dan menjawab:

Kami sudah mengupayakan hal itu. Kata orang pintar, tidak ada masalah dengan kesehatan Ibu. Kami menduga, ibu hanya stres berkepanjangan akibat tiadanya kabar dari kakakku Yanti.”

Apa kau tahu keadaan atau kabar kakakmu di Jakarta ini?”

Aku tak tahu pasti. Sudah empat tahun ia pergi dan empat tahun pula ia tak memberi kabar. Bapak mengusirnya karena ia tak mau dikawinkan dengan laki-laki pilihan Bapak. Ia sakit hati,” Sena berkata sambil perlahan-lahan memukuli gelas kopinya dengan sendok, menimbulkan suara berdenting-denting.

Ah…jaman sekarang, masih saja ada perjodohan. Orang dipaksa kawin dengan seseorang yang tak dicintainya. Sungguh tak masuk akal,” Kresna menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

Sebenarnya, Bapak juga tak bersungguh-sungguh hendak mengusirnya. Bapak waktu itu hanya kalap saja, karena upaya Bapak untuk meyakinkannya bahwa pilihan Bapak adalah yang baik baginya tak pernah mempan. Kakakku lebih memilih Ardi, pemuda yang saat itu masih menganggur, dan pendidikannyapun tak tinggi. Ardi memang pernah kuliah, namun tak sampai selesai. Sedangkan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak adalah seorang guru sekolah dasar, seorang pegawai negeri, sarjana pula!”

Kresna terdiam demi mendengar kisah kawannya itu. Ada rasa simpati pada Sena. Ia kemudian berkata lagi:

Lantas darimana engkau tahu bahwa ia ada di sini?”

Sena meneguk kopinya hingga tandas hingga ke ampasnya. Kresna menawarinya untu memesan gelas kedua, namun dengan isyarat tangan Sena menolakdan terus mengisap rokoknya yang telah memendek dan kemudian berkata:

Ada orang kampung yang baru pulang dari sini mengabarkan bahwa ia mengetahui kakakku tinggal di Jakarta. Ia memberi kami alamat tinggal kakak. Ini aku membawa alamatnya,” Sena mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Diulurkannya pada Kresna.

Aku harap ia masih tinggal di alamat itu, Kres. Kau tahu tempat seperti yang tertulis dalam kertas ini?”

Dengan tangan kirinya Kresna menerima potongan kertas yang sudah mulai berwarna coklat dan kumal itu. Ia membaca tulisan di kertas itu dan berfikir. Matanya menerawang ke luar, ke arah jalan raya. Beberapa kali ia menatap kembali alamat yang ditulis dengan tinta hijau yang sudah terlihat memudar itu. Matanya berpindahan dari kertas, ke arah jalan raya, kemudian menatap Sena, dan kembali lagi menatap kertas. Beberapa saat kemudian diserahkannya kembali lembaran putih kecoklatan itu pada Sena.

Tahu tidak?” Sena menjadi gusar. Disemburkannya asap rokok kuat-kuat ke wajah sahabat lamanya itu. Yang ditanya menjawab:

Ya, agak jauh dari sini. Tapi kurasa itu bukan perkara sukar. Aku bisa mengantarmu ke sana, asal kau mau bersabar, karena mencari alamat di Jakarta bukan perkara mudah.”

Tapi kau kira-kira tahu atau tidak tempat itu?” Sena terus memburu. Matanya lekat-lekat mengawasi wajah Kresna, sahabat lamanya itu.

Kresna nampak kembali berfikir. Matanya kembali menerawang ke luar.

Sena menjadi tak sabar. Kembali ia bertanya:

Tahu tidak kau, bangsat!?”

Perlahan Kresna menoleh pada Sena, mengisap rokoknya dan menjawab sehingga asap keluar berdesakan dari mulutnya yang berbicara: “Insya Allah aku tahu tempatnya. Aku pernah lewat daerah itu, walau tidak sampai masuk ke jalan yang tertulis di kertas ini. Tapi lepas dari itu, yakinlah. Kita akan coba. See how it goes!”

Yah…let’s see how it goes,” Sena menimpali perlahan. Diseruputnya air sisa kopi yang tinggal berapa tetes itu.

Ngomong-omong, apa yang kau lakukan di Kutoarjo setelah selesai kuliah?” Kresna bertanya, mengganti pembicaraan.

Aku bekerja serabutan. Apa saja kulakukan. Menjadi makelar berbagai macam barang seperti sepeda motor, ke desa-desa mencari ayam kampung untuk dibuang ke Jakarta, jual beli handphone…, jual pakaian, apa saja kulakukan, asal aku bisa dapat uang, asal aku bisa beli pulsa dan rokok. Tentu saja sepanjang yang kulakukan itu halal. Kau tahu sendiri, Kutoarjo bukanlah kota besar.” Sena berkata lagi:

Sekarang ini aku sedang merintis usaha peternakan puyuh.”

Hey menarik sekali. Tak kusangka kau berbakat sebagai peternak. Sudah kaya kau rupanya.”

Ya, namun harus kau ingat. Puyuh adalah binatang yang sangat rentan dengan penyakit. Resiko meruginya besar kalau kita memelihara puyuh. Apalagi belakangan hari ini sedang marak wabah flu burung.”

Kresna mengangguk-angguk mendengarkan ceritera sahabatnya itu. Sena melanjutkan lagi:

Kau tahu, setelah aku lulus menjadi sarjana, orangtuaku berharap aku bisa bekerja mapan. Dan kau juga tahu apa yang mereka maksudkan dengan mapan. Bekerja di kantor, menjadi pegawai. Dan kalau bisa, menjadi pegawai negeri, atau pegawai pemerintah.”

Harapan yang wajar dari orang tua.”

Ya. Tapi sayangnya aku tak pernah tertarik untuk menjadi seperti apa yang diinginkan Bapak dan Ibuku. Aku lebih suka bekerja sendiri. Menjadi majikan bagi diriku sendiri dan menjadi buruh bagi diriku sendiri. Berdikari.”

Berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno!” Kresna menyahut cepat, melengkapi.

Ya, persis!.”

Kresna menganguk-angguk mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia berkata bahwa ia sangat mengerti, karena tuntutan yang sama terhadap dirinya pernah ia alami. Diceritakannya peristiwa lebih dari dua tahun silam. Ayah menyuruhnya menjadi pegawai kecamatan, menggantikan dirinya. Kresna menolak, karena itu sama saja dengan nepotisme, perbuatan yang ia kutuk ketika menjadi mahasiswa. Ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta, sendirian. Dan ia tahu betapa hati ayahnya itu sangat terluka. Bukan saja karena Kresna adalah anak lelaki yang selalu dibanggakannya sejak kecil, akan tetapi dengan bekerja di desa, di kantor kecamatan, ada harapan bahwa kelak, Kresna bisa merawatnya melalui usia senjanya. Kepergian Kresna membuat sang ayah harus hidup sebatang kara, karena semua saudara Kresna telah bekerja di tempat lain yang jauh dari desa tempat mereka tinggal di Kediri. Ibunya sendiri telah lama meninggal dunia, sakit yang tak tersembuhkan.

Merintis hidup memang tidak mudah Sen. Aku berdoa dan aku harap engkau berhasil dalam pekerjaanmu kali ini. Lakukan apa saja asal jangan nyolong dan mengambil hak orang lain.”

Semoga saja.”

Hening kini. Seorang anak kecil datang meminta uang. Kedua pemuda itu hanya memandangi bocah kecil itu dan memberi isyarat bahwa mereka tak hendak beramal hari itu. Si bocah kecil pun berlalu sambil menggerutu.

Kalau begitu ayo kita segera ke tempat kontrakanku. Kita bisa beristirahat lebih lega dan ngobrol lebih banyak di sana, bagaimana?”

Jauhkah kamar kontrakanmu itu dari Jatinegara ini?”

Tidak juga.”

Berapa lama sampai ke sana?”

Kira-kira satu jam. Itu kalau jalanan tidak begitu macet.”

Sudah lama kau tinggal di sana?”

Belum lama juga, tapi sudahlah yang penting kita sampai dahulu di sana, baru kita bisa bercerita lebih banyak.” Sena tak menghiraukan perkataan kawannya itu.

Satu pertanyaan lagi, adakah gadis cantik yang tinggal dekat tempat tinggalmu?”tanya Sena. Ditinjunya perut Kresna perlahan.

Diamlah kau!” Kresna tertawa, tak menjawab pertanyaan temannya

Baiklah kalau begitu,” sahut Sena sambil mendengus kecewa, kemudian tertawa pula.

Kresna merogoh uang dari saku celananya. Sena dengan sigap mencegah, dan dengan sisa uang kembalian tiket kereta api ia membayar minuman mereka siang itu. Empat ribu limaratus perak untuk dua gelas kopi dan dua potong pisang goreng. Ipah menerima uang itu dengan tersenyum dan melambaikan tangannya pada kedua pemuda itu. Perempuan muda itu berkata: “Sering-sering mampir ke mari.” Kresna dan Sena tak menjawab, hanya mengangguk dan membalas senyum.

Kedua sahabat itu berjalan ke luar warung. Kembali mereka menghirup panas dan pengap udara asap kendaraan yang lalu lalang di sekitar setasiun. Beberapa tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasa. Taksi-taksi melambatkan lajunya dan menawarkan tumpangan tanpa argometer. Kedua pemuda itu menolak dan mengembangkan senyum terimakasih. Mereka terus berjalan dan tepat di tikungan jalan mereka melompat ke dalam sebuah mikrolet jurusan Kampung Melayu – Pasar Minggu yang masih berjalan cukup kencang. Angkutan umum berwarna biru muda itu membawa dua sahabat itu jauh meninggalkan Jatinegara, ke selatan Jakarta. Asap kendaraan terus mengepul memenuhi jalan. Langit tidak cerah tidak mendung. Jakarta tetaplah Jakarta, ramai dan tak pernah berhenti bernafas, bersuara,….dan melenguh.

Metro mini berjalan melambat. Serombongan orang tampak menyeberang jalan secara bersama-sama. Dua sahabat itu berkelebatan melompat keluar dengan lincah. Mata mereka liar menengok kanan kiri menerobos kendaraan yang melaju di samping metro mini. Seorang tukang ojek yang nyaris menyerempet berteriak mengumpati:

Nyebrang yang benar dong, goblok lu!.” Pengendara motor yang lain meneriaki sambil melotot, namun kedua pemuda itu tak memedulikan. Kresna berjalan agak cepat di depan. Sena mengikuti. Agak kepayahan ia mengikuti langkah kawannya itu karena ransel hijau di punggungnya yang cukup berat. Dari pinggir jalan mereka memasuki gang sempit yang kian lama kian menurun. Sempit sekali gang itu, hanya cukup untuk dua orang yang berpapasan. Itupun pasti bersenggolan badan. Setelah berjalan separuh berlari selama hampir sepuluh menit, mereka kemudian sampai ke jalan yang lebih datar dan melebar. Sena terus saja berjalan cepat mengikuti sahabat lamanya itu tanpa banyak bertanya. Dalam hati ia mengeluh, sejak dari mulut gang bau kencing manusia dan bau selokan lah yang menusuk penciumannya. Kresna terus berjalan dan berjalan. Terkadang seperti berlarian kecil. Beberapa anak kecil meneriakinya karena ia menendang mobil mainan milik salah seorang dari mereka hingga terpental ke parit.

Pada ujung gang, Kresna membelok ke arah kiri dan melangkahkan kaki sekira sepuluh meter. Ia kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua. Sekaligus Seno yang ada di belakangnya ikut menghentikan langkah. Kresna membalikkan badan, berkata:

Di sini tempat aku tinggal, Sen. Selamat datang.

Yang diajak bicara tak segera menjawab. Mendengus kepayahan. Bajunya tampak membasah oleh keringat. Ia kemudian berkata:

Jauh juga. Sudah berapa lama kau tinggal di sini?”. Mata Sena berpendaran mengamati suasana sekitar. Rumah itu buatan tahun 1963, terbaca dari lubang angin di tembok depan bagian atas. Beberapa eternitnya nampak sudah menjuntai ke bawah, hijau menghitam ditumbuhi lumut. Sebagian besar temboknya pun berlumut dengan cat yang telah lama mengelupas. Sena teringat dengan eternit rumahnya senidiri yang tak jauh berbeda. Hitam melumut. Itu karena genting banyak yang pecah dan bocor. Sepanjang halaman rumah itu dipenuhi guguran daun-daun berwarna cokelat. Hanya beberapa pot berisi bunga mawar yang nampaknya betul-betul dirawat oleh penghuni rumah. Nafas Sena masih turun naik. Badannya berkeringat. Ransel diletakan begitu saja di tanah yang becek. Ia tak peduli ranselnya akan menjadi kotor. Ia begitu lelah.

Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan dari kawannya itu, Kresna membuka pintu pagar yang sudah berkarat dan menimbulkan suara mendecit memilukan itu kemudian melangkah masuk diikuti oleh sahabatnya. Dengan isyarat mata, ia menyuruh Sena untuk menutup kembali pintu pagar. Sena menurut dengan mengikutinya dan menutup kembali pintu pagar itu. Kresna terus berjalan memasuki pelataran rumah, menuju ke sebuah pintu di sebelah kiri rumah. Dikeluarkannya kunci dari kantong jaket, kemudian dibukanya pintu kamarnya.

Nah silakan masuk, kawan. Selamat datang di kamarku.”

Kedua pemuda itu memasuki sebuah kamar. Kamar itu tidak luas tidak pula sempit. Sena menengadah ke langit-langit. Ia menjumlah eternit yang ada di kamar itu. ‘Empat kali empat setengah meter. Cukup luas. Kamar tidurku di Kutoarjo tidak seluas ini,’ pikir Sena.

Tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk bertahan hidup di Jakarta. Di sini aku tinggal sejak dua tahun terakhir ini,” Kresna berkata seolah mengetahui apa yang ada di fikiran kawannya itu.

Sena melepas kaus kaki dan memasukannya ke dalam sepatu yang terlebih dahulu telah dilepaskan ketika ia memasuki kamar. Diletakkannya ransel di dekat sebuah meja di samping tempat tidur. Ia menghempaskan badannya, berbaring di tempat tidur.

Matanya memandangi isi kamar sahabatnya itu. Sebuah meja tulis dan kursi lipat terletak di samping tempat tidur. Kipas angin kecil yang terletak di atas meja terus berputar menghembuskan angin sejuk padanya. Rupanya Kresna tak pernah mematikan kipas angin itu. Beberapa foto tergantung di tembok. Foto ayah ibunya ada di tengah-tengah. Ada pula beberapa foto semasa ia menjadi mahasiswa, berambut panjang menyentuh pinggang memegang megaphone dalam sebuah unjukrasa bersama petani. Sebuah lukisan gadis berambut panjang separuh telanjang yang menaiki kuda terbang berwarna putih dan bersayap keemasan juga tergantung tepat di atas meja, lukisan Kresna sendiri. Sena masih mengenal lukisan itu. Lukisan itu jualah yang dahulu tergantung di kamar kos Kresna ketika ia masih menjadi mahasiswa. Ia masih ingat, Kresna mengatakan bahwa sosok gadis itu adalah perempuan dalam khayalnya yang menaiki Pegassus, kuda dalam mitologi Yunani. ‘Kuda itu sedang dalam perjalanan suci membawa gadis impianku ke hadapanku,’ demikian Kresna dahulu selalu berkata padanya.

Ngopi lagi, Sen. Aku tak punya teh, karena hanya kopi saja yang aku minum. Ayo sikat!,” suara Kresna membangunkan Sena dari lamunan. Kresna meletakkan gelas berisi minuman panas berwarna hitam itu di atas meja. Ia kemudian melepas baju yang kemudian disampirkannya begitu saja di kursi lipat. Sejenak ia mengatur nafasnya, memandangi dadanya sendiri yang juga berkeringat. Kemudian dirogohnya bungkusan sigaret di saku celananya, mulai merokok. Setelah beberapa kali hisapan ia berkata, perlahan:

Seperti inilah hidupku, kehidupanku. Hidup mengontrak kamar… jauh di dalam kampung pinggiran Jakarta,” Kresna berhenti sejenak. Dipandanginya sigaret di jemarinya. Ditiup-tiupnya pada bagian ujung yang menyala membara. Dengan sendok diambilnya ampas kopi dari dasar gelas kopinya sendiri dan ditorehkan pada sigaretnya. Dihisapinya kembali rokoknya itu, dan tak berapa lama kemudian berkata lagi:

Kau mengerti sendiri betapa jauhnya kamar ini dari jalan raya, apalai dari pusat kota. Untuk menyewa kamar di daerah perkotaan rasanya tidak mungkin bagiku. Terlalu mahal. Di sini aku bisa membayar sedikit murah.”

Sena menukas cepat:

Setidaknya kau bisa berbangga bahwa kau sudah hidup mandiri. Lihatlah aku ini. Aku belum lagi mandiri. Aku masih makan, mandi, tidur menumpang pada orang tuaku.”

Tapi setidaknya kau juga membantu biaya sehari-hari kan? Maksudku dari usahamu beternak puyuh, menjadi makelar sepedamotor kau bisa membantu membayar pengeluaran seperti listrik, air dan..”

Sudah barang tentu,” potong Sena. “Dari usahaku itu aku bisa membayar tagihan listrik. Untuk air, kami tak perlu membayar, karena kami menggunakan air sumur.”

Oh ya, aku lupa. Rumahmu tak memakai air ledeng. Baguslah kalau begitu. Aku sendiri mau tak mau memang harus mengontrak kamar seperti ini, kecuali kalau ingin tinggal di bawah kolong jembatan. Dan aku tak mau tinggal di bawah kolong jembatan yang dingin dan bau air kali Jakarta yang busuk, coklat dan menghitam,” Kresna berkata.

Berapa harus kau bayar sebulannya untuk menyewa kamar ini?”

Sebulannya?”

He-eh.”

Kresna terdiam sejenak. Matanya menatap tembok, namun bukan tembok yang sengaja dilihatnya. Pemuda itu nampak sedang menghitung-hitung dalam lamunannya.

Tak pasti,” Kresna menghela nafas. Dihisapinya kembali rokoknya dengan khidmatnya beberapa kali. Terbatuk batuk sebentar, Ia kemudian meraih sebuah radio kecil. Jari jarinya memutar-mutar tombol gelombang yang sesuai dengan keinginan hatinya. Terdengar musik Hawaiian. Kresna rupanya menyukai musik itu. Ia berhenti dari mencari gelombang. Diletakannya kembali radio itu dan berkata.

Aku membayar kamar ini semampuku.”

Kok bisa?”

Pemilik rumah tak begitu peduli berapa aku mau membayar. Mungkin karena mereka menganggap aku ini sudah seperti anak mereka. Kadang, oleh karenanya, aku membantu menyapu, mengepel, dan membuang sampah. Begitulah. Tapi aku juga harus cukup puas dengan kamar ini. Tak terlalu besar memang.”

Sekali lagi kamar ini sudah lebih dari cukup kawan,” ujar Sena.

Kresna tertawa dan tersenyum simpul. “Ya, memang. Bagiku yang penting asal aku bisa tidur dan tidak kepanasan dan kehujanan saja.” Ia kemudian menyambung: “dan yang penting aku tidak tinggal di bawah kolong jembatan.”

Sena bertanya heran: “Mengapa kau selalu membandingkan dengan kolong jembatan. Mengapa kau begitu sinis dengan penghuni kolong jembatan?”

Kresna tertawa. Dijentikannya abu rokok ke dalam asbak. Berkata ia:

Karena di Jakarta, kalau engkau hendak mencari tempat tinggal tanpa bayar, maka jawabannya adalah di bawah kolong jembatan. Aku kira tolok ukur kegagalan seseorang yang berjuang di Jakarta yang paling dasar adalah ketika ia sudah tak mampu menaungi tubuh dan kepalanya sendiri dari hujan, panas dan angin dengan layak, ha…ha..ha,” Kresna tergelak. Dengan begitu, matanya menjadi menyipit. Tak sampai lima detik kemudian ia berkata lagi dengan tawa yang mulai mereda:

Ehem, tapi aku tak tahu pula. Mungkin saja sekalipun tinggal di kolong jembatan, di Jakarta ini orang harus bayar. Maklum di sini banyak preman berkeliaran, ha..ha..ha..ha..,” Kresna tergelak lagi.

Sena hanya mengangguk demi mendengarkan perkataan kawannya itu. Kresna kemudian berkata:

Apapun keadaan kamarku ini, semoga bisa membuatmu betah selama di Jakarta ini, Sen.”

Terimakasih sudah memberi aku tumpangan. Kamarmu ini sudah lebih dari bagus.”

Kau bisa bayar dengan menggorengkan untukku daging puyuh kalau suatu saat nanti aku ke Kutoarjo”

Gampang itu” Sena menukas.

Sena bangkit dari tempat tidur. Ia kini duduk bersila di tepi kasur, mulai merokok. Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan asap dan kopi masing-masing. Yang terdengar adalah musik Hawaiian dari radio dan suara mangkok yang dipukuli dengan sendok oleh pedagang siomay dan pedagang bakso. Kamar itu pun semakin menjadi pengap berasap. Kipas angin kecil yang terus berputar tak berdaya mengusir asap yang melayang dan berubah-ubah bentuk itu. Seolah mengerti dengan dengan keadaan, Kresna segera menghampiri jendela. Dibukanya jendela itu. Angin bertiup dari luar, mengusir asap-asap yang berkecamuk melayang-layang. Dan dengan terbukanya jendela dan masuknya angin ke dalam rumah, terlihatlah oleh Sena seorang gadis sedang duduk di loteng rumah sebelah. Hanya sedetik dua, namun telah membangkitkan kekaguman dan rasa untuk memiliki yang mendalam. Rambut gadis itu hitam dan tebal tergerai dipermainkan angin. Ia nampak sedang membaca sebuah buku, dan tak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengaguminya dengan sungguh.

Kau lihat dia?” Kresna bertanya. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok. Dijentikannya kembali abu rokok ke dalam sebuah botol pecah yang dijadikannya asbak. Matanya memandangi gadis yang terlihat oleh matanya itu.

Mmm, ya,” Seno menjawab, pura-pura acuh. Matanya kembali mengawasi gadis itu.

Kresna berkata lagi : “Ajeng namanya.”

Ajeng?, nama yang sangat bagus. Nama Jawa.”

Ya. Ia tinggal sebelah rumah ini. Biasanya sore hari seperti ini ia duduk-duduk di loteng.”

Kau mengenalnya, Kres?”

Ya, sangat.”

Ia sangat manis,” Sena mengomentari. “Badannya bagus,” tambahnya lagi.

Cantik, lembut, dan ayu” Kresna membalas. “Lebih manis daripada Ipah,” pemuda itu kini tiba-tiba terkikik. Sena menggerutu, namun hatinya membenarkan. Kedua matanya masih juga mengawasi gadis yang sedang duduk-duduk di lantai dua rumah sebelah. Rokok ia hisap begitu lama dan dalam. Bertanya lagi kemudian setelah agak lama terdiam.

Apakah ia anak pemilik rumah sebelah, rumah loteng itu?”

Kresna menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak, bukan.”

Lantas?”

Ia hanya tinggal di sana. Menumpang tinggal.”

Pembantu, maksudmu?”

Oh, tidak, sama sekali bukan. Tidak bisa disebut pembantu. Ia masih keponakan rumah sebelah. Ia lulusan sekolah menengah. Padaku ia mengaku sedang kursus bahasa Perancis. Karena ia tak mempunyai pekerjaan di kampungnya, ia akhirnya tinggal di rumah sebelah, barangkali dengan harapan ia bisa mendapat pekerjaan di Jakarta ini. Ia sering kemari. Mungkin nanti petang atau esok sore ia ke mari.”

Sudah lama engkau mengenalnya, Kres?”

Ya, beberapa hari setelah kedatangannya ke mari. Barangkali sudah lebih dari setengah tahun ini. Mungkin ia tahu kalau aku suka mengajari anak-anak di sekitar sini untuk menulis puisi atau menggambar. Ia sering datang, menulis puisi. Ia suka sekali menulis puisi. Ia sering meminta pendapatku tentang puisi-puisinya.”

Ia suka puisi?” tanya Sena.

Ya, dan seperti yang kukatakan tadi ia tak hanya suka puisi. Ia juga pandai mencipta. Aku sering membaca karangan-karangannya, karena ia selalu meminta pendapatku mengenai puisi-puisinya itu.”

Baguskah tulisannya itu?”

Menurutku, puisi-puisinya layak untuk dimuat di surat kabar. Tapi ia selalu menolak untuk mengirimkan karyanya ke media. Ia lebih suka membuat dan membaca puisinya itu untuk dinikmatinya sendiri.”

Sekejap saja tercipta rasa tak senang di hati Sena mendengar kata kawannya itu. Menulis puisi? Pastilah Kresna suka mengajarinya, gadis bernama Ajeng itu. Ia tahu benar dahulu Kresna adalah pegiat seni kampus yang terkenal. Kresna memang tak pernah mendapatkan juara pada berbagai lomba sastra karena ia sendiri tak begitu menyukai perlombaan, tapi karya-karyanya sering dimuat di majalah sastra daerah dan majalah-majalah mahasiswa. Puisinya, walau hanya dua buah, pernah dimuat dalam majalah nasional yang bergengsi. Puisinya juga pernah dibacakan dalam sebuah aksi mahasiswa yang meminta seorang menteri turun dari jabatan karena mengkorupsi dana haji.

Melamun apa kau, Sen?” Kresna menegur. Matanya melirik sahabatnya yang baru datang itu. Asap rokok masih mengepul dari mulut dan hidungnya, berganti-gantian.

Ah tidak,” tukas Sena cepat, sekaligus menutupi rasa cemburu yang mulai menyesaki dadanya. “Ngomong-ngomong, kau belum bercerita padaku apa pekerjaanmu sekarang, Kres?”

Yang ditanya hanya terdiam. Ia kemudian mengambil koran bekas di samping tempat tidurnya. Dengan koran itu dikipasinya dadanya yang masih berkeringat. Berkata kemudian, memberi jawaban:

Seperti juga engkau, aku bekerja apa saja. Asal bisa menghasilkan uang. Ketika baru tiba di Jakarta, aku mengajar melukis pada anak-anak sekolah dasar.”

Mengajar melukis?”

Ya les gambar, kira-kira seperti itu. Muridku anak-anak sekitar sini saja.”

Masih kau lanjutkan?”

Tidak,” Kresna tertawa terbatuk-batuk. Ia kemudian berkata:

Kebanyakan anak-anak di sini dari kalangan yang kurang mampu. Sedangkan aku butuh uang untuk menyambung hidup. Maka aku putuskan untuk beralih pekerjaan, apa saja yang cepat menghasilkan uang padaku aku kerjakan. Namun aku masih sesekali mengajar melukis dan menulis puisi pada anak-anak sekitar rumah ini. Pada mereka aku tak memungut biaya. Orang tuanya membayar dengan apa saja yang mereka mampu berikan. Terkadang mereka membawakan apa yang mereka punyai di rumah, terkadang mereka memberi rokok. Pernah pula ada yang memberi satu tas plastik penuh jeruk. Aku tak pernah meminta.” Sejenak ia tersenyum. Dilanjutkannya lagi ceritanya:

Kau tahu, minggu-minggu pertama tiba di Jakarta, aku menjadi kernet sopir angkutan selain mengajar melukis. Yang ada di otakku saat itu adalah aku bisa beli makan, rokok, dan sedikit bayar sewa kamar ini. Menjadi bagian pemasaran buku-buku sekolahpun pernah kulakukan..”

Kau pernah memasarkan buku-buku sekolah?”

Ya.”

Sales?”

Ya. Ada apa dengan sales?”

Nggak, nggak papa. Aku hanya kagum, kau berbakat dagang rupanya.”

Memasarkan buku itu persoalan yang mudah sebetulnya. Uang cepat kita dapatkan asal kita lihai. Yang harus kita lakukan adalah mendekati kepala sekolah dan para guru agar mau menggunakan buku kita.”

Setelah itu?”

Setelah itu, kita menjanjikan bonus yang besar pada mereka. Kalau bonus yang kita berikan besar, setinggi langit, mereka akan mau menggunakan buku kita.”

Banyak uang kau dapat?”

Ow, tentu. Sudah pasti. Dari satu sekolah saja aku bisa untung bersih untuk diriku sendiri sekitar dua hingga empat juta.”

Apakah semua pejabat sekolah mau menerima bonus seperti itu? Ini kan jaman pembaharuan, jaman reformasi!”

Memang benar, tapi selalu ada jalan.”

Apa maksudmu?”

Mereka yang tak mau menerima bonus dengan alasan apapun cukup kita iming-imingi fasilitas sekolah. Komputer misalnya. Biasanya mereka mau.”

Tak kusangka kau bisa begitu..” Sena berkata perlahan. Menyambung lagi ia: ”Kau dulu paling anti korupsi boss.”

Kresna tak menjawab. Tak ada yang perlu dijawab. Ia sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu, gugatan seperti itu. Dan semua pertanyaan dan gugatan itu tidak lain semua datang dari benaknya sendiri, yang kemudian menyalahkan dirinya sendiri. Berkata Sena kemudian:

Mengapa engkau tak pertahankan pekerjaanmu sebagai sales buku?”

Aku tak tega.” Kresna menghela nafas. “Dan aku tahu, aku tak bisa,” lanjutnya lagi. Ia menghisapi rokoknya beberapa kali. Terbatuk sebentar, meminum kopi, kemudian melanjutkan bicara:

Aku teringat pada orang tua –orangtua mereka. Apa yang mereka bayarkan lebih dari limapuluh persen masuk ke dalam kantung para pejabat seperti itu. Aku tak tega karena aku ingat orangtuaku sendiri. Kalau yang menjadi orangtua murid adalah orang tua seperti ayahku, alangkah kasihannya.”

Kau tak ingin menjadi pegawai negeri? Ikut tes calon pegawai negeri misalnya?”

Percuma,” Kresna tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit dan mengejek.

Percuma bagaimana?” Sena mendengus. Matanya mengawasi Kresna.

Pernah aku ikut ujian untuk masuk ke sebuah BUMN. Waktu aku ujian di kantor pusatnya di Surabaya, aku bertemu kawan kita satu angkatan. Andarini. Kau ingat dia?”

Andarini Kusumastuti?”

Kau, kalau perempuan cantik bahkan nama belakangnyapun kau ingat. Sialan!”

Keduanya tertawa.

Andarini yang pantatnya serupa buah salak?”

Kau ini, pantat saja yang kau ingat. Otakmu kotor!”, dengus Kresna.

Sena tertawa terbahak, Kresna demikian pula. Untuk beberapa saat kemudian mereka justeru membicarakan apa yang terbilang mirip buah salak itu. Sena kemudian bertanya lagi:

Yang kalau ujian selalu membawa contekan?”

Kresna mengangguk, kemudian berkata:

Persis. Dia sering membawa contekan kalau ujian. Lulusnya pun agak terlambat dibanding mahasiswa lainnya. Aku berjumpa dengannya di tempat ujian. Aku dan banyak orang yang ikut ujian sangat gelisah dan takut akan gagal. Namun anehnya, ia kelihatan sangat tenang, seolah sedang ikut pesta saja dan bukannya tes pekerjaan.”

Lantas?”

Kresna menghela nafas sejenak, kemudian berkata lagi:

Tidak sampai satu bulan kemudian datang surat pemberitahuan. Aku gagal, padahal aku mampu mengerjakan semua bahan ujian dengan baik. Sebaliknya Andarini, sekaligus aku tahu bahwa ia termasuk yang diterima bekerja di perusahaan itu. Kau tahu mengapa?”

Karena pantatnya itu!”

Bukan, goblok! Ayolah, be serious!”

Sena menggeleng. Dijentikannya rokok ke dalam asbak. Matanya terus memandangi wajah kawannya. Dengan isyarat di wajahnya, ia menyuruh Kresna untuk segera melanjutkan berbicara.

Bapaknya bekerja di perusahaan itu…”

Menyebalkan betul!,” Sena meradang.

Kau tahu berapa uang telah kuhabiskan untuk membayar ongkos bus dari Kediri ke Surabaya? Kau tahu berapa uang kubuang percuma untuk membeli alat tulis, baju kemeja yang patut untuk ikut tes tulis? untuk mengirimkan lamaran, membeli amplop, perangko? Dan semua percuma saja! Dan itu bukan yang pertama kalinya. Aku kasihan pada Bapak. Uang pensiunnya tak banyak, namun kuhabiskan dengan percuma saja untuk mengikuti tes terkutuk itu.” Kresna terlihat jengkel. Dilumatnya rokok yang telah semakin memendek itu ke dalam asbak. Ia kemudian berkata lagi.

Negara ini akan semakin bangkrut kalau yang diambil, yang direkrut adalah orang-orang seperti itu. Orang-orang yang bodoh, tapi punya orang tua, atau punya relasi yang berkuasa.”

Ya, aku jadi ingat akan Harun. Kau ingat dia?”, tanya Sena.

Bagaimana aku bisa lupa. Harun, mahasiswa Hukum. Ia tak pernah sekalipun turun1. Ia selalu di balik layar. Walau begitu, konsep-konsep tuntutan kita banyak yang keluar dari otak dia,” kata Kresna.

Ya. Harun yang cerdas. Syukur kalau kau masih ingat. Ia gagal menjadi pegawai negeri karena ia mesti membayar tigapuluh lima juta agar bisa lolos tes tahap terakhir”.

Tigapuluhlima juta untuk status pegawai negeri?! Alangkah mahalnya!”

Sukar dipercaya. Tapi memang itulah adanya. Orang tua Harun sebenarnya sudah siap untuk membayar tigapuluh lima juta. Mereka sudah siap menjual sebagian kebun salaknya untuk Harun. Namun Harun yang gagah, Harun yang lurus. Ia tidak mau menerima tawaran itu.”

Bagaimana nasibnya sekarang?”

Ia masih saja berdiam di rumahnya di Sleman. Hampir sama denganku, beternak ayam kampung. Terkadang ia sengaja datang ke rumahku sekedar untuk berkeluh kesah. Ia berkata bahwa dirinya sudah tak punya harapan lagi menjadi pegawai negeri. Putus asa dia, bung!”

Kedua sahabat itu kemudian terdiam, membincangkan dan merenungi nasib kawan-kawannya yang lain. Tidak mudah mencari pekerjaan dengan hanya bermodal kejujuran dan keenceran otak. Soeharto telah turun. Amanat pembaharuan telah dicanangkan. Namun toh tetap sukar untuk bersaing secara murni.

Hari semakin sore. Kresna menanyakan apakah Senda ingin mandi. Sena yang masih lelah menolak, dan berkata ia akan mandi di malam hari saja karena mengantuk. Kresna tidak memaksa, karena ia pun merasakan kantuk yang amat sangat. Dan pada mulanya Kresna lebih dahulu tertidur. Sena mengamati sekeliling ruangan kamar itu. Dinding kamar itu dicat warna hijau tua, memberikan kesan suram. Ingin ia menonton televisi mengikuti berita sore, namun tak dilihatnya pesawat televisi. Hanya sebuah radio kecil tergeletak di atas meja. Ia kemudian merebahkan badan di lantai. Tak berapa lama kemudian Sena menyusul Kresna ke alam mimpi. Bintik keringat masih terlihat di dahi kepalanya ketika ia benar-benar berangkat ke alam tidurnya.

Lampu penerangan jalan dan sinar lampu dari rumah-rumah sekitar mulai dinyalakan. Kedua sahabat lama itu semakin jauh terbang ke alam bawah sadar masing-masing. Beberapa ekor lalat mencoba mengganggu, menghinggapi mulut dan mata, namun tak mampu mengusik mereka dari lelap akibat rasa kantuk dan lelah. Sinar matahari senja yang menerobosi kamar itu semakin meredup dan menyuram. Seekor cicak merayap memasuki gelas kopi kosong, meminumi sisa air gulanya yang pahit manis. Gelas kopi Kresna. Azan maghrib mulai terdengar bersahutan di langit pinggiran belantara Jakarta yang redup memerah. Kedua pemuda itu benar-benar telah tertidur…

BAGIAN II

 

Bangun boss, sudah jam setengah delapan,” Kresna mengguncang tubuh Sena. Yang dibangunkan menggeliat sebentar, matanya langsung merasakan silau lampu neon. Belum sadar di mana ia berada. Dengan jari-jari tangan kiri, ia mengucek kedua bola matanya. Samar dilihatnya Kresna tersenyum. Wajah kawannya itu sudah terlihat segar. Rambut panjangnya yang basah terlihat sudah tersisir rapi dan diikat dengan karet gelang. Matanya segera berpendaran mencari jam dinding. Agak kabur dilihatnya jarum penunjuk pada jam dinding di kamar itu. Jarum pendek menuju ke angka delapan, dan jarum panjang menunjuk pada angka dua. ‘Sudah lebih dari jam delapan malam,’ serunya dalam hati. Dengan perasaan malas ia bangkit dari tidur.

Kau sudah mandi rupanya?”

Ya setengah jam lalu,” Kresna menjawab pendek. Ia mengenakan sarung, nampak sedang membaca sebuah buku. Di mulutnya telah terselip sebatang sigaret.

Mengapa kau tak bangunkan aku?”

Aku lihat kau sangat lelah, dan aku tak tega membangunkanmu. Almarhum Ibuku menasihati agar aku tak membangunkan orang selagi orang itu tidur.”

Sena menyangkal apa kata kawannya itu. Menurutnya, mengingatkan orang untuk shalat lebih mulia daripada membiarkannya untuk tidur. Kresna hanya mengangkat bahu dan meminta maaf serta mengatakan ia memang tak bisa membangunkan orang yang tidur. Ajaran ibunya telah mendarah daging semenjak ia masih kecil.

Aku kehilangan magrib,” Sena menyesali.

Bukan hanya kau. Aku juga. Nah apakah kau hendak mandi sekarang?”

Tentu saja. Lengket rasanya badanku ini. Berkeringat.”

Kalau begitu mandilah. Kamar mandi ada di belakang kamar ini. Kalau kau tak membawa handuk, pakailah handukku. Shampo dan sabun semua ada kuletakkan pada lubang angin di kamar mandi. Pakai sesukamu.”

Terimakasih. Aku membawa sendiri handuk dan pasta, berikut sikat giginya.”

Lagipula…,” Sena berkata perlahan, tidak melanjutkan.

Lagipula apa?”, Kresna menyahut. Ia berhenti sejenak dari membaca. Matanya memandang menyelidik.

Lagipula…, aku tak mau tertular penyakit kulit kalau memakai sabunmu…”

Bangsat!”

Sena tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata:

Aku mandi sekarang.” Ia menguap sebentar sambil meregangkan tubuhnya.

Agar kau tak mengantuk dan tertidur di kamar mandi, aku telah membuatkanmu kopi. Itu di atas meja kerjaku. Minumlah dahulu!”

Sudah tiga kali dalam sehari ini aku minum kopi bersamamu!”

Kresna menukas cepat:

Bagaimana kalau kita minum bir saja. Pertemuan ini mesti kita rayakan. Setuju?”

Ini bukan saat bersenang-senang kawan,” jawab Sena. “Aku ke mari bukan bersukaria. Aku mencari kakakku yang menghilang. Lain kali sajalah.”

Kresna menyerah. Berkata ia putus asa: “Kalau kau tak suka kopi, kau boleh minum air di bak mandi. Aku tak punya teh atau minuman lain.”

Sena tak menjawabi lagi. Dihampirinya meja dan diambilnya kopi bagiannya. Diteguknya perlahan. Segar terasa, hangat mengaliri kerongkongannya. Puas menikmati kopi malamnya, ia menghampiri ransel hijau bawaannya dan dibukanya. Diambilnya handuk dan peralatan mandi untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sebelum memasuki kamar mandi, matanya mencuri pandang pada ruang tengah pemilik rumah. Sepi saja rumah itu, hanya seorang lelaki dan perempuan tua ditemani anjingnya menonton televisi. Halaman belakang nampak tak terawat. Beberapa tanaman anggrek nampak bergelantungan menghiasi. Namun anggrek-anggrek itupun nampak tak terawat dan tumbuh sekenanya. Ia menjadi teringat akan rumahnya sendiri. Halaman belakang rumah kini tak lagi terurus sejak Ibunya sakit. Dahulu, halaman belakang selalu bersih, tanpa sebatang daun keringpun mengotori. Berbagai macam bunga terawat bahkan hingga daunnya selalu dibersihkan oleh Ibunya. Kini, halaman belakang rumahnya menjadi layu dan kumuh.

Dilihatnya pula kemudian beberapa tumpukan karung yang entah apa isinya. Di pojok halaman belakang rumah itu terdapat kolam yang kering tak berair. Hanya patung anak kecil memegang kemaluan, yang berfungsi sebagai air mancur. Masa kejayaan patung itu nampaknya telah lama pudar.

Sena memasuki kamar mandi dan segera mengunci pintunya. Kamar mandi itu tak begitu lebar, namun juga tak terlalu sempit. Sebuah cermin kecil tergantung di dinding. Sudah tak bisa lagi digunakan, karena permukaannya telah tertutup noda bekas percikan air dan sabun. Teringat Sena akan kamar mandi di rumahnya yang begitu luas dan lega. Dengan begitu ia menjadi rindu akan rumahnya. ‘Sedang apakah Ibu sekarang? Semoga saja ia tidak sedang kambuh. Sedang apakah Bapak dan adik?’, ia terus berfikir. Namun segera ditepis lamunannya itu. ‘Aku hanya tiga hari berada di sini, aku harus berhasil menemui kakak. Dan segera setelah menemuinya, aku akan kembali,’ pikirnya membulatkan tekad. Dengan cepat ia melepaskan pakaiannya. Telanjang.

Diambilnya segayung air dan diguyurkannya kuat-kuat ke tubuhnya. Segar terasa. Diraihnya sabun dalam kantung plastik bawaannya, dan iapun mulailah menyabun tubuhnya yang lengket dan berbau keringat serta bau khas kereta api. ‘Kereta api busuk, kereta ekonomi sialan,’ ia mengutuki. Kakek tua yang duduk di sampingnya sepanjang perjalanan hingga Bekasi tanpa mengajak bicara ia kutuki pula.

Ketika sedang menyabun, terdengar olehnya suara perempuan mengucap salam. Nampaknya baru memasuki ruangan. ‘Ruangan siapakah? Ruangan Kresna atau ruangan yang empunya rumah? Terdengar ia bercakap-cakap. Amat merdu terdengar di telinganya. Dengan siapakah perempuan itu berbicara? Kresna? Suaranya amat indah, lembut dan manja. Dilambatkannya gerak tangannya dari bersabun. Telinga ia dekatkan pada pintu. Perempuan itu sesekali berbicara, namun lebih sering lagi tertawa. Menggairahkan. Ia dapat merasakan kelenjar-kelenjar tubuhnya memberontak mendengar suara indah itu. Tidak jelas benar apa yang dibicarakan karena suara air selokan di samping kamar mandi menghalanginya dari mendengarkan lebih jelas. Hanya apabila ia tertawa dapat jelas terdengar. Ya, suara perempuan itu nampaknya sedang berbicara dan bersenda gurau dengan Kresna. Barusaja terdengar Kresna tertawa, tawa yang khas, terbahak-bahak dan terbatuk. Dan antara sebentar tawa manja dan indah dan merdu itu juga terdengar. Cantikkah perempuan itu? Apakah ia yang bernama Ajeng?’. Pikiran Sena segera dijejali berbagai pertanyaan. Hatinya menggejolak. Ia ingin segera mengakhiri mandinya.

Ah, aku kemari hendak menjumpai kakak, dan bukannya mencari perempuan untuk dijadikan teman berkasih-kasihan,’ kembali Sena menasihati dirinya. Ia pun segera melanjutkan mandi. Setelah selesai, ia pun berjalan menuju kamar Kresna. Suara perempuan itu terdengar semakin jelas dan keras di telinganya. Sekaligus hatinya menjadi berdegup dan berdebar. ‘Suara itu begitu indah,’ pikirnya.

Dan ketika ia memasuki kamar, semakin jelaslah apa yang ada di hadapannya, pemilik suara merdu itu. Seorang gadis, berusia yang menurut taksirannya beberapa tahun di bawahnya. Wajahnya tidak bisa tidak adalah cantik, lembut dan manis. Ayu. Rambutnya yang lurus terikat tidak kencang, sepundak lebih sedikit. Alisnya begitu tebal, dan warna hitam di kedua bola matanya begitu gelap dan pekat. Bibirnya tipis dengan tahi lalat kecil di dagu sebelah kiri. Kulitnya kuning cenderung putih. Tubuhnya ramping namun tidak kurus. Ia tampak menarik dengan celana warna hitam dan baju lengan panjang coklat tua yang dikenakannya. Seketika Sena tersenyum malu. Malu pada gadis itu, juga malu pada dirinya sendiri karena belum bersisir dan tampak acak-acakan. Kresna tampak sedang duduk bersandar tembok kamar. Matanya menatap gadis itu dengan pandangan akrab sambil terus merokok dan memainkan asap sigaretnya. Ia sudah tidak membaca lagi.

Segera Sena mencari sisir di dalam ransel hijaunya. Setelah ditemukan, ia segera merapikan rambutnya Handuk yang masih basah dijejalkannya ke dalam tas. Salah tingkah. Perasaannya berkecamuk. ‘Gadis itu, tidak saja suaranya namun tubuhnya pun begitu indah’, pikirnya, sekaligus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah jatuh hati. Sedemikian cepatnya. Segera kemudian ia menghampiri Kresna, ikut duduk dan mengambil rokok.

Jemur handukmu di ruang belakang, Sen. Kalau kau simpan dalam ransel, bisa lembab nanti. Penyakit panu bisa menyerangmu, kawan.” Sena tak segera menjawab. Ia bangkit dan pergi menjemur handuknya. Matanya melirik pada Kresna dan gadis itu. Beberapa saat setelah kembali ke kamar, Kresna berkata:

Oh ya, Sen, ini yang namanya Ajeng. Dia yang kau lihat tadi siang di loteng sebelah rumah. Manis ‘kan? Nah, Ajeng, kenalkan kawanku ini, namanya Sena. Ia baru datang dari Purworejo.”

Kutoarjo, goblok!”, Sena membetulkan. Kresna merengut. Sena mendekat pada gadis itu dan mengulurkan tangannya. Badannya maju ke depan. Gadis yang bernama Ajeng itu juga mengulurkan tangan, menyambut jabat tangannya. Tiada rasa canggung ternampak di wajahnya. Matanya yang bersinar-sinar seolah menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang berani dan cerdas. Lembut dan hangat Sena merasa jemari dan telapak tangan Ajeng, namun segera ditariknya dengan cepat.

Mas ini teman Kresna?”, Ajeng bertanya. Wajahnya memandang lurus ke arah mata Sena, kedua matanya tajam memandang. Menusuk. Bibirnya menyungging senyum.

Ya. Sejak kami masih sama sama kuliah di Yogyakarta. Setelah lulus dua tahun lalu kami tak pernah berjumpa. Kau sendiri sudah lama mengenal Kresna?”, Sena balas bertanya. Pertanyaan yang ia sendiri telah tahu jawabannya. Hatinya senang dapat lekas akrab dengan gadis itu.

Sudah kukatakan padamu, sejak ia datang ke rumah sebelah, ia sudah bermain ke mari,” terdengar Kresna menggoda. Ajeng tertawa. Gadis itu meraih secarik kertas bekas dan digenggam kemudian dilemparkannya tepat mengenai kepala Kresna. Yang dilempar tak peduli, hanya tertawa.

Dan ketiganya kemudian larut dalam tawa. Kresna tersenyum-senyum melihat perkenalan Sena dan Ajeng. Ia kemudian berkata:

Minum lagi kopimu, Sena.”

Nantilah aku minum.”

Kalau sudah dingin nanti tak enak lagi. Minumlah.”

Sena menurut, dan meraih gelas kopinya.

Dan itu aku bawakan roti buatanku juga. Makanlah,” Ajeng berkata sambil tangannya menunjuk kepada piring berisi beberapa potong roti coklat.

Ah lebih baik kuambilkan untukmu,” Ajeng bangkit dari duduknya, mengambil piring kecil berisi roti coklat itu. Diletakannya piring di samping gelas-gelas kopi dekat Sena. Dengan isyarat mata ia menyuruh Sena untuk mengambil roti buatannnya itu.

Terimakasih.”

Tak perlu menunggu lama, tangannya kemudian meraih roti coklat dan dijejalkannya pada mulutnya.

Enak rotimu ini. Pada siapa engkau belajar membuatnya?”

Bibiku. Ia sering menerima pesanan roti dari tetangga sekitar sini.”

Sena meraih kembali gelas kopinya dan meminum beberapa teguk, mendorong roti coklat yang telah lumat itu masuk ke dalam perutnya. Matanya kembali melirik pada Ajeng. ‘Begitu ayu kau Ajeng,’ fikirnya.

Kedua orang pemuda dan gadis remaja itupun kemudian terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Dari percakapannya dengan Ajeng, mengertilah Sena bahwa gadis berwajah manis itu berasal dari sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Rumah yang ditempati Ajeng di sebelah kamar kos Kresna adalah rumah pamannya, adik ayah Ajeng. Sudah hampir satu tahun ini ia tinggal di sana.

Seperti apakah Temanggung itu, Ajeng. Bisa kau ceritakan padaku?”

Ajeng terdiam sesaat. Pada Sena dan Kresna ia mengatakan tak tahu harus berceritera dari mana. Sena meminta agar Ajeng memulai dari mana saja ia suka. Ajeng mengangguk dan mulai berkisah:

Temanggung adalah sebuah kota kecil. Daerah kami terletak sekitar satu setengah jam berkendaraan sepedamotor dari Yogyakarta. Di sana engkau bisa melihat banyak gunung yang indah, seperti gunung Sindoro dan Sumbing.”

Pernah aku dengar Temanggung itu sentra tembakau. Kau tinggal di daerah tembakau?”, kali ini Kresna yang bertanya.

Ya. Kau benar. Masyarakat di daerahku adalah masyarakat petani. Kebanyakan bertanam tembakau. Tentu saja kalau tembakau sudah dipanen, kami juga bertanam yang lain. Tapi semakin lama kaum mudanya sudah tidak ada yang bertani lagi. Kebanyakan menjadi buruh pabrik dan bekerja di pabrik-pabrik kayu yang banyak ada di sekitar sana atau di Magelang. Yang mendapat pendidikan tinggi bekerja di kota lain, seperti Yogya dan Semarang.”

Ya, kurasa tak ada lagi generasi seusia kita-kita ini yang menjadi petani. Kalaulah ada pasti sangat sedikit,” Kresna menimpali. Ajeng dan Sena membenarkan perkataannya. Kresna melanjutkan:

Jaman sekarang, kaum muda seperti kita, sekali ia berpendidikan sekolah menengah, ia tak akan mau menjadi petani. Yang dibenaknya hanyalah bekerja kantoran, mendapat gaji bulanan. Paling tidak berseragam. Tak mau pemuda sekarang ke sawah bersama kerbau, macul dan menanam padi. Panas dan hujan di sawah. Tak akan mau, bahkan anak petani sekalipun ingin menjadi pembesar. Namun aku tak menyalahkan mereka. Pendapatan petani sangat kecil, sangat minim. Kalian tahu, harga pupuk sangat mahal dan memberatkan. Belum lagi sering terjadi kelangkaan. Pupuk hilang di pasaran. Cuaca yang tak pasti juga sering menggagalkan panen. Wajar kalau para keluarga petani pun berfikir untuk beralih pekerjaan.”

Ya, memang. Dahulu kita adalah negara pengekspor beras. Kini kita mengimpor, dari Thailand. Dari Vietnam. Ironis!” sahut Ajeng.

Selain karena menjadi petani tidak lagi menguntungkan, generasi sekarang masih saja mengutamakan status, prestis Mereka rela menjadi pegawai honorer dengan upah yang sangat rendah dengan harapan suatu saat diangkat menjadi pegawai negeri. Padahal gaji honorer sangat kecil.”

Sena menimpali:

Soal status itu aku setuju. Tetangga sebelah rumahku adalah contoh orang yang sangat terobsesi dengan status. Kalian bayangkan, penghasilannya sebagai kuli pabrik adalah limaratus limapuluh ribu sebulannya, cukup lumayan untuk kota kecil seperti kami. Tapi ia sangat terobsesi untuk menjadi guru…”, Sena berhenti sejenak, menghisapi rokoknya. Kresna tak lagi memperhatikan. Pemuda itu nampak serius membaca pesan yang baru saja masuk ke telepon genggamnya.

Apa yang kemudian terjadi dengan kawanmu itu?” tanya Ajeng.

Dia melepaskan pekerjaannya sebagai buruh.”

Mengundurkan diri? Mengapa? Diterima sebagai guru?”

Inilah masalahnya. Ia samasekali tak berpendidikan guru. Kau tahu, untuk menjadi guru sekolah menengah kini orang harus mempunyai gelar sarjana pendidikan. Kalau gelar itu tak dipunyainya, ia harus mempunyai akta mengajar.”

Tetanggamu itu sarjana?”

Lulus SMA saja kurasa tidak”.

Guru gadungan kalau begitu?”

Sena mengangguk. Ia melanjutkan:

Ia memalsu ijazah. Ia sangat ingin menjadi guru, karena di desa kami pekerjaan sebagai guru sangat dihormati. Pendeknya mempunyai kedudukan di masyarakat. Dan dengan begitu, ia memasang gelar sarjana pendidikan pada papan nama yang selalu dikenakan di bajunya. Pada orang-orang desa, ia mengaku mengajar di berbagai macam sekolah.”

Temanmu itu penipu.”

Bukan temanku, tetanggaku.”

Ya tetanggamu. Dia penipu. Kok sampai sekarang tidak terbongkar juga?”

Ya memang begitu jadinya. Namun herannya, banyak sekolah yang menaruh percaya padanya. Terbukti, paling tidak sampai keberangkatanku ke Jakarta ini ia masih kulihat mengenakan baju safari pergi mengajar!”

Ada-ada saja.”

Sahut Sena:

Yah.., masyarakat kita masih gila gelar. Tidak heran kalau sekarang gelar mudah didapat karena ada penjualnya. Tiba-tiba seseorang mendapat gelar doktor atau profesor, padahal ia tidak bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi,”

Ajeng menggerutu. Wajahnya berubah menjadi masam.

Ada aku lihat di televisi, banyak diantara mereka dari kalangan artis, bintang film,” sambung Sena sambil membuang puntung rokoknya ke dalam asbak.

Ya, dan lebih memalukan lagi mereka tidak malu-malu dan berkata di televisi bahwa apa yang diterimanya adalah suatu kehormatan. Kehormatan apa? Masakan mereka tak tahu bahwa mereka itu sebenarnya tak layak bergelar profesor karena tidak bekerja di perguruan tinggi?” sahut Ajeng lagi.

Kresna nampak telah selesai membalas pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Nampaknya ia tetap menyimak apa yang baru saja diperbincangkan oleh Ajeng dan Sena. Ia menatap kedua sahabatnya itu dan berkata:

Lebih lucu lagi, mereka merasa yakin bahwa lembaga yang memberikan gelar itu kredibel hanya karena beberapa orang asing yang bertoga mewisuda mereka. Lucu sekali!”

Entah akan jadi apa negeri ini kalau gelar mudah sekali didapat seperti sekarang ini,” Ajeng berkata lagi. Kresna menyahut:

Sudah-sudah! Bicara mengenai ketidakberesan di negeri ini ada banyak yang lebih parah daripada sekedar gelar palsu. Ayo Ajeng, ceritakan lagi apa yang menarik dari daerah tempatmu berasal.”

Ajeng terdiam sejenak, mengingat ingat. Ia kemudian berkata:

Orang-orang kota selalu mengatakan bahwa hawa di daerah kami sangat segar sehingga cocok untuk rumah tinggal atau rumah peristirahatan.”

Seperti di Puncak barangkali?”

Kira-kira seperti itu kalau engkau berada di tempat yang bernama Kledung. Kledung adalah dataran tertinggi di Pulau Jawa. Pemandangan di sana sangat indah. Gunung Sindoro dan Sumbing terlihat tinggi sekali, dengan pemandangan areal pertanian dan perkebunan kentang yang sangat hijau. Kau juga akan bisa melihat perkebunan teh dan tembakau yang luas.” Sena dan Kresna termangu mendengar ceritera Ajeng. Gadis itu melanjutkan lagi:

Saat yang paling menggembirakan adalah ketika panen tembakau tiba. Daun tembakau yang sudah dirajang dijemur di tanah-tanah lapang, halaman penduduk, bahu jalan, dan juga di halaman rumah orang. Baunya sangat harum dan wangi. Kalian tahu, tahu ada semacam anggapan yang diterima umum bahwa rokok kretek belum bisa dinamakan rokok kretek sejati kalau tak memakai tembakau dari Temanggung?”

Benarkah? Hmm…pengetahuan baru bagiku,” ujar Sena.

Ya,” sahut Ajeng. ”Adalagi yang menarik. Kalau panen berhasil baik dan pasaran bagus, biasanya akan banyak pedagang yang datang. Mereka menjual pakaian, barang-barang pecah belah, kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi.”

Pasar kaget maksudmu?” tanya Sena. Ia menyalakan rokoknya yang kedua.

Semacam itulah,” sahut Ajeng. “Yang lucu, orang-orang tua kami tak senang membeli barang-barang yang murah. Mereka senang kalau harga yang ditawarkan mahal-mahal. Semakin mahal dan mereka bisa membeli, maka akan semakin senanglah, karena bisa berbangga pada tetangga.”

Menarik sekali. Membuatku jadi ingin berjualan pakaian di tempatmu kalau musim panen tembakau,” Sena tertawa. “Kapankah musim panen itu?”

Biasanya sekitar Agustus atau September tiap tahunnya. Kalau kau mau berjualan pakaian di sana, mungkin kau akan dapat banyak pembeli, dengan catatan harga tembakau sedang baik. Ada kalanya di masa panen tembakau, petani justeru merugi. “Apa penyebabnya?”

Kadang hujan turun saat penjemuran…”

Hanya itu?”

Ada lagi. Terkadang tembakau dari luar daerah masuk. Merusak harga.”

Mengapa bisa begitu?”

Ada permainan.”

Permainan bagaimana?”

Ya permainan, agar harga tembakau tidak mahal. Kau tahu, kalau harga sedang bagus, tembakau bisa sampai tujuhpuluh ribu rupiah satu kilogramnya. Tapi tahun lalu saja, satu kilogram hanya dihargai tigaribu, empatribu perak..”

Oohh.. alangkah kasihannya para petani tembakau itu..”

Ya, terkadang Bapakku sampai memilih untuk tidak memanen tembakau saja. Besar pasak dari tiangnya!”

Sena mengangguk angguk mendengarkan pelajaran baru dari Ajeng. Berkata lagi kemudian:

Ceritakan yang lain lagi?”

Di pinggir kabupaten, di daerah Pringsurat juga banyak pepohonan kelengkeng.” Gadis itu kemudian melanjutkan kembali:

Sama seperti tembakau yang banyak dicampur dengan tembakau luar, kebanyakan kelengkeng yang dijual di sana adalah bukan dari daerah itu, terutama kalau bukan musimnya. Kelengkeng dari Jawa Timur banyak yang masuk dan merusak pasaran, karena rasanya tak seenak kelengkeng Pringsurat”.

Sena menimpali:

Aku tidak tertarik membicarakan soal kelengkeng. Apalagi pedagang buah yang gemar menipu para pembeli dan tembakau yang dicampur-campur itu. Itu sudah cerita lama di negara ini. Aku tertarik pada ceritamu tadi. Katamu, banyak orang sekitar yang bekerja di pabrik kayu. Mengapa kau tak mencoba berkerja di pabrik kayu saja, dan malahan ke Jakarta?”

Aku pernah mencobanya,” Ajeng menjawab.

Ceritakan pada Sena mengapa tak kau teruskan pekerjaanmu itu Ajeng,” kata Kresna, seolah sudah mengetahui apa yang hendak diceriterakan oleh Ajeng.

Karena upah yang diterima sangat rendah. Kau tahu dalam sehari kami harus bekerja duabelas jam. Kami mendapatkan bayaran sebesar tigapuluh ribu untuk itu. Sungguh pekerjaan yang sangat berat. Aku tak kuat, aku sering nyaris pingsan”.

Tigapuluh ribu katamu?”

Ajeng mengangguk.

Dan duabelas jam kerja?”

Ajeng mengangguk lagi dan berkata :

Ya tigapuluh ribu rupiah saja.”

Banyakkah yang bekerja di pabrik seperti itu?”

Tentu saja. Banyak orang desa sekitar yang bekerja demi mendapatkan tigapuluh ribu rupiah untuk bekerja. Bagi mereka penghasilan sebesar itu sudah terbaik. Yang penting adalah menjaga kesehatan supaya tidak ambruk ketika bekerja.”

Tiga orang itu kemudian terdiam, merenungkan apa yang baru saja mereka perbincangkan. Antara berapa lama, Ajeng berkata:

Ah, sudahlah lupakan saja soal upah rendah di pabrik kayu itu. Sedih aku mengenangnya. Oh ya, kata Kresna Mas Sena hendak mencari saudara perempuan Mas di Jakarta ini?” Ajeng bertanya kemudian.

Panggil saja aku Sena, tak perlu kau memanggilku dengan Mas,” Sena menjawab lunak. Kresna melirik padanya.

Ya, baiklah,” gadis itu tertawa lagi. ”Jadi engkau hendak mencari saudaramu di Jakarta, Sena?”

Kresna menceritakan padamu?”

Ajeng tidak menjawab, hanya mengangguk dan memandang Sena lekat. Yang dipandang menjadi salah tingkah.

Ya, aku hendak menyampaikan pesan dari Bapakku untuknya. Sudah kira-kira empat tahun ini ia meninggalkan rumah kami. Aku harap aku bisa kembali bersama-sama dengannya nanti ke Kutoarjo.”

Ooh…,” Ajeng menggumam. Gadis itu kemudian berkata:

Berapa hari rencanamu di sini?” tanya Ajeng.

Tergantung. Kalau aku bisa menjumpainya esok, barangkali lusa aku sudah akan kembali. Tapi kalau esok hari aku masih belum menjumpai kakakku, kepulanganku bisa mundur lagi. Dan aku tak berharap akan berlama-lama di sini.”

Mengapa? Engkau rindu dengan pacarmu?” Ajeng menatap Sena tajam. Di bibirnya terkembang senyum. Senyum yang agak terpaksa.

Sena tak segera menjawab. Kresna kemudian menimpali:

Dia belum punya pacar. Ia selalu saja menolak cinta gadis-gadis yang menyukainya. Bukan begitu, Sena?” Kresna menggoda. Sena hanya tersenyum. Namun ia bisa melihat Ajeng memandangnya dengan tersenyum pula. Sangat indah, sangat manis. Hatinya bergetar. ‘Jika engkau yang mencintaiku, tak akan aku sia-siakan cintamu, Ajeng.’

Ingatannya melayang pada apa yang dialaminya hampir tiga tahun silam. Sri, adik kelas satu angkatan jatuh cinta padanya. Sri Rahayu Rismadewi. Mahasiswi yang lembut, polos dan mempesonakan. Dan mahasiswa mana di fakultasnya yang tak jatuh hati pada mahasiswi sederhana lagi ayu dan pandai seperti Sri? Sri menaruh hati padanya, semua kawan dekat Sri mengatakan hal itu pada Sena. Namun Sena tak pernah bisa membalas cinta Sri. Bukan karena Sri ada mempunyai kekurangan, bukan pula karena gadis itu tak berbudi baik. Ia memang tak menaruh hati, tak mempunyai perasaan istimewa. Masih kata kawan dekat Sri, gadis itu merasa sangat kecewa dengan sikap Sena. Akhirnya Sri menerima cinta Ronald, mahasiswa tampan dan anak pengusaha truk dari Manado. Sepanjang yang didengar Sena, mereka akhirnya menikah beberapa hari setelah Sri wisuda dan berbahagia serta hidup berkecukupan di Manado.

Ketiganya kini terdiam. Sena dan Kresna terus asyik dengan asap masing-masing. Ajeng mengambil secarik kertas dari buku tulis yang dibawanya dan mulai menulis dalam kertasnya. Sena mengambil buku harian dari ransel hijaunya. Ditulisnya apa saja yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Bapak mengantarnya ke Setasiun. Dan Bapak yang sudah renta dan layu masih pula menangisi kepergiannya, kepergian yang hanya beberapa hari saja. Namun ia paham, Bapak sangat menderita dengan sakitnya Ibu. Padanya Bapak berpesan agar pandai-pandai merayu kakaknya Yanti pulang ke desa:

Katakan pada kakakmu Yanti, aku sudah tak murka lagi padanya. Katakan padanya, Bapak sayang padanya. Bapak juga akan menerima Ardi kalau ia sudah menikah dengan Yanti”, demikian yang dikatakan Bapaknya ketika peluit kereta telah ditiup. Dan sedu sedan Bapaknya itu semakin keras ketika kereta mulai bergerak. Sedu sedan dari seorang yang didera rasa bersalah pada darah dagingnya sendiri. Orang-orang di setasiun hampir semua melihat pada mereka. Bahkan penumpang di dalam kereta berusaha melongokkan kepalanya ke jendela.

Aku akan segera menemuinya Pak, aku akan mengajaknya pulang. Bapak berdoa saja,” teriaknya saat itu. Tangannya melambai-lambai. Dan kereta berjalan semakin cepat dan cepat. Kereta ekonomi yang padat penumpang itu. Semakin lama, Bapaknya kemudian menjadi sebuah titik yang akhirnya hilang lenyap.

Sena terus melamun. Sebentar-sebentar ia menuliskan lagi apa yang diingatnya dalam sehari itu. Ia tersenyum mengingat pengamen yang dijumpainya di Setasiun Cirebon. Para pengamen waria, dan begitu genit manja mereka bernyanyi. Salah seorang yang menabuh kendang mencubit pipinya dengan gemasnya. Sena tertawa terkikik, sekaligus tawanya itu membuat Ajeng dan Kresna melihat padanya dengan tatapan heran. Kresna menggumam “Uwong gemblung2,” namun Sena tak peduli. Ia terus menulis. Diingatnya seorang bertubuh gempal dan berotot kekar sepanjang perjalanan dari Cirebon-Indramayu berjualan mangga. Mondar-mandir saja orang itu di dalam gerbong walau tak ada seorangpun penumpang yang tertarik membeli mangganya.

Untuk beberapa saat kamar itu berubah menjadi sepi. Kresna bertidur-tiduran di lantai sambil membaca buku. Sena berhenti dari menulis. Ia dapat membaca judul buku di tangan Kresna: The Good Earth , buku karangan Pearl S Buck.

Kembali pemuda itu menulisi buku hariannya. Beberapa saat kemudian ia melirik pada Ajeng. Gadis itu nampak masih saja sibuk menulis. Berhenti lagi Sena dari menulis. Bertanya ia pada Ajeng:

Kau menulis puisi?”

Darimana kau tahu aku menulis puisi?”

Kresna yang memberitahuku. Ia berkata bahwa tulisanmu, puisi-puisimu sangat bagus.”

Gadis itu memandang pada Sena dan tersenyum malu. “Ya aku memang menulis puisi.”

Boleh aku membaca puisimu?”, tanya Sena lagi. Ajeng tak segera mengiyakan. Beberapa detik kemudian ia menggeleng sambil tersenyum malu. Sena terus mendesak :

Boleh aku lihat tulisanmu Ajeng?”

Nanti kau pasti akan mengejek kalau kau tahu tulisanku tak bermutu.”

Tidak”

Tulisanku tidak baik, bacalah saja tulisan Kresna.”

Aku tak butuh membaca tulisan Kresna. Aku ingin membacai karyamu.”

Berjanjilah kau tak akan berkomentar macam-macam..”

Aku berjanji aku tak akan mengejek hasil karyamu.”

Ajeng tak berkata lagi. Disodorkannya kertas di tangannya itu kepada Sena. Sena meraih kertas itu dan mulai membaca dalam hati:

 

Engkau’

Dan siapakah Engkau?

Mengharu perasaan

Menyinari gelap sedihku

Engkau

Racuni segala rasa

Dan engkau pula sembuhkan semua keluh

 

Andaikan engkau tak menjadi bagian diri

Tak akan diri kecewa

Aku takkan lara

Karena aku insyafi

Mencintaimu tak harus memilikimu

 

Kalau saja waktu dapat kutawar

Akan kusimpan indahnya malam dan kubingkai dalam hatiku

Agar engkau bisa melihat

Sinar bintang yang indah

Cahya bulan yang redup manja

Berkerlip bersinar dalam hatiku

Hanya untukmu

Puisi cinta?’ Sena bertanya dalam hati. ‘Nampaknya belum selesai ditulis. Ajeng belum membubuhkan tanggal di bawah puisi itu, seperti lazimnya puisi orang lain yang sering ia baca. Masih perlu beberapa bait lagi. Puisi cintakah ini?’. Seketika itu pula ia merasakan sesuatu. Rasa cemburu kembali tumbuh dan menyala di hatinya. ‘Cemburu? pada siapa? pada Kresna? Apakah mereka berkasih-kasihan? bercintaan? Dan mengapa pula aku harus cemburu dan sakit hati? Aku hanya tamu yang baru datang, dan tak sepantasnya aku mengharap yang lebih’.

Kok jadi diam begitu, sudah selesai bacanya?”

Sena menggeragap dan menyahut sekenanya:

Ini puisi karyamu sendiri?”

Ajeng mengangguk.

Kapan engkau membuatnya?”

Baru saja”.

Di kamar ini?”, Sena bertanya dengan nada tak percaya. Ajeng mengangguk lagi, namun sejurus kemudian menggeleng cepat:

Kalimat-kalimatnya sudah ada di dalam kepalaku sejak aku belum kemari. Mungkin sejak semalam sudah aku dapatkan kalimat dalam puisiku itu. Hanya baru aku tulis di kamar ini. Sewaktu kau mandi tadi aku mulai menulisnya, dan kuteruskan baru saja.”

Sena mengangguk-angguk mendengarkan. Disodorkannya kembali kertas berisi puisi itu kepada Ajeng. Berkata Sena kemudian:

Apa yang dikatakan Kresna padaku memang benar.”

Apa maksudmu?”

Kau berbakat.”

Agak berapa lama keduanya terdiam, tak berkata-kata. Yang terdengar suara orang mengaji dari masjid. Beberapa saat kemudian Ajeng berkata:

Terlalu memuji kau ini.”

Sungguh. Pilihan kata yang kau gunakan tidak sembarang. Bukan kata atau kalimat yang biasa digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang membuat puisi dengan kalimat yang sudah terlalu umum. Tapi kau tidak.”

Agak lama keduanya terdiam. Kresna masih asyik dengan bukunya. Sesekali ia membuka kamus. Sena berkata lagi:

Pastilah puisi itu engkau tujukan untuk kekasih hatimu,” tebak Sena. Menggelora kembali kini hatinya. Ia melirik pada Kresna. Yang dilirik masih saja terlihat asyik dengan buku usangnya, seolah tak peduli.

Ajeng menjawab cepat: “Tidak, itu bukan untuk siapa-siapa.”

Lantas bagaimana engkau bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis seperti itu? Sudah jelas bahwa tulisan itu adalah ungkapan perasaan seseorang terhadap orang lain yang dikaguminya. Iya kan?”

Benar. Akan tetapi rasa kagum, bahkan rasa cinta itu teramat luas, Sena. Aku bisa saja mengagumi seorang pemimpin atau politikus, penjahat, atau bromocorah atau siapapun, dan kubuat puisi seperti ini. Rasa kagum dan cinta tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk menyayangi seseorang atau manusia.”

Kresna berhenti dari membaca. Ia berkata:

Apa yang dikatakan Ajeng benar. Cinta itu lebih luas dari sekedar seorang lelaki mencintai perempuan atau sebaliknya. Cinta kasih itu lebih luas dari sekedar perasaan birahi dan ingin memiliki. Cinta tak selalu ditujukan pada orang seperti yang kau pikirkan.”

Tak selalu ditujukan pada orang. Mungkin pada cicak, tikus dan kecoa!”, ujar Sena mengejek. Hatinya menjadi gusar.

Dan juga kalau perlu cinta pada anjing,” Kresna menyahut sungguh-sungguh. Ia kemudian bangkit berdiri dan meletakkan buku di atas meja. Diraihnya gelas kopi. Setelah beberapa kali teguk, ia kemudian menyambung:

Jutaan orang mati demi cinta. Cinta kepada negara, cinta kepada tanah airnya, cinta kepada apa yang menjadi keyakinannya. Ada diantaranya yang mati karena gelap mata, cinta buta kepada negaranya. Memang ada yang rela berkorban demi cinta pada orang, yang mati karena cinta buta kepada kekasihnya. Ada yang rela mati demi barang dan benda. Demi cinta pada negara pulalah ada orang yang rela mati, walau kematiannya tidak selalu dianggap patriotik oleh semua orang.”

Aku tak mengerti,” ujar Sena. Hatinya bertambah gusar.

Kau pasti tahu, dan kau Ajeng pasti juga tahu berapa banyak pejuang kita yang mati bertempur melawan Belanda setelah Proklamasi tujuhbelas Agustus?”

Kita merdeka dari Jepang, bukan Belanda.”

Ya benar, maksudku setelah Belanda mencoba datang lagi kemari, ke Indonesia, goblok!”

Oh, Oke,” sahut Sena

Nah, mereka itu mati karena cinta kepada negara ini, negara yang saat itu baru saja lahir. Masih orok. Sedangkan tentara Belanda banyak pula yang mati. Mereka mati demi cinta mereka pada negara mereka, pada Kerajaan Belanda.”

Aku masih tak mengerti,” sahut Sena. Ia menggaruk garuk kepalanya.

Cinta memang tidak mudah dimengerti,” Kresna berkata seperti mengejek. Matanya melirik pada Ajeng. Gadis itu menunduk. Dengan isyarat tangan Kresna meminta kertas yang ada di tangan Ajeng. Gadis itu mengulurkannya. Kresna mulai membaca. Kamar itu kembali sunyi. Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

Dari puisi Ajeng ini aku bisa menyimpulkan bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki. Bukan begitu Ajeng?”. Ajeng memandang pada Kresna dan mengangguk.

Sena melihat hal itu, membuatnya kembali terbakar. Ia merasa terdesak.

Apa artinya kalau kita tak mampu memiliki apa yang ingin kita rawat dan sayangi. Apa artinya, misal, kita cinta pada negara ini, namun kita tak memilikinya secara utuh karena dijajah bangsa lain. Jaman dahulu mungkin penjajahan fisik. Namun sekarang bisa jadi penjajahan ekonomi. Penjajahan budaya. Neokolonialisme” Sena berkata berapi-api. Ia melanjutkan:

Dan sudah sejak lama kita hanya merdeka secara badan. Tetapi secara spirit, secara kejiwaan kita sangat tergantung pada bangsa lain, pada bangsa asing. Ada kau dengar berita kemarin malam? Rupiah kita anjlok lagi. Semua orang menjerit. Kita kaya akan minyak. Kita kaya akan gas bumi, kaya akan kayu-kayu jati terbaik, rotan, kopi, jahe, satwa dan masih banyak lagi.”

Tapi kita masih saja miskin,” Ajeng menyahut.

Itulah! Orang tua kita kesulitan membeli minyak tanah. Kayu-kayu jati kita entah ke mana. Ikan-ikan di laut dirampoki kapal asing setiap harinya. Ke mana larinya hasil tambang di Papua? ke Indonesiakah?!”

Sena melanjutkan lagi:

Kau masih ingat masalah Timor Timur? Ketika aku masih mahasiswa, aku sangat mendukung perjuangan mereka. Akan tetapi ketika mereka melepaskan diri dari Indonesia, jujur kukatakan padamu aku merasa sangat sedih dan kalah. Dan tidak saja aku, namun banyak orang yang merasakan kesedihan itu. Kita cinta pada Timor Timur, tapi kita kehilangannya. Timtim sudah bukan bagian dari negara kita lagi”.

Kresna dan Ajeng memperhatikan Sena dengan sungguh-sungguh. Keduanya terdiam seperti anak kecil terkagum-kagum melihat pertunjukan sulap. Sena berkata lagi:

Juga, misalkan cinta itu dalam arti yang sempit. Cinta seorang lelaki pada perempuan atau sebaliknya. Atau kaum homoseks terhadap sesama jenisnya.”

Tau sekali kau tentang homoseks, Sen,” Kresna menimpali sambil tertawa.

Mereka punya cinta juga toh? Cinta bukan monopoli heteroseks seperti kita. Oke, kembali lagi ke pembicaraan kita. Kau tahu apalah artinya kalau tak dapat memiliki dan mengasihi. Dukalara yang akan dirasakan.”

Kresna nampak hendak menjawabi apa yang menjadi ketidaksetujuan sahabatnya itu, namun tak jadi dilakukannya. Seseorang mengetuk pintu kamar. Ia segera bangkit dari duduk. Dihampirinya pintu dan dengan hati-hati dibukanya perlahan. Terlihat seorang lelaki. Kulitnya gelap, rambutnya panjang agak ikal. Wajahnya terlihat gelisah. Mereka berdua bercakap sejenak yang tak tertangkap oleh telinga Sena. Suara mangkok yang beradu dengan sendok dari tukang bakso di depan rumah begitu nyaring terdengar, menghalangi. Beberapa saat kemudian, Kresna menyuruh tamunya itu untuk masuk. Lelaki berambut ikal itu menurut, dan dengan mengendap ia memasuki kamar itu. Kini wajahnya terlihat lebih jelas. Seorang pemuda dengan wajah yang keras dengan anting di bibirnya. Lubang bekas jerawat banyak menghiasi kulit wajahnya yang hitam. Telinga sebelah kanannya terlihat tak utuh lagi seperti ada luka bekas senjata tajam. Ada terlihat oleh Sena tato di punggung tangan kanannya.

Mereka berdua tidak bergabung dengan Sena dan Ajeng, akan tetapi berbisik-bisik di balik pintu. Wajah Kresna nampak tegang. Otot-otot di keningnya bermunculan menonjol-nonjol. Hisapan pada sigaret di mulutnya nampak lebih cepat dan sering. Sesekali ia melongok ke luar memandang dengan gelisah pula. Namun begitu, ia nampak berusaha menguasai keadaan, menguasai perasaan hatinya sendiri.

Demi melihat hal itu, Sena menjadi teringat masa lalu, masa ketika Kresna sering bernegoisasi dengan aparat di tengah aksi unjuk rasa. Pemandangan yang sama beberapa tahun silam terlihat kembali di kedua matanya. Pemuda berambut ikal panjang itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan dalam tas plastik dari balik bajunya. Bungkusan itu nampak dibalut rapat dengan kertas koran. Setelah itu lelaki itu meminta diri, sambil menepuk pundak Kresna. Keduanya terlihat berjabatan erat. Lirih Kresna berseru pada lelaki itu: “Hati-hati.” Sedetik dua kemudian pemuda itu hilanglah di gelapnya malam dan hiruk pikuknya jalan kampung.

Kresna nampak terus memandangi kepergian kawannya itu. Ada kecemasan ternampak di wajahnya. Ada rasa khawatir. Agak lama ia memandang ke luar.

Kawanmu kah?” Sena bertanya.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Kresna. Bungkusan yang diberikan oleh pemuda tadi dipegangnya erat-erat. Sejenak ia terlihat bingung. Matanya memandang ke sekeliling kamar, namun tak sekalipun matanya itu memandang pada Sena dan Ajeng. Diseretnya meja kerjanya dan dengan sekali lompat ia telah berada di atasnya. Disingkapnya langit-langit kamar di atas meja kerja, dan segera setelah terbuka, bungkusan itu dilemparkannya perlahan. Ia kemudian melompat turun.

Sena memandang wajah Kresna dengan penuh tanya. Matanya kemudian melihat pada Ajeng. Gadis itu terlihat memandang tak senang pada Kresna seolah ingin mengatakan sesuatu. Tangannya menarik narik ujung celana panjangnya sendiri, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Ada apa Sen? Kau tak apa-apa?”

Tidak ada apa-apa. Kenapa kalian diam? Nah, ada diantara kalian mau bakso? Atau nasi goreng?” Kresna bertanya pada Sena dan Ajeng. Tak ada jawaban keluar dari mulut keduanya. Sena tahu, dari nada bicara Kresna, kawannya itu tak sedang hendak menawari mereka makan, akan tetapi lebih terasa sebagai mengalihkan pembicaraan. Dan Kresna seakan tak membutuhkan jawaban. Ia segera menuju pintu kamar, memanggil seorang pedagang keliling dan memesan tiga piring nasi goreng.Ajeng buru-buru mengatakan bahwa ia lebih suka mi goreng. Maka pesanan malam itu menjadi dua piring nasi goreng dan sepiring mi goreng.

Tak sampai limabelas menit, ketiganya telah asyik dengan makan malam masing masing. Selesai bersantap, ketiganya masih bercakap-cakap dan bersenda gurau. Pedas dan hangatnya nasi goreng telah mencairkan kekakuan yang baru saja tercipta. Ajeng sempat kembali ke rumahnya sebentar untuk mengambil tiga kantung teh celup. Gelas kopi yang telah kosong kini berisi teh panas yang manis. Kresna mengatakan pada Sena, bahwa cinta tetaplah abadi, dan keabadian cinta tak dapat diukur dengan kepemilikan cinta. Sena hanya mengangguk malas, tak berniat untuk menanggapi lagi. Ajeng lebih banyak terdiam. Hingga mendekati jam sepuluh malam, Ajeng berpamitan pulang.

Sampai jumpa lagi Sena, Kresna.”

Ya sampai jumpa lagi. Mimpi tentang aku,” Kresna menggoda. Ajeng mencibir.

Terimakasih, Assalamu’alaikum,” ucap Ajeng sambil terus berjalan pulang.

Sena membalas salam. Kresna hanya terdiam sambil memberi isyarat dengan anggukan.

Dan gadis itupun dengan lincahnya berlari menuju pagar rumah tingkat yang ada di samping rumah tinggal Kresna, menutupnya kembali, dan melambaikan tangan yang penghabisan.

Besok kemarilah lagi, Ajeng,” Kresna separuh berteriak. Tangannya melambai pada Ajeng. Terdengar suara mengiyakan.

Kedua pemuda itu kembali memasuki kamar, menutup pintu dan melanjutkan kembali pembicaraan.

Ajeng adalah pribadi yang menarik,” Kresna berkata. Ia mengambil sebatang rokok, melanjutkan lagi:

Barangsiapa yang berhasil menguasai hatinya, memilikinya, maka sungguh beruntunglah ia. Ajeng sangat penyayang dan berhati lembut. Perasaannya halus. Aku yakin jiwanya adalah jiwa seniman.”

Kau yang memiliki hatinya?” Sena berkata perlahan, menyelidik.

Tidak. Bukan aku,” Kresna menjawab pendek.

Kau pikir mudahkah bagi seorang lelaki untuk merebut hatinya?” Sena bertanya.

Terdengar pintu diketuk dari arah dalam. Rupanya lelaki tua si tuan rumah mendengar ada suara pendatang dan ia ingin tahu siapa yang bertamu malam itu. Kresna mengenalkan Sena padanya. Tuan rumah berpesan agar Sena menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Sena berterimakasih, dan tuan rumahpun kembali lagi ke dalam.

Apa tadi yang kau tanyakan?”

Sena menjawab: “Aku bertanya apakah mudah memiliki hati seorang Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Ia kemudian berkata:

Tergantung.”

Tergantung bagaimana maksudmu?”

Ajeng bukan perempuan cengeng. Ia sangat mandiri. Ia tak mau tergantung pada siapapun, apalagi terhadap lelaki. Namun ada kalanya, ia bisa lebih manja dari seorang anak umur dua tahun sekalipun.”

Apakah anak dua tahun itu manja. Kau sok tahu!”

aku hanya memberi perumpamaan, goblok! Tak usah dibahas.”

Oke.”

Kresna melanjutkan: “Oleh karenanya, lelaki yang bisa merebut hatinya haruslah lelaki yang bisa memberikannya kebebasan sekaligus perindungan padanya.”

Dan kehangatan..” Sena menyambung.

Otakmu mesum..!” timpal Kresna.

Just kidding bro!”

Apakah aku memenuhi syarat itu?”, tanya Sena lagi. Ia menoleh pada Kresna.

Tanyalah pada hatimu sendiri.”

Ayolah, aku ingin mendengar pendapatmu.”

Kresna hanya diam tak menjawabi.

Ayo, bicara bung!”

Kresna memandang pada Sena dan berkata:

Aku tak mengetahui kedalaman hatimu.Kau sendiri yang lebih mengenal dirimu, apakah kau tipe lelaki yang mengekang atau tidak.”

Sena terdiam. Sebentar kemudian ia berkata:

Perempuan adalah makhluk yang agung dan indah. Sudah sepantasnya kaum lelaki kita melindungi. Aku tak bisa mengerti mengapa ada lelaki yang sampai hati menyiksa dan berbuat kasar terhadap perempuan, apalagi terhadap isteri dan anak perempuannya sendiri.”

Aku pernah membaca Sarinah”, kata Kresna. Ia kemudian menyambung: “Di sana disebutkan banyak suami menganggap dan memperlakukan isterinya seperti mutiara. Dan justeru karena anggapan itulah perlakuan suami terhadap isterinya lebih bersifat mengekang dan membatasi. Mutiara selalu ditaruh dalam kotak, atau tempat lain yang aman. Ditutup rapat-rapat.”

Keduanya terdiam kini. Merenungi apa yang baru saja diperbincangkan.

Oleh karenanya, atas pertanyaanmu apakah kau termasuk lelaki yang bisa memberikan perlindungan padanya, kau sendirilah yang mestinya menjawab. Kau yang paling tahu dirimu sendiri..,” Kresna berkata perlahan.

Dan malampun terus berlanjut dengan bintang yang berhamburan di langit tepian Jakarta. Suara pengajian dari masjid sudah tak terdengar lagi. Dari jendela kamar, awan putih yang terkoyak angin terlihat jelas, tersinari lampu perkampungan dan perkotaan Jakarta. Awan bergerak cepat, seolah ingin mendahului sang waktu. Sambil bertiduran, kedua sahabat itu masih saja bercakap hingga menjelang tengah malam. Hingga akhirnya sebelum tidur, Kresna berkata:

Aku khawatir tak bisa mengantarmu mencari rumah kakakmu esok hari, Sen.”

Mengapa?”

Aku harus ke Pasar Senen esok pagi-pagi benar. Ada barang pesanan yang harus aku antar ke pelanggan. Barang itu sudah harus kuantarkan sebelum jam sembilan.”

Jadi esok hari aku tinggal di sini sendirian?”

Aku akan meminta Ajeng akan menemanimu. Seingatku, ia tak ada jadwal kursus di hari Sabtu. Kurasa ia tak akan keberatan menemanimu di sini, atau sekedar untuk berjalan-jalan ke Pasar Baru. Pernah kau ke Pasar Baru?”

Belum. Ini adalah kali kedua dalam hidupku pergi ke Jakarta. Yang pertama ketika aku masih SMP, study tour.

Kau harus pergi ke Pasar Baru, minimal satu kali dalam hidupmu!” Kresna tertawa geli, kemudian berkata lagi:

Kau bisa pergi berjalan-jalan dengan Ajeng ke Pasar Baru atau tempat lain yang menarik hatimu. Kalau tak ada halangan lusa kita pergi mencari rumah kakakmu Yanti.”

Sena mengangguk. Fikirannya kembali teringat pada pemuda yang beberapa jam lalu datang ke kamar Kresna. ‘Adakah kaitannya dengan pemuda itu sehingga Kresna tak bisa mengantarkannya mencari rumah kakakku Sabtu esok hari?’, pikir Sena. Ia berhenti dari lamunan dan bertanya:

Apakah Ajeng sudah cukup mengenal Jakarta?”

Ajeng?”

Ya, apakah dia sudah mengetahui seluk beluk Jakarta?”

Aku rasa sudah, mengapa?”

Karena seperti katamu, mungkin ia yang akan menemaniku esok mencari rumah kakakku.”

Kresna terdiam. Sena pun terdiam. Sejenak Sena menyesal karena telah menafsirkan sendiri perkataan kawannya itu. ‘Kresna tak pernah mengatakan bahwa Ajeng akan mengantarkanku mencari rumah kak Yanti. Yang dikatakan oleh Kresna adalah Ajeng akan dimintanya untuk menemani, mengantarkanku melihat-lihat Jakarta kalau ada waktu. Itu saja. Kalau benar bahwa Ajeng adalah kekasih Kresna, ia pasti tak rela,’ Sena berkata dalam hati.

Ya, begitu juga boleh. Esok akan kukatakan hal ini padanya. Aku yakin ia tak berkeberatan,” jawab Kresna perlahan. Ada keengganan dalam nada bicaranya yang dapat dirasakan oleh Sena.

Kres..,”

Hehhhm?”

Kau tak keberatan kalau aku pergi bersama Ajeng?”

Kresna menghela nafas. Agak lama ia berdiam diri, kemudian berkata: “Aku?”

Sena bertanya: “Ya, kau tak keberatan jika aku pergi dengan Ajeng?”

Tidak,” jawab Kresna tegas. “Lagipula mengapa aku harus berkeberatan? Pergilah dengannya esok. Temui kakakmu.”

Kau takkan marah padaku?”

Percayalah padaku,” Kresna berkata lagi. Ditatapnya mata Sena. Ia mengangguk pasti

Engkau tak cemburu?” Sena memburu.

Kresna menjawab sambil menoleh pada Sena:

Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya, percayalah. Antara aku dan Ajeng tak lebih dari sekedar teman. Mungkin kalau bisa ditarik lebih tinggi lagi hubungan kami adalah sekedar hubungan saudara. Hubungan kakak dengan adiknya. Sudahlah, sekarang lebih baik kita tidur.” Kresna membalikkan tubuhnya lagi. Deru nafasnya terdengar di keheningan malam di dalam kamar itu.

Sena tak menjawab ajakan Kresna untuk tidur. Matanya memang sudah terasa berat. Rasa kantuk semakin merasuki. Dan dalam kantuknya ia teringat kembali bayangan peristiwa hari ini: Bapak yang mengantarkannya ke Setasiun, dan pesan agar ia sebisa mungkin menemukan tempat tinggal kakaknya, menyampaikan amanat agar kakaknya itu segera pulang.

Dari ingatan akan ayahnya, Sena menjadi teringat kembali pada kakek yang duduk di sampingnya sewaktu di dalam kereta api. Merokok sajalah yang diperbuat kakek itu sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ingatannya melompat dari kakek yang duduk di sebelahnya pada kemolekan dan kecantikan Ipah, gadis penjual kopi yang manis, bertubuh padat dan menggairahkan. Dan segera saja pengamen waria yang mencubit pipinya pun bermunculan dengan wajah berganda-ganda dan tertawa-tawa dalam benaknya yang telah terjangkiti kantuk. Dan dengan begitu, ia menjadi terkenang dan rindu pada Ajeng, gadis yang baru saja dikenalnya.

Rasa kantuk terus menguasai. Ia terus berusaha membayangkan dan mengenangkan perjumpaan dan perkenalannya dengan Ajeng yang baru saja. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan, dan menimbulkan harapan. Dengkur Kresna mulai terdengar. Ada didengarnya pula suara kereta api dari kejauhan, membuatnya teringat pada lagu Locomotive dari Guns N Roses. Namun segera suara lirih deru kereta tergantikan suara gaduh sepasang kucing yang berkejaran di atap rumah melolong memadu birahi. Rasa kantuk semakin dahsyat, semakin perkasa memaksanya menutup kelopak mata. Hanya sebentar saja Sena mendengar dengkur kawannya dan gemuruh suara kereta api, karena sebelum kedua jarum jam menunjuk angka dua belas, ia telah larut dalam tidurnya sendiri, mengumandangkan dengkurnya sendiri. Kedua anak manusia itu tertidur berjajar, dengan bola lampu kamar yang terus menyala dan dengan serangga-serangga kecil yang terbang mengelilingi…

BAGIAN III

 

Matahari sudah mulai bersinar. Cahayanya yang putih kuning lembut menerobosi kamar melewati lubang-lubang angin dan beberapa celah kecil yang ada di pintu. Kedua pemuda itu telah bangun, bersembahyang subuh, mandi dan menyantap gorengan yang dibeli Kresna di ujung gang. Rokok pun telah mereka isapi sepagi itu. Dua gelas kopi berwarna hitam pekat mengepul-ngepul di atas meja.

Kalau semua pemimpin di dunia seperti kita sekarang ini, duduk, merokok, dan minum kopi bersama, maka aku yakin tidak ada lagi peperangan yang terjadi di dunia ini,” Sena memulai.

Apa maksudmu?”, Kresna bertanya heran. Diambilnya sepotong pisang goreng, dan dikunyahnya. Matanya mengawasi Sena, menunggu jawaban.

Coba kau bayangkan, kalau saja Saddam Hussein dan Bush dan Tony Blair setiap hari minum kopi bersama, membicarakan permasalahan antar mereka dengan bersahabat seperti kita pagi hari ini, maka tak perlulah sampai ada agresi, sampai ada perang antar negara.”

Kedua pemuda itu tertawa terpingkal, memegangi perut masing-masing

Sena berkata lagi:

Juga tak perlu ada perang separatis di negara kita. Tak perlu Timtim dan Aceh serta Papua ingin melepaskan diri. Apa yang pernah dinyanyikan Iwan Fals benar, uang untuk membeli persenjataan bisa lebih bermanfaat jika digunakan untuk kemakmuran rakyat. Bisa untuk membeli beras, membangun perpustakaan umum, bisa untuk membeli buku untuk anak sekolah. Para balita di negeri ini bisa merasakan sedapnya susu, sehingga otak mereka dapat berkembang dengan baik karena menyerap gizi dan vitamin yang cukup.”

Kresna mengangguk dan menyahut:

Tepat sekali apa yang kau pikirkan itu. Yang lebih penting lagi, uang untuk membeli persenjataan dan peralatan tempur lainnya itu juga bisa digunakan untuk membiayai sekolah gadis pembuat kopi yang kita jumpai kemarin sore di Jatinegara itu, ha…ha..ha. Siapa namanya…Sa…?”

Ipah. Nining Saripah,” Sena menjawab cepat.

Aaaaaa… benar. Uang untuk membeli senjata dan amunisi bisa digunakan untuk membiayai pendidikan orang-orang yang tak beruntung seperti Ipah,” Kresna tertawa sambil terus mengunyahi pisang gorengnya. Berkata lagi:

Cobalah, dengan sedikit keterampilan komputer saja, Ipah pasti akan bisa menguasai tugas-tugas kesekretarisan. Aku rasa tak akan sukar bagi dia untuk menguasai komputer dan internet. Kalau pengetahuan itu ia dapat dan peroleh, ia bisa perbaiki nasibnya. Ia bisa cari kerja yang lebih layak, dengan bayaran yang lebih besar dan terhormat. Tidak seperti sekarang, membuat mi rebus dan kopi saja yang ia mampu buat!”

Hmmm akan tetapi kalau semua pembuat kopi seperti Ipah jadi sekretaris, rasanya dunia bisa jadi akan kacau, Kres!”

Mengapa?,” Kresna menatap wajah sahabatnya itu heran. Diambilnya gelas kopi dan diteguk. Sena menjawab:

Karena, tidak akan lagi ada gadis manis yang membuat kopi untuk kita kalau kita minum di warung, ha..ha..ha..ha!” kedua pemuda itu tertawa kembali tergelak-gelak.

Dan kemudian keduanya membayangkan Ipah dengan baju sekretaris, memakai kacamata atau lensa kontak dan menenteng komputer jinjing, serta menaiki mobil pribadi warna merah. Kembali kedua pemuda itu tertawa terkikik. Beberapa saat kemudian Sena berkata sungguh-sungguh:

Tapi peperangan itu ada pula manfaatnya.”

Apa itu?”, tanya Kresna sambil menghapus kedua bola matanya yang berair dengan jarinya.

Perang berguna untuk menurunkan populasi di dunia. Perang adalah cara efektif untuk mengurangi jumlah penduduk Aku pernah mendengar hal ini dalam pelajaran ilmu negara.” Sena mengingat-ingat.

Dan dengan perang, pasar senjata dunia akan terpelihara. Bagaimanapun kepentingan negara besar bermain di sini. Kau tahu negara-negara penghasil senjata? Mereka jugalah yang gemar membuat perang!”, Kresna menimpali.

Agak lama keduanya terdiam, asyik dengan kopi masing-masing. Tak ada televisi di kamar itu. Sebagai gantinya mereka mendengarkan siaran berita yang dipancarkan oleh sebuah pemancar FM yang berkantor di Depok. Berita pagi itu: sebuah bom bunuh diri meledak di pinggiran kota Basrah, Irak. Limabelas orang tewas dalam insiden. Beberapa saat kemudian penyiar radio mengumumkan bahwa waktu telah menunjukkan pukul delapan.Tak berapa lama kemudian Kresna berkata:

Nah, aku harus segera pergi, Sen. Sebentar lagi Ajeng akan datang untuk menemanimu. Aku telah bertemu dengannya ketika membeli gorengan ini. Ia sudah menyanggupi untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

Jadi engkau ke Pasar Senen pagi ini?”

Ya, seperti yang aku katakan padamu semalam. Aku harus mengantarkan sesuatu pada seseorang di sana,” Kresna menjawab tanpa melihat wajah sahabatnya itu.

Naik apa kau?”

Yang jelas bukan naik mobil pribadi..” sahut Kresna ketus. Dikenakannya jaket yang kemarin dipakai untuk menjemput Sena ke setasiun. Selesai itu, ia mengambil bungkusan yang semalam diletakannya di atas langit-langit atap kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama untuk mengambilnya. Dalam sebentar saja ia telah kembali turun dengan bungkusan itu dimasukkan ke dalam baju, di balik jaketnya.

Kalau engkau hendak minum, gula dan kopi aku letakkan di atas lemari pakaian. Ambil dan pakai sesukamu.”

Aku bosa kopi.”

Kalau begitu pergilah ke warung sana,” Kresna menunjuk ke arah warung tak jauh dari rumah tinggalnya. “Belilah apa yang kau suka. Ada juga bir di sana kalau kau sudah berubah pikiran. Kalau kau beli bir, jangan lupa sisakan untuk aku nanti sore atau malam, oke?”

Sena mengangguk sambil terus memandangi gerak-gerik sahabatnya itu. Kresna masih saja terlihat gagah. Dalam hati ia bertanya, ‘hendak mengantarkan apakah Kresna ke Pasar Senen? Dan bungkusan itu, apakah isinya? Mengapa ia nampak sangat berhati-hati dengan bungkusan itu?’

Kresna melangkah ke luar kamar untuk kemudian berjalan menuju pagar. Sena mengikuti dari belakang. Sebelum menghilang di tikungan, ia sempat melambaikan tangannya pada sahabat lamanya itu dan berteriak:

Kalau engkau pergi dengan Ajeng, taruh saja kuncinya di bawah pot itu. Kalau aku pulang lebih dahulu aku tetap bisa masuk ke dalam kamar,” tangannya menunjuk pada sebuah pot berisi bunga mawar beberapa langkah dari pintu kamar Kresna. Sena mengangguk. Hanya dalam hitungan detik Kresna telah benar-benar menghilang dari pandangan.

Sena memasuki kembali kamar kawannya itu. Sepi kini yang ia rasakan. Sepagi itu. Diliriknya jam dinding. Sudah jam delapan pagi lewat lima menit. Ia mendengarkan siaran berita di radio lagi: ‘Kapal perang Republik Indonesia telah berjaga-jaga di sekitar Blok Ambalat mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin terjadi’. Ia menjadi teringat akan pesan pendek yang diterimanya dari kawannya dua hari lalu: Pesawat F-16 milik Angkatan Udara Indonesia telah berjaga-jaga di Bandara Sepinggan Balikpapan.

Ah perang dan perang saja. Mengapa orang selalu disibukkan dengan perkelahian?”, Sena menggumam sendiri, berbicara pada dirinya sendiri. Ia kemudian memandangi jam dinding. ‘Kapan kiranya Ajeng akan datang kemari? Ah, Ajeng yang indah. Ajeng yang ayu. Senyumnya begitu menawan. Tatap matanya teduh dengan senyum yang membasahi keringnya hati. Tubuhnya pun indah, ramping. Pas sekali dengan pakaian yang dikenakannya semalam. Kekasih Kresnakah dia? Atau hanya sekedar teman?’. Dan dalam hati Sena mengharap kemungkinan kedua lah yang senyatanya ada di antara sahabat lamanya dan Ajeng.

Hmm..hendak apakah aku ini sekarang?’, pikirnya. Dihampirinya meja kerja Kresna. Ada beberapa buku yang berjajar tak beraturan di sana. Semuanya karangan dari penulis dunia: John Steinbeck, Pramoedya Ananta Toer, Tolstoy ,Camus, dan John Grisham. Dua buku tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka, tulisan Swami Vivekanda dan buku tulisan Pearl S. Buck yang semalam dibaca Kresna, The Good Earth.

Hmm..rupanya Kresna suka pula pada Camus’, seru Sena dalam hati. Ia tak menyukai Grisham dan Camus. Karangan Grisham dirasainya tak masuk akal, sementara tulisan Camus dikritiknya sebagai terlalu bertele. Baginya Harry Potter karya JK Rowling lebih masuk akal ketimbang Camus. Matanya kembali melihat-lihat jajaran buku yang ada di atas meja kerja Kresna. Beberapa buku filsafat karya John Stuart Mill dan John Locke ada pula di sana. Semua tertulis dalam Inggris. Walau Kresna tak terlalu pandai bahasa Inggris, namun ia tak mau membaca buku-buku terjemahan.

Kita harus membaca buku dalam bahasa Inggris, karena bahasa itu adalah bahasa dunia,’ begitu selalu dikatakan Kresna pada Sena ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Diakuinya, Kresna menguasai bahasa Inggris lebih baik darinya.

Sena tersenyum kecil lagi. Dahulu ketika masih mahasiswa, semua mahasiswa termasuk dirinya dan Kresna berlomba membaca atau setidaknya memiliki buku Zaratustra karangan Nietzche. Hatinya mengakui apa yang dilakukannya dahulu disertai maksud agar terkesan sebagai intelektual kampus. Ia sendiri penggemar buku-buku filsafat. Tak seperti kawan-kawannya yang lain yang lebih menggemari filsafat Yunani dan sejarah Imperium Roma, filsafat Jawa lah yang paling ia sukai. Pemikiran Jawa sangat mendalam serta penuh makna, begitu ia selalu meyakinkan pada kawan-kawannya.

Matanya berpendaran lagi, mengamat-amati. Kresna bukanlah penggemar musik yang fanatik. Sepanjang yang dapat diingat Sena, hanya dua artis yang disukai Kresna: Leo Kristi dan John Mayall, seorang penyanyi blues dari Inggris. Dan dari lima kaset yang tergeletak di mejanya, dua adalah album John Mayall dan sisanya album Leo Kristi. Tak ada foto perempuan barang sebuah pun ada di meja Kresna. ‘Berarti, antara mereka tak ada apa-apa. Mereka hanyalah kawan biasa saja. Bukankah biasanya orang yang berkasih-kasihan suka memasang foto orang yang dikasihi di meja atau tempat-tempat pribadi lainnya?’, pikirnya. Dengan begitu ia pun kembali merasa tenang. Namun sebentar kemudian hatinya sendiri membantahi:

Bisa saja, Kresna menyimpan foto Ajeng di dompet dan aku tak pernah melihatnya. Mungkin saja pula mereka berkasih-kasihan, akan tetapi tak pernah saling menukar foto. Lagipula, apakah foto dapat dijadikan ukuran kasih sayang seseorang? ‘, hatinya berkata lagi.

Ketukan pintu membangunkan Kresna dari lamunannya. Terdengar suara gadis mengucapkan salam dan selamat pagi. Suara Ajeng! Dan dengan begitu hati Sena menjadi melunjak-lunjak gembira.

Alaikum salam,” balas pemuda itu. Sambil berjalan menuju pintu disisirinya rambutnya yang tak beraturan itu dengan jari jari tangannya.

Ketika pintu dibuka, nampak Ajeng tersenyum, berkata:

Boleh aku masuk?”

Rasa kagum dan gembira yang entah datang dari mana membuat Sena tak mampu menjawabi pertanyaan sederhana itu. Dan lagipula, Ajeng nampak tak membutuhkan benar jawabannya. Kakinya telah melangkah masuk ke dalam kemar, pada detik yang sama ketika ia meminta ijin masuk. Sena mempersilakan Ajeng untuk duduk. Ajeng mengambil kursi dan menghempaskan pantatnya. Ia nampak segar dengan rambutnya yang masih basah namun telah tersisir. Aroma wangi memancar dari tubuhnya. Ia nampak memikat dengan celana jeans dan baju putih lengan panjang berenda. Hati Sena menjadi kacau. Gembira dan senang serta kikuk menjalar dan menguasai hatinya secara perlahan. ‘Apa yang harus kukatakan?’ pikirnya.

Enak tidurmu semalam, Ajeng?”

Lumayan. Aku sudah merasa segar kembali sekarang. Kau sendiri?”

Pulas sekali. Mungkin karena masih terbawa capai seharian naik kereta api kelas kambing, ha..ha..ha…,” Sena tertawa. Ajeng tertawa pula. Sekaligus kekakuan di hati Sena telah mengendur.

Kau mau minum apa? Mau kau kubuatkan kopi?“

Tak usah repot-repot Sen, aku sudah sarapan dan minum susu sebelum kemari. Kresna berpesan padaku untuk menemanimu mencari rumah kakakmu.”

Sena mengiyakan. Mengangguk.

Kalau begitu sekarang saja kita berangkat.”

Apa harus terburu-buru?”

Tidak, akan tetapi aku tak begitu mengenal daerah itu. Kresna hanya memberikan ancar-ancar daerah itu padaku, dan kurasa aku tahu, walau aku tak yakin benar. Kau harus ingat kita sekarang di Jakarta, bukan di Kutoarjo. Hari ini mungkin masih ada jalan kampung, esok hari sudah tertutup beton apartemen.”

Sena mengangguk menyerah.

Ya, ya ya, aku mengerti. Akan tetapi bolehkah aku merokok barang satu batang terlebih dahulu?”, Sena bertanya. Menawar. Sebenarnya tak ada rasa dalam mulutnya yang memanggilnya untuk menghisapi rokok. Keinginan untuk bercakap dan berakrab lebih lama-lah sesungguhnya yang membuatnya beralasan ingin merokok dahulu.

Sesukamulah, dewa asap,” Ajeng menjawab pendek.

Dan Sena mulai menyalakan rokoknya.

Kau perokok berat rupanya?”, tanya Ajeng. Wajahnya menunjukkan raut muka tak senang.

Ah tidak juga.”

Merokok tidak baik untuk kesehatan. Kau pasti tahu itu.”

Sena mengangguk.

Bukan saja perokok itu sendiri yang rugi, akan tetapi orang lain yang ada disekitarnya,” kata Ajeng ketus. Sena menjadi terpojok. Ada rasa gembira bahwa perempuan yang mulai mengisi ruang hatinya itu memperhatikan dirinya, memperhatikan kesehatannya. Namun, ada pula ia rasai kecemasan bahwa lelaki perokok bukanlah tipe laki-laki pilihan Ajeng. Dalam hati ia bertekad untuk apabila perlu berhenti merokok untuk meraih simpati gadis itu.

Namun begitu Sena terus saja menghisapi sigaretnya. Matanya menerawang ke luar kamar, menembusi kaca jendela kamar. Sekejap kemudian kedua matanya telah mengarah pada wajah Ajeng dan berkata:

Merokok memang tak baik untuk kesehatan, aku tahu itu.”

Hanya orang bodoh yang tahu sesuatu yang tidak baik namun terus melakukannya!”, Ajeng menukas.

Mungkin kau benar.”

Merokok juga sangat tidak baik untuk mata,” Ajeng menyela.

Tidak baik untuk mata? Apa hubungannya?”

Tentu saja ada hubungannya…”

Setahuku merokok hanya merusak kesehatan paru-paru dan jantung,” kata Sena sambil membolak-balik bungkus rokok miliknya, mengamat-amati.

Mata pencaharian, Sen!” Ajeng tertawa terbahak. Sena tertawa pula. Dan dengan begitu suasana menjadi semakin mencair. Pemuda itu kemudian berkata:

Aku berniat untuk berhenti merokok kalau aku sudah menemukan orang yang pantas mendampingiku. Mungkin kalau aku sudah kawin nanti.”

Ah, lama sekali. Berhenti merokok saja harus menunggu kawin…,” Ajeng tertawa lagi. Ia menyambung:

Kucing saja kawin atau tidak kawin tidak merokok..”

Aku bukan kucing!”

Oh iya, aku lupa,” Ajeng tertawa lagi. Tangan kirinya menutupi giginya yang terlihat. “Sudah ada calonnya?” gadis itu melanjutkan.

Belum. Mengapa? Kau mau?”

Dan Sena menjadi terkejut dengan pertanyaannya sendiri. ‘Mengapa aku bisa bertanya sejauh ini padanya? Aku baru saja berkenalan dengannya semalam. Bagaimana kalau ia tersinggung?’, fikirnya.

Ajeng tidak menjawab. Wajahnya terlihat malu dan memerah. Pandangan matanya dialihkan ke tembok kamar. Untuk berapa lama keduanya terdiam, menebak-nebak perasaan hati lawannya masing-masing. Tak ada suara. Keduanya diam tak bergerak-gerak. Seekor kecoa terlihat memakan remah roti coklat sisa sisa semalam.

Sorry,” beberapa saat kemudian Sena berkata. Dimatikannya rokoknya yang masih panjang ke dalam asbak.

Ajeng tak menjawab. Matanya masih memandangi tembok dinding kamar Kresna.

Bertanya Sena pada Ajeng kemudian, memecah kebekuan :

Kalau boleh tahu, mengapa engkau memilih Jakarta dan bukannya tinggal bersama orang tuamu di Temanggung?”

Aku sudah menceritakan padamu semalam”.

Aku tahu, engkau sudah menceritakan padaku semalam bahwa engkau tak kerasan bekerja di pabrik kayu. Namun kalau boleh tahu, apa kau punya alasan lain?”

Memang aku mempunyai alasan yang lain.”

Boleh aku tahu?”

Ajeng mengangguk. Berkata:

Terpaksa,” Ajeng menjawab pendek.

Terpaksa? Maksudmu?”

Gadis berambut panjang itu menghirup nafas perlahan. Matanya memandangi lantai kamar, dan dengan perlahan mendongakkan pandang kepada Sena. Lirih Ajeng berkata:

Alasan yang sebenarnya mengapa aku pergi ke Jakarta adalah untuk menghindar dari Bapak.”

Menghindar dari Bapakmu? Mengapa?”

Ia hendak mengawinkanku dengan seseorang selepas aku selesai sekolah”, Ajeng tertunduk. Sena memperhatikan wajahnya. Tidak begitu jelas, karena wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam.

Menikahkanmu?”, tanya Sena hati-hati. Dengan begitu ia teringat pada Yanti kakaknya. Nasib Ajeng hampir serupa benar dengan Yanti yang juga hanya lulus SMA3 Dan selepas SMA itulah Bapak menjodohkannya dengan Irsyad, putra Haji Baharuddin yang masih kerabat jauh dengan keluarganya. Irsyad sudah bekerja sebagai guru, dan telah mempunyai rumah sendiri. Sebetulnya rumah itu tidak dibangun atas keringat Irsyad sendiri. Ia hanya tinggal menempati. Haji Baharuddin telah membangunkan rumah itu untuknya. Bapak merasa, kalau kakaknya menikah dengan Irsyad, pastilah hidupnya akan bahagia. Walau dalam hati tak percaya bahwa perjodohan masih bisa diterima di era internet ini, Sena dapat mengerti jalan pikiran Bapaknya. Orang tua tak ada yang menghendaki anaknya hidup sengsara.

Ya. Aku sudah hendak dinikahkan oleh Bapakku.”

Kau tak mau?”

Aku memohon pada Bapak untuk diberi kesempatan mencari pekerjaan di Jakarta. Aku berhasil meyakinkan Bapak bahwa jika aku bisa bekerja di kota ini, aku bisa mengiriminya banyak uang. Dengan begitu, ia tidak perlu menikahkanku dengan anak kawannya, kepada siapa ia mempunyai hutang selama ini. Hanya itu harapanku, agar aku bisa bekerja dan membayar hutang-hutang Bapak.” Gadis itu mulai terisak.

Apa yang membuat Bapakmu sedemikian banyak mempunyai hutang?”

Ajeng tak menjawab. Ia menunduk. Jari jarinya saling memilin. Badannya terguncang. Ia mulai menangis.

Maafkan aku, sepagi ini aku sudah membuatmu sedih.Kita berangkat sekarang?”

Ajeng menggeleng kuat. Ia masih menunduk.

Tidak apa-apa, Sena, bukan salahmu,” kata Ajeng kemudian dengan nada lirih. Ia mulai mengatur nafas, berusaha menguasai perasaan hatinya. Sena bangkit dari duduk, mengambil segelas air putih. Disodorkannya pada Ajeng.

Ini minumlah dahulu, sehingga kau merasa enak.” Ajeng menurut. Gelas berisi air putih itu diteguknya. Beberapa saat kemudian ia sudah berhenti dari menangis. Bercerita kembali:

Bapak adalah petani tembakau. Kebetulan panen pada tahun-tahun lalu selalu buruk, sehingga tiada keuntungan. Bapak harus berhutang untuk memelihara tanaman tembakau. Ia juga harus terus membeli pupuk, mengupah penggarap, membayar sekolah dua adikku, dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Singkat cerita, hasil panen tak seperti yang diharapkan. Hutang-hutang Bapak pada kawannya semakin besar. Dan kawannya itu tak akan menagih hutang, akan menganggap hutang Bapak selesai kalau aku bersedia kawin dengan anaknya.”

Sena menjadi terharu. Ia merasa iba dan tersentuh. Ingin rasanya memeluk dan membelai rambut gadis itu untuk memberikan ketentaraman, namun ia tak mempunyai keberanian. Tak mempunyai kekuatan. Hatinya mengatakan bahwa hal itu terlalu dini untuk dilakukan.

Ajeng melanjutkan lagi:

Anak kawan Bapak yang hendak dijodohkan denganku itu pemuda yang baik dan santun. Namanya Tomo. Aryo Wahyutomo. Aku pernah dikenalkan padanya, dan kami sempat berbincang-bincang.”

Kau sudah kenal?”

Ya. Kami sudah saling kenal. Ia tampan, dan sudah bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Semarang. Pada mulanya pembicaraan kami kaku, karena terus terang aku tak ingin kawin muda, apalagi dengan cara dijodohkan dan dengan alasan utama sebagai pelunas hutang. Aku tak mau kehilangan masa depanku.”

Dia juga suka padamu?” Sena bertanya menyelidik. Ia merasa tak senang.

Alhamdulillah, Tomo juga berterus terang padaku bahwa ia juga tak suka dijodohkan oleh ayahnya. Padaku ia mengaku sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri. Kami menjadi saling simpati, dan oleh karena itu kami justeri saling menghargai dan mendukung serta mendoakan kebaikan masing-masing.”

Hingga kemudian kau sampai Ke Jakarta ini?”

Ya, seperti telah kukatakan padamu tadi. Aku meyakinkan Bapak bahwa dengan bekerja di Jakarta aku akan dapat membayar hutang-hutangnya dalam waktu singkat.”

Lantas, apakah kau pernah mendapatkan pekerjaan di Jakarta ini?”

Ajeng tidak menjawab. Diusapnya matanya yang sembab dengan saputangan. Wajahnya kini kembali menatap Kresna. Gadis itu kemudian memulai kisahnya:

Ya, pernah. Hanya tiga minggu sesudah tiba di Jakarta aku mendapat pekerjaan, menjadi sekretaris di sebuah perusahaan yang cukup besar. Perusahaan percetakan.”

Ajeng bercerita bahwa ia mendapat informasi sebuah percetakan membutuhkan seorang sekretaris. Dan pamannya mempertemukan dengan pemilik percetakan itu. Sang paman mengenal pemilik percetakan karena pernah berhubungan kerja beberapa tahun silam. Karena cekatan dan rajin serta penguasaan bahasa Inggris yang cukup baik, Ajeng dengan cepat mendapat kepercayaan. Ia sering mendapatkan uang tambahan dengan bekerja lembur. “Bisa kau mengirim uang pada Bapakmu dengan gaji yang kau terima?”

Ajeng mengangguk. “Sekitar lima bulan aku bisa menyisihkan sebagian penghasilanku untuk aku kirim kepada Bapak. Namun kerjaku hanya bertahan selama lima bulan itu saja. Aku kemudian memutuskan untuk berhenti.”

Berhenti? Mengapa?”

Pemilik percetakan itu…dia sungguh.., ah..ia.. binatang! Ia pernah berusaha hendak memperkosaku!” Ajeng kemudian berceritera lagi: suatu sore, sekira pukul setengah tujuh, pemilik percetakan menyuruhnya untuk menyalin penjualan selama sebulan. Ia bekerja sendirian malam itu. Ketika itulah, sang majikan merayunya untuk melayani hasratnya, di kantor itu. Ajeng menolak, namun sang pemilik percetakan telah gelap mata.

Ia membekapku dari belakang dengan kuat. Sangat kuat,” Ajeng memandang ke luar, ke arah jendela.

Lantas?”

Aku tak punya pilihan lain kecuali memohon padanya untuk melepaskanku. Ia tak mau menurut. Mungkin telinga dan hatinya telah tersumpal. Aku meronta dan berteriak. Namun tidak ada yang menolongku.”

Ia lebih kuat darimu pasti..”

Ya, memang ia sangat kuat. Aku sudah meludahi wajahnya. Tapi ia justeru semakin liar.”

Lucu kedengarannya. Apa tak ada orang di sekitar kantormu?”

Aku tahu persis ada dua orang satpam yang berjaga di percetakan itu”

Kenapa mereka tak berbuat apa-apa?”

Itulah. Aku juga tak tahu. Mestinya mereka tahu dan mendengar teriakanku. Namun mereka diam saja. Mungkin takut akan berakibat yang merugikan mereka sendiri jika menolongku.”

Ya. Sebenarnya orang berbuat sesuatu selalu dikaitkan dengan kepentingan dan keuntungannya. Kalau perbuatan baik justeru dirasa akan mendatangkan celaka bagi diri, maka banyak orang memilih untuk bisu, mencari selamat. Lalu, berhasilkah pemilik pabrik itu…,” belum selesai Sena melanjutkan pertanyaannya, Ajeng telah mendahului:

Alhamdulillah, tidak. Aku berhasil memukul kepalanya dengan asbak yang kuraih sekenanya, dan kemudian kupukul tubuhnya dengan kursi lipat yang biasa aku gunakan untuk duduk. Setelah itu aku lari. Dua orang satpam yang berjaga juga melihatku lari. Sekali lagi mereka hanya diam. Itulah hari terakhir aku bekerja di percetakan itu. Hampir lima bulan lalu.”

Kau tidak melaporkannya pada polisi?”

Ajeng tertawa lemah, kemudian berkata:

Melapor?,”Ajeng tertawa sinis. “Kau pikir mereka akan percaya omonganku? Salah-salah aku yang akan ditertawakan dan dicemooh serta dituduh sebagai telah menggoda majikan. Sudah banyak kasus seperti ini terjadi. Akhirnya toh kasus akan ditutup dengan dalih semua terjadi suka sama suka.” Gadis itu melanjutkan lagi:

Bukannya pesimis, Sena, tapi sudah banyak contoh nyata seperti itu. Ibarat kata orang lapor kehilangan kambing, nantinya kita malah akan kehilangan sapi.”

Sena mengangguk-angguk membenarkan.

Lantas apa rencanamu setelah ini?”

Aku masih hendak menunggu sampai aku mendapat pekerjaan lagi. Aku harap, aku bisa bekerja dalam waktu-waktu ini. Sambil mengirimkan lamaran, sekarang ini mengikuti kursus bahasa Perancis.”

Bahasa Perancis? Mengapa Perancis?”

Karena itu adalah bahasa internasional kedua setelah Inggris. Kebetulan sewaktu sekolah bahasa Inggrisku lumayan baik. Aku berharap secepatnya bisa bekerja kembali, supaya aku segera bisa menghasilkan uang. Aku masih muda, Sena. Umurku baru hendak duapuluh. Aku pun ingin mengecap masa mudaku dengan sebaik-baiknya. Aku ingin mandiri, mempunyai pekerjaan dimana aku bisa mengembangkan diri dan kepribadianku. Aku harus bekerja dan berkarya di Jakarta ini, kalau tidak…”

Kau harus pulang dan kawin dengan anak kawan Bapakmu?”sergah Sena. Ia merasa khawatir.

Ya. Kalau aku tidak juga mendapat pekerjaan dalam tiga bulan ini Bapak akan menjemputku pulang. Paman sudah mengabarkan segalanya pada Bapak. Tebakanmu baru saja itu benar,” Ajeng berkata tak bersemangat. Matanya menatap Sena seolah ingin menyandarkan beban hati yang menggayuti.

Kudoakan kau akan segera mendapat pekerjaan kembali, Ajeng. Aku mendoakanmu. Banyak kau mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan?”

Ajeng mengangguk.

Semoga secepatnya ada panggilan pekerjaan untukmu.”

Terimakasih.”

Kau tak keberatan mengantarku hari ini?”

Ajeng menggelengkan kepalanya. “Mengapa harus keberatan? Sejak kemarin aku libur, karena jadwal kursusku dari Senin sampai Kamis. Kalau engkau mengajakku pergi, aku justeru senang bisa keluar dari rumah. Sepanjang hari yang kupandangi hanya itu-itu saja.” Ajeng kini telah pulih dari sedih hatinya, kembali tersenyum. Wajah gadis itu berseri-seri. Sena menjadi senang karenanya.

Kita pergi sekarang?”

Ya, rokokmu telah lama habis. Seharusnya kita sudah berada di jalan sekarang.”

Engkau sendiri yang memikatku dengan ceritamu itu.”

Ajeng memberangut.

Boleh aku lihat alamat kakakmu itu?” gadis itu bertanya. Sena mengangguk pasti. Pemuda itu segera merogoh saku belakang celananya, membuka dompet, meraih secarik kertas dan mengulurkannya pada Ajeng.

Kata Kresna, engkau sudah cukup mengenal Jakarta.”

Gadis itu tidak menjawab. Ia mengangguk-angguk, mengatakan bahwa ia mengetahui alamat yang ditujukan dalam kertas sekaligus mengetahui angkutan umum apa yang harus dinaiki. Dikembalikannya kertas kecil itu pada Sena, dan berkata menggoda:

Ayo, kita berangkat, tuan asap!”

Sena tertawa. Pemuda itu bangkit dari duduknya. Segera dikenakannya jaket kesayangannya itu. Ajeng berjalan mendahului ke luar kamar.

Engkau tampak gagah dengan jaket itu,” puji Ajeng setelah keduanya telah keluar dari kamar. Matanya menatap teduh pada Sena.

Sena tersenyum. Ia memberanikan diri memandang lekat-lekat wajah gadis yang berdiri di hadapannya itu. Hatinya berdesir-desir. Yang dipandangi hanya tersenyum malu.

Kau mau memakai ini? Pakailah supaya engkau terlindung dari debu dan panas,” Sena menawarkan jaketnya. Ajeng hanya diam, namun tangannya menerima tawaran Sena. Segera dikenakannya jaket jeans itu. Sena kembali tersenyum dan mengagumi.

Ia kemudian mengunci kamar. Sesuai dengan pesan Kresna, kunci itu ia letakkan di bawah pot berisi bunga mawar.

Keduanya kemudian berjalan meninggalkan kamar rumah itu. Berdua mereka menyusuri gang yang semakin menyempit dan menanjak. Hati Sena menjadi begitu riang. Beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh padanya. Pemuda itu merasa bangga kala mata orang memandang iri padanya yang berjalan dengan Ajeng. Sambil berjalan ia bersenandung.

When I’m Walking Beside Her

People Tell Me I’m Lucky

Yes I know I’m A Lucky Kind..

Matahari semakin menanjak tinggi. Suara kendaraan lalu lalang makin lama makin nyata terdengar membising di telinga. Bau kencing manusia mulai tercium kembali. Sena dan Ajeng sampai juga pada keramaian jalan raya yang sudah mulai macet. Tak perlu lama menunggu, apa yang mereka nantipun datang: sebuah mikrolet bergerak merayap. Keduanya segera melompat memasuki angkutan umum itu meluncur menuju kota…

Metromini yang ditumpangi Ajeng dan Sena bergerak perlahan, tersendat-sendat keluar dari terminal Blok M. Sena menunjukkan carik kertas alamat kepada kondektur dan memintanya untuk menurunkan mereka berdua di tempat terdekat. Sang kondektur terlihat mengernyitkan dahinya. Agak lama ia memandang ke arah depan seolah memikirkan sesuatu, kemudian mengangguk-angguk menyanggupi. Matanya tak melihat kepada Ajeng. Ia kembali sibuk mencari penumpang, berteriak dan memanggili mereka yang berdiri di jalan, menawarkan tumpangan.

Sena dan Ajeng duduk di bangku belakang. Metromini yang mereka tumpangi itu tak begitu penuh terisi. Pada kaca kedua pintunya banyak dipenuhi stiker, anjuran untuk membayar dengan uang pas. Sementara itu dari kanan maupun kiri jendela, jalanan terlihat macet. Suara klakson mobil, metromini, bus besar kecil, dan sepedamotor bersahutan, menjerit, saling meneriaki dan memaki. Asap knalpot dengan leluasa memasuki jendela dan pintu untuk akhirnya berputar dan mengepul di dalam bus, serta memasuki rongga tiap manusia yang bernafas di dalamnya.

Apa pendapatmu tentang kota ini?” Sena bertanya, memulai pembicaraan dalam metromini.

Jakarta? Kota yang sudah sangat kelebihan penduduk dan sudah tak nyaman lagi untuk ditinggali”.

Ah bisa saja kau. Aku amat-amati kau kerasan saja tinggal di kota ini?”.

Mulanya aku memang sangat sangat tak betah. Jalanan begitu ramai dan macet. Belum lagi banyak tempat yang rawan copet dan jambret serta penodongan.”

Tentu sangat jauh berbeda dengan Temanggung, kan?”

Ha..ha.., sudah barang tentu. Namun lambat laun aku sadar bahwa Jakarta juga lebih memberikan banyak janji daripada kota lain, apalagi kota kecil seperti kotaku. Aku mulai suka dengan Jakarta. Apa yang bisa diharapkan kalau kita tinggal di kota kecil? Apalagi kalau tinggal desa? Tidak ada harapan, Sen. Bisa jadi hutang Bapakku takkan terbayar kalau aku mencari kerja di sana. Sedangkan di Jakarta, aneka perusahaan besar kecil ada di sini. Semua perdagangan ada di sini. Pernah aku membaca bahwa sebagian besar uang berputar di Jakarta.”

Sena mengangguk angguk. Pandangan matanya dilemparkan ke arah luar, ke jalan raya. Ajeng bertanya:

Kau sendiri, adakah keinginanmu untuk pindah ke kota ini?”

Tidak”

Samasekali tidak?”

Ya,” jawab Sena mantap.

Kau akan tertinggal. Nasib harus kau ubah di kota ini. Kalau kau tinggal di Kutoarjo saja, sampai tua kau akan begitu terus.”

Tapi kalau kita hidup di kota kecil, kita masih bisa berkumpul dengan keluarga. Kita masih bisa melihat ayah dan ibu kita. Kita masih bisa memelihara ayam di halaman rumah kita. Bahkan ayam-ayam itu, bolehlah mereka tidur di dalam rumah kita kalau mereka suka.”

Tapi apa artinya kalau kita selamanya kekurangan. Hidup bersama, berkumpul akan tetapi selalu kesusahan dan kekurangan. Apakah itu yang dinamakan bahagia? Mangan ora mangan sing penting ngumpul? Aku tak setuju.”

Tergantung apa yang kau maknai dengan kekurangan itu. Kalau kau selalu memaknai kebutuhan hidup dengan hanya kebendaan saja, maka kau akan selalu kekurangan.”

Begitukah?”

Ya. Tidak saja di Jakarta, bahkan di manapun kau pijakkan kaki di bumi ini,” Sena berkata sungguh-sungguh. Ia melanjutkan:

Tapi jika kau juga menganggap dan menghargai sesuatu yang non materi, yang abstrak, spiritual, maka kebahagiaan bisa kau dapat, walau secara materi kau tak begitu berkelebihan. Ingat, kalau kita hanya mencari benda dan kebendaan saja, maka selamanya hati kita tak akan pernah terpuaskan dan terpenuhi. Selalu saja kurang. Sebaliknya, orang akan tetap dapat merasakan apa yang disebut kamulyaning urip, tanpa harus selalu mengaitkan dengan kepemilikan kebendaan. Sugih tanpa banda.

Tapi kau, aku, dan semua orang adalah darah dan daging. Darah dan daging yang perlu makan, perlu minum, pakaian, dan tempat berteduh,” sergah Ajeng tak terima. Ia memprotes.

Kita, kau dan aku bisa mencarinya di tempat kita masing-masing berasal. Tak harus di Jakarta ini. Tak harus berpenghasilan besar. Secukupnya saja. Di Jakarta jika engkau berpenghasilan besar, maka yang kau keluarkan akan besar pula. Di desa atau di daerah, asal kita bisa mensyukuri apa yang telah kita terima, maka tidak ada persoalan sebenarnya.”

Sena berkata lagi:

Lagipula kalau aku harus tinggal di Jakarta, aku tak akan tahan dengan situasi semrawut dan kacau seperti di luar sana Ajeng. Coba kau lihat, mobil-mobil berebut hendak lewat terlebih dahulu. Sudah berapa lama kita ada di dalam metromini ini, tapi mungkin belum satu kilometer kita menempuh perjalanan. Selain situasi yang semrawut dan segala polusinya, Jakarta juga rawan. Banyak kejahatan.”

Ajeng mengiyakan, mengakui. Ia mengambil sebutir permen dan dikunyahnya. Disodorkannya beberapa butir pada Sena. Pemuda itu menggelengkan kepala dan berkata lagi:

Kau lihat orang-orang itu?!”, Sena menunjuk pada sekawanan remaja lusuh di perempatan jalan yang mereka lalui. Berkata lagi:

Mereka mencari makan di jalanan. Tak jelas benar apakah mereka pekerja seni atau penjahat. Kadang mereka menyanyi-nyanyi, bertepuk tangan tanpa orang dapat mendengar suaranya karena bisingnya lalu lintas. Namun tak jarang kalau dirasa ada kesempatan mereka memaksa kita untuk memberi uang. Dan kalau mereka tak kita beri uang, mereka bisa saja melukai kita.”

Ajeng segera memotong:

Ya, tapi tidak semua anak jalanan seperti itu.”

Engkau benar, Ajeng.”

Tidak semua mereka jahat,” Ajeng menukas lagi.

Sekali lagi kau benar Banyak diantara mereka yang benar-benar ingin menghibur, dan tidak memaksa. Akan tetapi kau pasti pernah melihat di televisi bagaimana mereka nekat menodong, menjambret dan berbuat kekerasan terhadap pengguna jalan. Terkadang mereka tidak saja menyanyi dan membawa gitar, tapi juga membawa celurit.”

Mungkin yang kau maksudkan adalah pemalak, tukang peras yang menyamar sebagai pengamen,” Ajeng berkata membantah.

Bisa jadi.”

Ya, boleh jadi memang demikian.”

Memang kita tak bisa menyamaratakan, menggeneralisir. Juga kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Lingkungan yang menjadikan mereka begitu. Kebanyakan mereka dari keluarga miskin. Ketika kecil, mereka tiada mampu bersekolah karena orang tua mereka tak mampu. Dan ketika mereka besar, hanya meminta-minta saja yang dapat mereka perbuat. Ijazah dan apapun yang formal mereka tak punya.”

Kesalahan negara juga, mengapa tak memperhatikan mereka,” kata Ajeng seperti menggumam.

Ya. Negara harus memperhatikan mereka. Kalau begini terus, akan seperti lingkaran setan yang tak ada ujung pangkal. Tak ada akhirnya. Keruwetan demi keruwetan.”

Anak-anak jalanan itu…, bahkan mungkin mereka tidak punya orang tua atau tak pernah melihat orangtuanya sejak kecil, sejak mereka bayi. Anak hasil hubungan gelap.”

Benar. Aku sering mendengar, banyak bayi, banyak anak ditelantarkan dan ditaruh begitu saja oleh orang tuanya di tepi jalan. Sudah sejak menjadi embrio orang tuanya membenci benar kehadiran mereka. Masih bagus kalau mereka tak mati ketika dibuang atau dibunuh ketika dilahirkan.”

Ajeng terdiam merenungi kata-kata Sena. Sebentar-sebentar ia membetulkan rambutnya yang dikibas-kibaskan angin yang masuk melalui pintu. Kondektur berjalan menghampiri menepuk pundak Sena menagih ongkos. Sena segera membayar dan kemudian berkata:

Mereka, sejak dalam perut emaknya sudah menjadi daging dan nyawa yang tak diinginkan. Mereka tak berdosa. Nafsu orang tuanyalah yang membawa mereka ke dunia.”

Sena melanjutkan lagi, “Seharusnya pemerintah memperhatikan mereka. Konstitusi kita sudah mengamanatkan penyelenggara negara ini untuk memperhatikan mereka,” Ajeng mengangguk-angguk mendengarkan apa yang dikatakan Sena. Gadis itu kemudian berkata:

Mungkin kita masih jauh dari titik itu, Sena. Banyak permasalahan besar yang dihadapi negara ini. Pemerintah tentu kewalahan dan serba salah mana yang harus diprioritaskan.”

Tugas penyelenggara negara memang untuk mensejahterakan rakyatnya,” sergah Sena. “Kau benar. Namun kau harus ingat bahwa hampir setiap permasalahan yang melanda negara kita sudah dalam taraf yang sangat parah. Sialnya negara ini mempunyai begitu banyak masalah. Entah mana yang harus didahulukan, diprioritaskan. Ada masalah banjir, busung lapar, separatisme, pertikaian antar etnis, kesenjangan kaya miskin, belum lagi korupsi yang menjalar dari atas sampai bawah. Dari pejabat tingkat tinggi sampai korupsi di tingkat kelurahan dan desa,” Ajeng berhenti sejenak. Gadis itu berkata lagi:

Siapapun pemerintahnya sekarang akan sangat berat untuk menyelesaikannya. Semua permasalahan dan penyakit sudah terbentuk begitu lama, sudah mendarah daging. Semua butuh penyelesaian segera. Semua permasalahan dituntut untuk diselesaikan di urutan pertama,” sahut gadis itu kemudian.

Engkau benar Ajeng”, Sena menyahut. Kembali ia merasa kagum, bahwa Ajeng ternyata menaruh perhatian dan kepedulian pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.

Percakapan terhenti ketika sang kondektur memandang dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap turun. Ajeng dan Sena bangkit dari duduknya, dan menghampiri pintu metromini. Kendaraan itu berjalan melambat dan dengan begitu sang kondektur mendorong punggung keduanya. Sena menolehkan kepalanya melotot, akan tetapi kondektur itu tak memedulikannya. Bus terus berjalan meninggalkan mereka.

Sena dan Ajeng kini telah berada di pinggir jalan raya. Sena mengusap keringat di dahinya.Ajeng berkata lagi setelah keduanya mulai berjalan:

Kalaulah hidup ini tak perlu uang…”

Tidak mungkin,” Sena memotong sambil tertawa.

Coba fikirkan, khayalkan Sena. Dengarkan dahulu apa yang aku maksud,” Ajeng menggerutu.

Baik, lanjutkan apa katamu,” Sena berkata. Ada ia rasai malu telah memotong begitu saja perkataan Ajeng.

Kalau saja hidup itu tak perlu uang. Kalau saja dalam hidup kita tak mengenal rasa lapar, maka aku mungkin akan sepakat denganmu bahwa kehidupan ini jauh lebih indah dinikmati apabila kita tinggal di desa.”

Heem..”Sena tersenyum. Dipandanginya wajah Ajeng, dan dengan isyarat mata ia meminta gadis itu untuk terus berceritera.

Di desa kehidupan jauh lebih baik. Di sana tidak ada polusi yang meracuni dada kita, meracuni dada para bayi dan juga dada para kambing, bebek dan ayam.”

Serta sapi dan kerbau,” Sena menyahut. Ajeng mengangguk. ”Tak ada tekanan hidup. Orang masih bisa melihat hijaunya rumput dan indahnya suara yang timbul ketika pohon bambu diterpa angin. Lain dengan di Jakarta. Sukar bagimu untuk melihat rumput.Sukar bagimu melihat bahkan tanah kosong sekalipun.”

Sena terdiam merenungi apa yang dikatakan Ajeng. Ia merasai adanya kebenaran yang dikatakan oleh gadis yang sedang berjalan disampingnya itu. Dipandanginya sepanjang jalan raya. Semua hanyalah aspal dan beton. Sepanjang kanan dan kiri hanyalah pertokoan. Hanyalah beton, dan pagar-pagar besi. Dan jika mata dilemparkan jauh ke depan, belakang dan samping, hanya bangunan bertingkat dan rumah-rumah mewah saja yang terlihat.

Sayangnya kita hidup harus dengan uang, Ajeng.”

Itulah, Sena.”

Bahkan untuk kencing dan buang air besar pun kita harus membayar.”

Limaratus untuk kencing, dan seribu perak untuk buang air besar,” Ajeng menimpali dengan sinis.

Yah, semua sekarang diukur dengan uang. Tidak ada pertolongan yang tulus. Di desa orang masih bisa meminta bantuan tetangganya untuk menyingkirkan batang pohon yang roboh misalnya. Di kota seperti Jakarta ini orang mestilah menawar harga sebuah jasa terlebih dahulu baru ia akan mendapatkan pertolongan.”

Hey dari tadi kita hanya berjalan saja, tanpa tahu arah dan tujuan. Kemana sekarang kita, Ajeng?”

Kita cari jalan yang tertulis di kertasmu itu. Mari kita tanyakan pada penjual warung di sebelah sana,” Ajeng berkata sambil menunjuk sebuah warung tenda, sekira limapuluh meter dari tempat mereka berdiri. Berdua mereka mendekati warung itu.

Lelaki tua penunggu warung mengatakan bahwa jalan seperti yang tertulis dalam kertas Sena ada tidak jauh dari tempat itu. Ia menunjuk sebuah titik di dekat jembatan di seberang jalan dan menyuruh keduanya untuk mengikuti saja gang pertama yang akan dijumpai. Sena dan Ajeng mengangguk dan berterimakasih. Keduanya kemudian kembali menyeberangi jalan raya.

Menurut orang yang baru saja kita jumpai tadi, kita harus mendekati jembatan ini, Sen.”

Ya, mari.”

Dan keduanya terus berjalan hingga menemukan sebuah gang yang tak begitu terlihat dari kejauhan. Kedua remaja itu berbelok memasuki. Beberapa ibu muda tampak sedang bercakap-cakap sambil menggendong anak dan saling membandingkan kelebihan anaknya masing-masing. Sementara beberapa ibu yang tak menggendong anak nampak mengerubungi tukang sayur, menawar-nawar harga.

Di mana kira-kira rumah kakakku? Di kertas ini tertulis nomor tujupuluh enam.”

Sekitar sini masih nomor limapuluhan, Sen. Ini berarti, kita masih harus berjalan ke dalam,” Ajeng menunjuk ke arah depan.

Sena mengangguk, menurut. Keduanya kemudian melanjutkan langkahnya. Sambil berjalan, kepala dan mata keduanya tak lepas mengawasi tembok depan atau gerbang pagar setiap rumah.

Itu dia. Aku rasa itu nomornya, ya itu dia rumahnya,” Sena berkata separuh terpekik. Diraihnya tangan Ajeng, namun kemudian dilepaskannya lagi. ‘Mengapa aku menggandengnya?’ pikirnya. Ajeng hanya terdiam.

Keduanya berjalan mendekati rumah dengan nomor 76 yang terpasang pada tembok depan. Rumah itu tak terlalu bagus namun terlihat terawat. Dinding-dindingnya kokoh terbangun. Beberapa hiasan bergaya Jawa terpasang di tembok depan. Sebuah kentongan berbentuk cabai merah besar tergantung di dekat pintu depan. Pada samping rumah terlihat pintu yang terbuat dari seng yang terkesan ditutup sekenanya saja. Dari kejauhan Sena bisa menerawang halaman dalam rumah dari celah pintu itu. Ada dilihatnya tali jemuran dan berbagai macam pakaian tergantung di sana.

Apakah menurutmu kakakku tinggal di sini, Jeng?”, tanya Sena.

Mungkin saja.”

Kau yakin di sini tempatnya?”

Entahlah. Tapi setidaknya nomor rumah ini sama dengan yang ada di dalam kertas catatanmu”, Ajeng menggumam. Ia kemudian berkata lagi:

Bagaimana kalau kita ketuk rumah ini dulu?”, Ajeng menyarankan.

Benar, mari.”

Tiba-tiba terdengar suara orang, suara perempuan berkata keras sambil menunjuk pintu seng yang ada di samping rumah: “Kalau kalian mau ketemu orang kos, masuk saja, lewat pintu sebelah sono, noh

Kedua remaja itu membalikkan kepala mencari arah suara yang berkata pada mereka. Suara itu berasal dari halaman sebuah rumah yang terletak tepat di depan rumah bernomor 76 itu. Seorang perempuan, berumur sekira limapuluh lima tahun terlihat memegang sapu lidi. Nampaknya ialah yang baru saja bicara.

Maksud ibu, rumah ini tempat kos?” tanya Sena. Ia berjalan mendekati pagar rumah perempuan tua itu. Yang ditanya mengangguk. Ia kemudian berkata:

Rumah itu memang rumah kos, ada banyak yang tinggal dari situ.”

Demi mendengar jawaban dari perempuan itu Sena menjadi bergairah. Ia kemudian bertanya lagi:

Mungkin ibu kenal kakak saya Yanti? Dia dari Jawa Tengah, Kutoarjo.”

Perempuan yang memegang sapu itu tertawa terkekeh. “Semua yang kos di situ juga kebanyakan orang Jawa.”

Oh…,” ujar Sena. Sekejap dalam hati ia merasa kesal melihat perempuan tua di depannya itu mentertawakannya.

Coba kau tanyakan apakah dia kenal dengan kakakmu,” Ajeng membisik dekat telinga Sena. Dengan begitu pemuda itu bisa merasakan hembusan nafasnya, membuat konsentrasinya menghilang.

Mungkin Ibu kenal dengan kakak saya, namanya Yanti,” Sena berkata ramah, tersadar kembali dari alam khayalnya. Hatinya masih saja kesal dengan tawa perempuan itu, namun ia sadar, ia membutuhkan bantuan darinya.

Aku tidak mengenal nama itu. Yang kukenal hanya mereka yang mencucikan baju padaku. Itupun terkadang aku tak tahu persis namanya. Aku hanya mengenal wajahnya saja,” perempuan itu menjawab tak acuh kemudian meneruskan menyapu. “Mengapa kalian tak masuk saja ke dalam sana?”

Dengan begitu Ajeng dan Sena berjalan memasuki halaman rumah itu. Dibuka pintu samping oleh Ajeng, dan segera ternampak beberapa kamar berderet terlihat begitu memanjang. Kamar kos. Sena bisa mengenalinya. Setiap kamar mempunyai tempat sepatu sendiri. Akan tetapi, untuk menjemur pakaian, nampaknya setiap penghuni harus pandai berebut lahan, karena tali jemuran yang tersedia sangat pendek untuk pakaian begitu banyak kamar. Sena dan Ajeng masih saja berdiri di depan pintu seng yang telah sedikit terbuka itu.

Kepada siapa kita harus bertanya?, semua kamar nampaknya sepi. Mungkin karena mereka bekerja?”

Ya, barangkali begitu. Hey lihat itu ada seseorang datang kemari. Barangkali ia bisa membantu kita,” Sena menunjuk pada seorang perempuan bertubuh sintal berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun yang sedang menenteng sebuah ember. Nampaknya hendak mengambili jemurannya yang telah mengering.

Sena menegur:

Maaf Mbak, boleh kami mengganggu sebentar?”

Perempuan itu menoleh. Diletakannya ember berwarna merah di tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah pintu samping.

Mencari siapa, dik?” tanyanya ramah.

Maaf Mbak, saya mencari kakak saya yang bernama Yanti”

Yanti?”, perempuan itu nampak mengernyitkan dahinya.

Ya, Mbak, Yanti namanya. Adakah Mbak mengenal dia?”

Yanti yang mana, dik? Di sini ada dua Yanti. Yanti yang pertama, orang Padang. Nama lengkapnya Noviyanti. Ia sedang bekerja di pabrik.”

Bukan, kakak saya dari Kutoarjo,” Seno memotong.

Kutoarjo?”

Ya”

Oooh.., maksudmu Haryanti?” perempuan itu menjawab cepat. Menebak.

Benar Mbak, kakak saya bernama Haryanti. Haryanti Puji Lestari,” sahut Sena gembira. “Tentu saja aku mengenalnya. Saat ini ia sedang bekerja. Sebaiknya adik kalau kemari jangan pada jam begini, percuma saja, semua sedang bekerja.”

Bekerja?”

Perempuan itu mengangguk membenarkan. “Kakakmu Yanti bekerja di pabrik sepatu tak jauh dari sini. Ia baru kembali selepas Ashar nanti. Datanglah nanti malam atau esok, aku akan memberitahukan pada kakakmu.”

Oh jadi Mbak pemilik rumah ini?” kali ini Ajeng ikut bergabung dalam pembicaraan.

Tidak, tidak,” perempuan muda itu berkata sambil tertawa. Ia kemudian menjelaskan: “Aku hanya mengontrak kamar ini seperti kakak kalian. Suamiku saja yang bekerja.”

Ohh..”, Sena dan Ajeng menjawab serempak. Sekaligus mereka berdua tahu, bahwa penghuni kamar kos adalah laki-laki dan perempuan.

Kakak kalian baru akan kembali nanti Sesudah ashar. Biasanya ia segera kembali, dan tidak kemana-mana lagi.”

Bagaimana Ajeng, apakah kita akan pulang dahulu dan kembali ke mari esok pagi-pagi sekali?” Sena bertanya.

Ajeng terdiam dan nampak berfikir. Bintik kecil keringat nampak bermunculan di keningnya. Berkata kemudian: “Terserah kau Sena, engkau yang lebih mengerti. Kapan engkau haru kembali pulang ke Kutoarjo?”

Bapakku mengatakan kalau aku harus secepatnya pulang jika telah bertemu kakak,” Sena menjawab bimbang.

Tiba-tiba perempuan tadi berkata:

Kalau kalian mau, kalian bisa menunggu kakak kalian di kamarku.”

Sena memandangi wajah Ajeng. Gadis itu hanya mengangkat bahu. Ada kegalauan baru di hati Sena. ‘Menunggu di sini? Berapa lama? Berapa jam? Kalau pulang ke rumah kos Kresna, akan makan waktu lagi, dan itu berarti esok hari aku tetap harus dan harus datang ke mari. Namun kalau aku menunggu di sini, Ajeng bisa kemalaman pulang.’

Sudah, kalian menanti saja di sini. Kalian bisa singgah di kamarku, ayo!”, belum sempat Sena memikir lebih lama, tangan Ajeng sudah ditarik oleh perempuan itu. Ia terpaksa mengikuti. Mereka kemudian berjalan memasuki halaman dan jalan setapak samping rumah. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah kamar yang terletak di samping sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Gudang’.

Nah ini kamarku. Kalian bisa menunggu di sini. Sebentar, akan kubuatkan kalian minum,” perempuan itu berkata. Ajeng dan Kresna buru-buru menolak, namun perempuan itu tak peduli. Ia telah bergegas ke luar kamar menuju dapur.

Kamar perempuan itu nampak sederhana. Ukurannya tidak terlalu besar. Sena mendongakkan kepala dan segera ia mengukur, luas kamar itu 4×4 meter. Tidak luas,namun juga tak terlalu sempit untuk pasangan suami isteri yang nampaknya belum mempunyai anak. Setidaknya itu disimpulkannya dari tidak adanya foto anak kecil atau bayi yang tergantung di dinding. Hanya foto perkawinan adat Minangkabau yang terpasang.

Di kamar itu ada terdapat televisi. Sebuah radio tape nampak tergeletak di atas meja. Sepertinya tak pernah digunakan. Debu terlihat menempel tebal di atasnya.

Ini silakan diminum”, perempuan itu memasuki kamar sambil membawa tiga gelas kosong dan sebuah wadah air berisi air sirup. Dan segera saja Sena dan Ajeng menuangkan sirup yang menyegarkan itu ke dalam gelas masing-masing. Ketiga orang itu kemudian terlibat dalam perbincangan yang hangat.. Pada Ajeng dan Sena, ia memperkenalkan diri bernama Hilda. Pada Hilda Sena mengadukan apa yang baru saja mereka alami, tentang seorang Ibu yang nampaknya tinggal di rumah kos itu.

Ah biasa. Itulah yang namanya Jakarta. Orang jarang saling mengenal. Jangan samakan dengan kehidupan di desa,” Hilda tersenyum menasihati. Ia kemudian berkata:

Tapi tak semua orang di Jakarta begitu. Ada kalanya orang di sini bahkan lebih ramah daripada di desa.”

Sena mengangguk. Ajeng mengiyakan.

Masih lamakah kakak saya pulang , Mbak Hilda?”.

Kakak kalian akan datang dalam satu jam lagi, sabarlah. Santai saja menunggu di sini. Kalau kalian masih lelah, kalian bisa tidur di tempat tidurku,” kata Hilda pada Sena.

Baik Ajeng maupun Sena mengangguk hampir bersamaan. “ Terimakasih Mbak.”

Tapi ingat, jangan tidur berdua!” Hilda tertawa. Ajeng dan Sena saling pandang untuk kemudian turut tertawa dan menjawab serempak: “Jangan khawatir, Mbak.”

Kau tak apa-apa kalau kita pulang agak terlambat, Ajeng?”, Sena bertanya kemudian.

Ajeng menggelengkan kepalanya, menjawab:

Tak mengapa, yang penting setelah ini kau mengantarkan aku kembali, jangan aku engkau culik ke Kutoarjo,” gadis itu berkata separuh tertawa. Sena hanya tersenyum. Hilda pun tertawa. Ketiganya kemudian kembali terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Perempuan itu menceritakan bahwa ia berasal dari Banjar Patroman, sebuah daerah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia adalah sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Suaminya yang berasal dari Padang juga sarjana. Namun persaingan kerja yang ketat dan indeks prestasi yang tidak begitu tinggi ditambah ketiadaan koneksi membuat keduanya hanya pasrah menjalani hidup seperti sekarang: Hilda menganggur, dan suaminya rela menjadi tenaga pengamanan pabrik. Menjadi satpam. Pada Sena dan Ajeng perempuan itu berkata bahwa ia sungguh berharap, suatu saat karir suaminya akan naik, dan ijazah sarjananya dipertimbangkan.

Menit demi menit berlalu. Pada Sena dan Ajeng, Hilda bercerita bahwa ia sering mendengar sepak terjang kakak Sena dari suaminya. Berkata Hilda kemudian:

Kakakmu itu perempuan pemberani. Ia selalu menjadi pemimpin unjuk rasa buruh. Berkali-kali ia memimpin demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum dan protes terhadap pengusaha dan negara tentang keselamatan kerja.”

Demonstrasi?”, Sena bertanya. Ada rasa terkejut dalam hatinya. Kakak? Menjadi pengunjuk rasa? Kakak yang pendiam itu? Rasanya tak mungkin…

Ya. Ia pernah ditahan beberapa hari di kantor polisi. Ia sungguh berani. Ia berani berkorban dan berjuang tidak saja untuk harga dirinya, tapi untuk karyawan yang jumlahnya ribuan. Ia tak peduli akan keselamatan dirinya sendiri, sekalipun ia sering mendapat ancaman dan teror,” Hilda melanjutkan lagi.

Aku tak pernah mengetahui hal itu,” Sena masih tak percaya.

Engkau adiknya sendiri tak pernah tahu? Sungguhkah?” perempuan itu mengernyitkan dahinya keheranan.

Ya, aku tak pernah mengetahui. Sudah empat tahun ini aku tak berjumpa dengannya.” Sena kemudian menceritakan semuanya tentang kakaknya Yanti pada Hilda. Perempuan itu hanya mengangguk angguk tanda mengerti.

Tiba-tiba terdengar suara serombongan orang memasuki halaman. Hilda segera beranjak dari duduknya. “Mungkin itu kakak kalian!” Ia bangkit dan mengintip dari jendela kamar, kemudian dengan wajah berseri-seri ia menatap wajah Sena dan Ajeng, berkata:

Ya benar, ia sudah pulang. Nah, sekarang kalian bisa menjumpainya.”

Sungguh? Kalau begitu kami minta diri. Terimakasih Mbak Hilda, maaf kalau kami jadi merepotkan,” kedua remaja itu serempak menjawabi.

Ah tidak mengapa. Lupakan saja. Aku senang berkenalan dengan kalian. Mari aku antarkan aku ke kamar kakak kalian,” Hilda berkata dengan senyum mengembang di bibirnya.

Dan ketiganya kemudian segera bangkit dan menuju ke luar kamar. Hilda menghampiri rombongan perempuan berbaju seragam biru yang baru masuk. Dipanggilnya salah seorang dari rombongan perempuan yang baru saja masuk itu.

Yanti..”

Ya,” perempuan bernama Yanti itu menoleh. Tersenyum.

Ada adikmu mencari…”

Seorang berambut panjang sebahu dengan baju biru, sama seperti yang dikenakan kawan perempuannya yang lain nampak menoleh. Wajahnya tersenyum, namun demi dilihatnya Sena, senyumnya berubah menjadi kekagetan yang amat sangat. Agak lama ia tercenung. Sena juga tak mampu berkata-kata. Apa yang dilihatnya adalah kakaknya sendiri. Darah dagingnya sendiri. Ia tak mampu memanggil keras.

Sena kah kau?”, perempuan itu berjalan mendekati Sena. Jalannya dipercepat.

Ya Kak.” Sena kini mampu berkata-kata, ada gemuruh di dadanya demi melihat saudara kandung yang sudah empat tahun tak pernah dilihatnya. Dihampirinya kakak perempuannya itu. Keduanya berpelukan terharu. Yanti mengucapkan terimakasih pada Hilda karena telah menyediakan kamar bagi adiknya untuk menunggu. Hilda hanya tersenyum, kemudian berjalan menuju tempat jemuran, mengambili pakaiannya.

Kau masih saja kurus, Sena. Kau harus banyak makan. Laki-laki harus terlihat gagah. Kau tidak sakit kan? Kau masih merokok?”, perempuan itu mengguncang-guncang pundak Sena dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan lainnya. Sena hanya tertawa bahagia. Ia senang melihat kakaknya kembali setelah empat tahun berpisah. Diceritakannya bagaimana sampai ia dapat mencari alamat tinggal kakaknya itu. Yanti hanya mengangguk-angguk kemudian berkata:

Marilah masuk ke kamarku.” Dan ketiga orang itupun berjalan beriringan menuju ke sebuah pintu diantara beberapa pintu kamar kos itu.

Ayo masuk. Ajak kawanmu serta, ayo!”

Baik kak,” kata Sena. “Ayo Ajeng, masuk.”

Ajeng tidak menjawab, namun mengangguk pasti. Dilepaskannya sandal seperti Sena melepas sepatu ketika memasuki kamar Yanti kakak perempuannya itu. Sore hari telah menjelang. Cahaya di langit mulai meredup seiring melembutnya sinar mentari. Warnanya kini menjadi kuning keemasan. Awan yang ada berwarna kelabu keputihan. Dan suara kendaraan yang menggemuruh dari jalan raya serta deru pesawat terbang yang melintas sekali sekali masih terdengar lamat-lamat dari rumah kos yang besar itu. Satu persatu penghuni kamar di rumah itu kembali dan memasuki kamar masing-masing…

BAGIAN IV

 

Kamar yang ditempati Yanti tidak begitu luas, setidaknya jika dibandingkan dengan kamar Hilda. Namun begitu, ketiga orang itu masih dapat melakukan shalat ashar bersama dengan menggeser meja dan kursi yang ada di dalamnya. Pada dinding dekat pintu tergantung sebuah foto ukuran kartu pos dengan pigura model lama. Walau sudah mulai rusak karena lembabnya tembok, masih dapat terlihat seorang gadis muda berambut panjang sedang menggendong seorang anak lelaki kecil. Anak lelaki yang ada di gendongannya itu tak lain adalah Sena. Di belakang nampak berdiri kedua orangtuanya. Bapaknya berbaju batik, berpeci, berkumis, dan berkulit hitam gelap. Sedangkan Ibunya mengenakan kerudung dengan sorot mata yang lugu. Perempuan itu adalah ibunya. Foto itu diambil duapuluh satu tahun silam di Pantai Ayah, Kebumen.

Di samping dipan tempat tidur terdapat sebuah meja tulis. Di atasnya berderet rapi dan teratur berbagai buku hukum dan politik serta buku-buku mengenai perburuhan dan perundangan tentang ketenagakerjaan Di dinding tepat di atas meja belajar tertempel poster seorang perempuan yang sedang berteriak mengepalkan tangan dengan tulisan besar di bawahnya ‘Lindungi Hak Reproduksi!’. Tepat di samping poster itu tergantung foto Yanti dengan seorang yang dikenal Sena sebagai kekasih kakaknya bernama Ardi. Dari pakaian yang mereka kenakan di foto itu, Sena segera paham bahwa kakaknya telah menikah dengan Ardi pilihan hatinya itu.

Bagaimana kabar Bapak dan Ibu, Sena? Oh ya, aku belum mengenal kawanmu ini, siapa namanya?”, Yanti mengulurkan tangannya pada Ajeng dan segera memperkenalkan diri. Ajeng menyambut uluran tangan dan menyebutkan namanya pula.

Sudah lama kalian bersama-sama?” Yanti bertanya lagi.

Kami baru mengenal semalam, Kak. Ajeng tinggal tak jauh dari rumah kawanku di pinggiran Jakarta Selatan. Kebetulan hari ini kawanku itu tak bisa menemaniku mencari rumah kosmu di Jakarta ini. Maka, Ajeng lah yang aku minta untuk menemani,” Sena menjawabi, tak segera mengatakan kabar orang tuanya.

Ohh…begitu. Jadi kalian ini baru saling kenal…,” Yanti mengangguk-angguk.

Kakak masih saja menyimpan foto itu?” tanya Sena. Tangannya menunjuk pada foto keluarga yang dipajang kakaknya itu. Ia tak segera menceritakan kabar orang tuanya pada kakaknya itu.

Ya, malam hari sebelum meninggalkan rumah, aku memilih foto yang saat itu paling aku sayangi. Dan jika aku merasa rindu padamu, pada Bapak dan Ibu, aku selalu melihat foto itu. Aku sering menangis melihatnya.”

Ibu dan Bapak juga sering menangis mengenang Kakak. Aku rasa mereka berdua rindu sekali pada Kakak, terutama Ibu.”

Ya, aku mengerti. Aku tak mempunyai masalah dengan Ibu. Aku hanya mempunyai perbedaan pendapat dengan Bapak. Saat itu Bapak sudah sedemikian rupa hendak memaksaku kawin dengan Irsyad.”

Yanti berhenti sejenak. Seorang gadis penghuni kos mengetuk pintu dan kemudian bercakap cakap dengannya. Ia kemudian merogoh uang dari dompetnya, dan diberikan kepada gadis itu.

Uang dukacita. Salah seorang ayah dari penghuni kos ini meninggal”, ia menjelaskan pada Sena dan Ajeng. Sena menyambung kembali pembicaraan:

Jadi kakak telah menikah dengan Mas Ardi?”

Ya,” Yanti menjawab pendek. Agak lama kemudian ia berkata:

Aku memang menolak untuk kawin dengan Irsyad, laki-laki pilihan Bapak. Tidak. Aku tidak pernah mengenalnya, dan aku memang tidak menyukainya. Bukan karena Irsyad tidak baik. Sama sekali bukan. Akan tetapi apapun alasan aku tidak menyukainya biarlah itu menjadi rahasia pribadiku yang aku rasa aku tak perlu ceritakan pada orang. Cinta tak bisa dipaksa.”

Ada kudengar sampai kini Irsyad tidak mau kawin dengan siapapun,” kata Sena.

Yanti tidak menjawab. Perempuan itu terdiam.

Sena menghela nafas. Ia kemudian bertanya:

Kakak tidak menyesal dengan keputusan kakak?”.

Apa maksudmu?”

Kakak bahagia meninggalkan rumah? Kakak tidak rindu pulang?”

Yanti tidak segera menjawab. Diambilnya gelas kosong dan diisinya dengan air sirup.

Akupun tak tahu,” Yanti mengangkat kedua bahunya. “Permasalahan yang kuhadapi bukan rindu atau tidak rindu untuk pulang. Tentu aku sangat rindu rumah dan ingin pulang. Yang menjadi persoalan utama adalah sanggupkah aku tetap konsekuen dengan pendirianku.”

Apa maksud kakak dengan konsekuen?”

Yanti tak segera menjawab pertanyaan Sena. Diambilnya gelas yang sudah terisi penuh air sirup, dan diminumnya perlahan sampai habis. Berkata perempuan itu kemudian:

Begini, aku memutuskan daripada harus kawin dengan Irsyad, lebih baik aku keluar dari rumah dan hidup mandiri. Itu kulakukan semata karena saat itu aku tak mau aku sebagai anak semakin berhutang budi pada Bapak dan dipaksa membalas budi dengan melakukan hal yang tak aku sukai.”

Kakak dan Mas Ardi langsung ke Jakarta?”

Tidak”, Yanti menjawab cepat. Ia kemudian melanjutkan:

Pada awalnya kami pergi ke Semarang. Sekitar empat bulan kami tinggal di sana. Mas Ardi mendapat pekerjaan sebagai penjaga dealer sepeda motor. Aku bekerja di sebuah pabrik tekstil di Ungaran.”

Lantas mengapa kemudian kakak ke Jakarta?”

Walau kami berdua bekerja, penghasilan kami berdua masih terlalu kecil. Maka dari itu kami memutuskan untuk sekalian saja mengadu nasib Jakarta, mencari penghidupan yang lebih baik.”

Hingga kakak bekerja di pabrik sepatu seperti sekarang ini?”, tanya Sena.

Yanti mengangguk. Ia berkata:

Ya, mendaftar menjadi buruh adalah pilihan termudah saat itu. Aku sadar, aku hanya berpendidikan SMA. Tapi aku tak mau menjadi orang yang tidak menyusahkan orang lain sekalipun itu suamiku sendiri. Aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri, menolong diriku sendiri,” perempuan itu menjawab perlahan namun tegas. Ketegasan yang dirasakan sebagai hal baru oleh Sena. Kakaknya yang dahulu, yang meninggalkan rumah hanyalah seorang perempuan biasa, gadis pinggiran kota kecil yang lemah lembut.

Kalau kakak sudah menikah, maka di mana suami kakak sekarang?”, Sena bertanya lagi. Ia merasa agak heran, mengapa ada kesan seolah kakaknya tinggal di kamar itu sendirian. Tak ada ia melihat sepatu atau pakaian dan jaket lelaki tergantung di kamar kakaknya itu.

Agak lama ia mendapatkan jawaban, ketika kemudian Yanti berkata: “Saat ini aku memang tinggal sendirian di kamar kos ini.”

Lantas di mana sekarang Mas Ardi?”

Korea. Sudah dua tahun ini ia bekerja di sana. Tadinya ia bekerja di pabrik yang sama, di pabrik sepatu tempatku bekerja. Namun ia memutuskan untuk keluar negeri. Korea menjadi pilihannya. Aku bisa mengerti. Aku setuju dengan keputusannya karena bekerja di luar negeri bisa mendatangkan uang yang jauh lebih banyak dari bekerja di negeri sendiri.”

Aku dengar kerja di luar negeri perlu modal yang besar untuk berangkat. Paling tidak butuh sampai limabelas bahkan duapuluh juta,” Ajeng menyela

Kau benar, Ajeng. Kebetulan orangtua suamiku mendorongnya untuk berangkat ke luar negeri. Mereka menjual sawah untuk modal. Kata mereka, kalau suamiku sudah pulang kembali dari negeri orang, sebagian penghasilan yang didapat bisa untuk menebus kembali tanah yang telah dijual. Alhamdulillah, baru satu tahun bekerja ia sudah dapat mengirim uang pada orang tuanya untuk dapat dibelikan sawah kembali.”

Berbagai cerita kemudian mengalir lancar dari mulut Yanti. Perempuan itu berharap, sepulangnya suaminya bekerja dari Korea nanti mereka akan mampu membeli rumah sendiri di Bekasi walaupun kecil-kecilan. Ia juga berkeinginan membuka usaha bordir dan katering. Terkadang ia tertawa, terkadang berkata lirih dan seolah terisak. Ada kalanya nadanya datar dan ketus. Sesekali Sena menimpali perkataan kakaknya. Sesekali pula mereka saling berbantahan, berbicara dari hati ke hati dengan hangatnya.

Sementara itu Ajeng lebih banyak mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh Yanti dan Sena. Gadis itu memandangi dinding kamar kos itu. Tidak banyak hiasan yang dipasang. Hanya foto masa lalu dan foto pernikahan saja yang terpasang. Ada sebuah hiasan kristik yang dipasang dengan pigura. Dilihat dari piguranya kristik itu masih baru, setidaknya belum ada dua tahun.

Kau suka kristik?”, Yanti bertanya pada Ajeng, menggoda. Yang ditanya tersenyum mengangguk. Ajeng kemudian berkata:

Kristik itu bagus sekali, Kak. Gambar bunga mawar. Apakah kakak sendiri yang membuatnya?”

Ya, aku membuatnya sendiri. Dahulu, ketika baru tiba di Jakarta, aku tak tahu harus berbuat apa untuk membunuh waktu,” kata Yanti. Diambilnya kristik yang tergantung di dinding dan disodorkannya pada Ajeng. “Ini ambillah untukmu.”

Ah, tidak usah kak.”

Ambillah. Aku bisa membuatnya lagi lain kali.”

Ajeng menolak namun Yanti terus memaksa.

Terimakasih, Kak,” mata Ajeng bersinar-sinar menerima pemberian kakak Sena itu.

Kak,” Sena mulai bicara lagi. Agak ragu ia memulai, namun ia sadar, bahwa cepat atau lambat, kabar tentang Ibu harus segera disampaikannya. “Kak, terus terang Bapaklah yang menyuruhku untuk pergi ke Jakarta dan mengajakmu untuk kembali ke rumah.”

Aku sudah menduga. Bapak yang menyuruhmu,” Yanti menjawab dengan nada tak senang.

Ibu sakit. Ibu mencari kakak terus. Kami semua sudah putus asa. Ibu sudah tak bisa dibujuk-bujuk lagi untuk bersabar. Bapak berharap, kakak mau kembali. Bapak berjanji, kalau kakak pulang, ia akan menerima kakak dan mas Ardi pulang dengan tangan terbuka”.

Yanti terdiam kini. Ia nampak terkejut mendengar perkataan Sena. Sejenak ia tak berkata-kata seperti merenungi sesuatu. Kepalanya kemudian menunduk. Wajahnya nampak keruh dan bingung mencerminkan kegelisahan yang menghebat di hatinya.

Sena melanjutkan lagi, berkata perlahan: “Aku tidak bohong. Percayalah padaku. Bapak sungguh-sungguh berharap kakak mau pulang. Bapak sudah tidak murka lagi pada kakak dan mas Ardi. Yang penting sekarang di hati Bapak adalah kepulangan kakak demi sembuhnya Ibu.”