Mehrozh

Namanya Mehrozh. Ia berasal dari Pakistan. Agak berapa lama aku mengenal dan kerap berbincang dengannya di dapur tanpa mengenal dan tahu namanya. Loes, perempuan tua pemilik rumah telah memang telah memberitahuku namanya, dan malam ketika ia baru tiba dari Amsterdam, kami juga bersalaman berjabat tangan, berkenalan. Tapi aku tak mengingati namanya. Akupun sudah lupa di fakultas apa ia menempuh studi. Seingatku ilmu pasti, dan kalau tak salah ia mengatakan bahwa studinya itu dibiayai oleh beasiswa Uni Eropa.

Beberapa hari sebelum kedatangannya, Loes memberitahuku rencana kedatangannya dan bahwa ia akan menghuni kamar lantai dua, sebuah kamar yang terletak di seberang kamarku. Adalah kebiasaan Loes memberitahu setiap penghuni lama akan ada kedatangan orang baru. Ini agar kami mengerti terlebih dahulu bahwa akan ada orang lain yang bakal berbagi tempat tinggal.  Dan ketika suatu sore aku berpapasan dengan Loes, ia mengatakan kembali padaku bahwa Mehrozh telah datang, namun tengah membereskan koper-kopernya yang cukup banyakdi Stasiun. “She’s sooo nice, ” begitu kata Loes. Matanya berbinar seakan meyakinkanku, dan jika aku yakin seakan aku akan senang karenanya. Ia memintaku agar nantinya membantu membawakan koper-koper itu ke lantai tempat Mehrozh akan tinggal, lantai yang sama dengan aku tinggal. Aku mengiyakan.

Dan sekira jam 10 malam lebih, telpon lantai dua rumah tua tempat kamarku terletak ini berderinglah. Telepon tua, model yang sama dengan yang pernah dipunya oleh keluargaku pada tahun delapanpuluhan silam yang biasa digunakan oleh Loes untuk berkomunikasi dengan kami tanpa harus naik tangga. Di ujung telpon Loes memintaku turun untuk membantu karena  Mehrozh telah datang.  Dan segera aku menuruni anak tangga yang banyak itu. Dua tangga kayu ke bawah menuju lantai dasar aku tapaki cepat di remang cahaya. Lorong rumah ini memang tak pernah dinyalakan selalu. Ia hanya dinyalakan ketika orang merasa perlu melewati tangga. Dan aku sudah terbiasa bergelap-gelap menaiki dan menuruninya.

Aku menyalaminya dan ia membalas jabat tanganku. Ia nampak cantik dengan jeans dan jaketnya. Wajahnya sebagaimana tipikal wajah bangsa hindustan dengan hidungnya yang mancung. Rambutnya hitam memanjang. Badannya tidak tinggi, lebih rendah dariku. Kutaksir mungkin sekitar 160cm. Dan segera saja beberapa kopernya itu aku bantu bawa ke atas. Cukup berat, dan ketika kesemuanya sudah berhasil dipindahkan ke lantai kami, aku pun bercakap seperlunya dengannya. Tak lama, karena sudah malam dan akupun sudah ingin tidur. Ia sendiri nampaknya kemudian membersihkan kamarnya.

Saat aku mengetik tulisan ini, sudah sekira 5 hari tak lagi tinggal di kamar seberang kamarku. Hanya sebulan kamar itu dihuninya. Padaku ia mengatakan tak kerasan. “Rumah ini terlalu tua,” katanya. Setelah itu ia mengatakan beberapa hal lain yang membuatnya ingin pindah, antaranya adalah lemari es yang terlalu kecil untuk berbagi. “Sebenarnya aku tak keberatan jika harus membayar sampai 400 euro, asal nyaman”, begitu  dikatakannya padaku. Lemari es kami memang sangat kecil dan sudah tua. Sebenarnya untuk menampung bahan pangan dua orang saja sudah kewalahan. Jika sedang full, maka di rumah ini akan ada empat mahasiswa penghuni, dan itu berarti lemari pendingin ini akan dipakai berbagi empat orang. “Aku sengaja tidak membeli makanan yang harus dibekukan karena aku tahu tidak cukup tempat di sini,” katanya sambil menunjuk lemari es malang itu. Wajahnya terlihat tersenyum kecut. Hal itu seingatku dikatakannya belum ada seminggu terhitung ia pertama kali menghuni.

Percakapanku selanjutnya dengannya sebagaimana dengan mereka yang pernah tinggal di rumah tua ini terjadi di dapur. Rumah ini tak ada memiliki common room, ruang bersama untuk kami para mahasiswa penyewa kamar. Dapur adalah satu-satunya tempat kami bertemu dan berbincang, perbincangan yang tak pernah berlama-lama. Ada mungkin dua kali kami terlibat pembicaraan agak lama, dan walaupun ia cenderung harus disapa terlebih dahulu, akan tetapi sekali sudah berbincang ia cukup hangat dan menyenangkan untuk diajak bercakap. Dari berbagai perbincangan dengannya kuhimpun keterangan seperti ini:

Ia berasal dari Islamabad. Namanya, Mehrozh adalah nama yang diambil dari bahasa Urdu. Apa artinya, aku tak tahu. Ada remang-remang kuingat ia menjelaskan bahwa ia tinggal tak jauh dari ibu kota Pakistan itu. Umurnya duapuluh lima, yang artinya terpaut 13 tahun dariku. Bahasa Inggrisnya amat bagus, dan aku memujinya. Ia mengatakan, Inggris memang bahasa kedua di Pakistan. Dikatakannya, sekolah-sekolah di Pakistan menggunakan Inggris sebagai bahasa pengantar. Pada mulanya aku merasa heran dengan hal ini, namun aku segera menyadari, dahulunya toh Pakistan adalah bagian dari India yang menjadi koloni Inggris. Segera saja pikiranku membandingkan dengan negeriku dimana Inggris bukanlah bahasa pengantar sehari-hari atau bahasa kedua. Inggris hanya diajarkan di sekolah, dan seperti yang pernah kuamati di Thailand, tidak mudah menemukan orang yang fasih berbahasa Inggris di Indonesia terutama di daerah. Ia tak mengetahui apapun tentang Indonesia. Aku mengatakan padanya bahwa aku mengenal nama-nama seperti Pervaez Musharraf, Benazir Bhutto, tokoh-tokoh politik negaranya. Tapi ia menggeleng ketika kutanya apakah ia tahu presiden Indonesia.

Dan sebulan dengan pertemuan yang kalaulah terjadi hanya beberapa saat saja di dapur tidak cukup membuat kami terlalu dekat. Akan tetapi kami cukup akrab dan saling menyapa kalau berjumpa. Kukatakan padanya, bahwa ia adalah orang Pakistan kedua yang kukenal dalam hidupku, seingatku. Yang pertama aku kenal adalah Ahmed, kawan fakultas lain manakala aku menempuh studi di Melbourne. Terkadang ia memakai kerudung jika memasak di dapur, namun terkadang pula tidak. Yang pasti ia tak berkerudung manakala ke kampus. Pernah ia memasak cukup banyak di panci, masakan apa aku tak tahu, dan ia mengetuk kamarku untuk sekedar memberitahu bahwa aku boleh menikmati masakannya itu. 30 April di hari peringatan kelahiran ratu Belanda, ia bersepeda bersamaku ke Goffert Park, melihat-lihat barang yang digelar di garage sale. Ia mendapatkan sebuah raket seharga 2 euro. Murah, harga yang ia sendiri hampir tak percaya. Padaku ia mengatakan bahwa di tempatnya ia berlatih tennis sekarang, ia harus membayar 3 euro untuk sekali sewa raket. Aku tak berjalan lama bersamanya karena aku punya ketertarikan sendiri akan piringan hitam dan lain-lain soal buku dan musik dan kami tak ingin saling menunggu.

Keesokan harinya ia berpamitan melalui pesan singkat di teleponku. Aku tahu ia membawa banyak barang miliknya dengan sepeda sebelumnya. Kusampaikan keinginanku agar suatu saat berjumpa lagi, mungkin di Pakistan karena aku belum pernah ke negeri itu. “I.A” balasnya. Insha Allah. Dan kamar yang dihuninya selama sebulan itu kembali kosong terhitung 1 Mei malam. Aku tak pernah terlalu dekat dan akrab dengannya, gadis bernama Mehrozh itu. Tapi tak urung kepergiannya membuat lantai dua rumah tua di mana aku tinggal ini kembali sepi, sepi yang pula kembali aku rasai di hati.

Nijmegen, 7 Mei 2013

Advertisements