Si Roh

Pengantar:  Cerita Pendek ini pernah dimuat di situs Cybersastra.net pada tahun 2002.  Kisah ini walau diambil dari berbagai amatan empirik, bukanlah kisah pribadi, semata dari daya khayali.

Orang desa memanggilnya dengan Si Roh. Siapa nama lengkapnya aku sendiri tak tahu pasti. Barangkali Rohayah, Rohmah atau Rohani? Entahlah. Aku benar-benar tak tahu.

Memang benar ia adalah kawan sepermainanku di kala kecil, dan aku memanggilnya sama dengan orang tuanya memanggil : Roh, Si Roh. Kami sering bermain di pematang sawah, mencari keong-keong emas. Roh kecil sering kubuat menangis karena kenakalanku merebut keong emas yang telah dikumpulkannya.

Pertemanan kami tak berlangsung lama. Sejak usia enam tahun, ia telah mengikuti pamannya di Jakarta. Yang kuingat, saat berpisah dengannya, aku begitu kecewa dan sedih. Bisa dikatakan Roh adalah satu-satunya teman permainanku. Tidak seperti para orangtua lainnya di desa, Emak dan Bapak melarangku bermain terlalu jauh dari rumah.

Bermain dengan Roh aku tak pernah dilarang. Mungkin karena rumahnya tak berapa jauh dari rumahku, hanya terpisah kandang sapi Pak Muslim.

Sejak itu lebih dari sepuluh tahun lamanya aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Roh baru kembali ke desa ini sekitar satu setengah tahun lalu, selepas SMU. Pertemuanku dengannya hanya terjadi jika ia sedang membeli sesuatu di warung Emak. Itupun dengan percakapan yang sekadarnya. Paling hanya sekedar saling menyapa dan menanyakan kabar.

Yang pasti ia , si Roh itu, kini sedang hamil tujuh bulan. Kemarin hari Bapak menghadiri kenduri dalam rangka mitoni· kandungan Roh. Ya di usianya yang baru delapanbelas tahun ia sudah hamil.

Lantas apa yang salah dengan kehamilannya?! Bukankah ia telah sah menikah? Ya, apa peduliku?!

Akan kujawab pertanyaan ini : tentu saja aku merasa peduli dan ingin tahu!. Ia pernah menjadi bagian dari indahnya masa kecilku. Bukankah wajar dan tak berlebihan apa yang aku rasakan?

Ia baru saja menikah empat bulan yang lalu. Aku ingat betul karena saat itu aku ikut membantu menyajikan hidangan pada para tamu pada resepsi pernikahannya. Itu berarti, dengan bekal logika matematika sekolah dasar dapat kusimpulkan bahwa ia telah hamil tiga bulan pada hari ijab kabulnya.

Tak seperti umumnya warga desa yang lain, sebenarnya aku lebih kasihan daripada dan sinis terhadap aib yang telah terjadi padanya. Betapa tidak, kehidupan Roh dan keluarganya sangatlah jauh dari kecukupan. Sebelum Roh hamil saja mereka sudah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan sekali dua, Ibunya berhutang ke warung kami, dari sekedar bumbu masak hingga satu dua kilo beras. Bagaimana dengan sekarang dimana bakal ada satu mulut lagi yang harus diberi makan?

Ayahnya hanyalah petani penggarap, sedang ibunya tidak bekerja . Suami Roh sendiri, pemuda tanggung itu juga tidak bekerja. Orang desa menyebutnya pengangguran sukses. Dikatakan sukses karena selagi menanggur masih selalu membeli barang 5 enam batang sigaret kegemarannya di warung Emak.

Dari para orang tua desa aku pernah mendengar bahwa sejarah adanya Roh di dunia ini tidaklah begitu baik.

Masih menurut cerita, Roh terlahir sebagai anak luar nikah. Orang menyebutnya anak haram. Betulkah atau tepatkah istilah itu? Aku sendiri tak setuju.

Setiap bayi yang dilahirkan di dunia adalah suci, bukankah begitu?! Hanya orangtuanya saja yang keji, yang melakukan hubungan kelamin sebelum waktunya, sehingga memunculkan bayi tak berdosa.

Roh kecil menjadi anak yang manja, yang harus selalu diturut segala keinginannya. Karena kesulitan biaya untuk menanggung hidup si Roh, ia akhirnya diikutkan pada Pamannya di Jakarta.

Singkat kisah, Ia kemudian harus pulang karena paman dan bibinya tewas dalam sebuah kecelakaan bus di daerah Indramayu. Roh kembali ke desa dan tinggal bersama orangtuanya.

Desa adalah kumpulan masyarakat yang kental ikatan sosialnya. Akan tetapi hal itu barangkali hanya ada di buku sekolah dasar. Hanya mitos.

Gaya bercintaan si Roh melebihi anak desa, bahkan remaja kota sekalipun. Barangkali karena ia sudah lama tinggal di Jakarta?

Sang kekasih kerap menginap di rumahnya. Dan orangtua Roh pun tak berdaya untuk menasihati anaknya. Aku bisa mengerti, kesukaran orangtua untuk melarang sang anak melakukan hal yang pernah mereka lakukan sendiri. Pemuda desa pun segan menggerebek. Barangkali karena dalam setiap kunjungannya, kekasih Roh selalu royal membagikan sigaret dan meminjamkan sepedamotornya.

Desa kami sebenarnyalah tidak begitu jauh dari keramaian kota. Dengan enamratus rupiah, orang sudah berhak menaiki angkutan pedesaan dan terhantar ke tengah kota.

Akan tetapi desa adalah pula tempat segala kerikuhan dan rasa segan alias ewuh pekewuh· menemukan tempatnya yang hangat. Tak ada orang desa yang mau menegur dan mengingatkan. Segan, karena kedekatan yang begitu kental antara satu orabng dengan orang yang lain.

Demikianlah maka suatu sore beberapa bulan silam dari hari ini aku mendengar Lik Pranti , tetangga depan rumah mengobrol dengan Emak di serambi warung.

“Tadi pagi aku melihat Roh dengan pacarnya..!”, Lik Pranti mengatakan.

“Memang ada apa?”Emak bertanya . Nadanya terdengar berpura pura tidak mengerti. Dari balik dinding ini aku bisa merasakan. Kendati tak melihat wajah Emak, namun tetap aku rasa tiada nada penasaran pada suaranya.

“Mereka mandi berdua di kali,” isteri penggembala kerbau itu menambahkan.

“Ooo…” Emak menyambung lagi. Nampaknya ia tak ingin tahu apa yang terjadi.

“Jam setengah lima pagi lagi. Apa tidak gila?”suara Lik Pranti terdengar melirih. Kubayangkan ia menyorongkan wajahnya ke telinga Emak. Kutebak saat berkata demikian matanya pastilah separuh mendelik. Nampaknya ia bahkan takut kalau-kalau suaranya sampai terdengar oleh para cicak.

Mereka kemudian terdengar bercakap cakap secara berbisik. Aku menjadi tak begitu dapat mendengar lagi apa yang mereka perbincangkan. Sial, gara-gara dinding bambu diganti dengan tembok, aku jadi tak bisa mengikuti apa yang mereka percakapkan.

Tak berapa lama setelah Lik Pranti pulang terdengar langkah kaki memasuki warung Emak. Dari suaranya yang nyaring aku tahu itu Lik Pinah. Apa yang diceitakannya tak jauh beda dengan Lik Pranti.

“Mereka benar-benar keterlaluan, Yu!”Lik Pinah tiba-tiba berkata.

“Ada apa rupanya?”kali ini Emak masih berpura-pura seolah tidak tahu apa yang telah terjadi.

“Itu, Si Roh dan pacarnya!”

Kali ini tak terdengar suara Emak menanggapi. Lik Pinah melanjutkan kemudian;

“Mereka itu lho, bobok tumpuk*, bersuara keras sekali…., risih aku mendengarnya!”,.Nada bicara Lik Pinah terdengar kesal. Akan tetapi selepas itu ia juga tertawa terkikik. Aku tak bisa menebak apakah ia jengkel atau geli. Yang pasti akupun ikut-ikutan menutup mulut lancangku ini, berusaha keras menahan tawa mendengar kata-kata Lik Pinah.

Kubayangkan betapa jengkel ia mendengar suara-suara mesum dari sebelah rumahnya. Ya, rumah Lik Pinah bibiku itu memang berdempetan dengan rumah dimana Roh tinggal.

Mereka kemudian berbicara lirih. Apakah mereka tahu ada telinga lancang yang sedang menguping apa yang mereka bicarakan?

Dan aku kembali mengerutu karena tak dapat mengikuti pembicaraannya. Tembok sialan, busuk, keparat!

Akhirnya Lik Pinah berpamitan pada Emak. Rupanya ia hanya sekedar mampir membeli sebungkus rokok untuk Lik Juni, suaminya. Aku pun segera keluar dari kamar.

“Ada apa dengan Roh, Mak?”

Yang kutanya masih asyik membereskan dagangannya. Ia seolah tak mendengar kata-kataku.

“Mak!”, kali ini aku bertanya dengan nada agak dikeraskan.

“Tidak apa-apa,”Emak menyahut tak acuh. Tangannya masih sibuk menata dagangan, sayur-sayuran kubis dan kecambah.

“Jangan berbohong, Mak. Aku mendengar semuanya tadi”, ujarku gusar. Bicaraku kukeraskan sedikit.

Emak menghentikan pekerjaannya. Menghela nafas sebentar, kemudian berkata.

“Si Roh Hamil, Nang,” Emak menyahut. Nadanya tetap terdengar tak acuh, tak senang aku ingin selalu tahu apa yang menjadi urusan orang.

“Dengan siapa?” aku bertanya lagi menyelidik. Kuambil goreng tahu di meja dagangan Emak. Aku mulai mengunyah dan menunggu jawabannya.

“Apa pedulimu, Nang!?” Emak bertanya dengan ketus, tepat saat aku hendak menelan tahu goreng lezat buatan Emak itu. Ia berhenti menata dagangan dan memandangku dengan tajam. Mau tak mau aku membuang wajahku, membuang pandangan ke arah langit langit.

Aku menjadi malu sendiri, terdiam.Ya, apa peduliku dengan kehamilan Roh? Ada urusan apa dengannya?

Mengapa aku selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan orang lain. Emak betul, tak seharusnya aku selalu ingin tahu. Kalaupun Roh hamil, hal itu pasti telah disadarinya sebagai resiko peerbuatan bebas yang dilakukannya. Ia bukan anak kecil lagi. Ia seumur denganku, sebaya. Aku sudah besar dan Roh juga sudah besar, dewasa. Pastilah ia sudah tahu apa itu fungsi reproduksi. Ia toh sudah mendapat pelajaran tentang reproduksi, karena ia lulusan SMU?! Bukankah pelajaran reproduksi manusia telah diberikan di masa SMU?!

Emak benar.Aku tak perlu tahu apa urusan orang, aib orang. Ya, aku tak perlu tahu!!.

Aku mendengus dan beranjak meninggalkan Emak. Tahu goreng kulumat dengan sekuat-kuatnya dan lidahku yang liar, kusorongkan ke dalam perutku. Ya, aku tak perlu tahu!

·

 

Pendirianku, tepatnya keinginanku untuk tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan si Roh hanya bertahan beberapa bulan saja, Keinginan untuk tahu tentang apa yang terjadi pada kawan sepermainanku kala kecil gugur pada hari ini, sore hari ini.

Aku sedang duduk di Jembatan desa ketika Roh melintas.

“Sendirian Roh?”aku bertanya.

“He eh”, calon ibu muda itu menjawab.

“Dari mana?’

“Warung Mbak Yati”

“Suamimu di mana?”

“Ada di rumah, sedang tidur”. Ia kini menghentikan langkah, kemudian matanya yang bening itu menatapku. Aku menjadi canggung sendiri.

“Duduklah di sini,” tawarku padanya kemudian.

Roh tak mengiyakan. Namun ia berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku, di atas jembatan desa ini. Ia tidak menolak.

Aku pun melompat dari jembatan. Tak enak rasanya duduk berdua dengan perempuan yang sudah bersuami sekalipun ia adalah kawan kecilku dahulu. Apalagi, ia dalam keadaan hamil.

Kang Rus, suami Lik Pranti melintas dengan kerbaunya. Ia tersenyum padaku. Namun pandangannya nampak lain. Tampak aneh. Aku tahu itu. Barangkali dalam hati ia berkata : “Tak sepatutnya kau berbicara dengan perempuan itu Nang!”

Aku menjadi bimbang, haruskah aku pergi? Namun baru saja aku menawarkan tempat duduk padanya. Bukankah itu berarti secara tak langsung aku mengajaknya untuk berbincangl?. Haruskah kemudian aku meninggalkannya? Tidak!

“Engkau melamun, Nang?”suara Roh tiba-tiba mengejutkanku.

“Oh..!. Tidak Roh.., aku hanya tidak enak saja”

“Mengapa? Engkau malu berteman denganku lagi?” Si Roh kini bertanya. Matanya tajam memandang. Berkata lagi.

“Engkau malu berkawan denganku karena aku hamil? Hamil di luar nikah?”Roh terus memburu. Nafasnya terdengar naik turun. Aku menjadi sEmakin tidak enak.

“Tidak Roh, Aku ingat, aku berjanji pada Pak Rus untuk memperbaiki radionya,”aku menjawab sekenanya, berbohong. Jangankan memperbaiki radio, membetulkan genteng bocor saja aku tak becus.

Roh nampaknya tak mendengar apa yang baru saja kukatakan, kebohongan yang kuberikan padanya. Ia mulai terisak.

Sial, bagaimana ini? Aku bertanya dalam hati. Haruskah aku menenangkannya, membelainya. Tak pantas Nang!

“Sudahlah Roh”, aku berbisik. Katakan, apa yang menjadi permasalahanmu.”

Roh masih saja menangis. Aku tak tahu hal apa yang paling baik yang harus kulakukan. Tiba-tiba ia berkata.

”Aku kecewa Nang, kecewa sekali..” Roh berkata, ia masih terisak. Berkata lagi :

“Suamiku ternyata lelaki yang tak bertangung jawab,”kali ini nadanya bergetar geram.

“Maksudmu?”

“Ia tak mau tahu dengan keadaanku nang, sekarang ini ia ada di rumah orang tuanya.”Roh mulai menangis. Ah perempuan, selalu menangis jika diliputi duka..

“Mengapa engkau tak mengikutinya, bukankah engkau kini sudah menjadi isterinya?”aku bertanya hati-hati. Sementara mataku terus berpendar takut ada yang melihat peristiwa ini.

Ohoi, bagaimana kiranya jika ada orang desa yang melihat peristiwa tak pantas ini? Seorang bujangan berdua-duaan dengan isteri orang dan sedang hamil tua pula?

Untuk beberapa lama kami saling terdiam. Beberapa anak kecil yang melintas memandang ke arah kami. Aku melotot ke arah mereka, dan anak-anak itupun lari berhamburan dan tertawa tergelak ketika sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dari kami berdua.

“Suamiku ternyata hanya seorang pengangguran, Nang” Roh berkata lagi. Kali ini nada bicaranya mulai tenang.

Ia kemudian menceritakan bagaimana awal pertemuan dengan lelaki yang kini menjadi suaminya itu.

Pertemuan itu berawal dari sebuah pertunjukan dangdut di lapangan tak jauh dari kantor kecamatan. Adalah sudah menjadi rahasia umum bagi muda mudi desa kalau pertunjukan dangdut adalah ajang saling pandang sesama penonton.

Bukan permainan atau musik dangdut itu sendiri yang menjadi tujuan utama untuk dinikmati, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa mendapatkan pasangan kendati hanya saat itu saja, sepanjang pertunjukan. Atau setidaknya bisa menyenggol dan disenggol, menggoda dan digoda. Manusia mana tidak senang digoda oleh lawan jenis?!

Seorang lelaki perlente mendekati Roh dan mengajaknya berkenalan. Ia mengaku bekerja pada sebuah perusahaan kayu besar di Semarang. Penghasilannya, demikian ia mengatakan pada Roh adalah sebesar satu setengah juta sebulan. Selain itu ia mengaku menekuni jual beli sepedamotor.

Jumlah yang fantastis. Roh pun terpikat. Bukankah tidak salah tertarik seseorang karena hartanya? Siapa ingin hidup melarat?! Kalau bisa, akupun ingin mengawini seorang anak jenderal atau pengusaha kaya. Kurasa itu keinginan yang wajar. Manusiawi!

Perkenalan singkat di konser dangdut berlanjut dengan kunjungan ke rumah Si Roh. Orangtua Roh senang saja melihat anaknya bergaul dengan pemuda yang berpenampilan sangat meyakinkan itu. Apalagi setiap kali berkunjung pemuda itu selalu berganti ganti sepeda motor.

Kepada para tetangga, orangtua Si Roh selalu membanggakan calon menantunya itu. Dikatakan bahwa sang calon mantu adala orang yang mempunyai masa depan cerah.

Sampai akhirnya pada suatu malam yang dingin, hujan turun dengan deras dan memaksa lelaki itu untuk tidak pulang ke desanya. Tiada keberatan sedikitpun dari orangtua kalau malam itu lelaki tersebut bermaksud untuk menginap.

Keyakinan bahwa lelaki itu cepat atau lambat akan mengawini anaknya menghapus segala kekhawatian yang mungkin terbayangkan sang orangtua. Ia tidur di rumah si Roh dan terjadilah semua itu.

Malam- malam selanjutnya, lelaki itu menjadi penghuni tetap rumah berbilik bambu, rumah orangtua Roh. Dan malam-malam di desa yang dingin itu pun menjadi malam mereka berdua untuk saling memadu birahi.

“Engkau tahu kini semua Nang”, kata Roh kemudian.

“Ia ternyata hanya seorang pengangguran yang tak jelas masa depannya. Bahkan tahu bahwa sebentar lagi aku akan melahirkan ia tak juga mau mencari kerja. Setiap hari yang dilakukannya hanya tidur dan tidur saja. Pekerjaan pada pabrik kayu yang pernah dikatakannya ternyata hanya bualannya belaka Sunguh tak tahu malu!”

“Sepedamotor yang berganti ganti ia pakai hanyalah pinjaman dari tukang ojek yang ada di desanya,”Roh berkata lagi. Wajahnya yang kuyu nampak kesal.

Aku hanya mengangguk angguk merenungi ceritanya. Alangkah malangnya engkau Roh. Harapan untuk mempunyai suami yang sukses, ternyata hanya pengangguran yang tak jelas juntrungannya yang kau dapat!.

Pada satu kesempatan kulirik wajahnya. Parasnya yang cantik itu bagaikan singa betina yang terluka, mengaum marah.

“Kasihan kau nak, hendak bagaimana kelak hidupmu nanti?”Roh berkata sembari mengelus perutnya yang sudah membuncit, seolah mengajak bercakap jabang bayi di perutnya.

Perlahan ia bangkit dari duduknya, turun dari jembatan. Kemudian dengan perlahan pula ia meninggalkanku berjalan menuju ke arah rumahnya. Hampir saja aku menahan kepergiannya namun niat itu aku urungkan. Aku tetap terdiam terpekur.

“Jangan benci padaku Nang”tiba tiba ia berkata padaku, beberapa meter setelah ia berjalan menjauh. Ia mencoba tersenyum, namun sembab di matanya masih juga ternampak olehku.

“Berjanjilah untuk tak membenciku,” ia berkata lagi.

Aku masih tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk dan tersenyum kaku membalas senyumnya. Kurasa ia tahu apa yang aku maksudkan, aku tak akan membencinya. Aku takkan sinis padanya.

“Tak usah pula kau menaruh kasihan padaku Nang, ini sudah bagian dari resiko yang harus kutanggung. Semua ini kesalahanku sendiri. Berjanjilah padaku engkau tak akan merasa kasihan padaku. Aku tak perlu dikasihani. Seharusnya orang seperti aku ini dihukum rajam!”

Tetap aku tak mampu berkata apa-apa. Bodoh, dasar goblok!. Mengapa mulutku tak juga mampu mengeluarkan kata-kata bijak, atau kalimat apalah saja yang mampu menghiburnya dan tak menjadikanku seperti orang dungu dan terdiam seperti ini.

“Hati-hati Roh, sampaikan salamku untuk Emak dan Bapakmu,”hanya itu yang akhirnya mampu kukatakan. Itupun setelah beberapa saat ia memandang ke arah langit timur yang mulai memerah.

Roh tak menjawab dan terus berjalan gontai.

Baginya, nasi sudah menjadi bubur, bahkan mungkin sudah menjadi ketupat. Tidak bijak dan adil rasanya jika aku juga termasuk orang yang terus mengutuki apa yang terjadi padanya.

Roh semakin jauh berjalan untuk akhirnya bayangan tubuhnya hilang di balik rimbunnya pohon bambu.

Kasihan engkau Roh, dan kasihan pula anak yang ada dalam perutmu itu, aku menggumam sendiri. Ya, aku mulai melanggar janjiku padanya untuk tidak merasa kasihan padanya.

Seandainya aku menjadi suamimu aku tak akan berpangku tangan tanpa berusaha mencari pekerjaan seperti suami keparatmu itu. Pekerjaan apa saja, menjadi tukang cuci di pencucian mobil, kernet, atau apa sajalah asalkan bisa mendatangkan uang. Kalau perlu akan kucuri barang satu atau dua kerbau kang Rus di waktu malam untuk persiapan kelahiran anak dalam perutmu…!

Langit mulai memerah. Beberapa bintang mulai nampak bersinar memamerkan cahaya gemerlapnya. Seorang kusir delman yang tinggal tak jauh dari rumahku menyapa dan mengajak aku untuk ikut serta bersama sama pulang.

Tawaran itu tak kutolak. Segera saja aku berlari dan melompat menaiki delmannya. Dari atas kendaraan tradisional itu mataku terus memandangi jembatan tempat aku dan Roh berbincang tadi. Di jembatan itu pulalah belasan tahun silam kami sering melempar kapal-kapalan dari kertas ke dalam sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Laju delman membuat jembatan itu sEmakin terlihat jauh dan akhirnya tak dapat kulihat lagi. Dalam hati aku berdoa;

Mudahkanlah…,mudahkanlah hidup Roh dan jabang bayinya dan keluarganya, Ya Tuhan…dan hindarkan aku dari perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh roh dan suaminya itu….

 

Untuk kesekian kalinya Lik Pinah datang ke rumahku. Ya, Bibiku itu selalu menyempatkan mampir ke warung Emak, dan aku tahu kapan saat ia biasa datang : lepas ashar, ketika selesai mengerjakan pembuatan batu bata.

Penduduk desa kami banyak yang mengandalkan hidupnya dari membuat bata merah.

Aku sedang berada di kamarku ketika Lik Pinah datang, dan mendengarkan percakapannya dengan Emak.

“Roh sudah melahirkan, yu.”

“Oh, ya…kapan?”

“Tadi, jam sepuluh lewat limabelas. Mbak Darmi, bidan desa yang menolong kelahirannya. Bayinya perempuan, berkulit putih. Cantik lagi. Matanya bundar dan bening, sedangkan bibirnya tebal, persis ibunya. Tapi kasihan bayi itu….”

Lik Pinah tak melanjutkan kalimatnya. Nampaknya ia menunggu reaksi Emak yang tampak tak acuh.

“Kasihan kenapa?”kini terdengar suara penasaran Emak.

“Yah, bayi itu sama sekali tidak mempunyai popok dan perlengkapan bayinya seperti bedong, keroncong·. Ketika lahir ia kemudian hanya dibungkus oleh kain sarung dan kain apa saja yang bisa disobek untuk dijadikan popok, bedong, dan alas ompol. Kebanyakan sarung itu adalah sarung-sarung dan kain tua yang sudah tak terpakai lagi, sudah kumal…”

Aku tak mau mendengarkan lagi apa yang mereka perbincangkan. Aku tak tahan, ya benar-benar tak tahan. Aku kasihan padamu Roh. Maafkan aku tak mampu memenuhi janjiku untuk tak merasa iba padamu. Maafkan aku Roh!

Purwokerto, Desember 2002

Advertisements