Kisah Tentang Paris

Kota metropolitan dengan bangunan tua tak terhitung jumlahnya, istana dan gedung megah peninggalan masa silam. Melelahkan untuk dijelajahi dengan berjalan kaki, kota yang bising dengan suara mesin mobil tak menentramkan, dan Eropa dalam cara busana dan bermanusia yang paling gamblang sebuah kota yang membuat kehidupan manusia laksana tikus dengan jalur kereta bawah tanahnya yang membuat kota ini mempunyai dua dimensi kehidupan: atas tanah dan bawah tanah. Itulah Paris dalam ekspresi kata dari perasaanku sendiri yang sudah pasti tak mampu mencakup semua realita ibukota negara republik ini. Kata tak pernah tuntas dalam mewakili rasa, dan pilihan kataku barangkali tak tepat bagi perasaan orang lain. Tapi Paris adalah suatu kejutan, suatu shock bagiku yang baru memasukinya setelah seminggu larut dalam kehidupan sepi sunyi Desa La Chapelaude, dekat kota Montlucon, Provinsi Auvergne. Keheningan dan kesederhanaan Perancis pedalaman hilanglah segera berganti dengan aneka mobil, bus kota, sepeda motor, suka ria dan ketermenungan orang di berbagai kafe dan restaurant dan lalu lalang para pejalan kaki.

Aku tiba di kota ini sesuai dengan tiket jadwal kereta, sekitar pukul 12:16, dan tiga setengah jam sebelumnya Thiery, Pita, dan kedua anaknya Alexi dan Ethan mengantarkanku ke Setasiun Gare de Montlucon. Perjalanan berkereta api di hari Sabtu yang lancar dengan pemandangan alam Perancis bermandi cahaya musim semi bertepatan dengan hari ulang tahunku ke 37, 24 Maret 2012. Kereta berjalan cepat meninggalkan aneka macam kenangan selama sepekan berada di rumah keluarga Forestier. Sedih kurasai meninggalkan La Chapelaude, mengenang hari-hari yang dilalui selama tinggal di sana: kopi pagi, kopi malam, mengantar Alexi bersekolah ke taman kanak-kanak, berjalan di trotoar jalan dan melewati jembatan dengan air sungai yang bening jernih. Makan siang bersama Pita dan Ethan, makan malam bersama seluruh keluarga. Juga kata-kata dalam Perancis sederhana yang kuingat karena seringkali diucapkan Pita terhadap anaknya. Mengenang La Chapelaude adalah sekaligus mengenang hari-hari manakala bahasa Jawa Banyumasan dituturkan jauh dari tempat asalnya, di tengah sunyi bumi Eropa.

Sepanjang perjalanan, beberapa waktu aku sempat tertidur karena rasa kantuk yang menguasai. Seorang perempuan yang duduk di seberang tempatku duduk mengajak berbincang panjang mengenai banyak hal. Pertama ia tiba-tiba menunjukkan padaku akan sebuah kastil yang dilewati oleh kereta kami. Padaku, ia mengatakan bahwa banyak kastil serupa di Perancis. Beberapa diantaranya terbengkalai, akan tetapi banyak pula yang terpelihara dengan baik. Kukatakan padanya bahwa kastil itu ada pula aku lihat sewaktu berangkat. Perempuan itu, berambut pendek dan berjaket putih. Umurnya kukira kira lebih dari limapuluh. Jika berbicara, ia nampak begitu ekspresif. Wajahnya menyiratkan pengetahuan yang banyak, serta nampak sekali berwawasan luas. Aku kira ia adalah seorang pembaca yang baik. Ia bertanya dari mana asalku, dan ketika aku menjawab rupanya ia sudah paham mengenai Indonesia. Dari percakapan selanjutnya ia kuketahui mengetahui soal Jawa dan Jakarta, dan bahwa Indonesia adalah bekas koloni Kerajaan Belanda. Ia berkata bahwa ia punya dua kewarganegaraan, Perancis dan Amerika, dan pernah (atau masih) tinggal di New York, kota yang dari kesimpulanku atas pembicaraannya bukanlah kota yang menyenangkan. Setasiun Gare de Austerlitz, Paris menjadi tempat kami berpisahan

Tiba di Gare de Austerlitz adalah berarti kembali ke titik awal ketibaanku di Paris lebih dari seminggu lalu. Setelah menanti nanti sebentar, bertemulah aku dengan Sapto, kenalan lama semasa kuliah dulu. Ia mengajakku singgah ke apartemennya, di sebuah Mansion yang terletak dalam satu kompleks Universitas Paris. Cuaca Paris cukup panas, tapi tak membuat berkeringat. Setelah minum kopi dan makan siang, pergilah kami bersama, bertiga aku, Sapto, dan seorang kawannya lagi, seorang Bali bernama Way Lanang.

Semua orang tahu belaka, bahwa Paris adalah kota mode. Dan julukan yang telah kudengar sejak kanak itupun kutemukan manifestasinya ketika kususuri jalan-jalan besar kecilnya. Seniman jalanan banyak dijumpai di lorong Metro memainkan saxophone ataupun cello. Paris adalah pula wajah kota besar yang tak lepas dari pengemis, sesuatu yang agak jarang aku jumpai di Belanda. Beberapa pengemis yang kulihat menampilkan simbol Islam, berkerudung, atau memakai topi haji. Mungkin mereka memancing simpati dari umat muslim yang cukup banyak di negara ini.

Memahami Paris terutama sistem transportasinya sudah barang tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan dalam sehari. Mustahil adalah mungkin kata yang paling tepat untuk itu. Bepergian bersama Sapto bagiku adalah sebuah pertolongan yang besar. Aku hanya mengikuti langkahnya keluar masuk, naik turun tangga Metro, berganti kereta satu ke kereta lain. Dan memasuki jalur bawah tanah Metro tak urung aku mengagumi betapa hebatnya sistem transportasi yang dimiliki kota ini. Jalur kereta api ini dibangun lebih dari seratus tahun lalu, memungkinkan kereta api melintas di bawah kota, di bawah gedung bertingkatnya dan aneka bangunan tuanya. Dan lintasan Metro bukan hanya satu namun pula bertingkat-tingkat kedalamannya. Aku dan Sapto sama mengagumi betapa semua itu dibangun, dikonstruksi ketika belum ada komputer, ketika semuanya belum bisa disimulasikan.

Dan malam itu kami berjalan, berganti Metro dengan bus, menyusuri Avenue des Champs-Élysées, yang oleh Sapto dikatakan sebagai Malioboronya Paris. Dikatakan begitu karena di sanalah dijumpai berbagai macam pertokoan yang menyediakan pakaian-pakaian dengan segala merek mahal, tempat orang berbelanja. Di ujungnya, ada sebuah gerbang yang pula menjadi Landmark Paris yakni Arc de Triomphe, suatu monumen neoklasik yang pembangunannya diperintahkan oleh Napoleon Bonaparte. Gerbang ini diterangi lampu malam, dan yang teringat olehku adalah ketika Pasukan Jerman dengan gagah melintas melalui gerbang raksasa ini setelah menaklukkan Perancis dengan invasinya pada Perang Dunia II.

Eiffel menjadi tujuan terakhir kami malam itu, dan menara besi ini kulihat dari Trocadero. Ini adalah view menara Eiffel yang terbaik, setidaknya begitu kata orang dan lembaran internet yang kubaca. Trocadero baru kusadari sebagai nama tempat, dan kutahu pertama kali dari band Potret yang pernah membawakan lagu berjudul sama. Memandangi Eiffel dalam dimensi hati tentu memiliki maknanya yang tersendiri, mengingat aku sebagai kanak telah lama mengenalnya, membincangkannya hanya dalam olok-olok dan canda akan sesuatu yang tak mungkin dilihat sendiri dengan mata yang dipunyai. Satu yang kusayangkan dari kota ini adalah mengetahui bahwa benteng Bastile telah dirubuhkan. Hal lain adalah kenyataan bahwa di tengah lingkungan Paleis dibangun piramida Louvre yang kini pula menjadi landmark kota. Bagiku, piramida dan pertokoan di bawahnya sama sekali tak nyambung dengan nuansa agung kerajaan, keraton di lingkunganya. Tapi dalam perbincanganku bersama Sapto sepulang kami berjalan-jalan kami sepakat bisa jadi pembangunan piramida itu pula berangkat dari kepercayaan bahwa pakem tak harus sakral dan oleh karenanya tak membuka pembaharuan. Perancis, dan Paris adalah salah satu sentrum penting pemikiran filsafat dunia, dan konkretisiasi pemikiran yang mendobrak kemapanan itu terwujud nyata sebagai piramida modern, baru, dan tidak matching (setidaknya di mata dan perasaan konservatif seperti yang kurasai pada awalnya) dengan istana kerajaan yang bergaya roman dengan segala konotasinya yang lama dan klasik.

Paris, 25 Maret 2012

Advertisements