Tentang CD Pink Floyd LP Replica dan Pengalaman Berburu CD serta PH di Luar Negeri

Pengantar: Akun FB Wira Penggemar Led Zeppelin menanyakan pada saya mengenai CD LP Replica di Group Facebook “More”. Saya mengungggah gambar CD Pink Floyd saya dimana beberapa diantaranya adalah LP replica. Terjadi dialog kemudian seperti ini:

Dalam gambar beberapa CD Floyd saya, nah kalau liat di deretan atas (Obscured by Clouds, Atom Heart Mother, Gates at the Piper kemudian di tengah (keculi Ummagumma yg paling kanan) adalah LP Replica.
Ini perjuangan dapatnya cukup lucu juga, karena waktu saya tinggal di Melbourne, saya kebetulan satu kos dengan dosen Univ Pendidikan Indonesia (namanya Dadang Sudana, bisa dicari di FB, gak begitu aktif tapi), dan dia ternyata mania classic rock & CD. Aneka CD Floyd itu kita buru, beli satu satu scr nyicil (maklum perhitungan duit). Kadang di satu rec store deket rumah, kadang dapat di kota. Tapi intinya CD Floyd Japan LP replica itu kita yang ambili. Uniknya selain ada OBI (kertas samping itu) LP replica ini kemasannya dibuat layaknya LP (Long Play, piringan hitam) aslinya. Atom Heart Mother misalnya, itu Gatefold LP, jadi cover CDnya juga pakai kertas karton superkeras seolah LP mini dan Gatefold. Cover ‘bisa dibuka’ ada gambar dan tulisan sebagaimana LP aslinya. CD bahkan dikasih plastik bunder persis sperti keping PH yang biasanya memang ada plastik atau kertas pelindungnya, dan disimpan dengan cara diselipkan di salah satu sisi cover. Memang kudu ati2 masukkannya, salah2 bisa gores. Tapi The Dark Side of The Moon, The Wall, saya enggak dapatkan, udah kebutu diambil orang, maklum album sejuta umat. Juga Meddle itu saya akhirnya beli yang Jewel. Enggak kebagian. Ummagumma juga Jewel. Sekian kisah,.

WPL memberi komentar yang pada intinya senang melihat ada album Relics milik Pink Floyd. Saya membalas sebagai berikut:

mmm Relics itu unik, cover LP replicanya juga bertekstur gitu. Kalau CD Jewel nya malah covernya enggak seperti itu. Final Cut saya ada, cuma waktu foto ini diambil belum punya, dan dikasih sama Pak Dadang itu (waktu dia berburu ini juga dia udah ada, cuma jewel). Enggak begitu minat minus Waters, jadi sedapatnya aja. Misal FC itu, dapat gratis haha. The Wall aza udah ‘terlalu modern’ kecuali “In The Flesh” beberapa lagu lainnya di telinga udah enggak begitu menyenangkan. Sound juga modern. Gak oke

WPL memberi komentar lagi, kali ini bergeser soal kemudahan mendapatkan CD di luar negeri. Ia menulis :

oh ya,,apakah CD-CD memang juga sudah menjadi barang bosokan di australi atau amsterdam sana (alias barang ga payu)? kelihtanya gampang sekali dapat album2 maut itu pak?

Saya memberikan balasan sebagai berikut:

FYI itu label CD CD LP Replica nya mahal sekali full price nya, sekitar 30 dollar aussie, kala itu 1 dollar nya 7 ribu. Jadi 210 ribuan untuk tahun 2004 waktu saya di sana. Nah tapi asiknya di Aussie adalah harga CD itu seringkali sale. Semua LP Replica itu didapat sekitar harga 15 dollar yang buat saya berarti uang kos sekitar 3 hari (seminggu saya bayar kos 60 dollar, belum air listrik gas dll). Itu diskon adalah fenomena harian, jadi tiap hari ke CD shop kita bisa dapat kejutan. di Indonesia, harga CD segituuuuuu aja, selalu mahal. Diskon memang ada tapi jarang lah, nggak fenomena harian. Apalagi album masih baru. Di sana, misal udah lewat tiga bulan, CD dipotong harga 50 prosen dan bahkan kalau lucky masuk kotak yang 50 sen-an (misal saya dapat CD Suffo yang Despise the Sun, 50 sen). Di Belanda? juga banyak diskon mas, kalau saya amati, CD NEW sekarang bisa didapat 10 euro dapat dua, jadi bundel pembelian. 1 euro katakanlah 125 ribu,udah dapat 2 CD baru (misal Nirvana Utereo dan Nevermind). Nah di tweedehand (bekas) bisa lebih murah, misal 10 euro dapat empat. Atau sepuluh dapat tiga. Selain itu, banyak pasar amal/pasar murah/pasar bekas, dimana warga belanda jualan isi rumah yang udah gak kepakai. Di Australia juga begitu dulu, tiap minggu saya ke Sunday Market, yang diincar cuma CD dan PH di kawasan Camberwell, kita incar aja CD2 itu biasanya dijual cuma 50 sen atau 1 dollar/euro. Tapi walau murah bukan berarti sembarang CD/PH bekas bisa kita beli, tetep aja kita harus selektif karena kan berat. Waktu saya kembali dari Australia, case CD nya terpaksa dibuangi untuk mengurangi berat (maklum bagasi kan dibatasi 20-30 kilo biasanya dan lebih sekilo saja bisa mahal sekali biayanya). Makanya sebenarnya saya banyak liat CD/PH yang di Indonesia harga jualnya juga gak jelek amat kaya Duran Duran, Electric Light Orchestra, Kansas, Eagles, tapi apa mau dikata, kita enggak nyarter metromini pulangnya, jadi kalau memang yah lumayan aja kita bisa bawa pulang asal kita pandang memang perlu buat kita dan kita senang, karena tujuan utama toh buat koleksi sendiri. Kalaupun laku dijual di tanah air, enggak bisa diitung untung karena dia makan bagasi kita yang nilainya sekian euro itu, belum ongkos tenaga kita bawa koper/ransel. Kerja bakti jadinya

Advertisements