Refleksi The Act Of Killing

Acara itu terselenggara pulalah dengan lancar: Nonton bareng film The Act of Killing (TAoK), arahan sutradara Joshua Oppenheimer. Bertempat di Studenkerk Radboud Universiteit, Comeniuslaan, pemutaran film berlangsung pada 1 Juni 2013 sekira pukul 15:00 hingga 17:00. Tak kurang dari 40 orang menghadiri pemutaran film yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Nijmegen ini. Tak hanya mahasiswa Indonesia, beberapa mahasiswa asing yang tengah studi di Radboud Universiteit juga hadir dan menonton tertarik dan mengikuti film yang ketika tulisan ini kubuat memenangi aneka festival film di berbagai belahan dunia.

TAoK, bukanlah film yang dapat dinikmati dalam arti membawa kepada kesenangan, membawa penonton ke dalam alam khayali yang membahagiakan atau menggembirakan. Ini adalah suatu film yang menampilkan bagaimana warga sebuah bangsa yang didirikan untuk kemanusiaan menjadi pelaku kebengisan, sebuah lembaran kelam yang selalu ditutupi oleh negara dari pengetahuan warganya. Joshua dalam pengantar yang ia kirimkan melalui surat elektronik padaku dan kubacakan pada mereka yang hadir sebelum film diputar mengatakan bahwa ia tidak hendak mengucapkan “enjoy the movie” karena disadari bahwa film ini bukanlah film yang enjoyable. Apa yang coba disuguhkan sebenarnyalah fragmen kengerian dari sebuah nasion bernama Indonesia yang terjadi di Sumatera Utara paska Gerakan Tigapuluh September (G 30 S).

Anwar Congo, tokoh utama film ini adalah satu dari sekian warga bangsa  yang menjadi jagal, executioner warga bangsa yang lain yang  menjadi anggota Partai Komunis Indonesia, atau diduga maupun dianggap sebagai bagian dari entitas besar komunisme, maupun  bagian dari etnis Tionghoa. Anwar, mengisahkan dengan penuh semangat dan terus terang akan apa yang dilakukannya paska G30 S: menghabisi nyawa mereka yang terbilang atau terduga komunis, anggota PKI maupun mereka yang diasosiasikan dengan golongan Tionghoa. Metoda yang dilakukannya banyak terinspirasi oleh film-film wetsern yang kerap ia lihat sebagai preman bioskop: menggunakan kawat dan tali yang dikatakannya tak akan membuat korban bersimbah darah.

Apa yang dilakukan oleh Anwar dan dituturkannya secara terbuka itu bisa terjadi karena keyakinannya yang begitu kuat bahwa  orang-orang PKI adalah pengkhianat bangsa dan oleh karenanya hal itu menjadi pembenar atas pembantaian mereka. Uraian dan gambaran yang dilakukan oleh Anwar menjadi daya tarik TAoK karena amat natural, ekspresif, dan spontan. Penjelasan Anwar seakan menjadi sinar yang lebih menerangi helai lembaran sejarah yang selama ini dihitamkan. Penuturannya tentang bagaimana ia melakukan seleksi atas korban yang hendak dibunuhnya dengan pertimbangan keuntungan yang akan ia peroleh misalnya menunjukkan titik temu agenda militer untuk menyingkirkan PKI dengan kepentingan kolaborator alias para jagal seperti Anwar untuk mencari keuntungannya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Anwar, mereka yang masuk daftar untuk dihabisi dan bisa diperas uangnya  tidak dihabisi. Demikian pula isu keganasan dan kebiadaban PKI di level nasional yang ditiupkan melalui aneka propaganda bersinergi dengan kebencian Anwar atas tingkah laku simpatisan maupun orang-orang komunis yang kala itu mengkampanyekan anti Barat termasuk anti film Amerika yang berimbas pada sepinya bioskop di mana Anwar menjadi tukang catut. Merasa  hidup dan perutnya dibuat susah oleh para anggota Pemuda Rakyat , Anwar menjadi makin bersemangat dan penuh kebencian dalam menghabisi para anggota Pemuda Rakyat dengan cara-cara yang kejam.

Anwar tentu tidak sendirian. Meminjam perkataan Joshua dalam diskusi TAoK di kediaman Saskia Weiringa di Den Haag pada 23 Maret 2013, lelaki tua berkulit hitam dan berambut keriting itu hanyalah satu saja dari sekian juta megapiksel tayangan kekerasan berdarah 1965 yang menelan jutaan nyawa rakyat Indonesia terutama mereka yang berafiliasi atau dianggap sebagai anggota maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia. Joshua benar, karena paska G30S, di Jawa, Bali, dan bahkan pulau-pulau seperti Flores ratusan ribu manusia tewas dihabisi dengan cara mengerikan oleh bangsa sendiri baik oleh tentara maupun oleh unsur masyarakat terutama golongan agama. Terbunuhnya enam orang jenderal di Lubang Buaya pada dinihari 1 Oktober 1965 dijadikan pembenaran bagi  pembantaian jutaan nyawa manusia tak bersalah, yang hingga kini tak pernah ada penyelesaian kasus atas kasus itu.

Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film berlangsung hangat. Selain aku, ada Tri Subagya yang pernah aktif dalam upaya rekonsiliasi antara pelaku dan korban, serta Agnes Nauli Sianipar, yang mengkaji persoalan ini dari sudut psikologi. Aku  sampaikan pada mereka yang hadir bahwa Anwar Congo maupun Adi dan jutaan manusia lainnya yang bertindak sebagai executioner sedikit banyak juga adalah korban brainwash, cuci otak oleh negara. Anwar melakukan pembunuhan karena keyakinan atas kebenaran apa yang dilakukannya karena propaganda yang dilancarkan oleh negara tentang PKI. Mereka yang menonton film ini barangkali akan mempunyai kesimpulan akhir bahwa Anwar adalah seorang pribadi yang kejam, tapi film itu menunjukkan betapa ia juga sebenarnya menderita secara kejiwaan karena perasaan bersalah  juga sesekali berhasil menyergap hatinya. Anwar dan juga Adi, berusaha mencari justifikasi atas perbuatan mereka. Mereka pula berjuang melawan rasa bersalah itu, bisa jadi mereka akan gila. Menarik ketika Anwar mengatakan bahwa film “Pengkhianatan G30S/PKI” buatan Orde Baru merupakan pembenar tersendiri yang mengembalikan keyakinannya bahwa apa yang dilakukannya memang benar.

Menarik juga adalah adegan ketika Adi mengatakan kepada Anwar keraguannya akan kebenaran-kebenaran isu dan ceritera seputar gambaran kebiadaban orang-orang PKI dan Gerwani pembunuhan enam jenderal yang kemudian mereka percaya dan menjadi pembenar atas tindakan yang mereka lakukan. Intinya, Adi hendak mengatakan bahwa dalam pengamatannya kemudian, ia merasakan adanya ketidakbenaran dalam aneka propaganda Orde Baru mengenai kekejaman PKI dalam pembunuhan jenderal yang kemudian menyulut kemarahannya dan banyak lagi warga masyarakat. Adi yang terlihat lebih educated, lebih mapan dan bergaya hidup kelas menengah ini merasakan pentingnya penyelesaian kasus ini, dan baginya adalah negara yang seharusnya melakukan hal ini. Meminta maaf pada korban misalnya, karena baginya negaralah yang seharusnya meminta maaf, bukan orang-orang biasa sepertinya dan Anwar.

Film ini membuka lembaran sejarah kelam bangsa Indonesia yang selama ini disembunyikan dari pengetahuan warganya sendiri. Seperti halnya sebagian besar mahasiswa yang menonton film ini, akan banyak warga bangsa Indonesia maupun dunia mengerti bahwa Indonesia pula pernah memiliki riwayat holocoust, pembantaian manusia oleh bangsa sendiri. Jika selama ini upaya ke arah pembukaan sejarah maupun sejarah tandingan telah dilakukan dan banyak Jawa sentris, setting film ini yang berada di Sumatera Utara memberikan pengetahuan pula akan luasnya tragedi 1965. Namun begitu, menonton film ini sebaiknya didahului dengan pengetahuan atas apa yang terjadi pada September 1965, aneka peristiwa sosial politik menyangkut relasi Soekarno dan kekuatan sosial politik yang lain kala itu terutama tentara dan PKI dan situasi global kala itu yang tengah dilanda perang dingin. Dengan demikian, orang akan bisa memahami lebih jernih film ini, sekaligus bisa menilai dengan proporsional akan tindakan Anwar, Adi maupun sesiapa saja yang terlibat menjadi jagal dalam kengerian 1965.

Nijmegen, 12 Juni 2013

Advertisements