Panas Lente Belanda

Hari yang panas. Suhu mencapai 32 Celcius di siang hari dan hingga aku pulang kampus sekira pukul 7 malam matahari masih belum tenggelam. Malam yang tak bisa dibayangkan sebagaimana di tanah air, telah gelap dan bintang-bintang bisa disaksikan indahnya jika langit tak mendung. Jam 7 malam di bulan Juni, akhir Juni, adalah saat dimana langit masih cerah dan matahari masih terik menyala. Ia baru akan tenggelam sekitar pukul 10 nanti. Dan demi menyambut panas ini, orang Belanda yang tak mempunyai keharusan berbusana resmi akan berpakaian pendek-pendek dan tipis-tipis. Mereka para perempuan akan memakai rok atau celana pendek, bersandal japit, dengan kaos tanpa lengan. Yang pria tak jauh berbeda: berkaus, bersandal atau bersepatu kets dan berkacamata hitam, demi menghalau silau mentari.

Dan Juli nanti, ketika bulan puasa tiba, akan lamalah waktu yang harus dijalani bagi mereka yang harus berpuasa menurut Islam. Matahari muncul pukul 3 pagi dan baru tenggelam lepas jam 10. Dan oleh karena itu banyak pelajar Indonesia yang pulang ke tanah air bulan ini. Menghindari puasa yang panjang atau ingin berpuasa bersama keluarga dan merayakan iedul fitri bersama? bisa jadi itu alasannya, atau itu alasan di balik alasan sebenarnya yang tak ingin berlama-lama puasa di musim panas Eropa.

Dan jelang minggu ke tiga Juni ini sebenarnyalah ini masih terhitung musim semi, lente. Dan hari ini adalah hari dengan temperatur tertinggi. Walau terkadang di atas 20 derajat, seringkali Belanda masih dingin dengan suhu antara 10 hingga 15 derajat. Kubaca di koran gratis SPITS bahwa lente ini adalah salah satu diantara 10 lente terdingin sejak 1901 dan yang terdingin sejak 30 tahun terakhir. Dan memanglah itu benar belaka. Sepanjang April hingga nyaris akhir Juni ini, orang masih harus kerapkali memakai syal dan jaket tebal.

Cuaca memang menjadikan kehidupan di Belanda benar-benar tergantung oleh prediksi cuaca. Orang tak bisa begitu saja mengabaikan hari tanpa melihat prediksi. Jika diramalkan hujan, bisa jadi suhu akan begitu turun dan menyebabkan dingin yang tak tertahan. Demi menimbang suhu yang dialami di sini, menjadi mahfumlah diri bahwa  negeri-negeri tropis termasuk Indonesia tidak saja berlimpah dengan alamnya yang memiliki kandungan tambang yang meelimpah, namun juga suhu yang bersahabat sepanjang tahun, suatu kekayaan yang tak teraba.

Nijmegen, 18 June 2013

Advertisements