Belanda Cimahi dan Kisah Tentang Repatriasi

Anton mempersiapkan Pizza untuk makan malam. Matahari Belanda masih bersinar walau kala itu sudah sekira pukul 19:00.
Anton mempersiapkan Pizza untuk makan malam. Matahari Belanda masih bersinar walau kala itu sudah sekira pukul 19:00.

Kunjungan sore tadi bukanlah yang pertama kulakukan. Juga pizza yang dipanggang renyah buatan sang pemilik rumah dengan ikan makarel dan paprika yang begitu sedap di kecapan lidah itu bukan pertama kalinya kurasa.  Anton Vandeursen, tahun lalu ketika kukunjungi rumahnya di kawasan Meijhorst, masih menjadi dosen aktif Hogeschool van Arnheim en Nijmegen (HAN). Ini hari ketika aku berkunjung, ia telah resmi menyandang status sebagai pensiunan. Anton mengundangku datang ke rumahnya untuk makan malam bersama sebelum kepulangan singkatku ke Indonesia akhir Juni ini. Sebelumnya Januari lalu kami sempat bertemu dalam makan malam bersama rekan-rekannya sesama dosen HAN dalam rangka menyambut dua dosen Universitas Sanata Dharma Yogya yang mengunjungi Belanda dalam rangka kunjungan balasan dan studi singkat di Belanda.

Kami bertiga: aku, Anton dan isterinya Korin menyantap pizza buatan Anton di halaman belakang. Suhu senja yang berawan ini begitu bersahabat, sekitar 26 derajat, lebih hangat dari hari sebelumnya yang begitu terik mencapai 32 derajat. Hangat dan kami bisa duduk tanpa harus merasa dingin. Suara kicau burung menemani pembicaraan kami. Sempat kami membicarakan nasib burung-burung liar di Indonesia yang habis diburu. Aku menceritakan bahwa hingga tahun 80-an masih  banyak terlihat burung liar, akan tetapi semakin lama semakin jarang. “Apakah mereka memburu untuk dimakan?” tanya Korin. Aku jawab kebanyakan para pemburu bersenjata senapan angin hanya untuk kesenangan saja. Mereka kemudian memakannya, untuk kesenangan, dan bukan karena tak mampu membeli makanan. Dan menceritakan hal ini tak urung teringatlah aku akan masih banyaknya burung blekok yang kulihat di alun-alun Purwokerto setidaknya pada dasawarsa 80-an.

Anton bukanlah orang Belanda murni. Ayahnya adalah seorang pelaut yang  berasal dari Cimahi dengan darah Belgia Cimahi dan Sunda. Vandeurseun sang kakek adalah orang Belgia yang menjadi prajurit KNIL dan bertugas di Hindia Belanda. Laki-laki yang rambutnya telah memutih dengan kulit semu coklat dan putih ini juga lahir di Cimahi dan mengenyam pendidikan dasar di kota itu. Ketika ia menunjukkan foto keluarga dimana neneknya (seingatku bernama Nyi Neot) ada di dalam fotonya kukatakan keyakinanku bahwa neneknya adalah seorang Tionghoa-Jawa Barat. Aku dapat mengenali wajah orang Tionghoa dari raut muka, dan terutama sekali matanya. Dan memanglah, garis keturunan Tionghoa itu begitu kuat muncul kembali di wajah cucu Anton yang kusaksikan fotonya.

Dalam ceritanya yang kuhimpun, ayah Anton menjadi pelaut ketika berumur sembilan belas tahun. Ia berlayar ke banyak negara, termasuk Amerika dan pernah tinggal beberapa lama di New York. Belanda adalah salah satu negara yang ingin dikunjunginya karena kaitan sejarah beratus tahun dengan negerinya. Dan di Den Haag, dalam sebuah pesta perkawinan, sang ayah, pelaut itu bertemulah dengan ibunya, seorang warga Belanda berdarah Jerman. Mereka menikah di Arnheim, dan sang ayah memboyong isterinya ke Jawa. “Itu terjadi pada 1947, ketika terjadi Politioneel Actie,” katanya padaku. Aksi polisionil, tindakan ketertiban untuk memulihkan hukum dan ketertiban atas banyaknya ‘ekstrimis yang memberontak’ karena ingin merdeka setelah Jepang yang selama ini menduduki nusantara menyerah pada tentara sekutu. Aksi polisionil tentu terma bermakna politis versi Belanda, yang hendak kembali mengklaim koloninya setelah Jepang yang berhasil mengusirnya pada 1942 kolaps, kesempatan mana dimanfaatkan oleh kaum revolusioner Indonesia untuk memporklamirkan kemerdekaan pada 1945. Bagi sejarah resmi Indonesia, usaha kembalinya Belanda itu dikenal dengan sebutan agresi militer; makna yang tak kalah politis.

Dan dari sang ayah yang berdarah separuh Belgia dan separuh Tionghoa Cianjur itu lahirlah Anton bersaudara. Ayah Anton adalah kakak dari Wim Effendi, ayah kawanku Heron, dan dari Heron inilah  singkat cerita aku mengenal Anton dan berjumpa di Nijmegen. Situasi politik paska 1949 dimana terjadi pengakuan kedaulatan Kerajaan Belanda kepada pemerintah Indonesia menjadikan ayah Anton dalam posisi dilematik. Ia adalah orang yang sangat cinta Indonesia. Ia berbahasa sunda, dan sebenarnya tak begitu menyukai Belanda. Lantas mengapa ia mau memilih untuk turut dalam gelombang repatriasi ke Belanda, demikian aku bertanya.

Anton mengatakan bahwa kehidupan warga Belanda  menjadi sulit. Mereka menjadi kaum yang tak dikehendaki keberadaannya di negeri yang baru merdeka ini. Pada masa itu isterinya (yang tak lain adalah ibunda Anton) yang Belanda dan anak-anaknya yang mewarisi kulit putih menjadikan keamanan keluarga menjadi tak terjamin. Bisa dimengerti kala itu sentimen anti Belanda sebagai bekas penjajah begitu kuat di kalangan rakyat Indonesia yang baru merasakan kemerdekaan dan kemandirian sebagai bangsa yang bernegara. Khawatir hal yang tak diinginkan terjadi, sang ayah turut dalam gelombang repatriasi menuju Negeri Belanda yang terjadi pada tahun-tahun awal dekade 50-an. Menurut pembacaannya, ada sekitar 400,000 orang yang memutuskan untuk pulang ke negeri Belanda. Banyak diantaranya seperti Anton,  ‘kembali pulang’ ke Belanda namun belum pernah sama sekali melihat bagaimana rupa negeri itu. Ayah Anton, lelaki kelahiran Cimahi itu meninggal di Belanda dan dimakamkan di Eindhoven.

Anton masih mengenang betapa ia menaiki kapal bernama ‘Himalaya’ sekitar 28 hari dari Tanjung Priok ke pelabuhan Rotterdam. “Kami melewati terusan Suez, dan ketika sampai di Rotterdam kami tak punya pakaian yang sesuai untuk musim di Belanda yang dingin,” katanya lagi. Di Belanda ia tinggal di Breda selama dua tahun dan kemudian sempat pula tinggal di Eindhoven. Perlu sekitar 34 tahun baginya untuk dapat kembali lagi ke Indonesia di awal 90-an, kali dalam kunjungannya sebagai turis.

Anton di kebun bawang yang dikelolanya di Beek, sebuah daerah tak jauh dari Nijmegen
Anton di kebun bawang yang dikelolanya di Beek, sebuah daerah tak jauh dari Nijmegen

Pada mulanya, kehidupan baru di Belanda tentu asing pula baginya. Makanan, tempat tinggal, dan juga bahasa. Walaupun sebagai anak keturunan Ibu yang warga negara Belanda ia juga terbiasa berbahasa Belanda di rumah, tak urung banyak juga hal yang sama sekali baru ia rasakan setibanya di negeri kincir ini. “Seandainya transfer kedaulatan berjalan mulus, tiada gejolak politik, mungkin kau sekarang ini masih di Indonesia”, kataku padanya dalam perjalanan kami kemudian menuju Beek, sebuah gementee di luar Nijmegen untuk meninjau kebun bawang yang dikelolanya.  “Ya itu bisa saja terjadi. Misschien (mungkin) seperti itu,” katanya menerawang jalan raya di depannya.

Nijmegen, 19 Juni 2013

Advertisements