Kisah dari Abu Dhabi

Abu Dhabi International Airport
Abu Dhabi International Airport

Ia kujumpai di Abu Dhabi International Airport ketika aku tengah membunuh waktu menunggu pesawat yang akan menyudahi perjalananku dari Amsterdam ke Jakarta. Saat duduk berdampingan dan bercakap dengannya di ruang tunggu, ia mengenakan kaus kuning, dengan rambut panjang terurai, bercelana jeans dan bersandal. Badannya agak gemuk. Ketika berbincang dengannya aku memang tak banyak memandang wajahnya. Namun seingatku wajahnya tidaklah cantik, setidaknya menurut ukuran, rasa dan seleraku. Namanya? Aku tak menanyakan. Padaku ia mengaku berasal dari Cianjur. “Orang Cianjur di Arab banyak sekali. Ribuan,” katanya lagi seraya  menambahkan bahwa sebenarnya berasal dari Bogor. Ia menyebutkan nama suatu daerah  yang tak kukenali, dan oleh karenanya sudah barang tentu tak dapat kuingat lagi. Umurnya duapuluh delapan, dan itu berarti lebih muda sepuluh tahun dari usiaku. Dalam bercakap aku memanggilnya dengan sebutan “Ibu”. Ia sendiri nampak terkaget tak percaya ketika kusebutkan selisih usiaku dan usianya. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Riyadh, Arab Saudi, dan didorong rasa ingin tahuku tentang  kehidupannya sebagai pembantu, akupun menanyainya. Dan inilah lebih kurangnya percakapan singkat kami:

Sudah tiga tahun ini ia menjadi pembantu. Mengerjakan apa saja dari menjemput anak, mencuci baju, dan memasak, katanya. Untuk itu, ia mendapat gaji yang menurutnya lumayan. Sekarang sekitar seribu real, katanya. “Sebelumnya hanya sekitar delapanratus”. Aku menghitung jumlah itu setara hampir tiga juta rupiah. Tak besar-besar amat, akan tetapi jauh lebih besar dari upah bekerja sebagai buruh pabrik di tanah air. Ia membenarkan. “Tapi kerja di Indonesia enak, bisa kumpul keluarga” katanya. Ketika kutanya dimana suaminya, ia menjawab tak bersuami lagi. “Suamiku kawin lagi”, tuturnya dengan nada tak senang. “Kapan itu?” tanyaku. “Tahun kedua setelah aku bekerja di Riyadh,” ia menjawab. Bertanya lagi aku: ” Bagaimana ibu tahu?”.  “Anakku yang cerita”. Dan kemudian ia menuturkan bahwa anaknya yang kini kelas lima sekolah dasar itulah yang mengatakan bahwa ayahnya telah bersama perempuan lain. Ia mengatakan bahwa ia tak sudi dimadu, maka ia bercerai. “Kami sudah resmi bercerai” katanya.

Aku menanyakan mengenai nasib buruk beberapa TKI yang kerapkali aku baca di suratkabar. “Itu salahnya sendiri”, katanya. Aku tak tahu apa yang ia maksud dengan ‘salahnya sendiri’. Tapi akupun tak hendak bertanya lebih dalam. Tapi jawabannya itu mungkin ada kaitannya dengan kisahnya mengenai rayuan yang kerap diterima perempuan pembantu rumah tangga, baik dari majikan maupun dari sopir. Aku mengatakan bahwa persoalan biologis itu bisa dimengerti, bagaimanapun hal itu adalah kebutuhan manusia dewasa. Ia membenarkan dan kemudian menceritakan bahwa banyak pula diantara mereka kemudian menjalani kawin kontrak.  “Kalau imannya nggak kuat ya bisa begitu” katanya sambil bersyukur bahwa ia termasuk orang yang tahan godaan.

1 Juli 2013  antara Abu Dhabi-Jakarta

Advertisements