Surat Untuk Nanda (1)

Malam yang dingin, walau musim dingin telah berlalu. Sedang apakah engkau di sana nak? Jam sepuluh malam limabelas di tempatku kini berada, di pinggiran kota Melbourne. Berarti jam tujuh limabelas di tempatmu berada. Pastilah ibumu sudah mengerjakan shalat Isya. Ya begitu mendengar adzan, ia akan segera berwudhu. Dan di desa tempatmu tinggal di pinggiran Temanggung, tidak sukar bagi kalian untuk mendengarkan adzan. Dari langgar desa, dari masjid kampung sebelah, dari masjid dinas pertanian di dekatmu dari televisi jika kau menghidupkannya. Tiada televisi di Indonesia yang tak mensiarkan adzan.

Di sini, tidak ada adzan terdengar. Aku harus melihat jadwal shalat. Lebih sering lagi aku hanya menerka nerka saja. Jika sudah kurasa gelap, maka kuanggap sudah maghrib. Satu jam kemudian aku yakin itu sudah Isya.Dan begitu sering kulakukan hal itu dengan fikiran Tuhan memaklumi. Di sini aku menghayati sepenuhnya makna menjadi minoritas, menjadi bagian yang tak besar dari suatu komunitas.

Di televisi yang menemaniku mengetik surat ini sekarang ditayangkan pesta remaja. Ada perempuan yang tak berkutang hanya bercawat saja menyembur nyemburkan api dari mulutnya. Dan mereka yang mengerubunginya bersorak kesenangan. Hal biasa di sini. Tiada yang protes, semua biasa saja. Harus aku mengakui bahwa terkadang akupun merasa senang melihatnya, dan menyesali mengapa acara seperti itu tak ada di negara kita. Terkadang aku ikut mengamini dan ikut percaya bahwa immoralitas adalah konsepsi yang dicipta untuk menindas. Namun kadang aku merasa malu pada diriku sendiri dan merasa bersalah pada Tuhanku..

Jenuh aku di rumah ini. Berhari hari aku berdiam di rumah saja. Ingin rasanya keluar, tapi angin dingin membuatku malas, atau mungkin pada dasarnya ayahmu ini memang pemalas. Angin malam Australia yang dingin begitu kejam, sangat dingin apalagi bagi orang seperti kita yang hanya mengenal dua musim sepanjang tahunnya. Dan dingin berarti membuat kita cepat lapar. Dan lapar berarti makan. Makan berarti adalah uang, spending, pengeluaran tambahan. Roti tawar dan keju, serta sejumput selai coklat cukuplah sudah untukku. Lebih baik aku menghemat uang yang kudapat disini untuk masa depan kita bertiga, aku, engkau dan ibumu.

Di sini aku selalu membawa bekal air putih, air dari ledeng. Aku selalu menghibur bahwa itu lebih baik dan sehat bagiku. Walau begitu kadang aku merasa malu dengan para pekerja bangunan di sini. Mereka bisa membeli cappucino di sela istirahatnya, atau pergi makan di café.. Penghasilan mereka lebih dari cukup untuk itu. Berapa yang mereka terima perjamnya? Tak kurang dari duapuluhlima dolar. Dan itu berarti jika mereka kerja enam jam dalam sehari, mereka akan terima 150 dollar. Betapa tidak sejahtera? Dan 150 dollar itu, kerja mereka dalam sehari itu hampir dua kali lipat gaji ibumu sebulan sebagai tenaga honorer dalam sebulannya. Ya pegawai honorer yang setiap hari kepanasan di ladang benih.

Namun telah sejak pagi-pagi dalam hidup kita dididik untuk selalu bersyukur, untuk tak lupa mengingat rizkiNYA. Dan akupun meyakininya. Dan tiada pilihan lain selain meyakininya jika engkau tak hendak terlarut dalam keluh kesah. Dan doa itulah yang kini kita panjatkan dengan pemboman di kedubes Australia, pagi tadi. Sebelas orang tewas, dan semua dari bangsa kita sendiri. Ada satu warga Australia, seorang kanak-kanak, mungkin seusiamu anakku.

Sukar aku mengerti, mengapa ada bagian dari bangsa kita yang menjadi begitu kejam dan ganas. Dan atas kekejaman yang mereka lakukan, masih juga mereka mengajukan pembenaran. Namun aku yakin, mereka yang meledakkan bom itu tidaklah mewakili sikap sebagian besar bangsa kita. Akan tetapi Ibumu, pamanmu, semua menghubungiku dan mengkhawatirkan keadaanku di sini. Mereka takut aku dan semua warga Indonesia di sini menjadi korban sentimen anti Indonesia. Kukatakan pada mereka, mereka tak perlu takut. Aku baik baik saja di sini.

Dan beberapa kawanku, lewat email menyatakan keheranannya. Mengapa kami di sini bisa tetap tenang. Dan untuk itu aku perlu menjawabi seperti ini. Bangsa Australia bukanlah bangsa yang gemar melakukan balas dendam. Ini harus kau tahu anakku, dan pahitnya sifat seperti ini tidak ada pada bangsa kita. Kau tahu apa jadinya kalau hal ini terjadi pada bangsa kita? Akan ada sweeping, pembersihan fasilitas asing, fasilitas barat.

Tidak, hal itu tak terjadi di sini. Tak ada kekerasan pada warga Indonesia. Kami tetap bisa berjalan tenang dan aman di sini. Sebaliknya dari televisi dan surat kabar, warga Australia di negara kita menjadi panik, menjadi gelisah. Engkau tahu mengapa? Peristiwa bom bali di mana hampir 90 orang Australia terbunuh secara sangat kejam adalah pengingat yang sempurna untuk membuat mereka segera meninggalkan tanah air kita

Dan sesungguhnya hal itulah yang membuatku risau nak. Ketika aku kecil, ketika aku kanak-kanak, para guru dan orang tua mengajarkan bahwa bangsa kita dikenal karena keramahannya. Orang Indonesia dikenal karena murah senyum dan ramah. Namun peristiwa pemboman di Bali sungguh membuatku malu mengaku sebagai orang Indonesia. Pernah aku bercakap dengan seorang penjual buku bekas di Camberwell, dan ia mengatakan bahwa sebelum bom Bali, ia kerap mengunjungi Indonesia. Dan kini ia tak berani lagi menginjak tanah air kita. Dan aku berusaha sekuat rayuanku, meyakinkannya bahwa banyak bangsa Indonesia yang juga mengecam aksi itu. Namun ia hanya tersenyum dan berkata bahwa rasa takutnya bagaimanapun lebih kuat daripada keiginan mempercayai mulutku. Dan barangkali dalam benaknya pula ia meyakini bahwa aku juga adalah pembunuh.

Tidak saja bom Bali, apa yang terjadi di Timor Timur setelah jajak pendapat 1999 juga berdampak buat kami di sini. Tidak berdampak pada kekerasan fisik, akan tetapi moral kami sebagai warga bangsa menjadi turun. Kuceritakan padamu, betapa rasa maluku ketika mendatagi ceramah Ramos Horta, Menteri Luar Negeri Timor Leste di Parlianment House Melbourne pertengahan Agustus lalu? Betapa ia bercerita tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh tentara kita? Aku merasa malu. Dan seorang pemuda berkulit gelap di sebelahku, yang membawa kain khas Timor, aku benar benar merasakan pandangan tak senangnya padaku. Mungkin ia sangat mengenaliku, wajah Jawa, wajah yang mewakili penjajah negaranya di masa lalu. Dan keinginan Horta bahwa ia dan Xanana1 ingin tetap menjalin hubungan baik dengan Indonesia mendatangkan tepuk tangan yang membahana di Queens Hall Parlianment House. Aku kira jika patung ratu Elizabeth yang berdiri kokoh menghadap podium tempat Horta berbicara itu hidup, pastilah ia akan ikut pula bertepuk tangan dan memberikan pandangan tak senangnya padaku. Pandangan tak senang, dan tepuk tangan untuk Horta. Dan tepuk tangan untuk pemenang kerapkali menjadi rasa malu bagi yang kalah.

Entah bagaimana mengembalikan harga diri, kehormatan bangsa kita, nak. Krisis ekonomi di tahun 1997 telah membuat kita porak poranda. Kejahatan meruak, korupsi mengganas. Hukum semakin murah dan terbeli. Orang semakin takut berbuat baik, sebaliknya, orang tenang jika ditindas. Karena apa? Karena ingin selamat dan aman. Terlalu sering aku mendengar ajakan untuk memerangi ketidakberesan, ketidakbenaran. Dan ketika dihadapkan pada ketidakmunkaran di depan matanya, orang menjadi cengeng, dan penuh maklum.

Kelak jika engkau besar, dewasa dan mandiri, tak tahulah aku, apakah engkau juga akan mengalami apa yang aku rasa jika berhadapan dengan warga negara lain. Akan adakah rasa malumu mengakui dirimu sebagai bangsa Indonesia. Tentu aku tidak mengharapkan demikian. Aku mengharap engkau menjadi generasi bangsa kita yang bangga mengaku menjadi bangsa Indonesia, bagian dari bangsa Asia yang besar dan terhormat..

Notting Hill, 10 September 2004

Advertisements