Surat Untuk Nanda (2)

Nanda, tadi siang aku melihat rekaman pemboman Kedubes Australia di Kuningan. Sangat mengerikan. Engkau mungkin bertanya di mana aku melihatnya. Tentu di televisi, dan itu televisi Indonesia. Tak perlu heran nak, zaman kini aku bisa menonton siaran Indonesia di tempatku kini di Australia, pinggiran Melbourne. Engkau lahir di zaman teknologi informasi. Semua serba terhubung, serba elektronik.

Ketika aku lahir, aku termasuk beruntung, karena keluarga kami sudah bisa menonton televisi, karena ayahku, simbah kakungmu termasuk orang yang mampu membeli televisi. Dan televisi kala itu hitam putih tidak berwarna seperti sekarang. Dan pada jaman dahulu belumlah ada internet, apalagi SMS. Kini kau lahir pada jaman internet. Aku menggunakannya untuk mengirim kabar pada ibumu hampir setiap hari lewat telepon genggamnya. Betapa praktisnya hidup di alam kini.Bahkan kelahiranmu dahulu, dua tahun lalu kukabarkan pada dunia, pada kawan-kawanku di Jepang, Belanda. Pada para kerabat di Surabaya, Jakarta. Sangat cepat dan praktis. Bayangkan, dahulu orang perlu menulis surat dan mungkin berminggu-minggu akan sampailah surat itu kepada tujuan. Itu dengan catatan surat tak hilang di tengah perjalanan.

Dan ketika aku lahir, komputer pun belum dimiliki setiap orang seperti sekarang. Dan kini, rasa-rasanya setiap keluarga terdidik pasti memiliki sebuah personal computer, komputer pribadi. Aku kini juga sedang mengetik dengan laptop, komputer yang bisa dibawa ke mana-mana. Kakekmu, dan para kakek buyutmu di alam baka sana aku yakin tak pernah membayangkan hal seperti ini.

Kembali ke televisi tadi nak, betapa dahsyatnya bom itu meledak. Bahkan dalam rekaman video , semua tampak gelap, kaca-kaca pecah berhamburan. Ada kulihat beberapa detik sebelum ledakan seorang berjalan kaki menutupi kepalanya yang kepanasan disengat matahari. Entah selamat atau tidak dia. Aku harap ia tidak tewas.

Siapapun pelaku itu,  ia adalah orang yang biadab. Kau tahu, bahkan ia pun tak bisa menjamin bahwa anak dan isterinya, atau keluarganya mungkin ada ada di sekitar lokasi peledakan itu. Keyakinan yang ada di otaknya telah mengalahkan semua itu. Bahkan ia sendiripun lebih memilih mati bersama dengan mobil yang berisi bahan peledak itu. Mati tetaplah mati, dan bagi orang yang kebanyakan, kematiannya itu akan segera terlupakan. Karena mereka yang mati itu bukanlah siapa-siapa. Lain halnya jika orang penting yang mati maka dunia pun bisa larut dalam peperangan seperti yang terjadi pada perang dunia pertama.

Siapa yang harus kita kutuk nak? Perdana Menteri Howard dan Amerika menuding Jamaah Islamiyah berada di balik terror ini. Namun siapakah Jamaah Islamiyah itu? Adakah memang benar-benar ada? Atau hanya rekaan saja. Mereka menunjuk pada situs Jamaah Islamiyah yang mengakui pemboman itu.Siapakah yang tidak bisa merancang situs internet sekarang. Bahkan ayahmu ini pun memiliki situs internet, walau dibantu oleh teman ayah dari Belanda, seorang pembuat situs internet komersial di Amsterdam. Dan ada kudengar pula mantan kepala BAKIN mengatakan bahwa pemboman itu adalah bagian dari skenario besar dari Amerika. Dengan peledakan itu, menjadi terbenarkanlah tindakan mereka selama itu melakukan penghancuran apa yang mereka sebut sebagai Islamofascist.

Mana yang benar? Aku pun hanya bisa menduga nak, tapi apakah ada arti kebenaran untuk situasi sekarang. Kekuatan itulah yang menjadi penentu. Dan jika engkau tak cukup kuat, maka bersiaplah untuk menjadi mangsa. Bangsa kita telah melemah dan mengendur dari tali ikatan yang selama ini mempersatukan kita. Semua merasai rasa kedaerahan, kesukuan, kekelompokan.

Yang satu ingin membuat negara ini sesuai ajaran agamanya, yang lain sebagai minoritas menolak. Yang satu menginginkan negara ini dipimpin oleh mereka dari Jawa, yang lain minta kesempatan bagi Indonesia timur. Kita terbagi menjadi agama ini dan itu, Indonesia ini dan itu.

Siapakah yang sangat beruntung dengan ini, nak? Tentu saja orang lain, non bangsa kita. Mereka akan dengan gembira menyusup dan mengipasi, dan memetik buah selagi kita saling mencakar dan menjambak. Dan pada akhirnya tiada di antara kita yang saling bertengkar dan menusuk, dan melukai mendapat keuntungan. Dan kita babak belur dan remuk redam. Dan kekuatan asing menguasai kita.

Aku tak pernah mengalami penjajahan fisik seperti kakek dan nenekmu pernah. Dan di kala itu menurut cerita mereka, ketakutanlah yang terasa jika tak menuruti apa yang diingini penjajah. Aku masih ingat bagaimana ibuku bercerita tentang sirine yang dibunyikan oleh tentara penjajahan Jepang, yang membuatnya bersembunyi di balik kolong tempat tidur.

Aku lahir di alam merdeka. Hanya saja aku lahir dalam situasi Orde Baru Soeharto. Engkau tahu bagaimana rasanya hidup di bawah pemerintahan Soeharto? Baiknya kuceritakan sedikit padamu. Situasi Orde Baru adalah keadaan pemerintahan yang langgeng dengan terjaga oleh kekerasan, paksaan, dan siksaan dalam arti sebenarnya.

Engkau tak bisa berharap menulis sesuatu yang bertentangan dengan negara, jika engkau ingin selamat. Dan ketika aku aktif di penerbitan mahasiswapun, amat sukar bagiku untuk memberanikan diriku menulis hanya Soeharto saja, tanpa embel-embel ‘Pak’. Sukar dan takut dan berfikir barang limaratus kali. Kau boleh mengatakan aku, ayahmu ini penakut. Ya mungkin, karena banyak mahasiswa seangkatanku, bahkan adik kelasku turun di jalan. Dan kulihat sendiri kepala mereka bocor darah karena pentungan aparat. Aku? Seingatku hanya sekali aku ikut melempari aparat sebelum beberapa hari sebelum turunnya Soeharto di Mei 1998. Secara berseloroh seorang temanku dari Slawi mengatakan bahwa itu adalah latihan melempar jumroh. Aku sendiri hanya sekali melempar, dan tak tega perasaanku, karena polisi itu  toh juga manusia.

Dan seorang adik kelasku, Ignatius Phutut Arintoko namanya, dia mendekam di penjara Cipinang. Kau tahu apa sebabnya? Karena ia ikut berunjuk rasa, dalam koalisi menggulingkan Megawati dari kepemimpinan PDI. Dan ia akhirnya mendekam di sana hingga Orde Baru terguling, kurasa. Dan dari sana ia sempat mengirimiku surat, tetap dengan semangatnya yang membara melawan tirani. Aku harap ia kini sudah bebas sekarang. Kau tahu, banyak aktifis 1998 yang pula tak kembali setelah diculik. Sastrawan Wiji Thukul adalah salah satunya.

Ya aku mungkin aku penakut, namun dalam konteks kala itu, melibatkan diri di majalah mahasiswa sendiri saat itu bahkan termasuk hal yang di luar kelaziman. Pernah seorang awak redaksi menghampiriku. Dan ia mengatakan hendak megundurkan diri. Ia anak seorang dosen, dan aku bisa mengerti alasannya mengaapa ia ingin mengundurkan diri dari majalah. Ia takut akan masuk black list daftar hitam kejaksaan. Sungguh aku tak begitu mengetahui kebenaran akan ada daftar hitam semacam itu. Namun ia bersikeras mengatakan tak mau sukar mencari pekerjaan kelak setelah lulus menjadi sarjana karena punya reputasi melawan pemerintah.

Mungkin itu tak dari hati nuraninya sendiri, mungkin. Mungkin semua berasal dari kata-kata ayahnya yang seorang PNS dosen. Dan tiada aku menyalahkan ayahnya. Siapa mau anaknya susah. Aku pun tak ingin kau susah di kelak kemudian hari, nak. Dan dari sini kau bisa mengerti bahwa pada jaman itu seorang dosen, yang seharusnya bisa mensuarakan kebenaran pun bahkan tertindas oleh ketakutan pada kekuasaan. Penjajahan mental merajalela di negeri kita. Bersyukurlah bahwa engkau tak mengalaminya.

Dan kini Soeharto tak berkuasa lagi. Dan kini orang sedikit bisa bernafas. Namun tak terbayang pula bahwa setelah Soeharto kita akan berkawan akrab dengan terror dan bom. Dan tak terbayang pula bahwa kita akan akrab dengan sweeping dan pengusiran warga asing. Dahulu, aku hanya melihat berita bom bunuh diri hanya dari televisi saja. Dari berita berita di Israel, Beirut, Yordania. Kini, bom, terror, telepon gelap adalah bagian dari bangsa kita. Di Jakarta, Bandung, Medan, Sulawesi.

Orang mengkhawatirkan semua bisa membawa perpercahan bagi bangsa kita. Aku justeru mengkhawatirkan bahwa persatuan kita memang sudah pecah. Dan memang itulah metode kolonialisasi gaya baru. Menjajah tidak secara fisik, tapi secara mental kita dikuasai, ditaklukan dan digiring. Dan semua akan menjadi mudah dengan tawaran uang dan kekuasaan. Dan kita hanya akan menjadi perahan saja, dan kekayaan alam kita akn disedot ke luar. Sementara kita akn terbiasa menjadi pembeli dan bukan penjual, barang barang produk global.

Aku ingat kata Bob Marley, bahwa yang penting adalah emancipate yourself from mental slavery. Kita semua harus bebaskan diri dari perbudakan mental. Aku harap engkau kelak menjadi perempuan yang cerdas, yang tak takut membela kebenaran.

Notting Hill, VIC Australia 12 September 2004

Advertisements