Rumah Makan Moro Sakeco 2 Temanggung

deretan gazebo RM Moro Sekeco 2
deretan gazebo di RM Moro Sakeco 2

Letaknya di tepi jalan tembus Kranggan-Pringsurat, Temanggung dengan hamparan pemandangan sawah dan perbukitan yang asri, teduh dan hijau. Mereka yang bepergian dari arah Purwokerto menuju Semarang maupun sebaliknya akan menjumpai tempat makan ini. Inilah salah satu rumah makan yang merupakan cabang dari RM Morosekeco Grabag, Magelang. Aneka makanan olahan ikan adalah unggulan  Moro Sakeco sejak lama, dan Moro Sekeco 2 ini pula menyediakan menu dan fasilitas yang sama dengan Moro Sakeco induknya. Kelebihan lain? Parkir luas dan tempat makan berupa gazebo yang cukup nyaman membuat para pengunjung mendapatkan suasana yang menyejukkan untuk melepas penat selain rasa haus dan lapar.

Ingin menikmati makan siang bersama keluarga daripada jauh-jauh ke Magelang dengan risiko terjebak macet arus mudik/balik, membuat saya dan keluarga ingin mencobai rumah makan ini di hari ke-3 lebaran 2013 kemarin. Sekira jam 11: 30 ketika kami sampai di sana, belum banyak tamu yang datang. Kalau tak salah hanya satu keluarga di gazebo sebelah dimana kami makan. Namun begitu, walau belum banyak tamu yang datang, agak lama juga menunggu pesanan yang kami minta. Hampir sekitar setengah jam kami harus menunggu hingga akhirnya karyawan rumah makan membawakan pesanan kami: segelas jeruk, segelas teh dan satu buah es kelapa muda dengan bakmi goreng serta bebek kremes dan bebek goreng.

bebek kremes yang tidak garing dengan sambal sachet
bebek kremes pesanan saya: tidak digoreng dengan panas, disajikan dengan sambal sachet

Olahan masakannya? Saya mengeluh pada isteri karena bebek kremes goreng tepung pesanan saya itu tidak digoreng  garing. Ketika daging bebek saya buka, bagian dalamnya terasa dingin.  Ini membuat saya cukup ill feel dalam memakannya, karena saya menyukai bebek goreng yang benar-benar panas ketika disajikan, Ketika saya buka lebih dalam, daging bebek itu lembek ‘kenyel-kenyel’  lebih seperti daging yang direbus daripada digoreng. Isteri saya cukup ahli memasak mengatakan, ada kemungkinan daging bebek itu diopor terlebih dahulu kemudian disimpan di dalam kulkas dan digoreng tepung ala kadarnya ketika ada pesanan. Bebek kremes itu tidak disajikan dengan sambal alami, melainkan dengan sambal sachet. Buat saya, sambal pabrikan itu itu mendistorsi rasa alami dan suasana alami yang terbangun oleh lingkungan sekitar.

Sementara itu bebek goreng pesanan anak saya juga tak jauh berbeda. Ketika disajikan, daging bebek terasa dingin, anyep, dan ketika dibuka dagingnya, masih kenyal-kenyal dan terkesan sebagai bebek rebus daripada  digoreng dengan minyak panas dalam waktu lama. Anak saya tak mau melanjutkan makan, dan hanya kemudian makan dengan sambalnya saja karena memang lapar. Sebenarnya, kalau tidak mengingat kesemuanya saya beli dengan uang yang tak sedikit, saya pun enggan untuk  menghabiskan bebek goreng kremes plus bebek goreng pesanan anak saya tersebut. Apa boleh buat?

Advertisements