Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?

Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971
Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971

Melalui posting di di Group FB Obrolan Seputar Koes , group yang menjadi wadah penggemar Koes Plus/Koes Bersaudara akun FB Ade Tejanegara (AT) memposting thread yang membandingkan Koes Plus dan Dara Puspita (Darpus). Intinya, posting bertanggal 13 Agustus 2013 tersebut mengkomparasikan Dara Puspita yang seakan tenggelam tiada kabar, sementara Koes Plus tetap jaya. Padahal, klaim thread tersebut, keduanya adalah band seangkatan.   Lebih lanjut Ade mengklaim bahwa kepopuleran Darpus di  luar negeri tidak ada artinya kalau di dalam negeri tidak populer, atau dengan kata lain tenggelam di bawah nama Koes Plus. “Miris sekali”, demikian kalimat penutup thread tersebut, suatu ekspresi yang terkesan memandang rendah pada Darpus.

Perbandingan kedua band itu, Koes Plus dan Darpus buat telinga saya yang lahir jauh setelah masa jaya kedua band tersebut sebenarnya sama sekali bukan hal baru, dan nada fanatisme (terhadap Koes Plus) seperti itu pula hal usang bagi saya. Namun, sebagai pribadi yang menaruh minat atas sejarah perjalanan kedua band tersebut, klaim Ade Tejanegara tersebut layak dikritisi semata agar sejarah bisa ditelaah dan diresapi tanpa distorsi. Dan mumpung ada libur lebaran, maka inilah tanggapan yang bisa saya susun dan berikan:

Pertama, thread  Ade Tejanegara mengandung  kesesatan informasi dasar yang fatal: Koes Plus bukanlah band yang seangkatan dengan Dara Puspita. Kalaupun Koes Plus  berkarir dan mengalami masa kejayaan di tanah air, maka itu setelah keberangkatan Darpus ke Eropa pada 1968. Band yang eksis bersamaan dengan Dara Puspita adalah Koes Bersaudara dan bukan Koes Plus yang baru ada sekira  tahun 1969. Membandingkan Darpus dan Koes Plus untuk kemudian mengunggulkan salah satu pihak oleh karenanya dapat diibaratkan sebagai ‘menetapkan juara atas perlombaan yang tak pernah terjadi’.  Hal mendasar ini mestinya disadari dan dipahami betul sejak awal oleh akun Ade Tejanegara maupun siapapun yang hendak melakukan perbandingan secara cerdas, sehingga bukan konklusi yang salah kaprah yang nantinya akan diambil

Kedua, dua band ini (Kos Bers dan Darpus) sebenarnya tidak bisa dikatakan memulai karir secara bersama-sama, walau dalam kurun waktu 1964-1968 keduanya sama-sama eksis. Harus diingat, Koes Bersaudara sudah eksis di rekaman sejak 1962, sementara tahun-tahun tersebut, belum ada band Dara Puspita, melainkan Nirma Puspita. Nirma Puspita inilah yang secara evolutif beralih nama menjadi Dara Puspita yang pada 1965  menjadi band pembuka The Blue Diamonds, band dari Negeri Belanda yang beranggotakan para keturunan Indonesia. Hal ini dituturkan oleh Lies AR pada saya (silakan periksa di Youtube, ketik “Interview Lies AR Dara Puspita). Oleh karenanya,  kalau memang dua band itu hendak dibandingkan maka bandingkanlah Darpus dengan Koes Bers dan bukan dengan Koes Plus. Lebih jauh bandingkanlah di era dimana kedua band tersebut sama eksis di tanah air. Jika diritisi, Koes Bersaudara bahkan bubar terlebih dahulu pada sekira 1969 dan berganti nama dengan Koes Plus, sementara Dara Puspita tetap eksis dan menggelar tour spektakuler keliling Indonesia pada 1971-1972 sekembalinya dari Eropa, tour yang sold out dengan sponsor majalah AKTUIL.

DARA PUSPITA, kelompok musik terfavorit pilihan pembaca AKTUIL 1968. Suara yang dikumpulkan DARPUS nyaris mendekati 4000, lebih dari dua kali suara yang dikumpulkan Koes Bersaudara.
DARA PUSPITA, kelompok musik terfavorit pilihan pembaca AKTUIL 1968. Suara yang dikumpulkan DARPUS nyaris mendekati 4000, lebih dari dua kali suara yang dikumpulkan Koes Bersaudara.

Ketiga, argumentasi Ade Tejanegara dalam mengatakan bahwa Darpus ‘tenggelam di bawah kepopuleran Koes Plus’ ( yang dimaksud pastilah Koes Bersaudara, karena kekeliruan tadi) semata dari persepsi dan samasekali tak berdasar. Mengapa? karena yang ada justeru fakta sebaliknya: polling majalah terkemuka AKTUIL bulan April 1968 menempatkan Dara Puspita sebagai vocal group terpopuler pilihan pembaca, dengan jumlah suara pemilih sekira dua kali lipat pemilih Koes Bersaudara.  Darpus nomor satu, dan Koes Bers menduduki urutan nomor dua. Jadi, kalau Darpus Ade Tejanegara mengatakan  bahwa Dara Puspita tidak populer sudah pasti argumen tersebut adalah argumen yang tak berdasar, groundless. Dalam sebuah interview Titiek AR, gitaris dan pimpinan Darpus bahkan menuturkan ketidakenakannya ketika keduanya manggung di Istora Senayan, justeru Koes Bersaudara yang diteriaki untuk turun oleh penonton (silakan periksa di Youtube, ketik “interview Titiek AR Dara Puspita).

Darpus dalam salah satu show di Medan, Sumatera Utara pada November 1966. Kalah populer dari Koes Bersaudara??

Lebih lanjut amat keliru untuk mengatakan bahwa Darpus tidak populer di tanah air, karena jika klaim ini benar, bagaimana mungkin mereka mendapat undangan show hampir seluruh daerah di Indonesia? Mereka bahkan manggung di daerah-daerah ‘terpencil’ seperti di Bangka-Belitung (dari situlah lahir lagu “Mabuk Laut”). Aneka kota besar kecil di Jawa pernah mereka singgahi, hingga Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga ke negara tetangga yakni Singapore dan Malaysia, dua negara dimana Koes Bersaudara sama sekali tidak pernah merambahnya!. Kalau mereka tak lagi populer setelah dari Eropa, bagaimana mungkin sebuah majalah besar seperti AKTUIL mau membawa mereka tour keliling Indonesia? Dan jika mereka bukan band besar di Indonesia, bagaimana mungkin Dick Tamimi dari Mesra Record mau memproduksi tiga (3) album mereka pada kurun 1966-1967? Jumlah album Dara Puspita yang dihasilkan di bawah label prestisius itu lebih banyak daripada jumlah album Koes Bersaudara yang hanya 2 piringan saja. Patut digarisbawahi di sini adalah fenomena menarik bahwa Dara Puspita lebih dahulu merekam album penuh di Mesra Record daripada Koes Bersaudara. Album Jang Pertama dihasilkan pada 1966, di bulan Januari, sedangkan album Guilties… milik Koes baru setahun setelahnya di 1967. See? Lebih lanjut, bagaimana mungkin label Elshinta mau menggamit mereka dan menghasilkan album A Go Go kalau mereka tak punya nilai jual (baca: popularitas)? Bagaimana mungkin Wilhelm Butz promotor musik asal Jerman mau membawa mereka ke Eropa kalau mereka menunjukkan performa yang baik di tanah air?

Piringan Hitam 7
Piringan Hitam 7″ Dara Puspita yang di Eropa lebih dikenal dengan nama Tikki Takki Suzy & Lies. PH mini ini rilisan Spanyol

Terlepas dari hal-hal di atas, saya meyakini bahwa fanatisme pada Koes Plus dengan melihat Dara Puspita dengan pandangan sinis dan mengkait-kaitkan dengan kepopuleran sebenarnya adalah sesuatu yang ahstorik alias buta sejarah. Mengapa?  Tak lain karena hubungan Darpus dan Koes Bers pada masanya justeru amat erat dan mesra. Beberapa hal dapat disampaikan mengenai hal ini:

Pertama, adalah Koestono aka Tonny Koeswoyo yang begitu supportive terhadap anak-anak Nirma Puspita yang kelak menjadi Dara Puspita itu untuk mengadu nasib di Jakarta. Anak-anak Nirma Puspita disokong tempat latihan di studio Koes Bers di Kebayoran, diajak tampil bersama semasa Koes Bers manggung di Surabaya 1964 dan tampil secara reguler di Kemayoran. Hubungan kedua band tersebut mesra, bahkan dalam makna literal/harfiah: hubungan cinta Koesyono  (Koes Plus, guitar, vox) dan Susy Nander (Darpus, drums). Hal ini pula diingat dan dikenang baik oleh anak-anak (sekarang tentu nenek-nenek) Dara Puspita, sebagaimana dikatakan oleh Lies AR “yang paling berjasa ya mas-mas (Koes Bersaudara)”.

Kedua, Koes Bersaudara begitu supportive terhadap karir  Dara Puspita di dalam maupun di luar negeri. Dalam rekaman, tercatat dua lagu Darpus adalah lagu milik  Koes Bersaudara (“Tinggalkan aku Sendiri” dan “Believe Me”). Ketika Darpus ke luar negeri, dukungan Koes bers terhadap Darpus mewujud dengan diijinkannya soundman terbaik mereka  yakni Handiyanto untuk membantu Dara Puspita  bahkan hingga selama 3,5 tahun di Eropa.

Ketiga, personel Dara Puspita, dalam hal ini Lies AR juga merelakan gitar terbaiknya, yakni BURNS untuk dipakai Koestono aka Tonny Koeswoyo setelah Dara Puspita tak berlanjut lagi karena internal conflict pada 1972. Gitar Lies ini terpampang jelas di sampul Koes Plus vol. 8 dan Koes Plus instrumental.

Beranjak dari beberapa cuil fakta sejarah tersebut, dapat disimpulkan bahwa tak ada dalam sejarah kedua band fenomenal tersebut hubungan rivalitas yang sengit dan saling menjatuhkan, melainkan sebaliknya: saling mendukung. Keduanya sama fenomenal: Koes Bersaudara adalah band pria dengan semangat anti kemapanan dengan keberaniannya memainkan musik pemberontakan anak muda dan mengkritik hukum dan kekuasaan kala itu lewat album “Guilties”. Dara Puspita pula girlband pertama yang memainkan rock n roll secara keras, dengan instrumen yang mereka mainkan sendiri dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Kedua band tersebut memiliki relasi yang indah dan begitu dekat serta mesra pada jamannya. (Manunggal K. Wardaya)

Advertisements