Murry Tak Selalu “Plus”

Dalam sejarah musik Koes Bersaudara/Koes Plus, ternyata nama Koes Bersaudara pernah digunakan untuk formasi band dimana salah satu anggotanya bukanlah berasal dari dinasti Koeswoyo. Uniknya, salah satu anggota non-Koeswoyo itu adalah figur lama, yakni Kasmuri alias Murry.  Album Country Pop yang dirilis pada 1988 adalah buktinya. Di sampul depan album tersebut tertulis jelas KOES BERSAUDARA. Mengenai hal ini saya menuliskan di Group Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) sebagai berikut:

Koes Bersaudara adalah band dengan anggotanja empat pemuda bersaudara anak-anak Koeswojo bernama depan Koes [Koestono, Koesrojo, Koesjono, Koesnomo]. Tapi, ini sebenarnja adalah Koes Bersaudara Mark II, karena Mark I ada satu lagi Koesdjono (Djon) jang kemudian keluar. Tapi (lagi-lagi tapi) sedjarah membuktikan bahwa Koes Bersaudara djuga pernah berisi anggota di luar dinasti Koes, figur jang tak asing lagi jakni Kasmuri. Anehnja, walau Kasmuri sebenarnja adalah salah satu Plus di dalam Koes Plus, namun ketika Koesnomo masuk formasi band (sepeninggal Koestono pad 1987), nama band Koes Plus djadi Koes Bersaudara. Sampul kaset ini adalah buktinja. Hemat saja, band dengan keanggotaan Koesjono, Koesrojo, Koesnomo dan Kasmuri sebagaimana dalam album COUNTRY POP ini namanja semestinja tetep Koes Plus. Ada kesan jang tertangkap dari sampul kaset ini, bahwa ada tidaknja Koesnomo djadi faktor jang amat menentukan nama band: apakah Bersaudara apakah Plus. Djadi walau ada anggota di luar Koeswojo, tetep aza nama band djadi Koes Bersaudara. Bisa djadi ini mau mereka sendiri, bisa djadi ini sekedar perkara dagangan kaset/album. Ja embuh, saja enggak tahu. Jang pasti, retorika lama pun membisik nakal: apalah arti sebuah nama???

Beberapa akun FB memberi jempol tanda suka, dan beberapa menulis singkat memuji posting saya itu. Adit DPlus menulis sebagai berikut:

Saya setuju,apalah artinya sebuah nama,grup ini tampaknya pada saat itu tidak terlalu peduli dengan penamaan grup,yg penting asyik enjoy….tapi ini menurut saya lho ya..

Saya kemudian menuliskan komentar sebagai berikut:

Dalam banjak hal saja bisa bersetudju dengan Shakespeare soal apalah artinja nama, tapi dalam banjak hal seperti Koes bers en Koes Plus ini saja tidak hendak bersetudju dengan ‘suara nakal’ itu. Seperti saja tulis di atas, line up Koesjono, Koesrojo, Kasmuri, en Koesnomo dalam album COUNTRY POP di atas mestinja namanja ja KOES PLUS en bukan KOES BERSAUDARA. Mengapa? karena ada non-Koes di sana, jakni Kasmuri. Tapi lepas dari setudju atau tidak, saja telah menarik konklusi begini: Kalau nama ini berasal dari mereka sendiri, ini adalah tjatatan sedjarah bahwa landasan filosofis en historis terkait perbedaan nama Koes Bers dan Koes Plus pernah ada masanja diabaikan/disimpangi (atau pindjam istilah Adit D Plus di atas “tak dipedulikan”), setidaknja liwat kaset ini. Tapi djika ini adalah kerdjaan produser kaset/album, ja ini salah satu bentuk salah kaprahnja dunia musik Indonesia. Sekedar informasi usang:saja ada pula memiliki kaset dengan tulisan emas KOES BERSAUDARA, eh lagu-lagunja ternjata Koes Plus semua.

Akun FB Zacky Macca menuliskan komentar berupa pertanyaan sebagai berikut:

Om MKW saya tanya dong. Penamaan di sampul kaset murni hak Band ataukah ada masukan (intervensi) dari produser, misalnya untuk mendongkrak penjualan. Mohon pencerahan… syukron…

Menanggapi pertanyaan Zacky Macca, saya memberikan respon sebagai berikut:

Saja tidak punja informasi pasti soal ini, tapi dalam konteks industri musik Indonesia, saja berkejakinan para tjukong punja force jang kuwat buat menentukan nama band jang dipakai buwat rekaman/album jang didjuwal. Bahkan sampai kini kita masih sering denger toch, ada band jang aslinja bernama X ketika masuk rekaman rubah total namanja djadi Y atau modifikasi dikit dikit karena dipandang kumersil dll alasan/pertimbangan (KOES PLUS DORES misalnja jang kemaren2 saja bintjang singkat sama Pak Wasis Susilo). Djangankan soal nama, soal aliran musik, lirik, video clip aza bisa disetir sama pemodal. Hnah bagaimana dengan KOES BERSAUDARA dalam kaset ini? saja telah tuliskan persis di atas comment anda en djuga dalam thread/posting/status. Tapi itu pendapat saja, ja, terpulang bagaimana pendapat anda djuga achirnja. Silakan sadja.

Akun FB Endang Kuswilambagni memberikan komentar:

KP menurut saya adalah musisi yang jempolan, cerdas dan personilnya bisa berbisnis juga.
Mereka menguasai musik barat dan lokal. KP bisa mencipta dg brilyan musik yang menyentuh jiwa spt waktu mereka di penjara, lagu Natal dan berbagai musik ekspressif lainnya. 
Beriringan berjalannya waktu, mereka dg sigap mengikuti keinginan pasar/ masyarakat, tercipta musik melayu, keroncong, dankdoet, country dst yang seakan mnegejar setoran. 
Tapi karena musik yang terdahulu sudah mengena di hati…musik yg berikut inipun banyak disukai( ingat penyanyi tua), sehingga sedikit menyenggol gitar dg lirik seadanya, masyarakat langsung suka. 
Di situ letak kecerdasan KP. 
Menurut kesimpulan saya, benar mungkin apaah arti sebuah nama, tapi bukan semata mata menuruti Cukong…KP cukup cerdas. mengatur jalan musik mereka sambil juga berbisnis. 

Saya membalas EK sebagai berikut:

Iya sih bu Endang Kuswilambagni, semua jang ibu sampaikan saja tak hendak ingkari. Inti pesan posting di atas kan: tepat gag sih line up Koesnomo, Koesjono, Koesrojo (ketiganja Koeswojo) en Kasmuri (bukan Koeswojo) pakai nama KOES BERSAUDARA seperti di sampul Country Pop di atas?. Kalau djawabnja “apalah artinja sebuwah nama” memang diskusi tjukup henti sampai di sini. Kalau tidak puwas dengan “apalah arti sebuah nama”, monggo berspekulasi…

Setelah komentar saya di atas, beberapa akun memberi komentar, akan tetapi sekedar bersenda gurau. Akun FB Wasis Susilo kemudian hadir memberi tanggapan:

Kita melihat kepentingan bisnis kadang kadang keluar dari “norma” berkesenian.. dan kelaziman sering agak kurang logis… Tapi kenyataan terjadi juga dalam konsistensi “produk” yang dikeluarkan Koes Bersaudara dan Koes Plus. Pola yang umum adalah bila album Koes Bersaudara maka musisi dan vokalisnya adalah Tonny Yon Yok Nomo, atau bila album Koes Plus maka musisi dan vokalisnya Tonny Yon Yok Murry (Toto AR, atau setelah era Tonny, malah banyak personel yg silih berganti). Tetapi kadang kadang pola ini tampak “kacau” ketika pengiringnya OM Bangladesh, Januar Ishak.. Atau album Boleh Cinta Boleh Benci yang iringan NO KOES dengan vokal Yon Nomo saja….Tapi dijuduli KOES BERSAUDARA.  Dalam album Country ini.. “kekacauan” ini malah menjadi jadi… vokal yg muncul hanya Yon Yok, dan pengiringnya bukan Koes Plus… Jadi Sampul sama isi tidak sinkron… Bisa jadi hanya sebagai cara yang kurang fair untuk “menjual” Koes Bersaudara.

Setelah itu akun FB Awwaludin Romadlon (AR) hadir pula memberi komentar:

Mas Wasis, apakah memang itu benar2 itu cara yg tidak fair untuk menjual Koes Bersaudara…? Atau memang formasi itu sudah disepakati para personil, contohnya Lagu Ora pelog Ora Slendro Koes Bersaudara 87 (kalau tdk salah).. Klipnya Yon, Yok, Nomo dan Murry..

Saya menuliskan tanggapan atas pendapat WS sebagai berikut:

Saja sendiri menilai, itu pasti sudah melalui kesepakatan/atas dasar persetudjuan mereka sendiri jang sadar bahwa titik itu jang bisa didjual. dan kalau sudah begitu (kesepakatan semua pihak baik artist maupun tjukong) maka semua pihak bertanggung djawab (terutama sekali setjara moral!) atas unfairness jang terdjadi, terhadap siapa lagi kalau bukan pada konsumen/audiens jang terketjoh (untuk tidak mengatakan tertipu) en tidak mendapatkan karja seni jang diharapkan sebagaimana tertjermin dalam sampul.

Atas komentar saya, WS memberi tanggapan:

ha ha ha … saya nggak tega menyatakan seperti itu. Tentu dalam menginformasikan produk ini perlu diberi kalimat catatan….

Terhadap AR, WS memberi tanggapan sebagai berikut:

saya kira seharusnya video klip itu bergambar “Tonny Nomo Yon Yok”, karena mas Tonny sudah meninggal… maka tampillah klip itu dengan diisi “Nomo Yon Yok Murry”…kalau ini tidak berhubungan dengan fairness tetapi karena “situasi darurat”..

Saya pula memberi tanggapan balik seperti ini:

Ja memang tidak tega Mas Wasis, tapi apa boleh buwat, harus dikatakan ini tjatatan kelam. tapi tak mengapa, ini djusteru mengungkap sisi manusiawi mereka sebagai seniman, jang sedikit banjak djuga mau tak mau kompromi dengan industri untuk bertahan (survive). sebaliknja, amatan ini tidak perlu kemudian (karena tjinta buta, apalagi karena motif pribadi) ditjurigai apalagi dituduh mendjelek djelekkan Koes Plus/Koes Bers.

Setelah komentar dan tanggapan itu, diskusi terisi oleh beberapa komentar, namun tak begitu esensial dan kemudian berhenti  tanpa komentar lebih jauh lagi,

Advertisements