Totok A.R. dan Kasmuri: Lebih Dahulu Siapa?

Akun FB Muhammad Rofiq (MR) pada 17 Agustus 2013 mengupload potongan foto Tabloid Bintang Indonesia di Group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK). Menurutnya, artikel tersebut mengindikasikan bahwa Kasmuri alias Murry Koes Plus lebih dahulu ada daripada Totok AR. Potongan berita/artikel di tabloid itu adalah antitesis yang ditawarkan MR atas  argumen saya  bahwa Totok AR tidak saja Plus di tubuh Koes Plus, bahkan ia lebih dahulu ada di Koes Plus daripada Kasmuri. Ia menulis:
Murry gabung duluan kan? Tabloid Bintang 1993

Akun FB Ade Tejanegara (AT) menimpali:
Dengan demikian menguatkan dugaan kalau Murry adalah Plusnya Koes Plus. Bukan yang lain.

Terhadap posting ini dan terutama pada AT, saya memberi respon sebagai berikut:

Ini soal duluan mana di KOES PLUS, bukan soal satu satunja di PLUS atau bukan broer Ade Tejanegara. Dari tabloid BI di atas Muhammad Rofiq menjimpulkan bahwa Kasmuri masuk duluan. Hna, kalo saja korek dari Totok AR sih Kasmuri belakangan. Klaim Totok AR: doski jang rekomendasi Kasmuri ke Koestono! Saja koreknja tanja langsung ke Totok AR, pake interview, bukan ngigau, gak ngarang-ngarang, bukan denger denger, bukan batja batja darimana lupa. Kalau ngarang, jang ngarang ja Totok AR, en berarti dia bo’ong kalau bilang dia masuk duluan (en kalo gitu silakan aza gugat doski, djangan saja). Saja sih enggak harus pertjaja BINTANG INDONESIA (kalau broer Rofiq langsung pertjaja, malah kajaknja pertjaja semua di BI ini, ehehehe). Tjuma saja djuga heran, dari kalimat mana di foto di atas bisa diklaiim bahwa Kasmuri masuk duluan? kalimat jang mana?? Menurut saja itu tulisan tabloid djuga sama aza dengan sedjarah Koes mainstream lainnja : tjeroboh soal Totok AR. Gag bener tuh latian ama dua adiknja, tapi latian sama satu adiknja (jakni Koesjono) dan Totok AR. Gitju

AT membalas singkat comment saya:
Kalau memberi referensi sebaiknya jangan ke tulisan sendiri.

Terhadap AT yang mengkritisi saya karena memberi link sendiri, saya membalas komentar sebagai berikut:
gak masalah sih menurut saya link sendiri atau bukan. Kritisi aza apa kedjanggalannya. Lha wong selama ini djuga enggak ada jang njinggung en interview Totok AR ketjuali saja, lha saja musti nge link ke mana????? referensi artikel tabloid atau koran jang sedjarahnja gak lengkap itu? ada nama Totok aza enggak. Tinggal dikritisi aza, mana titik lemah logika jang saja bangun. Kita tjari. Itu kalok saja sih..
Selanjutnya saya meneruskan dengan komentar ini:
Saja malah akan lebih apresiasi kalau ada artikel/tulisan: “TOTOK AR bukan PLus dalam Koes”. Itu akan lebih menarik dan asjik serta memperkaja watjana. Kita akan batja sama sama, apa dan bagaimana dasar argumentasinja. Djadi terang, en bisa dikomparasi. Tapi djelas logika berfikirnja akan terbatja en dipertanggungdjawabkan dalam tulisan itu, bukan sekedar : tidak setudju aza.
AT kemudian membalas dalam bahasa Sunda, yang tak saya mengerti artinya, sebagai berikut:
Geuslah kumaha silaing wae. Rek nulis naon mangga wae da eta teh jieunan silaing keneh. Nu anehnya kunaon silaing teh keukeuh ngabelaan manehna? Padahal mah euweuh hubunan nanaon kasilaing teh. Geus akulah yen kp leuwih dikenal dugi ka ayeuna. Lamin masih keneh ngabela manehna heuglah nu waras ngeleh.

Ia kemudian menulis lagi, singkat:

Urang anggeuskeun obrolan dp dugi ka dieu. Wassalamu alaikum.

Saya tak bisa melihat aneka komentar dari AT kemudian, sehingga terkesan aneka komentar saya berdiri sendiri. Saya kemudian menulis sebagai berikut:

Pak Ade Tejanegara: kemana nih Pak komen komen Bapak di bawah foto artikel dan comment setelah link Totok AR jang saja share? kok dihapusi semuanja nih..?? All: komen saja di bawah foto dan setelah link Totok AR adalah u/ Pak AT, en dari comment saja bisa disimpulkan dialog jang terdjadi antara MKW & AT. Saja harap Broer Muhammad Rofiq gag ikut2an hapus. thanx.
Catatan: beberapa hari kemudian comment dari AT bisa saya lihat kembali.

MR turut bersuara, dan dengan mengcopas beberapa kalimat saya, ia menulis sebagai berikut:

gak masalah sih menurut saya link sendiri atau bukan. Kritisi aza apa kedjanggalannya. Lha wong selama ini djuga enggak ada jang njinggung en interview Totok AR ketjuali saja, lha saja musti nge link ke mana????? referensi artikel tabloid atau koran jang sedjarahnja gak lengkap itu? ada nama Totok aza enggak. Tinggal dikritisi aza, mana titik lemah logika jang saja bangun. Kita tjari. Itu kalok saja sih..
===
“Mas Tonny yang pertama ajak saya, adapun ide nama Koes Plus diambil dari nama obat batuk APC Plus,” kata pria yang tak lain adalah adik kandung Lies A.R dan Titiek A.R, dua gitaris Dara Puspita. “Murry masuk belakangan, bahkan sayalah yang merekomendasikan Murry ke Mas Tonny,” kata pria yang masih bersemangat dalam berkisah di usianya yang tak lagi muda ini. Sebelumnya, jelas Totok, ada figur lain yakni Tommy Darmo yang coba diajak bergabung untuk menggantikan posisi drummer yang ditinggalkan Nomo.Sepertinya ada kontadiktif, yaitu …“Mas Tonny yang pertama ajak saya,…
Sisi lain… Sebelumnya, jelas Totok, ada figur lain yakni Tommy Darmo yang coba diajak bergabung…
Kontraditifnya, pertama sebagai pertama, kemudian, sebelumnya ada figure lain.

Ia (MR) kemudian melanjutkan dengan copas yang lain, sebagai berikut:

Saja malah akan lebih apresiasi kalau ada artikel/tulisan: “TOTOK AR bukan PLus dalam Koes”. Itu akan lebih menarik dan asjik serta memperkaja watjana. Kita akan batja sama sama, apa dan bagaimana dasar argumentasinja. Djadi terang, en bisa dikomparasi. Tapi djelas logika berfikirnja akan terbatja en dipertanggungdjawabkan dalam tulisan itu, bukan sekedar : tidak setudju aza.
===
Rasanya tergantung focus berita yang akan disajikan.
Mungkin juga pimpinan redaksi kalau disodori berita semacam itu bisa langsung berkomentar…semua orang juga tau, bisa jadi kan?

Atas comment MR, saya membalas sebagai berikut:

“Adjak saja (totok) duluan” maksudnja dlm konteks antara Totok dan Kasmuri broer. Kalau komen broer kedua soal Pemred saja gag akan komentar pandjang lebar, karena boer berandai andai, en djawaban bisa ja bisa tidak. Berandai andai sih semua pengandaian djadi mungkin broer. Hnah, Kalau soal Kasmuri jang djadi rahasia umum aza sampek sekaang masih ditulis aza (diterima sama pemred) apalagi soal Totok AR jang selama ini gag pernah disoroti orang? Lebih rahasia umum mana sih broer, soal Totok AR atau Kasmuri???

Kembali, dengan copas, MR menulis sebagai berikut:

Adjak saja (totok) duluan” maksudnja dlm konteks antara Totok dan Kasmuri broer …. 
Sepertinya “diralat” ….. Sebelumnya, jelas Totok, ada figur lain yakni Tommy Darmo yang coba diajak bergabung untuk menggantikan posisi drummer yang ditinggalkan Nomo. Akan tetapi dalam tempo tak berapa lama, posisi penabuh bedug Inggris ini diisi secara permanen oleh Murry

Saya kemudian membalas sebagai berikut:

Ja okelah kalau itu hendak dipermasalahkan oleh anda, toh Tommy (jang tak pernah masuk formasi Koes setjara resmi, hanja di tahap udji tjoba) itu tidak merubah bahwa Totok AR duluan daripada Kasmuri.

Singkat, MR menulis:

pemahamanku, kurang teliti dan kurang detail

Saya menimpali dengan tanggapan sebagai berikut:

Nah tinggal ditjari tau aza apa Tommy Darmo pernah masuk formasi Koes setjara resmi. Setau saja sih enggak, tjuma diudji tjoba aza, en toch itu tidak merubah esensi utama, bahwa KOES PLUS Mark I adalah Koestono, Koesjono, Totok AR en Kasmuri. Di sampul piringan hitam ada empat wadjah itu en ada djelas tertulis nama Totok AR di sana. Djangan liat sampul CD Deg Deg plas Indomaret, itu nama dihapus sama jang bikin CD, bahkan setjara serampangan tertulis: Semua lagu Tonny Koeswoyo, padahal di PH ada credit Totok AR pada lagu Bergembira. Kepriben??

MR menanggapi lagi:

coba bandingkan dengan keterangan Yon pada status/foto ‘Yok” keluar sebelum rekaman vol 1, itu begitu detai, tanpa penjelasan dan tafsir, orang langsung tahu.

Saya membalas dengan komen sebagai berikut:

oke, dan tjoba bandingkan dengan link saja, itu djuga langsung mulut Totok AR ke kuping saja tanpa perantara orang lain, keterangan Totok sendiri pada saja. Detail djuga. Kalau link saja itu dikatakan “itu redaksinja olahan MKW”, toch BINTANG INDONESIA redaksinja djuga diolah oleh djurnalis-nja bukan? Hna silakan keduanja dikomparasi, en ditjari konklusie-nja.

MR kemudian menulis:
hari ini aku tindak lanjuti usulan Mas Manunggal K. Wardaya …Tinggal dikritisi aza, mana titik lemah logika jang saja bangun. Kita tjari. Itu kalok saja sih.. gitu Mas

Saya kemudian mengomentari sebagai berikut:

Sip broer Muhammad Rofiq. dialektikanja memang begitu. Bintang Indonesia en aneka artikel itu thesis, tulisan saja (jang datang belakangan) adalah antitesis, nah tinggal ditjari sintesis, sehingga ditemukan kebenaran baru. Kebenaran baru ini djuga djadi thesis lagi ketika ada tjabaran lagi (entah kapan entah dari siapa) begituuuuuuuu terus menerus sampai tiada lagi bisa ditjari kebenaran baru lagi. Toh jang diuntungkan adalah sedjarah djuga.

Selanjutnya saya memberi komentar tambahan:

Saran lain, komunitas bisa gelar sarasehan mengenai sedjarah transisi dari KB ke KP, mengundang Pak Totok AR, Pak Kasmuri, Pak Jon, Pak Jok, dimoderatori sesepuh atau jang dituakan seperti Pak Wasis Susilo, Pak As GiriDadang Sugiana dll. Diskusi ringan, santai en mendjadi pentjerah, terdokumentasi dengan baik. Output diskusi bisa memperkuat versie mainstream sekarang jakni Plus di awal hanjalah Kasmuri atau memperkuat versie saja: bahwa Totok AR adalah pula Plus di Koes Plus Mark I; the forgotten Plus….atau bahkan mengungkap kebenaran baru jang sama sekali belum terungkap.

Akun FB Ferry Raya (FR) turut berdiskusi. Ia memberi komentar sebagai berikut:

Wah, saya ketinggalan nih. Menurut saya hasil wawancara mas MKW dengan Totok A. R. adalah informasi solid karena berasal dari tangan pertama dan dari pelaku sejarah pula. Hanya saja karena info ini berasal dari 1 pihak, mungkin ada baiknya di cross check, kalau perlu, juga di recheck lagi dengan Totok A. R. Tetapi tetap ada satu kelemahan, dan ini menyangkut peristiwa yangi sudah lama terjadi, jadi ada kemungkinan terjadi erosi ingatan. Tetapi tentu lebih baik jika dilakukan dari pada tidak. Sayang artikel diatas terpotong. Tentu akan lebih jelas bila kita mengetahui teks sebelumnya dalam rangka memahami secara kontekstual. Tetapi kalimat “Tonny mengharuskan Murry dan kedua adiknya untuk berlatih secara intensif, agar proses pembaharuan musi Koes Bersaudara itu lekas terwujud.” dst……. Ini jelas bukan kalimat Yon. Terasa janggal bila Yon mengatakan: “Tonny mengharuskan Murry dan kedua adiknya….”, yang nota bene adalah dirinya sendiri. Menurut hemat saya ini adalah kesimpulan penulis yang mungkin saja datang ketika sedang menyusun cerita di kantornya setelah wawancara usai. Apalagi ini bertolak belakang dengan cerita Yon yang lain, yang mengatakan (kira2) “Karena selera musik Totok A. R. dan Murry adalah Rock, sama dengan Mas Ton, jadilah kita sering berlatih musik yang aneh2 seperti “Sly and the Stone dst……” Disini Yok sama sekali tidak disebut2. Yang aneh lagi, koq latihan lagu2 orang kalau sudah mau rekaman album sendiri??? Jelas sekali bahwa pada saat Totok dan Murry sudah bergabung lagu2 mereka sendiri secara lengkap. Paling tidak ini baru tahap penyesuaian atau pengenalan permainan masing2. Lha, kalau kemudian menyiapkan materi rekaman dengan Yok, apa ngga terbalik2 logikanya. Menurut saya fakta ini lemah sekali. Saya setuju dengan usul mas MKW untuk mengadakan sarasehan ‘Sejarah Koes Plus’ yang dihadiri oleh para pelaku yang masih hidup secara lengkap, dengan semangat kemurnian sejarah itu sendiri, dan bukan untuk yang lain2. Karena menurut saya ini SANGAT PENTING. Semoga bisa terlaksana, aamiin YRA.

Terhadap FR saya membalas komentar sebagai berikut:

saja bersepakat, dengan Pak Ferry Rayasoal kalimat “berlatih dengan kedua adiknja” itu dipastikan olah tulis atau bahkan konstruksi sang wartawan BINTANG INDONESIA jang belum tentu valid benar atau bahkan misleading (saja sendiri mejakini dengan pasti: konstruksi jang dibangun Bintang Indonesia itu salah). Apresiasi buat Pak Ferry Raya jang sudi dan mau berpajah pajah menganalisa hal ini. Olah pikir dan argumentasi seperti ini jang kita harapkan. En sarasehan seperti ini saja harapkan bisa dalam waktu dekat terlaksana.

MR menulis komentar sebagai berikut:

Mas Ferry Raya, nambah dikit…Sejak masuk Murry menggantikan Nomo, maka Tonny konsentrasi “memanfaatkan” perubahan ini.
Rasanya Yon K bertutur seperti itu karena ada perubahan ketika masih bersama Yok sebelumnya

FR memberikan tanggapan sebagai berikut:

Thx mas Rofiq, tapi melihat dari teks diatas, tulisan ini pendapat saya adalah kesimpulan penulis, bukan kata2 Yon langsung, coba amati bahasanya. Tapi kalaupun ini ingin diasumsikan sebagai kata2 Yon, saya melihat ada kecenderungan untuk melupakan Totok A. R. Bisa jadi juga, ini menceritakan keadaan setelah Totok A. R digantikan oleh Yok. Bukankah pada saat Yok menggantikan Totok juga diperlukan penyesuaian? Menurut saya, Totok A. R. adalah bagian dari formasi Koes Plus album perdana (Dheg Dheg Plas). Tapi seperti saya sebutkan sebelumnya, saya setuju, pada saat Murry baru bergabung, nama Koes Plus masih belum ditemukan. Nama Koes Plus baru ditemukan ketika Tonny melihat Iklan APC Plus, saat berboncengan naik motor dengan Murry untuk mencari makanan atau pulang setelah makan, saya lupa. Tetapi bukan pada saat Tonny dan Murry sedang makan. Jadi memang saat itu bendera memang masih Koes Bersaudara. Dari beberapa sumber saya mendapat data, sebelum Koes Plus terbentuk, Koes Bersaudara masih menerima beberapa tawaran manggung di daerah, tapi Nomo tidak bisa ikut karena sibuk berbisnis (sehingga tidak bisa ikut latihan – apalagi manggung). Bukankah ini yang membuat Tonny mengeluarkan opsi kepada Nomo: “Musik atau Bisnis?” Bahkan info yang tadi baru dikedepankan, Murry (dan Totok?) ikut manggung dengan bendera Koes Bersaudara. Tetapi ketika hendak rekaman, persoalannya tentu lain. Sehingga dicarilah nama itu. Hasilnya, ya, Koes Plus itu.

Akun FB Awwaludin Romadlon menulis sebagai berikut:

Mas Ferry, bukankah wrtawan akan melakukan cek and ricek sblm menerbitkan, dan kepada sumber wawancara, bukankah punya hak merevisi bila dianggap isi artikel salah… 
Kalau saya berpendapat bukan sengaja melupakan Totok AR, tpi mungkin diceritakan hya yg umum saja yg semua org sdh tahu… sekali lagi ini pendapat pribadi…

Terhadap comment AR saya menulis:

sebelum penerbitan tidak ada kewadjiban C&R kepada nara sumber, kalau C&R itu seperti jang anda maksud : Bintang Indonesia ke Yon Koes . Tidak ada kewadjiban, misal: menundjukkan kepada Yon “nih beritanja jang muntjul bakal seperti ini begini”. Kalau itu dilakukan ja baik sadja, TAPI kewadjiban C&R bukan sperti itu. C&R adalah bahwa berita/artikel meliputi semua pihak jang terkait. Ini terutama kalau dalam klaim sso narasumber ada keterangan jang bisa merugikan pihak lain (tapi musti diingat: ini djuga erat kaitannja dengan ketadjaman apakah djurnalis tau suatu pemberitaan jang merugikan atau tidak?) Tapi ini kan kisah seseorang atas suatu peristiwa djadi ja, sudah fit to print. Gag masalah kalau jang ditanjai atau dimintai keterangan adalah Jon Koes. Djadi itulah sedjarah, versie Jon Koes (jang belum tentu tepat) atas konstruksi media (jang bisa djadi tambah bikin gag tepat lagi). Hnah jang terkait dengan pemberitaan itu atau merasa dirugikan bisa mengadjukan hak djawab. Orang umum seperti kita berhak mengadjukan hak koreksi [kebetulan saja mengadjar hukum pers pak en pernah djadi djurnalis hihihi, maap]. Kalau saja jakin itu bukan melupakan, tapi karena pemahamannja memang tidak mendalam, sehingga walau investigasinja tjukup baik (bertanja pada sumber primair), namun konstruksinja kurang presisi. Bisa dimaklumi lah, si djurnalis kan kedjar tajang, en dia ada schedule nulis jang lain djuga jang tak kalah pentingnja. Mungkin dia djuga gak interview banjak pihak karena keterbatasan dana, waktu, en informasi

Atas penjelasan saya di atas, AR mengucapkan terimakasih, dan hingga percakapan tersebut disalin pada 20 Agustus 2013, belum ada komentar baru lagi.

Advertisements