Mengapa Koes Plus Tetap Digemari?

Akun FB Wina untung pada 29 Agustus menulis pada Group FB Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) sebagai berikut:

Kita dulu mengenal penyanyi cilik a.n Chica Koeswojo, adi Bing Slamet, Joan tanama, Fitria elvy suksesi, Joshua,Agnes Monica dll, TETAPI setelah mereka besar menjadi dewasa seolah olah tenggelam/ hilang begitu saja ( kecuali Agnes Monica ), TETAPI mengapa Koes plus/ bersaudara kok masih eksis dan lagu2 nya masih digandrungi oleh masyarakat sampai saat ini. Adakah teman tahu alasannya?

Terhadap posting tersebut, beragam komentar muncul. Saya  sendiri menulis :

Agak sukar djuga sih pak membandingkan penjanji tjilik dengan Koes Bers/Plus jang notabene bukan penjanji tjilik. Hemat saja sih, pembandingnja band sedjenis semisal The Mercys atau Pandjaitan Bersaudara atau The Rollies. Tapi tak mengapa. Nah mengapa masih digandrungi. Alasan jang banjak terdengar adalah: lirik sederhana, lagu sederhana, sehingga mudah ditjerna masjarakat. Saja tak selalu sepenuhnja setudju dengan alasan classic ini. Buwat saja: kesederhanaan Koes Plus itu rumit lho. Djangan lupa ‘tantangan’ Koestono aka Tonny Koeswojo ketika ditjibir sebagai musik tiga djurus oleh media. Ia berkata: “Tjoba anda buwat musik tiga djurus, en lihat apakah masjarakat akan menggemari musik anda”. Djawaban/reactie jang dahsjat, membuwat orang berfikir ulang: “Ija ja, apa bener sederhana?” aneka band tjoba muntjul : Hasta Nada, Dedelan, Elastha, Manfills, dll jang mentjoba resep itu: tiga djurus ‘sederhana’. En tapi toch tidak ada jang melegenda en abadi seabadi Koes. They were all left and forgotten! Saja inget Ahmad Dhani pernah berkomentar tentang musik2 Dewa gubahannja. Dia mengatakan, bahwa musik2 Dewa di masa lalu jang dipudji kritikus (karena jazzy, rumit dsb) itu sebenernja musik ‘gampangan’. Musik mainan! Nah, musik Dewa/Dhani jang kini dibilang katjangan, gampangan itu djusteru jang dikatakannja rumit dan susah. Tingkat tinggi. Saja pertjaja omongan Ahmad Dhani mengingat kapasitasnja sebagai composer hebat. Saja kira, ini djuga jang saja rasakan di lagu2 Koes: bukan sederhana, tapi tingkat tinggi! Alasan lain jang dikemukakan untuk mendjawab mengapa musik Koes abadi adalah bahwa setjara objektief, lirik KBP njambung, komunikatif dengan masjarakat. Mereka misalnja menggunakan bahasa Ibu (bahasa Djawa) dalam menjampaikan pesan. Simak “Djamane Aku, Djaman Sikil ‘ra Njepatu. Djamane Kowe, Djaman sikil ‘ra tau Mlaku”. Lugu, lugas, lutju, tapi memang begitu! Pesan begitu mudah tertangkap. Apa jang mereka tuang dalam musik sebagai thema adalah realiteit: kenjataan sehari-hari di masjarakat. Masjarakat seolah melihat diri sendiri dalam lagu Koes: Pendeknja: Koes membuwat masjarakat menjanjikan kehidupannja sendiri: baik pahit, manis maupun getir. Ini tak semua band mampu membikin tema jang membumi. Terachir, saja melihat ada faktor X jang tak bisa didjelaskan dengan rasio. Ada daja tarik, ada pesona dalam segenap aksi en performa Koes en para awaknja. Ambil tjontoh figur Koestono. Ia amat ikonik, charming, bahkan foto dirinja sudah bitjara banjak, sebagaimana kita melihat icon Bob Marley atau Che Guevara. Subjektief memang, akan tetapi subjektifitas jang anehnja menghinggapi begitu banjak kepala warga bangsa ini, bahkan dunia. En kalau sudah begini, rasanja tak berlebihan untuk mengatakan bahwa Koes en segenap karja musiknja adalah pemberian Jang Maha Kuwasa untuk tak sadja peradaban bangsa ini, tapi pula untuk peradaban dunia.

Advertisements