..dan MKW pun Dibungkam

23 Desember dinihari waktu Utrecht, Negeri Belanda, di rumah sahabat saya. Saya baru pulang dari menyaksikan konser di Melkweg Amsterdam.  Manakala hendak mengundang kantuk sambil mengakses internet, saya menyadari bahwa saya tak bisa mengakses Group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) yang saya ikuti. Ketika saya pantau di panel administrasi group, terbaca salah satunya “join group”. Mahfumlah saya, bahwa saya dalam keadaan bukan anggota OSK lagi. Karena saya merasa tak pernah leave group alias keluar dari group, maka saya menarik kesimpulan: saya telah dikeluarkan dari group.

Pertanyaan awalnya adalah:  siapa yang mengeluarkan saya? mengapa saya dikeluarkan? Jawaban atas pertanyaan pertama, tentu saja admin, karena adminlah yang memiliki kewenangan untuk itu. Siapakah admin dimaksud? Saya tidak tahu, akan tetapi karena admin adalah kerja team, maka keputusan admin adalah keputusan bersama. Siapa yang menjadi admin kala itu, itulah mereka yang mengeluarkan saya. Eksekutornya tentu another discussion, yang tak relevan saya bicarakan di sini.

Untuk pertanyaan kedua mengenai sebab dikeluarkannya saya, maka  saya tidak tahu, ik heb geen idee. Mengapa demikian, karena saya dikeluarkan tanpa peringatan atau pemberitahuan apapun dari admin yang memiliki kewenangan administrasi untuk mengeluarkan saya dari group. Tak seperti etika yang saya kenal dalam interaksi di media sosial termasuk group FB, kewajiban etis admin untuk memeringatkan saya maupun memberitahu alasan dikeluarkannya saya tidak saya jumpai dalam kasus dikeluarkannya saya dari OSK.

Karena alasan dan pemberitahuan resmi tak pernah ada, maka bolehlah saya mengurai beberapa hal yang saya tulis di OSK sebelum saya dikeluarkan dari group tersebut. Ini untuk menjawab pertanyaan beberapa teman melalui aneka saluran pribadi, sekaligus dokumetasi bagi saya sendiri dan catatan sejarah bagi OSK. Dari situlah secara wajar orang akan melihat alasan dikeluarkannya saya dari group itu, sebuah group yang saya masuki bukan karena keinginan saya, melainkan invitasi (undangan) dari Wasis Susilo beberapa waktu lampau. Beberapa fakta menjelang dikeluarkannya saya dari OSK adalah sebagai berikut:

  1. Saya mengekspresikan keterkejutan sekaligus memprotes dan mempermasalahkan diangkatnya kembali akun FB bernama Dhodho Cansera (CS) sebagai admin. Saya baru mengetahui DC (kembali menjadi) admin OSK setelah membaca posting Wasis Susilo dimana disebutkan nama-nama admin OSK dan nama DC ada di dalamnya. Buat saya ini amat mengejutkan sekaligus mengecewakan, karena setahu saya, DC telah mengundurkan diri beberapa waktu lalu dengan alasan ybs merasa tidak mampu menjadi admin. Sebagai orang yang sangat  setuju dengan statemen  DC bahwa ia memang tidak mampu menjadi admin, kenyataan bahwa ia menjadi admin kembali melalui proses yang tak transparan tentu amat mengecewakan, dan mengingat alasan ketidakmampuan itu, saya pun mengajukan protes keras.
  2. Belakangan diketahui bahwa  DC dan  setidaknya dua orang lainnya yakni akun FB Wina Untung dan akun FB Agus Scudetto dijadikan admin oleh akun FB Abah Dudy Zein (ADZ) tanpa terlebih dahulu meminta saran atau pendapat warga OSK dimana saya termasuk di dalamnya. Seingat saya, ketika ADZ menjadi admin pun, namanya diusulkan dari floor, dari anggota OSK. Mengapa kini ia, ADZ, tidak melakukan hal yang sama? Penunjukan langsung dalam pendapat saya adalah suatu cara yang tak demokratis dan terkesan sebagai koncoisme dan oleh karenanya dengan tegas saya tolak.
  3. Membalas komentar saya, admin ADZ mengatakan pada intinya, bahwa DC adalah tokoh perKoesPlusan dan amat menyayangkan bahwa orang seperti  DC tak menjadi admin.  ADZ  mengatakan pengangkatan seperti itu tidak masalah. Saya berpendapat 180 derajat berbeda dengan ADZ.
  4. Terhadap ADZ saya ajukan sanggahan tegas: bahwa kalau bicara tokoh, ia harus fair, karena terlalu banyak tokoh di OSK yang juga harus diperhitungkan. Oleh karenanya, siapapun yang hendak ditunjuk jadi admin, harusnya disosialisasikan terlebih dahulu, ditawarkan pada publik, dengan mendengar suara dan usulan warga OSK secara terbuka, bukan atas dasar penilaian subjektif sesama admin belaka. Admin banyak memiliki tugas krusial, sehingga diharapkan ia bisa bijak, mengerti organisasi, mengerti etika sebagai admin.
  5. Jika  admin semata dilakukan karena penunjukan semau gue seperti yang terjadi di OSK seperti di atas, maka saya tidak punya terma (istilah) lagi yang lebih tepat selain koncoisme, alias penunjukan bukan berdasarkan kemampuan (merit based) melainkan pengangkatan berdasarkan pertemanan dan kedekatan belaka. Hasilnya??
  6. Keberatan dan kekecewaan saya yang saya utarakan bukan karena saya ada permasalahan pribadi dengan DC atau dengan dua admin lainnya yakni Agus Scudetto dan Wina Untung. Untuk diketahui, saya tidak mengenal ketiganya secara personal, dan saya bukan orang yang kelebihan waktu untuk menyukai atau tidak menyukai orang yang tak saya kenal.  Bahwa saya dengar ada diantara mereka tidak menyukai saya, itu urusan mereka. Keberatan saya terhadap pengangkatan DC  adalah pertama, terkait kenyataan (fact) bahwa sebelumnya bahwa DC sendiri PERNAH MENGUNDURKAN DIRI SEBAGAI ADMIN KARENA KESADARANNYA SENDIRI YANG TAK MAMPU MENJADI ADMIN. Alasan kedua, sebagai warga OSK, saya setuju dengan keputusan DC waktu itu karena saya sendiri menilai dalam masa admin di bawah DC, begitu banyak aneka posting yang tak pantas justeru diloloskan begitu saja, termasuk posting yang terang-terangan mengolok-olok bekas anggota Koes Plus Totok AR, belum lagi yang secara khusus mengolok-olok saya. Hemat saya, itu adalah kegagalan nyata DC selama menjadi admin dan oleh karenanya ia tidak pantas kembali menjadi admin. Keberatan ketiga, adalah saya tidak mau diatur oleh orang yang mengatur/memerintah tanpa melalui pemilihan yang demokratis. Admin adalah pengatur, ia seharusnya diusulkan secara demokratis oleh warga.
  7. Terhadap keberatan saya, DC membalas dan mengatakan bahwa saya telah memfitnah dirinya, dan bahwa saya memusuhinya. Ia mengatakan bahwa ADZ lah yang mengangkat dirinya sebagai admin dan bahwa ia tidak mengetahui pengangkatan dirinya oleh ADZ itu.
  8. Reaksi DC dalam membalas komentar saya begitu berlebih-lebihan alias lebay. Sebenarnya DC tinggal menjelaskan saja apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya mengapa ia jadi admin kembali, dan mengapa postingnya pernah di pin sehingga terus tampil di atas postingan di OSK sehingga memaksa orang untuk mau tidak mau membacanya. Adalah teramat sangat wajar bagi orang untuk protes dan merasa gusar  serta mempertanyakan manakala orang tidak tahu sesuatu yang sepantasnya dan seharusnya diketahuinya.
  9. Jawaban dan reaksi DC yang amat lebay itu terkesan dilakukan untuk menutupi kesalahan dirinya dan ketidakdemokratisan pengangkatannya sendiri  sebagai admin. Protes saya membahayakan diri dan koncoisme nya, sehingga saya perlu distigma buruk oleh DC sebagai pemfitnah, dengan demikian DC akan mendapat simpati publik seolah olah ia, DC, adalah korban!
  10. Lebih lanjut, kegusaran saya adalah wajar bagi setiap orang di OSK. Bukankah ia, DC, atas kemauan dirinya sendiri sudah mundur dari admin beberapa waktu lalu, dengan alasan tidak mampu menjadi admin, namun mengapa kini menjadi admin lagi? Mengapa dia menerima penunjukan itu, bahkan menggunakan jabatan admin untuk menikam saya? Ia seharusnya menolak itu kalau ia konsisten terhadap apa yang pernah dikatakannya sendiri. Benar-benar manusia yang satu ini tidak satu kata dengan perbuatan.
  11. Ada dua alasan menurut saya untuk DC harus menolak penunjukan itu. Pertama karena seperti yang dikatakannya sendiri, ia tidak mampu, dan kedua karena penunjukan itu tidak demokratis. Akan tetapi mengapa  hal itu ia tak lakukan? Tak sungguh-sungguhkan ia sebenarnya pada masa lalu mengundurkan diri? Pertanyaan-pertanyaan saya itulah yang semestinya dijawab dengan cergas dan tepat oleh DC, bukan dijawab dengan keluh kesah mengesankan pada publik seolah tengah dianiaya dengan fitnah oleh saya. Siapa musang berbulu domba sebenarnya dalam hal ini? Saya atau DC?
  12. DC dengan mudah mudah mengatakan bahwa saya memfitnah dia. Dalam komentar, saya katakan, jangan-jangan dia yang memfitnah saya dengan mengatakan hal demikian. Padanya saya katakan, kalau dia merasa difitnah, maka sumber masalah yang ia katakan fitnah itu sebenarnyalah ada di pimpinan admin yang mengangkat dia yakni akun FB bernama Abah Duddy Zein! Dia, DC seharusnya komplain/protes pada ADZ  secara terbuka karena tanpa pemberitahuan mengangkatnya sebagai admin, bukan menimpakan kesalahan pada saya. Sebaliknya, ADZ seharusnya melihat, bahwa penunjukan langsung tanpa memberi tahu baik publik maupun ybs seperti itu, tidak seperti yang diyakininya, justeru terbukti AMAT bermasalah dan berakibat fatal! Buktinya masalah antara saya dan DC ini. Sangat disayangkan, bahwa terhadap hal ini, yang bersangkutan justeru lepas tangan dan membiarkan DC terus bergerak hingga membunuh saya. Ketika saya sudah terbunuh dari OSK, ADZ sendiri dingin-dingin saja menanggapi dan tidak ada upaya koreksi apapun. Apakah itu memang tujuannya mengangkat DC sebagai admin??
  13. Sebelum perbincangan soal penunjukan admin yang tak fair ini juga kembalinya DC sebagai admin, saya melawan arus pendapat umum yang menyebut dijualnya CD Jok Koes “Pembuka” sebagai hal yang tercela. Dengan kacamata hukum yang ada pada saya, saya tegas menyebut bahwa CD itu adalah hak milik bagi orang yang memilikinya. Apakah mau dijual lagi, mau dibuang, atau dihancurkan, maka hak milik adalah hak terkuat dalam perspektif hukum keperdataan. Tidak ada yang salah dengan menjual CD Jok Koes itu. Justeru dalam hemat saya, perbuatan memposting tindakan Agus WM, pemilik kios Warung Musik di Blok M Square yang diikuti dengan aneka kecaman dan hujatan terhadap Agus WM serupa penghakiman di muka umum terhadap pedagang seperti Agus. Apakah pendapat saya ini juga turut berkontribusi dalam dikeluarkannya saya dari OSK?? Saya tidak tahu, karena memang tidak ada pemberitahuan apapun. Namun yang pasti, posting soal CD Jok Koes itu dihapus, dan saya terus mempertanyakannya. Saya tidak hendak berandai andai bahwa hal ini turut menjadi pertimbangan.
  14. Apapun alasannya, setelah rentetan peristiwa di atas saya kemudian ditendang (diremove) dari OSK tanpa apapun alasan dan pemberitahuan. Jika saya lihat ke dalam OSK , maka suasana di dalam OSK paska deitendangnya saya juga damai-damai saja. Admin bersikap seolah tidak ada apa-apa, dan saya menangkap kesan kuat, pembungkaman saya, MKW, adalah hal yang memang membuat mereka nyaman. Sekedar membandingkan, lain sekali dengan keputusan Wasis Susilo yang mengundurkan diri, yang sepembacaan saya, sampai membuat ADZ bahkan dengan amat heroik” harus menelpon dan membujuk minta WS untuk kembali jadi admin dsb. Dalam beberapa komentarnya menanggapi pertanyaan member OSK, para ADZ meminta agar tidak terus berada dalam romantisme remove meremove saya, dan agar ”menatap ke depan saja. Saya tak heran karena saya, MKW, yang menentang koncoismenya itu memang bukan tokoh seperti WS dan bukan tokoh penting seperti DC.  Singkat cerita, ADZ, DC dll jajaran admin tidak memberitahu publik telah dikeluarkannya saya dan alasannya. I was silenced perfectly. Not really perfect, though 🙂
  15. Oleh karenanya jika setelah tulisan ini muncul penjelasan atau komentar dari admin, maka saya melihat dan menganggap hal itu sebagai semata pembenaran (justifikasi) saja atas pembungkaman saya. Ia toh tak akan merubah apa-apa; saya tetap dibungkam dengan luka tendang di luar OSK, dan admin akan selalu dalam posisi benar.
  16. Saya meyakini, bahwa secara etis, penjelasan atau komentar dari admin sebenarnya harus dilakukan sebelum memutuskan meremove saya, bukan setelah mengeluarkan saya. Silakan eksekusi, tapi adili dulu dengan mendengar kedua belah pihak. Jika ada yang salah pada saya, tegur dan atau hapus komentar saya, tanpa harus meremove saya. Hal itu semuanya tidak ada pada saya. Saya dibungkam, tanpa diberitahu kesalahan saya .
  17. Kejadian ini memberi pelajaran menarik pada saya, bahwa kita memang masih jauh dari kehidupan berdemokrasi, termasuk dalam berinteraksi di dunia maya. Perbedaan pendapat dimanipulir seolah sebagai kebencian terhadap pribadi, dengan melemparkan stempel fitnah terhadap yang berpendapat lain, dan bahkan jika perlu menggunakan simbol-simbol agama sebagai pembenar dan atau pemancing emosi/dukungan. Pendapat tidak dibalas dengan argumentasi yang cerdas, tapi direspon dengan pembungkaman, atau dengan arogansi berupa diam. Ironiknya ini terjadi di perkumpulan pecinta group musik yang diklaim dan mengklaim diri berjiwa Nusantara.

Nijmegen, 24 Desember 2013

Advertisements