Biarlah Mereka Tetap di Sana

10 Oktober  2013 sore. Bersama kawanku Ichsan Kaabulah kota Nijmegen aku tinggalkan menuju Amsterdam menggunakan kereta api. Tujuan kami adalah Tropen Museum  guna menghadiri pameran Forts of Indonesia. Kami mendapat undangan untuk  menghadiri pameran itu atas kebaikan Andhini Widyasari, bekas mahasiswiku yang bekerja di Kementrian Pendidikan Kebudayaan dan Pariwisata.  Sekitar sepuluh hari sebelumnya kami bertemu di Bandar Udara Soekarno Hatta, berbincang dan minum kopi serta berjanji untuk bertemu di Amsterdam. Andhini, masih terhitung pegawai baru di kementrian itu, namun ia telah dipercaya mengorganisir pameran yang penting yang ini. Beberapa bulan sebelumnya, ia pula berada di Belanda untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan untuk pameran ini. 

Sekitar satu setengah jam kereta api cepat berwarna kuning-biru yang kami tumpangi melaju meninggalkan Nijmegen menuju ke arah Utara. Di Stasiun Utrecht Centraal kami turun dan berganti kereta api lain lagi dan sekitar 30 menit setelahnya  tibalah kami di Stasiun Amsterdam Amstel, pemberhentian yang terdekat dari Tropen Museum.  Kerajaan Belanda tidaklah luas, sehingga cuaca antar daerah tidaklah terlalu berbeda. Sebagaimana hari itu,  Amsterdam yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Nijmegen berhawa sejuk sekira tujuh derajat. Oktober masih dalam naungan musim semi, sehingga hawa dingin tak terlalu menusuk ke dalam tulang kami yang pula telah terlapisi pakaian hangat berlapis.  Aku dan Ichsan segera menaiki bus dengan nomor yang sudah aku lupa, namun yang pasti nomor bus itu kami dapatkan dari internet, tak perlu bertanya pada kanan kiri sebagaimana akan dilakukan orang di tanah air. Tak lama kami menyambung perjalanan dengan bus, karena aku dan Ichsan harus berhenti di sebuah perempatan dan menyambung perjalanan dengan berjalan kaki.

Di halte sebuah persimpangan jalan kami melompat turun, dan seorang ibu dengan sepedanya yang seakan mengerti wajah penuh tanya kami memberhentikan sepedanya dan setelah mengetahui tempat yang hendak kami tuju dengan begitu ramahnya menunjukkan jalan arah ke Tropen Museum. Ia bahkan membimbing kami dengan bersepeda ke arah museum, arah mana sebenarnya ia tidak hendak lalui. Keramahan seperti ini bagiku dan Ichsan terasa istimewa dan menyentuh, karena ketika saling tolong justeru sudah semakin memudar di kota besar tanah air, sentuhan manusiawi seperti ini masih dijumpai Amsterdam, kota yang kerawanan sosialnya dikenal cukup tinggi di Belanda. Pada ibu yang amat ramah dengan senyumnya yang terkembang-kembang itu kami ucapkan terimakasih, hingga akhirnya kami mencapai Tropen Museum jelang setengah lima sore. Kedatangan kami bebarengan dengan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda; Retno L.P Marsudi. Walau kuyakin ia tak mengingat namaku, namun ketika melihatku, duta besar perempuan berambut pendek dan berkacamata itu tersenyum lebar dan menyapa  dan sambil berjalan menuju venue kami bercakap basa basi dalam bahasa Jawa. Kami saling mengenal ketika sejak ia membuka Seminar Eropa yang diselenggarakan mahasiswa Universitas Wageningen pada 2012 lalu, dan kebetulan ia menghadiri presentasiku dan kami sempat melakukan tanya jawab. Beberapa bulan lalu, aku sempat pula bertemu dengannya di Den Haag dalam event Pasar Malam.

Upacara pembukaan pameran Forts in Indonesia berlangsung sederhana dan santai dengan makanan dan minuman ringan seperti juice dan cola terhidang di meja meja: sambutan dari perwakilan kedua belah pihak. Dari Belanda, pidato disampaikan oleh Direktur Tropen Museum dan pihak Indonesia disampaikan oleh seorang pejabat yang telah aku lupa namanya. Ichsan mengatakan, pejabat itu adalah Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bernama Musliar Kasim dan pernah menjabat rektor di Universitas Andalas.  Aku tak begitu mengikuti aneka sambutan itu, hanya sedikit yang kutangkap dari pidato yang disampaikan perwakilan pihak Tropen, terdapat tak kurang dari 400 benteng di seluruh Indonesia. Benteng dalam jumlah itu tidak semuanya dibuat oleh Belanda, namun pula oleh bangsa lain yang juga pernah menapakkan jejak di nusantara seperti Portugis dan buatan bangsa Indonesia sendiri. Penelitian itu menunjukkan begitu banyak benteng yang telah hancur baik sebagian maupun keseluruhan, dan banyak diantaranya pula telah mengalami modifikasi dan peralihan fungsi. Benteng Vredeburg di Yogyakarta dan Benteng Fort Rotterdam di Makassar adalah dua dari sedikit benteng yang beruntung karena terjaga dengan baik, dan bahkan menjadi tujuan wisata. Walau begitu, di dalam benteng Vredeburg telah didirikan aneka monumen untuk mengenang perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Vreedeburg yang pada masa kolonial digunakan untuk mengawasi Keraton Yogyakarta pada masa revolusi fisik memang menjadi markas tentara republik. Tanpa mengurangi hormat dan pentingnya nilai sejarah fungsi benteng itu di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, aneka patung di dalam benteng itu menurutku justeru merusak keaslian dan keindahannya. Aku sendiri tak banyak mengenal benteng-benteng itu. Selain Vredeburg, pernah aku melintas Benteng yang masih cukup terjaga yakni Benteng van der Wijk di wilayah Gombong, Kabupaten Kebumen. Benteng lain adalah Benteng yang kondisinya kini merana selaksa rumah hantu,terletak di Kabupaten Semarang.

Secara umum, pameran sendiri terselenggara dengan apik dan menawan. Benteng sebagai bangunan fisik yang tak bergerak memang tak bisa dibawa ke Negeri Belanda, akan tetapi berbagai foto dan fakta-fakta mengenai benteng itu digambarkan dengan begitu bagusnya melalui aneka media. Informasi yang kudapat biaya untuk pameran itu mencapai tak kurang dari tiga miliar. Kami sempat mendiskusikan betapa uang itupun berasal dari pajak-pajak yang dipungut dari rakyat Indonesia, yang banyak diantaranya adalah wajah-wajah kaum sederhana dan bahkan miskin, akan tetapi aku dan Andhini pula sepakat bahwa pameran ini pun penting adanya.

Foto-foto berbagai benteng yang telah diidentifikasi dipampangkan dengan amat rapih, mengabadikan saksi bisu sejarah bangsa Nusantara dalam hubungannya dengan aneka bangsa barat. Benteng itu didirikan untuk berbagai kepentingan, antaranya menjaga keamanan dagang Portugis, menjadi sarana bagi Belanda untuk mengawasi kerajaan di Indonesia. Anggaran untuk memelihara benteng itu tentu tidak sedikit, sehingga benda purbakala itu banyak tak terselamatkan lagi baik karena faktor alam maupun manusia.  Banyak dari benteng rusak dan hancur karena alam, terkena terik dan panas, digempur gelombang laut, ataupun terlumat oleh akar-akar tanaman liar yang tumbuh di atasnya.

Selesai menikmati aneka foto, kesempatan aku gunakan bersama Andhini dan Ichsan untuk melihat-lihat koleksi Tropen Museum. Sebagai museum milik Kerajaan Belanda, Tropen menyimpan begitu banyak aneka koleksi benda bersejarah dari masa kolonial ketika Indonesia masih bernama Nederlandsch-Indie atau Hindia Belanda. Salah satu koleksi yang menarik perhatianku pertama-tama adalah mahkota Raja Demak. Terbuat dari emas dengan ukiran-ukiran yang amat halus, mahkota itu amat agung dan jelas-jelas sesuatu yang berharga lagi bersejarah. Ia tersimpan dalam lemari kaca berbentuk persegi panjang tegak dan disorot dengan sinar lampu. Ada pula aneka patung-patung berukuran sedang dan kecil sebesar genggaman tanggan peninggalan jaman Hindu yang terbuat dari perunggu yang menggambarkan aneka mahkluk dalam mitologi Hindu. Arca-arca yang terbuat dari batu andesit yang berwujud Dewi Durga dan sapi bernama Nadi adalah pula benda masa lampau yang disimpan di sana. Ada lagi: benda-benda simbolis seperti Lingga dan Yoni. Lingga yang berbentuk segi empat berlubang di tengahnya dan Yoni yang berbentuk lonjong panjang menyatu secara lengkap sebagai perlambang keseimbangan dan kesuburan ini, baru pertama kali aku lihat secara lengkap di Museum ini, setelah sebelumnya hanya melihat lewat buku pelajaran, ataupun gambar-gambar dalam keadaan tak lengkap.

Mahkota Sultan Demak
Mahkota Sultan Demak

Selain aneka hal yang kusebutkan itu, ada pula perhiasan berupa gelang dan aneka kalung dipajang di lemari display. Perhiasan-perhiasan itu terbuat dari aneka emas yang sudah tentu dengan mengingat  nilai benda dan kandungan kesejarahannya menjadi koleksi yang amat tak ternilai. Sempat teringat kunjunganku ke Museum Nasional alias Museum Gajah pada 2003 di Jakarta. Berbagai benda koleksi di Tropen ini tak jauh berbeda, walau tentu Museum Nasional lebih banyak lagi menyimpan koleksi. Apa yang kulihat malam itu aku dokumentasikan dalam bentuk foto. Sempat pula kami melihat aneka koleksi lain dari jaman yang lebih modern, yakni masa-masa abad 20 jelang berakhirnya kolonialisme Belanda di tanah air.

Lingga Yoni
Lingga Yoni

Tidak semua koleksi Tropen dari Indonesia adalah benda bersejarah yang lama atau purbakala sifatnya. Ada aku lihat di sebuah lemari kaca, dipajang mainan anak berupa boneka Teletubbies berwarna kuning tengah menjadi kusir dokar. Mainan ini digerakkan dengan cara ditarik, dan jika ia bergerak, roda dokarnya akan menggerakkan pemukul yang memukul-mukul kaleng yang dipasang, dan suara itulah yang membuat senang hati anak-anak. Mainan seperti ini pernah pula aku belikan untuk anakku Ananda di Taman Kyai Langgeng, Magelang beberapa tahun silam.1383908_10151738810193823_1481689182_n

Ketika hendak menikmati banyak koleksi lainnya, kami bertiga bertemu dengan dua orang Indonesia berpeci. Pada kami mereka menyampaikan kegusarannya atas penampilan delegasi Indonesia malam itu yang tak menampilkan identitas indonesia dengan berpeci seperti mereka. Peci itu identitas kita sebagai bangsa, demikian dikatakannya, seraya menceriterakan betapa dalam aneka kesempatan, ia dikenal sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan diasosiasikan dengan Soekarno yang memang dalam berbagai kesempatan selalu mengenakan peci. Untuk urusan peci ini, aku teringatlah kisah Bapakku yang pula pernah mengenakan peci dalam kunjungan singkatnya ke Inggris pada 1987 dan menurut kisahnya, orang menyebut pecinya itu sebagai Soekarno’s hat. Kembali kepada dua orang berbaju putih dan berpeci itu, dalam pembicaraannya kemudian dengan kami, mereka mengutarakan kekecewaan mengapa pameran itu diadakan hanya menggunakan area Museum yang sehari-harinya diperuntukkan untuk kantin. Pada kami mereka menyampaikan pemikirannya tentang perlu adanya Rumah Indonesia sebagai wadah bagi warga Indonesia untuk  berinteraksi di Amsterdam.

Agak lama berbincang dengan kami, mereka pun berpisahan seraya mengundang kami untuk datang ke pertemuan yang mereka adakan di Amsterdam beberapa hari setelah hari itu. Demi sopan santun aku menjawab akan mengusahakan kedatangan, walau aku tahu amat perlu pemikiran berlebih untuk kembali ke Amsterdam untuk urusan yang bukan benar-benar penting bagiku. Tiket pulang pergi Amsterdam Nijmegen amat mahal, sehingga kami harus berhemat dan hanya dalam acara dan urusan yang benar-benar perlu saja kami akan menempuhnya berkereta api.

Tersita sekian menit waktu untuk melayani kedua orang tadi, kami yang memang sampai di musium telah menjelang senja  terpaksa tak bisa memuaskan diri untuk melihat isi koleksi museum hingga tuntas. Melalui pengeras suara, diumumkan bahwa kami harus segera meninggalkan gedung karena museum telah akan tutup. Bergegas kami bertiga keluar dari gedung. Kami sempat melanjutkan obrolan di sebuah kedai makan tak jauh dari Tropen, hingga akhirnya  sekitar pukul 9 malam aku dan Ichsan berpisahan dengan Andhini di sebuah halte tram, menuju ke Stasiun Amsterdam Amstel dan kembali ke Nijmegen.

Di halte tram di dinginnya Amsterdam: Sebelum berpisahan
Di halte tram di dinginnya Amsterdam: Sebelum berpisahan

Aneka foto yang kubuat selama di Tropen aku unggah ke Facebook segera sesampainya di rumah. Foto foto seperti mahkota raja dan arca Andhini serta Dewi Syiwa segera mengundang dan  menarik banyak perhatian dari mereka yang terhubung sebagai teman di akun Facebook ku. Banyak diantara mereka yang berterimakasih karena bisa melihat isi Museum Tropen tanpa harus ke Belanda, menjadi bertambah pengetahuan dan sadar betapa banyak kekayaan dari Nusantara berada di Negeri Belanda, negeri yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Republik Indonesia sekarang.

Selain aneka komentar yang menunjukkan kesukaannya, banyak pula yang kemudian menjadi sinis terhadap Belanda. Hal ini terutama setelah melihat aneka benda-benda perhiasan maupun keramat dari aneka kerajaan Nusantara yang kusebutkan tadi berada di tempat yang tak semestinya. Pada umumnya,  suara-suara tersebut mengecam dan mempertanyakan mengapa benda-benda itu masih dikuasai oleh Belanda. Benda-benda itu, demikian aneka suara ini menginginkan, seharusnya dikembalikan kepada bangsa Indonesia. Tak kurang dari suara-suara itu sentimen anti penjajahan berkumandang dan menyebut bahwa benda itu  telah dicuri dari rakyat Indonesia.

Harus aku akui, aku pernah berfikiran seperti yang menjadi pemikiran sebagian kawan-kawan FB-ku itu, menganggap apa yang dilakukan Belanda sebagai pencurian dan oleh karenanya barang-barang yang dicuri itu harus dikembalikan lagi. Namun pikiran seperti itu segera terkoreksi: benda-benda itu, manakala ditransportasi ke Negeri Belanda pada masa kolonialisme dahulu, adalah bagian pula dari milik Kerajaan Belanda, aset Negara Belanda. Bukankah karena Nusantara ini pada masa dahulu merupakan bagian dari koloni Kerajaan Belanda dan oleh karenanya  menjadi sah saja jika pemerintah melakukan kebijakan atas aset-aset yang ada di dalam wilayahnya? Oleh karenanya, memindahkan barang milik sendiri tak bisa dibilang sebagai pencurian. Tiada disebut pencurian jika mengambil atau memindahkan milik sendiri. Ketika kudiskusikan hal ini pada kawanku Teun Eikenaar, kawanku ini mengatakan bahwa argumentasiku khas lawyer. Ia mengatakan bahwa ada etik untuk mengembalikan benda tersebut kepada bangsa Indonesia. Teun yang berlatarbelakang antropologi dan filsafat itu mengatakan bahwa kolonialisme itu sendiri tidak etis, dan oleh karenanya, seharusnya apapun yang menyandarkan pembenaran padanya dengan sendirinya kehilangan kebenarannya. Aku tak menolak argumentasi Teun, namun pula mengingatkan, pada masanya, memiliki koloni adalah praktik yang diterima oleh negara-negara. Teun tak membantah soal ini

Lepas dari perdebatan di atas Teun  dan aku sepakat bahwa akan menjadi lebih baik dan ideal apabila aneka benda itu kembali ke Indonesia. Kukatakan pada Teun, secara emosional, sebagai bangsa Indonesia, dan sebagai manusia Jawa, aku menginginkan agar aneka benda peninggalan Nenek moyang itu kembali ke asalnya, ke berbagai tempatnya di penjuru Jawa maupun tanah air lainnya. Namun mengingat jika toh barang barang itu kembali ke tanah air dan keamanannya tak terjamin, aku lebih suka benda-benda itu agar tetap berada di Negeri Belanda. Kuceriterakan padanya betapa belum lama berselang, beberapa koleksi Museum Nasional juga hilang dicuri. Konon aku dengar, koleksi di sana telah banyak yang imitasi sedangkan yang aslinya telah lenyap entah kemana.

Memang pahit, harta kekayaan dan peninggalan budaya tak ternilai milik bangsa sendiri justeru dikhawatirkan akan semakin tidak aman bahkan hilang lenyap di tangan sindikat jika dikembalikan  ke maqam-nya di Nusantara. Kukatakan pada Teun, seperti jawabku pada aneka komentar yang menuntut pengembalian aneka benda bersejarah itu ke Indonesia, agar biarlah barang barang itu tetap bersemayam di Amsterdam, di tengah modernitas Eropa, diantara gedung tua dan jalur trem, dibelai oleh suara-suara percakapan bahasa Belanda dan inggris para pengunjungnya. Biarlah mereka, aneka benda itu di sana, melanjutkan tugas kesejarahannya memberi kesaksian agungnya peradaban nusantara, jauh dari tempatnya candi-candi, aneka tempat pemujaan di tengah sawah, di wilayah-wilayah pedesaan tanah Jawa dan aneka pulau Nusantara yang lembab na subur ribuan mil jauhnya dari Amsterdam. Setidaknya jika disimpan di museum seperti ini, keamanannya akan lebih terjamin dan oleh karenanya akan tetap bisa dinikmati walau hanya oleh sebagian warga bangsa yang  berkesempatan mengunjunginya.

Di atas laut Ashgabat, Turkmenistan, dalam penerbangan Amsterdam-Kuala Lumpur, 1 Januari 2014

Advertisements