Sepenggal Kisah Tentang Rumah Tinggal

Ini adalah kisah tentang sebuah rumah tua, rumah dimana aku tinggal di Negeri Belanda sejak kedatangan untuk kali kedua, menjelang Natal 2011. Tua, karena  manakala tulisan ini kubuat ini telah berusia sekira 110 tahun. Angka itu kudapat setelah mengurangkan 2013, tahun ketika tulisan ini dibuat dan 1902, tahun ketika rumah ini jadi. Yang terakhir ini  aku ketahui dari Loes, nyonya pemilik rumah dalam acara makan malam bersamanya merayakan natal dan tahun baru 2012 beberapa hari setelah aku menghuni rumah ini.  Terbuat dari susunan batu bata solid tanpa dilepa sebagaimana rumah Belanda pada umumnya, banyak bagian rumah ini terbikin dari kayu, dengan lantai yang juga terbuat dari kayu membuat derap langkah manusia akan mudah terdengar berdegup-berderit walaupun hampir seluruh permukaan lantai tertutup karpet.

Sebelum benar-benar sampai di rumah ini, aku telah cukup mengenal bentuk dan rupanya sejak di tanah air. Titik lokasi rumah ini, Hartertseweg 95 Nijmegen dapat dengan mudah diketemukan di Google Map, demikian pula rupa penampakannya dari berbagai penjuru dapat diamati melalui layar komputer.  Rumah dua lantai ini terletak di hoek (tikungan) yang menghubungkan jalan kecil bernama Kastanjelaan dan jalan raya bernama Hatertseweg. Di seberang rumah ini, persis pula di tikungan pertigaan antara Kastanjelaan dan Hatertseweg terdapat  sebuah toko roti yang konon aku dengar dikenal cukup baik di Nijmegen. Semenjak menyewa kamar di rumah ini, belum pernah sekalipun aku membeli roti di sana. 

Memasuki rumah ini dari arah depan orang akan dihadapkan pada dua pintu berlapis, dengan masing-masing pegangan pintu yang terbikin dari besi baja mengkilat. Pintu terluar sebagian besarnya terbikin dari kaca, dan oleh karenanya orang bisa memandang ke luar dari dalam rumah dan sebaliknya. Hanya saja, untuk yang terakhir kusebut ini, pandangan mata orang akan terantuk pada pintu kedua yang  berkaca es, sehingga hanya sampai pintu dan kaca itu sajalah mata manusia akan mampu menembusi.  Rumah ini menghadap jalan raya Hatertseweg yang kusebutkan tadi, dengan lalu lalang mobil dan sesekali sepedamotor besar, zonder pedagang keliling. Sepanjang kutinggal di sini, jalan di depan itu tak pernah macet, dan hampir-hampir tak pernah terdengar klakson dibunyikan. Jalan yang tak pernah bising. Warga Belanda tak boros-boros membunyikan klakson. Aturan berlalulintas amat dipatuhi. Siapa yang didahulukan di tikungan maupun persimpangan telah jelas diketahui. Memiliki surat ijin mengemudi di Belanda tidak bisa seperti di Indonesia yang bisa dipermudah dengan membayar sejumlah uang tertentu. Ujian SIM benar-benar mensyaratkan pengetahuan yang di luar kepala.

Di kanan kiri jalan Hatertseweg (sebenarnya cukup disebut Jalan Hatert saja, karena weg dalam bahasa Belanda adalah way, alias jalan) ada terdapat jalur sepeda, lintasan yang paralel dengan jalur kendaraan bermesin, jalur yang khas berwarna merah. Lebarnya pernah kutaksir-taksir sekitar dua meter. Hampir tiap saat terlihat orang bersepeda melewatinya baik sendirian, berduaan, maupun satu keluarga. Ramai sepeda lewat tentunya dikala pagi jam berangkat kerja dan senja ketika jam kerja usai atau di hari sabtu manakala orang hendak ke kota untuk bersenang senang. Ada kalanya pasangan muda mudi bersepeda sambil bergandengan tangan dan bahkan sambil berciuman. Kali lain, ibu dengan anak-anaknya yang dibonceng di bak besar di depan sepeda.  Jalur sepeda itu juga dipakai untuk jalur kendaraan bermotor roda dua dengan kapasitas mesin yang kecil. Sepeda motor besar menggunakan jalan raya, sama dengan mobil.

Tepat di kaca  pintu pertama rumahku itu ditempelkan sebuah kertas dalam bahasa Belanda bertuliskan Honden Jullie Eigen Stoep. Itu adalah permintaan pada setiap orang untuk membersihkan kotoran anjing jika sampai anjing yang dibawanya buang kotoran di depan rumah. Aku rasa, pemilik rumah pernah punya pengalaman tak enak dengan kotoran anjing sehingga perlulah ia memasang tulisan seperti itu.  Seperti telah aku singgung tadi, setelah pintu utama, ada satu pintu lagi sehingga orang bisa benar-benar masuk ke dalamnya. Dua pintu rumah tersebut  hanya bisa dibuka dari  arah dalam rumah, sedangkan dari luar rumah, orang perlu memakai anak kunci. Dari arah luar, memasuki pintu pertama, kaki akan menginjak lantai dengan cerukan dengan panjang dan lebarnya lebih kurang setengah meter dengan kedalaman beberapa senti. Di cerukan itu dipasang semacam  karet berongga. Di musim dingin, sepatu yang membawa bongkah dan serpih es maupun salju setelah memasuki rumah dari pintu terluar akan dihentak-hentakkan disana, dan rongga-rongga pada lantai itu akan menjadi tempat runtuhan es.  Dengan demikian, es tidak akan terbawa-bawa ke dalam membasahi karpet.

Baik pintu pertama maupun kedua akan dengan sendirinya mengunci begitu ditutup dengan sedikit tekanan yang akan menimbulkan suara gelegar, tak terlalu keras, tapi cukup membuat siapa saja di rumah, asal tak sedang kurang pendengarann,  untuk mengerti bahwa ada orang sedang keluar atau masuk ke dalam rumah. Gelegar pintu ini cukup membuat boneka plastik yang dipasang sang pemilik rumah di akhir Desember ini untuk mengeluarkan suara “Merry Christmas”. Tak seperti tumah di Indonesia yang segera dihadapkan pada ruang tamu, begtu memasuki pintu kedua, orang akan dihadapkan pada sebuah pintu lagi, pintu yang menuju pada sebuah ruang makan. Di situlah ruang makan atau ruang keluarga tempat di mana aku kerap menjumpai pasangan pemilik rumah Gerard dan Loes pada waktu-waktu tertentu, setidaknya sebulan sekali manakala aku mesti membayar uang sewa kamar yang kini 330 euro sebulannya. Dan hari pertama aku tiba di rumah ini pun aku diterima di ruang itu, ruang dengan meja besar dan beberapa kursinya. Sebuah televisi berada di sudut ruang. Ada rak buku dengan aneka pustaka dalam muatannya. Di depan televisi  terdapat kursi masing masing bagi Loes dan Gerard. Keduanya telah berusia lanjut, tapi hingga tulisan ini kubikin, mereka selalu ada di depan televisi bahkan jelang pukul 12 malam.

Kamarku ada di lantai paling atas, salah satu diantara dua kamar yang disewakan untuk para pelajar. Sebenarnya ada setidaknya dua kamar tidur lain yang tersedia, namun Loes tak menyewakannya, karena lebih banyak untuk dipakai anak-anaknya; Yvonne dan Maurice yang kerap datang mengunjungi dari Amsterdam. Untuk mencapai ke kamarku , ada dua tangga yang harus didaki, masing-masing yang pertama memiliki enambelas anak tangga, sedangkan yang kedua delapanbelas anak tangga. Dan tangga yang bercat cokelat muda itu pula dilapisi karpet, yang dari baunya aku meyakini bahwa karpet itu jauh lebih tua dari umurku sendiri. Pegangan tangga terbuat dari kayu, dan cukup curam. Jendela rumah ini hanya kecil-kecil saja, dan beberapa diantaranya hanyalah kaca. Menaiki tangga, orang akan melihat hiasan dinding berupa lukisan-lukisan pemandangan, lukisan tua. Juga foto hitam putih kanak-kanak Belanda, lelaki dan perempuan. Yang perempuan lebih tua dari si lelaki. Ialah Yvonne, sang kakak, dan yang lelaki adalah Maurice, sang adik. Keduanya, jelas jauh lebih tua dariku, dan pernah pula aku jumpai ketika mereka berkunjung ke mari ke orang tuanya; Loes dan Gerard.

Di tangga menuju lantai satu  terpasang sebuah kursi listerik yang dipakai Gerard untuk naik dan turun dari lantai satu dan lantai 2. Gerard memang terkena stroke, dan itu karena usianya pula yang sudah menua. Namun begitu, ia masih bisa memanjat ke lantai dua untuk membetulkan kelistrikan maupun koneksi internet. Di lantai satu, ada beberapa kamar. Hanya satu yang disewakan, dan sisanya sebagaimana telah kusinggung di atas tak disewakan. Ketika tulisan ini kubuat, kamar yang disewakan itu ditempati  oleh Astri Parawita, dokter dan dosen Universitas Atmajaya Jakarta. Sebelum Astri, kamar itu dihuni oleh seorang mahasiswa dari Ghana, Afrika. Aku pernah pula menempatinya beberapa bulan lalu, hanya untuk beberapa hari, dan sesudahnya pindah ke kamar di lantai dua. Dari jendela kamar itu, orang bisa melihat toko roti yang juga telah aku tulis. Di lantai 1 ini pula terletak toilet yang diperuntukkan bagi para penyewa.

Menginjak lantai dua ini, selain kamarku dan kamar satu lagi, orang akan menjumpai kamar mandi dan dapur. Kamar mandi hanya sempit saja, sebuah bath tub dengan shower yang memancarkan air panas dan air dingin. Bath tub itu, tanpa penutup air, dan mudah aku tebak maksudnya: pemilik rumah tak mau para penyewa menggunakan kamar mandi itu untuk berendam berlama-lama dan menggunakan air berbanyak-banyak. Sementara dapur juga berisi meja dan kompor gas serta tempat untuk meletakkan aneka peralatan dapur serta tempat untuk mencuci piring, gelas, dan alat dapur lainnya. Lantai dua ini juga terbuat dari kayu, membuat siapapun yang berjalan akan terdengar langkahnya. Hanya saja sebagaimana lantai dasar,  suara langkah orang memang akan sedikit teredam karpet tua yang melapisinya.

Setiap kamar memiliki sink, alias tempat untuk mencuci muka. Orang Belanda pada umumnya tidak seperti mereka yang tinggal di alam tropik yang mandi dua kali dalam seharinya. Terpenting adalah cuci muka dan menggosok gigi. Di dalam kamar juga terdapat pemanas ruangan dan khusus untuk rumah ini sang pemilik rumahlah yang mengendalikan panasnya. Tentu ini bukan generalisasi bahwa di Belanda semua rumah sewa akan seperti begini. Dua kamar di lantai atas pernah aku huni, dan hingga tulisan ini aku buat, hanya di rumah yang kuceriterakan ini aku tinggal. Selain sink, setiap kamar dilengkapi dengan tempat tidur, kasur, selimut, meja kerja dan meja kecil.

Dari jendela kamar sewaku yang kini kutempati, orang bisa melihat jalan Kastanjelaan. Di kanan kiri terdapat perumahan, dan kesemuanya seperti kebanyakan rumah Belanda terbuat dari bata solid dan bertingkat. Cerobong asap dari rumah-rumah itu ternampak, walau kini orang tak lagi menggunakan pemanas kayu. Mobil-mobil berjejeran di tepi jalan, karena hampir-hampir semua rumah tiada memiliki garasi untuk menyimpan mobilnya. Seringkali burung gagak juga mampir dan hinggap di atap rumah, dan suara kaki-kaki burung terdengar dari dalam kamar. Jika badai melanda, maka suara jeritan angin yang menabrak-nabrak rumah terdengar mengerikan.  Sedangkan dari jendela kamar yang satu, orang bisa melihat lalu lalang jalan Hatertseweg  dengan pemandangan yang sama seperti telah aku ceritakan di atas.

Rumah yang kutempati ini, hanya berjarak 2,8 kilometer dari pusat kota. Angka ini pasti, karena aku dapatkan dari Google Map. Jarak itu, biasa aku tempuh dengan sepeda, dan tentu bisa ditempuh dengan jalan kaki. Aku sendiri belum pernah  berjalan hingga sampai ke pusat kota, namun beberapa kawan pernah. Tidak ada bis melintas di jalan Hatertseweg, oleh karenanya kita mesti berjalan ke halte bus di Jalan Akkerlaan atau Halte di Pandastraat untuk mencapai kota dengan bis. Sebagaimana setiap bis  di seluruh wilayah Belanda, bis yang melintas di halte itu bisa kita pantau waktu kedatangannya dari internet. Kita hanya tinggal mengira-ira saja berapa waktu yang ditempuh untuk berjalan kaki dari rumah ke halte sehingga tidak ketinggalan bus atau terlalu lama menunggu.

Hanya ada dua supermarket di dekat rumah ini: Albert Heijn dan Coop. Albert Heijn adalah jaringan supermaket yang besar di Belanda, dan hampir-hampir di seluruh kota ia ada. Adapun Coop, tidak dijumpai di sembarang kota. Jika ingin mencari hiburan,orang bisa ke bar di Sint Jacobslaan, kafe yang terletak dekat Albert Heijn. Tempat makan juga ada beberapa terdapat dalam jarak jalan kaki dari rumah: sebuah rumah makan turki yang menyediakan aneka makanan khas Turki dan sebuah toko merangkap tempat makan bernama Rinus.

Rumah 95, demikian rumahku itu biasa disebut kawan-kawan mahasiswa Indonesia dengan merujuk nomor rumah, adalah rumah biasa saja. Secara fisik, ia berkemiripan dengan rumah di kanan dan kirinya: bertingkat dan berbata solid, serta memiliki tempat parkir sepeda di belakang rumah, tempat para penyewa kamar menaruh sepedanya. Ia memang bukan rumahku, namun semakin lama menghuninya, aku menganggapnya sebagai rumahku sendiri.  Dan ketika aku memang jauh dari rumahku sendiri di tanah Jawa seperti sekarang ini, ia tak sekedar menjadi house melainkan pula home bagiku.

ditulis di Nijmegen,  diselesaikan di kediaman Shohib Sifatar, Amsterdam, 31 Desember 2013.

Advertisements