Tentang Musim Gugur

Ini menginjak minggu pertama Desember 2013. Hujan telah beberapa pekan membasahi bumi Oranje, dan mungkin pula di berbagai belahan Eropa lainnya. Dan hujan di negeri kerajaan ini seringkalinya tak turun dan mengguyur dengan lebat sebagaimana hujan tropikal di Nusantara yang seringkali begitu lama dan begitu deras, menimbulkan banjir, membikin macet lalulintas terutama di kota-kota. Hujan Belanda seringkalinya hanyalah semprotan air dari langit beberapa bentar, dan kemudian akan berhenti. Di tanah air hujan seperti itu akan dibilang sebagai gerimis daripada hujan yang tanpa embel-embel. Oleh karenanya pula seringkali aku memperlakukan hujan dinegeri ini sebagai gerimis yang tak perlu dihindari. Selain hampir-hampir tak pernah turun dengan deras, hujan di bumi Belanda juga hampir tak pernah disertai petir. Lagipun ilmu pengetahuan membuat orang  sedari awal tahu kapan hujan seperti itu akan datang, tingkat kelebatannya dan kapan hujan akan berhenti dan apakah hujan bakal berpetir atau tidak.  Mengikuti ramalan cuaca adalah suatu keharusan bagi sesiapa saja yang tinggal di negeri dengan cuaca yang tak selalu bersahabat ini. Mengetahui ramalan cuaca membuat orang  dapat memutuskan: kemana hendak bepergian dan pakaian seperti apa yang mesti dikenakan, atau apa yang harus dilakukan.

Seperti juga 3 November lalu manakala badai besar melanda Belanda. Kedatangan topan ini sudah kuketahui dari kawanku Christantie sehari sebelumnya sejak sebelum badai ini terjadi. Dan memang benar keesokan harinya sedari pagi hingga jelang malam, angin kencang berhembus. Kuketahui dari laporan cuaca di aplikasi smartphone ku, angin kencang melaju dengan kecepatan tigapuluh lima kilometer perjam. Itu sekira jam delapan pagi dan itu di kota Nijmegen yang relatif jauh di timur. Di bagian utara yang berdekatan dengan laut, angin bisa mencapai enampuluh kilometer per jam. Dan dari koran aku tahu: badai membuat perjalanan kereta api pula terganggu karena beberapa pohon roboh dan merintangi rel. Di Amsterdam, diberitakan seorang perempuan tewas karena tertimpa pohon yang roboh. Berita macam begini ini juga kerap kudengar di tanah air. Akan tetapi tak seperti di tanah air, di sini tidak dilaporkan adanya rumah yang rusak secara berarti. Rumah-rumah Belanda amat kokoh temboknya, dari bata solid. Genteng yang dipakai juga begitu kuat terpasang. Sebagian besar sudah menggunakan atap baru. Korban luka kalaupun ada umumnya karena luka akibat dahan yang berjatuhan karena pohon tak kuat menerima terjangan angin. Korban mati juga tak jarang karena tertimpa pohon yang rubuh.

Ramalan cuaca, tak dirasa sebagai hal yang perlu benar di Nusantara, karena tanpanya, orang bisa bertahan: takkan kedinginan teramat sangat maupun kepanasan teramat sangat. Jika hujan cukuplah mencari tempat berteduh, jika kepanasan orang cukup mengeluh. Keduanya, tak membuat benar-benar celaka. Keduanya bisa membawa orang untuk masuk warung dan makan bakso, atau mencari sejuk di warung es; suatu akhir yang gembira. Bagi yang tak ada cadangan uang, menggerutu adalah hal terbaik dilakukan, dan itupun sudah lumrahnya orang tak berpunya di seluruh bumi: aneka persoalan selesai di ujung gerutu, atau memperbanyak doa.

Dan ketika badai seperti itu, bersepeda menjadi berat, terutama ketika angin menghambat laju kereta angin. Beberapa hari lalu, aku sampai harus turun dari sepeda karena badai yang begitu kencang. Beberapa teman menceriterakan angin yang menghempas dari kanan dan kiri, membuat oleng. Dan alam yang mendingin menjadi  suram tanpa cahaya matahari. Kukatakan begitu matahari berlama-lama menampilkan wajah, dan suhu kembali mendingin secara berangsur. Oleh karenanya orang tak cukup berkaus, atau bercelana ala kadarnya. Ke luar rumah,orang harus berpakaian tebal, melilitkan sjal sebagai penghangat leher. Kaum perempuan akan memakai sepatu boots dan lilitan sjal di leher, busana yang diharuskan alam dan di mataku  membuat mereka menjadi terlihat anggun. Di bulan November, angin dingin bertiup, walau tak terlalu kejam kisaran empatbelas derajat di siang hari. Sarung tangan belum perlu digunakan. Di Bulan Desember, sudah banyak orang berkaus tangan dalam bersepeda, tapi dingin  masih tertanggungkan. Salju pula bisa turun walau suhu belum lagi mencapai nol derajat. Orang menyebutnya natte sneuw alias salju hangat, karena  begitu mencium bumi, ia kaan meleleh, dan membasahi selayaknya air hujan.

Dan musim gugur ini adalah saat ketika pohon yang tadinya berdaun hijau dalam mesra musim semi dan panas, perlahan menguning, berubah kecoklatan untuk kemudian berjatuhan pasrah jatuh secara lemah di pelukan bumi. Mulanya hanya sedikit, dan kemudian secara pasti warna kuning terlihat di dedaunan entah tanaman pagar hidup maupun pohon-pohon peneduh di tepi jalan. Dan dengan begitu, jalanan menjadi tertutupi oleh dedaunan cokelat.  Semua ini terjadi, dalam hitunganku, hanya dalam waktu tiga empat minggu saja. Awal Oktober ketika ku kembali ke negeri ini, pepohonan masih hijau dan tiada daun berguguran. Kini, di bulan Desember, beberapa pohon telah kehabisan daunnya. Jalan-jalan dipenuhi dengan dedaunan kering berwarna kuning atau cokelat, daun daun yang basah karena air hujan. Pemerintah daerah menyediakan semacam kerangkeng besar di pinggir jalan, untuk tempat sampah dedaunan ini bagi warga yang hendak membersihkan lingkungannya dari dedaunan.

Dan jika begitu, bersepeda apalagi berjalan kaki menjadi hal yang tak menyenangkan. Nafas akan berkebulan uap dari mulut dan hidung. Dan kunikmati ini pula dengan senang, hingga teringat akan para pemain sepakbola yang kulihat di televisi semasa kecil: nafas berhembus uap dari lubang mulut dan hidung. Musim gugur memang membawa kepada perasaan dan pikiran yang tak enak. Ketika matahari mau memunculkan sinarnya, orang menjadi gembira. Tapi itu tak sering-sering.  Namun bagiku musim gugur ini adalah siklus yang memiliki keindahannya tersendiri. Di tengah hawa dingin dan gelap yang demikian cepat, lagu “Autumn Leaves” menemukan penghayatannya ketika dinyanyikan.

Nijmegen, 4 Desember 2013

Advertisements