Berkarya Seolah Tiada Hari Esok: Interview Halim Budiono (Cranial Incisored)

Halim Budiono Photo: Dok. Pribadi
Halim Budiono
Photo: Dok. Pribadi

Mungkin saya saja yang miskin wawasan bin kurang piknik dalam referensi, tapi sebelum mendengar debut mereka Rebuild.. belum pernah saya dengar permainan gitar metal yang penuh konslet nan distortif seperti yang dihasilkannya, setidaknya dari band domestik. Halim Budiono, ialah figur yang bertanggungjawab atas gerung-gerung gahar musik Cranial Incisored, sebuah kelompok musik progressive metal yang berbasis di Yogyakarta. Progresif. Terma itu saya gunakan karena metal ekstrim yang dimainkan band ini bukan metal sehari-hari: seakan  melampaui kesiapan benak dan telinga audiens untuk menerima. Lompatan yang tidak saja jauh, tapi amat jauh mendahului zaman. Berkelainan, tidak sama dengan yang sudah ada. Suara gitar yang liar meliuk marah ke sana  kemari dengan kecepatan tinggi, dan tiba tiba berhenti  meledak dan ujug-ujug bersenandung jazzy, clear tanpa distorsi, setelah itu merangsek lagi sebagai serombongan lebah mengamuk, ditingkahi drumming yang pekak memberi tunggangan baik bas maupun vokal yang berteriak parau meledak di saat yang sulit ditebak, bersamaan maupun berpencaran.

Plak!! Cranial Incisored memang menampar, tidak saja dari kebisingan ganjil yang dihasilkannya, tapi juga dari konsep bermusik yang mendesak orang untuk berfikir ulang dalam memaknai musik ekstrim. Beberapa orang bangun dan menggerutu, namun tak kurang pula yang kemudian  mengucek mata dan berkata “Oh iya ya…”.

Berbincang ringan tapi sungguh-sungguh perihal insiden di panggung Testament dalam event Kutai Kartanegara Rock Festival 2014 beberapa waktu silam, saya berhasil membajak gitaris asal Purwokerto ini untuk menceriterakan sedikit mengenai  band-nya yang sejauh ini telah merilis dua album penuh: Rebuild: The Unfinished Interpretation of Irrational Behavior dan Lipan’s Kinetic. Berikut petikannya:

Kapan rilis ulang Rebuild..?

Rebuild (sementara ini) gak dirilis ulang, soalnya masih banyak. Ini sedang diusahakan diimpor, karena sayang barangnya ntar nganggur, sementara disini ndadak (harus) buat lagi sapa yang mau beli? lagian dulu melimpah pada gak mau beli, katanya musik apaan. Ada teman yang jual empat keping CD Rebuild saja lakunya bertahun-tahun. (Orang) maunya everyday music…jadi dikasih musik Cranial dulu pada gitu deh… jadi saya sadar diri dengan musik saya.  udah gak gitu ngarep buyer Indonesia

Apresiasi bagus dari mana?       

Semua yang luar: India, Malaysia, Czech, Russia, Amerika, Japan, France, semua yang pernah order ke saya. Mereka jauh-jauh beli kok.

Ada kemungkinan CI bikin satu album yang everyday metal?

Ndak, wasting time. Hidup Cuma sekali. Buat itu maksimal, semaksimal seolah itu hari terakhir berkarya. Jadi CI bakal berkarya seolah tiada hari esok.

Dibandingkan dulu, orang yang bingung dengan musik CI masih banyak, berkurang, atau sama saja?

Jelas berkurang banyak. Sekarang orang pada order ‘ke masa lalu’, padahal udah mikir lagi jauh ke depan.

Tapi Lucy (maskot Cranial Incisored) makin dikenal ya?

Kalau maskot itu karena konsisten dipakai dan di’branding’ terus. Kalau berganti-ganti artwork terus dalam artian bener-bener berganti dan gak nyambung tema  dan maskotnya ya (bakalan)  ilang juga.

Lagu-lagu CI kan njelimet. Potensi lupa ketika membawakan di atas panggung besar. Benar nggak seperti itu?

Jarang banget, karena telah terbiasa. Jadi rumit atau enggak itu masalah kebiasaan. Justeru kalau chord yang sama terus berulang-ulang saya malah bingung ngingetnya jumlah. Kalau ini nggak pakai jumlah, langsung abis A, B, C, jadi enak.

Foto: Arsip Pribadi HB
Foto: Arsip HB

Bagaimana tanggapan komunitas jazz atas introduksi jazz dan metal seperti dilakukan CI? Ada kisah menarik yang bisa dishare?

Komunitas jazz welcome aja kok, terbukti dari beberapa event jazz mereka juga mengundang / mengajak main di stage mereka. Sudah beberapa kali tapi masih ruang lingkup Jogja yang memang terbukti lebih independen dan open untuk jenis-jenis lain. Itulah asiknya berkesenian di jogja

Reaksi yang menolak adakah?

Kayaknya tidak. Pernah di suatu event jazz (dua hari), kami dapat kesempatan perform di situ yang banyak orang2 tua /konservatif juga. Ada teman mengamati penonton di barisan depan, ada beberapa bapak-bapak tua yang terlihat gak interest,  semacam tidak peduli, saat kami mulai lagu, tapi akhirnya tiap kelar lagu mereka malah yang memberi applause paling keras.

CI seperti mengingatkan bahwa ekstrim metal tidak selalu harus bertema mayat dan darah ya?

Hahaha…mungkin, intinya kami memberi alternatif lain, dari tema yang sudah bnyak bertebaran, another point of view bahwa lirik dengan musik seperti ini bisa ke arah yang lain dan lebih dalam, dengan pemikiran lebih jauh..

Terakhir, dulu panjenengan (anda-Jawa) belajar gitar pertama kali lagu apa yang bisa dikuasai, hahaha..

Ahahahah… saya besar di era Guns N’ Roses, jadi pertama kali belajar ya jelas Sweet Child O’ Mine. Saat itu udah keliatan jago banget kalo bisa intronya itu… tulit lalulit lulilat..hahaha

Pilih Vito Bratta (White Lion) atau Slash (GNR)?

Waduh pilihan berat, saya belajar dari  Slash (GNR)  tapi Vito benar-benar memberi saya ide untuk bermain dengan berbeda… hahaha… OK lah kalo memang harus  pilih salah satu  ya jelas Vito!

Makasih lho…

Nuwun Mas

Advertisements