Interview: Benny Soebardja (The Peels, Sharkmove, Giant Step)

Salah satu dari tiga sampul Piringan Hitam Benny Soebardja terbitan Strawberry Rain, Canada
Sampul Piringan Hitam “Gimme A Piece of Gut Rock” milik Benny Soebardja; Satu dari tiga terbitan ulang album lawas Benny oleh label Strawberry Rain, Canada

Membicarakan dunia musik rock pribumi terkhusus genre progressive rock, orang tak bisa melepaskan diri dari membicarakan dua band fenomenal tanah air Sharkmove dan Giant Step. Keduanya dikenal sebagai pengusung ‘musik rock yang bukan sehari-hari’. Kendati hanya menghasilkan satu album, rilisan Sharkmove Ghede Chokra’s  mendapat pengakuan internasional dengan dirilis kembali dalam format CD dan Piringan Hitam (PH) oleh Shadok, sebuah label berbasis di Jerman.  Sementara Giant Step adalah nama besar dalam musik hingar bingar yang disegani di panggung musik rock 70-an di tanah air.  Tanpa mengecilkan arti dan peran musisi  lain yang pula terlibat di kedua band tadi, Benny Soebardja adalah figur yang memiliki peran sentral sebagai gitaris, vokalis, sekaligus konseptor di balik nama besar keduanya. Lelaki kelahiran Tasikmalaya 1949 ini memang fenomenal. Dalam bermusik, Ia dikenal keras, melaju dengan konsep yang tidak mudah dicerna oleh awam, yang tak komersil. Paruh awal 2012, saya sempat menjumpainya di Den Haag, Belanda tengah sibuk di belakang meja kasir Warung Sate Betawi miliknya yang turut berpartisipasi di ajang Tong Tong Fair, sebuah festival budaya indisch tahunan di negeri kincir itu. Pada awal November 2012 silam saya mewawancarai gitaris veteran ini.  Kurang dari 24 jam setelah wawancara ini berakhir, Benny harus menjalani operasi jantung dan dirawat beberapa hari Rumah Sakit. Berikut petikannya:

Karya anda diapresiasi oleh label Canada Strawberry Rain yang merilis album-album anda dalam format CD dan PH dengan kemasan yang sangat eksklusif. Padahal selama ini karya-karya itu telah lama terkubur dan hanya menjadi rawatan kolektor. Apa komentar anda?

Alhamdulillah ini suatu karunia dari Allah yang patut saya syukuri di saat seluruh hasil karya kami di masa lalu yang nyaris dilupakan tiba tiba ada pemerhati yang notabene bukan berkebangsaan Indonesia memberikan apreasi yang bukan main.  Sungguh saya bangga dan merasa ini adalah pencapaian yang maksimal selama saya menjalani perjalanan musik

Betul, pencapaian maksimal setelah sebelumnya anda  sendiri mengedarkan kembali karya-karya yang pernah anda hasilkan dan mendistribusi pada kalangan terbatas dalam format CDR bercover itu? Sebelumnya juga sempat berembus kabar CD Giant Step Giant on the Move  akan dirilis kembali dan dijual secara bundel dengan sebuah majalah musik, namun pada akhirnya batal. Apa sebenarnya alasan batalnya peredaran album tersebut?

Diedarkannya CD saya adalah semata mata atas permintaan para sahabat jadi tidak ada niat komersil. Mengenai rencana reproduksi Giant On The Move pernah ada yang merencanakan, tapi batal karena cost production-nya tinggi sehingga harga majalahnya (akan) jadi tinggi.

Salah satu hal yang dikenang publik musik 70an tentang anda adalah soal polemik anda dengan Rhoma Irama seputar rock vs dangdut. Tentu wacana yang terjadi semasa anda muda dengan mindset yang berbeda dengan hari ini ketika anda telah bersantan dalam menjalani hidup cukup mengganggu kehidupan anda. Jika ini adalah kesempatan bagi anda untuk terakhir kali memberi klarifikasi  pada publik, apa yang hendak anda katakan?

Itu masa lalu yg penuh dengan dinamika persaingan musik Rock dan Dangdut. Persoalan saya dengan Rhoma Irama sudah lama selesai. Mungkin lebih tepat disebut positioning strategy yang dimanfaatkan oleh pers . Saya sendiri tidak ada hard feeling sama Pak Haji

Anda memasukkan unsur dangdut dalam lagu When I Was 18 Years Old, suatu ramuan psychedelic yang unik dan sangat Indonesia Apa yang ada di benak anda ketika membuatnya?

Saya lebih suka menyebutnya tabla dan terinspirasi oleh musik The Beatles yg bereksperimen dengan musik India

Jadi inspirasinya dari The Inner Lights milik The Beatles?

Yup

Anda berangkat dari band pop ringan The Peels dan tiba tiba kemudian memainkan musik psychedelic bersama Sharkmove. Apa yang menjadikan demikian?

Awal musik The Peels dengan lead vocal yang nyaris mirip Tom Jones dan Engelbert Humperdinck menjadikan The Peels band Pop ringan sampai suatu saat waktu kita terikat kontrak di Singapura, Gumilang keluar karena tergoda untuk bernyanyi solo. Akhirnya saya, Soman, Butje, dan Deddy merubah total bentuk penampilan kami menjadi psychedelic walaupun pada saat itu kami masih bawakan lagu orang. Waktu kami pulang ke tanah air saya dan Soman mengsulkan ke Butje dan Deddy untuk mulai menciptakan lagu sendiri dan berani tampil dengan lagu sendiri tapi. Usulan kami tidak di apresias, makai akhirnya saya bersama Soman memutuskan untuk keluar dari Peels dan membentuk Sharkmove dan mulai menampilkan lagu ciptaan saya My Life, Evil War dan Butterfly, dan Insan. Soman menciptakan lagu Bingung.

Seberapa dekat anda dengan Soman Lubis baik secara personal maupun musikal?

Soman Lubis adalah salah satu sahabat dekat saya di dalam bermusik. Saya sempat kecewa pada saat dia direkrut God Bless yang akhirnya Sharkmove bubar. Tapi satu hari sebelum beliau wafat kami ketemu di Jalan Riau (di pinggir jalan) dan dia menyadari bahw dia salah telah meninggalkan Sharkmove. Almarhum janji untuk menghidupkan lagi Sharkmove setelah kembali dari Jakart a untuk bilang ke Ahmad Albar bahwa dia mau keluar dari God Bless.

Waktu Soman Lubis direkrut God Bless apakah anda tidak menyampaikan keberatan pada para personil God Bless? Dan sebegitu penting dan tak tergantikannya-kah Soman sehingga Sharkmove harus bubar tanpanya? Bukankah anda bisa saja melirik pemain organ yang lain?

Pada saat itu bermusik buat saya hanya sebatas hobby saja karena kegiatan utama saya adalah sebagai mahasiswa (itulah) yang lebih penting, dan diantara kita tidak ada ikatan resmi. Masing-masing bebas untuk keluar atau masuk. Last but not least pada saat itu Soman adalah one of the best keyboardist dan cocok dengan saya

Beralih kini soal gitar: siapa yang pertama kali mengajari anda bermain gitar? Dan gitar apa yang menurut anda paling pas untuk karakter anda?

Waktu saya kelas 5 SD ada tetangga bisa main gitar saya tertarik untuk belajar tapi karena lihat saya anak masih kecil, tetangga tersebut tidak mau ngajarin saya. Akhirnya saya beli buku dasar mengenal chord gitar. Selanjutnya saya belajar sendiri (otodidak). Dulu gitar yang saya sukai Gibson, juga Hoffner,dan sekarang nambah Epiphone dan Ibanez.

Orangtua pernah membelikan gitar untuk anda?

Waktu smp saya dapat hadiah naik kelas gitar akustik buatan Solo murah meriah.

Gitar listrik anda beli sendiri?

Waktu gabung di The Peels kita punya manajer yang memfasilitasi alat , juga sewaktu saya di Sharkmove dan Giant Step. Saya mulai beli gitar sendir merk Ibanez. Sampai sekarang koleksi gitar saya Yamaha, Epiphone, Rickenbacker, dan Fender beli sendiri dari hasil nabung termasuk juga set alat musik

Bagaimana hubungan Giant Step dan band band kota lain seperti AKA maupun SAS juga Superkid dan God Bless? Seperti apa kompetisinya?

Kami bersaing secara sehat dan secara pribadi hubungan kami baik kok sampai sekarang.

Band anda, Giant Step hingga kini menjadi legenda, dengan memainkan musik rock yang bukan straight rock. Tapi ketika Giant Step melempar Geregetan, banyak yang kecewa karena begitu komersilnya. Apakah anda menyesal pernah ada album itu dalam perjalanan Giant Step?

Tanpa ada niat sedikit pun untuk membela diri. Saya akan jelaskan kronologis kenapa Geregetan bisa masuk. Giant Step di formasi terakhir merupakan formasi yang paling demokratis, pada saat rekaman sudah rampung, Judi (boss JK Record) minta dibuatkan lagu ekstra yang lebih komersil. Saya sendiri menolak karena merasa tidak mampu utk memfasilitasi permintaan Judi dan disanggupi oleh Triawan dan memang terbukt (kelak kemudian) sangat sukses setelah direkam ulang oleh Sherina, anaknya Triawan. Secara komersil, Geregetan sangat berhasil, tapi secara karakter sangat tidak cocok dg Giant Step. Akhirnya pembangkangan saya terhadap lagu Geregetan saya perlihatkan kepada JK Record dengan tidak ikut sertanya saya di pembuatan video clip, dan saya putuskan untuk tidak melanjutkan kontrak album yang kedua di JK Record. Tapi apapun yang telah terjadi tidak pernah saya sesali itu  merupakan perjalanan musik kami yang mungkin sudah diatur olehNYA

Sebagai gitaris, adakah saat saat personal ketika anda bertukar tehnik bermain gitar dengan gitaris lain, katakanlah seperti dengan Sunatha Tanjung atau Deddy Dores maupun Ian Antono?

Zaman di tahun 70 an kesempatan untuk itu hampir tidak pernah ada kecuali dengan Deddy Dorres yang kebetulan satu kota dan satu group. Malah di masa sekarang kelihatannya lebih sering ada kesempatan dalam bentuk kolaborasi teknis ataupun tukar fikiran. Saya sering melakukan dengan Rekti The SIGIT, Budjana GIGI ataupun John Paul Ivan ex Boomerang, ataupun dengan Ian Antono yang saya berteman baik.

Salah satu lagu anda Night Train sepertinya berkisah soal pengalaman hidup anda sendiri. Ataukah itu hanya kiasan?

Night Train suatu kiasan dan itu bisa terjadi pada setiap perjalanan hidup semua individu.

Anda pernah diberi label superstar, bahkan nama anda disebut secara menyindir di album Barongs Band. Apa reaksi anda kala itu?

Santai saja karena saya maklum Barongs band kan band baru di Indonesia, sementara Giant Step lebih dulu beken, jadi saya anggap itu hanya taktik promosi cari opini dan memanfaatkan kepopuleran nama Giant Step dan saya tidak terpancing untuk menanggapinya, dan buktinya band itu (Barongs Band) hanya seumur jagung.    Walahuallam.

Sepertinya karir bermusik anda tidak lepas dari sorotan majalah AKTUIL ya, seberapa dekat dan berarti majalah AKTUIL  bagi anda?

Benny Soebardja
Benny Soebardja

Saya dibesarkan oleh PERS terutama Majalah Musik AKTUIL. Tanpa mereka saya tidak ada artinya, dan satu lagi, cover album Sharkmove adalah hasil karya orang creative nya Aktuil Samantha Choq. Hasilnya incredible tidak kalah dengan album Vinyl buatan Inggris sekalipun, dan setelah 40 tahun hasil karya cover album tersebut tetap masih relevan!

Sudah tentu anda sedikit banyak sering keluar masuk kantor redaksi mereka. Apa yang anda kenang dari itu?

Penerimaan bersahabat dan atensi yg tulus seperti Kang Denny Sabri dan kebetulan tempat latihan Giant Step di jalan yang sama dengan kantor AKTUIL yaitu Jalan Lengkong Kecil.

Terakhir: sebagai orang yang kerap jadi narasumber atau object berita, apa yg menurut anda bisa diteladani dari para wartawan dari diri seorang  Denny Sabri?

Denny Sabri adalah sosok yang tangguh konsisten terhadap profesinya, cinta musik Indonesia dan punya mimpi supaya group band Indonesia bisa berbicara di music biz dunia. (Manunggal K. Wardaya)

Advertisements