Testament: The Formation of Damnation

Tak berlebihan untuk menobatkan album ini sebagai album metal terbaik tahun 2008. Dirilis oleh Nuclear Blast, The Formation of Damnation adalah formula yang menggelorakan kembali semangat ke seluruh jagad metal yang tengah mengalami lesu darah. Inilah rilisan paling mutakhir Testament, band yang semakin gahar menggempur scene metal justeru dalam seperempat abad rentang karirnya (dibentuk 1983). Bisa jadi anda belum terlahir saat debut The Legacy (1987) dirilis, namun duapuluh satu tahun setelahnya band asal San Fransisco ini justeru semakin keras, semakin dahsyat. Siapapun yang mengikuti betul perjalanan karir Testament sebagai salah satu aktor penting peletak pondasi thrashmetal tentu akan terkagum, terlebih mengingat band-band yang segenerasi dan sekampung dengannya kini justeru lebih banyak kehilangan wibawa daripada decak kagum.

Berisi 10 track, The Formation…bukanlah album yang tercurah dari ide khayali belaka. Menurut Eric Peterson, seperti halnya warga Amerika yang lain mereka hidup dalam alam politik, eksploitasi terhadap alam, keresahan akibat perang. Semuanya mendatangkan ide dalam penulisan lagu dan lirik, meluncur dengan penuh kejujuran. Orang tak perlu mengerti apa makna lirik yang mereka maksud, namun komposisi musik dalam tiap lagu mempunyai bahasa tersendiri yang bisa dipahami apa yang menjadi pesan dalam setiap nomor.

Killing Season misalnya, didedikasikan untuk para prajurit muda yang mesti berperang dan tak ada pilihan lain kecuali membunuh sesama manusia. Testament memang kerap mendapatkan surat elektronik dari serdadu Amerika yang diterjunkan dalam medan perang. Sementara The Evil Has Landed berkisah mengenai menara kembar WTC yang hancur karena serangan terroris, yang hingga sekarang tak sepenuhnya dipercaya sebagai hasil karya Al Qaeda.

Melihat tampilan cover album ini, saya teringat akan salah satu album fenomenal mereka Practice What You Preach (1989). Suasana langit senja, logo Testament dengan huruf balok yang khas pada hurut T, A, dan T menggiring ingatan akan salah satu album yang kerap disebut sebagai album thrashmetal standar sepanjang masa itu. Namun seperti telah saya deskripsikan di atas, musik yang mereka suguhkan tak membawa orang pada corak yang mereka hadirkan di era 90-an. Testament paruh terakhir dasawarsa pertama abad milenia adalah segerombolan manusia usia empatpuluhtahunan yang menghadirkan musik metal dengan begitu keras, dahsyat, dan memekakkan, jauh melebihi dari apa yang saya rasakan sekira delapanbelas tahun silam ketika pertama kali menyimak The New Order (1988) ataupun Practice What You Preach, album yang membuat mereka dikenal di Indonesia.

Jika mindset anda tentang metal identuk dengan kata kunci ‘shredding’, ‘tapping’ dan atau ‘bending’ yang meliuk-liuk sebagai atraksi utama di setiap nomor, maka Testament bukanlah tempat yang sepenuhnya memenuhi definisi anda. Benar bahwa Alex Skolnick adalah salah satu elemen terpenting dan berharga band ini. Petikannya pada beberapa classic tunes seperti Alone in The Dark, The Legacy, Apocalyptic City adalah referensi wajib siapapun yang bercita-cita menjadi gitaris metal mumpuni. Namun harap diingat, Testament adalah band yang menegaskan bahwa metal yang baik dan benar tidak sekedar solo nan tulalit yang diproduksi lewat segambreng detonator nan distortif. Testament adalah pula riff-riff yang cerdas, menyerang, dan membakar. Testament adalah metal+otak, dan bukan sekedar kecanggihan alat dan teknik apalagi sekedar tampang sangar dan kaus hitam. Dan justeru guitar riffs yang maut itulah yang menjadi identitas utama band yang sekampung dengan Metallica, Anthrax, dan Megadeth ini. Tak mengherankan ketika Skolnick memutuskan untuk quit karena alasan personal dan musikal pada 1992, prediksi bahwa band ini akan limbung bahkan bubar tak pernah terjadi. Band yang awal karirnya memakai nama The Legacy ini tetap perkasa dengan atau tanpa seorang lead guitarist (posisi lead guitarist sempat diisi James Murphy (pernah memperkuat Death) pada album The Gathering), dan Eric Peterson sempat menjadi satu-satunya instrumentalis dalam album Demonic). Testament juga tetap tegar berkibar walau para personil mereka silih berganti hengkang (menyusul Skolnick adalah drummer pertama mereka Louie Clemente yang keluar setelah album The Ritual dan bassis Greg Christian (sempat digantikan oleh Steve DiGiorgio dari Sadus) pada 1996 setelah album Low). The Formation…mengukuhkan bukti bahwa episentrum Testament bukan terletak pada Skolnick semata. Untuk itu pujian dan angkat topi tak bisa tidak mestilah ditujukan pada the riffage king Eric Peterson dan Chuck Billy sang vokalis.

Performa Billy di album ini boleh dikata tak menunjukkan perubahan apalagi penurunan. Billy yang berdarah Indian Cherokee ini memang tidak menerapkan teknik low dan growl sebagaimana pernah dieksperimenkan di album Demonic. Di album ini ia menyemburkan teks dan jiwa lagu dengan teknik campuran antara yang ditampilkannya di album Souls of Black (1991) dan The Gathering (2001) dengan sentuhan lebih berat, walau tentu saja tak melengking seperti di era The Legacy dan The New Order (1988). Billy menunjukkan keunikannya sebagai vokalis metal yang boleh dikata tak bakal disamai dan tak tergantikan oleh vokalis manapun. Untunglah pemilik tubuh penuh tato ini telah semakin pulih dari sakit kanker serius yang dideritanya beberapa tahun silam. Skolnick sendiri menahan diri dari keterlibatan terlalu jauh untuk menulis baik musik maupun lirik. Ia menyadari bahwa Peterson dan Billy bagaimanapun berperan besar dalam mempertahankan bendera Testament tetap berkibar. Oleh karenanya porsi yang lebih besar menurutnya sudah selayaknya diserahkan pada Peterson dan Billy, sementara ia hanya sekedar melengkapi saja. Di album ini, petikan mantan murid Joe Satriani ini masih terdengar maut, namun jauh lebih rumit, jauh dari melodius seperti yang sempat menjadi ciri khasnya.

Adapun Greg Christian juga menunjukkan permainannya yang berkelas. Bassplayer ini memegang peranan penting dalam nomor-nomor keras seperti More Than Meets The Eye. Instrumennya memang tidak diberi porsi yang cukup terdengar seperti pernah ditampilkan dalam Practice What You Preach, Perilous Nation, dan Greenhouse Effect, namun kepiawaiannya mendentumkan empat senar bassnya perlulah diacungi jempol. Tanggungjawab kolektif rhythm section diembannya dengan baik bersama Paul Bostaph, drummer handal bertenaga kuda.

Secara keseluruhan, album ini jelas bukan album yang diproduksi sekenanya sekedar menjadi pelengkap eksistensi sebuah kelompok musik, dan sekedar prasyarat untuk bisa melakukan tour reuni dengan tujuan mengeruk duit. Sebagaimana dikatakan (tepatnya diperingatkan) oleh Skolnick, The Formation… bukanlah album yang dikategorikan sebagai easy listening. Selain benar-benar keras dan bergemuruh, The Formation…adalah tamparan serius bagi mereka yang mengaku metalheads maupun metal bands, bahwa usia yang kian merambat tua bukan pembenar untuk semakin melankolis apalagi komersil! (Manunggal K. Wardaya)

Advertisements