Perihal Bendera

Bendera, dalam wujudnya yang paling konvensional sebenarnyalah tak lebih dari sepotong kain bergambar, atau  berwarna atau paduan keduanya.  Selembar kain yang dinamai bendera menjadi berarti karena makna yang ada padanya. Bendera adalah perlambang, wakil akan sesuatu hal. Bendera negara mewakili segala apa yang ada dalam suatu negara bangsa; sistem politik, kesenian-kebudayaan maupun martabat negara tersebut dalam pergaulan antar bangsa. Bendera klub sepakbola mewakili team kesebelasan dengan segala kisah kejayaan dan jatuh bangunnya. Bendera partai politik melambangkan aneka santiaji, jargon ideologi dan cita-cita politik suatu partai. Semakin lekat orang pada makna yang ada pada sebuah bendera, selembar kain bergambar dan berwarna itu akan menjadi makin berarti. Demikian juga sebaliknya.

Berkibarnya suatu bendera yang memiliki makna asosiasi atau ideologi politik dapat  berujung represi karena dianggap menantang bendera lain yang  punya makna kekuasaan politik tunggal di suatu wilayah. Inilah yang terjadi dengan pengibaran bendera Republik Maluku Selatan, bendera Bintang Kejora di Papua, atau bendera Gerakan Aceh Merdeka sebelum perjanjian damai di Helsinki. Ini juga yang terjadi dengan bendera Partai Rakyat Demokratik yang dibentuk sekelompok anak muda penentang diktataorial Soeharto di era 90-an dulu. Bendera PKI tak lagi berkibar karena PKI resmi dinyatakan sebagai partai terlarang. Bendera-bendera itu menumpahkan darah manusia-manusia pengibarnya, maupun manusia-manusia yang tak ingin ia berkibar. Bendera ternyata pula adalah lambang kuasa.

Bruce Dickinson: FortaRock 2014 Nijmegen
Bruce Dickinson: FortaRock 2014 Nijmegen

Adalah umum untuk menunjukkan rasa memiliki dan bangga pada negara dengan menghadirkan bendera. Drummer Metallica Lars Ulrich dikenal kerap menaruh bendera Denmark di drumsetnya. Bruce Dickinson dari Iron Maiden mengibarkan bendera Inggris terutama ketika band itu membawakan  lagu The Trooper. Mereka para pendaki gunung akan membentangkan bendera di puncak gunung tertinggi, seolah membawa negara yang dibanggakannya ke atas, ke superioritas. Sudah tentu apa yang dibanggakan satu isi kepala belum tentu menjadi kebanggaan isi kepala yang lain. Maka bendera yang menimbulkan rasa tak senang pada seseorang bisa jadi adalah sesuatu yang justeru dibanggakan oleh orang lain. Perang melawan terorisme termasuk di Indonesia sering diklaim sebagai agenda menghancurkan Islam dan dilakukan oleh Israel maupun Amerika, sehingga protes terhadap tindakan demikian sering berujung pada pembakaran bendera Amerika maupun Israel. Dalam hal ini kebencian maupun kecintaan itu sebenarnyalah bukan pada bendera semata, namun pada apa yang diwakili oleh bendera itu. Rasa benci maupun bangga itu sudah tentu sedikit banyak dibentuk karena pengalaman, karena pengetahuan, juga ideologi. Benci dan senang tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena dipelajari. Sadar maupun tidak.

Dalam pengalaman hidupku,  bendera Partai Demokrasi Indonesia di masa Orde Baru pernah terasa seakan-akan bendera partai terlarang dengan risiko  politik terhadap siapa saja yang berani mengibarkannya. Tidak pernah ada larangan terhadap bendera partai itu sebenarnya, dan PDI sebagai sebuah partai resmi juga tak sedang dinyatakan sebagai partai terlarang. Walau begitu kala itu orang tahu belaka: negara kuasa seperti Orde Baru tak pernah memerlukan alasan yang jelas untuk melakukan represi. orang dituntut pandai-pandai menggunakan rasa. Dan rasanya kala itu, mengibarkan bendera PDI sama dengan menentang negara secara terbuka. Markas PDI di Jalan Diponegoro Jakarta baru saja diserang dan dibakar pada 27 Juli 1996. Puluhan orang diduga tewas. Penyebabnya? Partai itu mengusung Megawati sebagai calon Presiden, membuat Soeharto murka karena ada orang yang berani tampil sebagai pesaing Soeharto sebagai satu-satunya calon tunggal Presiden. Dan di masa Orde Baru, penguasa adalah negara itu Sendiri. Mencabar Soehato adalah mencabar negara. Maka mengibarkan bendera PDI atau apapun atribut yang terkait dengan partai ini setelah peristiwa 27 Juli adalah tantangan pada rejim yang dengan aparatnya bisa berbuat apa saja di luar hukum atas nama rust en orde. Beberapa kawan yang mengibarkan bendera ini di atas rumah kost mereka kuingat betul dipaksa oleh pemilik kost untuk menurunkannya. Aku sendiri perlu dengan sengaja berfoto diam-diam membawa bendera PDI bersama seorang kawan sebagai monumen penolakan kami pada represi negara terhadap partai politik. Kami bukan warga PDI, tapi kami sadar bahwa kelak foto itu kelak akan menjadi bukti  betapa pengapnya atmosfir politik Orde Baru .

Berbicara mengenai bendera dalam hidup dan kehidupanku, salah satu bendera yang pertama aku kenal sejak kanak bisa jadi adalah bendera Friesland, nama sebuah provinsi di Negeri Belanda. Mengapa bisa demikian? Sederhana saja jawabnya. Bendera ini aku kenal dari sebuah merek susu yang menggunakan merk Frisian Flag. Lambangnya khas, biru dan bentuk-bentuk hati. Belakangan setelah tinggal di Negeri Belanda aku baru baru menyadari, bahwa lambang yang dipakai susu Frisian Flag adalah bendera Friesland, dan memang seperti itulah rupa benderanya. Kurasa, banyak orang di Indonesia mengenal baik bendera itu tanpa mengerti bahwa apa yang menjadi gambar dalam susu itu adalah bendera sebuah provinsi di Belanda.

0536-2Bendera negara adalah seuatu yang membuat murid sekolah di Indonesia melakukan upacara tiap hari Senin. Dahulunya akupun begitu, setiap hari senin sebagaimana jutaan murid sekolah aku turut serta dalam upacara bendera, menghormat sang merah putih yang dikerek perlahan dari bawah hingga ke ujung, seiring dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan. Dan oleh karenanya banyak murid dihukum karena terlambat dalam upacara bendera, tidak lengkap memakai atribut seperti topi dan dasi. Dan menjadi hal biasa kalau dalam upacara bendera ada kawan yang jatuh pingsan. Bisa jadi lapar, maupun sakit dan tak tahan berdiri beberapa lama. Upacara bendera seperti ini tak pernah dilakukan di sekolah-sekolah di Belanda. Kecintaan pada negara di sini memang tidak dilakukan dengan upacara . Dan memanglah pernah kudengar bahwa upacara bendera yang hingga kini masih dilakukan di Indonesia adalah warisan pemerintahan balatentara Jepang, seremoni yang bernuansa militer. Mungkin berkecocokan degan Indonesia yang pernah dipimpin oleh pemerintahan dengan watak militeristik.

Seumur-umur aku belum pernah menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera, apa yang dikenal dengan singkatan paskibra itu. Peranku dalam upacara bendera paling jauh adalah sebagai petugas pembawa papan bertuliskan Pancasila yang akan dibacakan oleh pembina upacara. Peran remeh itupun sudah membuatku tak karuan hati karena tak percaya diri berdiri sekian lama menghadapi ratusan murid sekolah lainnya. Peran lainnya adalah meniup pianika yang membimbing kelompok paduan suara untuk menyanyikan lagu kebangsaan; Indonesia Raya.

Walau tak pernah menjadi  petugas pengibar bendera, aku tahu bahwa adalah suatu kebanggaan bisa menjadi petugas pengibar bendera. Mereka para murid pengibar bendera biasanya akan lebih dikenal baik oleh guru maupun oleh sesama siswa. Atau sebaliknya, karena sebelumnya telah dikenal guru (entah karena latar belakang alasan apapun) maka lebih mudah bagi seorang siswa untuk menjadi petugas pengibar bendera. Maklum, kuasa untuk menentukan siapa petugas upacara termasuk siapa yang harus mengibarkan bendera diputuskan oleh para guru.  Dalam ingatanku, mereka  yang terpilih menjadi petugas adalah mereka yang bertubuh tinggi dan memiliki kemampuan baris berbaris yang baik. Dua hal ini, setidaknya untuk saat aku sekolah tak kupunyai. Badanku kecil, dan baris berbaris bukan menjadi kesenanganku sekaligus bukan hal yang membuatku senang. Pernah aku mengikuti latihan baris berbaris, dan karena bertubuh kecil, maka aku ditempatkan di depan barisan bersama kawan-kawan lain yang bertubuh kecil. Dan dikarenakan kaki kami yang ada di barisan depan itu adalah kaki-kaki yang pendek, maka lebih cepat pulalah kami melangkah. Ini menimbulkan gerutu dan kutukan dari mulut-mulut kawan kami yang ada di barisan belakang.

Beberapa minggu sebelum aku menulis ini anakku Ananda memberitahu lewat messenger bahwa ia akan menjadi petugas pengibar bendera. Kabar itu tak urung membuatku merasa bangga sebagai orang tua. Dari pasukan pengibar bendera, seorang murid bisa dikenal oleh para guru, dan itu bisa membawa seorang murid lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan sekolah lainnya yang akan berimbas baik pada perjalanan karir si murid. Menjadi petugas pengibar bendera  dapat membuka jalan peluang bagi prestasi si murid. Seonggok kain bernama bendera memang begitu bermakna.

Selain bendera Provinsi Friesland yang telah kusebutkan tadi, bendera asing yang cukup lekat denganku adalah Union Jack, bendera Inggris.  The Beatles yang aku gemari berasal dari Inggris. Bendera itu memiliki kedekatan dengan Inggris, dan oleh karenanya ada kesenangan memilikinya atau memandangnya. Bendera lainnya yang begitu dekat dalam hidupkau adalah bendera Australia. Bertahun-tahun bendera negeri kanguru itu ada di kamarku. Ketika aku begitu berat meninggalkan Australia selesai studi di sana, bendera Australia seakan menjadi pengganti segala sesuatu tentang Australia yang telanjur aku cintai. Sekaligus aku jadi mengerti kemudian bahwa manusia warga negara ternyata tak selalu mencintai hanya satu bendera, satu negara.

Dan ketika aku kecil pula, produk budaya membimbingku untuk mencintai bendera tanah airku, merah putih. Film-film perjuangan menggambarkan betapa pembelaan dan kecintaan pada negara yang baru dilahirkan yang dalam adegan film diekspresikan secara dramatik terhadap bendera negara. Laskar dan tentara republik yang menghancurkan pertahanan pasukan sekutu atau balatentara Belanda digambarkan membawa atribut bendera merah putih. Perobekan bendera Belanda, sang triwarna merah putih biru di Hotel Oranje, Surabaya juga menjadi bagian dari mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang aku terima semasa bersekolah di sekolah dasar. Merah putih biru, tri warna bendera Belanda dirobek oleh rakyat warna birunya, sehingga yang tersisa adalah merah putih, robekan yang dirasakan sebagai  tindak patriotik.

Nenekku mengalami masa kolonialisme Belanda dan ia pernah menceriterakan padaku pengalamannya terkait bendera di masa ketika Belanda tak lagi berkuasa. Dalam sebuah film yang ditontonnya di bioskop, Nenek mengisahkan adanya adegan yang menampilkan sang tri warna yang tengah berkibar dengan iringan Wilhelmus, lagu kebangsaan Belanda. Beberapa penonton sontak dengan sendirinya berdiri dan memberi hormat. Dikisahkan oleh nenekku betapa orang orang, para penonton lainnya, beteriak menyuruh si penghormat bendera itu untuk duduk. Mungkin si pemberi hormat itu lupa kalau kekuasaan Kerajaan Belanda yang diwakili bendera itu sudah tak lagi ada memiliki kuasa di Indonesia, dan oleh karenanya sang tri warna tak perlulah dihormati lagi. Tapi mungkin juga orang yang memberi hormat itu bukan sedang  lupa, melainkan dengan sadar menghormati sesuatu yang ia rasakan seharusnya tetap ada di nusantara; kekuasaan Kerajaan Belanda. Seperti kukatakan tadi, tak semua orang benci pada suatu bendera, tentunya termasuk pada sang tri warna.

Dan demikianlah: sekian lama, di Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda sang tri warna pernah berkibar dengan gagah. Tri warna, kain berwarna tiga bagi banyak orang melambangkan kekuasaan asing yang menghisapi nusantara, dan oleh karenanya dengan sendirinya menjadi sesuatu yang tak disukai. Bagi sebagian lainnya adalah kekuasaan yang memang seharusnya ada dan sah di tanah kepulauan nusantara. Konflik bersenjata mempertahankan kemerdekaan dan perundingan yang berakhir di Den Haag memutuskan; sang tri warna tak lagi berkibar di Indonesia. Itu terjadi 27 Desember 1949 ketika dokumen pengakuan kedaulatan ditandatangani di Amsterdam.

Kini, sang tri warna itu tak lagi berkibar di nusantara, kecuali di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta tentunya.  Namun tri warna yang anggun itu ada di sekitar kehidupanku di sini, di Negeri Belanda yang memang adalah tempat asal muasalnya. Dan ketika piala dunia tengah berlangsung seperti sekarang, bendera merah putih biru berkibar di banyak rumah menunjukkan kebanggaan dan dukungan penghuni rumah pada kesebelasan negeri oranye ini. Selain dalam rangka semangat piala dunia, bendera merah putih biru di minggu-minggu ini banyak kulihat berkibar dengan tas sekolah yang menggantung di ujung tiang bendera. Di Belanda hal seperti itu bermakna bahwa, di rumah yang mengibarkan bendera itu ada anak yang baru saja lulus sekolah. Menggantungkan tas sekolah di ujung tiang bendera yang umumnya dipasang miring di tembok depan rumah adalah tradisi murid sekolah yang baru lulus. Kebiasaan ini berlainan dengan di Indonesia dimana murid sekolah melakukan aksi corat-coret  dengan cat semprot ataupun pada seragamnya setelah kelulusan, sesuatu yang pula aku lakukan duapuluh satu tahun lalu di 1993.

Nijmegen, 15 Juni 2014

Advertisements