Perihal Nama Belakang

Rumah sakit itu terletak di daerah bernama Dekkerswald, sebuah area yang terletak di luar kota Nijmegen. Mencapai ke sana, orang akan melalui jalan raya yang cukup lebar dengan pepohonan yang tumbuh subur di kanan kirinya. Sepintas jalan raya yang membentang di depannya seperti jalur antar kota di Indonesia, hanya sepi dengan kendaraan yang sekali-kali melewati. Sudah setidaknya kali ketiga aku mendatanginya sejak dua setengah tahun terakhir ini aku mendapat ijin tinggal di Belanda. Aku berasal dari Indonesia, dan karena negara asalku ini aku harus menjalani pemeriksaan TBC setiap enam bulan sekali. Bisa jadi, Indonesia termasuk daerah yang rawan TBC sehingga pemerintah Belanda tak mau menanggung resiko akan menularnya penyakit ini kepada warganya. Akupun tak terlalu memusingkan kewajiban pemeriksaan paru ini dengan anggapan akan baik bagiku untuk tahu apakah aku terdeteksi TBC atau tidak. Kalaupun toh aku terdeteksi TBC, maka sependengaranku, aku akan disembuhkan. Tapi syukurlah, sejak tes awal, aku tak pernah dinyatakan terinfeksi TBC.

Untuk sampai ke Dekkerswald sebenarnya dari rumahku bisa ditempuh dengan bersepeda. Tapi aku tak pernah melakukan itu. Setiap kali ke sana, aku selalu menggunakan bis. Setiap kudatangi, cuaca tak pernah bagus. Pertama aku ke sana adalah musim dingin dengan salju yang cukup tebal, Januari 2012. Awal 2013 lalu ketika aku ke sana juga turun salju. Sementara akhir 2013, suhu juga cukup dingin walau belum memasuki winter. Dan pagi tadi ketika kudatang ke sana, hari hujan gerimis cukup deras. Kalau tak kupasang penutup kepala di jaket kedap airku, bisa jadi rambutku akan basah.

Jalan Raya depan Rumahsakit Dekkerswald
Jalan Raya depan Rumahsakit Dekkerswald

Dekkerswald Ziekenhuis begitu nama rumahsakit ini dalam bahasa Belanda tampak begitu sepi dari luar. Tidak ada kesibukan hilir mudik sebagaimana aku biasa saksikan di Indonesia. Tidak ada mobil berjejalan parkir, tak ada orang berjualan mainan anak dan aneka jajan sehat maupun penuh racun dan bahan kimia, apalagi para pengunjung yang membandel dengan merokok di lingkungan rumah sakit. Begitu sepi dan asri ziekenhuis ini dengan jalan masuk beraspal dan jalan untuk pejalan kaki dan pesepeda. Sedalam-dalam udara dihirup ia akan terasa amat menyegarkan rongga dada. Selain kwalitas udara di Belanda umumnya memang amat baik, lingkungan sekitar yang penuh dengan rindangnya pepohonan bisa jadi menyumbang segarnya udara ini.

Dan sebagaimana instruksi di dalam surat panggilan periksa, akupun menuju ke resepsionis menyerahkan surat panggilan itu. “Sistem kami mengatakan anda bernama Wardaya”, perempuan berambut pendek semu hitam berkacamata itu berkata padaku sambil memandangi layar komputer. Aku mengiyakan. Ia terus memandangi layar dan bertanya dari wilayah mana di Indonesia aku berasal, yang segera aku jawab “Midden Java“. Tanpa aku bertanya ia memberitahuku bahwa ayahnya dari Maluku. “Oh ya,” kataku dengan nada bertanya. Aku tak heran karena orang-orang Maluku cukup banyak yang berdiam di Belanda berseiring dengan usainya kekuasaan Belanda di tanah air. Kutanyakan padanya “Wat is uw familie naam?”. Perempuan yang kutaksir telah lebih limapuluh tahun umurnya itu kemudian menyebut sebuah nama sambil menunjukkan kartu pengenalnya. Aku membaca. Nama depannya aku tak ingat. Nama belakang yang merupakan nama keluarganya akupun  tak ingat lagi kini. Ia terlalu cepat menyodorkan dan menariknya kembali. Yang pasti sepintas aku mengenali: itu nama Maluku. Nama Ambon. Singkat ia berkisah, bahwa ia akan ke Indonesia untuk liburan di akhir tahun ini. “Apakah kamu pernah ke Maluku sebelumnya?” aku bertanya. Ia menjawab tak pernah. Kami tahu, kami berada di ruang pelayanan publik. Maka beramah tamah hendaknya secukupnya saja. Ia kemudian memberikan kembali surat panggilanku itu dan mempersilakan aku untuk menuju ke ruang pemeriksaan. Aku pun segera meninggalkannya menuju ke arah yang sudah aku tahu: ruang pemeriksaan.

Pemeriksaan paru di rumahsakit ini tak memakan waktu lama. Kita cukup memencet tombol pemeriksaan rontgen dan petugas akan keluar menjemput, meminta surat panggilan dan menguji apakah kita benar benar orang yang mendapat surat panggilan. Metodenya sederhana: petugas akan bertanya pada kita hal tersederhana; tanggal lahir dan tahun lahir. Ini dilakukan, dugaku, karena bisa jadi orang bisa meminta orang lain untuk menjalani pemeriksaan paru ini. Kalau hal seperti ini terjadi, tentu ini akan membahayakan kesehatan umum. Dan keluar dari ruang pemeriksaan, akupun bergegas berjalan ke luar, kembali melewati resepsionis. Perempuan berambut hitam tadi nampak sedang ada di dalam ruangannya, namun karena keakraban singkat yang baru saja tercipta, akupun merasa perlu berpamitan padanya. Ik ben klaar met rontgen, kataku padanya seraya mengatakan; goede reis naar uw moederland! Ia membalas cepat dengan riang dalam Bahasa Indonesia; “Terimakasih”

Berjalan keluar menuju pemberhentian bis di jalan raya depan sana aku merenungi suasana rumah sakit yang sepi. Pohon di kiri kanan jalan, membuatku teringat akan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Magelang yang kerap kulewati Hanya RSJ Magelang terasa bising dengan lalulintas kendaraan bermesin di depannya. Dekkerswald ini sepi, tanpa ceracau manusia, tanpa tukang parkir tanpa deru mesin. Dan aku merenungi kembali nama belakang petugas resepsionis tadi, perempuan berambut pendek semu hitam, dengan wajah semu Eropa dan Maluku. Nama belakang, nama keluarga, achternaam. Betapa nama itu berharga, tak saja untuk administrasi kependudukan, tapi juga identitas kultural.

Teringat aku dengan sendirinya kemudian akan percakapan dengan kawanku dari Tanzania bernama Josephine Frempong, sekitar lima tahun sebelum kejadian ini di Den Haag. Josephine,  perempuan Tanzania yang tinggal di tempat yang sama denganku, begitu keheranan mengerti bahwa aku tak meemberikan namaku pada nama anakku. Kujelaskan padanya, secara umum orang Indonesia tak mengenal nama keluarga. Hanya etnisitas tertentu saja seperti Batak yang mengenal nama keluarga. Josephine, perempuan berbadan besar dan berkulit hitam itu menunjukkan mimik muka yang tak habis pikir dan heran bukan kepalang. Padaku ia mengatakan dengan sungguh-sungguh, agar aku menaruh namaku pada nama belakang anakku, wanti-wanti darinya yang memang pada akhirnya aku laksanakan pada anakku yang kedua dan ketiga.

Namun, di Indonesia, nama belakang, nama keluarga bukanlah suatu keharusan menurut hukum. Seorang anak bisa saja bernama Michael Pujianto sementara sang ayah bernama Iwan Kuswono dan Ibu Maria Herawati. Tidak halnya dengan di Belanda, nama belakang adalah wajib dan orang tak bisa seenaknya sendiri memberi nama yang dianggapnya bagus dan modern. Nama belakang seorang anak adalah nama belakang salah satu dari orang tuanya, biasanya sang ayah. Hal ini memungkinkan orang untuk melacak family tree yang ada, melalui sistem informasi kependudukan yang bisa diakses di internet.

Seorang kawan Belanda keturunan Turki pernah menanyakan bagaimana aku bisa mengenal mereka yang masih terhitung family, keluarga kalau tidak ada sistem yang membuat kita mengenal anggota keluarga kita? Kuberi jawab padanya; melalui cara konvensional, dengan menceriterakan pada anak-anak kita ABCD yang menjadi keluarga kita. Hal ini pun aku lakukan pada anakku, agar ia mengetahui siapa saja anggota keluarganya, bagaimana riwayatnya dan seterusnya. Artinya, kalau hal itu tidak dilakukan, maka bisa jadi orang yang berhubungan kekerabatan tak akan saling mengenal? tanya kawan Belanda-Turki tadi. Aku membenarkan, dan itu memang yang terjadi pada umumnya di Indonesia.

Sebagaimana Josephine, kawan Belanda-Turki inipun menunjukkan wajah heran yang tak habis-habisnya. Wajahnya yang bersungguh-sungguh menatapku dan mengatakan  hal itu sebagai great loss, kerugian besar. Aku membenarkannya. “Kau kehilangan sesuatu yang amat berharga, identitas kulturalmu dan asal muasalmu. Sungguh tak masuk di akal”. Aku membenarkan katanya, dan sambil menyusuri jalan beraspal Rumahsakit Dekkerswald itupun aku kembali membenarkan segala perkataannya, dan juga perkataan Josephine Friempong. Apa yang mereka katakan mengiang-ngiang, diantara ucapan “Terimakasih” dari mulut perempuan Belanda-Ambon yang barusaja kudengar, mulut orang yang masih memiliki identitas kultur dan akar darimana ia berasal.

Advertisements