Sofyan Hadi (Guitar, Vox DEATH VOMIT): Tentang Proses Pengerjaan Forging A Legacy dan Jungkir Baliknya Seorang Anak Band

Photo: Manunggal K. Wardaya
Photo: Manunggal K. Wardaya

Sekira sepekan sebelum tanggal rilis resminya pada 25 Agustus 2014, saya berkesempatan mendengar beberapa materi album terbaru Death Vomit, Forging A Legacy. Track pertama yang saya uji dengar adalah Decadence of Life yang kebetulan adalah nomor pembuka album ini. Mencekam, pekat, mistikal, merangsek perlahan, dan menghabisi dengan dingin  tanpa harus membabibuta. Ibarat pembunuh berdarah dingin, Devo, demikian band ini biasa disebut, seakan tak hendak terburu-buru mencincang dan menghabisi. Tempo lagu ini mengingatkan saya akan pola-pola oldschool deathmetal. Kuping saya menangkap ketidaklaziman nan sedap di lagu ini; adanya solo gitar yang melodik menyayat tajam di penghujung lagu. Lead maut tersebut  ternyata adalah petikan Dennis Munoz (Solstice/US) yang didaulat Devo sebagai gitaris tamu. Munoz yang juga berkontribusi pada satu nomor lainnya bertajuk Imposing Decade Remains tak pelak menjadi nilai plus rangkuman karya yang sekian lama ditagih-tagih publik metal pada Devo ini.

Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014
Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014

Dua nomor lain yang saya klethak (Jawa: menggigit sesuatu yang keras) Evil Rise dan Murder  mengkonfirmasi; rilisan terbaru band yang telah menghasilkan dua full studio album(masing-masing Eternally Deprecated, 1999 dan The Prophecy, 2006) serta satu DVD (Flames of Hate , 2009) ini memang mematikan. Sembilan (9) lagu didalamnya begitu keras beringas, dikemas secara matang dan terkonsep-terencana. Emosi terartikulasi vokal yang menghantar lirik, berkisah nuansa kejam dalam manifestasi musik yang menghajar terabadi dalam performa sound mantap berjatidiri. Simplisiti tiga piranti yang dirudapaksa dengan kekuatan maksi: bass menggendor, dram yang memberondong hiper ‘dugudugtastas’ serta gitar dan vokal yang saling menggerung dan menggeram. Forging A Legacy, rapsodi muntah kematian!

Sofyan Hadi (39), tenggorokan dan sekaligus penggerung enam senar Death Vomit menyempatkan waktu berbagi kisah dengan saya, Manunggal K. Wardaya (MKW)  berbagai hal di balik pembuatan album Forging A Legacy.  Obrolan kami dimulai dari satu nomor bertajuk Murder, approach yang dilakukan terhadap Dennis Munoz sang gitaris Solstice hingga beberapa penjelasan teknis seputar recording. Sofyan yang menyandang gelar Sarjana Teknologi Pertanian ini menuturkan pula kenangan dirinya atas almarhum Agung, vokalis pertama Death Vomit yang perannya ia gantikan hingga kini sampai refleksi perjalanan hidupnya sebagai anak band  yang menghantarkannya menjadi bagian dari ikon death metal paling berbahaya Kota Jogjakarta.

Perbincangan kami berlangsung dalam mix bahasa, terutama Jawa-Indonesia yang dalam penyajian interview ini sengaja sebisa mungkin saya biarkan apa adanya. Pembicaraan seputar proses di balik pengerjaan album baru ini menjadi semacam nostalgia hal serupa yang juga pernah kami lakukan tak lama setelah selepas Devo melepas The Prophecy (2006) (klik di sini untuk membaca interview tersebut). Berikut obrolannya:

MKW: Apa yang menjadi inspirasi lagu Murder:

1901582_10152246507077922_1675538767_n
Sofyan Hadi & Death Vomit: Kulonprogo Deathfest Photo: taken from Death Vomit Official FB Page

Sofyan: Film Stephen King yang berjudul The Shining. Film itu mengisahkan seorang penulis yang dikasih fasilitas rumah lengkap dengan perlengkapan dan kebutuhannya selama beberapa waktu lamanya tapi terisolasi dengan dunia luar. Akhirnya si penulis mengalami halusinasi, mendengar ‘demented voice’ kemudian berusaha membunuh anak isterinya yang tinggal bersama. Ngeri. Ternyata seseorang berpotensi memiliki ‘cabin fever’ apabila terisolasi cukup lama. Menurut saya sih.

MKW: Wah, medeni tenan (sungguh menakutkan). Mungkin penulis tersebut kurang iman dan takwa ya?[tertawa].

Sofyan: Bisa jadi, wong  penulisnya nggak pernah sholat juga [tertawa]. (Kembali ke Murder) itu take vokal yang paling sukar, apalagi yang njerit paling belakang itu. Harus stabil, ndak boleh munggah mudun (naik turun). Nganyelke pokmen (menyebalkan pokoknya) take lagu itu.

Perbincangan seputar pembunuhan mengerikan yang dituangkan dalam “Murder” ini kemudian disambung dengan renungan berpulangnya vokalis Devormity (Bandung) Raziv Rizal Sidik yang tewas secara mengenaskan karena dibunuh pada paruh pertama 2014. Perbincangan seputar kematian itu membawa kepada renungan lain; kepergian Frank Yudho (Grindbuto, Semarang) yang meninggal dunia akibat serangan jantung.  Sofyan menyatakan bahwa Frank Yudho dan Grindbuto adalah inspirator band-band lokal pada masanya untuk go international. Perbincangan kami lanjutkan: 

MKW: Judul album Forging A Legacy dan artwork dengan gambar tengkorak mengingatkan akan cover dan judul album milik Testament yakni The Legacy (1987) yang secara kebetulan juga mengusung gambar tengkorak. Pernah terpikir seperti itu?

Sofyan: Wah, malah ndak ada kepikiran sampai sana. Judul yang mengusulkan Roy, artwork concept by label. Setelah (cover) direvisi sama band akhirnya deal. Kami udah stress mikirin proses recording jadi ndak kepikiran bikin art sendiri.

Roy Agus (drums),  judul album Forging A Legacy berasal darinya. Photo: Bimo Dp taken from Death Vomit Official FB Page
Roy Agus (drums). Ide penamaan album Forging A Legacy berasal darinya.
Photo: Bimo Dp taken from Death Vomit Official FB Page

MKW: Mungkin ada pernah terpikir cover lain, walau tak pernah teralisasi?

Sofyan: sama sekali ndak ada konsep dari band. Suer! [tertawa]

MKW:  Apa yang anda dapat dari FAL?

Sofyan: Di album ini saya belajar banyak tentang sound, gimana bikin output yang gak mbrebegi (membikin bising) kuping alias nyaman di gemuruh death metal.

MKW: Wah belajar soal sound, adakah kemudian terlintas semacam,katakanlah, penyesalan di pikiran anda seperti, “seharusnya The Prophecy (TP) dulunya dibikin seperti ini, seperti itu?”

Sofyan: The Prophecy biarlah seperti itu. Anggap saja itu proses sampai menjadi seperti sekarang  apalagi (album) itu dikerjakan dadakan, mixing begitu singkat. Album ini (Forging A Legacy) sangat memuaskan kami bertiga. Engineer kerjakan malam, didengarkan dan paginya berubah lagi. Setiap hari seperti itu, finally sampai seperti ini hasilnya. Kurang lebih memakan waktu tiga minggu.

Keinginan untuk tanya jawab seputar FAL sebenarnya sudah saya sampaikan ketika album ini dalam proses pengerjaan. Namun kala itu Sofyan selalu meminta agar interview dilakukan setelah proses rekaman selesai. Beberapa kali ia menyampaikan proses rekaman yang begitu melelahkan. Ini saya tanyakan pula.

MKW: Nggarap album ini kesil (capek sekali) ya?

Sofyan: Tepatnya  menyetresskan.

MKW:  Di titik mana sebenarnya melelahkannya? Karena pada tataran tertentu, recording dalam konteks kekinian bukankah rekaman lebih dimudahkan oleh teknologi. Soal non-teknis mungkin?

Sofyan: Scott Burns philosophy, hahaha. (Sebenarnya) lebih ke masalah proses recording, memilih sound, bermain detail dan lain-lain. Di album  yang dulu kami masih pakai tempo sekira  260. Di album ini  lebih cepat, main di tempo 275. Yang paling mengerikan adalah menghitung jumlah nada di setiap ketukan; ndak boleh lebih ndak boleh kurang. Semakin banyak salah (maka) akan semakin banyak editing dan itu haram hukumnya!

MKW: Efek stress dalam recording album ini bagaimana atau apa saja? Gampang nesu (marah) mungkin?

Sofyan:  Efeknya luarbiasa! Hampir semua personil stress dan rada emosian. Kami hampir terjebak di kondisi itu, sedikit salah paham di antara kami. Salah pahamnya ya gara-gara persoalan teknis seperti proses recording, mixing…ya gitu-gitu.  Ya sudahlah, mungkin harus mengalami seperti itu. Metallica aja demkian, apalagi cuma kami. Satu hal pasti, recording is not fun! Buat pembelajaran, setidaknya next album kami sudah tau apa yang harus disiapkan.

MKW: Biasanya recording itu selesai jam berapa?

Sofyan: Ndak mesti. Kalau siang, bar (setelah) magrib selesai. Pas poso, bar buka rampung bengi (pas bulan puasa, setelah buka puasa, selesai tengah malam).

MKW: Oiya itu recordingnya juga di bulan puasa kok ya

Sofyan: Iya apalagi pas take vocal.. Jadi ngalahi take vocal setelah buka.

MKW: Agar emosi bisa dapat kaya Mille Petrozza dalam Extreme Agression (Kreator, 1989) take vokal itu perlu mood yang baik. piye kuwi, terutama alangane (gimana itu, terutama kendalanya)?

Sofyan: Nah itu dia! biasane saya coba take aja sekali trus ulang lagi. lama-lama dapat sendiri mood-nya. Sama makan jamur crispy. Enak itu!

MKW: Ha? Jamur crispy?? beli dimana tuh??

Photo: John N. Pandia
Photo: John N. Pandia

Sofyan: nang pinggir dalan (di pinggir jalan). Satu kresek enam ribu rupiah. Pernah sehari take vocal dapat tiga lagu, ya gara-gara jamur crispy itu.[tertawa]

Sofyan (Kiri) & Oki (Kanan) take vocal untuk Forging A Legacy. Photo: Death Vomit Official FB Page
Sofyan (kiri) dan Oki (kanan) manakala take vocal;   terbantu jamur crispy
Photo: Death Vomit Official FB Page

MKW: Kalau dibanding dengan rekaman terdahulu dan album ini, apa yang mau dibilang?

Deeds of Flesh: mengilhami The Prophecy
Sumber inspirasi The Prophecy: Deeds of Flesh

Sofyan: Jujur aja, kami coba-coba di The Prophecy  Kami banyak bermain akrobatik instrumen seperti yang dilakukan Deeds of Flesh. Karena waktu TP dibikin, setahu kami belum ada band death metal yang mainin seperti itu. Akhirnya dengan FAL, kami kembali ke selera asal, balik ke death metal seperti yang kami konsep dulu.  Kejem, rodo urakan, serem. FAL matang secara konsep dan sound. Coba dengar track Murder dan feel the emotion, anger, cruelty. ..yang dikemas dalam musik agresif.  (Murder) adalah track yang bener-bener saya suka. Saya pengen audiens bisa merasakan emosi yang sama ketika kami membuat lagu itu.

MKW: Tanggapan audiens sejauh ini?

Sofyan: Kata teman-teman dengar FAL seperti dengar Floridan deathmetal 90-an. Taste-nya saja, bukan komposisi.

MKW: Di lagu Imposing Decade Remains ada hua..hua (maksudnya scream). Suara siapa tuh?

Sofyan: Hua hua-ne (nya) saya yang scream [tertawa].

MKW: By the way, adakah perubahan sound gitar dalam Forging A Legacy ini?

Sofyan: Sedikit. Kalo boleh jujur, sebenarnya sound sekarang ini yang saya cari dari dulu. waktu The Prophecy belum kenal EMG, Mesa Boogie, jadi sound seadanya

MKW: Padahal aku suka sound di Eternally Deprecated. Vintage!

Sofyan: Itu (Eternally Deprecated) ramuan dimarzio, metal zone plus equalizer, Marshall. Hasilnya memang vintage

MKW: Kalau sound sekarang?

Sofyan: EMG 81, Line 6 POD XT3 Live [tube screamer + noise gate + equalizer + modulasi power amp] + Mesa Boogie = high gain

MKW: Menemukan sound kuwi padahal kaya nggolek lahan parkir nang pasar malem ya, wis kebik dinggoni wong (menemukan sound itu padahal seperti mencari lahan parkir di pasar malam ya, sudah penuh dipakai orang)

Sofyan: Betul, kalau dipetani (dicari dengan sungguh-sungguh) di londo sana (mungkin) ada yang kaya gitu juga sound-nya. Itu versi new school-nya Malevolent Creation ‘The Ten Commandment‘. Coba disetel, lak podho (kan sama) [tertawa]. Dulu mikir meh gendeng piye gawe sound kaya kuwi (dulu mikir sampai hampir gila, gimana caranya bikin sound seperti itu)

MKW: Bagaimana proses kontribusi Dennis Munoz di album ini? Dia yang milih lagu yang mau diisi solo gitar atau panjenengan (anda) yang milih buat dia?

Sofyan: Saya yang pilihkan dua lagu itu buat dia. (Setelah itu)  I just sit down, relax, enjoyed my coffee and cigarettes and waited for Munoz’s message.

MKW: Munoz kasih syarat yang aneh-aneh nggak? Trus gimana komentar anda atas solo dia?

Sofyan: Munoz santai-santai aja. Lead Munoz bagus, bisa nyatu sama tema lagu. Jadi lebih bernyawa. Waktu saya kasih sample lagu yang lain, dia komentar: very good songs, good vocalist, quality death metal! Akhirnya saya bilang ke label (Armstretch Records) agar memasukkan quote Munoz tersebut.

MKW: Kenapa harus Munoz? Kenapa nggak Alex Skolnick misalnya

Sofyan: Skolnick is great, but he’s not into death metal. Awalnya saya juga coba-coba. Nek elek (kalau jelek) ya nggak kami pakai. Tapi Munoz menunjukkan kelasnya. Leadnya bener-bener unpredictable . Doi genius kalok urusan membangun nuansa. Lead-nya bener-bener really, trully death metal. Dia mangane (makannya) apa ya kok bisa main gitar kayak gitu??

Obrolan kami kemudian beralih kepada soal penjudulan album ini yakni Forging A Legacy, yang secara bebas diterjemahkan sebagai: Merawat Sebuah Warisan. Saya menanyakan lebih jauh mengenai hal ini.

MKW: Apa makna spiritual Forging A Legacy bagi band members?

Sofyan: Devo adalah warisan dari almarhum Agung sebagai original member.  Kami bertiga sekarang ini, istilahnya cumak diwarisi ‘iki tak tinggali band, cah, dijaga, dipertahanke, lan digawe sangar..’ (Aku wariskan band ini, kawan, jagalah, pertahankanlah, bikin sangar). Kira-kira seperti itu kata beliaunya sekiranya masih hidup. (Sama) seperti kita dapat warisan dari ortu, or njenengan (anda) kasih saya CD. Ya wis dijaga dengan baik. Aja didol (jangan dijual). Saya yakin almarhum Agung di alam sono bakal seneng dengan album ini. I am sure!

Sekedar pengingat, sebelum memegang kendali mikrofon, posisi vokalis Death Vomit dipegang oleh Dwi Wulan Agung Widodo (Agung). Bersama Agung, Death Vomit menghasilkan album Eternally Deprecated. Agung yang kelahiran 1977 itu wafat pada 2000 dikarenakan drugs, sebuah kepergian yang amat berat dirasakan oleh Devo. Walau begitu  Death Vomit memutuskan meneruskan band ini dengan memberi tanggung jawab tambahan pada Sofyan: menjadi vokalis. 

Death Vomit, di Tamansari, Yogyakarta. Paling depan berjongkok adalah Agung . Berdiri ki-ka: Roy Agus P (drums), Sofyan Hadi (guitars), Aryudha (bass)
Death Vomit, di Tamansari, Yogyakarta. Paling depan berjongkok adalah Agung . Berdiri ki-ka: Roy Agus P (drums), Sofyan Hadi (guitars), Aryudha (bass)

MKW: Seperti apa kenangan terakhir dengan Agung?

Sofyan: Agung meninggal Sabtu pagi. Kamis malam dia nginep di kos saya. Jam 1 dinihari dia ngajak saya makan soto. (Jam segitu) jelas gak ada warung buka. Saya bilang ke dia: ‘sesuk esuk wae (besok pagi saja), Gung’. Akhirnya dia diem, masuk kamar saya dan muter Testament ‘The Legacy’ [nomor ballada, album Souls of Black]. Duduk ndekep (memeluk) kakinya yang dilipat ke atas, kepalanya nunduk di sela-sela lututnya. Pagi- pagi dia pulang sebelum saya bangun.  Dia sempat  ketemu teman kos saya dan minta rokok ke temen saya itu. Berhubung temen saya gak punya rokok, dia bagi rokoknya buat almarhum. Joinan ceritane. Tapi almarhum ga mau. trus pamit pulang. dan minta dipamitin ke saya. Setelah malam itu (Kamis malam dan Jum’at dinihari) saya gak ketemu dia lagi, sampai akhirnya dapat berita dia meninggal. Sabtu pagi kurang lebih jam 7-an.

MKW: Reaksi anda waktu dengar ia telah tiada?

Sofyan: kaget, marah, sedih… campur jadi satu

Sofyan & Agung onstage. Tinggal Kenangan

MKW: Di mana makam beliau Agung?

Sofyan: Almarhum dimakamkan di daerah Kepuh, Jogjakarta.

MKW: Kemaren-kemaren sebelum release Forging sudah nengok makamnya?

Sofyan: Udah, saya sama Oki  berdua. Roy sendirian sekalian ngecat nisan almarhum.

MKW: Ada semacam pertanggungjawaban eksistensi terhadap almarhum ya?

Sofyan: Ya kira-kira begitulah kira-kira, Pak. Toh tinggalane (warisan, amanat) nya nggak berat, main band. Dan kami juga suka.

MKW: Bagaimana sebenarnya ceriteranya sampai anda bergabung dengan Devo?

Sofyan: Tahun 1998 almarhum Agung dan Camel nawarin saya masuk Devo. Pertimbangan mereka klarena saya punya gitar dan efek sendiri… hahaha. Jaman semana (segitu) anak band susah punya alat sendiri. Kalau latian ya pake studio, kalo di panggung ya pake alat (punya) panitia. Yen ora yo nyilih kancane (kalau enggak ya pinjam punya teman). Orang petentang petenteng di jalan bawa gitar udah wow banget jaman semana. Nek saiki malah isin (kalau sekarang malah malu) [tertawa].

MKW: duit efek dari mana itu belinya?

Sofyan: duit dari….mmmm…uang SPP kuliah [tertawa]. Sekolah nek (kalau) lempeng-lempeng aja kayane kurang asik. Nek wis kepepet kudu bayar SPP, itu yg bener-bener memacu adrenalin [tertawa]. Duit SPP kebanyakan habis buat beli rekaman fisik, korespondensi band, dan beli efek.

Sofyan menuturkan kemudian bahwa sebelum bergabung Devo, ia termasuk salah satu fans Death Vomit, band yang ia kenang sebagai ‘bahaya’ dan ‘medeni’. Pernah suatu ketika ia bersama teman-temannya di band Burial menggelar event underground bertajuk TOTAL DEATH di Taman Hiburan Rakyat Solo dan Death Vomit salah satu penampil kala itu meng-cover lagu milik Altar yang berjudul Throne of Fire. Penampilan Devo kala itu begitu mengesankannya. “Ugal-ugalan,” kata gitaris yang coffee addict dan perokok ini mengenang. 

MKW: Punya pengalaman ngelapak di event-event underground?

Sofyan: Saya belum pernah. Roy dulu yang sering ngelapak kalo ada event.

MKW: Nol pengalaman ngelapak ya?

Sofyan: Nol puthul (nol besar, sama sekali tak ada)

MKW: Terus sebelum bergabung Devo, sebenarnya anda di band apa? dan apa tidak canggung kemudian ketika anda menggantikan peran Agung dengan  nyambi gitar dan vokal?

Sofyan: Sebelum Devo, di band-band saya sebelumnya ndilalah (kebetulan) udah di posisi gitar vokal. Sebelum Devo ada Burial (yang sebenarnya singkatan dari mburi alun-alun, belakang alun-alun Klaten), trus Obscure of Disfigured. Baru setelah itu trus ke Devo. Jadi manggung ya biasa wae (biasa saja), karena sebelumnya memang udah pernah manggung posisi gitar vokal

MKW: Sampai 2014 ini Devo masih aktif, masih eksis, sementara di crowd Devo sekarang yang jumpalitan bisa jadi adalah mereka yang baru lahir ketika Devo berdiri di tengah 90-an dulu. Piye rasane (gimana rasanya)?

Crowd Death Vomit di Alun-alun Yogyakarta. Photo: Bimo Dp, taken from Death Vomit Official FB page
Crowd Death Vomit: banyak diantaranya lahir di era 90-an ketika Devo mulai eksis
Photo: Bimo Dp, taken from Death Vomit Official FB page

Sofyan:  Ya seneng-seneng aja sih.  Lha sing tuwek-tuwek mesti mung pada sidakep thok nek nonton. Nggih Mboten? (yang tua-tua paling hanya melipat tangan kalau menonton. Betul apa tidak?). Pemikiran saya malah ndak sampai ke sana. Ndak pernah mikir batasan umur, biarpun kenyataannya betul seperti kata panjenengan  kalau crowd Devo (kini) banyak diantaranya anak-anak yang lahir di generasi 90-an. Ya let it flow aja lah. Kalau (saya) nggak salah pergaulan, mungkin nggak seperti ini. [tertawa]

MKW: Sebenernya kalau jadi ‘orang bener’ anda itu cita-citanya apa?

Sofyan: Back to the past. Dulu waktu sekolah di SMP N 1 Solo,  pernah ada pelajaran Bimbingan Penyuluhan (BP).  Semua murid harus punya buku besar yang isinya biodata, hobi, dan semua hal terkait perkembangan murid. Mungkin maksud sang guru agar enak dalam memilih penjurusan nantinya di SMA. Waktu itu teman-teman sebaya saya masih dengerin GNR, Bon Jovi, lan sakpanunggalane (dan sebagainya) dan saya udah dengerin Jupri (maksudnya Judas Priest), Iron Maiden, dan Kreator. Teman-teman isi cita-cita di buku BP-nya seperti  apa yang sering kita dengar dari mulut anak kecil such as; pilot, insinyur.

MKW: Panjenengan ngisi apa?

Sofyan: Saya sebagai ‘cah (anak) metal pasti  tengsin berat kalau cita-cita saya sama dengan mereka.  Maka di buku BP saya tulis cita-cita saya, dan masih saya ingat sampai sekarang: ‘menjadi penyanyi musik rock. Hal yang paling disukai: mendengar musik rock keras-keras. Hal yang paling tidak disukai: mendengarkan musik rock keras-keras dan diganggu.’ Dan sampai sekarang saya malah ndak tau apa cita-cita saya. Tapi kalau saya reunian, teman-teman bilang, saya yang paling berhasil dengan cita-cita saya seperti yang pernah kami tulis di buku BP.  Saya (diantara teman-teman) jadi the most extraordinary people.

MKW: Betul, berkesenian termasuk bermusik adalah jalan kemanusiaan.

Sofyan: Kadang saya pikir, mereka ordinary people harus nabung bertahun-tahun untuk sekedar piknik ke Australia dan (mungkin) belum kelakon (tercapai) sampai sekarang. Sementara kami, hanya dengan main band telah ke sana. Dan saya bangga sekali, Pak!

(Death Vomit menggelar Australia tour pada paruh akhir 2010. Mereka membabat beberapa kota, antaranya Melbourne, Geelong, Brisbane, Perth, dan Sydney, termasuk menjadi opening act bagi  Napalm Death. Adalah Jason Hutagalung dari Xenophobic yang pula berperan tak kecil dalam perjalanan mereka di benua Kangguru itu. Dalam gelaran Rock In Solo 2014, pula Death Vomit kembali dipercaya untuk menjadi salah satu band penghantar penampilan pamungkas legenda  extreme metal asal Liverpool; Carcass.

Sepanggung Bersama Napalm Death serta Dying Fetus. Photo: Jason Hutagalung
Sepanggung Bersama Napalm Death serta Dying Fetus.
Photo: Jason Hutagalung

MKW: Arep mbuka Carcass isa turu pora (mau membuka Carcass, bisa tidur tidak)?

Sofyan: Kaya ngimpi rasane. Padahal mung (hanya) pingin nonton kok malah mbukak?? nasib…nasib!!

MKW: Anda bertiga di Death Vomit mandi keringat dan darah untuk itu. Kalau anda tidak seperti itu, mungkin anda tidak akan sampai ke sana.

Sofyan: Iya, kadang terharu sendiri ingat perjuangan bersama teman-teman njungkir njempalik (jungkir balik) agar band ini tetap eksis. Saya anggap ini bonus dari Gusti Allah atas njungkir njempaliknya kami.

ROCK IN SOLO 2014 Photo: Abah Supriyanto of WARKVULT

MKW: Pengalaman anda naik panggung pertama kali itu kapan? Bisa diceriterakan?

Sofyan: Pertama main malam taun baru th 92. thrash-thrasan (istilah lazim kala itu untuk musik metal paling keras). Kita main Kreator, Necrodeath dll ditonton sama bapak dan ibu saya. Beliau berdua payungan nonton anaknya main band.. mengharukan ya Pak [tertawa]. Oya, saya main band itu pertama kali nge-drum..[tertawa] 

MKW: Lho ternyata mantan drummis toh? [tertawa]

Sofyan: Iya, dan ternyata susah main drum, apalagi dobel pedal. semenit, dua menit masih konstan.. menit berikutnya jadi bareng pedalnya, bukan kanan kiri lagi [tertawa]

MKW: Wah mainnya di mana itu?

Sofyan: Wektu itu main di lapangan kota barat Solo [yg taun 2013 dipake Rock In Solo].  Main tengah-tengah, hujan-hujan, bassist saya kesetrum bass-nya sendiri… [tertawa].  Bayarane rokok Crystal satu slop!

MKW: Trus komentar orang tua?

Sofyan: Saya malah ndak tau kalau ortu nonton, taunya dikandani kanca (diberi tahu teman). Rampung acara saya ketemu bapak ibu. Bapak ndak ngendika (berkata) apa-apa, cuma dari raut wajahnya terlihat seneng. Seneng dalam artian anake duwe hobi positip (anaknya punya hobi positif). Tapi saya yakin sekali bapak juga bakal marah kalau anake kejeron (terlalu dalam) di musik, sekolah dadi suwi (jadi lama) [tertawa]

Ayah Sofyan tidak sempat menyaksikan karir bermusik anaknya di Death Vomit. Pada 1994 karyawan Pabrik Gula Colomadu itu dipanggil Tuhan karena kecelakaan lalulintas. Kepergian sang ayah membuat ibunya harus menghidupi diri dan ketiga adiknya yang masih amat membutuhkan biaya pendidikan. Namun begitu alumni SMA N 1 Solo ini mengakui, ia termasuk anak yang bandel, terus bermain band sehingga kuliahnya berlarut-larut.  Rasa bersalahnya terbayar ketika pada suatu ketika sang ibu ditemani adiknya menghadiri wisuda sarjananya.

Sofyan Hadi:
“Kalau reunian, teman-teman bilang saya yang paling sukses dengan cita-cita saya”
Photo: taken from Death Vomit Official FB Page

MKW: Anda punya team di belakang panggung yang juga hebat dan mereka pula bagian dari kebersamaan Devo.

Sofyan: Betul Pak, nggak pernah membayangkan sebelumnya.  Sekarang band (Devo) punya alat sak harag-harag (setumpuk), punya management, isa mbayari (bisa membayar) kru, yah biarpun nggak banyak.

Equipment Death Vomit Photo: John R.P taken from Death Vomit official FB Page
Equipment Death Vomit
Photo: John R.P taken from Death Vomit official FB Page

MKW: betul, karena undangan show bagaimanapun tergantung musim dan ada tidaknya yang mengundang. Kalau Devo tidak bersungguh-sungguh/berdedikasi dalam berkarya, ya nggak ada yang undang. Tujune panjenengan tenanan (untunglah anda  dan Devo bersungguh-sungguh).

Sofyan: Leres (betul) Pak. Ralat, rada sungguh-sungguh. Kalau sungguh-sungguh kami sudah punya album setiap dua tahun.

Sofyan membaca buku NADA TJERITA. Latar belakang adalah koleksi rekaman fisiknya berupa kaset. Selain kaset ia dikenal mengoleksi berbagai rekaman fisik dalam format CD & piringan hitam aneka genre.
Sofyan & buku NADA TJERITA. Latar belakang adalah koleksi rekaman fisiknya berupa kaset. Deretan atas adalah koleksi rilisan YESS Record. Ia dikenal mengoleksi berbagai rekaman fisik dalam format CD & piringan hitam aneka genre.

MKW: Iya, Forging A Legacy ini studio album ke-tiga toh?

SofyanLeres, dan jedanya sama The Prophecy hladalaaah…..delapan tahun!

MKW: Ana rasa isin jane ya (ada rasa malu sebenarnya ya) ?:

Sofyan: isin lah, apalagi dibanding Siksakubur yang hampir tiap tahun rilis album. Tapi kami selalu punya alasan untuk berkilah: ‘memantapkan konsep untuk album selanjutnya’ [tertawa]. Jan-jane  keset (sebetulnya karena malas). Makanya kemaren kita stress berat sampai ada sedikit salah paham. Udah delay delapan tahun, nek albume elek (kalau albumnya jelek) orang akan komentar: lha gene mung kaya ngene (ternyata kok hanya begini saja) percuma delay delapan taun. [MANUNGGAL K WARDAYA]

Advertisements