MR BIG: Nostalgia Delapan Belas Tahun

Lebih delapan belas tahun silam di bulan Mei tahun 1996 kota Purwokerto kutinggalkan. Pagi benar ketika alam raya masih gelap dan dingin, aku telah berada di dalam gerbong KA Purbaya, kereta api ekonomi dengan tujuan akhir Surabaya. Surabaya pulalah yang menjadi tujuan akhir kepergianku untuk menyaksikan pertunjukan MR BIG, band hard rock asal Los Angeles, California yang  untuk pertama kalinya akan tampil di Indonesia. Perlu tak kurang dari duabelas jam waktu tempuh kereta api menyusuri kota-kota besar kecil di pantai Selatan Jawa Tengah dan jalur tengah Jawa Timur untuk sampai Stasiun Surabaya Gubeng sejak keberangkatkan dari Purwokerto pada pukul enam pagi. Duapuluh satu tahun umurku waktu itu, dengan status mahasiswa dan tiada beban apapun menghalangi untuk pergi kemana suka termasuk bepergian jauh demi menghadiri sebuah rock show seperti ini.

hey-man-4e9a250467f3fWalau band ini sudah kukenal sejak SMA, tak satupun dari empat albumnya yang telah ada saat itu yang masuk dalam daftar koleksi. Awal 90-an uang saku yang kupunya lebih banyak kugunakan membeli rekaman-rekaman metal yang jauh lebih keras seperti Sepultura maupun Kreator. Lagu-lagu MR BIG yang masuk wilayah hard rock atau heavymetal hanya kukenal dari radio dan dari video clip yang ditayangkan sebuah channel televisi di Asia, yang aku lupa namanya. Sekitar 1991 pernah aku merekam salah satu video clipnya; Green Tinted Sixteen Mind entah dari Channel V entah TV3 Malaysia. Video clip musik masih menjadi sesuatu yang amat berarti dan merekamnya dari televisi bukan urusan yang bisa dikerjakan setiap orang, mengingat tak setiap rumah tangga memiliki alat perekam video. Televisi swasta di Indonesia kala itu belum berkembang, dan kalaupun sudah ada belum menyebarluas daya pancarnya ke berbagai daerah, termasuk kota kecil dimana aku tinggal  Beberapa lagu MR BIG menjadi hits dunia dan juga di Indonesia, seperti To Be With You maupun Wild World. Yang terakhir ini adalah lagu Cat Stevens yang kembali populer dibawakan oleh mereka di album Bump Ahead.  Lagu mereka Goin’ Where The Wind Blows begitu terkenalnya di Indonesia dan kerap diputar di berbagai radio termasuk di kotaku.  Pertimbangan bahwa MR BIG adalah band berskala internasional membuatku memutuskan untuk pergi menontonnya walau dengan bekal pengetahuan yang minimal akan band ini.

Gelora 10 November1
Halaman Depan Pintu Masuk Stadion Tambaksari Surabaya

Jam berapa MR BIG tampil Surabaya, aku tak ingat betul. Akan tetapi yang pasti, aku sudah ada di pelataran Stadion Tambaksari sekitar pukul tiga sore. Sesampaiku di sana, sekitaran stadion telah bertebaran anak muda penggemar musik keras. Namun begitu, berbeda dengan show Sepultura  sekira empat tahun sebelumnya yang  juga aku datangi di stadion yang sama, para penonton show MR BIG kala itu lebih terlihat lebih santai, dengan pakaian yang lebih bersih dan hampir-hampir tak terlihat penonton dengan penampilan dekil dan kumal.  Sambil menunggu pintu stadion dibuka, aku duduk-duduk bersama dengan beberapa orang remaja yang seusiaku yang seingatku berasal dari Madiun. Salah seorang diantaranya kuingat nampak begitu paham lagu-lagu MR BIG. Ia dengan tepat  menyebut judul lagu ketika dari dalam stadion terdengar sebuah lagu dimainkan oleh MR BIG yang tengah melakukan  soundchek. Aku tak tahu apa judul lagu itu, yang di kemudian hari aku tahu benar, Daddy, Brother, Lover, Little Boy.

Menjadi pembuka show pada 1996 itu adalah Boomerang, band yang berasal dari kota setempat; Surabaya. Boomerang yang beranggotakan empat orang berambut panjang itu cukup sukses membuka show di kandang mereka sendiri ketika hari masih terhitung sore dan terang matahari masih bersinar. Penonton berlompatan dan turut bernyanyi di Surabaya yang telah meredup teriknya panas siang hari. Mei adalah bulan cerah, bukan penghujan dan oleh karenanya amat baik untuk sebuah rock show di udara terbuka. Roy Jeconiah sang vokalis begitu menguasai panggung sekaligus amat komunikatif dengan masa, dan aksi Boomerang  atraktif menjadikan penonton semakin hangat untuk segera menyambut atraksi utama. Tak ingat aku berapa lagu yang mereka bawakan, tapi yang pasti adalah karya mereka yang dikenal seperti Kisah dan Bawalah Aku.

australiaBoomerang adalah satu-satunya band pembuka di gelaran show dengan harga tanda masuk sebesar sepuluh ribu rupiah itu. Jeda waktu antara Boomerang dan MR BIG seingatku sekitar satu jam,  setidaknya melewati waktu azan magrib sampai akhirnya empat  empat musisi MR BIG memasuki pangung sekira pukul tujuh. Tidak sukar bagiku untuk menjangkau barisan terdepan panggung. Jarak antar penonton cukup longgar, dan tidak ada atraksi slam dance maupun moshing sebagaimana show Sepultura empat tahun sebelumnya di tempat sama. Posisi menonton yang kupilih berada tepat di depan panggung sebelah kiri, di hadapan Billy Sheehan, sang pemain bass. Walau ada jarak yang cukup lumayan antara penonton dan panggung, situasi di di depan panggung benar-benar tenang. Para penonton seperti tersihir, melipat tangan dan memandang ke panggung terkagum oleh atraksi yang dipertontonkan band ini. MR BIG memanglah bukan band untuk dinikmati dengan bergoyang badan, tapi untuk dipelajari dan dinikmati performa skill luarbiasa yang ditampilkan para pemainnya. Ia adalah prototipe bagaimana sebuah band rock harus tampil dan berkemampuan. Mereka anak band 90-an bermimpi bisa bermain selihai Paul Gilbert dan mampu melakukan tapping di Green Tinted Sixties Mind adalah suatu kebanggaan.

Buatku sendiri berkesempatan menyaksikan Billy Sheehan dari  jarak yang hanya sepelemparan kerikil adalah pengalaman yang  amat sangat membekas. Beberapa tahun sebelumnya, aku pernah membaca tentangnya di kolom musik Majalah HAI, yang kala itu menjadi rujukan musik remaja Indonesia. Lebih dari itu, menyaksikan permainan bassplayer yang pernah mendukung David Lee Roth dan Steve Vai  ini begitu menyadarkanku akan pentingnya sekaligus betapa dahsyatnya potensi yang ada dalam sebuah instrumen musik bernama bass guitar yang sebelumnya seakan bukan hal yang penting. Permainan Billy malam itu membuatku pahan bahwa bass bukan sekedar pelengkap dalam sebuah lagu, dalam sebuah band namun turut mengendalikan dan memimpin terlebih jika dimainkan dengan skill yang maksimal  sebagaimana ditunjukkan di lagu Addicted to That Rush atau Colorado Bulldog.  Di tangannya bass begitu mendentum, dimainkan dengan segala gaya dan cara, dipukul, dibenturkan kepala.

Salah satu encore malam itu apalagi kalau bukan Daddy Brother Little Boy, karena di lagu inilah baik Billy maupun Paul Gilbert memainkan instumen mereka dengan electric drill alias bor listrik. Yang kukenang dari lagu ini adalah betapa ketika mereka telah selesai memainkan bor di gitar maupun bass, bor itu dilempar ke belakang tanpa mereka berdua memandang ke belakang, dan kru dengan sigap menangkap bor tersebut dengan tangan. Apakah aku salah lihat? Atau salah ingat? Entahlah, tapi sepanjang aku mampu mengingat hal itu yang terjadi.  Lagu-lagu dalam album terbaru mereka Hey Man seperti Take Cover cukup banyak dimainkan termasuk lagu Hey Man yang bercorak blues dalam ramuan rock yang keras dimainkan dalam set malam itu. Sudah tentu Goin’ Where The Wind Blows yang menjadi hits dimainkan pula.  Tata panggung MR BIG sederhana saja, hanya menjadi unik dengan adanya manusia jerami  yag diletakkan di dekat drum set, manusia jerami yang sama dalam sampul muka album Hey Man.

Eric Martin memperkenalkan satu persatu anggota band mulai dari Paul Gilbert, Pat Torpey dan Billy Sheehan.  Penonton umumnya telah hafal satu persatu nama personil berlomba menyebutkan nama, dan itu yang kemudian menjadi jebakan Eric untuk masuk lagu berikutnya, To Be With You. “And I am?” teriaknya seakan bertanya dan menguji. Sontak penonton membalas dan meneriakkan nama lengkapnya, sementara Eric melanjutkan “The One, Who Wants to be with you”. Barulah penonton sadar telah tertipu dan kemudian menyanyikan lagu paling terkenal dari MR BIG itu. Belakangan setelah kupelajari dari rekaman-rekama live MR BIG, trik seperti ini memang sering dilakukan Eric Martin. Hal menarik yang kuingat di show 1996 itu adalah ketika masing-masing personil berganti peran; Eric Martin dalam posisi gitar, Pat Torpey memainkan bass, Paul Gilbert di belakang drums dan Billy Sheehan yang bernyanyi. Aku tak tahu lagu apa yang dinyanyikan kala itu, dan belakangan kutahu, itu adalah Suffragete City dari David Bowie.

Show MR BIG di Stadion Tambaksari Surabaya yang cukup dipadati penonton begitu sukses. Stadion memang tak sepenuh  sewaktu konser Sepultura, akan tetapi pertunjukan musik yang mengambil tempat di  stadion sepakbola  dengan kapasitas puluhan ribu manusia itu  adalah petunjuk bahwa show MR BIG di tahun 1996 itu begitu istimewa. Surabaya dipilih barangkali karena pertimbangan kota itu yang berpredikat kota rock/metal di tahun 80-90an.  Di  tengah pertunjukan aku sempat berkenalan dengan dua mahasiswi Universitas Airlangga, dan hingga kini kami masih berteman baik, walau hanya terhibung lewat telpon atau media sosial. Keluar dari Stadion Tambaksari aku sempat membeli stiker yang kala itu dijual seharga limaratus rupiah, harga yang tak murah mengingat sebungkus rokok filter dalam konteks tahun 1996 seingatku lebih kurang berharga sama. Terharu biru dengan MR BIG seusai show itu, aku segera mencari-cari dan membeli aneka album mereka di toko musik. Beberapa CD berhasil aku dapatkan di Surabaya keesokan harinya. Banyak diantaranya aku dapatkan kemudian melalui teman, dan juga dengan bertukar dengan kawan seperti album-album live Raw Like Sushi yang hanya dikeluarkan untuk pasar Jepang.1014123_10152016721568823_239517911_n

Delapanbelas tahun telah berlalu sejak aku mengetik tulisan ini, dan pengalaman  menonton show salah satu band hardrock terbaik dunia yang begitu berkesan itu itupun terulang kembali  sore kemarin. Pukul empat sore lebih sedikit, aku kembali berkereta api menuju kota dimana MR BIG akan tampil.  Setasiun keberangkatanku bukanlah Purwokerto, melainkan Nijmegen. Tujuanku adalah Utrecht, kota di mana MR BIG tampil dalam pertunjukan kedua rangkaian European Tour 2014 mereka.Waktu tempuh kereta api yang membawaku ke Utrecht hanya sekitar empatpuluh lima menit saja. Aku tak sendirian, karen berlima dengan kawanku yang lain, Christantie, Ridho, Johandan Ichsan, kami menuju Tivoli Vredenburg, venue dimana MR BIG tampil, yang berjarak tiga menit berjalan kaki dari Stasiun Utrecht Centraal. Jika tiket MR BIG di Surabaya tahun 1996 adalah sepuiuh ribu rupiah, maka tiket di Utrecht ini adalah  30 Euro, atau setara dengan sekitar empatratus limapuluh ribu rupiah.Tak seperti di 1996, mendatangi show MR BIG kali ini, aku adalah  penggemar dengan koleksi album mereka yang cukup lengkap.

Lebih delapan belas tahun telah berlalu, dan kedahsyatan yang pernah dipertontonkan band yang di awal karirnya menjadi band pembuka RUSH ini di luar dugaanku sungguh tiada berubah. MR BIG masih perkasa, dan mengguncang. Tadinya aku menduga, seiring bertambahnya umur, performa mereka pasti akan berkurang. Setidaknya hal ini paling mudah menimpa Eric Martin sang vokalis, karena bagaimanapun bernyanyi terkait dengan power. Namun ternyata aku salah sangka. Berbagai nomor klasik seperti Daddy Brother Little Boy, dan juga Green Tinted Sixties Mind  serta Colorado Bulldog dimainkan dengan begitu bagusnya. Eric masih bertenaga dan bahkan ia masih melengkingkan suara-suara tinggi.  Billy Sheehan tampil dengan rambut dikuncir dan begitu lincah enerjik memainikan bass Yamaha-nya. Demikian juga Paul Gilbert, mahaguru gitar yang menjadi sesembahan para gitaris ini masih tampil trengginas memamerkan teknik tapping dan shredding. Paul dan Billy bercelana kulit dan bersepatu boot, sementara Eric Martin lebih kasual dengan sepatu sneaker.

Hal lain  yang tak terlupa dari show malam itu adalah bahwa sakitnya sang drummer Pat Torpey membuat posisinya dalam tour kali ini harus digantikan oleh additional drummer, Matt Starr, yang adalah drummer Ace Frehley, mantan personil KISS. Beberapa bulan sebelumnya lewat Takun witter Billy Sheehan dan juga MR BIG kubaca; Pat divonis terkena Parkinson. Dan karena sakitnya itu, posisinya di belakang drumset digantikan. Namun begitu, setelah dua lagu awal selesai dimainkan, Pat memasuki panggung dan duduk di belakang beberapa mini drum set. Ia masih tersenyum cerah memainkan tambourine, dan memberi vokal latar. Pat, sebagaimana rekan-rekannya, mulai menua, namun wajahnya yang  tampan  sepanjang show terlihat begitu terang. Kusaksikan sendiri tangan kanannya begitu sukar digerakkan, begitu kaku  untuk mengambil sesuatu seperti stick drum maupun tambourine. Untuk menegang sesuatu dengan tangan kanannya, kerap ia mengambil dengan tangan kiri dan mengoperkannya ke tangan kanan. Namun hal itu tak membuatnya kehilangan semangat untuk tampil bersama rekan satu band.

Ia memang sepertinya tak akan mampu lagi untuk memainkan nomor-nomor dan keras dan cepat seperti Colorado Bulldog maupun Addicted To That Rush, nomor-nomor yang kini dimainkan oleh Matt Starr. Namun bukan berarti ia samasekali tak bermain di belakang drum utama. Pada lagu  Just Take My Heart  Matt Starr pergi ke belakang panggung dan posisinya diisi oleh Pat yang  dengan mantap memberi backbone pada lagu romantik itu sambil bernyanyi. Pukulannya tetap baik, ketukannya terjaga.  Ketika MR BIG kembali memainkan lagu-lagu bertempo cepat, ia ke mini set nya, dan memainkan tamborine atau sesekali memukul snaer drum. Tetap bersamanya Pat Torpey dalam kondisinya yang sakit dalam tour MR BIG kali ini membuat haru penonton yang meneriakkan namanya, seakan mengatakan agar ia tak menyerah dan terus bersama MR BIG. Bagiku, kebersamaan Pat dalam show ini  memberi pelajaran dan hikmah yang mendalam akan makna cinta dalam persahabatan dan persaudaraan. Di tengah aksi Billy Sheehan, Paul Gilbert dan Eric Martin yang menggempur dan mengguncang penonton, ia tetap ada di panggung, memberi sumbangan vokal latar belakang, memegang tamborine, menyanyikan lagi lagu-lagu yang  pernah pada pada masanya begitu gemilang.DSC_0282

Tampil sekitar pukul tujuh MR BIG menyudahi permainan sekira dua jam kemudian. Berada di gedung ini, menikmati lagu demi lagu yang dibawakan tak ayal  membuatku terngiang dan terbayang kembali akan kenangan di lapangan rumput Stadion Tambaksari delapanbelas tahun sebelumnya. Penonton di Gedung Tivoli ini dalam taksiranku hanya sekitar beberapa ratus, dari kapasitas gedung yang mampu menampung sekitar 2000 orang. Memang tak terlalu banyak seperti show di London sehari sebelumnya yang dikabarkan sold out, dan amatanku, para penonton yang hadir kebanyakan telah berada di umurnya yang 40-an. 10698714_10152505232543823_7366892309470463391_nSebagaimana show Joe Satriani empat bulan sebelumnya di venue yang sama, tak sukar begiku untuk mencari posisi di bagian terdepan panggung tepat diantara Eric Martin dan Paul Gilbert, tempat yang nyaman untuk memotret dan menikmati band yang begitu mewarnai masa mudaku ini. Berdiri di titik terdepan itu membuat pandangan leluasa menyaksikan semua yang ada di depan panggung, melihat atraksi Paul Gilbert dalam berbagai solo gitarnya yang kerapkali tepat di hadapanku, hingga mendapat  beberapa tiga kali tepukan dari Eric Martin di telapak tangan kananku. Teristimewa adalah ketika  Paul Gilbert memberikan pick gitar yang sepanjang show dipegangnya kepadaku.

Nijmegen 19 & 20 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s