Gerard dan Kematian Yang Sunyi

Penunjuk waktu digital di pojok kanan layar komputerku menunjukkan pukul 22:59. Sebentar lagi pukul 23:00. Dan ketika kalimat ini kutulis, sempurnalah sudah diri memasuki  jam sebelas malam. Dari jendela kamar yang menghadap jalan kulihat betapa negeri ini telah sempurna dibungkus gelap dan kesunyian. Jalan raya Hatert dimana rumah tinggalku terletak  dengan jalur sepedanya yang berwarna merah tua tak diramaikan dengan suara, meremang dalam penerangan lampu-lampu jalanan serta urun redup temaram cahaya rumah-rumah sekitar.  Hampir-hampir tak terdengar suara mobil yang lewat, dan juga bunyi pedal dan rantai sepeda yang dikayuh dan cakap-tawa manusia di atasnya yang biasanya ada tak banyak terdengar. Alam sekitar sebagaimana belahan Eropa lainnya sudah semakin lelap dalam dingin. Dan minggu malam bukanlah hari yang tepat bagi orang untuk bepergian. Esok kembali Senin, dan orang bersiap-siap untuk kembali bekerja. Hari ini, 26 Oktober 2014 secara resmi Belanda memasuki musim gugur. Kemarin hari, waktu sebagaimana saat ini sudah pukul 00:00, akan tetapi pergantian musim memasuki musim gugur membuat jarum jam harus dimundurkan satu angka ke belakang. Jadilah negeri ini tertinggal enam jam dari nusantara yang tadinya hanya lima jam di musim semi dan panas.

Tepat di seberang kamarku dimana aku duduk menghadap jendela di lantai satu rumah ini berdiri rumah bernomor 95, rumah tempatku tinggal sebelumnya antara akhir 2011 dan tengah 2014.  Dan rumah itu, hari pertama musim dingin ini berselimutkan dua hal sekaligus; gelap malam dan kedukaan. Duka, karena sang pemilik rumah itu, Gerard Rutten,  berpulang ke abadi. Meninggal dunia. Gerard adalah suami Loes Rutten, perempuan Belanda seusia ibuku yang sehari-hari berhubungan dengan kami para penyewa kamar. Rumah tinggalku ini, rumah bernomor 70 ini, adalah satu dari tiga rumah milik pasangan suami isteri Rutten, yang kamar-kamarnya disewakannya padaku dan beberapa mahasiswa lainnya.

Gerard, wafat di rumah sakit Dekkerswald tadi pagi. Yvonne, anaknya yang tertua mengabarkan berita ini pada kami, para penghuni rumah, senja tadi.  Ia, Gerard, mengalami masa kritis kemarin hari, dan pagi hari tadi ruhnya selama-lamanya berpisah dari jasadnya dikelilingi orang-orang terdekat; anak dan cucu, serta isterinya; Loes.  Ia berpulang setelah  dirawat di rumah sakit itu setelah mendapat serangan stroke yang ke-empat, sekitar bulan Maret silam. Beberapa minggu setelah dirawat di rumahsakit, Loes  menyampaikan padaku apa yang telah dikatakan dokter padanya  bahwa Gerard tak akan kembali ke rumah itu. Dan mulai sejak itu, kesibukan Loes bertambah dengan pergi pulang ke Dekkerswald menjenguk suaminya. Hampir setiap hari, biasanya tengah hari hingga jelang pukul enam petang.

Dan hari ini, perkataan dokter yang kudengar dari mulut Loes itu menemui kenyataannya; Gerard tak akan pernah kembali. Yvonne mengatakan bahwa   Loes amat  berduka, dan ia ingin sendiri. Prosesi kremasi Gerard mungkin akan dilakukan hari Selasa, dan kata Yvonne  prosesi itu terbatas hanya untuk keluarga. Dengan sendirinya aku menghiting-hitung hari. Selasa adalah tiga hari lagi.  Belanda bukanlah nusantara, tidak semua orang dapat hadir melayat. Kalau diundang, barulah orang bisa datang.  Pesan lain lagi untuk kami; setelah lewat hari Selasa, Yvonne meminta  agar kami membiarkan Loes tenang terlebih dahulu. Klaupun kami hendak mengucapkan belasungkawa, Yvonne meminta agar itu dilakukannya tidak dengan berbarengan.

Gerard memang telah lanjut, telah berumur. Dalam hitunganku, usianya telah lebih di atas delapanpuluh. Tak seperti Loes yang pernah kubacai fotokopi kartu identitasnya, aku tak mengerti betul kapan ia dilahirkan. Namun sepertinya ia lebih tua beberapa tahun dari isterinya.  Stroke membuat ia harus mengendarai scooter listerik jika hendak bepergian keluar rumah. Ketika aku datang pertamakalinya di rumah 95 hampir tiga tahun lalu, ia masih bisa menaiki tangga lantai satu menuju kamarnya tanpa alat bantu. Untuk berbicara ia memang agak kesulitan, dan itu membuatku seringkali tak tahu harus berkata apa kalau ia mengajakku bercakap. Tahun kemarin, di tangga kayu yang menghubungkan lantai dasar dan lantai satu telah terpasang kursi listrik yang membawanya naik dan turun.

Pertama kali tiba di rumahnya dan mengetahui bahwa aku berasal dari Indonesia, ia memberitahuku bahwa dulu ketika masih bersekolah dasar, ia pula harus menghafalkan nama-nama pulau di Hindia Belanda. Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Celebes ia ada mengetahui.  Bisa dimengerti, kala itu wilayah yang kini bernama Indonesia adalah pula wilayah Kerajaan Belanda. Apa yang dialami Gerard di masa itu sebenarnya juga berkesamaan dengan apa yang dialami Ibuku. Bedanya, Ibuku adalah anak tanah koloni, pribumi Hindia Belanda. Dan ibuku, di sekolahnya, harus pula menghafal nama-nama kota dan provinsi di Belanda.

Gerard, bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang tehnisi elektronika yang membuka jasa perbaikan barang-barang elektronik di rumahnya. Ia adalah landlord yang hampir-hampir tak pernah aku temui, dan perjumpaan dengannya hanya terjadi kala aku hendak menemui Loes di malam-malam tiap awal bulannya dengan menggenggam tigaratus tigapuluh euro sebagai uang sewa kamar. Satu hal kusesali adalah bahwa aku belum sempat bertanya banyak padanya akan pengalamannya sebagai manusia warga negara  yang memiliki tanah koloni Hindia Belanda.  Sang waktu begitu perkasa, sehingga  ia dan para manusia yang segenerasi dengannya harus kembali ke abadi. Dan begitu terus adanya sang waktu menghampiri perlahan setiap jiwa manusia generasi-generasi berikutnya, termasuk generasi dimana aku kini berada. Entah  kini. Entah nanti.

Dan rumah di seberang itu, rumah 95, seperti rumah lainnya di lingkungan ini; sepi terbenam malam. Di tanah air, adanya kematian akan membuat tetangga berdatangan dan berkumpul. Di kampung maupun di kota, keluarga dan para tetangga akan berdatangan dan berjaga, berbincang-bincang mengenang si mati atau merencana bagaimana si mati hendak dikuburkan. Bendera kuning akan berkibar. Itu di daerah Betawi atau Jakarta. Di banyak daerah di Jawa, bendera putih yang akan  dipasang di depan rumah atau di ujung gang. Rumah 95 di hadapanku tiada simbol-simbol seperti itu. Mungkin para tetangga di sini juga tidak tahu. Kematian yang begitu sendiri. Kematian yang sunyi.

Nijmegen, 26 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s