Singa Emas dari Eindhoven; Gouden Leeuw

1501313_10152761465158823_386424664235458323_oEntah mengapa begitu pertama kali melihat penampakannya, hati menjadi asih dan dengan segera ingin memilikinya.  Sebuah kereta angin berwarna hitam, zwartefiets yang dari penampilan fisiknya saja menunjukkan bahwa ini sepeda bukan keluaran kemarin hari. Tanpa negosiasi yang berbelit  sepeda ini akhirnya jatuh ke tanganku dari seorang pecinta sepeda di Rijswijk. Mara Dona, kawan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang tengah menempuh studi di Erasmus University berbaik hati menjemputnya untukku di Rijswijk, dalam perjalanannya    berkereta api  dari Rotterdam ke kota tinggalku, Nijmegen.

Gouden Leeuw merek sepeda ini, merek yang asing lagi aneh di telinga dan benak yang sebelumnya terjejali berbagai merek sepeda keluaran Belanda seperti Gazelle, Fongers, Simplex maupun Batavus. Gouden Leeuw  dalam bahasa Belanda bermakna Singa Emas, atau Golden Lion dalam bahasa Inggris. Menilik dari namanya, dapat diduga bahwa Gouden Leeuw mengambil nama  binatang Singa yang menjadi lambang Kerajaan Belanda. Dan sebagaimana perawakan singa, penampilan sepeda pria (herenfiets) ini memanglah gagah, tegap dan kokoh.

glmetHasil penelusuran menunjukkan bahwa sepeda ini adalah keluaran pabrikan sepeda Eindhoven, kota industri yang menjadi headquarter Philips, sebuah bran elektronika terkemuka di Belanda. Dibandingkan dengan merek-merek yang telah disebut di atas, Gouden Leeuw memang tidak terdengar. Aku menduga hal ini karena dahulunya merek ini tak diekspor ke Hindia Belanda seperti halnya Fongers maupun Gazelle. Sang penjual mengatakan padaku bahwa perusahaan sepeda ini telah tutup usaha pada tengah 60-an. Sekira satu dasawarsa kemudian, merek Gouden Leeuw dibeli oleh bekas karyawannya yang membuka usaha sepeda. Merek ini hingga kini masih eksis.

Berapakah usia sepeda ini? Orang yang menjual sepeda ini kepadaku mengatakan bahwa menilik dari jasbeschermer (pelindung roda belakang) dan sadelnya, dapat diperkirakan bahwa sepeda ini dihasilkan pada tahun 1930an. Jika ingin lebih tahu pasti, ia menyarankan padaku untuk melihat poros roda depan (voornaf) manakala mengganti ban depan. Yang terakhir ini aku belum pernah membuktikannya secara langsung. Dikatakannya kemudian bahwa sepeda ini didapat  dari seorang bekas pedagang sepeda di kota kecil bernama Oirschot. Pedagang sepeda itu menutup usaha dan kemudian  ia menjual sepeda-sepeda miliknya termasuk sepeda ini, yang singkat cerita kemudian kemudian jatuh ke tanganku. Toko sepeda itu hanya menjual sepeda baru, akan tetapi melayani pembelian dengan cara tukar tambah, praktik yang setidaknya dahulu juga lazim dilakukan di Indonesia. Sepeda ini adalah salah satu sepeda hasil tukar tambah itu. Jika aku hitung sederhana, aku setidaknya adalah 10934752_10204265962261627_426740743_npemilik ke-4 sepeda ini, dengan catatan si pemilik yang menyerahkan sepeda ini kepada toko sepeda adalah pemilik tangan pertama. Jadi dari pemilik asli, kemudian jatuh kepada toko sepeda, berpindah tangan lagi pada sang penggemar sepeda dari Rijswijk, hingga akhirnya jatuh menjadi milikku.

Rangka sepeda  ini terhitung tinggi. Untuk aku yang bertinggi badan 171-172 sentimeter, menaiki sepeda ini tetap saja tak bisa menapakkan kedua kaki dengan sempurna dalam posisi berhenti. Harus, dalam bahasa Jawa, jinjit dengan susah payah dan itupun dalam keadaan bersepatu boot kulit dengan sol yang terhitung tebal. Namun sekalipun terpaksanya harus turun dari sepeda, aku rasa orang yang berketinggian badan sama denganku juga tak akan bermasalah dengan palang tengah yang kokoh melintang. Mereka dengan ketinggian badan kurang dari 170 cm mungkin harus memiringkan sepeda ini manakala berhenti tanpa ada sesuatu yang bisa dijadikan tumpuan ataupun pegangan di sekitarnya. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh kawan serumah yang menjemput dan menaiki sepeda ini dari Stasiun Nijmegen menuju rumah tinggal kami yang berjarak sekira 2 kilometer.  Sang kawan mengatakan beberapa kali hampir jatuh dan kehilangan keseimbangan  di saat-saat harus berhenti mengendarai sepeda ini terutama di persimpangan dan atau lampu merah.

Dilihat dari kondisi fisiknya, sepeda ini terlihat mengkilat. Rupanya pada bodi sepeda telah dioles minyak anti karat yang justeru memberi nuansa tersendiri pada sepeda ini. Aku diwanti sang penjual  agar tidak perlu membersihkan minyak-minyak itu dengan sabun apapun. Jika memang ingin dibersihkan, ia memberi saran menggunakan minyak yang bersih. Sekalipun usianya sudah tua sungguh ketika dikendarai ia begitu nyaman, perkasa dan kokoh. Ban luar merek Vredestein warna kuning pudar di kedua peleknya masih ban asli. Bahkan manakala dipegang, nyata benar terasa bahwa ban ini sudah rapuh dimakan usia. Akan tetapi justeru karena itulah maka sepeda ini begitu empuk ketika dikendarai. Dengan sedikit kayuh, ia  meluncur tenang dengan mantap di jalur sepeda Negeri  Belanda yang memang begitu baik dan datar. Postur sepeda yang tinggi membuat pemandangan sekitar  yang dilalui terlihat lain dari ketinggian yang biasa kita amati manakala mengendarai sepeda biasa. Kalau diibaratkan, sepeda ini bagai ikan Oscar atau Arwana; besar dalam perawakan akan tetapi selalu kalem dalam gerakan.

Oirschot, daerah dimana sepeda ini tadinya didapatkan dari sebuah toko sepeda tua yang menutup usaha.
Oirschot, daerah dimana sepeda ini tadinya didapatkan dari sebuah toko sepeda tua yang menutup usaha.

“Satu-satunya yang tidak asli dari sepeda itu adalah lampunya. Lampu itu aku dapatkan dari direktur Gouden Leeuw yang sekarang ada di Valkenswaard” kata si penjual yang juga senang mengikuti balap sepeda ini. Dikatakannya kemudian bahwa direktur Gouden Leeuw yang sekarang memberikan lampu antik yang diperkirakan memang dipakai oleh sepeda-sepeda di tahun 1930an silam sebagai tanda apresiasi terhadap sepeda ini. Maka penampilan sepeda ini sebagai sepeda tua semakin lengkap sudah. Sudah tentu ini menjadikan sepeda makin istimewa dan gagah.

Untuk mengendalikan kecepatan, sepeda ini menggunakan terugtraprem, alias tanpa rem kabel, melainkan dengan menginjak pedal ke arah belakang. Sekalipun sudah hampir berusia satu abad, namun rem masih pakem sehingga masih menuruti perintah sesuai kemauan pengendaranya. Juga ruji sepeda masih relatif utuh. Hanya satu atau dua ruji dalam amatanku yang telah diganti dengan yang baru. Kesan vintage lainnya dipancarkan dari jok kulit yang terlihat sudah tua betul. Aku tak tahu pasti apakah ini sadel aslinya, akan tetapi penampilannya yang begitu vintage benar-benar melengkapi besi tua nan gagah ini. Sepeda ini sayangnya tidak dilengkapi dengan bel maupun standar. Namun begitu, pompa sepeda dengan pegangan dari kayu yang terpasang di bawah jok menambah charming-nya sepeda tua ini.

comment atas tulisan ini silakan kirim pada : manunggal.wardaya@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s