Fongers Toer Elegant 1961; Pengelana dari Groningen

10847020_10204282601317593_1433025616_n (1)Jumat malam 16 Januari 2015. Jelang pukul tujuh malam, kereta api jurusan Zwolle berangkatlah meninggalkan Stasiun Nijmegen. Suhu kala itu berkisar 2 hingga 3 derajat, suatu temperatur yang normal dan bahkan terhitung hangat untuk musim dingin Negeri Belanda. Kereta api dua lantai dengan warna dominan biru dan kuning yang aku naiki adalah kereta intercity yang hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Sekitar satu setengah jam diperlukan untuk menuju ke sana melewati beberapa kota seperti Arnhem dan Deventer. Kota Dieren yang menjadi markas Gazelle pun dilewati dan disinggahi sebentar. Kepergianku ke sana untuk mengambil sepeda pria (herenfiets) yang telah kubayar sebelumnya melalui transaksi online, sebuah sepeda merek Fongers Toer Elegant keluaran tahun 1961.

Setibanya  di Zwolle, aku segera menelpon sang penjual sepeda. Sebelumnya ia memang berpesan agar aku menghubunginya setiba di Zwolle karena ia tinggal tak jauh dari stasiun.   Remy, begitu nama  penjual sepeda ini adalah pemuda yang bertubuh tinggi dan dari penampilannya lebih muda daripadaku. Padaku ia memberi korting sepuluh euro atas sepeda yang ingin kumiliki ini, angka yang lebih murah dari yang ia sebelumnya inginkan. Aku tak mau mengambil resiko dan merusak moodnya dengan meminta potongan harga lebih banyak lagi, sehingga permintaannya itu segera aku iyakan. Untuk menjaga keamanan agar sepeda agar segera jatuh dalam kepemikikan, ia segera kubayar melalui transfer online.

Selang kurang dari sepuluh menit setelah aku menelpon dan menunggu di sekitar pintu masuk,  Remy telah ada berdiri di luar Stasiun Zwolle. Tak banyak kami bercakap, hanya ia menjelaskan kondisi sepeda, sesuatu yang sebenarnya telah ia terangkan sebelumnya dalam komunikasi kami melalui surat elektronik. Hanya semacam basa-basi. Di Indonesia, basa-basi itu mungkin akan berlangsung lama dengan mencari warung nasi goreng atau kopi dekat stasiun, mengobrol dengan menghabiskan sebatang dua batang rokok. Tidak demikian halnya di negeri Belanda. Orang akan berbicara seperlunya saja dan kemudian berpisahan, terlebih di negeri yang tengah dingin membeku, hal itu tentu tidak mungkin dilakukan. Setelelah menjabat tangannya, Remy pun berlalu dan aku kembali memasuki setasiun menuntun sepeda dengan postur tinggi ini. Dengan tiket tambahan untuk sepeda senilai 6 Euro, aku pun bergegas membawa sepeda ke spoor (lintasan kereta) yang akan membawaku ke Nijmegen.

Sambil menunggu kereta datang sekitar pukul 21:19, aku mengamat-amati kondisi sepeda yang baru saja kubeli ini. Sadelnya dibungkus oleh pelindung sadel yang telah begitu lama, hingga lengket. Penampilannya itu begitu jelek. Dan aku buka saja kemudian. Hasilnya? tak juga menyenangkan. Sadel asli sepeda ini telah terlalu tua. Tak menarik…dengan pelapis plastiknya yang telah sobek. Ban yang melingkar berwarna kuning, yang kemudian kuketahui ban depan adalah Vredestein dan belakang Swallow dengan spotlight melingkar. Jasbeschermer alias pelindung roda belakang dari cipratan air dan atau lumpur telah koyak di kanan kiri. Penampilan sepeda yang cukup buruk rupa. Dalam hati rasanya menyesal juga membeli sepeda ini. Untuk apa pula menambah koleksi yang kapot seperti ini?

Dan rasa sesal terus berkecamuk di dalam hati. Begitu membawanya ke dalam kereta penyesalan itu tiada henti, seraya bertekad, akan segera menjualnya saja. Tekad menjual semakin kuat ketika dinaiki, sepeda terasa benar dalam kondisi yang memang kurang prima. Ban depan goyang, yang mudah ditebak karena gotri yang sudah memberi tanda untuk minta diganti. Juga crankstel jika dikayuh akan mengenai elemen logam di kettingkast. Crankstel ini sudah pernah diganti salah satunya, terlihat dari tulisan UNION, sebuah merek sepeda lain yang jelas bukan milik aslinya. Selain itu, sebenarnya semua terhitung asli. Setibanya di rumah, rasa sesal dan penasaran menjadi satu, dan akhirnya kuputuskan untuk segera saja malam itu membersihkannya dan mengupayakan keindahannya sedemikian rupa. Sepeda dalam keadaan kotor, terlihat dari lapisan kotoran di sana-sini.

Jam 11 malam ketika sampai di rumah tinggal setelah mengayuhnya dari Stasiun, aku pun mulai beroperasi. Kuambil semua pembersih dari cairan untuk mencuci piring, pembersih aluminium dll. Semuanya aku campur. Pertama kubersihkan adalah rangkanya dulu dengan cairan lemon. Begitu kotor hanya dalam beberapa usapan dengan busa pencuci. Beberapa kali kuterus membasuh dan membasuh. Warna gelap coklat pekat kehitaman ternampak dan segera kuganti dengan cairan baru. Demikian beberapa kali. Cukup melelahkan juga ternyata mencuci sepeda yang kelihatannya kurus kering seperti ini. Jabeschermer yang sudah rusak aku copot sekalian dan aku buang. Biarlah. Sekira satu setengah jam kucuci, nampak pula ini sepeda menjadi sedemikian gagah kembali. Tiba-tiba aku tersadar; ini sepeda memang perlu perhatian, dan ia tak seburuk yang kupikirkan pada awalnya..

[Bersambung]
20150121_134752

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s