Siksakubur VII: Orkestrasi Metal Kematian Sempurna

siksa-kubur-2014Deathmetal yang dihantamkan tak saja dengan sepenuh rasa namun amplifikasi kemampuan musikal maksimal. Inilah kesan umum yang saya tangkap dan  semakin mengkristal sebagai jatidiri Siksakubur dalam albumnya yang ke tujuh dengan tajuk yang sama, VII. Sebelas kebisingan yang terangkum di dalamnya adalah eksposisi kegaharan sekaligus atraksi distortif nan keren dan berkwalitas baik dari penyuara (bosan dengan terma vokalis) maupun para instrumentalist-nya. Mengikuti satu persatu, teridentifikasi betapa setiap nomor disusun dan diekspresikan begitu teknikal dan bertenaga, meningkahi syair-syair nan puitik. Album ini memberi pesan tak terbantahkan;  ini adalah kumpulan karya yang dibikin secara terencana pula terkonsep secara cerdas, rapi, matang,   dan bukan asal jadi terbikin semata demi kejar setoran produktifitas. Pendeknya, tak ada alasan untuk tak memuji kehadiran album ini.

Pukulan-pukulan Aditya Perkasa pada piranti drum dalam album ini kerap kali tak lazim dan mencengangkan. Drumming pada setiap lagu begitu variatif memberi intonasi setiap bait yang dilantangkan. Keras, begitu sulit ditebak ‘larinya’,  kencang namun rapi mengiringi. Terkadang, bahkan seakan instrumen lain-lah yang mengiringi drums! Simak misalnya dalam garukan gitar yang lambat, pukulan drums melaju kencang seperti terdengar dalam Seringai Tipis Hedonis. Fill in-nya begitu cepat dan rapih, tak pernah kedodoran, tak ada kelabakan. Permainannya di album ini tak pelak mengukuhkan Aditya sebagai perkusionis metal terkemuka di negeri ini. Sementara itu acung jempol pula kepada dua kapak perang Andre Tiranda dan Baken Nainggolan. Solo gitar yang menyiram nuansa pahit dan pekat melesat di dataran ritem yang menggerung liar  pada setiap lagu menegaskan suasana kelam dan suram yang dibangun.

Lirik yang ditulis dalam bahasa Indonesia hampir keseluruhannya (kecuali satu cover song yakni Choose Your Death) bagi saya menjadi salah satu nilai istimewa album ini. Musik adalah musik dan manakala ia mampu menghantarkan pesan dengan sempurna terlebih dalam metal dimana emosi memegang peranan penting, lirik dalam bahasa sendiri menjadi keunggulan. Sementara itu tema-tema yang diangkat selain persoalan universal juga kental nuansa lokal, yang mana bagi saya merupakan sesuatu yang excellent, layak untuk mendapat segala puji binti apresiasi.  Lagu Honay, sebuah lagu bersyair pedih nan miris,  ditulis dan dikomposisi sebagai keprihatinan atas genosida baik maknanya yang ekologis maupun etnis yang  terus terjadi di bumi Papua. Sementara itu Tahan Banting yang merupakan ekspresi sepakterjang Siksakubur dikemas dalam ritme yang thrashy dan fun dengan garukan gitar yang mengingatkan orang pada nomor klasik  Metal Militia dari Metallica. Deathmetal memang menegangkan, dan di Tahan Banting inilah voltase sedikit diturunkan dan orang bisa sedikit ber-headbang dengan riang.

Artwork album ini adalah foto black and white para personilnya sebagaimana klasik telah dimulai oleh The Beatles melalui With The Beatles (1963) atau di tanah air oleh Koes Bersaudara melalui cover album To The So Called The Guilties (1967). Saya sebenarnya agak menyayangkan cover yang hanya bermodalkan foto seperti ini mengingat model seperti ini sudah amat terlalu lazim. Lagipun, penampakan para personil sudah lebih dari cukup ditampilkan pada back cover dan pula dalam booklet . Saya berandai album ini dibungkus oleh lukisan yang mewakili isi di dalamnya, pastilah akan menambah pekatnya dan fenomenalnya bagi album ini.  Namun begitu tetap saja, VII tak pelak adalah orkestrasi metal kematian yang agung yang pernah dihasilkan oleh Indonesia.

Advertisements