Perihal Hari Kemerdekaan

images“Selamat Hari Kemerdekaan”, demikian kawanku Teun Eikenaar sambil menjabat tangan dengan sinar mata yang berbinar. Kalimat itu diucapkannya kemarin hari, Senin pagi menjelang siang 17 Agustus 2015, hari di mana Bangsa Indonesia memperingati pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-70. Olehku yang berkewarganegaraan Indonesia, negeri yang pernah menjadi koloni Belanda dan Teun yang warga Belanda, Hari Kemerdekaan kemudian kami kenang dan bincangkan sambil minum kopi di lantai tiga Grotiusgebouw, gedung di mana kami sehari-hari mengerjakan penelitian. Perjumpaan singkat yang terjadi beberapa kali dalam sepekannya setelah sekian jam jenuh dengan tulisan kali itu  terjadi dalam  rintik hujan yang sesekali kami pandangi dari dalam gedung.

Tujuhbelasan, begitu orang biasa merujuk perayaan hari kemerdekaan baik yang resmi seperti upacara di berbagai kantor dan pula lembaga negara, maupun yang tak resmi berupa peringatan-peringatan yang dilakukan oleh masyarakat. Yang terakhir ini biasanya diisi dengan aneka kegiatan seperti tirakatan dan pula aneka perlombaan dengan bendera merah putih dalam segala macam format yang mewarnai. Perayaan seperti itu  tak asing bagi Teun. Ia pernah mengalami sendiri semarak peringatan hari kemerdekaan seperti itu setahun lalu di Yogyakarta. Kala itu ia dan Michelle kekasihnya berada di Indonesia dalam rangka vakansi selama beberapa pekan  di Jawa, Sulawesi dan Maluku. Tak seperti bangsa Indonesia, Teun dan Michelle (yang kemudian kutahu bernenek orang Indonesia bernama Painem) tak pernah merayakan hari kemerdekaan. Dalam Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman, dan negeri kecil ini dibebaskan oleh Pasukan Sekutu. Oleh karenanya, hari sejenis hari kemerdekaan di Belanda adalah Hari Pembebasan, yang diperingati setiap tanggal 5 Mei setiap tahunya dan menjadi hari libur nasional. Dalam bahasa Belanda, Hari Pembebasan ini disebut sebagai Bevrijdingsdag. Ini adalah hari mengenang negeri ini bebas dari cengkeraman Jerman setelah dibebaskan oleh Pasukan Sekutu.

Kembali pada perbincanganku dan Teun, padanya aku katakan, bahwa pernah ada masanya di Indonesia hari-hari  di seputar kemerdekaan akan diwarnai dengan pemutaran berbagai film perjuangan. Film perjuangan sendiri sedikit banyak bermakna film mengenai peperangan yang terjadi antara laskar rakyat dan atau tentara republik dengan tentara kerajaan Belanda atau Sekutu. Film-film itu adalah upaya visualisasi dan rekonstruksi sejarah yang ada, semisal bagaimana upaya pasukan Sekutu yang hendak membereskan negeri yang ditinggal Jepang untuk mengembalikannya kepada Belanda, menghadapi penolakan rakyat dan elit politik Indonesia pada waktu itu. Pula film yang mengisahkan bagaimana Belanda hendak mengembalikan apa yang disebutnya sebagai ketertiban dari para ekstrimis, masa yang dalam sejarah Indonesia disebut dengan Agresi Militer dan bagi pihak Belanda disebut sebagai Tindakan Kepolisian (Politioneel Actie).  Karena film-film tersebut adalah pula upaya rekonstruksi, ia tak lepas dari kelemahan sejarah yang hendak direka ulang, baik disengaja maupun tidak.  Janur Kuning misalnya, adalah film yang mengunggulkan peran Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret di Jogja. Belakangan setelah Soeharto tak lagi berkuasa, orang terbuka membicarakan bahwa tokoh di balik Serangan Umum 1 Maret bukanlah Soeharto melainkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Raja Yogyakarta yang memanglah sempat mengenyam pendidikan militer di Belanda.  Dan dalam film-film itu biasanya akan digambarkan tentara Belanda dengan moralitas yang minor dalam kacamata Indonesia, seperti senang mengumpat seperti godverdomme. Mudah ditebak, pada akhirnya Belanda dan atau Sekutu yang dicitrakan sebagai jahat itu akan ditampilkan kalah dalam peperangan. Perihal kekalahan tentara Belanda ini hampir selalu dijumpai dalam aneka film perjuangan dan sekian lama berhasil pulalah menguasai benak, hingga akhirnya aku menyaksikan dokumenter mengenai Jenderal Spoor, panglima Angkatan perang di Hindia Belanda. Spoor meyakini bahwa sesungguhnya kekuatan tentara Republik telah dapat ditekan, dan kemenangan di pihak Belanda sudah di depan mata. Hanya sebagai militer, ia harus patuh dan menerima kenyataan manakala keberhasilan militer itu tak dapat diraih. Sebagai prajurit ia harus taat perintah untuk tidak melanjutkan pertempuran dikarenakan pemerintah Belanda harus berunding. Spoor wafat dalam tidurnya, meninggal dalam kekecewaan.

Terkait konflik antara Belanda dan Indonesia, Teun menuturkan bahwa ia baru saja membaca artikel mengenai penelitian seorang sarjana Belanda berkisar pembunuhan orang-orang Belanda di Indonesia yang terjadi sebelum terjadinya Agresi Militer pada 1947. Kukatakan padanya, hal itu tak pernah aku dengar sebagai bangsa Indonesia, dan  yang pasti bukan menjadi bagian pengetahuan luas masyarakat Indonesia. Periode yang dikisahkan Teun itu memang kelam. Bangsa Indonesia yang barusaja memerdekakan diri setelah vakum kekuasaan akibat menyerahnya Jepang pada Sekutu membuat aksi brutal itu terjadi. Dalam artikel yang beberapa saat setelah kukembali ke meja kerjaku kubacai disebutkan bahwa tak kurang dari 30 ribu orang Belanda tewas, dan kuburan mereka tak dapat dijumpai hingga kini.

Periode peralihan itu memang perih bagi kedua belah pihak. Bahkan ketika Belanda tersingkir oleh kedatangan Jepang di 1942, banyak warga Belanda yang ada di Indonesia mengalami tindakan tak berperikemanusiaan tentara Jepang. Banyak yang harus tinggal di berbagai kamp, atau dikirim ke Burma dan dipekerjakan untuk membuat jalur kereta api. Kaum perempuan ditempatkan di barak-barak penampungan dengan aneka kisah sedih mereka. Film documenter Terug Naar Linggajati (kembali ke Linggajati) yang berkisah mengenai Joty ter Kuve, seorang perempuan Belanda yang lahir dan besar di Linggajati mengisahkan penuh haru betapa ia sebagaimana warga Belanda pada masa berkuasanya Jepang mengalami masa buruk manakala Belanda tersingkir oleh Jepang pada 1942.

Dan setelah Proklamasi kemerdekaan pun, masa yang disebut bersiap itu menelan banyak korban di pihak Belanda sebagaimana aku baca di situs online yang diberikan oleh Teun setelah kami kembali bekerja ke ruangan masing-masing. Harian NRC Handelsblaad dengan tegas menuliskan Geweld in Indie was structureel. Kekerasan di Hindia adalah structural, sebuah artikel berbasis laporan penelitian atas perkara yang hampir-hampir lenyap dari wacana publik di Belanda.

Demikianlah, sebagaimana berulangkali dikatakan oleh banyak bibir: perang membawa berbagai macam derita dan pula bangga. Mereka yang terlibat perang akan disebut sebagai pahlawan, walau membunuh, walau membantai. Setiap sisi punya pembenarnya sendiri. Bagi mereka di Indonesia yang pernah membunuh dan membantai tentara Belanda, ia akan dianggap pahlawan dan dikenang dengan penuh kebanggaan. Sama halnya dengan mereka tentara Belanda yang diterjunkan dalam aksi polisionil juga dikenang sebagai patriot, menegakkan kembali kuasa kerajaan Belanda di koloni yang mencoba untuk durjana. Dan di masa perang, masing-masing pihak, betapapun jahat dan kejamnya,  adalah pahlawan bagi pihak masing-masing.

Nijmegen 17-18 Agustus 2015

Advertisements